Anda di halaman 1dari 11

BIOGAS SEBAGAI RENEWABLE ENERGY dan PEMBUATAN BIOGAS SEDERHANA Untuk memenuhi tugas Matakuliah Pembangkit Tenaga Listrik

yang dibina oleh Bapak Mohammad Rodhi Faiz

Oleh Darwin Sintong 110534406860

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO Nofember 2013

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Energi memiliki peran penting dan tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan manusia. Terlebih, saat ini hampir semua aktivitas manusia sangat tergantung pada energi. Berbagai alat pendukung, seperti alat penerangan, motor penggerak, peralatan rumah tangga, dan mesin-mesin industri dapat difungsikan jika ada energi. Pada dasarnya, pemanfaatan energi seperti energi matahari, energi air, energi listrik, energi nuklir, energi minyak bumi dan gas, serta energi mineral dan batubara memang sudah dilakukan sejak dahulu. Pemanfaatan energi yang tidak dapat diperbaharui secara berlebihan dapat menimbulkan masalah krisis energi. Salah satu gejala krisis energi yang terjadi akhir-akhir ini yaitu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), seperti minyak tanah, bensin, dan solar. Kelangkaan terjadi karena tingkat kebutuhan bahan bakar minyak sangat tinggi dan selalu meningkat setiap tahunnya. Sementara itu, minyak bumi bahan baku pembuatan bahan bakar minyak berjumlah terbatas dan membutuhkan waktu berjuta-juta tahun untuk proses pembentukannya. Kelangkaan energi tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara lain. Pasalnya, populasi manusia yang terus bertambah setiap tahun mengakibatkan permintaan terhadap energi juga meningkat. Karena kelangkaannya, harga minyak mentah di dunia pun setiap tahun terus meningkat. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak terhadap perekonomian negara, terutama bagi negara miskin dan sedang berkembang, termasuk Indonesia. Penghematan telah kita gerakkan sejak dahulu karena pasokan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi adalah sumber energi fosil yang tidak dapat diperbarui (unrenewable), sedangkan permintaan naik terus, demikian pula harganya sehingga tidak ada stabilitas keseimbangan permintaan dan penawaran. Salah satu jalan untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) adalah mencari sumber energi alternatif yang dapat diperbarui (renewable).

B. Batasan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas , maka permasalahan yang akan diangkat dalam kajian ini adalah sebagai berikut : 1. Prinsip Dasar Biogas. 2. Potensi dan Sumber Bahan Baku Biogas. 3. Pemanfaatan Biogas. 4. Perkembangan Biogas di Indonesia. 5. Alat dan Bahan Pembuatan Biogas Sederhana.

C. Tujuan Penulisan 1. 2. 3. 4. 5. Mahasiswa mampu mengetahui Prinsip Dasar Biogas. Mahasiswa mampu mengetahui Bahan baku Gas. Mahasiswa mampu mengetahui Pemanfaatan biogas. Mahasiswa mampu mengetahui Perkembangan Biogas di Indonesia. Mahasiswa mampu mengetahui pembuatan Biogas Sederhana.

BAB II ISI 2.1 Prinsip Dasar Biogas Prinsip dasar teknologi biogas adalah proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa udara (anaerob) untuk menghasilkan campuran dari beberapa gas, di antaranya metan dan CO2. Biogas dihasilkan dengan bantuan bakteri metanogen atau metanogenik. Bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik, seperti limbah ternak dan sampah organik. Proses tersebut dikenal dengan istilah anaerobic digestion atau pencernaan secara anaerob. Umumnya, biogas diproduksi menggunakan alat yang disebut reaktor biogas (digester) yang dirancang agar kedap udara (anaerob), sehingga proses penguraian oleh mikroorganisme dapat berjalan secara optimal. Berikut beberapa keuntungan yang dihasilkan dari digester anaerob. a). Keuntungan Pengolahan Limbah Digunakan untuk proses pengolahan limbah yang alami. Lahan yang dibutuhkan lebih kecil dibandingkan dengan lahan untuk proses kompos. Memperkecil rembesan polutan. Menurunkan volume limbah yang dibuang. b). Keuntungan Energi Menghasilkan energi yang bersih. Bahan bakar yang dihasilkan berkualitas tinggi dan dapat diperbaharui. Biogas yang dihasilkan dapat digunakan untuk berbagai penggunaan. c). Keuntungan Lingkungan Mengurangi polusi udara. Memaksimalkan proses daur ulang. Pupuk yang dihasilkan bersih dan kaya nutrisi. Menurunkan emisi gas metan dan CO2 secara signifikan. Memperkecil kontaminasi sumber air karena dapat menghilangkan bakteri Coliform sampai 99%.

d). Keuntungan Ekonomi Ditinjau dari siklus ulang proses, digester anaerobik lebih ekonomis dibandingkan dengan proses lainnya. 2.2 Potensi dan Sumber Bahan Baku Biogas Sumber bahan baku biogas dapat berasal dari berbagai limbah yakni : a). Biogas dari Limbah Peternakan Sektor peternakan skala usaha kecil umumnya dilakukan masyarakat pedesaan dengan memelihara 25 ekor ternak. Sementara itu peternak skala usaha besar biasanya memelihara puluhan sampai ratusan ternak secara intensif.

Tabel 2.2 Produksi Kotoran Ternak

Limbah peternakan seperti kotoran padat dan cair dapat dijadikan bahan baku biogas yang akan menghasilkan energi dan pupuk organik. Umumnya, kebutuhan energi untuk memasak satu keluarga rata-rata 2000 liter per hari, sedangkan produksi biogas dari seekor sapi berkisar 6001000 liter biogas per hari. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan energi untuk memasak satu keluarga dibutuhkan 23 ekor sapi.

Tabel 2.3 Potensi Produksi Gas b). Biogas dari Limbah Pertanian Pertanian merupakan salah satu sektor usaha yang turut mendukung perekonomian di Indonesia. Sama seperti sektor peternakan, lahan pertanian yang cukup luas juga menghasilkan limbah yang tidak sedikit. Tanaman padi yang merupakan komoditas pangan utama dapat menghasilkan limbah berupa jerami sekitar 3,03,7 ton/ha. Biasanya, limbah pertanian diatasi dengan cara dibakar dan ditimbun. Padahal, cara tersebut dapat merugikan petani dan lingkungan sekitar. Karena, pembakaran yang dilakukan dapat menghasilkan gas CO2 yang berbahaya bagi kesehatan petani. Sementara itu, penimbunan limbah di dalam tanah, dapat menjadi faktor penyebab penyakit bagi pertanaman selanjutnya. Salah satu pola pengelolaan limbah yang tepat agar limbah tersebut dapat dimanfaatkan yaitu dengan cara mengolah limbah menjadi biogas. Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh petani sebagai sumber energi, sedangkan hasil sampingan berupa pupuk organik dapat dimanfaatkan untuk pertanaman selanjutnya. c). Biogas dari Limbah Perairan Hasil perairan yang sampai saat ini dimanfaatkan hanya sebatas kekayaan ikan saja. Padahal, masih banyak sumber daya air lain yang dapat dimanfaatkan seperti rumput laut, alga, dan eceng gondok Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan perairan. Jumlahnya di perairan Indonesia meningkat setiap tahunnya, namun pemanfaatannya baru sebagian kecil dan belum menyeluruh. Rumput laut memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena mengandung banyak manfaat. Jenis rumput laut yang berpotensi dijadikan bahan baku biogas adalah Euchema cottoni karena memiliki imbangan C/N (43,98) yang dapat digunakan untukvpembuatan biogas 2.3 Pemanfaatan Biogas Berkembangnya usaha pemanfaatan limbah menjadi biogas turut mengembangkan beragam alat instalasi biogas, seperti kompor biogas, rice cooker, lampu biogas, pompa air, traktor pertanian, dan alat pasteurisasi yang dimodifikasi agar sesuai dengan penggunaan biogas. Alat tersebut fungsinya sama dengan yang terdapat di pasaran, hanya saja bahan bakar yang digunakan berbeda dan sama mudahnya dalam penggunaan.

Gambar 2.4 Pemanfaatan Biogas 2.4 Perkembangan Biogas di Indonesia Biogas mulai diperkembangkan di Indonesia sekitar tahun 1970. Namun, tingginya penggunaan bahan bakar minyak tanah dan tersedianya kayu bakar menyebabkan penggunaan biogas menjadi kurang berkembang. Teknologi biogas mulai berkembang kembali sejak tahun 2006 ketika kelangkaan energi menjadi topik utama di Indonesia.

Gambar 2.5 Contoh Biogas

2.5 Alat dan Bahan Pembuatan Biogas Sederhana Pada tahap ini dilakukan pembelian peralatan yang dibutuhkan untuk membuat rektor ini, peralatan tersebut antara lain :

Volume reaktor (plastik) : 300 liter Besi Siku, Mur & Baut : 10 buah Kompresor : 1 buah Pengaman gas (Regulator) : 3 buah Selang saluran gas : + 10 m Kebutuhan bahan baku : kotoran ternak dari 2-3 ekor sapi/ kerbau, atau 6 ekor babi. Roda : 5 buah Tabung LPG : 3 tabung ukuran kecil

Gambar pembuatan biogas sederhana Rangkaian Elektrik Pada bagian ini dilakukan pembelian komponen elektronika yang dibutuhkan untuk membuat rangkaian elektriknya, peralatan tersebut antara lain : Solder & Pasta Solder : 2 buah Cutter : 1 buah Multi Meter : 1 buah Bor PCB : 1 buah Gunting : 1 buah Tang Potong : 1 buah Penyedot Timah : 1 buah Timah : 5 buah

Pada pemasangan reaktor biogas dan pembuatan rangkaian elektrik ini adapun langkah langkahnya antara lain sebagai berikut : Pembuatan reaktor, menggunakan plastik penampung air (tandon air dengan kapasitas 300 liter) Pembuatan meja tabung plastik : panjang = 2 m, lebar = 1,2m. Kotoran sapi (fases) awal sebanyak 12 karung kantong semen atau karung seukurannya (12 kantong semen = 240 lt). Persiapan awal ini untuk mempercepat produksi gas yang siap untuk digunakan. Drum untuk tempat pencampuran kotoran (fases) dengan air (1:1) masing 1 buah (120 liter) Merangkai rangkaian power suplly (catu daya) 5V, 12V dan 24V Merangkai rangkaian sensor serta rangkaian SC (signal conditioning) Merangkai rangkaian driver relay dan driver motor. Merangkai rangkaian mikrokontoller ATMEGA8535 serta rangkaian downloadernya. Membuat Software untuk di displaykan pada PC (Personal Computer)

Cara Pengoperasian Reaktor Biogas Adapun cara cara mengoprasikan reaktor biogas ini antara lain sebagai berikut : Buat campuran kotoran ternak dan air dengan perbandingan 1 : 1 (bahan biogas) Masukkan bahan biogas ke dalam reaktor melalui tempat pengisian sebanyak 240 liter, selanjutnya akan berlangsung proses produksi biogas di dalam reaktor. Setelah kurang lebih 10 hari reaktor biogas dan penampung biogas akan terlihat mengembung dan mengeras karena adanya biogas yang dihasilkan. Biogas sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar. Sekali-sekali reaktor biogas digoyangkan supaya terjadi penguraian yang sempurna dan gas yang terbentuk di bagian bawah naik ke atas, lakukan juga pada setiap pengisian reaktor.Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, yaitu sebanyak + 40 liter setiap pagi dan sore hari. Sisa pengolahan bahan biogas berupa sludge (lumpur) akan keluar dari reaktor setiap kali dilakukan pengisian bahan biogas. Sisa hasil pengolahan bahan biogas tersebut dapat digunakan langsung sebagai pupuk organik, baik dalam keadaan basah maupun kering.

BAB III PENUTUP dan KESIMPULAN 3.1 Penutup Biogas memang pilihan yang tepat untuk dijadikan sebagai energi alternatif. Selain murah, biogas juga sangat ramah lingkungan. Limbah yang dihasilkan selama proses produksi biogas juga masih dapat dimanfaatkan. Hasil samping biogas yang berupa lumpur atau yang lebih dikenal dengan sebutan sludge mengandung banyak unsur hara yang dapat dimanfaatkan menjadi pupuk untuk tanaman. Pupuk organik yang dihasilkan dari alat keluaran biogas sudah dapat digunakan dan berkualitas prima. Kandungan unsur haranya yang tinggi sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Proses pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan hasil keluaran biogas ini lebih efisien dibandingkan dengan pembuatan kompos yang memerlukan lahan yang lebih luas serta proses yang lebih lama. Selain itu, digester yang didesain kedap udara juga mengurangi tingkat kegagalan proses dekomposisi sehingga pupuk organik yang dihasilkan berkualitas maksimal. 3.2 Kesimpulan Biogas adalah proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa udara (anaerob) untuk menghasilkan campuran dari beberapa gas, di antaranya metan dan CO2. Biogas dihasilkan dengan bantuan bakteri metanogen atau metanogenik. Umumnya, biogas diproduksi menggunakan alat yang disebut reaktor biogas (digester) yang dirancang agar kedap udara (anaerob), sehingga proses penguraian oleh mikroorganisme dapat berjalan secara optimal. Berikut beberapa keuntungan yang dihasilkan dari digester anaerob.

DAFTAR PUSTAKA 1. Harayti, T. Biogas: Limbah Peternakan yang Menjadi Sumber Energi Alternatif: Wartazoa vol 16 no 03, 2006. 2. Karki, A.B dan K. Dixit. Biogas Fieldbook: Nepal: Sahayogi Press, 1984. 3. Mertahardianti, G.A dan S.R Juliastuti. Pengaruh Enzim -Amylase dalam Pembuatan Biogas dari Limbah Padat Tapioka yang Melibatkan Effective Microorganism (EM) dalam Anaerobic 4. Digester: Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi, Yogyakarta, 2008. 5. Putro, S. Penerapan Instalasi Sederhana Pengolahan Kotoran Sapi Menjadi Energi Biogas di Desa Sugihan Kecamatan Bendosari Kabupaten Sukoharjo: Warta vol 10 no 2 , hal 178-188, 2007.