Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian
Pengukuran kejadian penyakit adalah suatu pekerjaan penelitian yang salah satu dimaksudkan untuk menjelaskan suatu keadaan, makan penyajian hasil harus dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga memberikan keterangan yang optimal.

B. Macam Pengukuran Penyakit


Secara umum, bentuk penyajian yang dimaksud dapat dibedakan atas empat macam yakni : 1. Menggunakan angka mutlak (absolut) Contoh penyajian dalam bentuk anga mutlak adalah hasil pengukuran penyakit HIV/AIDS di suatu daerah ditemukan jumlah penderita penyakit HIV sebanyak 45 orang. Jika kemudian data tersebut disajikan maka terlihat bahwa keterangan yang dimilikinya amat terbatas sekali, sehingga data yang diperoleh kurang dirasakan manfaatnya. 2. Rate Rate adalah merupakan perbandingan yang mengukur kemungkinan terjadinya peristiwa tertentu, dimana membandingkan suatu peristiwa dibagi dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena peristiwa yang dimaksud dalam waktu yang sama yang dinyatakan dalam persen atau permil. Manfaat : Digunakan untuk menilai masalah kesehatan yang dihadapi, risiko terkena masalah kesehatan, mengetahui beban tugas yang harus diselenggarakan suatu pelayanan kesehatan. Contoh Rate : a. Insiden : Jumlah kasus baru suatu penyakit Rumus : Berisiko adalah mereka yang hidup, sehat, tidak kebal, punya target organ. b. Prevalensi Prevalensi adalah gambaran tentang frekuensi penderita lama lama dan baru yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu disekelompok masyarakat tertentu. Pada perhitungan nilai prevelaen, kabel atau tidaknya seseorang terhadap penyakit yang sedang dihitung, tidaklah dipersoalkan. Dengan perkataan lain, pada perhitungan nilai prevalen di pergunakan jumlah seluruh penduduk. Ditinjau dari sudut ini, jelas bahwa angka prevelansi sebenarnya bukan suatu rate yang murni, karena mereka yag tidak mungkin terkena penyakit, juga dimasukkan dalam perhitungan. Rumus : jum kasus baru + lama Manfaat : Digunakan untuk merencanakan pelayanan kesehatan. Contoh soal : Di desa Dobonsolo Sentani Kabupaten Jayapura jumlah penduduk pada saat survei bulan oktober 2006 adalah 1000 orang semuanya rentan malaria. Jika dilaporkan tgl 14 oktober 2006 ditemukan 55 orang dan 30 kasus bulan september (belum sembuh) berapakah insiden dan prevalensinya?

Jawaban : Insiden : 55/1000x1000=55 per 1000 penduduk Prevalensi : 85/1000x1000=85 per 1000 penduduk Dalam melakukan perhitungan insiden dan prevalensi harus memperhatikan skematis berikut :

Soal : Jika pada suatu wilayah Kota Jayapura ditemukan pola perjalanan penyakit Y untuk bulan januari sampai juni di atas, berapakah angka insiden dan prevalensi penyakit Y tersebut untuk periode februari sampai mei? Jawaban : 1. Insiden adalah kasus baru. Untuk periode februari-mei adalah : B-G-H = 3 2. Prevalensi adalah kasus lama+ baru periode februari-mei adalah : A-B-C-D-E-F-G-H=7

3. Ratio Merupakan nilai perbandingan antara dua kuantitas yang keduanya tidak memiliki sifat dan ciri yang sama. Contoh : ratio laki-laki : perempuan 20:10=2:1 4. Proporsi Suatu perhitungan dimana pembilang (numerator)merupakan bagian dari denominator. Proporsi : X Soal : Dalam suatu KLB penyakit Hepatitis jumlah penderita laki-laki 20 orang dan perempuan 10 orang hitungan ratio dan proporsi penderita laki-laki! Jawaban :

C. Sumber Kesalahan Pengukuran Penyakit


Ada beberapa kesalahan yang bisa terjadi pada saat pengukuran kejadian penyakit dan kesalahan yang terjadi pada umumnya bersumber dari dua sumber yakni : 1. Kesalahan akibat penggunaan data yang tidak sesuai. Contoh timbulnya kesalahan karena penggunaan data yang tidak sesuai ialah : a. Mempergunakan sumber data yang tidak representative, misalnya hanya data dari fasilitas pelayanan kesehatan saja, padahal telah diketahui cakupan fasilitas

pelayanan amat terbatas dan tidak semua masyarakat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. b. Memanfaatkan data dari hasil survei khusus yang pengambilan respondennya tidak secara acak (tidak memenuhi syarat randomisasi) c. Memanfaatkan data dari hasil survei khusu yang sebagian besar respondennya tidak memberikan jawaban. 2. Kesalahan akibat adanya faktor bias Yang dimaksudkan dengan disini adalahterdapatnya perbedaan antara hasil pengukuran dengan nilai yang sebenarnya. Kesalahan karena bisa dapat berasal dari sipengumpul data ataupun dari masyarakat yang dikumpulkan datanya. Contoh kesalahan yang bersumber dari pengumpulan data : a. Mempergunakan alat ukur yang berbeda-beda atau yang tidak distandarisasi. b. Mempergunakan teknik pengukuran yang berbeda-beda. c. Mempergunakan cara pencatatan hasil yang berbeda-beda. Sedangkan kesalahan karena bias yang bersumber dari masyarakat adalah : a. Terdapat perbedaan persepsi masyarakat akan penyakit yang ditanyakan. b. Terdapatnya perbedaan respons terhadap alat test yang dipergunakan.

Ada tiga cara menghitung rata-rata data berkelompok, yaitu dengan menggunakan titik tengah, menggunakan simpangan rata-rata sementara dan menggunakan kode (coding). Rumus ketiga cara penghitungan rata-rata data berkelompok tersebut adalah sebagai berikut. 1. Menggunakan titik tengah (cara biasa)

2. Menggunakan simpangan rata-rata sementara

dimana 3. Menggunakan pengkodean (coding)

Keterangan = rata-rata hitung data berkelompok = rata-rata sementara fi = frekuensi data kelas ke-i xi = nilai tengah kelas ke-i ci = kode kelas ke-i p = panjang interval Contoh penghitungan: Sebanyak 21 orang pekerja dijadikan sampel dan dihitung tinggi badannya. Data tinggi badan dibuat dalam bentuk kelas-kelas interval. Hasil pengukuran tinggi badan adalah sebagai berikut.

Hitunglah rata-rata tinggi badan pekerja dengan menggunakan titik tengah, simpangan ratarata sementara dan cara koding! Jawab: 1. Menggunakan titik tengah (cara biasa) Proses penghitungan rata-rata dengan menggunakan titik tengah dibantu dengan menggunakan tabel di bawah ini.

Dari tabel di atas diperoleh

Dengan begitu dapat kita hitung rata-rata data berkelompok sebagai berikut.

2. Dengan menggunakan simpangan rata-rata sementara Sebelum menghitung rata-rata data berkelompok menggunakan simpangan rata-rata sementara, kita terlebih dahulu menetapkan rata-rata sementaranya. Misalkan rata-rata sementara yang kita tetapkan adalah 160. Selanjutnya kita bisa membuat tabel penghitungan sebagai berikut.

Dari tabel di atas diperoleh

Hasil rata-rata hitung menggunakan simpangan rata-rata adalah

3. Cara coding Sama dengan menggunakan simpangan rata-rata sementara, sebelum menghitung rata-rata dengan cara coding, kita juga harus menetapkan rata-rata sementara. Namun rata-rata sementara yang kita tetapkan harus sama dengan salah satu nilai tengah salah satu kelas interval. Misalkan kita menetapkan rata-rata sementara adalah nilai tengah kelas keempat, yaitu 168. Dengan begitu kita bisa membuat tabel dan pengkodean seperti di bawah ini.

Pengkodean dimulai dari angka 0 untuk kelas interval dimana rata-rata sementara ditetapkan. Kemudian dengan kelas sebelumnya berturut-turut menjadi angka negatif (-1, -2, -3 dan seterusnya) menjauhi kelas rata-rata sementara. Berikutnya dengan kelas sesudahnya berturut-turut pengkodeannya menjadi angka positif (1,2 3 dan seterusnya) menjauhi kelas rata-rata sementara tersebut.

Dari tabel di atas diperoleh

Hasil rata-rata hitung menggunakan coding adalah sebagai berikut.