Anda di halaman 1dari 27

LEMBAR PENGESAHAN HUBUNGAN AKNE VULGARIS DENGAN SINDROM DEPRESI

SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran

Oleh:

CUT SHELFI OKTARINA HARNOLD 0907101050077

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Banda Aceh, Maret 2013

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

dr. Nanda Earlia, Sp. KK Nip. 19750619 200212 2 002

dr. Subhan Rio Pamungkas Sp.KJ Nip. 19791112 200604 1 001

Mengetahui, Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah

Dr. dr. Mulyadi, Sp. P ii

Nip. 19620819 199002 1 001

iii

ABSTRAK
Akne vulgaris adalah peradangan kronik folikel pilosebasea yang terlihat dengan adanya komedo, papula, pustula dan kista pada daerah predileksi. Akne vulgaris sering terjadi pada remaja yang menyebabkan sindrom depresi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan akne vulgaris dengan sindrom depresi. Penelitian ini dilakukan secara analitik dengan rancangan cross sectional, pada bulan Oktober 2012 Desember 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara akne vulgaris dengan sindrom depresi (P <0,05). Penatalaksanaan akne vulgaris yang tepat perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
kata kunci : Akne Vulgaris, Sindrom Depresi

ABSTRACT
Acne Vulgaris is a chronic inflamation of the pilosebaceous follicles, which seem in the presence area of blackheads, papules, pustules and cyst on the predilection area. Acne Vulgaris often occurs in adolescent causing depression syndrome. The purpose of this study is to determine the relationship beetwen acne vulgaris with depression syndrome. This study was done analitically using cross sectional design from October 2012 to December 2012. The result of this study research shows the relationships between acne vulgaris with depression syndrome (p<0,05). The proper management of acne vulgaris is necessary to obtain the optimal results. keywords : Acne Vulgaris, Depression Syndrome

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum Wr. Wb. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat, kekuatan serta mengajarkan arti kesabaran dan kesyukuran. Salawat dan salam kepada Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat. Skripsi penelitian dengan judul Hubungan Akne Vulgaris dengan Sindrom Depresi ini adalah suatu karya yang diusahakan penulis untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana kedokteran. Penulis telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, maka melalui kata pengantar ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada : 1. Dr. dr. Mulyadi Sp.P sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh. 2. dr. Nanda Earlia Sp.KK dan dr. Subhan Rio Pamungkas Sp. KJ sebagai pembimbing yang dengan sabar dan telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. dr. Syahrial Sp.KJ dan dr. Mimi Maulida Sp.KK selaku penguji yang telah memberikan saran untuk kebaikan dalam penulisan skripsi ini. 4. Dr. dr. Arti Lukita sari, Sp.M sebagai dosen wali yang telah membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. 5. dr. Dina Lidadari Sp.KK, dr. Siti Hajar Sp.KK, dr.Vara Marijz, dr. Fira staf Klinik Nayla Skin Care, staf Klinik Jeulila dan Staf Klinik Titik Skin Care yang telah banyak membantu dan membimbing saya selama penelitian berlangsung.

6. Seluruh dosen dan staf pengajar Fakultas Kedokteran Unsyiah yang telah memberikan disiplin ilmu kepada penulis. Serta Segenap karyawan RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh yang telah membantu kelancaran dalam administrasi penelitian dan tersusunnya skripsi ini. 7. Ketua Tim Pengelola Skripsi , dr. Imran Sp.S dan seluruh staf Ully, Afit Munandar, Ira Amalia, dan Ummi Kalsum membantu kelancaran dalam administrasi penelitian dan tersusunnya skripsi ini. 8. Penghormatan dan penghargaan yang tulus kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta dr. Harnold Harun Sp.KJ dan Cut Anitha Rahman serta kakanda dan adinda dr. Shifani Harnold, dr. Shefina Pyeloni Harnold, dan Cut Shofira Harnold atas semua pengorbanan, semangat, kasih sayang, dan doa restu yang selalu terucap dalam setiap sujud shalat untuk keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi. 9. Daniel Kurniawan dan Sanak saudara Dra. Harnijah Harun Wisnu

Heryanto ST, Wiwied Handayani SE, Willy Herryandi SE, Wahyu Permana dan Wirya hadinata SE atas semua pengorbanan, bantuan, kasih sayang yang telah turut membantu penulis dalam menyelesaikan studi. 10. Sahabat-sahabat tercinta Dekka, Khaliza, Nabila, Devi , Shela, Anne, Yunda, Fera, Aya, Ade, Farah, Tia, Azam, Echa, Risca, Puram, dr. Rendy, M.Haikal ST, Ninegirls dan rekan angkatan 2009 yang telah memberi semangat. Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam penyusunan karya ilmiah ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan tulisan ini di masa mendatang.

Banda Aceh, Februari 2013

Penulis

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Pemahaman depresi menurut orang awam ialah kemurungan, patah semangat atau kesedihan yang bisa menandakan adanya gangguan kesehatan. Hal ini berbeda dalam medis yakni merujuk pada kondisi mental yang di dominasi oleh penurunan mood dan sering disertai oleh berbagai gejala penyerta terutama anxietas, agitasi, perasaan diri tidak berharga, ide bunuh diri, hipobulia, retardasi psikomotor, berbagai gejala somatik, dan disfungsi fisiologik (misalnya insomnia). Gejala atau sindrom depresi merupakan gambaran utama yang bermakna dalam berbagai kategori penyakit (WHO, 1997). Gangguan depresi pada penduduk dewasa di Amerika dilaporkan sekitar 16,2% atau sekitar 32.6-35.1 juta orang (Kessler, 2003). Menurut Chiu (2004), penelitian tentang epidemiologis depresi di Asia masih sangat langka, namun hasil yang ada menunjukan bahwa prevalensi depresi di Asia khususnya kawasan Asia Pasifik lebih rendah daripada negara Barat. Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan tahun 2007 didapatkan prevalensi nasional gangguan jiwa anxietas dan depresi sebesar 11,6% dari populasi 24.708.000 orang. Prevalensi gangguan mental emosional

(termasuk depresi) di Aceh adalah 14,1% dengan prevalensi berkisar antara 4,832,1%, lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional (12.36%) (Riskesdas Prov.Aceh, 2007).

Pada pasien dengan akne vulgaris didapatkan

beberapa laporan adanya

gangguan mental seperti kecemasan, depresi, agresi, harga diri rendah, upaya bunuh diri serta didapatkan juga peningkatan prevalensi kecemasan pada pasien dengan tingkat keparahan akne yang tinggi. Sebuah penelitian pada penyakit kulit ditemukan bahwa diantara enam belas dari pasien akne dilaporkan tujuh kasus melakukan bunuh diri (Golchai et al., 2010). Laporan dari asosiasi penyakit kulit mental health, akne vulgaris merupakan penyakit kulit yang sering mempengaruhi remaja di seluruh dunia. Pertumbuhan akne pada remaja menyebabkan tejadinya pengembangan rasa identitas dan harga diri sehingga berpotensi rentan terhadap psikologis yang merugikan (Purvis,2006). Menurut hasil dari database PharMetrics didapatkan 65,2% , dengan ratio 1.9 perempuan : 1 laki-laki , mencari pengobatan untuk akne vulgaris dan sekitar dua kali lebih banyak perempuan mengalami depresi, rasio 10,6% perempuan : 5,3% laki-laki. Depresi terjadi 8,8% pada pasien akne vulgaris di seluruh negara. Sebagian besar kasus depresi yang dilihat dari pemanfaatan terapi anti depresi lebih banyak pada pasien berusia 18 tahun keatas dengan presentase tertinggi pada kelompok usia 36-64 dan penggunaan pengobatan anti akne (baik topikal, oral, atau keduanya) berhubungan dengan prevalensi rendahnya pemanfaatan anti depresi dibandingkan pasien yang tidak mengalami pengobatan akne. (Uhlenhake,2010). Berdasarkan latar belakang diatas dapat disimpulkan bahwa antara kondisi kulit dengan depresi saling mempengaruhi. Kondisi gangguan kulit khususnya akne vulgaris berpeluang untuk mengalami sindrom depresi. Sampai saat ini peneliti belum mendapatkan adanya data mengenai depresi yang timbul akibat akne vulgaris di Banda Aceh oleh karena itu peneliti merasa tertarik untuk mengetahui hubungan antara akne vulgaris dengan sindrom depresi. 1.2 Rumusan Masalah Apakah terdapat hubungan antara akne vulgaris dengan sindrom depresi ? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

10

a. Mengetahui hubungan akne vulgaris dengan sindrom depresi. 1.3.2 Tujuan Khusus a. Mengetahui hubungan gradasi akne dengan tingkat keparahan depresi. b. Mengetahui hubungan durasi akne dengan tingkat keparahan sindrom depresi.

1.3 Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah : a. Bagi peneliti Dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dalam melakukan penelitian di bidang riset kedokteran khususnya di bidang Dermatologi dan Psikiatri sebagai bahan kajian untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di masa yang akan datang. b. Bagi masyarakat Dapat menambah pengetahuan tentang pentingnya menjaga kulit dan dapat melakukan pemeriksaan pada kasus Dermatologi khususnya akne vulgaris untuk kepentingan kesehatan psikis. c. Instalasi Rumah sakit dan Klinik-Klinik dokter Spesialis Sebagai bahan masukan pengambilan dan penentuan kebijakan demi peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan serta sebagai masukan dalam pengembangan ilmu kedokteran. 1.5 Hipotesis Penelitian Adanya hubungan antara akne vulgaris dengan sindrom depresi di Kota Banda Aceh.

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Akne Vulgaris 2.1.1 Definisi Akne vulgaris adalah peradangan kronik folikel pilosebasea yang terlihat terutama pada masa remaja ditandai dengan terdapatnya komedo, papula, pustula dan kista pada daerah-daerah predileksi, seperti muka, bahu, bagian atas dari ekstremitas superior, dada dan punggung. (Strauss & Thiboutot, 2012). Akne vulgaris merupakan kondisi kulit umum, yang dapat mempengaruhi sekitar 85-100% dari populasi pada beberapa periode kehidupan. Akne vulgaris tidak mendiskriminasi prevalensi

menurut umur dan paling sering terjadi pada masa remaja, masa pubertas, pada orang tua dengan usia 45 tahun dan juga masih dapat terjadi pada bayi yang baru lahir (Michael & Jonathan, 2010). Gejala akne hampir dijumpai pada setiap remaja, kasus yang berat hanya kadang-kadang saja, terutama didapatkan pada pria. Akne yang berat dalam fase jiwaraga yang labil, dapat mengakibatkan efek psikososial yang hebat (Rassner, 1995). Lima belas persen remaja yang menderita akne dengan diagnosis berat, kebanyakan mendorong mereka untuk mendapatkan pengobatan ke dokter spesialis kulit (Harahap, 2000). 2.1.2 Klasifikasi Akne terbagi menjadi empat tingkatan yaitu ringan, sedang, agak berat, dan berat. Tingkatan ditentukan berdasarkan jumlah akne yang ada pada wajah, dada dan punggung, serta ukuran besar kecilnya akne atau peradangan kondisi akne. Selain itu terdapat perbedaan jenis Akne menurut Strauss dan Thiboutot, (2012) : a. Akne pada bayi baru lahir (newborn acne): Akne jenis ini menyerang sekitar 20% bayi baru lahir dan tergolong Akne ringan.

12

b. Akne pada bayi (infantil acne): Pada bayi berumur 3-6 bulan juga ditumbuhi akne dan akan tumbuh kembali ada saat dewasa. c. Akne vulgaris (acne vulgaris): Akne yang paling umum terjadi pada remaja dan kaum muda menjelang dewasa, sekitar 12-24 tahun. d. Akne konglobata (cystic acne): Akne yang terjadi pada pria muda, tergolong serius tetapi jarang terjadi. e. Akne halogen: Iodida dan Bromida mempengaruhi bentuk erupsi dari akne. f. Akne tropikal: Akne yang terjadi di iklim tropis ditandai dengan berkembangnya folikulitis. g. Akne excoriee des jeunes filles: Akne ringan yang ditandai dengan ekskoriasi yang panjang. Paling sering dialami oleh wanita dewasa muda. 2.1.3 Etiologi Etiologi yang pasti tentang Akne belum diketahui, namun ada berbagai macam faktor yang juga sangat berkaitan dengan patogenesis seperti : a. Genetik, akne vulgaris merupakan penyakit genetik akibat adanya peningkatan kepekaan unit pilosebasea terhadap kadar androgen yang normal. Diduga faktor genetik ini berperan dalam menentukan bentuk dan gambaran klinis, penyebaran lesi, dan durasi penyakit. Pada lebih dari 80% penderita mempunyai minimal salah satu orang tua yang mengalami akne vulgaris (Strauss dan Thiboutot, 2012). b. Psikis, terjadinya stress psikis dapat memicu kegiatan kelenjar sebasea, baik secara langsung atau melalui rangsangan kelenjar hipofisis (Strauss dan Thiboutot,2012). c. Makanan, kaitan antara akne vulgaris dan makanan masih diperdebatkan. Saat ini belum ada bukti bahwa coklat, susu, seafood, atau makanan lain dapat langsung menyebabkan akne. Pada dasarnya makanan-makanan tersebut dapat mempengaruhi metabolisme tubuh. Namun dari hasil penelitian Suryadi (2009), ditemukan adanya sebagian dari responden melaporkan bahwa terdapat pengaruh dari makanan terhadap metabolisme kelenjar sebasea dan sebagian

13

lagi melaporkan tidak adanya pengaruh dari jenis makanan yang dikonsumsi dengan peningkatan kelenjar sebasea. d. Ras, ras berperan dalam timbulnya akne vulgaris karena melihat dari kenyataan, bahwa adanya ras-ras tertentu seperti mongoloid yang lebih jarang menderita akne dibandingkan dengan kauscasian (Siregar,2001). e. Usia, umumnya terjadi pada usia 10-17 tahun pada wanita, 14-19 tahun pada pria (Strauss dan Thiboutot,2012). f. Hormon endokrin, akne biasanya disebabkan oleh tingginya sekresi sebum. Androgen merupakan perangsang sekresi sebum dan esterogen mengurangi sekresi sebum (sylvia & lorraine, 2006). g. Kebersihan wajah, meningkatkan prilaku kebersihan wajah dapat mengurangi kejadian akne vulgaris pada remaja (Siregar, 2001). h. Obat-obatan, kortikosteroid oral dan kronik yang dipakai untuk mengobati penyakit lain (seperti lupus eritematosus sistemik atau transplantasi ginjal), dapat menimbulkan pustula di permukaan kulit wajah, dada dan punggung. Obat-obatan lain yang dapat menimbulkan akne ialah: bromida, yodida, difenitoin, litium, dan hidrazid asam isonikotinat (sylvia & lorraine, 2006). i. Kosmetika, pemakaian bahan-bahan kosmetika tertentu seperti, bedak dasar (faundation), pelembab (moisturiser), krem penahan sinar matahari

(sunscreen), dan krem malam secara terus-menerus dalam waktu yang lama dapat menyebabkan suatu bentuk acne ringan yang terutama terdiri dari komedo tertutup dan beberapa lesi papulo pustular pada pipi dan dagu (Strauss & Thiboutot,2012). j. Bakteria, mikroba yang terlibat dalam pembentukkan akne adalah

Corynebacterium acnes, Stafilococcuc epidermidis dan Pityrosporum ovale (Strauss dan Thiboutot,2012). 2.1.4 Patogenesis

14

Cunliffe (2000) mengemukakan adanya empat faktor yang saling berkaitan dengan patogenesis akne yaitu kenaikan sekresi sebum, keratinasi folikel, bakteri dan peradangan.

a. Kenaikan sekresi sebum Akne biasanya disebabkan oleh tingginya sekresi sebum. Androgen merupakan perangsang dari sekresi sebum dan esterogen mengurangi produksi dari sekresi sebum (Sylvia & Lorraine, 2006). b. Keratinisasi folikel Menurut Cunliffe (2000) keratinisasi pada saluran pilosebasea disebabkan oleh adanya penumpukkan korniosit pada saluran pilosebasea, yang disebabkan oleh: Bertambahnya erupsi korniosit pada saluran pilosebasea Perlepasan korniosit yang tidak adekuat Kombinasi kedua faktor diatas c. Bakteri P.acnes merupakan gram negatif anaerobik dan memainkan peran aktif dalam proses peradangan pada kelenjar sebasea. Pasien dengan jerawat memiliki konsentrasi P.acne yang tinggi dibandingkan pasien yang tidak berjerawat (Strauss dan Thiboutot, 2012). d. Peradangan Sebum (Propionibacterium acnes), dan asam-asam lemak diduga menyebabkan perkembangan peradangan di sekeliling saluran pilosebasea dan kelenjar sebasea. Apabila terjadi aliran sebum ke permukaan, akan di hambat oleh P.acnes dan menghasilkan lipase yang mengubah sebum trigliserida menjadi asam lemak bebas. Asam-asam ini apabila dikombinasikan dengan bakteri akan menghasilkan respon peradangan pada dermis dan menyebabkan terbentuknya papula eritematosa, pustula yang meradang dan kista yang juga meradang (Sylvia & Lorraine, 2006).

15

mikrokomedo -hiperkeratotik infundibulum -kohesif corneocytes -sekresi sebum

komedo -akumulasi dari corneocytes dan sebum -pelebaran ostium folikular

papulainflamasi/ jerawat -ekspansi lanjut dari unit folikel

nodul -pecahnya dinding folikel -ditandai dengan

-proliferasi peradangan peradangan Propionibacterium acnes perifollicular perifollicular -jaringan parut

Gambar 2.1 Acne pathogenesis [From Zaenglein AL et al. Acne vulgaris and acneiform eruptions, iWolff K et al (eds): Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 7th ed. New York, McGraw-Hill, 2008.] 2.1.5 Manifestasi Klinis Lesi paling dini yang tampak pada kulit adalah komedo. Komedo putih atau komedo tertutup kemungkinan besar akan berkembang menjadi papula dan pustula. Komedo hitam atau komedo terbuka memiliki sumbatan berwarna gelap yang menutup saluran pilosebasea (Sylvia & Lorraine, 2006). Lokasi primer dari akne biasanya terlihat pada wajah, punggung, dan hidung. Lesi cenderung berkonsentrasi pada garis midline. Lesi dapat berupa inflamasi atau pun non inflamasi. Lesi non inflamasi pada komedo terbuka tampak datar atau sedikit peninggian dengan tengahnya terlihat gelap sedangkan kontras pada lesi komedo tertutup agak sulit divisualisasikan yang tampak hanya pucat, sedikit peninggian, dan

16

papul kecil. Lesi inflamasi berbeda dari papul kecil, terdapat kemerahan sampai pustula besar lembut dan nodul fluktuant. Beberapa nodul besar yang biasanya

disebut cysts atau nodulcystic dapat digunakan untuk mendeskripsikan kasus akne dengan inflamasi. Luka parut dapat terjadi sebagai komplikasi pada akibat dari inflamasi maupun non inflamasi. 2.1.6 Derajat Keparahan Di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI/RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo membuat gradasi akne vulgaris sebagai berikut. (Djuanda,2007) : Tabel 2.1 Gradasi Akne Vulgaris Gradasi Ringan Sedang Berat Manifestasi klinis Beberapa lesi tak beradang pada 1 predileksi Sedikit lesi tak beradang pada beberapa tempat predileksi Sedikit lesi beradang pada 1 predileksi. Banyak lesi tak beradang pada 1 predileksi Beberapa lesi tak beradang pada lebih dari 1 predileksi Beberapa lesi beradang pada 1 predileksi Sedikit lesi beradang pada lebih dari 1 predileksi Banyak lesi tak beradang pada lebih dari 1 predileksi Banyak lebih beradang pada lebih atau 1 predileksi

17

(A)

(B)

(C)

(D)

Gambar 2.2 Klinikopatologi korelasi dari lesi akne ( A ) : Komedo tertutup : Distensi folikular infundibulum, terdapat keratin dan sebum, folikular sempit. ( B ) : Komedo terbuka : Hampir sama dengan komedo tertutup yang berbeda hanyalah dari folikular patulous. ( C ) : Inflamasi papula : Sel inflamasi akut dan kronis , mengelilingi dan menyusup folikel sehingga menunjukkan infundibulum keratosis. ( D ) : Nodul : Folikel berisi sel-sel inflamasi akut, terjadi ruptur dari folikular distensi. 2.1.7 Penatalaksanaan Terapi yang diberikan tergantung dari beratnya kondisi dan suatu laporan yang objektif mengenai berat-ringannya penyakit. Prinsip dasar terapi ialah menjaga kulit agar tetap bersih, menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan pemberian keratolitik untuk mengurangi komedo (Sylvia & Lorraine, 2006). .Menurut Rassner (1995), karena patogenesisnya yang kompleks tidak ada pengobatan standar, yang perlu diperhatikan ialah stadium dan tingkat keparahan serta faktor dari individu. Pangkal terapi ialah pada gangguan keratinisasi, maupun

18

komedo, seborea dan koloni kuman pada folikel peradangan.Terapi obat- obatan kelas pertama yang biasanya tersedia ialah : a. Pengobatan topikal -Topikal retinoid : krim Tretinoin 0,025% dan 0,05%, Benzoyl peroksida. -Topikal antibakterial : topikal clindamysin,eritromisin, sulfur, sodium sulfacetamide, resorcin, dan salicylic acid. b. Antibiotik oral - Tetrasiklin 250-500mg 1-4 kali sehari - Doxycyclin 50-100mg 1 kali sehari - Minocyclin 50-100mg 1 kali sehari - Eritromycin 250-500mg 2-4 kali sehari - Clindamycin 150mg 3 kali sehari 2.1.8 Diagnosis Banding

a. Erupsi obat akneiformis: Reaksi yang disebabkan oleh induksi obat seperti kortikosteriod, INH, dan ACTH dengan manifestasi klinis terdapatnya banyak papul folikular yang berukuran sebesar kepala jarum, dengan gambaran yang relatif monomorf, kebanyakan dengan warna kemerahan (folikulitis), jarang berwarna seperti warna kulit (komedo- tertutup), dan sekali-sekali tampak gugus kehitaman (Rassner,1995). b. Rosasea : Merupakan gangguan inflamasi kronik akneiformis pada unit pilosebaseous. Dengan manifestasi klinis kemerahan dan telangiectasia akibat dari Peningkatan reaktifitas dari kapiler dan didapatkan penebalan karet hidung, pipi, dahi atau dagu akibat dari hiperplasia sebaceous, edema, dan fibrosis (Strauss dan Thiboutot, 2012).

19

2.2 Depresi 2.2.1 Definisi Depresi Depresi merupakan akumulasi dari perasaan cemas yang berkepanjangan. Depresi sering terjadi atau datang setelah mengalami kekecewaan-kekecewaan yang berlarut-larut dan panjang. Biasanya lebih dari 80% penderita memiliki kecemasan dan depresi. Umumnya rasa cemas timbul karena adanya ancaman dari sesuatu yang nampak kelihatan. Dalam depresi apabila adanya perasaan tertekan yang berlebihan, dan bila terjadi menahun, kecemasan yang berat mungkin membuat seseorang merasa rendah diri ( Prasetyono, 2005). Kaplan & sadock (2010) mendefinisikan depresi ialah dimana terjadinya

gangguan fungsi pada manusia yang berkaitan dengan alam perasaan sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa, tidak berdaya bahkan adanya gagasan bunuh diri. Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda-beda pada masing-masing individu. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV) merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk menegakkan diagnosis depresi. Bila manifestasi gejala depresi muncul dalam bentuk keluhan yang berkaitan dengan mood ( seperti murung, sedih, rasa putus asa), diagnosis depresi dapat dengan mudah ditegakkan (Amir, 2005). Orang yang beresiko tinggi mengalami depresi ialah orang yang berkepribadian depresif. Seseorang yang sehat juga dapat mengalami depresi apabila tidak mampu menangani berbagai pemicu stress atau stressor psikososial yang dialaminya (Harun, 2009). 2.2.2 Epidemiologi Depresi Dalam perhitungan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan keempat penyakit di dunia. Sekitar 20% wanita dan 12% pria, pada suatu waktu dalam kehidupannya pernah mengalami depresi. Berkisar

20

antara 10% hingga 25% untuk wanita dan 5% hingga 12% untuk pria dapat didiagnosis sebagai gangguan depresi mayor dan diperkirakan 120 juta orang diseluruh dunia menderita depresi. Sekitar 1 dari 20 orang di Amerika Serikat dapat di diagnosis dengan depresi mayor kapanpun juga (Nevid et al, 2002). Depresi lebih sering terjadi pada wanita, hal ini diduga karena lebih sering didapatkan mencari pengobatan dibanding pria. Adanya ketidak seimbangan hormon pada wanita mengakibatkan tingginya prevalensi. Depresi sering terjadi pada usia muda. Pada wanita umumnya terjadi di usia 20-40 (Harun, 2009). Meskipun obat antidepresan sudah cukup banyak tersedia saat ini prevalensi depresi dan angka bunuh diri akibat depresi tetap saja tinggi sekitar 15% penderita depresi mayor meninggal karena bunuh diri, 20%-40% pernah melakukan percobaan bunuh diri dan 80% mempunyai ide bunuh diri. Angka bunuh diri lebih tinggi pada orang tua dan anak muda walaupun depresi lebih sering pada wanita, angka bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan wanita (Amir, 2005). 2.2.3 Etiologi Ada beberapa faktor penyebab depresi yaitu mulai dari faktor genetik, ketidak seimbangan biogenik amin, gangguan neuroendokrin perubahan neurofisiologik, serta faktor psikologik seperti kehilangan objek yang dicintai, hilangnya harga diri, distorsi kognitif, ketidak berdayaan yang dipelajari, dan lain-lain juga diduga berperan dalam terjadinya depresi (Amir, 2005). A.Faktor Genetik Genetik merupakan salah satu faktor yang penting dalam perkembangan gangguan mood depresi. Tetapi, pola penurunan genetik ialah sudah jelas melalui mekanisme yang kompleks seperti penelitian keluarga, adopsi, anak kembar dan penelitian lainnya yang berhubungan (Kaplan et al., 2010). B. Faktor Biologis 1. Amin Biogenik Menurut Amir (2005), korteks limbik yang berhubungan dengan neokorteks bekerja mengatur fungsi luhur. Sedangkan yang berhubungan dengan midbrain dan

21

batang otak terkait dalam pengaturan sistem otonom, produksi hormon, dan siklus tidur-bangun. Neuron yang mengandung norepinefrin terlibat dalam beberapa fungsi, misalnya kewaspadaan, mood, nafsu makan,penghargaan, dan dorongan kehendak. Neurotransmiter lain yang juga me-mediasi fungsi ini yaitu dopamin.

Neurotransmiter ini penting untuk rasa senang, seks, dan aktivitas psikomotor. Serotonin berperan dalam pengontrolan afek, agresivitas, tidur dan nafsu makan. Neuron kolenergik mensekresikan asetilkolin dari terminal dendritnya dan bersifat antagonis terhadap katekolamin. Bukti adanya keterlibatan aminoamin dapat dilihat dari: a. Reserpin adalah obat antihipertensi yang dapat mengurangi penyimpanan biogenik amin. Obat ini dapat mempresipitasi terjadinya depresi. b. Antidepresan dapat mengatasi depresi dengan cara meningkatkan aktivitas biogenik amin di otak. 2. Penyakit Fisik Penyakit fisik dan psikiatri sering terdapat bersamaan. Frekuensinya lebih besar daripada sekedar kebetulan. Sebab baik stres maupun peristiwa kehidupan mempunyai andil yang sama. Semua penyakit fisik mempunyai akibat psikologi, bahkan psikologi dapat menjadi penyebab beberapa penyakit lain (I.M Ingram et al,.1995). C. Faktor Psikologi 1. Peristiwa dalam kehidupan dan stres lingkungan memegang peranan penting dalam terjadinya depresi. Data menunjukkan bahwaa kehilangan orang tua

sebelum usia 11 tahun dan kehilangan pasangan merupakan awal dari penyakit yang berhubungan dengan depresi (Kaplan et al., 2010). 2. Faktor Kepribadian Premorbid biasanya hanya terdapat gangguan afek ringan, personalitas siklotimik menjadi sasaran gangguan afek ringan selama hidupnya, keadaan ini tidak berhubungan dengan penyebab eksterna. Kepribadian ini ditunjukan dengan prilaku murung, pesimis,dan kurang bersemangat (Ingram I.M et al., 1995).

22

2.2.4 Tingkat Depresi Menurut klasifikasi WHO (1992), tingkat depresi dibagi menjadi : 1. Mild depression (minor depression) Pada depresi ringan, mood yang rendah datang dan pergi serta gangguan depresi datang setelah stressful yang spesifik. Individu akan merasa cemas dan tidak bersemangat. 2. Moderate depression Pada depresi sedang, mood yang rendah berlangsung terus dan individu juga mengalami simtom fisik walaupun simtom ini berbeda-beda setiap individu. 3. Mayor depression Individu akan mengalami gangguan dalam kemampuan untuk bekerja, tidur, makan, dan menikmati hal yang menyenangkan. Depresi ini dapat muncul sekali atau beberapa kali selama hidup. Tingkatan depresi dan diagnosisnya dapat diukur dengan menggunakan Beck Depression inventory (BDI). BDI awalnya diperkenalkan pada tahun 1961 oleh psikiater yang bernama Aaron Beck dan rekan-rekannya sehingga menjadi hak cipta pada tahun 1978. Instrumen ini mengalami beberapa kali revisi termasuk versi BDIIA pada tahun 1993 dan versi yang sekarang yaitu BDI-II yang diperkenalkan pada tahun 1996. BDI-IA merupakan instrumen yang dibuat sesuai dengan kriteria depresi DSM-III-R (Diagnostic and Statistical Manual and Mental Disorders III) kemudian direvisi menjadi BDI-II dengan memodifikasi item-item yang menggambarkan kriteria DSM-IV (Ackerman dan Andrew, 2007). Instrumen BDI asli yang awalnya harus dibacakan oleh orang yang mewawancarai dengan suara yang keras ke pasien, namun instrumen ini juga dapat diisi langsung oleh pasien. BDI-II merupakan alat ukur depresi yang terdiri dari 21 item pertanyaan, yaitu: kesedihan, pesimistik, kegagalan masa lalu, kehilangan kesenangan, perasaan bersalah, perasaan seperti dihukum, benci diri sendiri, pengkritikan pada diri sendiri, pikiran atau keinginan bunuh diri, menangis, tidak dapat istirahat, hilang minat, keragu-raguan, kehilangan energi, perubahan pola tidur, mudah tersinggung, selera makan, sulit berkonsentrasi, lelah dan hilang minat seks. Setiap pertanyaan memiliki jawaban yang dibuat dengan skor 0-3 (Baer dan Blais,

23

2010). Tingkat keparahan depresi dapat diketahui dengan menjumlahkan skor seluruh item pertanyaan. Semakin tinggi total skor, mengindikasikan beratnya tingkat depresi. Interpretasi tingkat depresi dengan jumlah nilai 0-9 masih dalam batas normal/tidak depresi, 10-16 depresi ringan, 17-29 depresi sedang dan >30 termasuk depresi berat. Waktu yang dibutuhkan dalam mengisi BDI-II ini antara 5-10 menit (Beck dan Steer, 2000). 2.2.5 Gejala Depresi Menurut Lumongga (2009) gejala depresi adalah sekumpulan peristiwa, perilaku, atau perasan yang sering (namun tidak selalu) muncul pada waktu yang bersamaan, gejala depresi dapat dilihat dari tiga segi yaitu : a. Gejala fisik Ada beberapa gejala fisik yang dapat dideteksi yaitu: 1) Gangguan pola tidur, misalnya,sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur. 2) Menurunnya efesiensi kerja, orang yang terkena depresi akan sulit memfokuskan energi pada hal-hal prioritas. Kebanyakan yang dilakukan justru hal-hal yang tidak efisien dan tidak berguna,seperti memakan makanan kecil, melamun, merokok terus-menerus, sering menelepon yang tak perlu. 3) Menurunnya tingkat aktivitas, pada umumnya orang yang mengalami depresi menunjukan perilaku yang pasif, menyukai kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti menonton televisi, makan, dan tidur. 4) Menurunnya produktivitas kerja, orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian atau seluruh motivasi kerjanya. Sebabnya tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukannya, kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan kegiatannya seperti semula. Oleh karena itu, keharusan untuk tetap beraktivitas membuatnya kehilangan energi yang ada sudah banyak terpakai untuk mempertahankan diri agar tetap dapat berfungsi seperti biasanya. Mudah sekali lelah, capek padahal belum melakukan aktivitas yang berarti.

24

5) Mudah merasa letih dan sakit, jika seseorang menyimpan perasaan negatif, maka jelas akan membuat letih karena membebani pikiran dan perasaan, dan harus memikulnya di mana saja dan kapan saja, suka tidak suka. b. Gejala Psikologis Ada beberapa tanda gejala psikologis yaitu : 1) Kehilangan rasa percaya diri. Penyebabnya, orang yang mengalami depresi cenderung memandang segala sesuatu dari segi negatif, termasuk menilai diri sendiri. Senang sekali membandingkan antara dirinya dengan orang lain. Orang lain lebih dinilai sukses, pandai, beruntung, kaya, lebih berpendidikan, lebih berpengalaman, lebih diperhatikan oleh atasan, dan pikiran negatifnya. 2) Sensitif, Orang yang mengalami depresi senang sekali mengaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Perasaannya sensitif sekali sehingga sering peristiwa yang netral jadi dipandang dari sudut pandang yang berbeda oleh merek,bahkan disalah artikan. Akibatnya mereka mudah tersinggung mudah marah, perasa, curiga akan maksud orang (yang sebenarnya tidak ada apa-apa), mudah sedih, murung dan lebih suka menyendiri. 3) Merasa diri tidak berguna. Perasaan tidak berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi orang yang gagal terutama di bidang atau lingkungan yang seharusnya mereka kuasai. 4) Perasaan bersalah. Perasaan bersalah terkadang timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan. Banyak pula yang merasa dirinya menjadi beban orang lain dan menyalahan diri mereka atas situasi tersebut. 5) Perasaan terbebani. Banyak orang yang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialaminya. Mereka merasa terbeban berat karena merasa terlalu dibebani tanggung jawab yang berat. C.Gejala Sosial Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan, atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik, namun

25

lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal Dalam penelitian gejala depresi yang digunakan adalah gejala fisik, gejala psikologis, dan gejala sosial. 2.2.6 Diagnosis Banding Menurut Amir (2005), diagnosis banding dari depresi ialah : a. Gangguan skizofrenia : Terutama katatonik, tetapi pada tiap-tiap tipe depresi dapat terlihat selama atau setelah suatu episode. Adanya penyesuaian premorbid yang buruk, gangguan proses pikir formal dengan waham yang tersusun baik dan halusinasi yang kompleks, tidak ada riwayat siklik, dan tidak danya riwayat keluarga yang mengalami gangguan afektif, menyokong dugaan skizofrenia. b. Gangguan skizoafektif : Suatu gangguan psikotik yang memenuhi kriteria skizofrenia tetapi dalam sebagian waktu bertumpang tindih dengan gejalagejala mood mayor c. Gangguan cemas menyeluruh : Pertama terlihat anxietas yang sangat menonjol. Pasien dengan cemas hendaknya selalu dipertimbangkan

kemungkinan adanya depresi. d. Alkoholisme : Alkoholisme dan depresi sering terlihat bersama-sama e. Ketergantungan zat : Ketergantungan zat dan depresi sering terlihat bersamasama f. Gangguan obsesif-Kompulsif, gangguan kepribadian ambang dan histrionik. g. Demensia (pseudodepresi) : Demensia ini sering terjadi dan sulit membedakannya, terutama pada orang tua. 2.2.7 Penatalaksanaan Ada banyak faktor yang mungkin terlibat dalam perkembangan gangguan mood dan terdapat pula berbagai macam pendekatan penanganan yang berasal dari modelmodel psikologi dan biologi ( Nevid, 2005). Kekeliruan klinis yang paling sering menyebabkan kegagalan percobaan suatu

26

obat antidepresan ialah menggunakan dosis yang terlalu rendah dan waktu yang terlalu singkat. Adapun pedoman untuk menentukan kualitas percobaan obat sebagai definitif atau kemungkinan dalam hal kepastian dengan mana seseorang dapat

menyimpulkam bahwa obat tersebut adekuat (Kaplan & sadock, 2010) : 2.2 Tabel Pedoman Kualitas Uji Coba Obat
Kriteria Uji Coba Definitive dengan lama Uji Coba Definitive dengan 6 minggu lama 4 dan < 6 minggu Dosis Harian Dosis Harian 250 mg atau kadar plasma desipramine 125 mg/ml atau imipramine 200 ng/ml 100 mg atau kadar plasma antara 50 dan 150 ng/ml 250 mg 200 mg 60 mg 200 249 mg 75 99 mg 200 249 mg 150 199 mg 40 59 mg 45 59 mg 30 39 mg

Antidepresan Trisiklik Imipramine, desipramine Nortriptyline Amitriptyline, doxepin Maprotiline Protriptyline Inhibitor monoamine oksidase Phenelzine Isocarboxazid atau tranylcypromine Fluoxetine Obat lain Bupropion Trazodone Amoxapine Lithium Terapi elektrokonvulsif

60 mg 40 mg 5 19 mg 300 399 mg 200 299 mg 200 299 mg Kadar plasma, 0,4 0,69 mEq/L 9 11 unilateral

20 mg 400 mg 300 mg 300 mg Kadar plasma 0,7-1,1 mEq/L 12 total, dengan sekurangnya Enam bilateral

2.3 Depresi dan Akne Vulgaris Semua penyakit fisik mempunyai efek psikologis. Pola respon ini dapat sehat atau tidak sehat. Anxietas dan depresi merupakan respon lazim dan jelas tetapi bervariasi dalam derajat dan ketepatan. Pasien yang datang dengan gejala psikologis sering mempunyai penyebab fisik sebagai penyerta atau penyokong. Survey pada pasien yang mengunjungi klinik rawat jalan psikiatri terdapat adanya penyakit fisik pada sepertiga kasus (Ingram I.M et al., 1995).

27

Kulit merupakan salah satu jalan utama bagaimana kita merasakan dunia dan apabila terdapat gangguan pada kulit dapat mengakibatkan stres berat pada pasien seperti halnya pada parasitosis delusi. Keadaan kulit ini sendiri sangat mempengaruhi kondisi utama dalam kesehatan dermatologi dengan diikuti gejala sisa psikologi sehingga berdampak pada kualitas hidup pasien, kepercayaan diri, serta hidup secara keseluruhan (Rook., et al 1998). Keadaan kulit yang sehat sangatlah penting bagi kesehatan fisik dan mental seorang individu. Keadaan ini terangkum dalam aspek penampilan rasa sehat dan bahagia serta rasa percaya diri. Hal itu disebabkan karena kulit merupakan organ terluas dan yang paling kelihatan dari tubuh manusia sehingga suatu penampilan kulit yang berbeda akan berpengaruh pada penampilan dan citra diri seseorang dan selanjutnya akan mempengaruhi orang itu sendiri. Akne vulgaris merupakan salah satu penyakit kulit yang dihubungkan dengan faktor psikologis penderitanya. Akne vulgaris sendiri adalah penyakit kulit yang paling sering ditemukan dan ditatalaksana oleh spesialis dermatologis. Keadaan ini terdapat hampir 80% pada remaja dan dewasa muda (Andri dan Sudharmono, 2010). Studi barat telah meneliti bahwasanya adanya dampak dari akne vulgaris dengan kualitas hidup penderita acne vulgaris. Pasien dengan acne vulgaris

cenderung memiliki kecemasan, depresi rasa malu, stigmasasi, penarikan sosial harga diri rendah, gangguan makan, gangguang dismorfik tubuh, dan pengangguran (Bon dann Yap, 2011). Psikis dan kondisi kulit saling mempengaruhi. Kondisi psikis dapat mempengaruhi kulit, sebaliknya keadaan ganguan kulit dapat juga berpengaruh terhadap psikis. Perlu diertimbangkan penambahan psikoterapi dan psikofarmaka pada pengobatan akne vulgaris yakni pada bidang pengobatan tubuh-pikiran ( mindbody ) luas dan menawarkan pada tingkat yang lebih daripada hanya memberikan resep sederhana untuk pengobatan simptomatik. Melalui pengobatan yang holistik akan menuju kepada pengelolaan akne vulgaris yang tepat (Ichsan dan Muchlisin, 2008).

28

Studi terbaru alami tentang akne terbatas. Pengobatan yang baik mungkin dapat memodifikasi prevalensi keparahan akne. Akne yang dialami selama bertahun-tahun terkait dengan morbiditas psikiatri Stres emosional pun dapat memperburuk akne dan penderita dengan akne mengalami masalah kejiwaan sebagai akibat dari kondisi mereka. Masalah kejiwaan yang biasanya berhubungan dengan akne ialah masalah harga diri, kepercayaan diri, citra tubuh, penarikan sosial, kecemasan, depresi, marah dengan akne, frustasi/ kebingungan, dan keterbatasan dalam masalah kehidupan dalam hubungan keluarga ( Aktan S, 2000).