Anda di halaman 1dari 6

BATCHING PLANT PLTU 2 x 7 MALUKU UTARA

Batching plant merupakan alat yang berfungsi untuk mencampur/memproduksi beton ready mix dalam produksi yang besar. Batching plant digunakan agar produksi beton ready mix tetap dalam kualitas yang baik, strenghtnya stabil sesuai dengan yang diharapkan, untuk itu komposisi material harus terkendali. Dalam artikel kali ini, dry mixed yaitu batching plant yang fungsinya hanya untuk menimbang saja, pengadukan beton ready mix dilakukan pada concrete mixer truck. Semua material yang akan diaduk, sebelumnya ditimbang sesuai dengan mix design dengan memperhitungkan kandungan air dalam material, baik dalam agregat kasar maupun agregat halus (pasir).

Gambar 1. Layout Batching Plant Bagian bagian bantching plant : 1. Storage bin, digunakan untuk pemisah fraksi agregat. Storage bin dibagi menjadi 4 (empat) fraksi, yaitu: agregat butir kasar (split), butir menengah (screening), dan butir halus (pasir) 2. Belt conveyor, berfungsi untuk menarik bahan/material (agregat kasar dan agregat halus) dari storage bin ke mixer truck. 3. Post control berfungsi sebagai pengatur volume bahan/material yang akan diaduk didalam mixer truck 4. Mixer truck berfungsi sebagai pengaduk campuran yang direncakan. 5. Excavator berfungsi sebagai pengangkut material/bahan ke storage bin 6. Cement silo, berfungsi untuk tempat penyimpanan semen dan menjaga semen agar tetap baik.

7. Bin, berfungsi sebagai tempat pengumpulan bahan/material (agregat kasar dan agregat halus) yang berasal dari penumpukan bahan di base camp 8. Dan bagian lain yang seperti Dosage pump, digunakan untuk penambahan bahan cairan seperti retarder, water and etcetera. Tempat penampungan air yang berfungsi sebagai supply kebutuhan air pada ready mix. Tempat penyimpanan benda uji. Tempat pengujian sample beton di site.

Sumber material penyusun beton 1. Semen Ada 3 jenis semen yang dipakai dalam pembangunan PLTU 2x7 Maluku utara yaitu Semen tipe 1, semen tipe 2 dan semen tipe 5. Ketiga semen tersebut didatangkan dari Kota Surabaya dengan skala sedang (5000 10000 sak) untuk sekali pengangkutan.

2. Agregat kasar dan Agregat Halus Tanah di Pulau Tidore merupakan tanah berpasir yang mempunyai kadar lumpur yang tinggi sehingga tidak dapat dipakai dalam pembuatan beton kekuatan tinggi. Oleh karena itu agregat kasar dan agregat halus didatangkan dari Kota Manado. Untuk kebutuhan PLTU Timika maka dapat diambil dari Pulau Kai Besar atau Kota Ambon (berdasarkan survey PLTGB Tual) jika tanah sekitar site tidak layak untuk dijadikan material penyusun beton kekuatan tinggi.

Gambar 2. Agregat halus (kiri) dan Agregat Kasar (kanan)

3. Air Air yang digunakan dalam pembuatan beton diambil dari air tanah di site PLTU Maluku utara.

Mix Design Perhitungan campuran untuk proyek PLTU Malut menggunakan perhitungan dari Fakultas teknik Universitas Tarumanegara jakarta. Pemeriksaan dan pengujian dimulai dengan pegujian beberapa material penyusun beton diantaranya : Pemeriksaan berat jenis Pemeriksaan resapan Pemeriksaan kadar lumpur Pemeriksaan gradasi butiran Pengujian keausan/kekerasan Perancangan/desain campuran Pengujian kuat tekan

Dalam setiap pemeriksaan dilakukan minimal dua kali pemeriksaan terhadap agregat yang sama untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat atau meminimalisir kesalahan yang dapat terjadi selama pemeriksaan. Sedangkan dalam desain campuran dilakukan 4 jenis perancangan yang terdiri dari :

a. Mix 1 : pasir dan batu tidore (satu ukuran) b. Mix 2 : pasir dan batu dari manado c. Mix 3 : pasir manado dan batu tidore d. Mix 4 : pasir dan batu tidore (dua ukuran) Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 3, 7 dan 28 hari. Dari hasil pemeriksaan dan pengujian maka penggunaan campuran beton menggunakan campuran mix 2 yaitu campuran yang pasir dan batunya dari manado.

Proses Pencampuran Beton Proses pencampuran beton di mixer truck akan dilakukan melalui beberapa tahap : 1. Siapkan sumber Energi mesin kontrol dan Storage Bin ke genset

Gambar 2. Sumber Energi

2. Batu dan pasir yang berada di bin diangkut dengan excavator dengan cara manual kedalam storage bin sesuai dengan volume storage bin.

Gambar 3. Strorage Bin

3. Melalui post control, pengawas melakukan persiapan volume kebutuhan rencana dan menyalakan mesin pengatur volume material penyusun beton.

Gambar 4. Mesin Kontrol

4. Setelah mesin dihidupkan, volume material diatur setengah kali volume rencana campuran beton (batu dan pasir) dengan menekan tombol pengatur dan gate bin akan terbuka serta belt conveyor berputar.

Gambar 4. Setting Volume

5. Material (batu dan pasir) yang telah berada di bin akan berjatuhan dan terbawa belt conveyor menuju mixer truck dalam kondisi mixer truck beroperasi (mixer berputar)

Gambar 5. Conveyor

6. Kemudian dilanjutkan dengan memasukkan air dengan bantuan pompa

Gambar 4. Tangki Pompa

7. Setelah itu, maka selanjutnya dilakukan pemasukan semen dari semen cilo dengan cara manual. Pertahankan mixer truck tetap berputar agar campuran merata.

Gambar 5. Cement Silo

8. Setelah semen dimasukkan kedalam mixer truck, maka dilanjutkan dengan memasukkan setengan volume pasir dan batu sisanya tersebut. 9. Mixer terus dijalankan sampai campuran tercampur total, 10. Selanjutnya dilakukan slump test dan pengambilan sample dan beton muda siap dipakai.

Konversi Nilai Kuat Tekan Kuat tekan beton rencana tergantung juga pada tipe semen yang dipakai dalam campuran. Penentuan tipe semen sangat tergantung pada kebutuhan lapangan. Berikut ini adalah faktor konversi untuk kuat tekan beton dengan berbagai tipe semen yang mengacu pada tipe semen 1.

Gambar 6. Konversi kuat Tekan