Anda di halaman 1dari 24

12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Perkembangan Anak Batita a. Definisi Anak Batita Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) menjelaskan bahwa balita kependekan dari anak di bawah lima tahun yaitu dari usia 12 sampai 59 bulan. Berdasarkan periode usia perkembangan, masa kanak-kanak awal (satu sampai enam tahun) terbagi menjadi dua periode menurut Potter dan Perry (2005) yaitu toddler (satu sampai tiga tahun) dan pra sekolah (tiga sampai enam tahun). Batita atau toddler adalah sekelompok penduduk berusia kurang dari tiga tahun atau penduduk yang belum merayakan ulang tahunnya yang ketiga dan menjadi sasaran pelayanan program kesehatan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009). b. Perkembangan Anak Batita Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) menjelaskan perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) menyebutkan aspek-aspek perkembangan

13

yang dapat dipantau meliputi gerak kasar, gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian. 1) Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar, seperti duduk, berdiri, dan sebagainya. 2) Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis dan sebagainya. 3) Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya. 4) Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi sebagainya. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) menjelaskan ciri-ciri perkembangan pada masa balita terutama pada tiga tahun pertama kehidupan, yang ditandai dengan pertumbuhan dan dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan

perkembangan sel-sel otak masih berlangsung dan terjadi pertumbuhan

14

serabut-serabut saraf dan cabang-cabangnya, sehingga terbentuk jaringan saraf dan otak yang komplek. Jumlah dan pengaturan hubungan antar sel saraf ini akan mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, hingga bersosialisasi. Kecepatan pertumbuhan pada masa balita akan mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik dan fungsi ekskresi serta perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreatifitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat. Proses pertumbuhan dan perkembangan anak mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan. Prinsip-prinsip tersebut menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009), meliputi: 1) Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Anak akan memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak melalui belajar. 2) Pola perkembangan dapat diramalkan Semua anak memiliki pola perkembangan yang sama, sehingga perkembangan seorang anak dapat diramalkan.

Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan.

15

c. Tahap-tahap Perkembangan sesuai usia Meadow dan Newell (2005) menyebutkan tahap-tahap perkembangan sesuai usia yang meliputi empat bidang perkembangan yaitu postur dan pergerakan, penglihatan dan manipulasi, pendengaran dan kemampuan bicara, serta perilaku sosial. Tabel 2.1 Tahap-Tahap Perkembangan Sesuai Rata-Rata Usia Tahap-Tahap Perkembangan Penglihatan dan Manipulasi Pendengaran dan Kemampuan Bicara 1) Jari telunjuk mendekati 1) Mengoceh tanpa objek kecil kemudian terputus mengambilnya dengan 2) Beberapa kata genggaman menjepit 3) Memahami 2) Menjatuhkan mainan beberapa perintah dengan sengaja sederhana kemudian mengamatinya 1) Membangun menara dengan tiga kubus 2) Menulis tak beraturan 1) Menggunakan banyak kata, menyebutkan nama beberapa orang 2) Sesekali menggunakan dua kata bersambung

Usia 12 bulan

Postur dan Pergerakan 1) Berjalan mengelilingi perabotan dengan melangkah di sisi-sisi perabotan 2) Merangkak dengan keempat tungkai; berjalan dengan tangan dituntun Berjalan sendiri dan mengambil sebuah mainan dari lantai tanpa terjatuh

Perilaku Sosial 1) Bekerjasama saat berpakaian, misalnya berpegangan pada lengan 2) Melambaikan tangan 1) Minum dari gelas dengan dua tangan 2) Menuntut perhatian terus menerus

18 bulan

16

2 tahun

1) Berlari 2) Naik turun tangga dengan dua kaki tiap anak tangga

Membangun menara dengan enam kubus

3 tahun

1) Naik tangga dengan satu kaki tiap anak tangga 2) Berdiri dengan satu kaki selama beberapa saat

1) Membangun menara dengan Sembilan kubus 2) Meniru gambar O

Menyambung beberapa 1) Menggunakan kata menjadi frase sendok sederhana untuk 2) Menyatakan menyatakan sebuah ide kebutuhan toilet, mengompol di siang hari berkurang 1) Berbicara dalam 1) Makan dengan satu kalimat sendok dan garpu 2) Menyebutkan nama 2) Dapat melepas lengkapnya pakaian tanpa bantuan 3) Berhenti mengompol malam hari

17

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan anak menurut Hidayat (2005), yaitu faktor herediter dan lingkungan. Faktor herediter meliputi genetik/bawaan, jenis kelamin, ras/etnik dan umur. Faktor lingkungan meliputi lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal. Lingkungan prenatal merupakan lingkungan dalam kandungan, mulai konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil, lingkungan mekanis (posisi janin dalam uterus, zat kimia atau toksin), radiasi, infeksi dalam kandungan, stres, faktor imunitas, kekurangan oksigen pada janin. Lingkungan postnatal merupakan lingkungan setelah lahir yang dapat

mempengaruhi tumbuh kembang anak, seperti budaya lingkungan, sosial ekonomi keluarga, nutrisi, iklim atau cuaca, olahraga, posisi anak dalam keluarga, dan status kesehatan. Sedangkan menurut AlHassan dan Lanford (2009) status sosial ekonomi dapat ditunjukkan dengan pendapatan keluarga, tingkat pendidikan ayah dan tingkat pendidikan ibu serta pekerjaan orang tua. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009)

menyebutkan faktor luar atau lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, antara lain gizi, penyakit

kronis/kelainan kongenital, lingkungan fisik dan kimia, psikologis, endokrin, sosial ekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi dan obatobatan. Selain itu, penelitian dari Pancsofar, et all. (2010) menjelaskan

18

bahwa pekerjaan orangtua, status kelahiran pertama, pendidikan ayah dan ibu mempunyai pengaruh terhadap perkembangan komunikasi pada anak usia 15 bulan dan perkembangan bahasa pada anak usia 36 bulan. c. Penilaian Perkembangan Anak DDST yaitu suatu tes untuk melakukan skrining/pemeriksaan terhadap perkembangan anak usia satu bulan sampai dengan enam tahun menurut Denver. Denver II adalah revisi utama dari standarisasi ulang dari DDST dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). DDST merupakan salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Tujuan DDST adalah mengkaji dan mengetahui perkembangan anak yang meliputi motorik kasar, bahasa, adaptif-motorik halus dan personal sosial pada anak usia satu bulan sampai dengan enam tahun (Saryono, 2010). Fungsi DDST yaitu untuk mengkaji dan mengetahui tingkat perkembangan anak, menstimulasi perkembangan anak, pedoman dalam perawatan perkembangan anak dan mendeteksi dini

keterlambatan perkembangan anak. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit. Aspek Perkembangan yang dinilai terdiri dari 125 tugas perkembangan. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas dan menurut Saryono (2010) ada empat sektor perkembangan yang dinilai, yaitu:

19

1) Perilaku Sosial Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri,

bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. 2) Gerakan Motorik Halus Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagianbagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. 3) Bahasa Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan. 4) Gerakan Motorik Kasar Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. Penilaian DDST ini memiliki persyaratan tes, yaitu

membutuhkan lembar formulir DDST dan alat bantu atau peraga seperti benang wol merah; manik-manik; kubus bewarna merah, kuning, hijau, dan biru; permainan bola kecil; bola tenis serta kertas dan pensil. Hidayat (2008) menyebutkan cara penilaian perkembangan yang dijabarkan sebagai berikut: 1) Tentukan usia anak pada saat pemeriksaan. 2) Tarik garis pada lembar DDST sesuai dengan usia yang telah ditentukan.

20

3) Lakukan pengukuran pada anak tiap komponen dengan batasan garis yang ada mulai dari motorik kasar, bahasa, motorik halus, dan personal sosial. 4) Tentukan hasil penilaian apakah normal, meragukan, atau abnormal sesuai dengan gambar. Ada beberapa skoring penilaian item pada tes DDST II menurut Adriana (2011), antara lain: 1) L = Lulus/lewat, ditulis dengan P = Passed Anak dapat melakukan item dengan baik, atau ibu/ pengasuh memberikan laporan (tepat/dapat dipercaya) bahwa anak dapat melakukannya. 2) G = Gagal, ditulis dengan F = Fail Anak tidak dapat melaksanakan item tugas dengan baik, atau ibu/pengasuh memberi laporan anak tidak dapat melakukan dengan baik. 3) Tak = Tak ada kesempatan, ditulis dengan NO = No Opportunity Anak tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan item karena ada hambatan. Misalnya, anak yang tangan dominannya sedang diinfus tidak dapat melakukan item yang berhubungan dengan tangan. Skor ini hanya digunakan untuk item yang ada kode L/laporan orangtua atau pengasuh.

21

4) M = Menolak, ditulis R = Refusal Anak menolak melakukan tes karena faktor sesaat, misalnya mengantuk, lelah, dan menangis. Interpretasi nilai dalam DDST II terbagi menjadi dua, yaitu penilaian per item di masing-masing sektor dan penilaian secara keseluruhan dari keempat sektor dalam DDST II. 1) Penilaian per item menurut Adriana (2011) a) Penilaian Advanced (lebih) Garis Umur P

b) Penilaian Normal Garis Umur Garis Umur Garis Umur

F Garis Umur P c) Penilaian Caution (waspada) Garis Umur

R Garis Umur F

Garis Umur

F Garis Umur R F

R Garis Umur

22

d) Penilaian Delayed (terlambat) Garis Umur F R Garis Umur

e) Penilaian No Opportunity Garis Umur Garis Umur

NO

NO

2) Interpretasi DDST II Ada tiga interpretasi hasil skrining DDST II menurut Adriana (2011), yaitu: a) Normal Jika didapatkan hasil tidak ada delayed, maksimal satu caution. Rujukannya adalah lakukan skrining rutin. b) Curiga/Suspect Jika didapatkan hasil dengan dua atau lebih caution, dan/atau terdapat satu atau lebih delayed. Rujukannya adalah lakukan uji ulang satu sampai dua minggu kemudian untuk menghilangkan faktor sesaat seperti rasa takut, sakit, atau kelelahan. c) Tidak Stabil/Unstable Jika didapatkan hasil dengan satu atau lebih delayed, dan/atau dua atau lebih caution. Dalam hal ini delayed atau caution harus disebabkan oleh karena penolakan (refusal) bukan karena

23

kegagalan (fail). Rujukannya adalah dilakukan uji ulang satu sampai dua minggu ke depan. 2. Pendampingan Stimulasi Perkembangan pada Keluarga a. Keluarga Keluarga dapat didefinisikan dari berbagai macam orientasi dan cara pandang yang berbeda-beda. Adapun beberapa definisi keluarga sesuai waktu perkembangan konsep atau teori tentang keluarga menurut Setyawan (2012) sebagai berikut : 1) Bussard dan Ball (1966) Keluarga merupakan lingkungan sosial yang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan seseorang. Dalam keluarga itulah seseorang dibesarkan, bertempat tinggal, berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, terbentuknya nilai-nilai, dan kebiasaankebiasaan yang berfungsi sebagai saksi segenap budaya dari luar dan mengakomodir hubungan anak dengan lingkungannya. 2) WHO (1969) Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan. 3) Duval (1972) Keluarga adalah sekelompok orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, menciptakan adopsi dan atau kelahiran yang budaya bertujuan yang untuk umum,

mempertahankan

24

meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial dari tiap-tiap anggota keluarganya. 4) Helvie (1981) Keluarga adalah sekelompok manusia yang tinggal dalam suatu rumah tangga dalam kedekatan yang konsisten dan hubungan yang erat. 5) Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1988) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. 6) Bailon dan Maglaya (1989) Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena hubungan darah, perkawinan dan adopsi, dalam satu rumah tangga dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya dalam perannya masing-masing dan mempertahankan suatu budaya. 7) Undang-undang no. 10 tahun 1992 (Tentang: Perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami, istri atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

25

8) Sayekti (1994) Keluarga adalah suatu ikatan atau persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga. 9) Friedman (1998) Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga. 10) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (1999) Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya. Supartini (2004) menjelaskan bahwa keluarga mempunyai pengaruh begitu besar dalam pemeliharaan dan peningkatan status kesehatan anak karena pada dasarnya tugas dan fungsi keluarga adalah merawat fisik anak, mendidik anak untuk menyesuaikan diri dengan budaya, dan menerima tanggung jawab atas kesejahteraan anak baik secara fisik maupun psikologis. Tugas dan fungsi ini menuntut

26

keluarga untuk menjalankanya baik dalam kondisi anak sehat seharihari di rumah ataupun apabila anak sakit dan dirawat di rumah sakit. Selama dalam proses tumbuh kembang, anak berada dalam lingkungan keluarganya, tumbuh dan berkembang dengan bantuan stimulus dari keluarga. Walaupun demikian, tidak semua keluarga mempunyai kekuatan untuk membantu anak tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan usianya, tergantung pada kualitas keluarga itu sendiri dalam meningkatkan kesejahteraan anak selama proses tumbuh kembangnya. Ciri keluarga yang mempunyai kekuatan untuk kesejahteraan anak Supartini (2004), antara lain: 1) Komitmen yang kuat untuk kesejahteraan anggota keluarga. 2) Selalu memberi penghargaan dan dorongan terhadap anggota keluarga. 3) Ada upaya untuk meluangkan waktu bersama. 4) Komunikasi dan interaksi yang positif antar anggota keluarga. 5) Ada kejelasan aturan, nilai dan keyakinan. 6) Strategi koping yang positif. 7) Selalu berpikir positif terhadap segala perilaku anggota keluarga. 8) Kemampuan memecahkan masalah secara positif. 9) Fleksibel dan mudah beradaptasi dalam menjalani peran untuk memenuhi kebutuhan.

27

10) Selalu ada keseimbangan antara kepentingan pekerjaan dan kepentingan anggota keluarga. Friedman (1986), dalam Setyowati dan Murwani (2008) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, yaitu fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi dan fungsi perawatan kesehatan. Fungsi perawatan kesehatan menjelaskan bahwa keluarga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktik asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan yang

kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga

dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan. b. Stimulasi Perkembangan Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur nol sampai enam tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapatkan stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh ibu dan ayah (yang merupakan orang terdekat dengan anak), pengganti ibu/pengasuh anak, anggota keluarga lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masingmasing dan dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya stimulasi dapat

28

menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap. Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah adalah kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009). Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam melakukan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009), yaitu: 1) Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang. 2) Selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, karena anak akan meniru tingkah laku orang-orang yang terdekat dengannya. 3) Memberikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak. 4) Melakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi, bervariasi, menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman. 5) Melakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak, terhadap keempat aspek kemampuan dasar anak. 6) Menggunakan alat bantu/permainan yang sederhana, aman, dan ada di sekitar anak. 7) Anak selalu diberi pujian, bila perlu diberi hadiah atas keberhasilannya.

29

c. Pendampingan Pemberdayaan keluarga dapat dipandang sebagai suatu proses memandirikan klien dalam mengontrol status kesehatannya. Pengertian lain tentang pemberdayaan adalah memampukan orang lain melalui proses transfer termasuk didalamnya transfer kekuatan/power, otoritas, pilihan dan perijinan sehingga mampu menentukan pilihan dan membuat keputusan dalam mengontrol hidupnya. Penjelasan lain tentang pemberdayaan adalah proses sosial dalam mengenal, mempromosikan, dan meningkatkan kemampuan orang untuk

memenuhi kebutuhannya, menyelesaikan masalahnya sendiri dan memobilisasi sumber-sumber yang diperlukan untuk mengontrol hidup mereka. Secara keseluruhan pemberdayaan bisa digunakan untuk merubah, tidak hanya seorang individu tetapi termasuk merubah kondisi dan biasanya kondisi sosial dan politik yang berada pada status tidak berdaya. Pemberdayaan keluarga memiliki makna bagaimana keluarga memampukan dirinya sendiri dengan difasilitasi orang lain untuk meningkatkan atau mengkontrol status kesehatan keluarga (Nurhaeni, 2011). Konsep pemberdayaan menekankan bahwa manusia adalah subyek dari dirinya sendiri. Proses pemberdayaan yang menekankan pada proses memberikan kemampuan kepada masyarakat agar menjadi berdaya, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya.

30

Pemberdayaan keluarga dapat menggunakan beberapa metode, yaitu penyuluhan, konseling, pelatihan dan pendampingan. Penyuluhan dan konseling dapat dilakukan secara langsung (tatap muka) maupun secara tidak langsung (melalui media). Sedangkan pelatihan dan pendampingan merupakan metode yang lebih intensif menekankan pada perubahan atau perbaikan keterampilan sasaran (Sunarti, 2009). Pendampingan pemberdayaan anak dan keluarga adalah dengan melakukan bagian dari segala upaya

masyarakat

memfasilitasi yang bersifat non instruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu

mengidentifikasi masalah, merencanakan dan mencari pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada, baik dari instansi lintas sektoral, swasta maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan tokoh masyarakat lainnya (Saraswati, 2010). Pendampingan menyampaikan pemikiran/solusi, dilakukan pesan, dengan cara memberikan mengajak, perhatian, memberikan memberikan

menyemangati,

menyampaikan

layanan/bantuan,

nasihat, merujuk, menggerakkan dan bekerjasama (Ayu, 2008). Layanan langsung ke anak-anak memiliki pengaruh yang lebih signifikan, seperti program perawatan anak yang berkualitas

dibandingkan program pengasuhan yang berdampak secara tidak langsung pada anak. Namun, pengasuhan memiliki jangkauan yang lebih besar, karena orangtua dapat menjangkau pada tiga tahun awal

31

kehidupan anak dan lebih konsisten dalam membesarkan anak. Logikanya meningkatkan keterampilan orangtua tampaknya lebih hemat dan strategi berkelanjutan untuk mendukung perkembangan anak (Engle, 2007). Penelitian Ayu (2008), menjelaskan bahwa program

pendampingan gizi meningkatkan pengetahuan gizi ibu, pola pengasuhan, dan status gizi balita Kurang Energi protein (KEP) pada tiga bulan setelah pendampingan dimulai. Program pendampingan tersebut dilakukan dalam bentuk kunjungan rumah (home visit), konseling (counseling) dan kelompok diskusi terarah Focus Group Discussion (FGD). Pendampingan dilakukan menggunakan model asuhan gizi berkelompok. Sesi intervensi dilakukan dalam tiga tahap sebagai berikut: 1) Pendampingan intensif, yaitu dilakukan pendampingan intensif oleh Tenaga Gizi Pendamping (TGP) guna membantu ibu menerapkan praktik asuhan gizi bagi balita dan keluarganya. Kegiatan pendampingan intensif berlangsung selama satu minggu berturut-turut (hari pertama sampai hari ketujuh). 2) Penguatan, yaitu dilaksanakan selama satu minggu yaitu hari kedelapan sampai hari keempat belas (minggu kedua). Pada sesi ini, sasaran tidak lagi dikunjungi setiap hari, namun hanya dua kali seminggu. Tujuannya adalah untuk memberikan penguatan atas

32

apa yang dilakukan ibu atau pengasuh anak, sesuai dengan rekomendasi dan yang dianjurkan oleh tenaga pendamping. 3) Praktik mandiri, yaitu ibu atau pengasuh balita diberi kesempatan dua minggu (hari ke-15 sampai ke-24) untuk mempraktik secara mandiri terhadap instruksi-instruksi yang dianjurkan. Pada sesi ini, sasaran tidak lagi dikunjungi kecuali pada hari ke-29 dimana tenaga pendamping akan melakukan penilaian terhadap output pendampingan.

33

B. Kerangka Teori Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009), AlHassan dan Lanford (2009), Potter dan Perry (2005), Meadow dan Newell (2005), Hidayat (2005), Hidayat (2008), Adriana (2011), Saryono (2010), Supartini (2004), Nurhaeni (2011), Sunarti (2009), Engle (2007) dan Ayu (2008) didapatkan kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Pendampingan stimulasi perkembangan pada keluarga Gerak kasar Normal Anak Batita Gerak halus Perkembangan Bicara dan bahasa Untestable Sosialisasi dan kemandirian Faktor Internal 1. Genetik/bawaan 2. Jenis kelamin 3. Ras/etnik 4. umur Faktor Eksternal Budaya lingkungan Status sosial ekonomi a. Pendapatan b. Pendidikan Orang tua c. Pekerjaan Orang tua Nutrisi Iklim dan cuaca Olahraga/latihan fisik Posisi anak dalam keluarga Suspect

1. 2.

3. 4. 5. 6.

7. Stimulasi 8. Status kesehatan 9. Faktor hormonal 10. Penyakit kronis 11. Lingkungan fisik dan kimia 12. Psikologi 13. Lingkungan pengasuhan 14. Obat-obatan

Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian

34

C. Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian disusun sebagai kerangka kerja dalam melakukan penelitian. Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Pendampingan stimulasi perkembangan pada keluarga

Anak Batita

Perkembangan

Faktor Internal 1. Jenis kelamin 2. Umur Faktor Eksternal 1. Posisi anak dalam keluarga 2. Status sosial ekonomi (pendapatan, pendidikan dan pekerjaan orang tua) 3. Lingkungan pengasuhan

Faktor Internal 1. Genetik/bawaan 2. Ras/etnik Faktor Eksternal 1. Budaya lingkungan 2. Nutrisi 3. Iklim dan cuaca 4. Olahraga/latihan fisik 5. Status kesehatan 6. Faktor hormonal

7. Penyakit kronis 8. Lingkungan fisik dan kimia 9. Psikologi 10. Obat-obatan

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian Keterangan : : diteliti : tidak diteliti

: pengaruh yang diteliti : pengaruh yang tidak diteliti

35

D. Hipotesis Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep tersebut, maka peneliti menggunakan rumusan hipotesis kerja (Ha) dalam penelitian yaitu ada pengaruh pendampingan stimulasi perkembangan pada keluarga terhadap perkembangan anak batita.