Anda di halaman 1dari 34

STUDI BIOFARMASETIK OBAT YANG DIBERIKAN MELALUI REKTUM

PENDAHULUAN
Obat yang di berikan lewat rektum dapat ditujukan untuk pengobatan lokal (misalnya :

wasir, radang rektum, konstipasi) maupun untuk aktivitas sistemik apabila cara lain
sulit dilakukan, misalnya : Penderita dalam keadaan muntah atau terdapat gangguan saluran cerna. Bila terdapat kemungkinan zat aktif rusak oleh getah lambung yang asam atau oleh

enzim usus.
bila zat aktif mengalami kerusakan pada pelintasan pertama melalui hat. Bila penderita menolak menelan obat Awal aktivitas terapetik sering lebih lambat dibandingkan cara pemberian lainnya. Jumlah total zat aktif yang diserap kadang-kadang lebih kecil dibandingkan cara pemberian lainnya

ANATOMI DAN FISIOLOGI REKTUM


A. BENTUK DAN UKURAN Bagian pelvinal melebar membentuk ampula recti yang berfungsi untuk menampung feses. Panjang total rektum pada manusia dewasa rata-rata adalah 15-19 cm, 12-14 cm bagian pelvinal dan 5-6 cm bagian parineal.

B. STRUKTUR ANATOMI Struktur anatomi rektum berbeda dari kolom, walau tidak ada batas yang pasti antara kedua organ tersebut. Terdapat empat lapisan rektum, dari arah luar kedalam berurutan adalah : Lapisan serosa peritonial (tunica serosa peritoncalis) Lapisan otot (tunica muscularis) dengan lapisan luar serabut yang memanjang dari bagian dalam serabut yang melingkar. Lapisan bawah mukosa (tunica sub-mucosa) atau cellucae yang mengandung plexus vena heamorrhoidales

Lapisan mucosa (tunica mucosa) yang pada bagian-bagian tertentu menunjukan


sifat umum usus besar.

C. VASKULARISASI DARAH DAN GETAH BENING Rektum dialiri oleh 3 jenis vena heamorrhoidales : Venae heamorrhoidales superior yang bermuara ke vena mesentericum inferior, selanjutnya masuk ke dalam vena porta, dan juga membawa darah langsung ke peredaran umum. Venae heamorrhoidales medialis dan vena heamorrhoidales inferior yang bermuara

ke venae cava inferior dengan perantara venae iliaca interna selanjutnya membawa
darah ke peredaran umum (kecuali hati).

D. PERSARAFAN Persarafan rektum terdiri dari : Anyaman haemorrhouidales bagian atas (plexus heamorrhoidales superior) Anyaman haemorrhouidales yang keluar dari plexus hipogastricum Saraf heamorhoidales atau saraf anaus yang merupakan cabang dari plexus sacralis

E. FUNGSI REKTUM Rektum mempunyai 2 peran mekanik, yaitu sebagai tempat penampngan feses dan mendorongnya saat pengeluaran. Adanya mukosa memungkinkan terjadinya penyerapan yang tidak dapat diabaikan, hal ini menguntungkan pada pengobataan dengan supositoria dan lavement nutritif.

E. CARA TRANSPOR ZAT AKTIF DALAM TUBUH SETELAH PEMBERIAN DAN PENYERAPAN MELALUI REKTUM Penelitiaan tentang penyerapan zat aktif dari supositoria, pertama kali dilakukan oleh Ravaud pada tahun 1936 Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa penyerapan di rektum dapat terjadi dengan 3 cara, yaitu :

Lewat pembuluh darah secara langsung


Lewat pembuluh getah bening Lewat pembuluh darah secara tidak langsung melalui hati.

Setelah penelitian Ravaud juga ada penelitian-penelitian selanjutnya oleh para ahli antara lain : Zuns pada tahun 1930 melakukan percobaan pada katak dengan obat striknin sulfat. Cestari pada tahun 1941 mengungkapkan data-data serupa beberapa tahun kemudian. Bucher pada tahun 1948 meneliti efek supositoria yang mengandung natrium sulfat

berlabel pada tikus.


Canals pada tahun 1951 mempelajari penyerapan kalsium radio aktif melalui rektal, dan ternyata ditemukan adanya radio aktif yang terukur dalam vena porta beberpa

saat setelah pemberian supositoria berlabel. Pada tahun yang sama Quevauviller
dan jund mempelajari keadaan rektum secara rinci setelah pemberian supositoria berlabel pada manusia. Kelebihan cara rektum dibandingkan cara bukal menurut Ravaud hanya berlaku pada senyawa tertentu, karena dalam hal ini sawar hepatik masih berperan penting.

Evaluasi biofarmasi sediaan yang diberikan melalui rektum


Supositoria merupakan sediaan obat bentuk padat yang dibuat dengan zat pembawa lipofil atau hidrofil, dengan bentuk dan kekerasan yang dapat memudahkan masuk kedalam rektum. Evaluasi biofarmasetik supositoria tergantung pada: Cara kerja supositoria Kinetik pelepasan dan penyerapan zat aktif.

Mekanisme kerja supositoria


Supositoria berefek mekanik Supositoria berefek setempat Supositoria berefek sistemik : a. Supositoria nutritif b. Supositoria obat

Kinetik pre-disposisi zat aktif


Untuk supositoria atau kapsul rektal kinetik predisposisi zat aktif setelah proses pelepasan, pemindahan, pelarutan, dan penembusan kecairan rektum. Sedangkan fenomena difusi dan penyerapan disebut kinetika penyerapan (tidak dapat dipisahkan)

factor yang mempengaruhi kinetik predisposisi zat aktif

a. Penghancuran sediaan b. Pemindahan dan pelarutan zat aktif ke dalam cairan rektum.

Transfer zat aktif ke dalam cairan rektum


Sifat zat aktif dalam supositoria Kelarutan zat aktif Koefisien partisi zat aktif dalam fase lemak dan cairan rektum Ukuran partikel zat aktif

Sifat Zat Aktif Dalam Supositoria


Zat aktif dalam supositoria dapat dibuat tersuspensi atau terlarut.

Kelarutan zat aktif


Bila zat aktif sangat laarut-lemak dan dalam dosis kecil maka kecil kemungkinan untuk menembus cairan rektum yg sedikit Sebaliknya zat aktif yg larut-lemak tetapi konsentrasinya mendekati jenuh akan menembus cairan rektum dengan mudah. Tetapi hal resebut tergantung pada koefisien partisi zat aktif dalam fase lemak dan cairan rektum

koefisien partisi zat aktif dalam fase lemak dan cairan rektum
Zat aktif yg larut air harus mencapai permukaan cairan dengan berbagai mekanisme transpor, misalnya dengan pengendapan Koefisien partisi zat aktif di antara basis berlemak dan cairan rektum lebih besar dibandingkan koefisien partisi dalam fase lemak-air, karena terlebih dahulu terjadi keseimbangan antara dua kelarutan. Sebagai contoh aminofilin yg sangat larut air sangat sedikit ditemukan dalam fasa lemak, sedangkan pct yg sukar larut air namun mudah larut dlm senyawa lemak akan tertahan oleh zat pembawa berlemak yg melebur dalam rektum, Dalam hal ini fase lipid-air tertutup oleh partikel zat aktif bila pemberian konsentrasi tinggi. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perpanjangan proses penyerapan bukan peningkatan penyerapan.

Ukuran partikel zat aktif


Dalam sediaan supositoria tidak dianjurkan menggunakan partikel yg berukuran terlalu kecil karena hal ini dapat menyebabkan peningkatan kekentalan. Partikel kecil akan lebih larut cepat dalam cairan rektum dan segera meninggalkan fase lemak, sedangkan partikel besar akan mengendap lebih cepat dan segera kontak dengan mukosa. Dimana bila zat aktif telah terlarut maka selanjutnya akan menembus membran biologik dan mencapai peredaran darah atau tinggal dan memberikan efek setempat

Faktor yang mempengaruhi kinetika penyerapan zat aktif yang diberikan per-rektum
Penyerapan per-rektum dipengaruhi oleh: 1. Kedudukan supositoria setelah pemakaian 2. Waktu tinggal supositoria di dalam rektum 3. pH cairan rektum 4. Konsentrasi zat aktif dalam cairan rektum

Konsentrasi Zat Aktif dalam Cairan Rektum


Mekanisme perlintasan membran terutama terjadi secara difusi pasif, laju perpindahan secara langsung tergantung pada konsentrasi zat aktif dalam cairan rektum, semaki tinggi konsentrasi maka laju penyerapan semakin cepat. Penyerapan zat aktif dalam jumlah kecil akan lebih sempurna dibnadingkan dengan dosis besar.

Perhitungan Jumlah Keseluruhan Zat Aktif Yang Diserap Dari Suatu Supositoria
Bila zat aktif larut dalam zat pembawa

Jumlah (%) yang mencapai organ sasaran R

Bila zat aktif tersuspensi dalam pembawa, maka dipakai hipotesa: 1. Partikel dalam keadaan halus, jadi ukuranya lebih kecil dari tebal lapisan leburan basis supositoria 2. Konsentrasi zat aktif yang tersuspensi setiap satuan volume lebih besr dari yang terlarut dalam volume yang sama. 3. Laju pelarutan partikel yang tersuspensi lebih tinggi dari laju difusi. 4. Tidak ada interaksi antara pembawa yang melebur dan mukosa. 5. Zat aktif yang dilepaskan pada permukaan lburan pembawa mukosa diserap dengan cepat oleh mukosa. 6. Jarak rata rata antara partikel yang tersuspensi kecil.

Evaluasi ketersediaanhayati ZA yang terdapat dalam sediaan supositoria


Evaluasi ketersediaanhayati ZA dalam sediaan supositoria harus mempertimbangkan: 1. ZA yang diserap 2. Komponen pembawa yang digunakan 3. Proses fabrikasi dan cara penyimpanan sediaan obat

Studi Zat Aktif


Tujuan untuk pengobatan terhadap jaringan rektum setempat atau bila pemakaiannya dimaksudkan untuk mendapatkan efek sistemik. Dalam hal ini yang harus ditentukan : 1. Keterserapan obat 2. Ketersediaan hayati Dalam hal ini sangat mungkin zat aktif yang diserap dengan baik pada pemberian per oral tetapi tidak diserap pada pemberian per - rectum

1. Keterserapan zat aktif Dalam hal ini sangat mungkin zat aktif yang diserap dengan baik pada pemberian per oral tetapi tidak diserap pada pemberian per - rectum 2. Ketersediaan hayati Penentuan ini terutama diperlukan untuk membandingkan kadar zat aktif dalam darah yang diperoleh setelah pemberian intravena dan rectum

Pemilihan Zat Tambahan Untuk Pembuatan Suppositoria


Pada bagian ini yang harus diperhatikan adalah pemilihan zat pembawa dan zat tambahan yang paling baik untuk membuat sediaan yang telah ditetapkan. 1. Evaluasi ketersediaan hayati relatif suatu zat aktif 2. Pemilihan zat pembawa

1. Evaluasi ketersediaanhayati relatif suatu zat aktif Mempelajari, membandingkan dan memilih formula yang paling sesuai, diperlukan evaluasi ketersediaan hayati relatif suatu zat aktif dalam berbagai formula.

2. Pemilihan zat pembawa Pemilihan zat pembawa terutama mempertimbangkan sifat fisiko kimia zat aktif : - Zat aktif larut air - Zat aktif sukar larut - Zat aktif dalam bentuk cairan - Zat aktif dapat bereaksi dengan bahan pembawa tertentu dan menghasilkan campuran eutektik dengan suhu lebur yang sangat rendah - Bila terdapat senyawa hidrofil atau berair atau hidrogliserin - Bila bobot jenisnya sangat tinggi

Studi In Vitro
Dari hasil uji ini dapat diketahui : Faktor yang mempengaruhi kinetik pre disposisi zat aktif. Faktor yang mempangaruhi kinetik penyerapan zat aktif

Studi In Vitro Tentang Pre disposisi zat aktif


a. Suhu lebur simplisia Penentuan suhu ini dilakukan dengan menggunakan pipa kapiler , teknik yang paling sederhana adalah dengan menggunaka beaker berisi air yang diletakkan diatas penangas air pada suhu sekitar 37oC. b. Laju pelelehan Laju pelelehan dapat dilakukan dengan menggunakan metode setnikar dan fantelli. c. Penampakan Uji penampakan dapat dilakukan dengan metode Czetsch - Lindenwald

Metode Pengujian Difusi Zat Aktif


Teknik ini terdiri dari dua kelompok 1. Suppositoria kontak dengan jumlah cairan tertentu dengan suatu pengadukan sederhana. 2. Cairan mengalir melintasi ruang pelarutan yang didalamnya terdapat suppositoria yang terbungkus dalam membran dialisa, dan semua proses yang terjadi dalam sirkulasi tertutup.

FAKTOR PATO FISIOLOGIK YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN MELALUI RECTUM


Faktor yang diperhatikan adalah terjadinya demam menunjukkan penyerapan yang lebih baik bila zat aktif berada dalam pembawa berlemak. Sedangkan terjadinya gannguan transisi saluran cerna dengan diare tidak dapat diberi pengobatan sistemik melalui rektum.

KESIMPULAN
Bentuk sediaan rektum merupakan bentuk yang sulit dipelajari ditinjau dari sudut biofarmasetik, karena harus dipastikan bahwa zat aktif yang diberikan diserap dengan baik