Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Seiring perkembangan era yang semakin maju dimana perkembangan tersebut mencakup seluruh aspek manusia, secara otomatis terjadi pergeseran pola keoendudukan terutama pola penyakit di masyarakat. Semula penyakit terbanyak yang ditemukan adalah penyakit infeksi baik infeksi saluran nafas maupun gastro intestinal kepada penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit kanker dan lain sebagainya. Penyakit lymfoma non hodgkin adalah salah satu penyakit yang tergolong dalam kasus interne/kasus penyakit dalam pada penyakit ini terjadi proliferasi abnormal sistem lymfoid dan struktur yang membentuknya terutama menyerang kelenjar getah bening. LNH belum diketahui secara pasti penyebabnya oleh karena itu penelitian terus dilakukan untuk mengembangkan kasus ini. Berbagai permasalahan dapat timbul karena kasus ini yang mana permsalahan tersebut dapat menyangkut seluruh aspek kehidupan dari manusia baik secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual, secara fisik dapat menimbulkan tergangguanya pola nafas karena ada penekanan atau kesulitan dalam menelan makana sehingga mengakibatkan kurangbnya asupan nutrisi. Secara psikis penyakit ini dapat menimbulkan gangguan konsep diri terutama mengenai body image, ataupun bahkan bisa mengakibatkan perilaku menarik diri, secara sosial bi sa mengakibatkan kerusakan interaksi sosial karena perilaku menarik diri atau kurang percaya diri dan secara spiritual bisa menyalahkan Tuhan atas penyakit yang diberikan atau mungkin sebaliknya justru lebih tekun beribadah karena ingin cepat sembuh. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah : 1. Bagaimana klasifikasi dari penyakit Limfoma ? 2. Bagaimana kasus epidemiologi dari Limfoma ? 3. Apa etiologi dari penyakit Limfoma ? 4. Bagaimana stadium dari penyakit Limfoma ? 5. Bagaimana tanda dan gejala dari penyakit Limfoma ? 6. Bagaimana perjalanan patofisiologi dari Limfoma ?

7. Bagaimana cara-cara pemeriksaan diagnostik dan laboratorium dari penyakit Limfoma ? 8. Bagaimana tindakan penatalaksanaan pada pasien penderita Limfoma ? 9. Bagaimana proses pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien pederita Limfoma ? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit Limfoma 2. Untuk mengetahui kasus epdidemiologi dari limfoma ? 3. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit Limfoma 4. Untuk mengetahui stadium dari penyakit Limfoma ? 5. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari penyakit Limfoma 6. Untuk mengetahui perjalanan patofisiologi dari Limfoma 7. Untuk mengetahui cara-cara pemeriksaan diagnostik dan laboratorium dari penyakit Limfoma 8. Untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan pada pasien penderita penyakit Limfoma 9. Untuk mengetahui proses pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien pederita Limfoma D. Manfaat Penulisan Manfaat bagi Tim Penulis Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat karya ilmiah dan menambah wawasan khususnya tentang penyakit Limfoma dan ruang lingkupnya Manfaat bagi pembaca Menjadi bahan masukan dalam menambah khazanah ilmu pengetahuan terutama mengenai konsep tentang Limfoma dan ruang lingkupnya dalam bidang kesehatan

BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Medik Dari Limfoma A.I. Pengertian dan Klasifikasi Limfoma Limfoma (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit sehingga muncul istilah limfoma malignum (maligna = ganas). Dalam kondisi normal, sel limfosit merupakan salah satu sistem pertahanan tubuh. Sementara sel limfosit yang tidak normal (limfoma) bisa berkumpul di kelenjar getah bening dan menyebabkan pembengkakan. Sel limfosit ternyata tak cuma beredar di dalam pembuluh limfe, sel ini juga beredar ke seluruh tubuh di dalam pembuluh darah karena itulah limfoma bisa juga timbul di luar kelenjar getah bening. Dalam hal ini, yang tersering adalah di limpa dan sumsum tulang. Selain itu, bisa juga timbul di organ lain seperti perut, hati, dan otak. Pengertian tentang limfoma maligna antara lain menurut Danielle, (1999) bahwa limfoma adalah malignansi yang timbul dari sistem limfatik. Pengertian lain tentang limfoma maligna menurut Susan Martin Tucker, (1998) adalah suatu kelompok neoplasma yang berasal dari jaringan limfoid. Sedangkan menurut Suzanne C. Smeltzer, ( 2001), mengemukakan bahwa limfoma maligna adalah keganasan sel yang berasal dari sel limfoid. Pengertian lain tentang limfoma maligna menurut Doenges, (1999) adalah kanker kelenjar limfoid. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa limfoma maligna adalah suatu jaringan tumor padat yang berasal dari sel limfoid dan bersifat ganas. Berdasarkan gambaran histopatologisnya, limfoma dibedakan menjadi dua jenis, yaitu : a. Limfoma Hodgkin (LH) Limfoma jenis ini memiliki dua tipe. yaitu tipe klasik dan tipe nodular predominan limfosit, di mana limfoma hodgkin tipe klasik memiliki empat subtipe menurut Rye, antara lain : Nodular Sclerosis, Lymphocyte Predominance, Lymphocyte Depletion, Mixed Cellularity b. Limfoma Non-Hodgkin (LNH) Formulasi Kerja (Working Formulation) membagi limfoma non-hodgkin menjadi tiga kelompok utama, antara lain :

Limfoma Derajat Rendah Kelompok ini meliputi tiga tumor, yaitu limfoma limfositik kecil, limfoma folikuler dengan sel belah kecil, dan limfoma folikuler campuran sel belah besar dan kecil

Limfoma Derajat Menengah Ada empat tumor dalam kategori ini, yaitu limfoma folikuler sel besar, limfoma difus sel belah kecil, limfoma difus campuran sel besar dan kecil, dan limfoma difus sel besar

Limfoma Derajat Tinggi Terdapat tiga tumor dalam kelompok ini, yaitu limfoma imunoblastik sel besar, limfoma limfoblastik, dan limfoma sel tidak belah kecil. Perbedaan antara LH dengan LNH ditandai dengan adanya sel Reed-

Sternberg yang bercampur dengan infiltrat sel radang yang bervariasi. Sel ReedSternberg adalah suatu sel besar berdiameter 15-45 mm, sering berinti ganda (binucleated), berlobus dua (bilobed), atau berinti banyak (multinucleated) dengan sitoplasma amfofilik yang sangat banyak. Tampak jelas di dalam inti sel adanya anak inti yang besar seperti inklusi dan seperti Mata burung hantu (owl-eyes), yang biasanya dikelilingi suatu halo yang bening.

Gambar 1. Gambaran histopatologis (a) Limfoma Hodgkin dengan Sel Reed Sternberg dan (b) Limfoma Non Hodgkin A.II. Epidemiologi Limfoma Pada tahun 2002, tercatat 62.000 kasus LH di seluruh dunia. Di negaranegara berkembang ada dua tipe limfoma hodgkin yang paling sering terjadi, yaitu mixed cellularity dan limphocyte depletion, sedangkan di negara-negara yang sudah maju lebih banyak limfoma hodgkin tipe nodular sclerosis. Limfoma hodgkin lebih sering terjadi pada pria daripada wanita, dengan distribusi usia antara 15-34 tahun dan di atas 55 tahun.

Berbeda dengan LH, LNH lima kali lipat lebih sering terjadi dan menempati urutan ke-7 dari seluruh kasus penyakit kanker di seluruh dunia. Secara keseluruhan, LNH sedikit lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita. Rata-rata untuk semua tipe LNH terjadi pada usia di atas 50 tahun. Di Indonesia sendiri, LNH bersama-sama dengan LH dan leukemia menduduki urutan ke-6 tersering. Sampai saat ini belum diketahui sepenuhnya mengapa angka kejadian penyakit ini terus meningkat. Adanya hubungan yang erat antara penyakit AIDS dan penyakit ini memperkuat dugaan adanya hubungan antara kejadian limfoma dengan kejadian infeksi sebelumnya. A.III. Etiologi Limfoma Penyebab dari penyakit limfoma maligna masih belum diketahui dengan pasti. Ada 4 kemungkinan penyebabnya, yaitu : faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus (HIV) atau bakteria (Helicobacter Pilori), virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV), Epstein-Barr virus (EBV), dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet dan pewarna kimia). Dari keempat faktor diatas, terdapat faktor predisposisi yang memicu munculnya limfoma pada seseorang, yaitu sebagai berikut : 1. Usia. Penyakit limfoma maligna banyak ditemukan pada usia dewasa muda yaitu antara 18 35 tahun dan pada orang diatas 50 tahun 2. Jenis kelamin. Penyakit limfoma maligna lebih banyak diderita oleh pria dibandingkan wanita 3. Gaya hidup yang tidak sehat. Risiko Limfoma Maligna meningkat pada orang yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak hewani, merokok, dan yang terkena paparan UV 4. Pekerjaan. Beberapa pekerjaan yang sering dihubugkan dengan resiko tinggi terkena limfoma maligna adalah peternak serta pekerja hutan dan pertanian. Hal ini disebabkan adanya paparan herbisida dan pelarut organik. A.IV. Stadium Limfoma Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium. Stadium I dan II sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal penyakit, sementara stadium III dan IV dikelompokkan bersama sebagai stadium lanjut. 1. Stadium I : Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok yaitu kelenjar getah bening 2. Stadium II : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok

kelenjar getah bening, tetapi hanya pada satu sisi diafragma, serta pada seluruh dada atau perut 3. Stadium III : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening, serta pada dada dan perut 4. Stadium IV : Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang, hati, paru-paru, atau otak A.V. Tanda dan Gejala Limfoma Tanda dan gejala dari limfoma dapat dibedakan berdasarkan klasifikasi dari limfoma. Adapun tanda dan gejala dapat dilihat pada table. 1.1 berikut. Pemeriksaan

Limfoma Hodgkin Asimtomatik limfadenopati Gejala sistemik (demam intermitten, keringat malam, BB turun) Nyeri dada, batuk, napas pendek Pruritus Nyeri tulang atau nyeri punggung

Limfoma Non-Hodgkin Asimtomatik limfadenopati Gejala sistemik (demam intermitten, keringat malam, berat badan turun) Mudah lelah Gejala obstruksi GI (Gatrointestinal) tract dan Urinary tract Melibatkan banyak kelenjar perifer Cincin Waldeyer dan kelenjar mesenteric sering terkena Hepatomegali dan Splenomegali Massa di abdomen dan testis

Anamnesis

Teraba pembesaran limonodi pada satu kelompok kelenjar (cervix, axilla, inguinal) Cincin Waldeyer dan kelenjar mesenteric jarang terkena Hepatomegali dan Splenomegali Sindrom Vena Cava Superior Gejala susunan saraf pusat (degenerasi serebral dan neuropati)

Tabel 1.1 Tanda dan gejala Limfoma A.VI. Patofisiologi dan Patogenesis Limfoma
Ada empat kelompok gen yang menjadi sasaran kerusakan genetik pada sel-sel tubuh manusia, termasuk sel-sel limfoid, yang dapat menginduksi terjadinya keganasan. Gen-gen tersebut adalah proto-onkogen, gen supresor tumor, gen yang mengatur apoptosis, gen yang berperan dalam perbaikan DNA. Proto-onkogen merupakan gen seluler normal yang mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi, gen ini dapat bermutai menjadi onkogen yang produknya dapat menyebabkan transformasi neoplastik, sedangkan gen supresor tumor adalah gen yang

dapat menekan proliferasi sel (antionkogen). Normalnya, kedua gen ini bekerja secara sinergis sehingga proses terjadinya keganasan dapat dicegah. Namun, jika terjadi aktivasi proto-onkogen menjadi onkogen serta terjadi inaktivasi gen supresor tumor, maka suatu sel akan terus melakukan proliferasi tanpa henti. Gen lain yang berperan dalam terjadinya kanker yaitu gen yang mengatur apoptosis dan gen yang mengatur perbaikan DNA jika terjadi kerusakan. Gen yang mengatur apoptosis membuat suatu sel mengalami kematian yang terprogram, sehingga sel tidak dapat melakukan fungsinya lagi termasuk fungsi regenerasi. Jika gen ini mengalami inaktivasi, maka sel-sel yang sudah tua dan seharusnya sudah mati menjadi tetap hidup dan tetap bisa melaksanakan fungsi regenerasinya, sehingga proliferasi sel menjadi berlebihan. Selain itu, gagalnya gen yang mengatur perbaikan DNA dalam memperbaiki kerusakan DNA akan menginduksi terjadinya mutasi sel normal menjadi sel kanker.

Bagan 1. Bagan patogenesis Limfoma

A.VII. Pemeriksaan Penunjang Limfoma Untuk mendeteksi limfoma harus dilakukan biopsi dari kelenjar getah bening yang terkena, untuk menemukan adanya sel Reed-Sternberg. Untuk mendeteksi Limfoma memerlukan pemeriksaan seperti sinar-X, CT scan, PET scan, biopsi sumsum tulang dan pemeriksaan darah. Biopsi atau penentuan stadium adalah cara mendapatkan contoh jaringan untuk membantu dokter mendiagnosis Limfoma. Ada beberapa jenis biopsy untuk mendeteksi limfoma maligna, yaitu sebagai beikut : 1. Biopsi kelenjar getah bening, jaringan diambil dari kelenjar getah bening yang membesar 2. Biopsi aspirasi jarum-halus, jaringan diambil dari kelenjar getah bening dengan jarum suntik. Ini kadang-kadang dilakukan untuk memantau respon terhadap pengobatan 3. Biopsi sumsum tulang di mana sumsum tulang diambil dari tulang panggul untuk melihat apakah Limfoma telah melibatkan sumsum tulang A.VIII. Penatalaksanaan Limfoma Untuk terapi bronchitis disesuaikan dengan penyebab, karena bronkitis biasanya disebabkan oleh virus maka belum ada obat kausal. Obat yang sehari, chloral hidrat 30 mg/Kg BB sebagai sedatif. Penatalaksanaan limfoma maligna dapat dilakukan melalui berbagai cara, yaitu sebagai berikut : a. Pembedahan Tata laksana dengan pembedahan atau operasi memiliki peranan yang terbatas dalam pengobatan limfoma. Untuk beberapa jenis limfoma, seperti limfoma gaster yang terbatas pada bagian perut saja atau jika ada resiko perforasi, obstruksi, dan perdarahan masif, pembedahan masih menjadi pilihan utama. Namun, sejauh ini pembedahan hanya dilakukan untuk mendukung proses penegakan diagnosis melalui surgical biopsy b. Radioterapi Radioterapi memiliki peranan yang sangat penting dalam pengobatan limfoma, terutama limfoma hodgkin di mana penyebaran penyakit ini lebih sulit untuk diprediksi. Beberapa jenis radioterapi yang tersedia telah banyak digunakan untuk mengobati limfoma hodgkin seperti radioimunoterapi dan

radioisotope. Radioimunoterapi menggunakan antibodi monoclonal seperti CD20 dan CD22 untuk melawan antigen spesifik dari limfoma secara langsung, sedangkan radioisotope menggunakan Iodine atau Ytrium untuk iradiasi sel-sel tumor secara selektif. Teknik radiasi yang digunakan didasarkan pada stadium limfoma itu sendiri, yaitu : Untuk stadium I dan II secara mantel radikal, Untuk stadium III A/B secara total nodal radioterapi, Untuk stadium III B secara subtotal body irradiation, Untuk stadium IV secara total body irradiation

Gambar 2. Berbagai macam teknik radiasi c. Kemoterapi Merupakan teknik pengobatan keganasan yang telah lama digunakan dan banyak obat-obatan kemoterapi telah menunjukkan efeknya terhadap limfoma MEDIKASI d. Imunoterapi Bahan yang digunakan dalam terapi ini adalah Interferon-, di mana interferon- berperan untuk menstimulasi sistem imun yang menurun akibat pemberian kemoterapi e. Transplantasi sumsum tulang Transplasntasi sumsum tulang merupakan terapi pilihan apabila limfoma tidak membaik dengan pengobatan konvensional atau jika pasien mengalami pajanan ulang (relaps). Ada dua cara dalam melakukan transplantasi sumsum tulang, yaitu secara alogenik dan secara autologus. Transplantasi secara alogenik membutuhkan donor sumsum yang sesuai dengan sumsum penderita. Donor tersebut bisa berasal dari saudara kembar, saudara kandung, atau siapapun asalkan sumsum tulangnya sesuai dengan sumsum

tulang penderita. Sedangkan transplantasi secara autologus, donor sumsum tulang berasal dari sumsum tulang penderita yang masih bagus diambil kemudian dibersihkan dan dibekukan untuk selanjutnya ditanamkan kembali dalam tubuh penderita agar dapat menggantikan sumsum tulang yang telah rusak. B. Konsep Keperawatan Dari Limfoma ASUHAN KEPERAWATAN Tn. R DENGAN DIAGNOSA LIMFOMA NON-HODGKIN DI RUANG FLORENCE RUMAH SAKIT X Tanggal Pengkajian : 28 Oktober 2012, Pukul : 09.00 WITA, Oleh : Mahasiswa I B.I. Pengkajian Identitas Pasien Nama : Tn. R

Tempat/Tanggal Lahir : Buton, 2 Agustus 1982 Status Perkawinan Pendidikan Pekerjaan Suku/Bangsa Tanggal Masuk RS No. RM Ruang Diagnosa Medis : Kawin : S1 Managemen : Manajer : Buton : 25 Oktober 2012 : 002-006-0089 : Florence : Lymfoma Non Hodgkin (LNH)

Keluarga/Penanggung jawab Nama Hubungan Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat : Asrini : Istri : 29 Tahun : S1 Hubungan Internasional : Pengacara : Samarinda

Riwayat kesehatan Kesehatan pasien 1. Keluhan Utama 2. Alasan utama masuk RS 3. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengatakan sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu sebelum masuk Rumah sakit pertama kali disadarai di leher kiri berukuran sebesar telur ayam, padat kenyal dan makin lama makin membesar, mula-mula benjolan tidak nyeri tekan, tetapi sejak 2 bulan yang lalu pada benjolan timbul luka-luka kemerahan bila ditekan terasa nyeri, nyeri dirasakan saat benjolan ditekan dan tidak menyebar, nyeri tidak timbul bila tidak di tekan dan waktu menelan terasa nyeri dileher. Kemudian timbul juga benjolan di leher kanan sebesar kelereng, padat dan nyeri tekan, juga muncul benjolan yang sama di bawah rahang kanan. Kurang lebih 2 bulan yang lalu pasien sering merasa sesak di tenggorokan,. Banyak berkeringat di malam hari dan sulit menelan. Satu minggu sebelum MRS pasien mengatakan bernafas agak susah, nyeri telan tambah hevat di bawa ke dokter tapi tidak sembuh 4. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengatakan tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya. Pasien mengatakan tidak pernah mempunyai riwayat penyakit tekanan darah tinggi, kencing manis, atau penyakit menular seperti TBC atau penyakit lain yang menyebabkan harus Masuk rumah sakit. Penyakit yang p[ernah diderita hanya batuk pilek dan panas biasa dan dengan berobat atau membeli obat kemudian sembuh 5. Riwayat Penyakit Keluarga Pasien mengatakan dari pihak keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan dirinya. Menurut klien dan keluarga dari pihak keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit hypertensi, penyakit DM ataupun penyakit menular lain seperti TBC yang menyebabkan harus MRS di Rumah Sakit. Penyakit yang pernah diderita hanyalah batuk, pilek dan panas biasa dan berobat ke dokter atau membeli obat kemudian sembuh : Nyeri menelan : Pasien mengatakan nyeri saat menelan

Pemeriksaan Fisik Tanda-tanda vital : TD ND RR S. Axila Kepala Ekspresi wajah tampak sedikit gelisah, bentuk oval tampak bersih tidak ditemukan adanya bekas luka ekspresi wajah tampak sedikit gelisah/cemas, kadang menyeringai saat menelan, pasien tampak menyeringai saat leher ditekan Rambut : Pendek, warna hitam, bersih, rambut tidak mudah dicabut bentuk kepala oval dan tidak ada nyeri tekan. Rambut hitam dan tidak rontok, agak kotor dan tidak ada ketombe, tidak ditemukan adanya kutu Kulit kepala : bersih, tidak didapatkan adanya bekas luka, ataupun benjolan abnormal Mata. Simetris, konjungtiva tarsal warna merah muda, sclera tidak ikterus, pupil isokor, fungsi penglihatan baik, tidak ada bercak reflek cahaya (+), kornea jernih Hidung : Mucosa hidung warna merah muda, simetris, septum nasi tegak berada di tengah, tidak terdapat adanya polip, bersih dan fungsi penciuman baik Telinga : Simetris, auricula tidak ada infeksi, liang telinga warna merah muda, bersih tidak didapatkan adanya cerumen yang mengeras ataua menggumpal, fungsi pendengaran baik ditandai dengan pasien bisa menjawab pertanyaan dengan spontan Mulut : Mucosa merah muda, bibir merah muda, tidak kering, lidah bersih, gigi bersih tidak ada caries, tidak ada radang pada tonsil,tidak terdapat stomatitis, fungsi mengunyah, pengecapan baik :160/100 mmHg : 125 x/menit : 26 x/menit : 36,5OC

Leher Asimetris Terdapat pembesaran kelenjar lymfe pada leher kiri multiple dengan diameter kurang l;ebih 20 cm, terdapat benjolan dibawah rahang kanan diameter 4 5 cm terdapat benjolan pada leher kanan dengan diameter kurang lebih 5 cm, terdapat radang pada leher kiri, konsistensi benjolan padat, kenyal dan nyeri tekan Movement tidak maksimal nyeri saat menoleh kekiri Trachea : mengalami deviasi Vena jugularis dan arteri carotis tak terevakuasi

Pemeriksaan Thorak a) Pulmonum Inspeksi : bentuk thorak simetris, bersih, tak tampak adanya tarikan intercostae yang berlebihan, pernafasan dan iramareguler teratur,terdapat pembesaran kelenjar lymfe axila kanan dan kiri, nafas spontan Palpasi : Tidak ada benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan, gerak nafasreguler, tidak ada pernafasan tertinggal, tidak ada krepitasio Perkusi : sonor pada paru kanan dan kiri Auskiulatsi : suara nafas vesikuler, Tidak ada suara ronkhi ataupun wheezing pada paru kanan dan kiri b) Cor Inspeksi : Tidak terlihat adanya ictus cordis, pulsasi jantung tidak tampak Palpasi : Teraba Ictus Cordis pada ICS IV V sinestra MCL, pulsasi jantung teraba pada apek, Thrill tidak ada Perkusi : suara redup (pekak/dullness) pada daerah jantung Auskultasi : S1 dan S2 tunggal, tidak ada suara tambahan dari jantung

Abdomen Inspeksi : Simetris, bersih, tidak didapatkan adanya benjolan atau bekas luka, supel, perut datar dan tidak membuncit

Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba masssa abnormal Perkusi : Suara tympani perut Auscultasi : Peristaltik usus 14 16 x/menit

Inguinal-genetalia dan anus Pembesaran kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri kurang lebih 2 cm padat dan kenyal Jenis kelamin laki laki, bersih, tidak didapatkan adanya jamur dan infeksi Fungsi eliminasi lancar

Integumen Turgor baik, warna kulit sawo matang, tidak ada alergi Tidak ada alergi atau iritasi kulit, tidak ada kelainan postur tubuh, pergerakan maksimal Terdapat benjolan pada leher kiri dengan diameter 20 cm Kuku warna merah muda

B.II. Diagnosa Keperawatan Setelah data dikumpulkan dilanjutkan dengan analisa data untuk menentukan diagnosa keperawatan. Menurut Doenges (1999), diagnosa keperawatan pada klien post operasi laparatomy dan biopsy dengan indikasi limfoma maligna sebagai berikut : 1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, insisi bedah 2. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan, misalnya : muntah, perdarahan, diare 3. Nyeri (akut) berhubungan dengan adanya insisi bedah 4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan cadangan energi, peningkatan laju metabolik dari produksi leukosit masif 5. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet, perubahan proses pencernaan 6. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan darah dan nutrisi kejaringan sekunder pembedahan 7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang akurat mengenai perawatan di rumah

B.III. Perencanaan Inervensi, dan Evaluasi Setelah dignosa keperawatan ditemukan, maka dilanjutkan dengan menyusun perencanaan untuk masing-masing diagnosa yang meliputi prioritas dignosa keperawatan, penetapan tujuan dan kriteria evaluasi sebagai berikut : 1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, insisi bedah Tujuan : tidak terjadi infeksi atau penyebaran infeksi Kriteria Evaluasi : Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda

infeksi/inflamasi, drainase purulen, eritema, dan demam Tidak menunjukkan merah, bengkak, pada daerah luka Luka kering bebas dari drainase purulen, eritema, demam, bengkak, dan nyeri Leukosit dalam batas normal 4800-10800 /ul

Intervensi : Monitor tanda-tanda vital tiap 8 jam, perhatikan demam, menggigil, meningkatnya nyeri Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptik Observasi tanda-tanda infeksi seperti nyeri, panas, merah dan bengkak pada luka operasi, catat karakteristik luka, adanya eritema, dan daerah pemasanngan infus Lakukan perawatan luka secara aseptik dan antiseptik sesuai program Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien Berikan antibiotik sesuai indikasi

2. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan, misalnya : muntah, perdarahan, diare Tujuan : volume cairan adekuat atua dapat dipertahankan Kriteria Evaluasi : Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembaban membran mukosa, turgor kulit baik, tanda vital stabil, dan secara individual haluaran urine adekuat Masukan dan keluaran seimbang (balance)

Intervensi : Monitor TTV tiap 8 jam Monitor intake dan output (hitung balance cairan dalam 24 jam) Observasi adamya perdarahan yang berlabihan Observasi karakteristik luka terhadap adanya peradangan, juga balutan agar tetap kering Lihat membran mukosa, kaji turgor kulit dan pengisian kapiler Auskultasi bising usus, catat kelancaran flatus, gerakan usus Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan per oral dimulai, dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi Berikan cairan IV dan elektrolit

3. Nyeri (akut) berhubungan dengan adanya insisi bedah Tujuan : nyeri hilang, minimal berkurang atau dapat dikontrol Kriteria Evaluasi : Melaporkan nyeri hilang/terkontrol Tampak rileks, mampu tidur/istirahat dengan tepat

Intervensi : Ukur TTV tiap 8 jam Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10). Selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat Pertahankan istirahat dengan posisi semi-Fowler Dorong ambulasi diri Berikan aktivitas hiburan Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam bila nyeri nyeri timbul atau teknik mengalihkan perhatian Berikan analgesik sesuai indikasi Berikan kantong es pada abdomen

4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan cadangan energi, peningkatan laju metabolik dari produksi leukosit masif Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari Kriteria Evaluasi : Laporan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur Berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan

Menunjukkan penurunan tanda fisiologis tidak toleran, misal ; nadi, pernafasan, dan tekanan darah masih dalam batas normal

Intervensi : Evaluasi laporan kelemahanm, perhatikan ketidakmampuan untuk beraprtisipasi dalam aktifitas sehari-hari Berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa gangguan. Dorong istirahat sebelum makan Implementasikan teknik penghematan energi. Bantu ambulasi/aktifitas lain sesuai indikasi Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan berikan antiemetik sesuai indikasi 5. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet, perubahan proses pencernaan. Tujuan : klien dapat BAB sesuai dengan polanya setiap hari Kriteria Evaluasi : Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus Menunjukkan perubahan prilaku/pola hidup, yang diperlukan sebagai penyebab, faktor pemberat Frekuensi bising usus 3-15 x/menit BAB lembek dan lancar serta tidak nyeri pada saat BAB

Intervensi : Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi, dan jumlah Auskultasi bunyi usus Awasi masukan dan haluaran dengan perhatian khusus pada

makanan/cairan Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung Hindari makan yang mengandung gas Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan dalam kondisi kulit atau mulai kerusakan. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi diare Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan diet seimbang dengan tinggi serat dan bulk Berikan pelembek feses, stimulasi ringan, laksatif pembentuk bulk, atau enema sesuai indikasi, pantau keefektifan

Berikan obat antidiare, misal ; difenoksilat hidroklorida dengan atropin (Lomotil) dan obat pengabsorbsi air, misal Metamucil.

6. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan darah dan nutrisi kejaringan sekunder pembedahan Tujuan : tidak terjadi kerusakan integritas kulit atau integritas kulit dapat dipertahankan Kriteria Evaluasi : Mempertahankan integritas kulit Mengidentifikasi faktor risiko/prilaku individu untuk mencegah cedera dermal Tidak ada iritasi pada daerah luka operasi Tidak ada lesi

Intervensi : Kaji integritas kulit, cata perubahan pada turgor kulit, gangguan warna hangat lokal, eritema, ekskoriasi Ubah posisi secara periodik dan pijat permukaan tulang bila pasien tidak bergerak atau ditempat tidur Ajarkan permukaan kulit kering dan bersih, batasi penggunaan sabun Bantu untuk latihan rentang gerak pasif atau aktif

7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang akurat mengenai perawatan di rumah. Tujuan : mengatakan pengertiannya tentang prosedur pembedahan dan penanganannya. Kriteria Evaluasi : Klien atau orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut Menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan dan potensial komplikasi Berpartisipasi dalam program pengobatan

Intervensi : Kaji ulang pembatasan aktifitas pascaoperasi Diskusikan perawatan insisi, termasuk mengganti balutan, pembatasan mandi, dan kembali kedokter untuk mengangkat jahitan/pengikat

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas, Tim Penulis dapat menarik beberapa kesimpulan bahwa : 1. Limfoma (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit 2. Berdasarkan gambaran histopatologisnya, limfoma dibedakan menjadi dua jenis, yaitu : Limfoma Hodgkin (LH) dan Limfoma Non-Hodgkin (LNH). Formulasi Kerja (Working Formulation) membagi limfoma non-hodgkin menjadi tiga kelompok utama, antara lain : Limfoma Derajat Rendah, Limfoma Derajat Menengah, dan Limfoma Derajat Tinggi 3. Di Indonesia sendiri, LNH bersama-sama dengan LH dan leukemia menduduki urutan ke-6 tersering 4. Ada 4 kemungkinan penyebabnya, yaitu : faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus seperti (HIV) atau bakteria (Helicobacter Pilori), virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV), Epstein-Barr virus (EBV), dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet dan pewarna kimia) 5. Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium 6. Tanda dan gejala dari limfoma dapat dibedakan berdasarkan klasifikasi dari limfoma 7. Untuk mendeteksi Limfoma memerlukan pemeriksaan seperti sinar-X, CT scan, PET scan, biopsi sumsum tulang dan pemeriksaan darah 8. Penatalaksanaan limfoma maligna dapat dilakukan melalui berbagai cara, yaitu sebagai berikut : Pembedahan, Radioterapi, Kemoterapi, Transplantasi sumsum tulang, dan Imunoterapi 9. Adapun asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien penderita limfoma adalah Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Intervensi dan Evaluasi B. Saran Melalui kesimpulan diatas, adapun saran yang diajukkan oleh Tim Penulis adalah : 1. Mahasiswa dapat menginterpretasikan dengan baik dalam melakukan tindakan keperawatan dalam praktik, khususnya pada pasien yang mengalami penyakit Limfoma Maligna

DAFTAR RUJUKAN Brunner and Suddarth. 2002. Text Book of Medical Surgical Nursing (Agung, Penerjemah). Philadelphia Carpenito, Lynda Juall. 2000. Hand Book Of Nursing Diagnosis. (Monica Ester, Penerjemah). Philadelphia. Doenges, M. 2000. Nursing Care Planns (I Made Kariasa, Penerjemah). Philadelphia. F.A Davis Company Niakurniasih, Sudiariandini S. (1997). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI Henderson, M.A. 1992. Ilmu Bedah Perawat. Jakarta : Yayasan Mesentha Medica Schwartz, Seymour. 2000. Intisari Prinsip Ilmu Bedah. Jakarta : Buku Kedokteran EGC Smeltzer, Suzzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC Price Anderson Sylvia, Milson Mc Carty Covraine. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta : Buku Kedokteran EGC Www. Google. Com/Asuhan Keperawatan Pada Pasien Penderita Limfoma. 2013 Www. Infokes. Com/Program Studi Keperawatan. 2013