Anda di halaman 1dari 11

Asma Persisten Eksasebarsi Akut Pada Anak

Nama :Dicky Taruna NIM :10-2010-189 Kelompok : F3

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510 email : dickyxyz@gmail.com

Pendahuluan Asma adalah suatu penyakit yang ditandai dengan suatu episode batuk dan mengakibatkan obstruksi aliran udara dalam derajat yang bervariasi. Insiden penyakit asma lebih tinggi pada usia prasekolah yang diagnosisnya mungkin dapat sulit ditegakan. Tampaknya kasus asma menjadi lebih sering dan mungkin juga lebih parah. Asma sangat sering menyebabkan kesulitan pada orangtua dan anak itu sendiri. Penderita asma mempunyai hiper reaktivitas bronkus dalam berbagai derajat dan akan mengalami obstruksi jalan napas setelah olahraga, terpapar udara dingin dan iritan nonspesifik seperti embun, debu atau asap rokok. Dengan dibuatnya makalah ini bertujuan agar pembaca dapat mengerti lebih dalam tentang asma pada anak dan cara penanganannya.

Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat tergantung stadium serangan serta lamanya serangan serta jenis asmanya. Pada asma yang ringan dan sedang tidak ditemukan kelainan fisik diluar serangan.

Pada inspeksi terlihat pernapasan cepat dan sukar, disertai batuk-batuk paroksimal , kadang kadang terdengar suara wheezing ( mengi) , ekspirasi memanjang dan pada inspirasi terlihat retraksi daerah supraklavikular , suprastrernal , epigastrium dan sela iga . pada asma kronik terlihat bentuk torak emfisematus, bongkok ke depan , sela iga melebar , diameter anteroposterior toraks bertambah.

Pada perkusi terdengar hipersonor seluruh toraks, terutama bagian bawah posterior. Daerah pekak jantung dan hati menjadi berkurang.

Pada auskultasi mula-mula bunyi nafas kasar/mengeras, tapi pada stadium lanjut suara nafas melemah atau hamper tidak terdengar karena aliran udara sangat lemah. Dalam keadaan normal fase ekspirasi 1/3 -1/2 dari fase inspirasi . pada waktu serangan fase ekspirasi memanjang. Terdengar suara ronki kering dan ronki basah serta suara lender bila banyak sekresi bronkus.

Tinggi dan berat badan perlu diperhatikan dan bila mungkin juga hibingannya dengan tinggi badan kedua orangtua. Asma sendiri merupakan penyakit yang dapat menghambat perkembangan anak. Gangguan pertumbuhan biasanya terdapat pada asma yang sangat berat. Anak perlu diukur tinggi dan berat badannya pada tiap kunjungan , karena perbaikan akibat pengobatan dapat dinilai dari perbaikan pertumbuhannya. Bentuk toraks perlu diperhatikan untuk melihat adanya dada burung atau sulkus Harrison sebagai adanya tanda obstruksi jalan nafas yang lama. Tanda ini hanya ditemukan pada asma yang berat dan menahun dengan pengelolaan asma yang tidak adekuat.

Tanda-tanda yang berhubungan dengan tingkat obstruksi jalan napas pada waktu pemeriksaan umunya tidak atau kurang dapat dipercaya dan sangat tergantung pada kemampuan pengamat. Hal yang lebih baik ialah mencari tanda yang berhubungan dengan hiperinflasi dada, seperti misalnya hiperresonansi, retraksi subcostal. Bentuk kuku jari seperti tabuh gendering tapi jarang sekali didapat, 1,3

Pemeriksaan Penunjang Uji faal paru Pemeriksaan ini sangat berguna untuk menilai asma meliputi diagnosis dan pengelolaannya. Uji faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi , menilai hasil provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit.

Pemeriksaan faal paru yang penting pada asma ialah PEFR, FEVI, PVC, FEVI. Uji faal paru tidak selalu mudah dilaksanakan , terutama pada anak dibawah umur 5-6 tahun . Sebaiknya tiap anak dengan asma diuji faal parunya pada tiap kunjungan . Peak Flow Meter adalah yang paling sederhana , sedangkan dengan spirometer memberikan data yang lebih lengkap. Volume kapasitas paksa (FVC) , aliran puncak ekspirasi (PEFR) dan rasio FVC berkurang lebih 15% dari normalnya. Perpanjangan waktu ekspirasi paksa biasanya ditemukan , walaupun PEFR dan FEVI/FVC hanya berkurang sediit. Inflasi berlebihan yang biasanya terlihat secara klinis akan digambarkan sebagaimeningginya isi total paru (TLC) , isi kapasitas residu fungsional da nisi residu. Diluar serangan faal paru tersebut umumnya akan kembali normal kecuali pada asma yang berat.

Gambar 1. Uji Faal Paru Pada Asma

Gambar 2. Kurva Arus Volume Pada Anak normal (a) dan sedang serangan (b)

Foto Rontgen Toraks Pemeriksaan ini perlu dilakukan dan pada foto akan tampak corakan paru yang meningkat .hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik. Atelectasis juga sering ditemukan. Setiap anak penderita asma yang berkunjung pertama kalinya perlu dibuat foto rontgen parunya. Foto ini dibuat terutama untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain. Foto perlu diulang bila ada indikasi misalnya dugaan adanya pneumonia atau pneumotoraks. Rontgen foto sinus paranasalis perlu juga bila asmanya sulit terkontrol.

Uji Kulit Alergi dan Imunologi Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusukan. Masing-masing cara mempunyai keuntungan dan kerugiannya. Allergen yang digunakan adalah allergen yang banyak didapat didaerahnya. Hasil positif harus dicocokan dengan keadaan penderita sehari-hari. Bila ada hubungan yang jelas baru uji kulit tersebut berarti. Kedua cara uji kulit alergi tersebut dapat memberikan hasil positif palsu dalam persentase kecil dan mempunyai korelasi yang baik dengan IgE yang beredar. Peru diingat bahwa reaksi ini dapat ditekan dengan pemberian antihistamin.

Pemeriksaan IgE atau kalau mungkin IgE spesifik dapat memperkuat diagnosis dan menentukan pengelolaannya. Tetapi bila tidak ditemukan kelainan ini diagnosis asma masih belom dapat di singkirkan.

Uji alergi kulit berguna untuk menunjukan allergen yang potensial sebagai pencetus. Hasil uji alergi kulit seharusnya dihubungkan dengan keadaan klinis dan bila cocok itulah allergen pencetus yang sesuai. Untuk menentukan hal itu , sebenrnya ada pemeriksaan yang lebih tepat, yaitu uji provokasi bronkus dengan allergen yang bersangkutan. 1

Diagnosis Asma pada anak kecil diagnose berdasarkan adanya batuk dan atau mengi yang berulang atau persisten serta adanya respon klinis terhadap pengobatan. Diantara serangan, kebanyakan anak dalam keadaan sehat, tidak ada tanda klinis pada pemeriksaan fisik serta fungsi paru paru normal. 2

Manifestasi klinik asma pada anak antara lain mengi, batuk , dyspnea, takipnea dan nyeri dada biasa terjadi selama eksasebarsi akut, tetapi merupakan tanda lambat asma dan mungkin tidak selalu ada. Riwayat batuk menetap ( asma varian batuk ), batuk malam, batuk akibat olahraga, muntah pasca batuk dan batuk pasca pajanan udara dingin atau dengan tertawa memberikan adanya kesan asma. 3,4

Phelan (1982 ) membagi asma menurut beberapa tipe, yaitu : 1. Asma Episodik yang Jarang Biasanya terdapat pada anak umur 3-6 tahun . serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran nafas bagian atas. Banyaknya serangan 3-4 kali dalam satu tahun. Lamanya serangan paling lama beberapa hari saja dan jarang merupakan serangan berat

2. Asma Episodik Sering Pada 2/3 golongan ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran nafas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan udara , adanya allergen , aktivitas fisik dan stress. Banyak kasus yang tidak jelas pencetusnya. Banyak serangan 3-4 kali dalam satu tahun dan tiap serangan beberapa hari sampai beberapa minggu. Frekuensi serangan paling tinggi pada umur 8-13 tahun. Pada golongan lanjut kadang-kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik atau persisten. Umumnya gejala paling jelek terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi yang mengganggu tidur.

3. Asma Kronik atau Persisten Pada 25% anak golongan ini serangan pertama terjadi sebelum umur 6 bulan, 75% sebelum umur 3 tahun. Lima puluh persen anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan 50% sisanya serangan episodic. Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi saluran nafas yang persisten dan hamper selalu terdapat mengi tiap hari.

Asma dapat disebabkan oleh beberapa factor antara lain : 2 Genetik : diturunkan dalam keluarga dan berhubungan dengan atopi. Penelitian genetic menunjukan adanya hubungan reseptor IgE afinitas tinggi dan gen sitokin T-helper. Faktor Lingkungan : stimulus bronkial spesifik seperti debu rumah, serbuk sari, dan bulu binatang. Paparan Pekerjaan : paparan iritan atau sensitizer adalah penyebab penting dari asma yang berhubungan dengan pekerjaan Stimulus nonspesifik : infeksi virus, udara dingin, olahraga atau stress emosional juga bisa memicu timbulnya mengi. Faktor lingkungan lain : diantaranya factor makanan tinggi Natrium atau magnesium, infeksi pada anak-anak dan peningkatan jumlah allergen dirumah ( debu ) menyebabkan peningkatan prevalensi

Diagnosis Banding Penyebab mengi pada anak dapat dilihat pada table 1. Mengi sebelum usia 3 bulan memberi kesan keadaan lain, seperti infeksi, malformasi paru, kelainan jantung dan gastrointestinal atau fibrosis kistik ( terutama bila terdapat malabsorbsi atau jari tabuh yang tidak ditemukan pada asma ). Pada bayi dan balita bronkiolitis yang disebabkan oleh respiratory syntical virus merupakan penyebab mengi yang umum. Benda asing dalam saluran napas atau esophagus harus dipikirkan pada pasien berusia diatas 1-2 tahun yang mengalami onset mengi atau suara pernapasan yang hilang pada satu daerah yang terlokalisir. 3, Table 1. Diagnosis Banding Mengi 3
Pernapasan Umum Pernapasan tidak umum Asma bronkial Infeksi pernapasan Benda asing Fibrosis kistik Disfungsi pita suara laringotrakeomalasia dysplasia bronkopulmonal defesiensi alfa antritipsin sindrom dyskinesia siliar bronkiektasis hemosiderosis paru PJK Heart failure Refluks gastroesofagus Fistula Trakeoesofagus Benda asing Massa mediastinum Kardiovaskular Gastrointestinal Lain-lain

Penatalaksanaan Asma adalah suatu kondisi yang sangat bervariasi serta memiliki pola yang seringkali berubah sejalan dengan bertambahnya usia pada anak sehingga tatalaksanaya perlu dikaji secara teratur dan disesuaikan sesuai keperluan. Tujuan pengobatan adalah mengendalikan gejala sehingga anak dapat menjalani kehidupan normal dengan menggunakan terapi obat seminimal mungkin. 4,5

Penanganan Kedaruratan Pada pasien dengan hiperreaktivitas saluran napas yang bermakna, eksaserbasi asma dapat dengan mudah terjadi akibat infeksi pernapasan oleh virus, sinusitis akut, bronkitis, atau pemajanan pada pemicu utama (alergen). Eksaserbasi ditandai dengan distres pernapasan yang berarti, dipsnea, mengi, batuk, dan penurunan besar pada laju aliran ekspirasi puncak. Kemunduran dapat terjadi selama beberapa hari atau terjadi secara cepat, dan dapat bervariasi dari keparahan ringan sampai mengancam jiwa. Evaluasi harus meliputi penilaian derajat sianosis, sesak napasm status mental, frekuensi pernapasan, pengguanaan otot bantu pernapasan, mengi, pulus paradoksus, PEFR, dan saturasi oksigen (dalam udara kamar).

Pada unit gawat darurat, penanganan harus diliputi pemberian berulang inhalasi agonis beta2, oksigen, dan penggunaan awal kortikosteroid sistemis. Epinefrin dengna injeksi subkutan atau intramuskular jarang diindikasikan dan dicadangkan untuk anafilaksis akut atau asma berat yang tidak berespons terhadap pemberian agonis beta2 inhalasi terus-menerus. Gas darah arteri harus diambil jika PEFR 30-50% dari nilai prediksi, jika distres berat menetap sesudah pengobatan awal, atau bila saturasi oksigen tetapi di bawah 90% dalam udara kamar. Jika pasien berespons baik terhadap terapi (PEFR >70% dari prediksi, saturasi >95% dalam udara kamar, dan penurunan yang nyata atau hilangnya gejala), pemulangan pasien diinikasikan dengan penambahan bertahap obat-obat rumatan dan rencana untuk pemantauan rawat jalan.3

Rawat inap diindikasikan jika: 1. Respons pasien tidak cukup dengan gejala menetap.

2. PEFR di bawah 70% dari nilai prediksi, terutama pada pasien beresiko tinggi untuk kematian (misalnya, baru dilakukan penghentian kortikosteroid sitemis, pernah dirawat inap atau mendapat penanganan kedaruratan akibat asma pada tahun sebelumnya, penyakit psikiatrik atau masalah psikososial, atau tidak taat dengan pengobatan asma yang diberikan). 3. Henti napas mengancam (misalnya tanda-tanda kemunduran, kebingungan, PO2 <60 mmHg, dan/atau PCO2 >40-45 mmHg). Terapi pasien rawat inap asma meliputi penggunaan agonis beta inhalasi sampai dengan setiap 1-2 jam atau penggunaan agonis beta dengan aerosol nebulisasi terusmenerus dan kortikosteroid sistemis (metilprednisolon, 2-4 mg/kg/24 jam, yang dibagi setiap 6 jam). Aminofilin intravena (5 mg/ kg loading dose, dilanjutkan dengan infus 0,7-1,2 mg/kg/jam) atau terbutalin intravena dapat bermanfaat pada pasien yang tidak berespons terhadap aerosol dan steroid intravena, intubasi endotrakea dengan ventilasi mekanik mungkin diperlukan pada kejadian hipoksia berat dan gagal napas. Sedasi dikontraindikasikan kecuali jika pasien diintubasi.

Tabel 2. Penatalaksanaan Asma Kronik 5 Langkah 1 Bronkodilator bila perlu Langkah 2 Langkah 1 + steroid inhalasi teratur Langkah 3 Langkah 1+ steroid inhalasi + B-agonis kerja panjang

Langkah 4 Steroid inhalasi dosis tinggi + B- agonis kerja panjang + percobaan bronkodilator lain

Langkah 5 Langkah 4+ steroid oral teratur

Langkah 6 Diturunkan setelah stabil dalam 3-6 bulan

Pemulangan dari rumah sakit akan tepat bila:3 1. Agonis beta inhalasi yang sedang digunakan tidak lebih dari setiap 4 jam.

2. Temuan klinis normal atau hampir normal. 3. PEFR di atas 70-80% nilai prediksisesudah penggunaan agonis beta2 inhalasi kerja pendek. 4. Variabilitas PEF di bawah 20%. 5. Edukasi asma telah dimulai (penggunaan alat inhaler dengan benar, pembuatan rencana kerja, dan rencana untuk obat-obatan pulang serta pemantauan rawat jalan dipahami dengan semestinya oleh pasien dan orang tua).

Pencegahan Penanggulangan asma pada anak sekarang yang lebih penting bukan mengatasi serangan , melainkan untuk mencegah serangan asma. Anak yang menderita asma harus dapat hidup layak serta tumbuh dan berkembang sesuai dengan umurnya. Dengan demikian segala upaya penggunaan obat dan non obat harus dinilai untung ruginya berdasarkan tujuan utama tadi atau dengan perkataan lain tidak boleh mengganggu tumbuh kembang anak. Tindakan-tindakan kita harus meningkatkan mutu kehidupan anak asma itu untuk sekarang dan masa depan.

Pencegahan serangan asma terdiri atas : 1. Penghindaran factor pencetus , seperti : Alergen : factor allergen dianggap mempunyai peranan pada sebagian besar anak dengan asma. Disamping itu hiperreaktivitas saluran nafas juga merupakan factor yang penting. Bila tingkat hiperreaktivitas bronkus tinggi diperlukan jumlah allergen yang sedikit, begitu pula sebaliknya.

Infeksi : biasanya infeksi virus pada bayi dan anak disebabkan oleh respiratory syntical virus dan virus parainfluenza. Kadang bisa disebabkan oleh pertussis dan streptokokus.

Iritan : Hairspray, minyak wangi, asap rokok, bau tajam dari bahan kimia, udara dingin dan air dingin dapat menyebabkan reflex bronkokontriksi. Udara kering mungkin juga merupakan pencetus hiperventilasi dan kegiatan jasmani.

Cuaca :perubahan tekanan udara, perubahan suhu, angina dan kelembapan dihubungkan dengan percepatan terjadinya asma.

Kegiatan jasmani : yang dapat meningkatkan ngengap pada anak harus dihindarkan. Juga tertawa dan menangis yang berlebihan dapat memicu asma.

Psikik : kadang factor psikis dapat menjadi factor pencetus terjadinya serangan asma pada anak.

2. Obat-obatan dan terapi imunologi Penggunaan obat-obatan atau tindakan untuk mencegah dan meredakan atau mengurangi reaksi yang akan atau sesudah timbul oleh pencetus tadi. Berikut adalah obat-obatan yang biasa diberikan untuk asma : Kortikosteroid Inhalasi (KSI) : meliputi flutikason, budesonide, beklometason, dan triamsinolon. KSI umumnya aman dan menjadi terapi yang sangat efektif untuk asma kronik. Penggunaan yang teratur mengurangi hipereaktivitas saluran napas, mengurangi kebutuhan terapi bronkodilator , mengurangi resiko rawat inap dan kematian akibat asma.

Agonis Beta Adrenegik : selektif berguna untuk pengobatan asma akut maupun kronik. Tetapi bila diberikan sendiri tidak mengendalikan serangan dalam jangka panjang karena agonis beta adrenegik beta tidak memengaruhi inflamasi saluran nafas. Agonis adrenegik beta merelaksasikan otot polos saluran napas, meningkatkan pembersihan mukosiliar dan mengurangi pelepasan mediator dari selmast dan basophil. Contohnya adalah albuterol dan salmeterol.

Agen antikolinergik seperti ipratropium bromide tersedia dalam inhaler dosis terukur dan sebagai larutan nebulasi. Obat ini merupakan bronkodilator potent yang dapat memblok reflex bronkokontriksi yang disebabkan oleh iritan yang terhirup.

10

Terapi Anti-IGE monoclonal antibody : baru-baru ini terbukti memperbaiki aliran puncak dan kualias hidup secara bermakna, mengurangi frekuensi eksasebarsi asma .

Kesimpulan Asma merupakan penyakit dengan karakteristik terjadinya penyempitan saluran napas bagian bawah yang dapat berubah-ubah derajatnya. Asma dapat disebabkan oleh beberapa factor . serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba atau akut. Bila asma akut tidak ditangani dengan benar maka akan membahayakan si penderita tersebut.

Daftar Pustaka 1. Hassan R, Alatas H, Latief A, Napitupulu PM, Pudjiadi A, Ghazali MV, dkk. Buku kuliah ilmu kesehatan anak. Jakarta : Penerbit Bagian IKA FK UI. 2007. H: 2. Hull, David. Dasar-dasar pediatric, Ed 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008. H: 3. Behrman RE. Kliegman RM. Nelson esensi pediatri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2010. H:341-50. 4. Safitri A. At a glance medicine. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2006. H:178-9. 5. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2006. H:178-80.

11