Anda di halaman 1dari 5

Bagaimana mekanisme terbentuknya delle pada moluskum kontagiosum ?

Secara histopatologis, lesi menunjukkan adanya bentukan bulat atau lonjong, multipel, yang merupakan badan inklusi eosinofilik atau basofilik. Pada mikroskop elektron, badan inklusi mengandung banyak sekali partikel virus. Partikel-partikel tersebut dan juga badan inklusi menyebabkan terjadinya akantosis yang invasif yang mengakibatkan hiperplasia dan penebalan dermis. Sehingga permukaan epidermis mengelupas dan membentuk kavitas sentral yang terbuka melalui pori-pori. Kemudian selanjutnya terbentuk nodul yang mengandung inklusi intrasitoplasmik yang terdapat virion di dalamnya, disebut sebagai badan moluskum berbentuk bulat, bersifat eosinofilik dan ditemukan pada epidermis lapisan bawah Penatalaksanaan Penatalaksanaan Moluskum Kontagiosum Moluskum kontagiosum adalah penyakit infeksi virus yang dapat sembuh spontan.Pada kelompok pasien imunokompeten jarang ditemui lesi moluskum kontagiosumbertahan lebih dari 2 bulan.Terapi untuk memperbaiki gejala yang timbul diperlukanpada beberapa pasien dengan penurunan status imun, dimana didapatkan lesi ekstensif dan persisten. Pemberian terapi dilakukan berdasarkan beberapa pertimbanganmeliputi kebutuhan pasien, rekurensi penyakit serta kecenderungan pengobatan yangmeninggalkan lesi pigmentasi atau jaringan parut.Sebagian besar pengobatanmoluskumkontagiosum bersifat traumatis pada lesi. Pilihan terapi terbaru mencakup pemberian antivirus dan agen imunomodulator.Berikut ini merupakan beberapapilihan terapi yang umum digunakan dalam penatalaksanaan moluskum kontagiosum. 1 . B e d a h B e k u ( Cryosurgery) Merupakan salah satu terapi yang umumdan efisiendigunakandalam p e n g o b a t a n moluskum kontagiosum, terutama pada lesi predileksi perianal dan perigenital.Bahanyang digunakan adalah nitrogen cair. Aplikasi menggunakan lidi kapaspada masing-masing lesiselama 10-15 detik. Pemberian terapi dapat diulangdengan interval2-3 minggu. Efek samping meliputi rasa nyeri saat pemberian terapi, erosi, ulserasi serta terbentuknya jaringan parut hipopigmentasi maupun hiperpigmentasi. 2 . E v i s e r a s i Merupakanmetode yang mudahuntuk menghilangkan lesi dengan c a r a mengeluarkan intiumbilikasi sentral melalui penggunaaninstrumen s e p e r t i skalpel,ekstraktor komedo dan jarum suntik. Pengguna an metode ini mungkintidak dapat ditoleransi oleh anak-anak.

3.Podofilin dan Podofilotoksin Suspensipodofilin25%dalam larutan benzoin atau alkohol d a p a t d i a p l i k a s i k a n pada lesidengan menggunakan lidi kapas, dibiarkan selama 1 4 jam kemudiandlakukan pembilasan dengan menggunakan air bersih. Pemberian terapi dapatdiulangsekali seminggu. Terapi ini membutuhkan perhatian khusus karenam e n g a n d u n g m u t a g e n y a i t u Quercetin dan kaempherol. E f e k s a m p i n g l o k a l a k i b a t penggunaan bahaninimeliputierosi pada permukaan kulit normalserta timbulnya j a r i n g a n p a r u t . Efeksampingsistemikakibat penggunaan secara luas p a d a permukaan mukosa berupa neuropati saraf perifer,gangguan g i n j a l , i l e u s , leukopeni dan trombositopenia. Podofilotoksin merupakan alternatif yang lebiha m a n d i b a n d i n g k a n p o d o f i l i n . S e b a n y a k 0 , 0 5 m l p o d o f i l o t o k s i n 5 % d i a p l i k a s i k a n pada lesi 2 kali sehari selama 3 hari. Kontraindikasi absolut kedua bahan ini padawanita hamil. 4 . C a n t h a r i d i n Merupakan agen keratolitik berupa larutanyang mengandung0,9% Collodian dan aceton e . T e l a h m e n u n j u k k a n h a s i l m e m u a s k a n p a d a p e n a n g a n a n i n f e k s i Molluscum Contagiosum Virus (MCV).Pemberian bahan ini terbatas pada puncak l e s i s e r t a didiamkanselamakurang lebih4jam sebelum lesi dicuci. C a n t h a r i d i n menginduksi lepuhan pada kulit sehingga perlu dilakukan tes terlebih dahulu padalesi sebelum digunakan. Bilapasien mampu menoleransi bahan ini,terapi dapatdiulang sekali seminggu sampai lesi hilang.Efek samping pemberian terapimeliputi eritema, pruritus serta rasa nyeri dan terbakar pada daerah lesi.Kontraindikasi penggunaan Cantharidin pada lesi moluskumkontagiosum didaerah wajah. 5 . T r e t i n o i n Tretinoin merupakan derivat vitamin A yang berfungsi sebagai agen anti-proliferasi sel.Krim tretinoin 0,1% digunakan pada penanganan moluskumk o n t a g i o s u m . P e m b e r i a n d e n g a n c a r a d i o l e s k a n 2 k a l i s e h a r i p a d a l e s i . Penyembuhan dilaporkan terjadi dalam waktu 11 hari setelah pemberian terapi.Efek samping terapi berupa eritema pada daerah timbulnya lesi. Pilihan lainmenggunakan krim tretinoin 0,05% menunjukkan hasil yang memuaskan denganefek samping berupa iritasi ringan. 6 . C i m e t i d i n e Cimetidine merupakan antagonis reseptor histamin H2 yang menstimulasi reaksihipersensitifitas tipe lambat. Mekanisme kerja Cimetidine pada terapi moluskumkontagiosum masih belun diketahui secara jelas. Sebuah studi menunjukkankeberhasilan penggunaan cimetidine dosis 40 mg / kgBB / oral / hari dosis terbagidua pada pengobatan moluskum kontagiosum dengan lesi

ekstensif. Cimetidineberinteraksi dengan berbagai pengobatan sistemik lain, sehingga perlu dilakukananamnesis riwayat pengobatan pada pasien yang akan mendapat terapi obat ini. 7 . L a r u t a n K O H Larutan KOH 10% diaplikasikan 2 kali sehari pada lesi dengan menggunakan lidikapas. Pemberian terapi dihentikan bila didapatkan respon inflamasi atau timbululkus pada daerah lesi. Perbaikan lesi didapatkan setelah kurang lebih 30 haripemberian terapi. Efek samping berupa pembentukan jaringan parut hipertropik serta hipopigmentasi dan hiperpigmentasi pada daerah lesi. Sebuah studimerekomendasikan penggunaan larutan KOH 5% yang memiliki efek sampingminimal dalam pengobatan moluskum kontagiosum pada anak -anak. 8.Pulsed Dye Laser Beberapa studi menunjukkan hasil memuaskan penggunaan modalitas terapipulsed dye laser pada lesi moluskum kontagiosum. Perbaikan lesi dicapai dalamwaktu 2 minggu setelah pemberian terapi tanpa disertai efek samping yang berarti. Pulsed dye laser merupakan salah satu pilihan terapi yang efisien namun memilikikekurangan dari segi efektifitas biaya. 9.Imunomodulator Penggunaanimunomodulator telah menjadi bagian dari pilihan terapi moluskum kontagiosum. Pada pasien dengan gangguan fungsi imun dimanad i d a p a t k a n lesiekstensiftersebar di seluruh tubuh, terapi lokal yang b e r s i f a t destruktif dikatakan tidak efektif. Penggunaan imunomodulator telahmemberikanhasil memuaskan. Imunomodulatortopikal telah digunakan pada bermacam kelainan kulit. Molekul imunomodulator topikal memiliki kemampuan memodifikasi responimun lokal pada kulit, bersifat stimulator maupun supresor terhadap respon imun.Pemilihan preparat topikal didasarkan pada beberapa alasan antara lain hasil terapimemuaskan, kemudahan aplikasiserta tingkat keamanan lebih baik dibandingkan preparat sistemik. Imunomodulator topikal terbagi menjadi 2 bagian besar, yaituimunomodulator steroid dan imunomodulator non-steroid. Imunomodulator non-steroid topikal yang umum digunakan pada terapi moluskum kontagiosum adalah imiquimod. Imiquimod merupakan molekul sintetik golongan imidazoquinoline amine.Mekanisme kerja imiquimod masih belumdiketahui secara jelas. Pemberian imiquimod secara topikal merangsang respon imunseluler dan respon imun lokal melalui stimulasi monosit, makrofag dan sel dendritik di jaringan perifer untuk memproduksi sitokin proinflamasi, terutama interferon- 1 (IFN- 1 ) , i n t e r f e r o n - 2 ( I F N - 2 ) , i n t e r f e r on- 5 ( I F N 5 ) , i n t e r f e r o n - 6 ( I F N - 6 ) , interferon- 8 ( I F N - 8), interleukin 12 (IL-12) danTumor NecrosingFactor- (TNF-). Mekanisme tersebut merupakan pertahanan alami primer terhadap infeksi virus.IFN- akan menghambat respon T helper 2 (Th2), se d a n g k a n I L - 1 2 d a n T N F - m e n s t i m u l a s i r e s p o n T h e l p e r 1

( T h 1 ) . I m i q u i m o d d i k e t a h u i b e r p e r a n p u l a d a l a m meningkatkan maturasi dan migrasi sel Langerhans fungsional yang berperan sebagai antigen presenting cell pada jaringan epidermis kulit, menuju kelenjar limfe regional.Keadaan ini membuat respon imun yang diinduksi oleh imiquimod menjadi lebihspesifik terhadap antigen tertentu. Imiquimod tersedia dalam bentuk krim 1% dan 5%, bermanfaat dalampenanganan kelainan infeksi maupun neoplasma dermatologi. Imiquimod digunakan 3kali / minggu pada malam hari sampai lesi hilang secara menyeluruh atau selamamaksimal 16 minggu.Dioleskan pada tiap lesi dan didiamkan selama 6 -10 jam. Pemakaian krim imiquimod 5%,5 hari dalam seminggu selama 16 minggumemberikan perbaikan lesi pada 15 pasien anak dengan moluskum kontagiosum. Penelitian lain membandingkan krim imiquimod 1% dengan placebo pada 100 pasienlaki-laki moluskum kontagiosum, didapatkan perbaikan lesi menyeluruh pada 86%pasien yang mendapat terapi krim imiquimod 1%. Rekurensi lesi moluskumkontagiosum terjadi 10 bulan setelah pemberian terakhir krim imiquimod 1% padaseorang pasien.Penggunaan krim imiquimod secara umum cukup dapat ditoleransi. Efek samping minimal berupa rasa gatal, nyeri dan terbakar pada kulit. Pada beberapakasus pernah dilaporkan terjadinya efek samping berupa eritema, indurasi, erosi danulkus. Efek samping sistemik berupa sakit nyeri kepala, nyeri otot dan flu likesymptoms didapatkan pada beberapa kasus. Tidak didapatkan bukti timbulnya efek samping sistemik maupun toksik pada anak-anak. 10.Antivirus Antivirus yang umum digunakan dalam pengobatan moluskum kontagiosumadalah Cidofovir. Cidofovir merupakan analog nukleosida deoxytidine monophosphate yang memiliki aktivitas antivirus terhadap sejumlah besar DNAvirus meliputi citomegalovirus (CMV), virus herpes simplex (HSV), HumanPapiloma Virus (HPV) dan Molluscum Contagiosum Virus (MCV). Didalam tubuh host , cidofovir mengalami 2 fase fosforilasi melalui jalurmonofosfat kinase dan piruvat kinase. Melalui kedua fase fosforilasi tersebut akanterbentuk cidofovir difosfat yang merupakan metabolit aktif cidofovir. Cidofovirdifosfat bekerja sebagai inhibitor kompetitif terhadap DNA polimerase virussehingga mampu menghambat sintesis DNA virus. Cidofovir tersedia dalam bentuk krim 3% , solusio intravena dan intralesi.Beberapa studi menunjukkan hasil memuaskan penggunaan cidofovir topikalmaupun injeksi intralesi pada pengobatan penyakit kulit yang disebabkan olehvirus. Resolusi lesi moluskum contagiosum didapatkan 2-6 minggu setelahpemberian terapi. Sebuah laporan kasus menyebutkan efektifitas pemberian krimcidofovir 3% sekali sehari selama 8 minggu pada pengobatan 2 penderitamoluskum kontagiosum anak dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV). Meadows dkkmelaporkan keberhasilan terapi krim cidofovir 3% dan solusio cidofovir intravena pada 3 orang penderita HIV sero-positif disertaimoluskum kontagiosum dengan

predileksi lesi di daerah wajah, badan, ekstremitasdan perianal. Pemberian terapi cidofovir intravena pada 2 orang pasienmemberikan perbaikan lesi dalam waktu 2 bulan, sedangkan aplikasi krimcidofovir 3% dua kali sehari selama 2 minggu pada seorang pasien memberikanperbaikan lesi secara menyeluruh. Cidofovir memiliki potensi cukup ba ik dalam pengobatan m o l u s k u m kontagiosum, terutama pada pasien dengan penurunan status imun. Akan tetapikurangnya efektifitas dari segi biaya memberikan batasan tersendiri dalampemilihan terapi. Sebuah artikel menyebutkan harga krim cidofovir 3%adalah sebesar US$ 65 per gram. Efek samping lokal pemberian terapi cidofovirmencakup reaksi inflamasi pada daerah sekitar lesi, sedangkan efek sampingsistemik meliputi nefrotoksik, neutropenia dan asidosis metabolik