Anda di halaman 1dari 5

PROPRANOLOL Mekanisme kerja Propranolol mengantagonis katekolamin baik pada adrenoreseptor 1 maupun 2.

Efikasinya dalam penanganan hipertensi, seperti juga dengan sebagaian besar efek toksiknya, terjadi akibat penyekatan . Propanlol menurunkan tekanan darah terutama sebagai hasil dari penurunan curah jantung. Penyekat yang lain diduga menurunkan curah jantung atau menurunkan tahanan vaskular perifer dalam berbagai tingkat, tergantung pada selektivitas dan aktivitas agonis parsial (Meiracker et. al., 1989). Penyakatan beta diotak, ginjal, dan saraf adrenergik perifer diduga sebagai kontribut pada efek antihipertensi yang terjadi pada penyakat reseptor . Propranolol menghambat stimulasi produksi renin oleh katekolamin (terjadi melalui reseptor 1). Diiduga efek propranolol sebagian disebabkan oleh depresi system renin-angiotensi-aldosteron. Merskipun paling efektif digunakan pada pasien dengan aktivitas plasma renin yang tinggi, propranolol juga dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan aktivitas renin normal bahkan rendah. Penyakat-beta diduga juga bekerja pada adrenoreseptor prasinaps perifer untuk menurunkan akivitas saraf vasokonstriktor simpatis. Pada hipertensi ringan sampai sedang, propranolol dapat menghasilkan penurunan bermakna pada tekanan darah tanpa disertai hipotensi postural yang mencolok. Farmakokinetik dan Dosis Dosis propranolol oral lebih besar daripada dosis intravena, sebagai akibat inaktivasi lintas-pertama hepar (first pass effect). Efek yang mencolok dari lintaspertama sebagian berkaitan dengan keanekaragaman dalam dosis yang dibutuhkan untuk mendapatkan efek yang dapat digunakan di klinik. Waktu-paruhnya 3-6 jam. Pengobatan hipertensi biasanya diawali dengan pemberian 80 mg/hari dalam dosis yang terbagi. Dosis antihipertensi yang efektif dalam rentang 80

sampai dengan 480 mg/hari. Bradikardi pada keadaan istirahat dan penurunan denyut jantung pada saat olahraga merupakan indikasi efek antagonis- dari propranolol. Pengukuran respon tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam pengaturan dosis. Propranolol dapat diberikan sekali atau dua kali sehari. Toksisitas Toksisitas utama propranolol merupakan akibat dari penyakatan jantung, vaskular, atau reseptor bronkial. Perluasan efek penyakat-beta yang dapat diperkirakan yang paling penting terjadi pada pasien degan penurunan cadangan miokardial, asma, insufisiensi vaskular perifer, dan diabetes. Ketika propranolol diberhentikan setelah penggunaan teratur dalam jangka lama, beberapa pasien megalami sindroma putus obat, dengan manifestasi kegugupan, takikardi, peningkatan intensitas angina, atau peningkatan tekanan darah. Infarktus miokardium dilaporkan terjadi pada sejumlah kecil pasien. Meskipun angka kejadian komplikasi mungkin rendah, propranolol sebaiknya tidak dihentikan dengan mendadak. Sindroma putus obat diduga melibatkan regulasi menigkata atau supersensitivitas adernoresptor . Propranolol dapat pula menimbulkan efek yang , walaupun jarang terjadi, tidak secara jelas disebabkan oleh penyakat , termasuk diare, konstipasi, mual dan saraf pusat seperti yang disebabkan metildopa dan klonidin, termasuk mimpi buruk, kelesuan, depresi mental dan insomnia. Hal terakhir, propranolol dapat meningkatakan trigliserida plasma dan menurunkan kolesterol aterogenesis. METOPROLOL Metoprolol lebih kurang sama kuat dengan propaolol dalam menghambat stimulasi adrenoreseptor 1 seperti yang terdapat pada jantung, akan tetapi 50 sampai 100 kali lipat lebih lemah daripada propranolol dalam menyakat reseptor 2. Meskipun metoprolol dalam beberapa hal sangat mirip dengan propanolol, HDL, yang secara teoritis dapat memperbesar

selektivitas (relatif) jantungnya yang diduga berguna dalam pengobatan pasien hipertensi yang juga menderita asma, diabetes, atau penyakit vaskular perifer. Penelitian terhadap julah kecil pasien asma membuktikan bahwa metoprolol menyebabkan kontriksi bronkial yang lebih kecil daripada propanolol pada dosis yang menghasilkan hamtan terhadap respon adrenoreseptor 1 yang sama. Selektivitas jantung yang tidak lengkap bagaimanapun., dapat menyebabakan terjadinya ekserbasi gejala asma oleh metoprolol. Dosis hipertensi yang lazm dari metoprolol dalam rentang 100-450 mg/ml. NADOLOL, CARTEOLOL, ATENOLOL, BETXOLOL DAN BISOPROLOL Nadolol dan cateolol, antagonis reseptor- nonselektif dan atenolol, suatu penyekat selektif- 1 tidak dimetabolisme dan dieksresikan dalam jumlah besar di dalam urine. Betaxolol dan bisoprolol merupakan penyakat selektif- 1 yang terutama dimetabolisme di dalam hati tetapi mempunyai waktu paruh yang panjang. Obat tersebut dapat diebrika sekali sehari karena waktu paruhnya dalam plasma relatif panjang. Penggunaan nadolol lazimnya diawali pada dosis 40 mg/hari, atenolol pada 50 mg/hari, cateolol pada 2.5 mg/hari, betaxolol pada 10 mg/hari. Peningkatan dosis untuk memperoleh efek terapi yan gmemuaskan seyogyanya tidak dilakukan lebih sering dari setiap empat atau lima hari. Pasien dengan fungsi ginjal yang menurun seyogyanya mendapat dosis nadolol, cateolo dan atenolol yang diturunkan. Dikatakan bahwa atenolol menghasilan efek yang berkaitan dengan system saraf pusat yang lebih kecil daripada antagonis yang lebih dapat larut di dalam lemak. PINDOLOL, ACEBUTOLOL DAN PEBUTOLOL Pindolol, acebutolol dan penbutolol adalah agonis parsial yakni dengan aktivitas intrinsik simpatomimetik. Mereka menurunkan tekanan darah dengan menurunkan tahanan vaskular dan tampaknya lebih sedikit menurunkan curah jantung atau denyut jantung daripada penyakat yang lain. Dosis harian pindolol dimulai dari 10 mg; asebutolol dimulai dari 400 mg dan penbutolol pada 20 mg.

LABETALOL DAN CARVEDILOL Labetalol secara klinis diberikan sebagai campuran rasemik dari empat senyawa isomeric (labetalol mempunyai dua pusat asemetris). Dua dari isomer tersebut, isomer-(S,S) dan (R,S), tidak aktif, yang ketiga (S,R) adalah penyakat yang kuat. Isomer penyakat- diduga mempunyai efek sebagai agonis 2 yang selektif dan efek antagonis non selektif. Pada pemberian oral labetalol mempunyai rasio 3:0 dari antagoisme :. Penurunan tekanan darah terjadi karena penurunan tahanan vaskular sistemik tanpa perubahan bermakna pada denyut jatung atau curah jantung. Karena aktivitas kombinasi sebagai penyakat dan , labetalol sangat berguna dalam pengobatan hipertensi pada feokromositoma dan kedaruratan hipertensi. Dosis oral harian labetalol dalam rentang 200 samapai 2400 mg/hari. Labetalol diberikan segaia injeksi bolus intravena berulang 20-80 mg untuk pengobatan kedaruratan hipertensi. Carvedilol, seperti halnya labetalol, diberikan sebagai campuran rasemik. Lazimnya dosis awal carvedilol untuk hipertensi adalah 6,25 mg dua kali sehari. ESMOLOL Merupakan bloker selektif 1 yang secara cepat dimetabolisme melalui hidrolisis oleh esterase sel darah merah. esmolol memiliki waktu paruh pendek (910 menit) dan diadministrasikan secara konstan dengan infus intravena. Infus dimulai pada 50-150 mcg/kg/min, dan dosis ditingkatkan tiap 5 menit, hingga 300 mcg/kg/min, sesuai kebutuhan untuk memperoleh efek terapeutik yang diinginkan. Esmolol digunakan untuk management hipertesi intraoperative dan postoperative, dan seringkali untuk kedaruratan hipertensi, umumnya ketika hipertensi berasosiasi dengan takikardia.

Daftar pustaka Meiracker, Van Den A.H., et. al. 1989. Hemodynamic and Hormonal Adaptation to Beta Adrenoreseptor blockade: A 24-hour study of acebutolol, atenolol, pindolol, and propanolol in hypertensive patients. Circulation 1989; 78:957. Katzung, Bertram G. 2007. Basic & Clinical Pharmacology. 10th edition. McGraw-Hill Medical. USA.