Anda di halaman 1dari 33

DEKOMPOSISI KAIN

1. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari pada praktikum ini adalah sebagai berikut ; 1. Memproses penguraian kain dengan cara ditiras ke arah lusi dan ke arah pakan. 2. Mengetahui konstruksi kain (baik berupa anyaman, tetal, benang lusi dan pakan serta nomor benang lusi dan pakan). 3. Untuk mengetahui berbagai jenis dan ciri anyaman. Anyaman polos, anyaman keper, anyaman satin, dan anyaman cele. 4. Menentukan selisih berat hasil pengukuran dan hasil perhitungan, Menentukan besar tetal lusi dan pakannya, Menentukan nomor benang lusi dan pakan, besar mengkeret benang lusi dan pakan.

2. Teori Dasar Di dalam tenunan, beang-benang yang bersilang atau berpindah tempat dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas terdapat silangnsilangan.

Gambar 1

Benang diantara dua silangan dinamai efek (efek lusi, efek pakan). Lebih kerap benang itu bersilang, akan lebih pendek efek-efek tadi. Jadi tenunan itu ada yang bersilang banyak ada pula yang bersilang sedikit.

Gambar 2

Untuk mempelajari macam-macam anyaman, kita perlu sekali membuat gambarnya. Gambar ini dibuat pada kertas gambar yang bergaris segi-segi (kotak-kotak) yaitu kertas patron. Sela diantara dua gais memanjang kita anggapsebagai benang lusi dan sela diantara dua garis melintang kita anggap sebagai benang pakan. Segi-segi kecil itu adalah tempat/titik persilangan benang-benang lusi dengan benang-benang pakan. Benang-benang lusi yang berjalan diatas benang-benang pakan dinyatakan dengan segi-segi terisi (gambar 3). Ditempat ini benang pakan berjalan dibawah benang lusi. Benang-benang lusi yang berjalan di bawah benang pakan dinyatakan oleh segi-segi kosong.

Gambar 3

Di tempat ini benang pakan berjalan di atas benang lusi. Benang lusi yang berjalan diatas dua benang pakan dinyataka oleh dua segi terisi di jurusan memanjang dan benang pakan yang berjalan di atas dua benang lusi dinyatakan oleh dua segi kosong di jurusan melintang.

Gambar 4

Dekomposisi kain merupakan salah satu cara untuk mengetahui komposisi kain. Ini dilakukan jika kita hendak membuat kain tanpa adanya keterangan tentang konstruksi kain tersebut dan yang ada hanya kain kain contoh dengan ukuran yang tidak dengan sebenarnya. Dengan proses dekomposisi kain tersebut kita akan memperoleh data-data konstruksi kain, sehingga dari data tersebut kita dapat membuat rencana tenun,kebutuhan bahan dan sebagainya.

Pada

prinsipnya

kain

tenun

merupakan

suatu

bahan

yang

mempunyai panjang dan lebar tertentu yang terbentuk dari suatu anyaman dari benang lusi dan benang pakan. Benang benang tersebut dapat diperhitungkan berapa panjangnya untuk membuat suatu kain. Disamping itu juga benang tersebut mempunyai berat yang tentunya akan semakin berat jika benang tersebut semakin panjang. Jadi pada intinya untuk dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku dapat dilakukan dengan mengetahui dekomposisi kain yang meliputi : Nomor benang Nomor benang adalah perbandingan antara panjang dan berat atau sebaliknya. Mengkeret Karena kain dibentuk dari suatu anyaman tentunya ada saat dimana suatu benang harus bergerak naik dan bergerak turun. Gerakan tersebut akan memprngaruhi kebutuhan bahan baku untuk

menghasilkan suatu kain. Akibat gerakan tersebut maka panjang benang dengan kain yang dihasilkan akan berbeda. Perbedaan itulah yang disebut dengan mengkeret. Anyaman Anyaman ini kan berpengaruh terhadap mengkeret, karena semakin banyak gerakannaik turun suatu benang pada panjang tertentu akan semakin besar pula mengkeretnya dan sebaliknya. Macam macam Anyaman dasar : a. Anyaman Plat (plain) yaitu anyaman yang bentuknya persegipersegi. Ini banyak dipakai untuk kain blacu, kain piyama, sarung, dsb. b. Anyaman keper (twill) yaitu anyaan yang bergaris-garis miring, dipakai untuk kain-kain drill, taplak meja, dsb. c. Anyaman satein ialah anyaman yang licin dan mengilap dipakai utuk kain grdjin jacquard, untuk pakaian wanita dari sutra, dsb.

Gambar 4

1. Anyaman Plat (Plain) Anyaman plat adalah anyaman yang paling sederhana dari semua macam anyaman dan yang paling bnyak dipakai. Di dalam industry wol anyaman ini disebut anyaman laken, dalam pabrik tenun linen anyaman linen, dalam industry sutr anyaman taft (taffeta) dan didalam industry katun tergantung pada kasar halusnya benang dan konstruksinya banyak sekali namanya seperti kain kanvas, poplin, gambrics, crepe, blacu dan sebagainya. Nama-nama lain : Anyaman blatju Anyaman Plat Anyaman Tabby Anyaman Taffeta (Taffeta Weave) Anyaman Plain (Plat weave) Ciri-ciri dan karakteristik anyaman polos 1. Mempunyai rapot yang paling kecil dari semua jenis anyaman. 2. Bekerjanya benang-benang lusi dan pakan paling sederhana, yaitu: 1-naik, 1-turun. 3. Ulangan rapot: kearah horizontal (lebar kain) atau kearah pakan diulangi sesudah 2 helai pakan. Pengulangan ke arah vertikal (panjang kain) atau ke arah lusi, diulangi sesudah 2 helai lusi. 4. Jumlah silangan paling banyak diantara jenis anyaman yang lain.

5. Jika faktor-faktor yang lain sama, maka anyaman polos mengakibatkan kain dengan anyaman polos menjadi kain paling kuat daripada kain dengan anyaman lain dan letak benang lebih teguh atau tak mudah berubah tempat. 6. Anyaman polos paling sering dikombinasikan dengan faktorfaktor konstruksi kain yang lain daripada jenis anyaman yang lainnya. 7. Tetal lusi dan tetal pakan pada anyaman polos mempunyai perpencaran (range) yang lebih besar daripada anyaman lain (10 helai/inch 200 helai/inch). Perpencaran berat kain lebih besar daripada anyaman lain (0,25 oz/yds2 52 oz/yds2). 8. Anyaman polos lebih sesuai untuk diberi rupa yang lain dengan jalan mengadakan ubahan-ubahan desain, baik pengubahan pada structural design maupun pengubahan pada surface design dibandingkan dengan anyaman lainnya. 9. Pada umumnya, kain dengan anyaman polos penutupan kainnya (fabric cover) berkisar pada 25 % - 75 %. 10. Anyama polos dapat dipakai untuk kain yang jarang dan tipis (open construction / sheer texture) dengan hasil yang

memuaskan dari anyaman yang lain. 11. Banyak gun yang digunakan minimum 2 gun, tetapi untuk tetal lusi yang tinggi digunakan 4 gun atau lebih. 12. Anyaman polos banyak dipakai untuk kain dengan konstruksi medium, dengan fabric covers 51 % - 75 %. Penutupan lusi dan pakan berkisar 31 % - 50 %. 13. Anyaman polos untuk kain padat (close construction), biasanya menggunakan benang pakan yang lebih kasar daripada benang lusi. Karakteristik dari jenis ini cenderung menunjukan rip (rusuk horizontal pada permukaan kain.

Contoh anyaman polos:

Contoh anyaman polos 2. Anyaman Krep Anyaman keper adalah anyaman yang dapat merupakan garisgaris miring pada muka kain. Keper yang garis-garis miringnya dari kiri bawah ke kanan atas disebut keper kanan dan yang dari kanan bawah ke iri atas disebut keper kiri. Pada umumnya kain keper itu mempunyai bagian luar dan bagian dalam, luarnya dari keper-kanan dan dalamnya keper-kiri. Oleh karena efek-efek benang pada anyaman keper panjang-panjang maka tetalnya dapat melebihi daripada tetal anyaman plat. Pada waktu menenun benang-benangnya tidak begitu banyak menderita gesekan jika dibandingkan dengan benang-benang pada anyaman plat. Contoh anyaman keper :

Anyaman keper kanan lusi

Anyaman keper kiri pakan

Nama lain dari anyaman keper :

a.

Twill (U.S.A)

b. Drill (Inggris) c. Koper (Jerman) Ciri-ciri/karakteristik anyaman keper: 1. Anyaman keper adalah anyaman dasar yang kedua.

2. Pada permukaan kain terlihat garis miring atau rips miring yang tidak putus-putus. 3. Jika arah garis miring berjalan dari kanan bawah ke kiri atas disebut keper kiri. Jika arah garis miring berjalan dari kiri bawah ke kanan atas disebut keper kanan. 4. Garis miring yang dibentuk oleh benang lusi disebut efek lusi atau keper lusi sedangkan garis miring yang dibentuk benang pakan disebut keper efek pakan atau keper pakan. 5. Garis miring membentuk sudut 45o terhadap garis horizontal. 6. Apperance kain pada permukaan atas dan bawah berbeda. 7. Jika rapot terkecil dari anyaman keper = 3 helai lusi dan 3 helai pakan, disebut keper 3 gun. 8. Anyaman keper diberi nama sesuai dengan banyaknya gun minimum. 9. Biasanya dibuat dalam konstruksi padat. 10. Dalam kondisi yang sama, kekuatan kain dengan anyaman polos lebih besar daripada kekuatan kain dengan anyaman keper. 11. Pada umumnya tetal benang dibuat lebih tinggi daripada anyaman polos. 12. Pengaruh arah twist benang sangat besar terhadap kenampakan garis miring. 13. Besarnya sudut garis miring dipengaruhi oleh perbandingan tetal lusi dan tetal pakan. 14. Garis miring dengan sudut 45o disebut keper curam (steep twill). Anyaman keper yang mempunyai rapot anyaman paling kecil adalah keper 3 gun, dengan rumus
2 1 /1 atau /1. Anyaman dasar 2 1

keper hanya memiliki dua buah silangan. Didalam rumus selalu terdapat angka 1. Jika angka 1 berada diatas garis, maka anyamannya adalah keper pakan, bila angka 1 berada dibawah garis, maka anyamannya adalah keper lusi, karena float lusinya yang panjang berada diatas benang pakan.

Banyaknya gun minimum = jumlah float lusi dan float pakan. Jadi keper
1 /1, jumlah gun minimum = 2 + 1 = 3 buah. Nama teknis dari 2

anyaman dasar keper, masing-masing dibedakan dengan menyebutkan jumlah gun minimum, misalnya: a. Keper lusi 4 gun b. Keper lusi 7 gun c. Keper pakan 5 gun d. Keper pakan 6 gun e. Dan lainnya.

3. Kain Satin Anyaman satin yang sederhana diperoleh dengan menggunakan benang-benang yang berefek panjang. Tergantung dari benang apakah yang berefek panjang itu, maka satein dibagi menjadi dua macam, yaitu satein lusi, bila pada kain itu terlihat banyak efek lusi dan satein pakan, bila pada kain itu terdapat banyak efek pakan. Efek-efek benang itu sama panjang dan sama dengan jumlah gun yang dipakai dikurangi satu, jadi panjangnya efek lusi dari satein lusi 5 gun sama dengan 4. Dari satein lusi 6 gun = 5; dari satein 7 gun = 6,dst. Panjangnya efek pakan dari satein pakan hanya satu. Untuk mudahnya kita sebut titik silang. Titik-silang-titik-silang itu ditaburkan di sana sini teratur. Menggambar anyaman satein pakan biasanya kita mulai dengan mengisi 1 segi yang ada disudut kiri bawah sebagai titiksilangan pertama titik silang berikutnya yang ada pada benang lusi kedua diloncatkan ke atas menuru angka loncat yang tertentu. Begitu pula pada benang lusi ke 3 meloncat dengan angka loncat yang sama.angka loncat itu menyatakan berapa benang pakan yang harus dilampaui oleh titik silang pada lusi ke 2 dihitung dari titik silang pertama, titik silang ke 3 dari titiksilang ke 2 dan seterusnya. Angka loncat itu harus menurut ketentuan-ketentuan seperti berikut:

a. Angka loncat tidak boleh satu b. Angka loncat tidak boleh sama dengan jumlah gun dikurangi 1 c. Angka loncat tidak boleh pembagi persekutuan dengan jumlah gun (tidak teranyam). Sebagai contoh dari satein pakan 8 gun. Angka delapan ini terbagi atas 2 golongan angkaloncat: 17 26 35 44 Angka 1 tidak dapat dipakai karena melanggar a. Angka 7 tidak dapat dipakai karena melanggar b. Angka 2 dan 6 tidak dapat dipakai karena melanggar c. Angka 3 dan 5 dapat dipakai. Angka 4 tidak dapat dipakai karena melanggar c. Nama-nama lain : a. Sateen, istilah umum untuk kain katun dalam anyaman satin 5 gun atau 8 gun. Biasanya satin pakan b. Satinet, istilah yang dipakai untuk kain imitasi sutera, misalnya kain katun yang dimercerisir. c. Satin, istilah yang umum dipakai pada kain satin yang dibuat dari sutera filament atau benang sintetis filament. d. Satinettes, dibuat dari benang lusi kapas dan benang pakan wol e. Satin de chine, dibuat dari benang sutra alam dengan tetal sedang. Belakagn ini dibuat dari benang rayon. Anyaman satin memiliki ciri-ciri dan karakteristik sebagai berikut : 1. Pada 1 rapot anyaman, banyak benang lusi sama dengan banyak benang pakan. 2. Anyaman satin hanya menonjolkan salah satu efek pada permukaan kain, yaitu efek lusi atau efek pakan.

3. Anyaman satin dengan efek lusi disebut satin lusi, sedangkan anyaman satin dengan efek pakan disebut satin pakan. 4. Pada satin lusi, tetal lusi > tetal pakan, sedangkan pada satin pakan tetal pakan > tetal lusi. 5. Pada kain dengan anyaman satin, suatu garis seperti pada anyaman keper tidak tanpak jelas atau menonjol. 6. Pada umumnya digunakan tetal tinggi pada lusi atau pakan, sehingga kainnya tampak padat (solid). 7. Tetal yang tinggi dan penggunaan benang yang arah twistnya bersamaan dengan arah garis miring pada anyaman satin, maka permukaan kain akan tampak smooth, rata, mengkilat dan padat. 8. Banyaknya gun minimun sama dengan jumlah benang lusi/pakan dalam 1 rapot anyaman. 9. Anyaman satin dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu satin teratur dan satin tidak teratur. 10. Anyaman satin digunakan pada semua jenis kain, tetapi tidak baik untuk kain dengan kontruksi terbuka atau jarang. 11. Anyaman kain satin lebih sesuai daripada anyaman keper untuk kain dengan kontruksi padat. 12. Pada anyaman satin, kombinasi dari faktor-faktor konstruksi kain lebih sedikit digunakan daripada dalam anyaman keper. 13. Titik-titik silang pada anyaman satin letaknya tersebar tidak bersinggungan satu sama lain. 14. Setiap benang lusi dalam satu rapot hanya mempunyai satu titik silang. Contoh anyaman satin:

Anyaman satin lusi 5gun

10

4. Anyaman Cele Apabila benang lusi dan benang pakan suatu anyaman kain digunakan anyaman kain yang menggunakan warna dua macam atau lebih, maka permukaan kain akan nampak pola warna bergantung dari anyaman yang digunakan dan susunan warna pada benang lusi atau pakan. Disini anyaman cenderung merusak kontinuitas warna lusi atau pakan. Sedangkan warna lusi atau pakan akan tampak dipermukaan kain ditentukan oleh efek lusi atau efek pakan. Anyaman ini hampir sama atau bahkan sama dengan anyaman polos, yang membedakannya hanya motif yang terdapat pada kain yang berasal dari benang yang berwarna-warni. Penyilangan yang terjadi antara benang lusi dan pakan dilakukan secara bergantian (selang-seling ~ Bekerjanya benang-benang lusi dan pakan paling sederhana, yaitu: 1-naik, 1-turun). Anyaman ini juga Mempunyai rapot yang paling kecil hampir sama dengan anyaman polos, selain itu anyaman ini memiliki silangan yang paling banyak dan paling kokoh serta tidak mudah berubah tempat. Beberapa hal yang diperlukan dalam pembuatan selembar kain (dekomposisi kain pada anyaman cel) yang digunakan untuk membantu kelancaran percobaan, dapat dilakukan dengan melihat ciriciri dan karakteristik dari anyaman cel tersebut yang sifat dan karakteristiknya sama dengan anyaman polos, yaitu: - Ulangan rapot ke arah horisontal (lebar kain) atau kearah pakan, diulangi sesudah 2 helai pakan. Ke arah vertical (panjang kain) atau ke arah lusi, diulangi sesudah 2 helai lusi. - Tetal lusi dan tetal pakan pada anyaman cel mempunyai perpencaran (range) yang besar, yaitu berkisar antara 10-200 helai/inchi. Demikian pula dengan perpencaran berat kain pada anyaman cel yang besar, yaitu berkisar antara 0,25 oz/yds 2-52 oz/yds2. - Anyaman cel lebih sesuai/mampu untuk diberi rupa (appearance) yang lain dengan jalan mengadakan ubah-ubah design, baik

11

structural design maupun surface design apabila dibandingkan dengan anyaman lain. - Pada umumnya kain dengan anyaman cel, daya penutupan kainnya (fabric cover) berkisar antara 25% - 75%. - Banyak gun yang digunakkan pada saat pertenunan minimum 2 gun, tetapi untuk tetal lusi yang tinggi, maka digunakkan 4 gun atau lebih. - Anyaman cel banyak dipakai untuk kain dengan kontruksi medium, dengan fabric cover 51%-75%. Penutupan lusi dan pakan berkisar 31%-50%. Jenis kain ini misalnya : kain yang diprint, sheetings, dll. - Anyaman cel untuk kain padat (close construction), biasanya menggunakan benang pakan yang lebih kasar daripada benang lusi. Dari pernyataan diatas, maka dapat dikatakan bahwa anyaman cel adalah anyaman yang memiliki raport terkecil, sama dengan anyaman polos, yang terdiri dari satu kali lusi naik dan satu kali lusi turun pada jajaran lusi pertama dan sebaliknya pada jajaran lusi berikutnya.

III.

Alat dan Bahan Alat-alat yang diperlukan.terdiri dari : Lup Gunting jarum pentul alat tulis neraca analitik

Bahan yang digunakan, terdiri dari : Kain dengan berbagai anyaman.

IV.

Cara kerja dan perhitungan 1. Menentukan arah lusi dan arah pakan. (arah lusi diberi tanda panah). 2. Menghitung tetal lusi dan tetal pakan pada 5 lima tempat yang berbeda, dan mencari harga rata-ratanya.

12

3. Kain contoh dipotong l0 x l0 cm, lalu ditimbang. 4. Benang lusi dan pakan diambil dari sisi yang berbeda, masingmasing 5 helai. Lusi l0 helai, pakan l0 helai. 5. Benang lusi dan benang pakan hasil cara kerja No 4, ditimbang. 6. Menghitung mengkeret lusi dan pakan. - panjang benang lusi/pakan dari kain contoh = - panjang benang lusi/pakan setelah diluruskan - Mengkeret benang : M =
b1 b2 100 % b1

Pk = Pb

7. Menghitun No benang lusi dan pakan. a. Panjang l0 lusi setelah diluruskan .m Berat l0 lusi Nm = = mg = .g = cm =

panjang (meter ) 1000 ; Nel = 0,59 x Nm ; Tex = berat ( gram) Nm

; Td

9000 Nm

b. Perhitungan untuk benang pakan sama dengan perhitungan untuk benang lusi. 8. Menghitung berat kain/m2 a. dengan penimbangan : berat kain / m2 =
100 cm x 100 cm x Berat 10X10 = Bk 10 cm x 10 cm

b. Berat Perhitungan : Untuk Benang Lusi (B1):


Berat lusi Tetal (helai/cm) 100 cm 100 100 100 Nm 100 - cl
Tetal (helai/cm) 100 cm 100 100 100 Nm 100 - cp

Untuk Benang Pakan (B2)


Berat pakan

Berat kain / m2 = B1 + B2 = Bb c. Menghitung selisih berat :

13

Selisih Berat =

BB BK 100% BB

9. Gambarkan anyaman dan rencana tenun.

V. Data Percobaan 1. Anyaman Polos Panjang Kain Lebar Kain Berat Kain : 100 cm 10 cm : 100 cm 10 cm : 0,92 gr

Jenis Anyaman : Polos Lusi 1. Tetal No. 1. 2. 3. X Helai/inchi 96 94 95 285 95

Tetal

95 37 helai/cm 2,54

2. Panjang 10 Helai Benang No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Panjang (cm) 10,1 10,1 10,1 10,2 10,2 10,2 10,1 10,1

14

9. 10. N(m) X

10,1 10,1 101,3 1,013 10,13

3. Berat 10 helai Benang = 17,5 mg = 0,0175 g 4. Mengkeret


b1 b2 10 ,13 10 100 % 1,18 % 100 % = b1 10 ,13

5. No. Benang (Nm)

panjang(me ter) 1,013 m 57,88 berat(gram) 0,0175

6. No. Inggris (Ne1) = Nm x 0,59 = 57,88 x 0,59 = 34,15 7. Tex= 8. Td

1000 1000 17 ,27 Nm 57,88 9000 9000 155,49 Nm 57,88

Pakan 1. Tetal No. 1. 2. 3. X Helai/inchi 53 54 53 160 43,33

Tetal

43,33 20 ,1 helai/cm 2,54

15

2. Panjang 10Helai Benang No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. N(m) X Panjang (cm) 10,1 10,1 10,1 10,1 10,1 10,1 10,1 10,1 10,2 10,2 101,1 1,012 10,12

3. Berat 10 helai Benang = 19 mg = 0,019 g 4. Mengkeret


b1 b2 10,12 10 100 % 1,28 % 100 % = b1 10,12

5. No. Benang (Nm) 6. No. Inggris (Ne1)

panjang(me ter) 1,012 m 58,26 berat(gram) 0,019

= Nm x 0,59 = 58,26 x 0,59 = 34,27

7. Tex= 8. Td

1000 1000 17 ,16 Nm 58 ,26


9000 9000 154,47 Nm 58,26

16

Berat Kain 1. Berat Penimbangan = =


100 cm x 100 cm x Berat 10X10 10 cm x 10 cm

100 cm x 100 cm x 0,92 g 10 cm x 10 cm

= 92 g/m2 2. Berat Perhitungan : a. Berat Lusi (B1) = =


Tetal (helai/cm) 100 cm 100 100 100 Nm 100 - cl

37 100 cm 100 100 100 57,88 100 - 1,28


Tetal (helai/cm) 100 cm 100 100 100 Nm 100 - cp

= 64,75 g b. Berat Pakan (B2) =

20,1 100 cm 100 100 100 58,26 100 - 1,18

= 34,91 g c. Berat kain / m2 = B1 + B2 = 64,75 + 34,91 = 99.66 g

3. Selisih Berat (%)

BB BK 100% BB

99,66 92 100% 99,66

= 7,68%

Bentuk Anyaman Polos

17

2. Anyaman Keper
Panjang Kain Lebar Kain Berat Kain : 100 cm 10 cm : 100 cm 10 cm : 1,10 gr

Jenis Anyaman : Keper

Lusi 1. Tetal No. 1. 2. 3. X Helai/cm 29 29 29 87 97,5

2. Panjang 10Helai Benang No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. N(m) X Panjang (cm) 10,6 10,6 10,6 10,7 10,6 10,7 10,7 10,7 10,7 10,7 106,6 1,066 10,66

18

3. Berat 10 helai Benang = 21,5 mg = 0,0215 g 4. Mengkeret


b1 b2 10,66 10 100 % 6,1913 % 100 % = b1 10,66

5. No. Benang (Nm)

panjang(me ter) 1,066 m 49,58 berat(gram) 0,0215

6. No. Inggris (Ne1) = Nm x 0,59 = 49,58 x 0,59 = 29,25 7. Tex= 8. Td Pakan 1. Tetal No. 1. 2. 3. X Helai/cm 28 28 28 84 28

1000 1000 29 ,25 Nm 49,58


9000 9000 181,52 Nm 49,58

2. Panjang 10Helai Benang No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Panjang (cm) 10,2 10,2 10,2 10,2 10,3 10,2 10,2 10,2

19

9. 10. N(m) X

10,2 10,2 102,1 1,021 10,21

3. Berat 10 helai Benang = 19,5 mg = 0,0195 g 4. Mengkeret


b1 b2 10 ,21 10 100 % 2,0568 % 100 % = b1 10 ,21

5. No. Benang (Nm) 6. No. Inggris (Ne1)

panjang(me ter) 1,021 m 52,35 berat(gram) 0,0195 g

= Nm x 0,59 = 52,35 x 0,59 = 30,88

7. Tex= 8. Td

1000 1000 19 ,10 Nm 52,35


9000 9000 171,92 Nm 52,35

Berat Kain 4. Berat Penimbangan = =


100 cm x 100 cm x Berat 10X10 10 cm x 10 cm

100 cm x 100 cm x 1,10 g 10 cm x 10 cm

= 100 g/m2 5. Berat Perhitungan : a. Berat Lusi (B1) = =


Tetal (helai/cm) 100 cm 100 100 100 Nm 100 - cl

29 100 cm 100 100 100 49,58 100 - 6,1913


Tetal (helai/cm) 100 cm 100 100 100 Nm 100 - cp

= 62,3517 b. Berat Pakan (B2) =

20

28 100 cm 100 100 100 52,35 100 - 2,0568

= 54,6093 c. Berat kain / m g


BB BK 100% BB
2

= B1 + B2 = 62,3517+ 54,6093= 116,9610

6. Selisih Berat (%)

116,9610 110 100% 116,9610

= 5,95% Bentuk Anyaman Keper


2 /1 2

3. Anyaman Satein Panjang Kain Lebar Kain Berat Kain : 100 cm 10 cm : 100 cm 10 cm : 1,12 gr

Jenis Anyaman : Satein

Lusi 1. Tetal No. 1. 2. 3. Helai/cm 26 28 27

21

81 27

2. Panjang 10Helai Benang No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. N(m) X Panjang (cm) 10,2 10,3 10,2 10,3 10,3 10,2 10,1 10,2 10,3 10,2 102,3 1,023 10,23

3. Berat 10 helai Benang = 8 mg = 8.10-3 g 4. Mengkeret


b1 b2 10 ,23 10 100 % 2,2482 % 100 % = b1 10 ,23

5. No. Benang (Nm) 6. No. Inggris (Ne1)

panjang(me ter) 1,023 m 127,87 berat(gram ) 8.10 -3

= Nm x 0,59 = 127,87 x 0,59 = 44,51

7. Tex= 8. Td

1000 1000 7,82 Nm 127,87 9000 9000 70,38 Nm 127,87

22

Pakan 1. Tetal No. 1. 2. 3. X Helai/inchi 44 46 47 137 45,66

2. Panjang 10Helai Benang No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. N(m) X Panjang (cm) 10,3 10,3 10,2 10,1 10,1 10,1 10,1 10,2 10,2 10,2 101,8 1,018 10,18

3. Berat 10 helai Benang = 17,5 mg = 0,0175 g 4. Mengkeret


b1 b2 10 ,18 10 100 % 1,7681 % 100 % = b1 10 ,18

5. No. Benang (Nm) 6. No. Inggris (Ne1)

panjang(me ter) 1,018 m 58,171 berat(gram) 0,0175 g

= Nm x 0,59

23

= 58,171 x 0,59 = 34,3108 7. Tex= 8. Td

1000 1000 17 ,1906 Nm 58,171

9000 9000 154,7162 Nm 58,171

Berat Kain 7. Berat Penimbangan = =


100 cm x 100 cm x Berat 10X10 10 cm x 10 cm

100 cm x 100 cm x 0,92 g 10 cm x 10 cm

= 95 g/m2 8. Berat Perhitungan : a. Berat Lusi (B1) = =


Tetal (helai/cm) 100 cm 100 100 100 Nm 100 - cl

27 100 cm 100 100 100 127,87 100 - 2,2482


Tetal (helai/cm) 100 cm 100 100 100 Nm 100 - cp

= 21,6 b. Berat Pakan (B2) =

45,66 100 cm 100 100 100 58,171 100 - 1,8781

= 79,83 c. Berat kain / m 9. Selisih Berat (%) =


2

= B1 + B2 = 21,6 + 79,83= 101,43 g =


BB BK 100% BB

101,43 - 95 100% 101,43

= 5,82%

24

Bentuk Anyaman Satein 5 gun V 2

4. Anyaman Polos (Cele) Nama Kain Panjang Kain Lebar Kain Berat Kain : Cele : 100 cm 10 cm : 100 cm 10 cm : 1,50 gr

Jenis Anyaman : Polos

1. Susunan warna lusi 1 rapot Lusi Hitam : 2 Putih :3

Hitam : 2 Putih :3

Hitam : 2 Putih Biru :3 : 10

Hitam : 2 Biru Putih : 10 :3

Total : 40 helai/rapot

2. Susunan warna pakan 1 rapot

25

Pakan Putih Hitam Putih Hitam Putih Biru :4 :2 :4 :2 :4 : 10 Hitam Biru : 10 : 2

Total=38 helai/rapot

3. Tetal Lusi/inchi No. 1. 2. 3. X Helai/inchi 69 70 70 209 96,67

Tetal

69,67 27 ,42 helai/cm 2,54

Pakan/inchi No. 1. 2. 3. X Helai/inchi 56 56 56 168 56

Tetal

56 22 ,04 helai/cm 2,54

26

4. Jml benang lusi/m = 100 x tetal lusi/cm = 2742 5. Jml benang pakan/m = 2204 6. Jml rapot lusi/m 7. Jml rapot pakan/m =
lusi/m 2742 62 rapot sisa hl/rapot lusi 40

= 100 x tetal pakan/cm

pakan/m 2204 58 rapot hl/rapot lusi 38

8. Sisa Benang Lusi = lusi/m ( rapot lusi/m x hl/rapot) =2742 (40 x 68) =22 helai Pakan = pakan/m ( rapot pakan/m x hl/rapot) = 2204 (58 x 38) =0 9. Kebutuhan masing-masing warna Lusi Hitam Putih Biru = (8 x rapot L/m) + sisa = (8 x 70) + 6 = 566 = (12 x rapot L/m) + sisa = (12 x 70) + 9 = 849 = (20 x rapot L/m) + sisa = (20x 70) + 7 = 1407 Total Pakan Hitam Putih Biru = (6 x rapot L/m) + sisa = (6 x 58) + 0 = 566 = (12 x rapot L/m) + sisa = (12 x 58 +0 = 849 = (20 x rapot L/m) + sisa = (20x 58) + 0 = 1407 Total = 2204 = 2822

27

Lusi dan Pakan 10. Berat kain 10 x 10 11. Berat 10 helai benang Berat 10 helai benang pakan = 21,5 mg Berat 10 helaibenang lusi 12. Panjang benang 10 helai Panjang 10 helai benang pakan = 10,39 cm = 43 mg = 1,50 gr

Panjang 10 helai benang lusi = 10,48 cm 13. Mengkeret Lusi =


b1 b2 10,39 10 100 % 3,75 % 100 % = b1 10,39
b1 b2 10,48 10 100 % 4,58 % 100 % = b1 10,48

Pakan =

14. Nomor Benang Lusi

(Nm)
Pakan
(Nm)

panjang(me ter) 1,048 m 24,37 berat(gram) 0,043 g

panjang(me ter) 1,0475 m 83,8 berat(gram) 0,0125 g

Berat Kain/m2 =

100 cm x 100 cm x Berat 10X10 10 cm x 10 cm

100 cm x 100 cm x 1,50 10 cm x 10 cm

= 150 gr 15. Berat masing-masing warna Lusi 1. Hitam =


566 100 cm 100 100 100 49,47 100 - 3,75

=11,88 gr 2. Putih =
849 100 cm 100 100 100 49,47 100 - 3,75

28

= 17,83 gr 3. Biru =
1407 100 cm 100 100 100 49,47 100 - 3,75

= 29,54 gr Total = Hitam + Putih + Biru = 11,88+ 17,83 + 29,54 = 59,25 gr Pakan 1. Hitam =
348 100 cm 100 100 100 24,37 100 - 4,58

=14,96 gr 2. Putih =
696 100 cm 100 100 100 24,37 100 - 4,58

= 29,93 gr 3. Biru =
1160 100 cm 100 100 100 24,37 100 - 4,58

= 49,88 gr Total = Hitam + Putih + Biru = 14,96+29,93 +49,88 = 94,77 gr Berat Lusi + Pakan = 59,25 + 94,77

= 154,02 16. Selisih berat = Anyaman Polos


154,02 150 100% = 2,61% 154,02

29

VI.

DISKUSI 1. Sebelum kain contoh dipotong 10 x 10 cm sebisa mungkin kita menguraikan lusi dan pakannya sehingga mendekati ukuran 10 x 10 cm setelah itu diberi batasan dengan ukuran 10 x 10 cm dan kemudian pakan dan lusinya diurai sampai mendapatkan kain dengan ukuran 10 x 10 cm. Setelah itu sisa-sisa benang lusi dan pakan dipotong sesuai dengan ukuran kain. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kesalahan pemotongan kain contoh (kain contoh terlalu kecil, misalnya). Untuk mendapatkan hasil yang akurat,

pada pemotongan kain dilebihkan menjadi 10,5 x 10,5 cm, lalu kain ditiras sampai berukuran 10 x 10 Pada saat meluruskan benang usahakan agar benang benar-benar lurus (tidak ada yang mengkeriting) untuk mendapatkan hasil yang akurat. Dalam menimbang contoh uji sebaiknya didiamkan dulu beberapa saat hingga timbangan benar-benar diam (seimbang) sehingga hasil yang didapat lebih akurat. Penghitungan tetal benang (lusi/pakan) usahakan seteliti mungkin dan jangan sampai tertukar antara tetal lusi dan tetal pakan. Untuk mempermudah proses perhitungan tetal, kita dapat menguraikan benang lusi/pakan satu per satu (tentunya setelah diberi batasan 1 inch). Kesalahan terhadap perhitungan tetal, baik itu lusi ataupun pakan, akan berpengaruh pada selisih berat kain/m2 (antara hasil penimbangan dengan hasil perhitungan ) Untuk mengetahui bentuk anyaman kain dapat diketahui dengan menggunakan kaca pembesar (lup) atau dengan meniras satu persatu benang. Selisih antara berat penimbangan dengan berat perhitungan diusahakan kurang dari 5 %, apabila melebihi 5 % sebaiknya percobaan diulangi.

30

VII. KESIMPULAN A. Anyaman polos. 1. tetal lusi rata-rata = 95 helai/ inchi = 37 helai / cm = 53,33 helai/ inchi =

2. tetal pakan rata-rata 20,1 helai / cm 3. mengkeret lusi. 4. mengkeret pakan 5. nomor benang lusi - Nm - Ne - Tex - Td = 57,88 = 34, 1492 = 17,27 = 155,49 = 1,28 % = 1,18 %

6. nomor pakan - Nm - Ne - Tex - Td = 58,26 = 34, 3724 = 17,16 = 154,47 = 7,68 %

7. selisih berat penimbangan dan perhitungan.

B. Anyaman keper. 1. tetal lusi rata-rata = 29 helai/cm = 28 helai/cm

2. tetal pakan rata-rata 3. mengkeret lusi. 4. mengkeret pakan 5. nomer lusi Nm Ne Tex Td = 49,58 = 29,25 = 20,17 = 181,52 = 6,1913% = 2,0568 %

6. nomer pakan Nm Ne = 52,35 = 30,88

31

Tex Td

= 19,10 = 171,92 = 5,95 %

7. selisih berat penimbangan dan perhitungan

C. Anyaman satin. 1. tetal lusi rata-rata = 27 helai/cm

2. tetal pakan rata-rata = 45,66 helai/cm 3. mengkeret lusi. 4. mengkeret pakan 5. nomer lusi Nm Ne Tex Td = 127,88 = 44,51 = 7,82 = 70,38 = 2,2482% = 1,7681%

6. nomer pakan Nm Ne Tex Td = 58,171 = 34,3208 = 17,1906 = 154,7162

7. selisih berat penimbangan dan perhitungan = 5,82 %

D. Anyaman Polos Kain Cele 1. tetal lusi rata-rata / cm 2. tetal pakan rata-rata = 56 helai/ inchi = 22,04 helai / cm 3. mengkeret lusi. 4. mengkeret pakan 5. nomor lusi - Nm = 49,47 = 3,75 % = 4,58 % = 69,67 helai/ inchi = 27,42 helai

6. nomor pakan - Nm = 24,37 = 2,61 %

7. selisih berat penimbangan dan perhitungan.

32

VIII.

Daftar Pustaka

Jumaeri. 1970. Diktat Textile Design. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. Soekarso, R.. 1974. Pengantar Ilmu Anyaman Tekstil. Bandung: Tarate Bandung

33

Anda mungkin juga menyukai