Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PERBEDAAN KONSEP DIRI REMAJA

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 3 : ANGGOTA: 1. GEBY RIYANTI UTAMI 2. ELISA 3. TRI DAMAYANTI 4. RISTA AULIA (06121410022) (06121410009) (06121410011) (06121410010)

DOSEN PEMBIMBING : RODI EDI, S.Pd,. M.S.i PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga makalah yang berjudul Konsep Diri Remaja Putra (harga diri laki-laki) ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun berdasarkan berbagai sumber yang relevan dengan materi yang disajikan dalam makalah ini. Adapun materi yang dipaparkan adalah mengenai apa yang dimaksud dengan Perbedaan konsep Diri Remaja. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan guna kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih, semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis maupun bagi para pembacanya. Palembang, 14 Maret 2013

Kelompok III

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............ ii DAFTAR ISI ......... iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .........1 1.2 Tujuan Penulisan ..............1 1.3 Rumusan Masalah ............1 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Konsep Diri..................... 2.2 Remaja Laki-Laki..................................... 2 5

2.3 perbedaan konsep diri remaja perempuan dan laki-laki.............................. 6 2.4 faktor-faktor yang menyebabkannya............................................................ 7 2.5 Nilai Gender yang Menjadi kendala Internal dan Eksternal........................ 8 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ..........9 3.2 Daftar Pustaka....

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja disebut juga masa adolesens (adolescence= tumbuh menjadi dewasa), merupakan suatu periode kehidupan penting yang harusdilalui seseorang sebelum menginjak dewasa. Masa remaja dimulai pada umurlebih kurang 10 tahun pada anak perempuan dan umur 12 tahun pada anaklaki-laki (Moersintowati, 2002). Remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Secara anatomis berarti alatalatkelamin khususnya dan keadaan tubuh pada umumnya

memperolehbentuknya yang sempurna dan secara faali alat-alat kelamin tersebut sudahberfungsi secara sempurna pula. Perubahan perubahan fisikini menyebabkan kecanggungan bagi remaja karena remaja harusmenyesuaikan diri dengan perubahan pada dirinya (Sarwono, 2004). Pada zaman sekarang masalah harga diri pada remaja putra sedikit lebih dominan dibandingkan dengan reaja putri. Kelihatan jelas pada kehidupan sehari-hari banyak sekali masalah yang terkait tentang konsep harga diri, hal inilah menjadi titik tumpu mengapa penulis ingin membahas tentang konsep diri remaja putra. B. Tujuan Untuk mengetahui pengertian dari konsep diri remaja,faktor-faktor yang mempengaruhinya , perbedaan dari remaja perempuan dan laki laki serta nilai gender yang menjadi kendala nya. C. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian konsep diri remaja secara umum ? 2. Apa saja perbedaan dari konsep diri remaja perempuan dan laki-laki ? 3. faktor-faktor apa sajkah yang menyebabkannya ? 4. Apa saja kah nilai Gender yang menjadi kendala Internal dan Eksternal

BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Diri 2.1 Pengertian Konsep Diri Baron & Byrne (2004, h.165) menjelaskan bahwa konsep diri adalah kumpulan keyakinan dan persepsi diri terhadap diri sendiri yang terorganisir. Dengan kata lain, konsep diri tersebut bekerja sebagai skema dasar. Sedikides dan Skowronski, 1997 (dalam Baron & Byrne, 2004, h.165) menyatakan bahwa self berevolusi sebagai sebuah karakteristik adaptif. Aspek pertama yang muncul adalah kesadaran diri subyektif (subjective self-awareness); hal ini melibatkan kemampuan organisme untuk membedakan dirinya dengan lingkungan fisik dan sosialnya. Kemudian berkembang kesadaran diri objektif (objective self-awareness) yaitu kapasitas organisme untuk menjadi objek perhatiannya sendiri, menyadari keadaan pikirannya sendiri dan mengetahui bahwa ia tahu dan mengingat bahwa ia ingat. Hanya manusia yang telah mencapai tiga tingkat dari fungsi diri, disebut kesadaran diri simbolik (symbolic selfawareness) yaitu kemampuan untuk membentuk representasi kognitif diri yang abstrak melalui bahasa. Kemampuan ini membuat organisme mampu untuk berkomunikasi, menjalin hubungan, menentukan tujuan,

mengevaluasi hasil dan membangun sikap yang berhubungan dengan diri, dan membelanya terhadap komunikasi yang mengancam. Kendzierski & Whitaker, 1997 (dalam Baron & Byrne, 2004, h.166) menyatakan bahwa konsep diri adalah rangkuman dari semua yang dapat diingat oleh seseorang, pengetahuannya, dan imajinasinya tentang diri sendiri. Sebuah konsep diri juga memainkan peran dalam memandu tingkah laku.

Wilson& Ross, 2000, 2001 (dalam Baron & Byrne, 2004, h. 170) menyatakan bahwa dalam kenyataannya, membandingkan diri sendiri sekarang dengan diri sendiri di masa lalu sering kali menyenangkan karena hal tersebut memungkinkan melihat Konsep diri adalah penilaian remaja tentang diri sendiri yang bersifat fisik, psikis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi. Konsep diri fisik adalah gambaran remaja tentang penampilannya, dengan seksnya, arti penting tubuhnya dalam hubungannya dengan perilakunya, dan gengsi yang diberikan tubuhnya di mata orang lain. Konsep diri psikis adalah gambaran remaja tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Konsep diri sosial adalah gambaran remaja tentang hubungannya dengan orang lain, dengan teman sebaya, dengan keluarga, dan lain-lain. Konsep diri emosional adalah gambaran remaja tentang emosi diri, seperti kemampuan menahan emosi, pemarah, sedih, atau riang-gembira, pendendam, pemaaf, dan lain-lain. Konsep diri aspirasi adalah gambaran remaja tentang pendapat dan gagasan, kreativitas, dan cita-cita. Konsep diri prestasi adalah gambaran remaja tentang kemajuan dan keberhasilan yang akan diraih, baik dalam masalah belajar maupun kesuksesan hidup (Hurlock, 1996). Konsep diri psikis yang tidak realistis membuat remaja menggambarkan diri sangat tinggi terhadap kemampuan dan tidak bersedia kemampuannya dinilai rendah, dan harga dirinya membubung tinggi dan menganggu hubungannya dengan orang lain. Konsep diri sosial yang tidak realitis membuat remaja

mengambarkan diri terlalu baik dalam hubungannya dengan orang lain, dengan teman sebaya, dan dengan keluarga. Konsep diri aspirasi yang tidak realitis membuat remaja menggambarkan diri memiliki pendapat dan gagasan yang paling benar dibanding orang lain, lebih kreatif, dan bercita-cita yang sulit diraih.

Konsep diri prestasi yang tidak realitis membuat remaja menggambaran diri terlalu dini sebagai individu yang maju dan akan berhasil. Gambaran diri yang tidak realitis akan menganggu keseimbangan dan merusak kematangan emosi dan akan mempertinggi kemungkinan terjadinya kenakalan remaja. Analisis kemungkinan hubungan positif konsep diri yang tidak realistis dengan kenakalan remaja sesuai dengan respon konsep diri dalam kontinum respon adaptif sampai respon maladaptif dari Stuart dan Sundeen (1998) sebagai berikut. Gejala yang muncul akibat gangguan konsep diri adalah mengkritik diri sendiri atau orang lain, penurunan produktivitas, destruktif pada orang lain, gangguan hubungan dengan orang lain, perasaan diri penting yang berlebihan, perasaan tidak mampu, perasaan bersalah, mudah tersinggung atau marah yang berlebihan, perasaan negatif mengenai tubuh sendiri, ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup pesimis, keluhan fisik, pandangan hidup yang bertentangan, penolakan terhadap kemampuan personal, destruktif terhadap diri sendiri, pengurangan diri atau penarikan diri secara sosial, penyalahgunaan zat perangsang (adiktif), dan menarik diri dari realitas. Rasa diri penting yang berlebihan dan menarik diri dari realitas merupakan tipikal konsep diri yang tidak realistis. Pemahaman tentang potensi diri akan menimbulkan rasa mampu. Individu akan selalu berupaya meningkatkan standar atau patokan keberhasilan pada kesempatan yang akan datang dan terdorong untuk berprestasi dan meningkatkan prestasi di masa yang akan datang. Rasa mampu yang dihasilkan oleh konsep diri bisa saja salah. Hal ini bisa terjadi karena kesalahan atau ketidaksesuaian dalam mempersepsi segala kelebihan dan kelemahan dari keadaan yang sesungguhnya dimiliki. Individu menilai potensi diri yang dimiliki terlalu tinggi atau terlalu rendah dari keadaan yang sesungguhnya. Akibatnya

konsep diri yang terbentuk dapat negatif atau terlalu positif. Konsekuensi selanjutnya adalah muncul rasa mampu yang tidak realistis, sehingga standar atau patokan keberhasilan (prestasi) menjadi tidak realistis pula (White dalam Purwanti, 1996). 2.2 Remaja laki-laki Remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alatkelamin manusiamencapai kematangannya. Secara anatomis berarti alat-alatkelamin khususnya dankeadaan tubuh pada umumnya memperolehbentuknya yang sempurna dan secara faali alat-alat kelamin tersebut sudahberfungsi secara sempurna pula. Perubahan fisik ini akan memberi pengaruhterhada perkembangan jiwa seorang remaja (Sarwono, 2011). Pada umumnya, pubertas dapat mempengaruhi emosional anak. Hal initerlihat dari sikap anak yang sering merasa minder oleh masalah pertumbuhan fisik dan malu dalam masalah praktisnya. Anak laki-laki,akan merasa minder apabila suaranya masih tetap kecil atau bulu bulunyabelum tumbuh. anak lakilaki bisaanya akan merasa malu bila ia harus mencukur bulu bulu pada bagian tubuhnya. Selain itu, anak laki laki akan merasa malu dan takut bilaketahuan tempat tidurnya basah karena semalam mimpi basah

(Sarwono,2011).Hanya sedikit anak yang melampaui masa puber tanpamengembangkan konsep diri yang kurang menyenangkan. Ini juga terjadipada anak yang sebelumnya memiliki pandangan yang baik tentang dirisendiri dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat untuk melaksanakan peranpemimpin dalam kelompok teman temannya. Ada banyak hal yangmenyebabkan perkembangan konsep diri kurang baik selama masa puber,diantanya di sebabkan alasan pribadi dan alasan lingkungan. Hampir semuaanak puber mempunyai konsep diri yang tidak realistis mengenai penampilandan kemampuannya kelak berasal dari masa kanak - kanak pada saat konsepdiri ideal terbentuk. Anak mengawasi

perubahan tubuhnya dan ketikamengamati prilakunya yang canggung, remaja semakin bertambah kecewakarena apa yang di lihat sangat berbeda dengan apa yang di harapkan. Iniberpengaruh buruk pada konsep dirinya (Sarwono, 2011). Kehidupan dan perilaku seorang individu, keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam kehidupan, dan kemampuannya menghadapi tantangan dan tekanan kehidupan,sangat dipengaruhi oleh persepsi, konsep, dan evaluasi individu tentang dirinya,termasuk citra yang ia rasakan dari orang lain tentang dirinya, dan tentang akan menjadi apa ia, yang muncul dari suatu kepribadian yang dinilai dari pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Atau dengan kata lain, kehidupan, perilaku, dan kemampuan individu tersebut dalam kehidupan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh apa yang diistilahkan Rogers (1951, 1959, 1961) dengan konsep diri (self concept). Teori dan praktek psikoterapi yang dilakukan Rogers menunjukkan bahwa konsep diri memainkan peranan utama dalam perilaku manusia. Perubahan dalam konsep diri menghasilkan perubahan dalam perilaku.Dengan peranannya yang demikian, menjadi pentinglah pembentukan konsep diri dalam diri individu sejak dini, termasuk sejak masa remaja. Masa remaja (adolescence), seperti dinyatakan Rita Atkinson (1993: 508) merupakan masa yang berada pada tahap perkembangan psikologis yang potensial sekaligus rentan. Masa ini, masih menurut Atkinson, merupakan periode role-experimentation, yakni masa yang dapat mengeksplorasi alternatif perilaku, minat, dan ideologi. Oleh karena itu, tugas perkembangan utama ( the major developmental task) pada remaja adalah membangunidentitas untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan tentang siapakah saya dan kemana saya akan melangkah. Masa remaja adalah masa krisis identitas yang harus dapat dipecahkan sebelum usia 20 atau pertengahan 20-an, agar individu dapat melanjutkan tugas

kehidupannya dengan baik, memiliki consistent sense of self atau standar internal untuk menilai kebermaknaan dirinya dalam bidang kehidupan utamanya sehingga tidak akan mengalami identiy confusion.Dalam pembentukan konsep diri ini, hal yang juga perlu mendapat perhatian utama adalah konsep diri remaja perempuan dan tentang perempuan. Mengapa perempuan? Dalam kehidupan masyarakat, akibat nilai-nilai yang dikonstruksi dan disosialisasikan masyarakat, perempuan kerap mengalami pandangan yang salah.Mereka mendapat stereotip-stereotip yang cenderung merugikan. Di antara stereotipGenerated by stereotip tersebut misalnya anggapan perempuan sebagai makhluk yang lemah (inferior), lebih menggunakan emosi daripada rasionya, pelengkap lakilaki, dan lainlain. Stereotip ini kemudian berimplikasi pada cara memperlakukan perempuan secara berbeda dengan laki-laki, termasuk dalam pemberian peran kepada mereka. Perempuan cenderung ditempatkan dalam posisi subordiat. Perempuan kerap mengalami diskriminasi dalam bidang pekerjaan, pendidikan, dan bidang-bidang kehidupan masyarakat lainnya. Belum lagi mereka dihadapkan pada pembedaan pekerjaan feminin dan maskulin yang membatasi ruang gerak mereka.Nilai gender yang dianut masyarakat yang telah tersistematis dan hegemonik tersebut tentu saja berdampak besar pada konsep diri yang terbentuk dalam diri poerempuan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengalami rendahnya rasa percaya diri (self esteem), kurang mandiri (self reliance).honnor effect berupa sindrom takut sukses (fear of success syndrom) bila dihadapkan pada kondisi kompetitif dengan kaum laki-laki, dan timbulnya sifat ketergantungan dan minta perlindungan (cinderella complex).

Perempuan bahkan seolah kurang mengenali siapa dirinya, ke mana arah yang akan mereka tuju dan apa yang dapat mereka perbuat.Hal-hal yang dikemukakan di atas merupakan hal-hal yang menjadi kendala bagi

perempuan

dalam

mengaktualisasikan

kemampuan

potensialnya.

Padahal, fakta dan sejarah telah banyak membuktikan kiprah dan keunggulan perempuan di berbagai bidang yang tutur mewarnai, bahkan mengubah dunia. Dengan demikian, dalam pembentukan konsep diri ini, perlu upaya untuk membangun konsep diri yang benar di kalangan perempuan dan tentang perempuan.Pembentukan konsep diri tentang perempuan juga perlu dipahami laki-laki sebab isyu gender bukan semata-mata dimaksudkan untuk meniadakan atau mengurangi

kesenjangan yang dialami perempuan, tapi juga untuk menjamin relasi gender yang seimbang, dan untuk menjamin tidak ada satu pihak yang dirugikan, baik kaum perempuan, maupun laki-laki. Di sinilah pendidikan diharapkan memainkan peranannya.Untuk sampai pada hal tersebut, perlu diupayakan penelitian terlebih dahulu tentang konsep diri remaja tersebut. Penelitian ini diarahkan pada hal itu, yaitu pada diri remaja Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang 1) konsep diri remaja secara umum 2) perbedaan konsep diri remaja perempuan dan laki-laki 3) faktor-faktor yang menyebabkannya; dan 3. Nilai Gender yang Menjadi kendala Internal dan Eksternal Perempuan dalam Pembentukan Konsep Diri dan Pengembangan Kemampuan Aktual dan Potensialnya Perempuan menghadapi sejumlah kendala dalam pengembangan diri secara penuh, yang diciptakan masyarakat, yang sistemnya dibangun di atyas perbedaan jenis kelamin (sexist). Sistem berupa nilai-nilai gender itu disosialisasikan dan dikonstruksikan kepada masyarakat, perempuan dan laki-laki sejak lahir dan diterimadengan taken for granted sebagai hal-hal yang seolah-olah

merupakan kodrat yang tak bisa diubah dan diganggu-gugat.Perempuan cenderung menerima orang lain (laki-laki) lebih bijaksana dan lebih kompeten (Altmeyer dan Jones,1974).Selain itu, sifat feminin yang dilekatkan pada perempuan telah membatasi perilaku dan ruang mereka. Implikasi dri hal ini, misalnya terlihat pada kecenderungan menempatkan perempuan hanya sebagai homemaker atau posisi mother. Perempuan pun, tidak seperti laki-laki, cenderung memelihara/ mengasuh orang lain dengan mengorbankan kebutuhan mereka/dirinya sendiri.ada perbedaan konsep diri antara remaja perempuan dan laki-laki pada beberapa hal. Beberapa perbedaan itu antara lain sebagai berikut : a. Para responden perempuan cenderung menyatakan sifat mereka perasa, sementara responden laki-laki rasional. Sebayak 65% responden perempuan menyatakan sifat mereka perasa, sementra laki-laki yang menyatakan sifat perasa hanya 45 %. Begitu pula sebaliknya. b. Dalam memandang kemampuan diri, responden remaja laki-laki dan perempuan ,menunjukkan perbedaan tertentu. Rasa percaya diri remaja laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Responden laki-laki yang menyatakan merasa percaya diri adalah 65%, sementara perempuan 35%. c. Dalam memandang masa depan, optimisme remaja permpuan dan lakilaki juga menunjukkan perbedaan. Remaja laki-laki lebih optimis menghadapi masa depan daripada remaja perempuan. Dari data angket yang terkumpul, jumlah responden lakilaki yang menyatakan optimis sebanyak 90%, sementara perempuan 55%. d. Dalam kedsadaran pada minat dan bakat, terdapat perbedaan pula antara femaja perempuan dan lki-laki. Remaja perempuan lebih meminati bidang seni dan sosial.Sementara remaja laki-laki meminati hampir semua bidang.

e.Para remaja yang menjadi responden sama-sama memilki aspirasi. Akan tetapi,terdapat perbedaan antara remaja perempuan dan laki-laki. Kecenderungan cita-cita remaja perempuan lebih terkait dengan profesi yang berhubungan dengan fungsi pelayanan dan pengabdian, seperti perawat, pramugari, sekretaris, dan PNS. Posisi yang mereka pilih pun bukan posisi utama. Sementara laki-laki bercitas-cita dalam berbagai profesi yang menantang, seperti wartawan, pilot, direktur, dan posisi-posisi utama. f. Motivasi/tekad remaja perempuan dalam menghadapi tantanhan hidup lebih kecil dibandingkan laki-laki. Sebagai contoh, jumlah perempuan yang bertekad melanjutkan studi lebih sedikit daripada laki-laki. Begitu pula tekad untuk mencapai posisi tertentu, apalagi posisi nomor satu dalam masyarakat. Perempuan lebih bersikap defensif, dan seperti tampak pada deskripsi data penelitian, merasa tidak lebih mampu daripada lakilaki. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan di atas, setelah mengkaji data responden dari berbagai aspek ,adalah latar belakang pola pendidikan dan pengasuhan dalam keluarga yang menanamkan nilai-nilai gender sejak kecil dengan selalu membedakan perempuan dan laki-laki, baik dalam penyifatan, maupun penanaman tentang perbedaan peran perempuan dan laki-laki (peran gender). Faktor lainnya adalah nilai-nilai gender di masyarakat yang diserap oleh para remaja. Hal ini terbukti dari hasil penelitian tentang persepsi para remaja yang menjadi responden yang menunjukkan sikap setuju yang tinggi terhadap nilai-nilai gender. Meskipun kedua jenis kelamin memiliki konsep diri yang positif, namundibandingkan laki-laki, perempuan memiliki konsep diri yang lebih rendah. Hal ini tentunya mendorong kita untuk mencari upaya yang dapat mencipatkan konsep diri yang benar dan meningkatkan konsep diri mereka secara sehat. Cara yang dapat ditempuh adalah pendidikan yang adil dan tidak bias gender, yang dimulai darilingkungan keluarga hingga masyarakat. Selain itu, perlu pula diupayakan

pendidikan yang bersifat androgini sebab pada dasarnya, setiap manusia memiliki androgenitas dalam dirinya

BAB III PENUTUP Kesimpulan : Dari hasil paparan di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri remaja perempuan dan laki-laki secara umum positif. Namun, jika diperbandingkan,konsepdiri remaja perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Hal yang menyebabkannya adalah nilai gender yang diserap dan ditanamkan keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, perlu dicari solusi berupa penciptaan prola pendidikan yang adil dan tidak bias gender dan bersifat androgini sebagai terapi bagi perempuan dalam pembentukan konsep dirinya secara benar dan sehat. 1.Secara umum, konsep diri para remaja yang menjadi responden dapat dikatakan positif. Namun, jika dikaji secara seksama, ada perbedaan konsep diri antara remaja perempuan dan laki-laki pada beberapa hal. Beberapa perbedaan itu antara lain sebagai berikut. a. Para responden perempuan cenderung menyatakan sifat mereka perasa, sementara responden laki-laki rasional. Sebayak 65% responden perempuan menyatakan sifat mereka perasa, sementra laki-laki yang menyatakan sifat perasa hanya 45 %. Begitu pula sebaliknya. b. Dalam memandang kemampuan diri, responden remaja laki-laki dan perempuan menunjukkan perbedaan tertentu. Rasa percaya diri remaja laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Responden laki-laki yang menyatakan merasa percaya diri adalah 65%, sementara perempuan 35%. c. Dalam memandang masa depan, optimisme remaja permpuan dan lakilaki juga menunjukkan perbedaan. Remaja laki-laki lebih optimis menghadapi masa depan daripada remaja perempuan. Dari data angket yang terkumpul,

jumlah responden lakilaki yang menyatakan optimis sebanyak 90%, sementara perempuan 55%. d. Dalam kesadaran pada minat dan bakat, terdapat perbedaan pula antara femaja perempuan dan laki-laki. Remaja perempuan lebih meminati bidang seni dan sosial. Sementara remaja laki-laki meminati hampir semua bidang. e. Motivasi/tekad remaja perempuan dalam menghadapi tantanhan hidup lebih kecil dibandingkan laki-laki. Sebagai contoh, jumlah perempuan yang bertekad melanjutkan studi lebih sedikit daripada laki-laki. Begitu pula tekad untuk mencapai posisi tertentu, apalagi posisi nomor satu dalam masyarakat. Perempuan lebih bersikap defensif, dan seperti tampak pada deskripsi data penelitian, merasa tidak lebih mampu daripada lakilaki.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA Al-Migwar, M. (2006). Psikologi Remaja. Bandung : Pustaka Setia. Hurlock, E. (2001). Psikologi Perkembangan. Edisi 5. Jakarta : Erlangga. Latifah, Melly. 2008. Karakteristik Remaja. Available : http : //www.Child Development. Com. Purwanto. (1999). Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC. Soetjiningsih. (2004). Pertumbuhan Somatik Pada Remaja. Jakarta : Sagung Seto.