Anda di halaman 1dari 90

Abrasi adalah ausnya jaringan gigi akibat proses mekanik, misalnya karena pemakaian pasta gigi yan abrasif

atau sikat gigi yang keras. Abrasi gigi biasanya mengenai bagian serviks gigi sebelah bukal, gigi anterior maupun posterior.

Gambaran klinis abrasi: a. Biasanya terdapat pada daerah servikal gigi. b. Lesi cenderung melebar daripada dalam. c. Gigi yang sering terkena P dan C.

Abfraksi merupakan kerusakan permukaan gigi pada daerah servikal akibat tekanan tensile dan kompresif selama gigi mengalami flexure atau melengkung.

Gambaran klinis abfraksi: a. Kelainan ditemukan pada daerah servikal labial/bukal gigi. b. Berupa parit yang dalam dan sempit berbentuk huruf V c. Pada umumnya hanya terjadi pada satu gigi yang mengalami tekanan eksentrik pada oklusal yang berlebihan atau adanya halangan yang mengganggu oklusi.

Atrisi merupakan kerusakan pada permukaan oklusal gigi atau restorasi akibat kontak antar gigi selama pengunyahan atau karena adanya parafungsi/kelainan fungsi, seperti bruksism.

Gambaran klinis atrisi, sebagai berikut: a. Kerusakan yang terjadi sesuai dengan permukaan gigi yang berkontak saat pemakaian. b. Permukaan enamel yang rata dengan dentin. c. Kemungkinan terjadinya fraktur pada tonjol gigi atau

1.1. Latar Belakang Winda berumur 18 tahun datang ke praktik sore dokter gigi di antar kakanya Talia, dengan keluhan gigi-giginya cacat pada permukaannya, tampk tidak rata dengan warna sedikit kecoklatan pada beberapa gigi depannya. Gigi depan pasien tampak berjejal, dan ada juga yang berlubang. Winda juga mengeluh gigi kanan atasnya terasa tajam dekat gusi. Pada pemeriksaan intra oral gigingivanya terlihat adanya pigmentasi dan plak. Air liurnya sedikit sehingga pasien merasa mulutnya dan bibirnya kering. Winda ingin menanyakan ke dokter giginya apakah giginya bisa menjadi normal lagi. Sedangkan Talia mengeluhkan gigi kanan bawahnya tidak berlubang tapi terasa ngilu.

1.2. Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan macam-macam kelainan jaringan keras gigi 2. Menjelaskan etiologi berbagai macam kelainan jaringan keras gigi 3. Menjelaskan diagnosis (pemeriksaan penunjang serta interpretasinya), prognosis, dan rencana perawatan dari berbagai macam kelainan jaringan keras gigi 4. Menjelaskan gambaran radiografis berserta interpretasinya dari berbagai macam kelainan jaringan keras gigi 5. Menjelaskan bahan tumpatan sementara dan bahan restorasi plastis yang sesuai dengan indikasi 6. Menjelaskan rasa nyeri pulpa dentinal kompleks akibat kelainan jaringan keras gigi

BAB II PEMBAHASAN

I.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI BERDASARKAN JUMLAH GIGI

Kelainan jumlah gigi ini merupakan suatu kelainan yang terjadi pada tahap perkembangan dan pertumbuhan gigi. Kelainan ini menyebabkan abnormalnya oklusi dan bentuk lengkung gigi. Kelainan tersebut antara lain adalah sebagai berikut. 1. Hyperdontia Etiologi Kelainan ini merupakan hasil pertumbuhan dental lamina yang berlebih namun teratur akibat penyebab yang belum diketahui, namun lebih cenderung akibat familial atau keturunan yang bersifat autosomal resesif. Biasanya gigi tambahan berbentuk conical (supernumerary teeth) dan jarang sekali berbentuk seperti gigi normal (supplemental teeth). Hyperdontia terjadi pada penderita sindrom cleidocrania dysplasia, yaitu banyaknya gigi tambahan yang berkembang namun gagal erupsi. Hyperdontia ini dapat terjadi di antara central incisor maxila (mesiodens), pada area molar (parateeth), bagian distal molar 3 (distodenso/distomolar), dan sisi buccal atau lingual pada rahang (peridens). Hyperdontia juga terjadi pada beberapa pasien yang menderita berbagai syndrome, seperti cleidocranial dysplasia dan Gardners syndrome. Gambaran Klinis Hyperdontia dialami sekitar 1-4% pada suatu populasi. Kelainan ini dapat terjadi pada kedua masa dentition, namun lebih cenderung permanen. Risiko kelainan ini lebih besar terjadi pada pria, bangsa Asia dan Amerika. Gigi-gigi tambahan ini biasanya tidak erupsi, tetapi terlihat pada radiograf. Gambaran Radiografis
White SC, Pharoah MJ. Oral Radiology Principles and Interpretation. 5th ed. St. Louis. Mosby. 2004

Prognosis dan Pengendalian Pengendalian hyperdontia bergantung pada beberapa faktor, meliputi efek potensial dari gigi tambahan tersebut untuk erupsi normal, posisi dan jumlahnya, dan komplikasi setelah dilakukan intervensi surgical. Hal tersebut dapat menyebabkan resorption akar atau perubahan urutan erupsi. Folikel dari gigi tambahan yang tidak erupsi dapat berkembang menjadi dentigerous cysts. Oleh karena itu, tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan ekstraksi gigi tambahan tersebut. Faktor-faktor tersebut di ataslah yang menentukan diperlukan atau tidaknya ekstraksi atau tetap dalam observasi.

2. Hypodontia / Anodontia Etiologi Anodontia ini dapat berupa hilangnya satu atau beberapa gigi (hypadontia), hilangnya banyak gigi (oligodontia), dan gagalnya semua gigi untuk berkembang (anodontia). Gigi yang hilang merupakan akibat dari beberapa mekanisme patologis yang berdampak pada urutan formasi dental lamina (contoh: orofaciodigital syndrome), gagalnya benih gigi untuk berkembang, kurangnya ruang akibat rahang yang malformed, dan kelainan genetik mengenai disproporsi antara jumlah gigi dan bentuk rahang. Gambaran Klinis Hypodontia terjadi pada dentition permanen, kecuali molar 3, terjadi sekitar 3-10% dari populasi. Hypodontia banyak ditemukan juga pada bangsa Asia dan Amerika. Gigi yang biasanya hilang adalah molar 3, premolar 2, central incisive maxila dan mandibula. Anodontia atau oligodontia sering terjadi pada pasien dengan ectodermal dysplasia. Hal tersebut merupakan akibat dari hilangnya kurang lebih dua struktur ectodermal, seperti kelenjar keringat, rambut, kulit, kuku, dan gigi. Gambaran radiografik Prognosis dan Pengendalian Hilangnya gigi, maloklusi, atau kelainan tampak fasial dapat menyebabkan gangguan psikologis pada pasien. Apabila hypodontia yang terjadi pada level sedang, maka perubahan yang diharapkan dapat dilakukan dengan perawatan orthodonti. Pada beberapa kasus, tindakan restorasi, implant, dan prosedur prostotik dapat dilakukan.

II.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI BERDASARKAN BENTUK

1. Makrodontia Definisi Makrodonsia merupakan keadaan dimana gigi memiliki ukuran lebih besar dari normal. Sedangkan, makrodontia relative adalah keadaan dimana gigi normal tumbuh pada rahang yang

ukurannya kecil. Makrodontia jarang menyerang seluruh gigi, biasanya hanya satu atau beberapa gigi saja.

Gambaran klinis Tanda klinis makrodontia adalah gigi tampak lebih besar dari normal dan mengalami perubahan bentuk. Makrodontia juga dapat berkaitan dengan crowding, impaksi dan malkoklusi.

Gambaran radiografis

Penanganan Sebagian banyak kasus makrodontia tidak perlu penangangan khusus, kecuali apabila makrodontia telah menggangu fungsi oklusi, perlu adanya perawatan orthodontik.

2. Mikrodontia Definisi Mikrodontia adalah keadaan dimana ukuran gigi lebih kecil daripada normal. Mikrodontia jarang terjadi pada seluruh gigi kecuali pada dwarfism, biasanya hanya menyerang beberapa gigi. Supranumerary teeth biasanya merupakan gigi mikrodontia.

Gambaran klinis Ukuran lebih kecil dari normal dan biasanya memiliki perubahan bentuk. Salah satu contoh perubahan bentuk adalah pada gigi molar yang memiliki 5 cusp, apabila mikrodontia hanya memiliki 4 cusp.

Gambaran radiografis

Penanganan Mikrodontia bisa diatasi dengan penanganan restorative atau prostodontik melalui pembuatan protesa. Penanganan ini dilakukan khususmya apabila bertujuan untuk memperbaiki estetika pada gigi anterior.

III.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI BERDASARKAN MORFOLOGI

1. Odontoma Merupakan tumor odontogenik yang terbentuk akibat abnormalitas proliferasi (tahap bud) dari sel-sel enamel organ. Odontoma harus segera dihilangkan (operasi) sebelum hal tersebut dapat mengganggu proses erupsi gigi di area tempat odontoma berada. Keberadaan odontoma biasanya disertai dengan dysphagia, disebut dengan sindrom odontoma-dysphagia (hipertrofi otot polos esophagus).

2. Fusi Fusi adalah penyatuan antara dua gigi dari dua benih yang berbeda dan berkembang secara terpisah yang disebabkan oleh trauma, baik pada gigi sulung maupun permanen. Kelainan fusi hampir selalu hanya terjadi pada gigi anterior. Fusi juga bisa terjadi pada kasus gigi supernumerary. Dari gambaran radiografi, dapat terlihat bahwa kedalaman fusi hanya terjadi sebatas crown dan roots, sehingga gigi-gigi yang berfusi tetap memiliki pulp chamber dan pulp canals yang terpisah. Panjang fusi bisa hanya sebatas crown dan bisa juga sepanjang gigi. Garis perfusian di crown gigi bisa menjadi tempat berkembangnya dental karies. Apabila terdapat gigi I1 maxilla tunggal pada gigi sulung ataupun permanen, pada awalnya akan terlihat sebagai kelainan fusi. Namun apabila I1 maxila tunggal tersebut berada persis di tengah midline dan simetris bentuk dan ukuran mahkota hingga akarnya, kemungkinan besar kasus ini termasuk ke dalam sundrom solitary median I1 maxila. Kondisi ini bisa menjadi indikasi anomali/kelainan lain pada perkembangan midline otak dan struktur lainnya yang disebabkan oleh mutasi pada gen SHH (sonic hedgehoh), SIX3, dll. 3. Geminasi Geminasi menampilkan gigi-gigi yang terbentuk dari satu benih dan berusaha untuk terpisah namun pada akhirnya tidak terpisah sepenuhnya. Secara klinis, kelainan geminasi akan telihat dua crown dengan satu akar. Crown dari gigi-gigi tergeminasi akan tampak lebih lebar dari ukuran normal dengan groove dangkal dan memanjang dari insisal edge hingga region servikal

gigi anterior. Gambaran radiografi dari geminasi akan memperlihatkan perubahan bentuk jaringan keras dan ruang pulpa. Ruang pulpa akan terlihat besar dan terbelah sebagian. Berikut ini klasifikasi geminasi menurut Aquilo L et al : Tipe I Crown bifid, akar satu Tipe II Crown besar, akar satu Tipe III Dua crown berfusi, akar satu Tipe IV Dua crown berfusi, dua akar berfusi

Apabila dalam kasus geminasi terdapat dentin yang terekspos, maka perlu dilakukan preparasi. Formasi dentin sekunder dan resesi pulpa akan mengikuti judicial periodic reduction dari ukuran crown. Apabila gigi yang mengalami geminasi berukuran besar dan malformasi, kemungkinan diperlukan pemusnahan gigi, perawatan saluran akar yang dilanjutkan dengan pembuatan postcrown.

4. Dens Invaginatus / Dens in Dente Dens in dente adalah kasus dimana terdapat gigi di dalam gigi. Kasus ini bisa di diagnosis dengan gambaran radiografi. Dens in dente bisa terjadi pada gigi sulung dan permanen, serta paling sering terjadi pada gigi I2 maxila. Kelainan ini di deskripsikan dengan adanya invaginasi pada lingual enamel, maka kondisi dens in dente biasanya ditandai dengan adanya pit yang dalam pada lingual I2 maxila. Gigi dengan kelainan dens in dente umumnya memiliki bentuk dan ukuran yang normal, namun bisa juga terlihat adanya kelainan pada penampakannya. Berdasarkan lokasinya, dens in dente dapat diklasifikasikan menjadi : a. Coronal terbentuk dengan melibatkan enamel organ-dental papila b. Radicular terbentuk dengan invaginasi HERS Perawatan yang dianjurkan dalam mengatasi dens in dente ini adalah pemakaian sealant atau restorasi pada area terbuka invaginasi. Hal ini dapat mencegah keterlibatan pulpa dalam kelainan ini. Untuk kasus dens in dente melibatkan pulpa, dapat dilakukan perawatan endodontik. Apabila kelainan telah terdeteksi sebelum gigi erupsi sempurna, bisa dilakukan penghilangan jaringan gingiva untuk memfasilitasi preparasi kavitas dan restorasi. Gambaran radiografi dens in dente terlihat sebagai loop radiopaque berbentuk buah pir dengan densitas sama dengan densitas enamel menyerupai gigi di dalam gigi.

5. Dens evaginatus Dikenal dengan sebutan central tubercle atau Leongs premolar, bentuknya menyerupai cusp (cusp tambahan), terletak di sentral groove. Dens evaginatus terjadi akibat proliferasi dan evaginasi inner epitelium dan dental papilla di bawahnya ke enamel organ pada saat tahap awal perkembangan gigi. Keberadaan cusp tambahan ini dapat menyebabkan ketidakharmonisan oklusi, atrisi, fraktur yang dapat menimbulkan tereksposnya pulpa, dan bisa juga menimbulkan abses periapikal. Biasanya kelainan ini terjadi di premolar permanen mandibular. Menurut Leviten ME dan Himal VT tedapat beberapa tipe dens evaginatus untuk gigi posterior berdasarkan lokasinya : a. Perbesaran lingual cusp, menyerupai kerucut b. Tubercle pada area inklinasi lingual cusp c. Perbesaran buccal cusp, menyerupai kerucut d. Tubercle pada area inklinasi buccal cusp e. Tubercle di permukaan oklusal, melintang pada central groove

Gambaran radiografi dari dens evaginasi akan memperlihatkan dentin core yang terlapisi oleh enamel. Tindakan yang dianjurkan untuk menangani kelainan ini adalah grinding dan pulp capping. Namun, apabila kelainan sudah mempengaruhi pulpa, maka perlu dilakukan perawatan endodontik.

6. Concrescence Concresence adalah kelainan dimana terjadi fusi pada akar-akar gigi yang bersebelahan yang disebabkan oleh trauma atau overcrowding. Sering terjadi pada gigi M2 dan M3 maxila, serta pada gigi supernumerary. Perfusian yang terjadi menyebabkan sementum dari kedua gigi menyatu. Kelainan ini bisa terjadi sebelum atau setelah erupsi. Tindakan yang dianjurkan dalam menangani kelainan ini adalah ekstraksi atau surgical sectioning pada gigi yang berfusi. 7. Dilaceration Merupakan gangguan pada pembentukan gigi akibat trauma mekanis / herediter / kista / tumor di daerah yang telah terkalsifikasi pada gigi yang baru terbentuk sebagian, sehingga terdapat lengkungan atau lipatan tajam yang abnormal. Kelainan ini bisa terjadi pada area gigi manapun,

namun paling sering terjadi di akar. Dilacreation sering terjadi pada I maxilla permanen dan jarang terjadi pada gigi sulung. Apabila terjadi pada gigi sulung, gigi yang mengalami kelainan akan mengalami erupsi gigi permanen yang tertunda. Kelainan ini dapat didiagnosis dengan gambaran radiografi. Tindakan yang bisa dilakukan adalah perawatan saluran akar dan ekstraksi, namun keduanya akan sangat sulit. Dalam proses ekstraksi seringkali ditemukan kasus patahnya akar. Untuk mendiagnosis kelainan ini, diperlukan gambaran radiografi periapikal. Gambaran akan menampakan akar yang dilacerates di mesial atau di distal. 8. Talon cusp Talon cusp merupakan kelainan dimana terdapat cusp tambahan berbentuk V pada area lingual atau palatal gigi. Cusp tambahan yang terbentuk pada kelainan ini memiliki dentin normal, enamel, dan pulp horn. Talon cusp terbentuk akibat kompresi benih gigi I2 diantara I1 dan C dalam tahap morfodiferensiasi, sehingga menyebabkan outlanding dental lamina, yang kemudian menyebabkan talon cusp. Kelainan ini paling sering terjadi pada gigi permanen, terutama I2. Apablia pada gigi sulung, lebih sering terjadi di I1. Kelainan ini disebabkan oleh hiperplasia cingulum. Berikut ini adalah klasifikasi talon cusp menurut Ongle R dan Praveen BN : Tipe I (Talon mayor) Cusp terbentuk dengan. Ukurannya minimal setengah jarak CEJ-insisal edge. Tipe II (Talon minor) Margin cusp terbentuk baik. Ukurannya lebih dari tapi kurang dari CEJ-insisal edge Tipe III (Trace talon) Berupa cingulum yang membesar. Ukurannya kurang dari CEJinsisal edge

Kelainan talon cusp dapat menyebabkan interferensi oklusal, peningkatkan risiko karies, dan permasalahan estetika. Selain itu bisa didapati kesuitan bicara, iritasi lidah, dan penyakit periodontal. Talon cusp ini bisa dihilangkan dengan melakukan selective grinding secara periodic.

Gambaran radiografi dari talon cusp akan terlihat radiopaque dimana enamel, dentin, dan pulpa dapat terlihat. Walaupun begitu, pulp horn tidak dapat terlihat. Talon cusp juga akan terlihat superimposed dengan crown gigi inangnya.

9. Taurodontisme Turodontisme atau bull teeth adalah kelainan pembesaran gigi disertai dengan pembesaran ruang pulpa melebihi ukuran normal dan terdapat perpindahan apikal. Terjadi pada gigi multiakar (terutama M1) dan biasanya pada gigi permanen. Berikut ini adalah beberapa etiopatogenesis dari taurodontisme : a. Faktor retrograde b. Primitive Pattern c. Sifat resesif mandibular d. Atavisme e. Mutasi akibat defisiensi odontoblast saat dentinogenesis akar Gambaran radiografi pada taurodontisme akan menampilkan pulp chamber yang memanjang dan akar pendek.

10. Enamel pearl / Enameloma Merupakan sekumpulan kecil massa enamel (diameter 1-3mm) yang bisa muncul di area akar. Massa enamel tersebut bisa mengandung sedikit dentin dan pulpa. Kelainan ini biasanya terjadi pada gigi molar maxilla di area bifurkasi atau trifurkasi. Klasifikasi enamel pearl (Darwazeh dan Hamsha) : a. True enamel pearl Keseluruhannya enamel b. Composite enamel (enamel dentin) pearl Terdapat tubular dentin c. Enamel dentin pulp pearl Terdapat pulp horn Pada gambaran radiografi, enamel pearl akan terlihat halus, bulat, dan memiliki radiopacity yang sama dengan enamel yang melapisi crown. Enamel pearl pada CEJ harus dihilangkan, untuk menghindari kerusakan jaringan periodontal. Selain itu, penderita harus memperhatikan oral hygiene.

11. Supernumerary roots Merupakan kelainan dimana terdapat pertambahan jumlah akar yang disebabkan oleh gangguan pada epitel Hertwings akar di saat pembentukan gigi. Sering terjadi di M3, C manndibula, dan P. Kelainan ini bisa terjadi pada gigi sulung ataupun permanen.

12. Cusp of carabeli Merupakan kelainan berupa cusp asesori yang terletak di mesiopalatal M maxilla. Paling sering ditemukan pada M1 namun bisa juga ditemukan pada M lainnya. Cusp of carabelli bisa muncul pada gigi sulung ataupun permanen.

IV.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI NON KARIES

1. Abrasi Etiologi Abrasi adalah suatu keadaan reduksi gigi non-fisiologis yang diakibatkan karena masuknya material luar ke dalam rongga mulut dan berkontak dengan permukaan gigi. Beberapa material luar tersebut adalah : Makanan yang mengandung material kasar, berpasir, keras dan sebagainya yang terjadi pada saat mastikasi Teknik menggunakan Sikat gigi, dental floss yang salah dan penggunaan pasta gigi yang abrasif pada saat membersihkan gigi Kebiasaan buruk, misalnya menggigit pulpen, menahan pipa rokok dengan gigi Penggunaan tusuk gigi yang terlalu bertenaga pada gigi yang saling bersebelahan. Ataupun berbagai alat yang menggunakan kemampuan gigi yang untuk dapat berfungsi. Misalnya : membuka tutup botol, membuka jepit rambut dengan gigi. Pada orang yang berusia muda memiliki tingkat abrasi yang lebih sedikit karena kontak gigi dengan material luar tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang memiliki umur yang lebih tua. Gambaran mikroskopis :

Permukaan yang mengalami abrasi menunjukan adanya goresan, beberapa pit, dan tanda-tanda lainnya. Biasanya goresan tersebut tersusun parallel karena material abrasive tersebut hanya datang melalui satu arah saat melewati permukaan gigi. Panjang, kedalaman, dan lebar dari goresan tersebut tergantung daripada material abrasive tersebut.

Gambaran Klinis: Secara umum : o Biasanya terdapat di bagian servikal gigi bagian bukal o Lesi cenderung melebar daripada dalam o Gigi yang sering terkena adalah gigi P dan C Akibat teknik menggunakan sikat gigi yang salah o Merupakan tipe abrasi yang paling sering terjadi, biasanya karena gerakan sikat gigi yang salah dan tekanan yang terlalu besar o Membentuk groove berbentuk V antara mahkota dan gingival ke daerah servikal gigi. (wedged shaped) o Daerah abrasi yang biasanya paling parah terjadi di CEJ pada permukaan labial dan bukal (secara berurut) premolar, caninus, dan insisiv rahang atas. o Pada orang yang menggunakan tangan kanan, lesi biasanya lebih terlihat di sisi kiri, begitu pula sebaliknya. o Defek pada kamar pulpa jarang terjadi karena sudah terbentuk dentin sekunder. Akibat penggunaan dental floss yang salah o Biasanya berada di daerah servikal dari permukaan proksimal diatas gingival Gambaran radiografis : Gambaran permukaan gigi yang terkena abrasi tampak radiolusen terutama di bagian servikal gigi permukaan interproksimal. Pada gigi yang mengalami abrasi karena penggunaan dental floss yang salah, groove radiolucent lebih banyak terlihat di bagian mesial daripada distal, karena lebih mudah menambah tekanan kea rah depan daripada kearah belakang.

Rencana perawatan : Mengubah kebiasaan buruk yang menggunakan gigi untuk tujuan yang salah. Mengubah dan memperbaiki teknik menyikat gigi dan penggunaan dental floss yang baik. Jika, gigi sudah mengalam abrasi yang cukup parah, maka bisa dilakukan restorasi. Pencegahan : Menyikat gigi dan menggunakan dental floss dengan benar. Tidak menggunakan pasta gigi yang bersifat abrasive. Sebisa mungkin menggunakan gigi sesuai fungsi dan perannya. Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.

Tambahan : Abrasi berbeda dengan atrisi karena abrasi tidak membuat permukaan gigi menjadi bulat atau menumpulkan cusps atau memotong edges. Permukaan gigi akan tetap memiliki pit yang dimana pada bagian dentin akan lebih dalam. Namun, dentin yang terkena abrasi ini tidak menimbulkan rasa ngilu dikarenakan adanya smear layer yang melapisi tubulus dentin. Smear layer dihasilkan karena adanya tindakan mekanis karena material luar tersebut.

2. Atrisi Etiologi : Atrisi adalah suatu kelainan jaringan keras gigi secara fisiologis karena kontak antara gigi dengan gigi (tooth to tooth contact) ; tanpa adanya pengaruh dari makanan ataupun material asing lainnya; atau karena adanya kelainan fungsi/ parafunction. Tingkat atrisi bergantung pada : Makanan faktor saliva mineralisasi gigi, Usia (semakin tua akan lebih cepat terkena atrisi) emotional tension.

Penyebaran atrisi dipengaruhi oleh tipe oklusi, geometri sistem stomatognatik (sistem yang menggabungkan sistem-sistem yang berada dalam rongga mulut, seperti mastikasi, bicara, oklusi, artikulasi dan sebagainya) serta karakeristik pengunyahan dari masing-masing individu

Atrisi dapat juga terjadi karena kelainan fungsi/parafunction, salah satunya adalah bruxism. Bruxism adalah kebiasaan mengertakan dan menggesekan gigi antara rahang atas dan bawah. Hal ini terjadi pada saat tidur dan tidak disadari.

Gambaran mikroskopis : Terdapat goresan-goresan parallel dengan satu arah pada permukaan yang datar dan ada batas pada setiap seginya.

Gambaran klinis : Biasanya terlihat pada permukaan kunyah seperti insisal, oklusal, dan proksimal. Biasanya menyebabkan permukaan melengkung sampai rata, mahkotanya memendek dan permukaan enamel oklusal/ insisal menghilang. Menyebabkan tepi enamel menjadi tajam Pada gigi anterior, ujung insisal tampak melebar Pada gigi posterior, bagian yang mengalami atrisi terutama adalah cusp. Pada gigi rahang atas, yang paling mudah terkena atrisi adalah cusp lingual, sementara pada gigi rahang bawah adalah cusp bukal. Jika sudah terkena dentin, warna menjadi kekuning-kuningan serta terbuka. Pada atrisi patologis (bruxism, maloklusi, bentuk gigi, dll), keausan batas (facet) meluas lebih cepat dibandingkan atris karena fisiologis. Gambaran radiografis : Terjadi penebalan di lamina dura Biasanya pada bagian mahkota gigi mengalami keausan atau bahkan hilang.

Rencana Perawatan : Untuk atrisi yang disebabkan karena bruxism, maka dapat menggunakan bidang gigit (bite plane) pada waktu tidur untuk mencegah terkikisnya gigi. Apabila atrisi yang terjadi tidak terlalu mengganggu dan tidak mengurangi fungsi semestinya maka tidak diperlukan perawatan khusus. Apabila atrisi yang terjadi sudah mengganggu estetik serta fungsi, maka dapat dilakukan perawatan degan bahan tambala tau pembuatan crown. Pencegahan : Memperbanyak konsumsi makanan berfluoride yang mampu memperkuat permukaan gigi.

3. Erosi Etiologi : Erosi adalah kelainan jaringan keras gigi karena adanya kontak berulang kali dalam jangka waktu yang lama terhadap larutan asam atau larutan kimia tanpa melibatkan bakteri. (terjadi demineralisasi gigi karena bahan kimia). Sumber asam tersebut dapat berasal dari : Faktor ekstrinsik = o Konsumsi makanan asam, buah asam atau minuman berkarbonasi dalam jumlah besar. Misalnya : lemon o Konsumsi obat yang bersifat asam Faktor instrinsik = o Muntah kronis atau refluks asam dari kelainan gastrointestinal Lokasi erosi, pola daerah yang tererosi dan penampakan lesi dapat ditentukan dari sumber/asal dekaslifikasi tersebut. Misalnya pada erosi yang disebabkan karena muntah maka daerah yang biasanya terserang adalah permukaan lingual gigi maksila (terutama gigi anterior), sedangkan pada erosi yang disebabkan karena konsumsi makan-makanan akan menyerang permukaan labial/bukal.

Gambaran klinis : Umumnya berupa lesi halus, terdapat depresi mengkilap di permukaan enamel yang terletak di dekat gingival.

Erosi dapat menyebabkan kehilangan enamel dalam jumlah yang besar sehingga dapat menimbulkan noda berwarna pink di seluruh enamel yang tersisa. Tidak ada lagi enamel ridges yang tajam karena smuanya sudah membulat Permukaan enamel bisa menjadi konkaf hingga dentin terkena.

Gambaran radiografis : Terlihat radiolusen pada bagian yang mengalami erosi

Rencanan perawatan : Apabila penyebabnya ada muntah kronis, maka diberikan obat kumur berfluoride untuk sehariharinya Jika tidak diketahui apa penyebabnya dan permukaan gigi sudah tidak baik lagi serta tidak berfungsi dengan normal, maka bisa dilakukan restorasi agar tidak merusak pulpa dan fungsi gigi tidak terhambat. Pencegahan : Meminimalisasi makan makanan yang asam serta minum minuman berkarbon Menggunakan obat kumur ataupun pasta gigi berfluorida.

4. Abfraksi Etiologi : Abfraksi adalah suatu kelainan jaringan keras gigi yang dikarenakan adanya tenaga (compression dan tension) yang berlebihan pada permukaan oklusal sehingga menyebabkan adanya

mikrofaktur pada permukaan bukal dan lingual. Daerah gigi tersebut membelok pada servikal margin dan dapat menyebabkan kerusakan progresif terhadap jaringan gigi yang rapuh. Apabila cusp tetap berada dibawah tekanan saat awal maupun akhir siklus mastikasi, maka kemungkinan akan terjadi fleksur atau kompresi yang akan menyebabkan dislokasi dentin atau enamel pada titik rotasi.

Gambaran klinis : Secara klinis, dapat dilihat adanya kehilangan jaringan keras gigi berupa V pada 1/3 servikal gigi.

V.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI KARIES D3

Lesi enamel terjadi saat pH permukaan gigi berada di bawah batas imbang remineralisasi Ion-ion asam masuk ke dalam selubung prisma yang menyebabkan demineralisasi subpermukaan Permukaan gigi dapat tetap terjaga karena segera terjadi remineralisasi, akibat peningkatan ion kalsium dan fosfat, flouride, dan buffer dari produk-produk saliva. Ciri-ciri klinis dari karies D3 adalah :

a) Translusensi pada enamel menghilang, ditandai adanya bercak putih seperti kapur jika dalam kondisi kering b) Lapisan permukaan gigi rapuh dan rentan terhadap kerusakan pada saat pemeriksaan (probing), khusunya pada pit dan fissure c) Meningkatnya daya serap (porositas), khususnya pada subpermukaan, yang bersamaan dengan meningkatnya potensial terjadinya bercak d) Kepadatan subpermukaan berkurang, yang dapat dideteksi secara radiografis atau dengan translumination e) Potensial remineralisasi, dengan meningkatnya resistensi untuk serangan asam lebih lanjut dengan penggunaan perawatan peningkatan remineralisasi

Perawatan Karies D3 Site 1-Size 0 (1.0) Lesi ini merupakan lesi paling awal =, terjadi pada permulaan demineralisasi, dan hanya dibutuhkan perawatan non-invasif seperti diet atau perubahan kebiasaan pasien. Site 1- Size 1 (1.1) Identifikasi lesi jenis ini akan terlihat pada fissure permukaan oklusal gigi posterior, pits pada lingual gigi anterior atas, permukaan bukal molar bawah serta lingual extension pada distal oklusal groove molar atas. Lesi erosi dan atrisi pada permukaan oklusal posterior dan incisal edge gigi anterior termasuk didalamnya saat lesi itu cukup extensive untuk mendapatkan restorasi.

Biasanya terjadi pada : Fissure oklusal dari gigi posterior. Biasanya ditemukan kelainan bentuk dari enamel pada bagian cingulum pit pada bagian lingual dari anterior mandibula dan bagian lateral atas dari bukal pit pada molar mandibula. Terdapat pula pada tepi insisal gigi anterior mandibula dan maksila. Jika preparasi menggunakan amalgam, dibutuhkan cengkraman yang kuat untuk memungkinkan terjadinya adhesi yang baik. Untuk karies oklusal (Size 2,3 atau 4) dengan tambalan amalgam, permukaan dari oklusal gigi akan sebagian dihilangkan (fissurenya) karena amalgam tidak memungkinkan restorasi pada daerah sepanjang fissure. Tidak perlu dipreparasi. Keadaan ini hanya memerlukan sealant sebagai proses restorasi minimal dengan menggunakan GIC atau resin komposit. Mekanisme preparasi fissure Pembersihan fissure dari gigi yang telah ada erupsi selama satu atau dua tahun sangat sulit dan tidak mungkin dilakukan. Namun, untuk orang dewasa yang memiliki gigi dengan fiisure yang dalam, telah ditemukan cara untuk membersihkan fissure dari giginya yang telah tahunan berada dilingkungan mulutnya walaupun akan melibatkan sedikit dari enamel sekitar fis sure tersebut. Dalam pelaksanaannya digunakan instrument seperti diamond stones

(merupakan metode yang efektif), carbide tungsten bur kecil, laser atau abrasi udara. Karena preparasinya dilakukan pada bagian enamel, maka tidak diperlukan anastesi. Setelah preparasi dilakukan, diberikan sealant untuk mencegah terjadinya karies pada fissure enamel yang telah dibersihkan.

Resin Sealants Ada banyak material digunakan untuk fissure sealant yang dapat mencegah perkembangan karies aktif mulai dari silver nitrat sampai laser. Walaupun demikian, resin komposit menjadi sealant yang paling popular selama bertahun-tahun dan sekarang glassionomer juga menjadi pilihan. Tujuan pemakaian resin adalah untuk mengalirkan resin ke kedalaman fissure untuk menutupnya dengan sempurna sehingga mencegah masuknya bakteri dan plak di kemudian hari. Kegagalan dapat muncul karena sealant tidak memiliki antibacterial, sehingga terdapat kemungkinan inisiasi bakteri terutama jika resin dilekatkan namun tidak diseal.

Glass Ionomer Glass ionomer merupakan proteksi yang sangat efektif untuk fissure meskipun pembuktiannya belum bertahun-tahun seperti resin komposit. Meskipun cement lepas, aktivitas karies berkurang karena kandungan fluoride pada cement diserap oleh enamel.

VI.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI KARIES D4 Menurut ICDAS (International Caries Detection and Assessment System), karies D4

adalah karies yang hampir menyerang dentin (mencapai DEJ). Dalam klasifikasi Mount, decay 4 sama dengan size 2. Sedangkan letak lokasi terjadinya karies dalam kasus tersebut yaitu di daerah oklusal dan permukaan halus (gigi anterior), klasifikasi yang sesuai dengan Mount adalah site 1. Sehingga, kasus karies yang terjadi dalam kasus D4 adalah karies site 1 dan size 2 Permukaan lesi akan kolaps akibat terurainya apatit atau fraktur pada kristal yang sudah melemah, hal ini terjadi bila demineralisasi dan remineralisasi berlanjut dan demineralisasi lebih besar dibandingkan remineralisasi, berakibat terbentuknya kavitas pada permukaan. Plak kemudian dapat tertahan pada kedalaman kavitas, dan fase remineralisasi kemudian akan menjadi lebih sulit dan kurang efektif. Kompleks pulpa dan dentin lalu lebih terlibat secara aktif. Ketika bakteri telah masuk melalui email ke dalam dentin, dan menjadi penghuni permanen kavitas, mereka dapat berkembang di dalam dentin. Tekstur dentin akan berubah, demikian pula dengan warna dentin akan berubah menjadi gelap akibat produk-produk bakteri atau stain dari makanan dan minuman. Selain didukung oleh substrat karbohidrat, bakteri juga memproduksi asam, untuk menguraikan hidroksiapatit di dentin yang lebih dalam. \ Zona-zona pada lesi karies dentin ada dua, yaitu zona terinfeksi (lapisan luar) dan zona yang lebih dalam (pulpa) tapi masih terpengaruh. Zona terinfeksi memiliki level kontaminasi bakteri yang tinggi, hancurnya struktur tubular dentin (baik separuh maupun sebagian), dan hilangnya sensitivitas dentin. Zona yang lebih dalam (pulpa) masih memiliki mineral yang cukup untuk mempertahankan struktur tubular dentin dan sensitivitasnya, walaupun sebagian mineral telah hilang. Demineralisasi dapat pula terjadi di permukaan akar, dan terdapat perbedaan-perbedaan dengan demineralisasi di email. Perawatan Karies D4 Karies Site 1- Size 2 (1.2)

Pada size 2, karies sedikit melibatkan dentin. Tetapi masih menyisakan enamel yang disokong dengan baik oleh dentin. Sehingga masih dapat beroklusi dengan normal. Gigi yang mengalami karies site 1 size 2 memiliki struktur gigi yang masih tersisa cukup kuat untuk menyokong restorasi. Preparasi Bisa jadi merupakan kavitas baru dimana karies telah berkembang dengan jarak tertentu sebelum pasien melakukan pengobatan. Umumnya hanya satu bagian fissure yang terlibat dan fissure lainnya dapat tertutup dan tidak mengalami eksplorasi lebih lanjut. Digunakan tungsten corcarbide bur pada ultra high speed untuk menghilangkan restorasi lama namun tetap berhati-hati agar kavitas tidak meluas lebih dari seharusnya.Tapered atau parallel sided diamond cylinder pada intermediate high speed dengan air/water spray untuk mengeksplor sejauh mana masalah. Small round burs digunakan untuk memindahkan karies dari dinding kavitas, tetapi penghilangan semua affected dentin dari dasar tidak dianjurkan. Base glass ionomer akan menyediakan support dan usaha untuk melapisi enamel. Enamel bagian oklusal sebaiknya tetap dipertahankan, bisa dilakukan dengan mempertahankan bagian margin. Restorasi dengan menggunakan GIC akan dapat membantu proses remineralisasi enamel.

Restorasi Materi terbaik untuk digunakan pada keadaan ini adalah GIC dan bisa dilapisi resin komposit jika beban oklusalnya terlalu banyak. Penggunaan GIC tidak perlu diberikan sublining karena sudah cukup biokompatibel. GIC biasa digunakan dibawah bahan resin untuk merestorasi kavitas. Untuk mendapatkan kekuatan yang sempurna dari autocure semen, campur powder dan liquid dengan rasio yang tinggi. Setelah bahan tambal siap, masukkan bahan tambal dengan menggunakan syringe dimulai pada bagian dasar kavitas. Jika ingin menggunakan resin, sebaiknya digunakan dulu GIC pada bagian dasar kavitas. Penggunaan resin sangat rentan akan terjadinya mikroleage karena sifatnya yang mudah berporus. Pengkombinasian bahan tambal ini sangat berguna untuk menghasilkan bentuk restorasi yang lebih baik sesuai dengan anatomi aslinya, mencegah mikroporus pada penggunaan resin dan menghasilkan restorasi yang kuat. Langkah-langkahnya :

Gunakan modern high strength autocure GIC yang akan dengan cepat mengeras pada bagian lantai kavitas. Gunakan round bur dengan kecepatan rendah (low speed) sebanyak 2-3 mm pada bagian sekitar margin untuk menyediakan tempat untuk resin komposit. Bersihkan enamel bagian margin dari GIC, kemudian posh dan bevel bagian tepinya. Etsa bagian enamel dan dentin selama 15 detik. Cuci dan keringkan gigi tersebut. Gunakan bahan bonding yang sesuai, kemudian tutup lagi dengan resin komposit. Setelah sudah dilakukan proses light curing, cek oklusinya kemudian poles dengan menggunakan pemoles resin komposit.

VII.

MEKANISME RASA NYERI PULPO-DENTINAL KOMPLEKS AKIBAT KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI Mekanisme Rasa Sakit Pada Dentin tiga teori yang menjelaskan tentang mekanisme rasa sakit pada dentin,yaitu: 1. Neural Theory

Dentin mengandung nerve yang akan berespon jika dentin terstimulasi (neural theory): didalam tubule dentin terdapat saraf yang berpenetrasi kedalam dentin (intertubular nerve). Walaupun terdapat beberapa saraf dalam dentin, tetapi dentin sensitivitynya tidak diakibatkan oleh adanya saraf intertubular tersebut melainkan nerve ending ini berfungsi untuk mengontrol aktifitas odontoblas dibandingkan untuk mengontrol enviromental change.

2. Odontoblastic transduction theory odontoblast merupakan puncak awal pembentukan saraf maka dispekulasikan bahwa odontoblast dapat mentransduksikan dan mempropagasi impuls. Namun, hal ini terbantahkan karena membran potensial dari odontoblas terlalu rendah untuk dapat memicu transduksi impuls. 3. Hydrodinamic theory

dikemukakan oleh Brannstorm dan merupakan teori yang lebih dapat diterima untuk menjelaskan trasmisi rangsangan pada hipersensitivitas dentin. teori hidrodinamika rangsangan yang menyebabkan rasa sakit diteruskan ke pulpa dalam suatu mekanisme hidrodinamik yaitu pergerakan cairan (outward or inward) secara cepat pada tubulus dentin. Gerakan cairan ini akan mengubah bentuk odontoblas atau prosesusnya sehingga dapat mengaktifkan nociceptors (reseptor rasa sakit) yang mempersarafi tubulus dentin, sehingga menimbulkan persepsi rasa sakit. Selain itu, pergerakan dari cairan di dalam tubulus dentin menyebabkan gangguan pada pulpa. Gangguan ini dapat dideteksi oleh free nerve ending di tubulus atau di plexus saraf Raschkow, yang menimbulkan rasa sakit. Berbagai keadaan dapat merangsang terjadinya hipersensitivitas dentin misalnya dehidrasi dentin, panas, dingin, pengeboran, serta osmotic stimuli (larutan hipertonik gula/manis). Rangsangan yang ditimbulkan berbeda bergantung pada seberapa besar stimuli dan kepekaan reseptor. Namun reaksi yang ditimbulkan adalah sama yaitu rasa sakit. Penjelasan yang hampir sama tentang teori hidrodinamika juga dikemukakan oleh Markowitz dan Syngcuk. Dikemukakan bahwa melalui dentin yang terbuka tekanan hidrodinamika akan menyebabkan kerusakan dan odontoblas. Adanya hembusan udara atau karena perbedaan tekanan, maka sel-sel odontoblas yang rusak atau mediator lain seperti prostaglandin masuk ke dalam tubulus dentin bersama-sama dengan cairan tubulus dentin yang berasal dari cairan pulpa. Sel-sel ini akan merangsang ujung saraf yang terletak dekat dengan pulpa dan akan menimbulkan rasa sakit atau ngilu. Jika rongga dentin terbuka maka cairan tersebut akan menekan keluar dengan kuat dan menyebabkan kehilangan banyak cairan. Perubahan tekanan itulah yang akan ditangkap oleh pleksus raschkow sebagai stimulus rasa sakit unutk diteruskan ke otak melalui saraf afferent.

Reaksi Pertahanan Pulpa-Dentin Kompleks Pulp-dentine complex memiliki kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari pulpal injury. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan pulpal injury, diantaranya:

o o o

Dental caries (bacteria toxin) Mechanical stimuli (trauma, fraktur gigi, preparasi kavitas, dan tooth wear) Chemical stimuli ( makanan yang mengandung asam, toxic dental restorative material, dan dehidrasi pada dentin yang terjadi saat preparasi kavitas)

Thermal shocks ( panas yang berlebihan yang ditimbulkan dari penggunaan instrumen yang tidak hati-hati saat preparasi kavitas, perubahan temperatur dari makanan panas atau dingin yang dihantarkan ke dentin melalui metal restoration) pertahanannya pulp dentine kompleks sangat bergantung pada ada atau tidaknya vital

pulpa. 3 reaksi pertahanan : 1. Tubular sclerosis suatu proses mengendapnya mineral di dalam lumina pada dentinal tubules dan (diibaratkan sebagai perpanjangan dari mekanisme normal pembentukan peritubular dentin). Responnya, yang bergantung pada vital odontoblast, pada umumnya terlihat di bagian tepi dari lesi karies di dentin. Tubular sclerosis mengakibatkan area yang terpengaruh olehnya menjadi lebih homogen secara struktur sehingga terbentuk translucent zone (menggambarkan peningkatan mineral). Tubular sclerosis bersifat protektif karena dapat menurunkan permeabilitas jaringan yang dapat menghambat penetrasi dari asam dan bacterial toxin. 2. Reactionary dentine Reactionary dentine atau reparative dentine suatu lapisan dentin yang terbentuk di perbatasan antara dentin dan pulpa. terbentuk sebagai respon dari stimulus yang terjadi secara lebih jauh di bagian tepi, sehingga distribusinya hanya terbatas pada area di bawah stimulus. Regular reactionary dentine sebagai respon terhadap stimulus sedang. Namun dengan meningkatnya kekuatan stimulus, ini menyebabkan terjadinya kerusakan pada odontoblast dan dysplasia pada reactionary dentin yang dibentuk. Stimulus yang sangat berlebihan dapat menyebabkan kematian odontoblast, dan sebagai dampaknya, tidak ada reactionary dentin yang terbentuk. Namun, terkadang sel-sel lain di pulpa berdiferensiasi membentuk atubular calcified material.

Suplai darah ke pulpa memiliki peran penting dalam pembentukan reactionary dentine. Reactionary dentine tidak akan terbentuk jika suplai darah buruk dan pada gigi yang masih muda akan lebih cepat/mudah terbentuk dibandingkan dengan gigi yang sudah tua. Saat terbentuk, reactionary dentine menyediakan perlindungan ekstra pada odontoblast dan sel-sel lain pada pulpa dengan meningkatkan jarak antara mereka dengan injurious stimulus. 3. Inflammation of the pulp Respon dasar dari seluruh jaringan penghubung vascular terhadap luka. Inflamasi pada pulpa pulpitis (akut atau kronik). Durasi dan intensitas dari stimulus mempengaruhi tipe respon : o Stimulus yang bermutu rendah (low-grade) dan yang berlangsung lebih lama mengakibatkan inflamasi kronik. stimulus yang tiba-tiba dan hebat/keras dapat menimbulkan pulpitis akut. Pada lesi karies dentin yang berlangsung lambat, stimuli yang menuju ke pulpa adalah bacterial toxins, thermal dan osmotic shock . Respon yang terjadi pada low-grade stimuli adalah inflamasi kronik. Ini dapat diatasi dengan mengangkat dentin yang terinfeksi yang bertindak sebagai irritant dan mengisi kavitas dengan bahan restorasi. Namun, jika proses karies terus berlangsung, organisme tersebut dapat mencapai pulpa dan membentuk carious exposure sehingga terjadilah inflamasi akut. Reaksi inflamasi memiliki dua komponen, yaitu komponen vascular dan komponen selular. Perbedaan inflamasi kronik dan akut: o Kronik komponen selular terdiri dari limfosit, plasma sel, monosit, dan macrofag di jaringan seiring waktu, sel-sel ini akan meningkatkan produksi kolagen yang mengarah pada fibrosis. reaksi inflmasi kronik ini tidak akan membahayakan vitalitas gigi o Akut terjadi emigrasi dari neutrofil terjadi perubahan pada vascular, yaitu dilatasi pembuluh darah, aliran darah yang semakin

cepat,dan fluid exudate semua faktor tersebut meningkatkan ketegangan jaringan

VIII.

RESTORASI SEMENTARA Fungsi:

Melindungi dentin dan pulpa dari panas dan zat kimia, serta iritasi mekanik yang dapat menyebabkan hipersensitivitas Mencegah terjadinya gigi drifting Proteks idan support bagi gingival Meningkatkan fungsi estetik Proteksi margin gigi yang telah dipreparasi Restorasi sementara terbagi atas tiga, yaitu:

1. Interim Restoration dilakukan saat gigi yang rusak telah dipreparasi dan perlu dilakukan pertemuan kedua untuk melakukan finishing restoration. Syarat: Harus mudah dipasang dan dilepaskan tanpa merusak preparasi Melindungi kavitas dari kerusakan selama periode interim 2. Provisional Restoration Digunakan sebagai bahan diagnostic saat mengubah oklusi (menambah atau mengurangi dimensi vertikan) atau mengubah bentuk dan ukuran gigi Digunakan sebagai bahan diagnostic untuk evaluasi jaringan lunak atau respon gigi ketika: Perawatan periodontal sedang berlangsung atau telah selesai Gigi mempunyai prognosis berupa: gigi yang tersisa sangat sedikit; pocket yang dalam, dan; mobilitas yang berlebih Kelebihan: o Dapat dimodifikasi kapanpun o Menstimulasi/mempengaruhi bentukr estorasi akhir o Preparasi gigi sesuai bentuk kavitas yang diinginkan 3. Intermediate Restoration Digunakan saat waktu untuk melakukan perawatan sangat minim dan kenyamanan pasien serta perlindungan gigi sangatlah penting Dilakukan pada gigi yang rusak akibat karies ataupun trauma Dapat bertahan selama periode jangka pendek Tidak memerlukan preparasi gigi yang berarti Indikasi:

o Terdapat karies rampan o Tingkat kesehatan gingival rendah o Waktu melakukan perawatan sangat minim o Kenyamanan pasien diperhitungkan o Pasien sedang dalam tahap emergency o Ketika fungsi estetis sangat kritikal, misalnya fraktur pada gigi anterior sehingga perlu dilakukan restorasi sementara

Gutta-percha Berasal dari tumbuhan Brazillian tree (Palaquium) Composition :

1. Matrix-gutta-percha 20% (Organic) 2. Filler-zinc oxide 66% (Inorganic) 3. Radioopacifiers-heavy metal sulfates 4. 11% (Inorganic) 3% (Organic) 5. Plasticizers-waxes or resins

Keuntungan :

1. Compactability (adaptable to preparation walls) 2. Inertness 3. Dimensionally stable 4. Tissue tolerance 5. Radiopacity ( easily recognizable 6. Plasticity when Kerugian : by pressure 1. Lack of ridgitity 2. Easily displaced 3. Lacks adhesive quality heated on radiograph ) it according to preparation walls helps to mould

Zinc Oxide Eugenol Semen oksida dan seng eugenol adalah suatu semen tipe sedative yang lembut. Biasanya disediakan dalam bentuk bubuk dan cair, dan berguna untuk basis insulatif (penghambat). Bahan ini juga sering digunakan untuk balutan sementara. PH-nya mendekati 7 yang membuatnya menjadi salah satu semen dental yang paling sedikit mengiritasi. Kelebihan:

Memiliki efek paling aktif pada pulpa Melindungi pulpa Tingkat kebocoran mikronya minimal Mempunyai daya ikat yang baik Walaupun digunakan untuk jangka pendek, ZOE mempunyai durabilitas yang cukup lama sebagai tumpatan sementara Kekuatannya cukup rendah sehingga dapat dilepas dengan mudah tanpa merusak gigi atau pun restorasi itus endiri

Kekurangan:

Sulit dimanipulasi di dalam mulut Eugenol mempunyai potensi iritan sehingga menyebabkan rasa terbakar dan tidak nyaman yang ditinggalkan dalam mulut Tidak tahan terhadap oklusi yang berat Komposisi :

a. Powder Powder Zinc oxide (ZnO)-69.0% White rosin-29.3% Zinc stearate-1.0% Zinc acetate (acts as accelerator)-0.7% b. Liquid

85.0% Olive oil-15.0% Glass-ionomer cement Memiliki macam variasi : Sebagai restorasi sementara selama endodontic therapy Digunakan pada kasus yang membutuhkan temporization jangka panjang

Eugenol-

GIC sendiri atau di atas basis IRM akan memberikan segel yang unggul terhadap penetrasi S. mutans

IX.

RESTORASI GIC Terdapat beberapa material restoratif yang dapat digunakan dalam disiplin dari operatif

kedokteran gigi dan tidak ada yang digunakan secara universal. Hal ini karena setiap material memiliki kelebihan, kekurangan, dan keterbatasannya masing-masing. Salah satu material yang biasa digunakan adalah GIC. Glass Ionomer Cement (GIC) adalah bahan tumpatan restoratif sewarna gigi dan termasuk dalam bahan restorasi plastis. GIC merupakan water based cement yang terbentuk dari reaksi asam-basa antara bubuk calcium flouroaluminosillicate glass dengan larutan poliasam. Bubuk calcium fluoroaluminosillicate glass memiliki komponen utama berupa silica (SiO2), alumina (Al2O3), dan kalsium fluoride (CaF2). Larutan poliasam yang digunakan pada GIC adalah polycarboxylate copolymer. Terdapat beberapa indikasi dalam penggunaan GIC, yaitu: 1. Restorasi gigi susu 2. Restorasi kelas I yang kecil seperti karies interproksimal dan cacat pada permukaan akar 3. Restorasi kelas III dan V 4. Gigi anterior 5. Pit and Fissure sealant 6. Pada gigi mahkota yang telah mengalami kerusakan parah, GIC yang diperkuat dengan semen dapat membangun inti mahkota pada gigi tersebut

7. Perawatan segera untuk pasien yang mengalami trauma fraktur 8. Sebagai bahan luting pada pasien dengan frekuensi karies tinggi dan pasien dengan resesi gingival yang memerlukan kekuatan dan aktivitas kariostatik 9. Pembuatan pasak yang sekurang-kurangnya 50% dari struktur mahkota gigi tersisa sehingga dapat dijadikan sebagai dukungan. (sandwich technique). Teknik sandwich menggunakan GIC sebagai pengganti dentin dan komposit sebagai pengganti email. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan dari Glass Ionomer Cement (GIC): No. 1. Kelebihan Tidak perlu di etsa untuk berikatan dengan Dapat email dan dentin anatomis Kekurangan mengalami yang kehilangan lebih bentuk signifikan

dibandingkan tumpatan lain 2. 3. Dapat berperan sebagai fluoride reservoir Tidak mengalami penyusutan Harus diaplikasikan dalam lingkungan kering

akibat Restorasi mudah mengalami dehidrasi/aus, terutama pada awal penumpatan karena merupakan water based material.

polimerisasi

4.

Memiliki

kestabilan

dimensi

pada Tidak disarankan untuk digunakan pada gigi

permukaan yang lembab, seperti pada yang menerima beban kunyah besar seperti lingkungan intraoral 5 6. Sewarna dengan gigi Biokompatibel gigi molar Resistensi terhadap fraktur rendah Laju aliran saliva yang rendah dapat

membuat restorasi mengalami dehidrasi/aus dan disintegrasi 7. 8. Translusen Mempunyai kekerasan yang cukup untuk menahan abrasi 9. 10. Flow yang tinggi Bioaktif, sehingga memungkinkan untuk terjadinya pertukaran ion kalsium,

strontium, fosfat dengan permukaan gigi

X.

RESTORASI AMALGAM

Indikasi Penggunaan: Pada posterior yang mempunyai beban kunyah paling besar.

Kelebihan: Bahan tambal yang paling kuat (sejauh ini) dalam melawan tekanan kunyah, sehingga dapat bertahan dalam jangka yang sangat lama di dalam mulut Ketahanan terhadap keausan sangat tinggi Biaya relatif murah Teknik penumpatan relatif simple dan mudah serta tidak technique sensitive seperti resin komposit

Kekurangan: Perlekatan dengan jaringan dentin gigi secara makromekanik seperti retentionand resistence form serta undercut tidak dapat melekat secara kimia Prinsipretention and resistance form pada lesi karies interproksimal akan mengangkat jaringan gigi yang sehat selain jaringan karies. Pada kavitas kelas II dengan isthmus dan garis sudut bagian dalam yang lebar akan menyebabkan kekuatan terhadap beban kunyah sehingga sering terjadi fraktur baik pada tumpatan MO (mesial-oklusal), DO (distal-oklusal), dan MOD (mesialoklusal-distal) Kurang baik secara estetis karena warnanya yang tidak sewarna dengan gigi sehingga tidak bisa digunakan untuk tumpatan gigi anterior Terkadang tepi-tepi tambalan yang berbatasan langsung dengan gigi dapat menyebabkan gigi berubah warna menjadi kehitaman Tidak cocok untuk pasien dengan alergi metal Toksisitas dengan amalgam masih diperdebatkan, karena adanya kandungan merkuri di dalamnya

Clinical failure adalah saat dimana restorasi sudah tidak bisa digunakan lagi atau bisa menimbulkan beberapa risiko jika tidak diganti. Clinical failure dari amalgam meliputi: Restorasi fraktur dalam jumlah besar

Korosi dan marginal fracture yang besar Sensitivitas atau rasa sakit Karies sekunder Fraktur pada struktur gigi membuat dinding preparasi restorative gigi

Banyak clinical failure dari restorasi amalgam terjadi karena beberapa kombinasi dari elektro-kimia korosi dan tegangan mekanik. Kombinasi tersebut menghasilkan kerusakan marginal secara terus menerus yang membuat kondisi lebih sering mengalami kegagalan dan terjadi karies sekunder. Permukaan luar amalgam harus halus. Hal ini akan menghambat formasi dari celah untuk mengalami elektro-kimia korosi atau untuk konsentrasi tegangan selama proses mekanis. Peraturan umum mengenai mengukir amalgam adalah untuk hanya menghasilkan permukaan dan lekuk yang halus. Detil mengenai anatomi gigi, yang dapat diukir pada permukaan amalgam, biasanya lebih merupakan aspek ketahanan daripada keuntungan estetik.

XI.

RESTORASI RESIN KOMPOSIT Resin komposit adalah bahan tambal sewarna gigi, dengan bahan dasar polimer dan

ditambahkan dengan partikel anorganik sebagai penguat. Bahan tambal ini umumnya mengalami reaksi pengerasan dengan bantuan sinar (sinar UV, atau bisa juga dengan visible light). Resin komposittersusun atas matriks resin anorganik (bispheno-A-glicidyl-mathacrylate), bahan pengisi filler anorganik minimal 60% (quartz, silica, glass) dan coupling agent (silance). Resin komposit termasuk golongan adhesive restorative material. TYPE All-Purpose Composite Microfilled Composite Condensable Kelas I, II, dan VI (mesial, occlusal, distal) Kelas III dan V PENGGUNAAN Kelas I, II, III, IV, V low carries patients

Composite

Flowable composite cervical lesions, pediatric restoration, small low-stress-bearing restorations.

Laboratory Composite Kelas II, three-units bridge (with fiber reinforcement)

Resin komposit yang digunakan pada penambalan gigi posterior mempunyai keuntungan estetik yang baik, restorasi sewarna gigi, konduktivitas suhu yang rendah, tidak bersifat toksik karena tidak mengandung merkuri atau galvanism, dan dapat menguatkan struktur gigi. Selain itu dapat juga menyebabkan pengerutan sewaktu polimerisasi, membutuhkan waktu yang lama pada penambalan restorasi, mieroleakage, sensitif setelah penempatan, dan keausan pada permukaan oklusal.

Kelebihan

Resin komposit hasil akhirnya sangat menyerupai gigi asli sehingga bagus secara estetika. Karena kelebihannya ini, resin komposit adalah bahan tambal yang paling sering digunakan dalam cosmetic dentistry.

Warna resin komposit dapat disesuaikan dengan keadaan gigi pasien, karena resin komposit memiliki beberapa pilihan warna.

Kekurangan :

Benar benar membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dokter gigi untuk mendapatkan hasil memuaskan dan tahan lama. Jika tidak, tambalan dapat mudah lepas/patah, berubah warna, atau terlihat batas antara tepi tambalan dengan gigi sehingga mengurangi estetika.

Pada saat penambalan diperlukan suasana mulut yang cukup kering karena kontaminasi saliva dapat mempengaruhi sifat-sifat jangka panjang dari resin komposit, seperti kekuatan dan daya tahannya. Oleh sebab itu gigi yang akan ditambal resin komposit idealnya harus benar-benar diisolasi, dan hal ini cukup sulit dilakukan terutama pada gigi belakang dan mungkin menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien.

Dapat terjadi karies sekunder di bawah tambalan yang mungkin disebabkan karena kebocoran tambalan sehingga bakteri dapat berpenetrasi ke jaringan gigi dan kembali menyebabkan karies.

Resin komposit dapat menyerap warna dari zat pewarna dari makanan atau minuman sehingga dalam jangku waktu lama dapat berubah warna.

Indikasi dan konraindikasi Berikut adalah syarat penting untuk penempatan resin : 1. Ikatan terbaik adalah pada email di sekitar margin 2. Kavitas harus diisolasi dari kontaminasi 3. Kavitas harus dapat dicapai oleh light activator untuk polimerisasi yang tepat 4. Kontraindikasi termasuk pasien dengan excessive wear dan bruxism

BAB III PENUTUP Kesimpulan Winda mengalami amelogenesis imperfekta, oleh karena itu Winda memerlukan restorasi dengan resin komposit. Talia mengalami abfraksi, oleh karena itu Talia memerlukan tindakan grinding untuk mengurangi compression dan menumpat lesinya dengan RMGIC

PENGERTIAN Karies adalah suatu penyakit jaringan keras gigi (email, dentin dzn sementum) yang bersifat kronik progresif dan disebabkan aktifitas jasad renik dalam karbohidrat yang dapat diragikan. Ditandai dengan demineralisasi jaringan keras dan diikuti kerusakan zat organiknya. ETIOLOGI Faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya karies yaitu: Bakteri Sifat kariogenik ini berkaitan dengan kemampuan untuk:

Membentuk asam dari substrat (asidogenik) Menghasilkan kondisi dengan pH rendah

FAKTOR PRESDIPOSISI Mallenby menyatakan bahwa hipoplasia enamel merupakan faktor presdisposisi perkembangan karies gigi dan akan memperberat gigi yang mengalami karies. Konsumsi makanan bergizi dan kebiasaan makan juga mempunyai peran besar karena sering ditemukan insidens karies yang berbeda pada populasi dengan konsumsi makanan yang berbeda. Kandungan bahan makanan merupakan faktor yang bertanggung jawab atas perbedaan pembentukan karies antara manusia primitif dan manusia modern. Makanan manusia primitif umumnya berserat tinggi, dapat membersihkan gigi selagi dikunyah, sedangkan manusia sekarang banyak mengkonsumsi makanan berserat rendah. Kandungan vitamin juga dilaporkan berperan pada proses karies. Defisiensi vitamin A menyebabkan gangguan pembentukan gigi pada binatang dan mungkin juga manusia, walaupun data-data yang mendukung hal ini masih kurang. Mungkin vitamin D paling berperan dalam pembentukan gigi. Kelainan gigi seperti malformasi, dan hipoplasi enamel disebabkan defisiensi vitamin D. Kandungan mineral, seperti Ca danP, berperan dalam pembentukan karies gigi walaupun masih banyak pendapat yang menentang. PATOFISIOLOGI Terdapat tiga teori mengenai terjadinya karies, yaitu teori asidogenik (teori kemoparasiter Miller), teori proteolitik, dan teori proteolisis kelasi. 1. Teori Asidogenik Miller (1882) menyatakan bahwa kerusakan gigi adalah adalah proses kemoparasiter yang terdiri atas dua tahap, yaitu dekalsifikasi email sehingga terjadi kerusakan total email dan dekalsifikasi dentin pada tahap awal diikuti oleh pelarutan residunya yang telah melunak. Asam yang dihasilkan oleh bakteri asidogenik dalam proses fermentasi karbohidrat dapat mendekalsifikasi dentin, menurut teori ini, karbohidrat, mikroorganisme, asam, dan plak gigi berperan dalam proses pembentukan karies. 2. Teori Proteolitik Gottlieb (1944) mempostulasikan bahwa karies merupakan suatu prose proteolisis bahan-bahan organik dalam jaringan keras gigi oleh produk bakteri. Dalam teori ini dikatakan mikroorganisme menginvasi jalan organik seperti lamela email dan sarung batang email (enamel rod sheath), serta merusak bagian-bagian organik ini. Proteolisis juga disertai pembentukan asam. Pigmentasi kuning merupakan ciri karies yang disebabkan produksi pigmen

oleh bakteri proteolitik. Teori proteolitik ini menjelaskan terjadinya karies dentin dengan email yang masih baik. Manley dan Hardwick (1951) menggabungkan teori proteolitik dan teori asidogenik . Menurut mereka teori-teori tersebut dapat berjalan sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Teori ini menyatakan bahwa bakteri-bakteri dapat membentuk asam dari substrat karbohidrat, dan bakteri tertentu dapat merusak protein jika tidak ada karbohidrat, karena itu terdapat dua tipe lesi karies. Pada tipe I, bakteri menginvasi lamela email, menyerang email dan dentin sebelum tampak adanya gejala klinis karies. Tipe II, tidak ada lamela email, hanya terdapat perubahan pada email sebelum terjadi invasi mikroorganisme. Perubahan email ini terjadi akibat dekalsifikasi email oleh asam yang dibentuk oleh bakteri dalam plak gigi diatas email. Lesi awal ini disebut juga calky aanamel. 3. Teori Proteolisis Kelasi Teori ini diformulasikan oleh Schatz (1955). Kelasi adalah suatu pembentukan kompleks logam melalui ikatan kovalen koordinat yang menghasilkan suatu kelat. Teori ini menyatakan bahwa serangan bakteri pada email dimulai oleh mikroorganisme yang keratinolitik dan terdiri atas perusakan protein serta komponen organik email lainnya, terutama keratin. Ini menyebabkan pembentukan zat-zat yang dapat membentuk kelat dan larut dengan komponen mineral gigi sehingga terjadi dekalsifikasi email pada pH netral atau basa. MANIFESTASI KLINIS Gambaran klinis karies email yaitu: 1. Lesi dini atau lesi bercak putih/coklat (karies insipien) 2. Lesi lanjut (lesi yang telah mengalami kavitasi) Gejala paling dini karies email secara makroskopik adalah suatu bercak putih. Bercak ini jelas terlihat pada gigi cabutan yang kering yang tampak sebagai suatu lesi kecil., opak dan merupakan daerah berwarna putih, terletak sedikit kearah serviks dan titik kontak. Warna tampak berbeda dibandingkan email di sekitarnya yang masih sehat. Pada tahap ini, deteksi dengan sonde tidak dapat dilakukan karena email yang mengelilinginya masih keras dan mengkilap. Kadang-kadang lesi tampak coklat karena materi yang terserap kedalam poriporinya. Baik bercak putih maupun coklat bisa bertahan bertahun-tahun lamanya karena perkembangan lesi tersebut dapat dicegah. Jika lesi email sempat berkembang, permukaan yang semula utuh akan pecah (kavitasi) dan akan terbentuk lubang (kavitas). Pada saat pemeriksaan diperlukan pencahayaan yang baik. Gigi harus bersih dan kering, sehingga kotoran dan karang gigi harus dibersihkan dahulu. Gigi yang sudah kering harus diisolasi dengan gulungan kapas sehingga tidak basah oleh saliva. Gigi harus betul-betul kering dan pengeringan biasanya dengan penyemprotan secara perlahan-lahan. Untuk menemukan tanda awal karies diperlukan penglihatan yang tajam. Biasanya pemeriksaan dilakukan dengan sonde tajam sampai terasa menyangkut. Sebaiknya hal ini jangan dilakukan karena sonde tajam akan merusak lesi karies yang masih baru dan bakteri akan terbawa dalam lesi sehingga kariesnya menyebar PEMERIKSAAN PENUNJANG Radiograf bite wing diperlukan dalam menegakkan diagnosis. Pada tehnik ini sinar diarahkan tegak lurus terhadap sumbu gigi dan menyinggung titik kontak. Film diletakkan di sebelah lingual gigi posterior.

Pasien menahan posisi tersebut dengan menggigit pegangan filmnya. Tiap daerah yang mungkin diserang karies harus dinilai secara tersendiri. DIAGNOSIS Berdasarkan pola klinisnya, Nikiforuk membagi karies menjadi 3 golongan yaitu menurut morfologi, dinamika, dan keparahan. Yang termasuk golongan morfologis adalah karies pit dan fisur, karies permukaan halus, karies akar atau karies sementum, dan karies email linear. Karies pit dan fisur tipe primer terbentuk di permukaan oklusal molar dan premolar, permukaan bukal dan lingual molar dan permukaan lingual insisivus maksila. Pit dan fisur yang berdinding tinggi dan terjal, serta berdasar sempit paling rentan terhadap karies, Pit dan fisur kadang dianggap kelainan perkembangan, terutama karena email pada tempat yang dalam sering sangat tipis, bahkan terkadang tidak ada, sehingga dentin terpapar, Pit dan fisur pada proses awal karies tampak coklat atau hitam, terasa agak lembut. Email yang berbatasan denagan pit dan fisur tersebut, mungkin terlihat opak putih kebiruan karena proses dibawahnya. Proses ini terjadi melalui penyebaran lateral karies pada batas dentin dan email, sehingga dapat terbentuk lubang yang besar dibawah email. Karies permukaan halus timbul pada permukaan proksimal gigi dan sepertiga gingival permukaan bukal dan lingual. Karies ini jarang timbul pada bagian lain, kecuali pada gigi yang malformasi atau malposisi. Karies ini biasanya diawali dengan pembentukan plak. Karies proksimal biasanya timbul tepat dibawah titik kontak dan awalnya tampak opaksitas putih samar pada email tanpa diskontinuitas permukaan email. Pada beberapa kasus dapat tampak sebagai daerah berpigmentasi kuning atau coklat dan berbatas tegas. Tempat putih kapur ini kemudian menjadi agak kasar karena dekalsifikasi superfisial. Dengan penetrasi karies ke email, email disekitar lesi menjadi putih kebiruan. Karies yang cepat menyebar umumnya mempunyai tempat penetrasi kecil, sedang yang lambat biasanya membentuk lubang terbuka yang dangkal. Karies servikal terdapat pada permukaan bukal, lingual, atau labial. Lesi karies servikal adalah kavitas berbentuk bulan sabit, bermula sebagai daerah putih agak kasar kemudian berlubang. Karies ini hampir selalu berupa lubang terbuka dan tidak menunjukkan titik penetrasi sempit seperti pada karies pit dan fisur. Karies ini tidak mempunyai predileksi pada gigi tertentu. Hal penting pada proses perkembangan karies di email adalah perembesan asam kedalam substansinya. Secara klinis tahapan tersebut dibagi menjadi beberapa fase, yaitu lesi dini, remineralisasi, dan kavitasi. Lesi karies email berbentuk kerucut dengan puncak dipermukaan luar pada daerah pit dan fisur, sedangkan pada karies permukaan halus, puncak kerucut mengarah kebatas dentin-email (dentinoenamel junction). Menurut Feyersjkov, bentuk ini mengikuti arah prisma email. Penelitian histologi menunjukkan bahwa karies tidak hanya proses demineralisasi yang progresif, tetapi juga suatu proses perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Dengan menggunakan mikroskop cahaya, radiografi mokro, dan mikroskop elektron transmisi, remineralisasi dapat didefinisikan sebagai suatu penempatan mineral anorganik di daerah yang sebelumya telah kehilangan mineral tersebut. Karies gigi diwarnai oleh periode perusakan dan perbaikan. Untungnya gigi terbenam dalam saliva, yaitu cairan yang berpotensi menimbulkan remineralisasi. Namun jika terjadi kavitasi, remineralisasi tak dapat menambal lubangnya. Jika lesi berkembang terus, zona permukaan akhirnya akan pecah dan

membentuk kavitas, sehingga sekarang plak akan terbentuk dalam kavitas dan terlindung dari usaha pembersihan seperti menyikat gigi. Karena itu suatu lesi yang telah mengalami kavitasi berkembang lebih cepat, dapat terhenti walaupun masih menetap, dan mengalami remineralisasi sebagian. Hal ini terutama bila terjadi perubahan diet, mokroorganisme yang kariogenik mengalami kekurangan substrat yang dibutuhkan, atau lesi berada pada permukaan yang mudah dibersihkan. Seperti halnya karies yang terjadi di email, perubahan awal bukan disebabkan oleh bakteri, tetapi akibat difusi asam kedalam jaringan. Sekali email telah berhasil dipenetrasi oleh bakteri, maka dentin akan terbuka bagi serangan bakteri secara langsung. Manifestasi paling awal karies email insipien adalah timbulnya area dekalsifikasi dibawah plak gigi yang mirip dengan permukaan kapur yang licin. Karies rampan adalah kerusakan beberapa gigi secara cepat dan sering melibatkan permukaan gigi yang biasanya bebas karies, terutama dijumpai pada gigi susu bayi yang selalu menghisap dot bergula, juga dapat dijumpai pada remaja yang sering makan kudapan kariogenik dan minuman manis, serta pada penderita xerostomia. Karies terhenti adalah suatu lesi yang tidak berkembang. Dijumpai jika lingkungan oral berubah dari yang memungkinkan timbul karies menjadi keadaan yang cenderung menghentikan karies. Berdasarkan keparahan atau kecepatan berkembangnya, karies dikatakan ringan bila terkena pada daerah yang sangat rentan, misalnya permukaan oklusal gigi molar permanen, dikatakan moderat bila terkena pada permukaan oklusal dan proksimal gigi posterior, dan dikatakan parah jika menyerang gigi anterir, daerah yang biasanya bebas karies. Karies bisa juga digolongkan berdasarkan kronologi, yaitu karies susu botol dan karies adolesens. Juga terdapat klasifikasi secara klinis yang membagi karies menjadi karies akut dan kronis. PENATALAKSANAAN Setelah diagnosis karies ditegakkan, maka ada dua cara pendekatan yang mungkin ditempuh yaitu:

Menggunakan usaha preventif untuk mencoba menghentikan penyakit Membuang jaringan yang rusak dan menggantikannya dengan restorasi disertai usaha pencegahan terhadap rekurensinya.

Kedua pendekatan diatas dipertimbangkan berdasarkan informasi diagnostik yang diperoleh. Usahausaha pencegahan yang dilakukan berkaitan dengan peran karbohidrat diantaranya adalah:

Menurunkan konsumsi sukrosa Mengubah bentuk fisik makanan yang dikonsumsi, misalnya dengan menghindari makanan yang lengket Tidak lupa pula dengan cara pencegahan lain yang bersifat umum seperti Kebiasaan menggosok gigi secara tepat dan benar tentang tata cara dan secara konsisten atau teratur Selalu memeriksakan kesehatan gigi setidak-tidaknya tiap 6 bulan sekali

Diagnosis, Pencegahan, dan Peraawatan Karies Akar Perhatian dan permasalahan mengenai karies akar telah meningkat pada dekade terakhir ini. Hal ini menjadi suatu tantangan klinis saat ini, seiring dengan semakin meningkatnya jumlah individu lanjut usia serta kesadaran mengenai pentingnya mempertahankan gigi asli. Artikel ini membahas literatur tentang lesi karies akar, dengan melihat faktor resiko, yang dihubungkan dengan penyebab, diagnosis, pencegahan, dan metode perawatan. PENDAHULUAN Karies gigi merupakan penyakit yang telah ada sejak dahulu yang ditemukan pada tengkorak manusia primitif di seluruh dunia yang tinggal di daerah terpencil dimana kurang terdapat makanan lunak dan makanan yang kaya karbohidrat.1,2 Selama abad ke 17, gula banyak tersedia dan harganya lebih murah di Eropa dan makanan diganti dengan makanan yang lebih lunak. Akibatnya, karies menjadi masalah endemik yang bertahan sepanjang abad ini.3 Saat ini, prediksi demografi menunjukkan karies akar sebagai suatu persoalan pasien yang penting pada dekade selanjutnya dimana populasi lanjut usia mempertahankan gigi asli mereka.4,5 Ettinger6 meninjau penelitian mengenai laju dan distribusi karies pada abad ke 20 dan menyimpulkan bahwa keduanya memiliki pola berbeda di seluruh dunia, yang berhubungan dengan tingkat perkembangan dan tingkat industri. Populasi di negara industri memiliki laju karies yang kurang pada anak-anak dan peningkatan jumlah gigi yang dipertahankan pada orang lanjut usia, sedangkan situasi yang berlawanan ditemukan di negara berkembang. Hasil ini dapat berkorelasi secara langsung dengan populasi, profile, jenis kelamin, makanan, pendidikan, adanya tindakan pencegahan dan kemajuan teknologi di negara industri dibandingkan dengan di negara berkembang. Di negara-negara belakangan terdapat laju karies yang lebih tinggi di daerah urban daripada masyarakat pedalaman disebabkan oleh tersedianya gula di daerah tersebut. PREVALENSI DAN INSIDENS Miller,7 seorang klinisi dan profesor kedokteran gigi konservatif, yang adalah subjek dari tinjauan makalah ini di abad yang lalu dalam tiga artikel yang mendiskusikan sesuatu yang ia sebut membuang jaringan gigi. Karies akar dipertimbangkan sebagai penyakit dimana populasi lanjut usia menginginkan gigi mereka diekstraksi dan digantikan dengan protesa lepasan.8 Saat ini karies akar menjadi masalah baru yang diteliti dalam kedokteran gigi, pada orang-orang lanjut usia dengan gigi asli mereka yang masih ada. Dengan bertambahnya usia, lebih banyak resesi gingiva yang terjadi, dimana permukaan akar terpapar terhadap lingkungan mulut dan menyebabkan meningkatnya laju karies akar. Ettinger,6 yang meninjau beberapa penelitian yang berhubungan dengan prevalensi dan insiden karies akar pada daerah berbeda di U.S., menemukan bahwa lebih dari setengah orang lanjut usia memiliki karies akar dan karies akar tersebut meningkat seiring dengan usia. Prevalensi karies akar yang sebenarnya sulit untuk dinilai. Interpretasi data dari penelitian prevalensi dan insiden rumit disebabkan oleh adanya perbedaan dalam kriteria diagnostik, keputusan perawatan dan kurangnya homogenitas pada populasi yang diobservasi.8,9 Namun, telah ditunjukkan dengan pasti bahwa prevalensi karies akar meningkat seiring usia dan lebih besar pada populasi lanjut usia daripada dewasa muda.8,10 Katz10 meninjau dengan kritis, variabel yang berhubungan dengan karies akar dan membuat rekomendasi tegas mengenai bagaimana penelitian di masa mendatang harus dilakukan untuk membuat suatu indeks karies akar. Di Arab Saudi, negara berkembang dengan populasi 21 juta, 50

persen dari populasi dibawah usia 19 tahun.11 Baru-baru ini telah ditemukan bahwa anak-anak di Arab Saudi memiliki peningkatan laju karies.12,13 Hal penting ini memerlukan perhatian dan konsentrasi yang lebih dalam program pencegahan oleh tenaga kesehatan masyarakat untuk meningkatkan tingkat perhatian kesehatan gigi dan untuk mencegah karies pada usia dini. Hal ini membuat lebih banyak gigi asli yang dipertahankan dan menghindari karies koronal ketika karies servikal terjadi. Penelitian menunjukkkan bahwa pasien yang memiliki karies koronal lebih mungkin mengalami karies akar.14 Karies akar pada populasi lanjut usia di Arab Saudi belum dilaporkan. Penelitian di kalangan ini akan sangat membantu dalam mendorong populasi lanjut usia ini secara individual untuk memelihara kesehatan gigi mereka yang lebih baik dalam gaya hidup mereka. LESI PERMUKAAN AKAR Karies akar dapat terjadi di daerah yang abrasi, erosi, dan abfraksi, atau pada karies akar gigi primer dan decay rekuren.15 Terjadinya karies akar ini pada apical ke cementoenamel junction (CEJ). Penting untuk memahami sifat dan perbedaan lesi permukaan akar yang dapat terjadi, jadi defenisi dari lesi karies akar yang bervariasi diringkaskan sebagai berikut. Abrasi permukaan akar merupakan lesi yang keras, licin, berbatas tajam dan mengkilat, yang terdiri dari goresan dan bebas plak. Ini disebabkan oleh abrasi mekanik, seperti penyikatan gigi (Gambar 1), sedangkan erosi permukaan akar merupakan lesi yang keras dan relatif halus yang terjadi di daerah yang bebas plak. Lesi ini tidak memiliki batas dan terbentuk ketika etsa asam mengenai jaringan mineralisasi, seperti terjadi dari konsumsi berlebihan buah atau jus yang mengandung asam phospor atau asam sitrat.9,16,17

Abfraksi merupakan proses mekanik yang melibatkan perubahan bentuk gigi dan kelenturan oleh tekanan eksentrik, yang mengakibatkan hilangnya struktur gigi pada daerah servikal dan berkembangnya takik berbentuk V yang menyebabkan struktur gigi menjadi lebih lemah.18 Karies permukaan akar merupakan lesi yang lunak, tidak beraturan, dan progresif yang terjadi pada apikal ke CEJ. Ini disebabkan oleh adanya plak bakteri dan konsumsi gula yang berulang, yang mengakibatkan larutnya mineral dari jaringan kalsifikasi.9,16 Karies permukaan akar mulai terjadi saat hilangnya perlekatan periodontal dan permukaan akar menjadi terpapar dengan lingkungan mulut. Regio dimana karies akar mulai terjadi mungkin berbentuk bulat atau oval, dan dapat dimulai pada satu atau lebih bagian pada gigi. Dari satu regio selanjutnya dapat menyebar disekelilingnya dan bergabung dengan regio karies akar lainnya. Regio ini dapat nampak sebagai daerah outline yang berwarna putih atau diskolorisasi (coklat atau hitam), dengan atau tanpa kavitas pada permukaan akar yang terpapar atau pada margin restorasi yang ada.17 Karies akar lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita. Molar mandibula merupakan gigi yang paling rentan terhadap karies akar, diikuti oleh premolar, caninus, dan incisivus, yang jarang terlibat, urutan ini sebaliknya pada maxilla.19,20 Permukaan facial gigi merupakan yang paling rentan terhadap lesi ini.20 ETIOLOGI KARIES Karies akar mulai terjadi ketika bakteri dan karbohidrat hasil fermentasi melekat pada permukaan akar.

Sejak tahun 1970, penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi mikroflora yang responsif terhadap karies akar,21 dan Streptococcus mutans ditemukan sebagai mikroorganisme utama.22 Lactobacillus dan Actinobacillus dipercaya juga memiliki peranan.23 Candida albicans telah diidentifikasi dalam lesi lunak tetapi tidak dianggap berperan dalam terjadinya lesi ini. Mikroorganisme memetabolisme gula sederhana menjadi asam organik, yang melarutkan plak yang terdapat pada permukaan gigi. Asam ini selanjutnya melewati struktur akar dan memulai proses demineralisasi yang melepaskan ion kalsium dan fosfat. Proses ini menyebabkan pH mencapai nilai kritis 6,4 untuk demineralisasi sementum dan dentin, dan 5,5 untuk demineralisasi enamel.25 Pengaruh dramatik terjadi selama proses ini, dengan kolapsnya kolagen disebabkan oleh larutnya mineral inorganik dan pembentukan kavitas. Kecepatan demineralisasi akar lebih cepat dibanding enamel dan terjadi pada pH yang lebih tinggi, karena kandungan mineral pada akar (55%) lebih sedikit dibanding enamel (99%).26 Remineralisasi dapat ditingkatkan dengan aplikasi fluoride, dan ketika pH permukaan akar telah normal, remineralisasi oleh deposisi ion kalsium dan phospat dapat terjadi. FAKTOR RESIKO Frekuensi dimana terjadinya karies akar dapat berkorelasi dengan karies koronal, dan faktor yang berhubungan dengan karies enamel sangat penting dalam menentukan awal terjadinya karies akar.27 Karies akar telah ditemukan berhubungan dengan faktor intraoral dan ekstraoral, yang disebutkan di bawah ini.9 Pengetahuan mengenai penyebab lesi karies akar akan menyebabkan klinisi membuat diagnosis dan pencegahan yang lebih baik untuk pasien. FAKTOR INTRAORAL KARIES AKAR 1. Rendahnya aliran saliva menghasilkan xerostomia. Kapasitas buffer saliva yang rendah. 2. Oral hygiene yang buruk menghasilkan skor plak yang tinggi dan deposisi kalkulus. 3. Penyakit periodontal dan bedah periodontal. 4. Hilangnya perlekatan dan resesi gingiva. 5. Mikroorganisme yang meningkat dalam saliva. 6. Frekuensi intake karbohidrat dan persentase plak yang terdapat pada permukaan gigi. 7. Karies koronal dan karies akar yang tidak direstorasi dan direstorasi. 8. Gigi penyangga overdenture dan gigi tiruan sebagian lepasan, dimana klamer dan konektor berperan terhadap retensi makanan. 9. Maloklusi, abfraksi, drifting, dan tipping, dimana daerah gigi tidak dapat dijangkau oleh pasien untuk menjaga kebersihan mulut yang baik. FAKTOR EKSTRAORAL 1. Usia lanjut, dimana insidens karies akar tinggi pada dewasa tua. 2. Pemeriksaan gigi yang jarang. 3. Tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. 4. Jenis kelamin, dimana pria lebih cenderung terkena dibanding wanita. 5. Ketidakmampuan fisik (seperti penyakit Parkinsons) dimana pasien memiliki keterbatasan kemampuan manual sehingga menyulitkan pembersihan plak selama menyikat gigi. 6. Obat-obatan yang mengurangi aliran saliva. 7. Diabetes, gangguan autoimun (seperti sindrom Sjogrens), atau terapi radiasi. 8. Antipsikotik, sedatif, barbiturat, dan antihistamin.

9. Paparan terbatas terhadap air yang mengandung fluoride. 10. Pecandu alkohol ataupun narkotika. DIAGNOSIS Kunci keberhasilan prosedur gigi dimulai dengan diagnosis yang tepat yang membuat praktisi menyediakan perawatan dan tindakan pencegahan yang diperlukan pasien. Merupakan tanggung jawab praktisi untuk mencatat riwayat medis yang akurat dan mengingat pemeriksaan intraoral dan faktor resiko eksternal. Pemeriksaan klinis untuk menilai adanya karies akar paling baik dilakukan dengan eksplorer yang dapat mendeteksi perbedaan pada sifat permukaan (misalnya, lunak atau keras) dan kontur permukaan.28 Permukaan gigi harus dibersihkan saat plak menutupi lesi dan lesi mungkin tidak terdiagnosa (gambar 5). Transiluminasi dan penglihatan langsung seharusnya digunakan. Penting untuk diingat bahwa nyeri bukan merupakan keluhan yang sering didapatkan dari pasien dengan karies akar. Radiografi akurat merupakan alat diagnostik yang sangat penting dan seharusnya bebas dari tumpang tindih atau terbakarnya gambar. 29 Bahan khusus dapat berguna untuk mendeteksi karies akar, yang kadangkadang menunjukkan warna yang sama dengan dentin. Bahan ini mewarnai dentin yang terinfeksi dan membolehkan klinisi untuk mendeteksi karies yang tersembunyi. Kamera intraoral dapat menjadi alat yang penting dalam mendidik pasien dan menunjukkan gigi mereka. PENCEGAHAN Pencegahan karies akar memerlukan penilaian dan observasi yang tepat mengenai tingkat resiko karies pada pasien. Tindakan pencegahan yang tepat dengan menghilangkan plak, modifikasi diet, dan penggunaan fluoride topikal22,30 ditunjukkan menghambat lesi karies aktif secara signifikan. Tindakan pencegahan meliputi mendidik pasien dan orang-orang yang menolong mereka untuk menghindari makanan yang mengandung gula, pemeliharaan dengan teknik penyikatan gigi, dan oral hygiene yang tepat, dan mendapatkan cek up gigi yang teratur. Pasien lanjut usia (khususnya dengan kemampuan manual yang terbatas) perlu untuk diajarkan mengenai kontrol plak dengan penggunaan sikat interproksimal atau alat oral hygiene elektrik. Banyak pasien lanjut usia yang dalam pengobatan dengan efek samping antikolinergik. Dokter mereka perlu untuk menasehati pasien mengenai efek samping beberapa obat, sehingga tindakan pencegahan yang diperlukan dapat dilakukan. Klinisi harus memberikan perhatian khusus kepada pasien karies akar yang menggunakan protesa gigi. Ini diperoleh dengan penanganan jaringan lunak yang tepat selama prosedur protesa cekat (misalnya desain, kontur, dan polish) dan menghindari penempatan margin restorasi di koronal jaringan sekitarnya. Untuk menghilangkan akumulasi plak. Untuk protesa lepasan, retainer dan plane seharusnya ditempatkan pada daerah yang mudah dibersihkan yang membolehkan aliran saliva. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, fluoride merupakan agen yang tepat untuk pencegahan karies akar karena mengawali proses remineralisasi dan mengurangi laju demineralisasi.25,31 Terdapat banyak metode untuk menyediakan fluoride. Fluoride dalam air minum menghasilkan peningkatan resistensi terhadap karies akar, dan orang-orang yang tinggal di daerah air berfluoride umumnya kurang cenderung mengalami karies dibandingkan yang tinggal pada daerah yang kekurangan air berfluoride.32 Produk fluoride topikal tersedia dalam obat kumur sodium fluoride 0,05%, obat kumur chlorhexidine 0,12%, dan dalam gel sodium fluoride netral 1,1% menggunakan teknik sendok cetak 5 menit, dengan 4

kali aplikasi setelah 2-4 minggu.31,33 produk lainnya adalah pasta gigi yang mengandung sodium fluoride 1100 ppm,34 permen karet yang berfluoride yang efektif khususnya pada pasien dengan aliran saliva yang rendah dan permen karet yang mengandung xylitol yang menstimulasi aliran saliva dan mengurangi pembentukan plak, walaupun penelitian tidak menunjukkan keefektifannya dalam mencegah karies pada orang dewasa.31 Varnish yang mengandung fluoride juga telah efektif melawan karies akar.22 Aplikasi adesif dentin dapat memiliki pengaruh merugikan pada permukaan akar yang terdemineralisasi.35 PERAWATAN KARIES AKAR Perawatan yang tersedia untuk pasien seharusnya tergantung pada klasifikasi mereka ke dalam kelompok resiko. Tabel 1 menunjukkan tingkat resiko pasien dan pilihan perawatan.3,9,36 Klasifikasi ini dapat membolehkan dokter gigi untuk menggunakan metode yang paling tepat untuk merawat pasien berdasarkan kebutuhan mereka. Strategi perawatan untuk karies akar dipercayakan pada pemeriksaan klinis dan penemuan dan ditentukan oleh ukuran, jenis, perluasan dan lokasi lesi, keperluan estetik dan juga kondisi fisik dan mental pasien. Laju keberhasilan klinis tergantung pada derajat resesi dan kerusakan.37 sejak terpaparnya permukaan akar disebabkan oleh resesi gingiva dapat dihubungkan dengan faktor yang menyebabkan abrasi servikal, karies akar, sensitivitas dan estetik yang tidak diharapkan, graft jaringan lunak dapat merawat keadaan ini secara efektif.38 Lesi karies akar sulit diperbaiki karena lokasinya, yang biasanya terletak pada subgingival. Akses dan isolasi adekuat penting untuk restorasi yang baik. Akses dapat diperoleh dengan penggunaan retraction cord dan klem yang tepat seperti 212, yang menyebabkan perpindahan jaringan lunak dan membuka lesi atau dengan membuat flap kecil. Keputusan untuk menggunakan metode retraksi khusus tergantung pada apakah perluasan lesi ke apikal terletak 2 mm di atas crest alveolar.39 Bila prosedur klinis dilakukan, penanganan yang ekstrim seharusnya dilakukan tanpa mengganggu lebar biologis, jika tidak, maka inflamasi akan terjadi. Preparasi kavitas sebagian besar tergantung pada perluasan lesi. Permukaan sebaiknya dibersihkan dengan pumice bebas fluoride untuk memastikan pengeluaran plak. Lalu jaringan gigi yang mengalami decay diekskavasi, dan dinding restorasi dipreparasi. Desain margin dan retensi tergantung pada bahan restorasi yang digunakan. Dengan beban fungsional in vivo yang minimal pada permukaan akar, retensi yang minimal teapi tetap diperlukan. Ketika amalgam merupakan bahan pilihan, dimana akses dan estetik tidak diperhatikan, groove retensi diperlukan ke oklusal dan di gingiva. Bahan yang digunakan dengan adesif memerlukan bevel pada margini koronal preparasi untuk memberikan retensi mikromekanikal yang lebih baik. Akses dan isolasi yang tepat untuk merawat karies akar adalah sangat penting, dan idealnya melibatkan penggunaan rubber dam jika lesi supragingival.akan tetapi, ini kadang-kadang tidak dapat diperoleh jika lokasi lesi dekat dengan margin gingival atau subgingival. Pada kasus tersebut, metode lain untuk isolasi seperti cotton roll dan retraction cord dapat digunakan. Penanganan harus dilakukan tanpa menggunakan agen hemostatik yang mempengaruhi agen bonding. Jika lesi meluas ke subgingiva dan tidak dapat diobservasi lengkap bahkan dengan penggunaan retraction cord, incisi mungkin diperlukan untuk melengkapi prosedur restorasi. 9

BAHAN RESTORASI Praktisi gigi harus memberikan perawatan berdasarkan kebutuhan pasien dan memahami penyebab penyakit khusus dari penyakit mulut, untuk menyediakan penanganan yang tepat . Hal ini tergantung pada perluasan decay , dan dekatnya lesi pada pulpa dan jaringan lunak, dimana membuat isolasi sulit karena darah, saliva dan cairan permukaan. Terdapat perbedaan bahan restorasi yang tersedia tetapi tidak ada satupun bahan yang menunjukkan karakteristik yang ideal. Tabel 2 menunjukkan bahan restorasi yang digunakan untuk merawat karies akar. Klinisi harus menyesuaikan setiap keadaan restorasi dengan bahan yang paling tepat untuk keadaan tersebut , dipertimbangkan mengenai lokasi, kemampuan akses, margin, dan oral hygiene. an bonding Cukup tinggi Bahan tambalan emas yang dibuat secara langsung, tadinya merupakan bahan pilihan karena kemampuannya untuk memberikan adaptasi marginal yang sangat baik dan kesesuaiannya. Akan tetapi, penggunaan bahan tambalan emas yang dibuat langsung dapat merugikan ketika akses terbatas dan isolasi sulit dilakukan. Sekarang ini, penggunaan klinis bahan ini sangat terbatas karena kemampuan bahan baru dengan sifat yang lebih baik. Amalgam gigi telah tersedia 150 tahun yang lalu, dan telah menjadi bahan pilihan untuk restorasi gigi posterior tidak terlalu besar. Amalgam gigi , suatu bahan yang mudah dimanipulasi, dapat digunakan di daerah yang sulit diisolasi atau dimana margin tertutup dengan sendiri. 40 Akan tetapi, sifat amalgam gigi sensitif terhadap teknik. Lagipula, bahan ini kurang estetis dalam penampilannya, rapuh, tidak mempunyai efek terapeutik, dan tidak dapat melekat pada struktur gigi. Kekurangan selanjutnya dari bahan ini yaitu memerlukan pemotongan struktur gigi sehat di sekitar jaringan karies untuk retensi restorasi yang adekuat. Penggunaan amalgam high-copper, alloy bentuk spheric (bola) dan bebas zink diperlukan pada lesi permukaan akar untuk menjamin kondensasi dan integritas marginal yang adekuat.17 Semen glass-ionomer tradisional memiliki sifat yang diharapkan yakni biokompatibel, mencapai perlekatan kimia dengan enamel dan dentin, dan melepaskan fluoride dalam jangka waktu lama.. Kerugian bahan ini adalah estetiknya yang kurang dan penggunaan yang tidak tahan lama secara in vivo. Penggunaannya menjadi sangat terbatas dengan berkembangnya bahan baru yang menunjukkan sifat yang lebih baik.41 Resin modified glass-ionomer diindikasikan untuk pasien dengan resiko karies tinggi.39 Bahan ini biokompatibel, melekat pada enamel dan dentin, menunjukkan ekspansi dan kontraksi termal yang sesuai dengan struktur gigi, dan memiliki efek antikariogenik dari karakteristik pelepasan fluoride jenis yang sama dengan glass-ionomer. Bahan glass-ionomer merupakan reservoir fluoride dan diketahui dengan baik dapat mengurangi laju karies. Bahan ini juga dapat diisi kembali dengan mengambil ion fluoride dari lingkungan mulut. Bahan glass-ionomer merupakan bahan yang sensitif terhadap teknik dan harus terhindar dari kontaminasi kelembaban untuk sifat yang optimal. Resin modified glassionomer menunjukkan sifat yang dapat diterima secara klinis, dan memiliki estetik yang baik, dan kurang rapuh dibandingkan glass ionomer tradisional.9 Untuk mencapai estetik yang lebih baik secara in vivo, penggunaan teknik sandwich diindikasikan, dimana lapisan liner glass-ionomer pada kavitas yang dipreparasi selanjutnya ditutup dengan lapisan komposit resin hibrid.42

Komposit resin merupakan bahan dengan estetik yang sangat baik, dan melekat pada enamel dan dentin, tetapi tidak memiliki efek antikariogenik ketika produk tradisional tidak mengandung sejumlah fluoride bermakna yang dapat dilepaskan. Komposit hibrid menunjukkan perbaikan kekuatan dan perbaikan estetik dibandingkan dibandingkan dengan resin komposit tradisional. Komposit mikrofilled dapat dipolish tinggi untuk menyediakan kilauan yang sama dengan enamel, dan bahan ini memberikan hasil yang baik pada daerah dengan tekanan yang rendah (Gambar 7, 8a, 8b). Selanjutnya, bahan ini direkomendasikan untuk restorasi permukaan akar, khususnya dengan lesi abfraksi, karena mempunyai modulus elastisitas yang lebih rendah dibanding komposit hibrid. Hal ini penting untuk dipertimbangkan, ketika gigi melentur selama mastikasi dan bahan yang fleksibel akan menjadi pilihan yang lebih baik untuk restorasi permukaan akar.39 Komposit resin merupakan bahan yang sensitif terhadap teknik dan memerlukan isolasi yang baik untuk keberhasilan klinis restorasi. Shrinkage polimerisasi yang berhubungan dengan curing resin komposit merupakan hal lainnya, karena hal ini dapat menghasilkan diskolorasi resin disekitar tepi dan mikroleakage yang memicu terjadinya sensitivitas gigi dan karies sekunder. Penggunaan sistem bonding baru yang dapat menutup tubulus dentinalis dapat meminimalkan efek ini.43 Penempatan bevel pada margin enamel diharapkan memberikan estetik dan retensi yang lebih baik. Resin komposit yang mengandung fluoride hanya melepaskan sejumlah kecil fluoride dan memiliki sedikit kemampuan untuk diisi ulang dari lingkungan mulut. Oleh karena itu, bahan initidak dianjurkan untuk pasien dengan resiko karies yang tinggi, tetapi dapat digunakan ketika estetik dipersoalkan. Kompomer merupakan komposit resin polyacid-modified dan selanjutnya menunjukkan sifat dari glassionomer dan komposit resin. Bahan ini melepaskan fluoride, tetapi lebih luas daripada glass-ionomer, dan bahan ini melekat pada enamel dan dentin. Kompomer dapat digunakan pada daerah yang tekanannya rendah dimana estetik diperlukan.44 Harus dicatat bahwa, dengan penggunaan agen bonding, permukaan dentin yang teretsa harus dikeringkan untuk menghindari kolapsnya jaringan kolagen dengan menempatkan primer hidrofilik dan komponen adesif dari bahan bonding untuk berpenetrasi ke dalam dentin yang teretsa dan di sekitar kolagen untuk membentuk hibrid layer, yang membolehkan bahan resin melekat pada gigi. Pada kasus berat dimana karies mengelilingi permukaan akar, penutupan keseluruhan mungkin merupakan pilihan perawatan.

KESIMPULAN Dengan lebih banyak orang lanjut usia yang mempertahankan gigi asli mereka, kebutuhan untuk memahami sifat dan penyebab lesi permukaan akar adalah sangat penting. Tindakan pencegahan yang meliputi oral hygiene yang baik, kontrol plak, dan terapi fluoride diperlukan sebelum dan sesudah perawatan gigi. Tidak terdapat data umum yang tersedia tentang prevalensi karies akar di kerajaan Arab Saudi, yang membuatnya menjadi daerah yang penting diteliti oleh tenaga kesehatan dan klinisi. Perawatan karies permukaan akar harus seara langsung dilakukan dan disesuaikan dengan kasus individual dengan mengklasifikasikan pasien dalam kelompok resiko untuk mencapai hasil yang maksimum. Penggunaan bahan resin-modified glass ionomer dianjurkan untuk restorasi ini karena sifat kariostatiknya pada pasien dengan resiko karies tinggi.

1.1. Latar Belakang Winda berumur 18 tahun datang ke praktik sore dokter gigi di antar kakanya Talia, dengan keluhan gigi-giginya cacat pada permukaannya, tampk tidak rata dengan warna sedikit kecoklatan pada beberapa gigi depannya. Gigi depan pasien tampak berjejal, dan ada juga yang berlubang. Winda juga mengeluh gigi kanan atasnya terasa tajam dekat gusi. Pada pemeriksaan intra oral gigingivanya terlihat adanya pigmentasi dan plak. Air liurnya sedikit sehingga pasien merasa mulutnya dan bibirnya kering. Winda ingin menanyakan ke dokter giginya apakah giginya bisa menjadi normal lagi. Sedangkan Talia mengeluhkan gigi kanan bawahnya tidak berlubang tapi terasa ngilu.

1.2. Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan macam-macam kelainan jaringan keras gigi 2. Menjelaskan etiologi berbagai macam kelainan jaringan keras gigi 3. Menjelaskan diagnosis (pemeriksaan penunjang serta interpretasinya), prognosis, dan rencana perawatan dari berbagai macam kelainan jaringan keras gigi 4. Menjelaskan gambaran radiografis berserta interpretasinya dari berbagai macam kelainan jaringan keras gigi 5. Menjelaskan bahan tumpatan sementara dan bahan restorasi plastis yang sesuai dengan indikasi 6. Menjelaskan rasa nyeri pulpa dentinal kompleks akibat kelainan jaringan keras gigi

BAB II PEMBAHASAN

I.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI BERDASARKAN JUMLAH GIGI

Kelainan jumlah gigi ini merupakan suatu kelainan yang terjadi pada tahap perkembangan dan pertumbuhan gigi. Kelainan ini menyebabkan abnormalnya oklusi dan bentuk lengkung gigi. Kelainan tersebut antara lain adalah sebagai berikut. 2. Hyperdontia Etiologi Kelainan ini merupakan hasil pertumbuhan dental lamina yang berlebih namun teratur akibat penyebab yang belum diketahui, namun lebih cenderung akibat familial atau keturunan yang bersifat autosomal resesif. Biasanya gigi tambahan berbentuk conical (supernumerary teeth) dan jarang sekali berbentuk seperti gigi normal (supplemental teeth). Hyperdontia terjadi pada penderita sindrom cleidocrania dysplasia, yaitu banyaknya gigi tambahan yang berkembang namun gagal erupsi. Hyperdontia ini dapat terjadi di antara central incisor maxila (mesiodens), pada area molar (parateeth), bagian distal molar 3 (distodenso/distomolar), dan sisi buccal atau lingual pada rahang (peridens). Hyperdontia juga terjadi pada beberapa pasien yang menderita berbagai syndrome, seperti cleidocranial dysplasia dan Gardners syndrome. Gambaran Klinis Hyperdontia dialami sekitar 1-4% pada suatu populasi. Kelainan ini dapat terjadi pada kedua masa dentition, namun lebih cenderung permanen. Risiko kelainan ini lebih besar terjadi pada pria, bangsa Asia dan Amerika. Gigi-gigi tambahan ini biasanya tidak erupsi, tetapi terlihat pada radiograf. Gambaran Radiografis
White SC, Pharoah MJ. Oral Radiology Principles and Interpretation. 5th ed. St. Louis. Mosby. 2004

Prognosis dan Pengendalian Pengendalian hyperdontia bergantung pada beberapa faktor, meliputi efek potensial dari gigi tambahan tersebut untuk erupsi normal, posisi dan jumlahnya, dan komplikasi setelah dilakukan intervensi surgical. Hal tersebut dapat menyebabkan resorption akar atau perubahan urutan erupsi. Folikel dari gigi tambahan yang tidak erupsi dapat berkembang menjadi dentigerous cysts. Oleh karena itu, tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan ekstraksi gigi tambahan tersebut. Faktor-faktor tersebut di ataslah yang menentukan diperlukan atau tidaknya ekstraksi atau tetap dalam observasi.

3. Hypodontia / Anodontia Etiologi Anodontia ini dapat berupa hilangnya satu atau beberapa gigi (hypadontia), hilangnya banyak gigi (oligodontia), dan gagalnya semua gigi untuk berkembang (anodontia). Gigi yang hilang merupakan akibat dari beberapa mekanisme patologis yang berdampak pada urutan formasi dental lamina (contoh: orofaciodigital syndrome), gagalnya benih gigi untuk berkembang, kurangnya ruang akibat rahang yang malformed, dan kelainan genetik mengenai disproporsi antara jumlah gigi dan bentuk rahang. Gambaran Klinis Hypodontia terjadi pada dentition permanen, kecuali molar 3, terjadi sekitar 3-10% dari populasi. Hypodontia banyak ditemukan juga pada bangsa Asia dan Amerika. Gigi yang biasanya hilang adalah molar 3, premolar 2, central incisive maxila dan mandibula. Anodontia atau oligodontia sering terjadi pada pasien dengan ectodermal dysplasia. Hal tersebut merupakan akibat dari hilangnya kurang lebih dua struktur ectodermal, seperti kelenjar keringat, rambut, kulit, kuku, dan gigi. Gambaran radiografik Prognosis dan Pengendalian Hilangnya gigi, maloklusi, atau kelainan tampak fasial dapat menyebabkan gangguan psikologis pada pasien. Apabila hypodontia yang terjadi pada level sedang, maka perubahan yang diharapkan dapat dilakukan dengan perawatan orthodonti. Pada beberapa kasus, tindakan restorasi, implant, dan prosedur prostotik dapat dilakukan.

II.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI BERDASARKAN BENTUK

1. Makrodontia Definisi Makrodonsia merupakan keadaan dimana gigi memiliki ukuran lebih besar dari normal. Sedangkan, makrodontia relative adalah keadaan dimana gigi normal tumbuh pada rahang yang

ukurannya kecil. Makrodontia jarang menyerang seluruh gigi, biasanya hanya satu atau beberapa gigi saja.

Gambaran klinis Tanda klinis makrodontia adalah gigi tampak lebih besar dari normal dan mengalami perubahan bentuk. Makrodontia juga dapat berkaitan dengan crowding, impaksi dan malkoklusi.

Gambaran radiografis

Penanganan Sebagian banyak kasus makrodontia tidak perlu penangangan khusus, kecuali apabila makrodontia telah menggangu fungsi oklusi, perlu adanya perawatan orthodontik.

2. Mikrodontia Definisi Mikrodontia adalah keadaan dimana ukuran gigi lebih kecil daripada normal. Mikrodontia jarang terjadi pada seluruh gigi kecuali pada dwarfism, biasanya hanya menyerang beberapa gigi. Supranumerary teeth biasanya merupakan gigi mikrodontia.

Gambaran klinis Ukuran lebih kecil dari normal dan biasanya memiliki perubahan bentuk. Salah satu contoh perubahan bentuk adalah pada gigi molar yang memiliki 5 cusp, apabila mikrodontia hanya memiliki 4 cusp.

Gambaran radiografis

Penanganan Mikrodontia bisa diatasi dengan penanganan restorative atau prostodontik melalui pembuatan protesa. Penanganan ini dilakukan khususmya apabila bertujuan untuk memperbaiki estetika pada gigi anterior.

III.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI BERDASARKAN MORFOLOGI

1. Odontoma Merupakan tumor odontogenik yang terbentuk akibat abnormalitas proliferasi (tahap bud) dari sel-sel enamel organ. Odontoma harus segera dihilangkan (operasi) sebelum hal tersebut dapat mengganggu proses erupsi gigi di area tempat odontoma berada. Keberadaan odontoma biasanya disertai dengan dysphagia, disebut dengan sindrom odontoma-dysphagia (hipertrofi otot polos esophagus).

2. Fusi Fusi adalah penyatuan antara dua gigi dari dua benih yang berbeda dan berkembang secara terpisah yang disebabkan oleh trauma, baik pada gigi sulung maupun permanen. Kelainan fusi hampir selalu hanya terjadi pada gigi anterior. Fusi juga bisa terjadi pada kasus gigi supernumerary. Dari gambaran radiografi, dapat terlihat bahwa kedalaman fusi hanya terjadi sebatas crown dan roots, sehingga gigi-gigi yang berfusi tetap memiliki pulp chamber dan pulp canals yang terpisah. Panjang fusi bisa hanya sebatas crown dan bisa juga sepanjang gigi. Garis perfusian di crown gigi bisa menjadi tempat berkembangnya dental karies. Apabila terdapat gigi I1 maxilla tunggal pada gigi sulung ataupun permanen, pada awalnya akan terlihat sebagai kelainan fusi. Namun apabila I1 maxila tunggal tersebut berada persis di tengah midline dan simetris bentuk dan ukuran mahkota hingga akarnya, kemungkinan besar kasus ini termasuk ke dalam sundrom solitary median I1 maxila. Kondisi ini bisa menjadi indikasi anomali/kelainan lain pada perkembangan midline otak dan struktur lainnya yang disebabkan oleh mutasi pada gen SHH (sonic hedgehoh), SIX3, dll. 3. Geminasi Geminasi menampilkan gigi-gigi yang terbentuk dari satu benih dan berusaha untuk terpisah namun pada akhirnya tidak terpisah sepenuhnya. Secara klinis, kelainan geminasi akan telihat dua crown dengan satu akar. Crown dari gigi-gigi tergeminasi akan tampak lebih lebar dari ukuran normal dengan groove dangkal dan memanjang dari insisal edge hingga region servikal

gigi anterior. Gambaran radiografi dari geminasi akan memperlihatkan perubahan bentuk jaringan keras dan ruang pulpa. Ruang pulpa akan terlihat besar dan terbelah sebagian. Berikut ini klasifikasi geminasi menurut Aquilo L et al : Tipe I Crown bifid, akar satu Tipe II Crown besar, akar satu Tipe III Dua crown berfusi, akar satu Tipe IV Dua crown berfusi, dua akar berfusi

Apabila dalam kasus geminasi terdapat dentin yang terekspos, maka perlu dilakukan preparasi. Formasi dentin sekunder dan resesi pulpa akan mengikuti judicial periodic reduction dari ukuran crown. Apabila gigi yang mengalami geminasi berukuran besar dan malformasi, kemungkinan diperlukan pemusnahan gigi, perawatan saluran akar yang dilanjutkan dengan pembuatan postcrown.

4. Dens Invaginatus / Dens in Dente Dens in dente adalah kasus dimana terdapat gigi di dalam gigi. Kasus ini bisa di diagnosis dengan gambaran radiografi. Dens in dente bisa terjadi pada gigi sulung dan permanen, serta paling sering terjadi pada gigi I2 maxila. Kelainan ini di deskripsikan dengan adanya invaginasi pada lingual enamel, maka kondisi dens in dente biasanya ditandai dengan adanya pit yang dalam pada lingual I2 maxila. Gigi dengan kelainan dens in dente umumnya memiliki bentuk dan ukuran yang normal, namun bisa juga terlihat adanya kelainan pada penampakannya. Berdasarkan lokasinya, dens in dente dapat diklasifikasikan menjadi : a. Coronal terbentuk dengan melibatkan enamel organ-dental papila b. Radicular terbentuk dengan invaginasi HERS Perawatan yang dianjurkan dalam mengatasi dens in dente ini adalah pemakaian sealant atau restorasi pada area terbuka invaginasi. Hal ini dapat mencegah keterlibatan pulpa dalam kelainan ini. Untuk kasus dens in dente melibatkan pulpa, dapat dilakukan perawatan endodontik. Apabila kelainan telah terdeteksi sebelum gigi erupsi sempurna, bisa dilakukan penghilangan jaringan gingiva untuk memfasilitasi preparasi kavitas dan restorasi. Gambaran radiografi dens in dente terlihat sebagai loop radiopaque berbentuk buah pir dengan densitas sama dengan densitas enamel menyerupai gigi di dalam gigi.

5. Dens evaginatus Dikenal dengan sebutan central tubercle atau Leongs premolar, bentuknya menyerupai cusp (cusp tambahan), terletak di sentral groove. Dens evaginatus terjadi akibat proliferasi dan evaginasi inner epitelium dan dental papilla di bawahnya ke enamel organ pada saat tahap awal perkembangan gigi. Keberadaan cusp tambahan ini dapat menyebabkan ketidakharmonisan oklusi, atrisi, fraktur yang dapat menimbulkan tereksposnya pulpa, dan bisa juga menimbulkan abses periapikal. Biasanya kelainan ini terjadi di premolar permanen mandibular. Menurut Leviten ME dan Himal VT tedapat beberapa tipe dens evaginatus untuk gigi posterior berdasarkan lokasinya : a. Perbesaran lingual cusp, menyerupai kerucut b. Tubercle pada area inklinasi lingual cusp c. Perbesaran buccal cusp, menyerupai kerucut d. Tubercle pada area inklinasi buccal cusp e. Tubercle di permukaan oklusal, melintang pada central groove

Gambaran radiografi dari dens evaginasi akan memperlihatkan dentin core yang terlapisi oleh enamel. Tindakan yang dianjurkan untuk menangani kelainan ini adalah grinding dan pulp capping. Namun, apabila kelainan sudah mempengaruhi pulpa, maka perlu dilakukan perawatan endodontik.

6. Concrescence Concresence adalah kelainan dimana terjadi fusi pada akar-akar gigi yang bersebelahan yang disebabkan oleh trauma atau overcrowding. Sering terjadi pada gigi M2 dan M3 maxila, serta pada gigi supernumerary. Perfusian yang terjadi menyebabkan sementum dari kedua gigi menyatu. Kelainan ini bisa terjadi sebelum atau setelah erupsi. Tindakan yang dianjurkan dalam menangani kelainan ini adalah ekstraksi atau surgical sectioning pada gigi yang berfusi. 7. Dilaceration Merupakan gangguan pada pembentukan gigi akibat trauma mekanis / herediter / kista / tumor di daerah yang telah terkalsifikasi pada gigi yang baru terbentuk sebagian, sehingga terdapat lengkungan atau lipatan tajam yang abnormal. Kelainan ini bisa terjadi pada area gigi manapun,

namun paling sering terjadi di akar. Dilacreation sering terjadi pada I maxilla permanen dan jarang terjadi pada gigi sulung. Apabila terjadi pada gigi sulung, gigi yang mengalami kelainan akan mengalami erupsi gigi permanen yang tertunda. Kelainan ini dapat didiagnosis dengan gambaran radiografi. Tindakan yang bisa dilakukan adalah perawatan saluran akar dan ekstraksi, namun keduanya akan sangat sulit. Dalam proses ekstraksi seringkali ditemukan kasus patahnya akar. Untuk mendiagnosis kelainan ini, diperlukan gambaran radiografi periapikal. Gambaran akan menampakan akar yang dilacerates di mesial atau di distal. 8. Talon cusp Talon cusp merupakan kelainan dimana terdapat cusp tambahan berbentuk V pada area lingual atau palatal gigi. Cusp tambahan yang terbentuk pada kelainan ini memiliki dentin normal, enamel, dan pulp horn. Talon cusp terbentuk akibat kompresi benih gigi I2 diantara I1 dan C dalam tahap morfodiferensiasi, sehingga menyebabkan outlanding dental lamina, yang kemudian menyebabkan talon cusp. Kelainan ini paling sering terjadi pada gigi permanen, terutama I2. Apablia pada gigi sulung, lebih sering terjadi di I1. Kelainan ini disebabkan oleh hiperplasia cingulum. Berikut ini adalah klasifikasi talon cusp menurut Ongle R dan Praveen BN : Tipe I (Talon mayor) Cusp terbentuk dengan. Ukurannya minimal setengah jarak CEJ-insisal edge. Tipe II (Talon minor) Margin cusp terbentuk baik. Ukurannya lebih dari tapi kurang dari CEJ-insisal edge Tipe III (Trace talon) Berupa cingulum yang membesar. Ukurannya kurang dari CEJinsisal edge

Kelainan talon cusp dapat menyebabkan interferensi oklusal, peningkatkan risiko karies, dan permasalahan estetika. Selain itu bisa didapati kesuitan bicara, iritasi lidah, dan penyakit periodontal. Talon cusp ini bisa dihilangkan dengan melakukan selective grinding secara periodic.

Gambaran radiografi dari talon cusp akan terlihat radiopaque dimana enamel, dentin, dan pulpa dapat terlihat. Walaupun begitu, pulp horn tidak dapat terlihat. Talon cusp juga akan terlihat superimposed dengan crown gigi inangnya.

9. Taurodontisme Turodontisme atau bull teeth adalah kelainan pembesaran gigi disertai dengan pembesaran ruang pulpa melebihi ukuran normal dan terdapat perpindahan apikal. Terjadi pada gigi multiakar (terutama M1) dan biasanya pada gigi permanen. Berikut ini adalah beberapa etiopatogenesis dari taurodontisme : a. Faktor retrograde b. Primitive Pattern c. Sifat resesif mandibular d. Atavisme e. Mutasi akibat defisiensi odontoblast saat dentinogenesis akar Gambaran radiografi pada taurodontisme akan menampilkan pulp chamber yang memanjang dan akar pendek.

10. Enamel pearl / Enameloma Merupakan sekumpulan kecil massa enamel (diameter 1-3mm) yang bisa muncul di area akar. Massa enamel tersebut bisa mengandung sedikit dentin dan pulpa. Kelainan ini biasanya terjadi pada gigi molar maxilla di area bifurkasi atau trifurkasi. Klasifikasi enamel pearl (Darwazeh dan Hamsha) : a. True enamel pearl Keseluruhannya enamel b. Composite enamel (enamel dentin) pearl Terdapat tubular dentin c. Enamel dentin pulp pearl Terdapat pulp horn Pada gambaran radiografi, enamel pearl akan terlihat halus, bulat, dan memiliki radiopacity yang sama dengan enamel yang melapisi crown. Enamel pearl pada CEJ harus dihilangkan, untuk menghindari kerusakan jaringan periodontal. Selain itu, penderita harus memperhatikan oral hygiene.

11. Supernumerary roots Merupakan kelainan dimana terdapat pertambahan jumlah akar yang disebabkan oleh gangguan pada epitel Hertwings akar di saat pembentukan gigi. Sering terjadi di M3, C manndibula, dan P. Kelainan ini bisa terjadi pada gigi sulung ataupun permanen.

12. Cusp of carabeli Merupakan kelainan berupa cusp asesori yang terletak di mesiopalatal M maxilla. Paling sering ditemukan pada M1 namun bisa juga ditemukan pada M lainnya. Cusp of carabelli bisa muncul pada gigi sulung ataupun permanen.

IV.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI NON KARIES

1. Abrasi Etiologi Abrasi adalah suatu keadaan reduksi gigi non-fisiologis yang diakibatkan karena masuknya material luar ke dalam rongga mulut dan berkontak dengan permukaan gigi. Beberapa material luar tersebut adalah : Makanan yang mengandung material kasar, berpasir, keras dan sebagainya yang terjadi pada saat mastikasi Teknik menggunakan Sikat gigi, dental floss yang salah dan penggunaan pasta gigi yang abrasif pada saat membersihkan gigi Kebiasaan buruk, misalnya menggigit pulpen, menahan pipa rokok dengan gigi Penggunaan tusuk gigi yang terlalu bertenaga pada gigi yang saling bersebelahan. Ataupun berbagai alat yang menggunakan kemampuan gigi yang untuk dapat berfungsi. Misalnya : membuka tutup botol, membuka jepit rambut dengan gigi. Pada orang yang berusia muda memiliki tingkat abrasi yang lebih sedikit karena kontak gigi dengan material luar tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang memiliki umur yang lebih tua. Gambaran mikroskopis :

Permukaan yang mengalami abrasi menunjukan adanya goresan, beberapa pit, dan tanda-tanda lainnya. Biasanya goresan tersebut tersusun parallel karena material abrasive tersebut hanya datang melalui satu arah saat melewati permukaan gigi. Panjang, kedalaman, dan lebar dari goresan tersebut tergantung daripada material abrasive tersebut.

Gambaran Klinis: Secara umum : o Biasanya terdapat di bagian servikal gigi bagian bukal o Lesi cenderung melebar daripada dalam o Gigi yang sering terkena adalah gigi P dan C Akibat teknik menggunakan sikat gigi yang salah o Merupakan tipe abrasi yang paling sering terjadi, biasanya karena gerakan sikat gigi yang salah dan tekanan yang terlalu besar o Membentuk groove berbentuk V antara mahkota dan gingival ke daerah servikal gigi. (wedged shaped) o Daerah abrasi yang biasanya paling parah terjadi di CEJ pada permukaan labial dan bukal (secara berurut) premolar, caninus, dan insisiv rahang atas. o Pada orang yang menggunakan tangan kanan, lesi biasanya lebih terlihat di sisi kiri, begitu pula sebaliknya. o Defek pada kamar pulpa jarang terjadi karena sudah terbentuk dentin sekunder. Akibat penggunaan dental floss yang salah o Biasanya berada di daerah servikal dari permukaan proksimal diatas gingival Gambaran radiografis : Gambaran permukaan gigi yang terkena abrasi tampak radiolusen terutama di bagian servikal gigi permukaan interproksimal. Pada gigi yang mengalami abrasi karena penggunaan dental floss yang salah, groove radiolucent lebih banyak terlihat di bagian mesial daripada distal, karena lebih mudah menambah tekanan kea rah depan daripada kearah belakang.

Rencana perawatan : Mengubah kebiasaan buruk yang menggunakan gigi untuk tujuan yang salah. Mengubah dan memperbaiki teknik menyikat gigi dan penggunaan dental floss yang baik. Jika, gigi sudah mengalam abrasi yang cukup parah, maka bisa dilakukan restorasi. Pencegahan : Menyikat gigi dan menggunakan dental floss dengan benar. Tidak menggunakan pasta gigi yang bersifat abrasive. Sebisa mungkin menggunakan gigi sesuai fungsi dan perannya. Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.

Tambahan : Abrasi berbeda dengan atrisi karena abrasi tidak membuat permukaan gigi menjadi bulat atau menumpulkan cusps atau memotong edges. Permukaan gigi akan tetap memiliki pit yang dimana pada bagian dentin akan lebih dalam. Namun, dentin yang terkena abrasi ini tidak menimbulkan rasa ngilu dikarenakan adanya smear layer yang melapisi tubulus dentin. Smear layer dihasilkan karena adanya tindakan mekanis karena material luar tersebut.

2. Atrisi Etiologi : Atrisi adalah suatu kelainan jaringan keras gigi secara fisiologis karena kontak antara gigi dengan gigi (tooth to tooth contact) ; tanpa adanya pengaruh dari makanan ataupun material asing lainnya; atau karena adanya kelainan fungsi/ parafunction. Tingkat atrisi bergantung pada : Makanan faktor saliva mineralisasi gigi, Usia (semakin tua akan lebih cepat terkena atrisi) emotional tension.

Penyebaran atrisi dipengaruhi oleh tipe oklusi, geometri sistem stomatognatik (sistem yang menggabungkan sistem-sistem yang berada dalam rongga mulut, seperti mastikasi, bicara, oklusi, artikulasi dan sebagainya) serta karakeristik pengunyahan dari masing-masing individu

Atrisi dapat juga terjadi karena kelainan fungsi/parafunction, salah satunya adalah bruxism. Bruxism adalah kebiasaan mengertakan dan menggesekan gigi antara rahang atas dan bawah. Hal ini terjadi pada saat tidur dan tidak disadari.

Gambaran mikroskopis : Terdapat goresan-goresan parallel dengan satu arah pada permukaan yang datar dan ada batas pada setiap seginya.

Gambaran klinis : Biasanya terlihat pada permukaan kunyah seperti insisal, oklusal, dan proksimal. Biasanya menyebabkan permukaan melengkung sampai rata, mahkotanya memendek dan permukaan enamel oklusal/ insisal menghilang. Menyebabkan tepi enamel menjadi tajam Pada gigi anterior, ujung insisal tampak melebar Pada gigi posterior, bagian yang mengalami atrisi terutama adalah cusp. Pada gigi rahang atas, yang paling mudah terkena atrisi adalah cusp lingual, sementara pada gigi rahang bawah adalah cusp bukal. Jika sudah terkena dentin, warna menjadi kekuning-kuningan serta terbuka. Pada atrisi patologis (bruxism, maloklusi, bentuk gigi, dll), keausan batas (facet) meluas lebih cepat dibandingkan atris karena fisiologis. Gambaran radiografis : Terjadi penebalan di lamina dura Biasanya pada bagian mahkota gigi mengalami keausan atau bahkan hilang.

Rencana Perawatan : Untuk atrisi yang disebabkan karena bruxism, maka dapat menggunakan bidang gigit (bite plane) pada waktu tidur untuk mencegah terkikisnya gigi. Apabila atrisi yang terjadi tidak terlalu mengganggu dan tidak mengurangi fungsi semestinya maka tidak diperlukan perawatan khusus. Apabila atrisi yang terjadi sudah mengganggu estetik serta fungsi, maka dapat dilakukan perawatan degan bahan tambala tau pembuatan crown. Pencegahan : Memperbanyak konsumsi makanan berfluoride yang mampu memperkuat permukaan gigi.

3. Erosi Etiologi : Erosi adalah kelainan jaringan keras gigi karena adanya kontak berulang kali dalam jangka waktu yang lama terhadap larutan asam atau larutan kimia tanpa melibatkan bakteri. (terjadi demineralisasi gigi karena bahan kimia). Sumber asam tersebut dapat berasal dari : Faktor ekstrinsik = o Konsumsi makanan asam, buah asam atau minuman berkarbonasi dalam jumlah besar. Misalnya : lemon o Konsumsi obat yang bersifat asam Faktor instrinsik = o Muntah kronis atau refluks asam dari kelainan gastrointestinal Lokasi erosi, pola daerah yang tererosi dan penampakan lesi dapat ditentukan dari sumber/asal dekaslifikasi tersebut. Misalnya pada erosi yang disebabkan karena muntah maka daerah yang biasanya terserang adalah permukaan lingual gigi maksila (terutama gigi anterior), sedangkan pada erosi yang disebabkan karena konsumsi makan-makanan akan menyerang permukaan labial/bukal.

Gambaran klinis : Umumnya berupa lesi halus, terdapat depresi mengkilap di permukaan enamel yang terletak di dekat gingival.

Erosi dapat menyebabkan kehilangan enamel dalam jumlah yang besar sehingga dapat menimbulkan noda berwarna pink di seluruh enamel yang tersisa. Tidak ada lagi enamel ridges yang tajam karena smuanya sudah membulat Permukaan enamel bisa menjadi konkaf hingga dentin terkena.

Gambaran radiografis : Terlihat radiolusen pada bagian yang mengalami erosi

Rencanan perawatan : Apabila penyebabnya ada muntah kronis, maka diberikan obat kumur berfluoride untuk sehariharinya Jika tidak diketahui apa penyebabnya dan permukaan gigi sudah tidak baik lagi serta tidak berfungsi dengan normal, maka bisa dilakukan restorasi agar tidak merusak pulpa dan fungsi gigi tidak terhambat. Pencegahan : Meminimalisasi makan makanan yang asam serta minum minuman berkarbon Menggunakan obat kumur ataupun pasta gigi berfluorida.

4. Abfraksi Etiologi : Abfraksi adalah suatu kelainan jaringan keras gigi yang dikarenakan adanya tenaga (compression dan tension) yang berlebihan pada permukaan oklusal sehingga menyebabkan adanya

mikrofaktur pada permukaan bukal dan lingual. Daerah gigi tersebut membelok pada servikal margin dan dapat menyebabkan kerusakan progresif terhadap jaringan gigi yang rapuh. Apabila cusp tetap berada dibawah tekanan saat awal maupun akhir siklus mastikasi, maka kemungkinan akan terjadi fleksur atau kompresi yang akan menyebabkan dislokasi dentin atau enamel pada titik rotasi.

Gambaran klinis : Secara klinis, dapat dilihat adanya kehilangan jaringan keras gigi berupa V pada 1/3 servikal gigi.

V.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI KARIES D3

Lesi enamel terjadi saat pH permukaan gigi berada di bawah batas imbang remineralisasi Ion-ion asam masuk ke dalam selubung prisma yang menyebabkan demineralisasi subpermukaan Permukaan gigi dapat tetap terjaga karena segera terjadi remineralisasi, akibat peningkatan ion kalsium dan fosfat, flouride, dan buffer dari produk-produk saliva. Ciri-ciri klinis dari karies D3 adalah :

a) Translusensi pada enamel menghilang, ditandai adanya bercak putih seperti kapur jika dalam kondisi kering b) Lapisan permukaan gigi rapuh dan rentan terhadap kerusakan pada saat pemeriksaan (probing), khusunya pada pit dan fissure c) Meningkatnya daya serap (porositas), khususnya pada subpermukaan, yang bersamaan dengan meningkatnya potensial terjadinya bercak d) Kepadatan subpermukaan berkurang, yang dapat dideteksi secara radiografis atau dengan translumination e) Potensial remineralisasi, dengan meningkatnya resistensi untuk serangan asam lebih lanjut dengan penggunaan perawatan peningkatan remineralisasi

Perawatan Karies D3 Site 1-Size 0 (1.0) Lesi ini merupakan lesi paling awal =, terjadi pada permulaan demineralisasi, dan hanya dibutuhkan perawatan non-invasif seperti diet atau perubahan kebiasaan pasien. Site 1- Size 1 (1.1) Identifikasi lesi jenis ini akan terlihat pada fissure permukaan oklusal gigi posterior, pits pada lingual gigi anterior atas, permukaan bukal molar bawah serta lingual extension pada distal oklusal groove molar atas. Lesi erosi dan atrisi pada permukaan oklusal posterior dan incisal edge gigi anterior termasuk didalamnya saat lesi itu cukup extensive untuk mendapatkan restorasi.

Biasanya terjadi pada : Fissure oklusal dari gigi posterior. Biasanya ditemukan kelainan bentuk dari enamel pada bagian cingulum pit pada bagian lingual dari anterior mandibula dan bagian lateral atas dari bukal pit pada molar mandibula. Terdapat pula pada tepi insisal gigi anterior mandibula dan maksila. Jika preparasi menggunakan amalgam, dibutuhkan cengkraman yang kuat untuk memungkinkan terjadinya adhesi yang baik. Untuk karies oklusal (Size 2,3 atau 4) dengan tambalan amalgam, permukaan dari oklusal gigi akan sebagian dihilangkan (fissurenya) karena amalgam tidak memungkinkan restorasi pada daerah sepanjang fissure. Tidak perlu dipreparasi. Keadaan ini hanya memerlukan sealant sebagai proses restorasi minimal dengan menggunakan GIC atau resin komposit. Mekanisme preparasi fissure Pembersihan fissure dari gigi yang telah ada erupsi selama satu atau dua tahun sangat sulit dan tidak mungkin dilakukan. Namun, untuk orang dewasa yang memiliki gigi dengan fiisure yang dalam, telah ditemukan cara untuk membersihkan fissure dari giginya yang telah tahunan berada dilingkungan mulutnya walaupun akan melibatkan sedikit dari enamel sekitar fis sure tersebut. Dalam pelaksanaannya digunakan instrument seperti diamond stones

(merupakan metode yang efektif), carbide tungsten bur kecil, laser atau abrasi udara. Karena preparasinya dilakukan pada bagian enamel, maka tidak diperlukan anastesi. Setelah preparasi dilakukan, diberikan sealant untuk mencegah terjadinya karies pada fissure enamel yang telah dibersihkan.

Resin Sealants Ada banyak material digunakan untuk fissure sealant yang dapat mencegah perkembangan karies aktif mulai dari silver nitrat sampai laser. Walaupun demikian, resin komposit menjadi sealant yang paling popular selama bertahun-tahun dan sekarang glassionomer juga menjadi pilihan. Tujuan pemakaian resin adalah untuk mengalirkan resin ke kedalaman fissure untuk menutupnya dengan sempurna sehingga mencegah masuknya bakteri dan plak di kemudian hari. Kegagalan dapat muncul karena sealant tidak memiliki antibacterial, sehingga terdapat kemungkinan inisiasi bakteri terutama jika resin dilekatkan namun tidak diseal.

Glass Ionomer Glass ionomer merupakan proteksi yang sangat efektif untuk fissure meskipun pembuktiannya belum bertahun-tahun seperti resin komposit. Meskipun cement lepas, aktivitas karies berkurang karena kandungan fluoride pada cement diserap oleh enamel.

VI.

KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI KARIES D4 Menurut ICDAS (International Caries Detection and Assessment System), karies D4

adalah karies yang hampir menyerang dentin (mencapai DEJ). Dalam klasifikasi Mount, decay 4 sama dengan size 2. Sedangkan letak lokasi terjadinya karies dalam kasus tersebut yaitu di daerah oklusal dan permukaan halus (gigi anterior), klasifikasi yang sesuai dengan Mount adalah site 1. Sehingga, kasus karies yang terjadi dalam kasus D4 adalah karies site 1 dan size 2 Permukaan lesi akan kolaps akibat terurainya apatit atau fraktur pada kristal yang sudah melemah, hal ini terjadi bila demineralisasi dan remineralisasi berlanjut dan demineralisasi lebih besar dibandingkan remineralisasi, berakibat terbentuknya kavitas pada permukaan. Plak kemudian dapat tertahan pada kedalaman kavitas, dan fase remineralisasi kemudian akan menjadi lebih sulit dan kurang efektif. Kompleks pulpa dan dentin lalu lebih terlibat secara aktif. Ketika bakteri telah masuk melalui email ke dalam dentin, dan menjadi penghuni permanen kavitas, mereka dapat berkembang di dalam dentin. Tekstur dentin akan berubah, demikian pula dengan warna dentin akan berubah menjadi gelap akibat produk-produk bakteri atau stain dari makanan dan minuman. Selain didukung oleh substrat karbohidrat, bakteri juga memproduksi asam, untuk menguraikan hidroksiapatit di dentin yang lebih dalam. \ Zona-zona pada lesi karies dentin ada dua, yaitu zona terinfeksi (lapisan luar) dan zona yang lebih dalam (pulpa) tapi masih terpengaruh. Zona terinfeksi memiliki level kontaminasi bakteri yang tinggi, hancurnya struktur tubular dentin (baik separuh maupun sebagian), dan hilangnya sensitivitas dentin. Zona yang lebih dalam (pulpa) masih memiliki mineral yang cukup untuk mempertahankan struktur tubular dentin dan sensitivitasnya, walaupun sebagian mineral telah hilang. Demineralisasi dapat pula terjadi di permukaan akar, dan terdapat perbedaan-perbedaan dengan demineralisasi di email. Perawatan Karies D4 Karies Site 1- Size 2 (1.2)

Pada size 2, karies sedikit melibatkan dentin. Tetapi masih menyisakan enamel yang disokong dengan baik oleh dentin. Sehingga masih dapat beroklusi dengan normal. Gigi yang mengalami karies site 1 size 2 memiliki struktur gigi yang masih tersisa cukup kuat untuk menyokong restorasi. Preparasi Bisa jadi merupakan kavitas baru dimana karies telah berkembang dengan jarak tertentu sebelum pasien melakukan pengobatan. Umumnya hanya satu bagian fissure yang terlibat dan fissure lainnya dapat tertutup dan tidak mengalami eksplorasi lebih lanjut. Digunakan tungsten corcarbide bur pada ultra high speed untuk menghilangkan restorasi lama namun tetap berhati-hati agar kavitas tidak meluas lebih dari seharusnya.Tapered atau parallel sided diamond cylinder pada intermediate high speed dengan air/water spray untuk mengeksplor sejauh mana masalah. Small round burs digunakan untuk memindahkan karies dari dinding kavitas, tetapi penghilangan semua affected dentin dari dasar tidak dianjurkan. Base glass ionomer akan menyediakan support dan usaha untuk melapisi enamel. Enamel bagian oklusal sebaiknya tetap dipertahankan, bisa dilakukan dengan mempertahankan bagian margin. Restorasi dengan menggunakan GIC akan dapat membantu proses remineralisasi enamel.

Restorasi Materi terbaik untuk digunakan pada keadaan ini adalah GIC dan bisa dilapisi resin komposit jika beban oklusalnya terlalu banyak. Penggunaan GIC tidak perlu diberikan sublining karena sudah cukup biokompatibel. GIC biasa digunakan dibawah bahan resin untuk merestorasi kavitas. Untuk mendapatkan kekuatan yang sempurna dari autocure semen, campur powder dan liquid dengan rasio yang tinggi. Setelah bahan tambal siap, masukkan bahan tambal dengan menggunakan syringe dimulai pada bagian dasar kavitas. Jika ingin menggunakan resin, sebaiknya digunakan dulu GIC pada bagian dasar kavitas. Penggunaan resin sangat rentan akan terjadinya mikroleage karena sifatnya yang mudah berporus. Pengkombinasian bahan tambal ini sangat berguna untuk menghasilkan bentuk restorasi yang lebih baik sesuai dengan anatomi aslinya, mencegah mikroporus pada penggunaan resin dan menghasilkan restorasi yang kuat. Langkah-langkahnya :

Gunakan modern high strength autocure GIC yang akan dengan cepat mengeras pada bagian lantai kavitas. Gunakan round bur dengan kecepatan rendah (low speed) sebanyak 2-3 mm pada bagian sekitar margin untuk menyediakan tempat untuk resin komposit. Bersihkan enamel bagian margin dari GIC, kemudian posh dan bevel bagian tepinya. Etsa bagian enamel dan dentin selama 15 detik. Cuci dan keringkan gigi tersebut. Gunakan bahan bonding yang sesuai, kemudian tutup lagi dengan resin komposit. Setelah sudah dilakukan proses light curing, cek oklusinya kemudian poles dengan menggunakan pemoles resin komposit.

VII.

MEKANISME RASA NYERI PULPO-DENTINAL KOMPLEKS AKIBAT KELAINAN JARINGAN KERAS GIGI Mekanisme Rasa Sakit Pada Dentin tiga teori yang menjelaskan tentang mekanisme rasa sakit pada dentin,yaitu: 2. Neural Theory

Dentin mengandung nerve yang akan berespon jika dentin terstimulasi (neural theory): didalam tubule dentin terdapat saraf yang berpenetrasi kedalam dentin (intertubular nerve). Walaupun terdapat beberapa saraf dalam dentin, tetapi dentin sensitivitynya tidak diakibatkan oleh adanya saraf intertubular tersebut melainkan nerve ending ini berfungsi untuk mengontrol aktifitas odontoblas dibandingkan untuk mengontrol enviromental change.

3. Odontoblastic transduction theory odontoblast merupakan puncak awal pembentukan saraf maka dispekulasikan bahwa odontoblast dapat mentransduksikan dan mempropagasi impuls. Namun, hal ini terbantahkan karena membran potensial dari odontoblas terlalu rendah untuk dapat memicu transduksi impuls. 4. Hydrodinamic theory

dikemukakan oleh Brannstorm dan merupakan teori yang lebih dapat diterima untuk menjelaskan trasmisi rangsangan pada hipersensitivitas dentin. teori hidrodinamika rangsangan yang menyebabkan rasa sakit diteruskan ke pulpa dalam suatu mekanisme hidrodinamik yaitu pergerakan cairan (outward or inward) secara cepat pada tubulus dentin. Gerakan cairan ini akan mengubah bentuk odontoblas atau prosesusnya sehingga dapat mengaktifkan nociceptors (reseptor rasa sakit) yang mempersarafi tubulus dentin, sehingga menimbulkan persepsi rasa sakit. Selain itu, pergerakan dari cairan di dalam tubulus dentin menyebabkan gangguan pada pulpa. Gangguan ini dapat dideteksi oleh free nerve ending di tubulus atau di plexus saraf Raschkow, yang menimbulkan rasa sakit. Berbagai keadaan dapat merangsang terjadinya hipersensitivitas dentin misalnya dehidrasi dentin, panas, dingin, pengeboran, serta osmotic stimuli (larutan hipertonik gula/manis). Rangsangan yang ditimbulkan berbeda bergantung pada seberapa besar stimuli dan kepekaan reseptor. Namun reaksi yang ditimbulkan adalah sama yaitu rasa sakit. Penjelasan yang hampir sama tentang teori hidrodinamika juga dikemukakan oleh Markowitz dan Syngcuk. Dikemukakan bahwa melalui dentin yang terbuka tekanan hidrodinamika akan menyebabkan kerusakan dan odontoblas. Adanya hembusan udara atau karena perbedaan tekanan, maka sel-sel odontoblas yang rusak atau mediator lain seperti prostaglandin masuk ke dalam tubulus dentin bersama-sama dengan cairan tubulus dentin yang berasal dari cairan pulpa. Sel-sel ini akan merangsang ujung saraf yang terletak dekat dengan pulpa dan akan menimbulkan rasa sakit atau ngilu. Jika rongga dentin terbuka maka cairan tersebut akan menekan keluar dengan kuat dan menyebabkan kehilangan banyak cairan. Perubahan tekanan itulah yang akan ditangkap oleh pleksus raschkow sebagai stimulus rasa sakit unutk diteruskan ke otak melalui saraf afferent.

Reaksi Pertahanan Pulpa-Dentin Kompleks Pulp-dentine complex memiliki kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari pulpal injury. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan pulpal injury, diantaranya:

o o o

Dental caries (bacteria toxin) Mechanical stimuli (trauma, fraktur gigi, preparasi kavitas, dan tooth wear) Chemical stimuli ( makanan yang mengandung asam, toxic dental restorative material, dan dehidrasi pada dentin yang terjadi saat preparasi kavitas)

Thermal shocks ( panas yang berlebihan yang ditimbulkan dari penggunaan instrumen yang tidak hati-hati saat preparasi kavitas, perubahan temperatur dari makanan panas atau dingin yang dihantarkan ke dentin melalui metal restoration) pertahanannya pulp dentine kompleks sangat bergantung pada ada atau tidaknya vital

pulpa. 3 reaksi pertahanan : 2. Tubular sclerosis suatu proses mengendapnya mineral di dalam lumina pada dentinal tubules dan (diibaratkan sebagai perpanjangan dari mekanisme normal pembentukan peritubular dentin). Responnya, yang bergantung pada vital odontoblast, pada umumnya terlihat di bagian tepi dari lesi karies di dentin. Tubular sclerosis mengakibatkan area yang terpengaruh olehnya menjadi lebih homogen secara struktur sehingga terbentuk translucent zone (menggambarkan peningkatan mineral). Tubular sclerosis bersifat protektif karena dapat menurunkan permeabilitas jaringan yang dapat menghambat penetrasi dari asam dan bacterial toxin. 3. Reactionary dentine Reactionary dentine atau reparative dentine suatu lapisan dentin yang terbentuk di perbatasan antara dentin dan pulpa. terbentuk sebagai respon dari stimulus yang terjadi secara lebih jauh di bagian tepi, sehingga distribusinya hanya terbatas pada area di bawah stimulus. Regular reactionary dentine sebagai respon terhadap stimulus sedang. Namun dengan meningkatnya kekuatan stimulus, ini menyebabkan terjadinya kerusakan pada odontoblast dan dysplasia pada reactionary dentin yang dibentuk. Stimulus yang sangat berlebihan dapat menyebabkan kematian odontoblast, dan sebagai dampaknya, tidak ada reactionary dentin yang terbentuk. Namun, terkadang sel-sel lain di pulpa berdiferensiasi membentuk atubular calcified material.

Suplai darah ke pulpa memiliki peran penting dalam pembentukan reactionary dentine. Reactionary dentine tidak akan terbentuk jika suplai darah buruk dan pada gigi yang masih muda akan lebih cepat/mudah terbentuk dibandingkan dengan gigi yang sudah tua. Saat terbentuk, reactionary dentine menyediakan perlindungan ekstra pada odontoblast dan sel-sel lain pada pulpa dengan meningkatkan jarak antara mereka dengan injurious stimulus. 4. Inflammation of the pulp Respon dasar dari seluruh jaringan penghubung vascular terhadap luka. Inflamasi pada pulpa pulpitis (akut atau kronik). Durasi dan intensitas dari stimulus mempengaruhi tipe respon : o Stimulus yang bermutu rendah (low-grade) dan yang berlangsung lebih lama mengakibatkan inflamasi kronik. stimulus yang tiba-tiba dan hebat/keras dapat menimbulkan pulpitis akut. Pada lesi karies dentin yang berlangsung lambat, stimuli yang menuju ke pulpa adalah bacterial toxins, thermal dan osmotic shock . Respon yang terjadi pada low-grade stimuli adalah inflamasi kronik. Ini dapat diatasi dengan mengangkat dentin yang terinfeksi yang bertindak sebagai irritant dan mengisi kavitas dengan bahan restorasi. Namun, jika proses karies terus berlangsung, organisme tersebut dapat mencapai pulpa dan membentuk carious exposure sehingga terjadilah inflamasi akut. Reaksi inflamasi memiliki dua komponen, yaitu komponen vascular dan komponen selular. Perbedaan inflamasi kronik dan akut: o Kronik komponen selular terdiri dari limfosit, plasma sel, monosit, dan macrofag di jaringan seiring waktu, sel-sel ini akan meningkatkan produksi kolagen yang mengarah pada fibrosis. reaksi inflmasi kronik ini tidak akan membahayakan vitalitas gigi o Akut terjadi emigrasi dari neutrofil terjadi perubahan pada vascular, yaitu dilatasi pembuluh darah, aliran darah yang semakin

cepat,dan fluid exudate semua faktor tersebut meningkatkan ketegangan jaringan

VIII.

RESTORASI SEMENTARA Fungsi:

Melindungi dentin dan pulpa dari panas dan zat kimia, serta iritasi mekanik yang dapat menyebabkan hipersensitivitas Mencegah terjadinya gigi drifting Proteks idan support bagi gingival Meningkatkan fungsi estetik Proteksi margin gigi yang telah dipreparasi Restorasi sementara terbagi atas tiga, yaitu:

2. Interim Restoration dilakukan saat gigi yang rusak telah dipreparasi dan perlu dilakukan pertemuan kedua untuk melakukan finishing restoration. Syarat: Harus mudah dipasang dan dilepaskan tanpa merusak preparasi Melindungi kavitas dari kerusakan selama periode interim 3. Provisional Restoration Digunakan sebagai bahan diagnostic saat mengubah oklusi (menambah atau mengurangi dimensi vertikan) atau mengubah bentuk dan ukuran gigi Digunakan sebagai bahan diagnostic untuk evaluasi jaringan lunak atau respon gigi ketika: Perawatan periodontal sedang berlangsung atau telah selesai Gigi mempunyai prognosis berupa: gigi yang tersisa sangat sedikit; pocket yang dalam, dan; mobilitas yang berlebih Kelebihan: o Dapat dimodifikasi kapanpun o Menstimulasi/mempengaruhi bentukr estorasi akhir o Preparasi gigi sesuai bentuk kavitas yang diinginkan 4. Intermediate Restoration Digunakan saat waktu untuk melakukan perawatan sangat minim dan kenyamanan pasien serta perlindungan gigi sangatlah penting Dilakukan pada gigi yang rusak akibat karies ataupun trauma Dapat bertahan selama periode jangka pendek Tidak memerlukan preparasi gigi yang berarti Indikasi:

o Terdapat karies rampan o Tingkat kesehatan gingival rendah o Waktu melakukan perawatan sangat minim o Kenyamanan pasien diperhitungkan o Pasien sedang dalam tahap emergency o Ketika fungsi estetis sangat kritikal, misalnya fraktur pada gigi anterior sehingga perlu dilakukan restorasi sementara

Gutta-percha Berasal dari tumbuhan Brazillian tree (Palaquium) Composition :

1. Matrix-gutta-percha 20% (Organic) 2. Filler-zinc oxide 66% (Inorganic) 3. Radioopacifiers-heavy metal sulfates 4. 11% (Inorganic) 3% (Organic) 5. Plasticizers-waxes or resins

Keuntungan :

1. Compactability (adaptable to preparation walls) 2. Inertness 3. Dimensionally stable 4. Tissue tolerance 5. Radiopacity ( easily recognizable 6. Plasticity when Kerugian : by pressure 1. Lack of ridgitity 2. Easily displaced 3. Lacks adhesive quality heated on radiograph ) it according to preparation walls helps to mould

Zinc Oxide Eugenol Semen oksida dan seng eugenol adalah suatu semen tipe sedative yang lembut. Biasanya disediakan dalam bentuk bubuk dan cair, dan berguna untuk basis insulatif (penghambat). Bahan ini juga sering digunakan untuk balutan sementara. PH-nya mendekati 7 yang membuatnya menjadi salah satu semen dental yang paling sedikit mengiritasi. Kelebihan:

Memiliki efek paling aktif pada pulpa Melindungi pulpa Tingkat kebocoran mikronya minimal Mempunyai daya ikat yang baik Walaupun digunakan untuk jangka pendek, ZOE mempunyai durabilitas yang cukup lama sebagai tumpatan sementara Kekuatannya cukup rendah sehingga dapat dilepas dengan mudah tanpa merusak gigi atau pun restorasi itus endiri

Kekurangan:

Sulit dimanipulasi di dalam mulut Eugenol mempunyai potensi iritan sehingga menyebabkan rasa terbakar dan tidak nyaman yang ditinggalkan dalam mulut Tidak tahan terhadap oklusi yang berat Komposisi :

a. Powder Powder Zinc oxide (ZnO)-69.0% White rosin-29.3% Zinc stearate-1.0% Zinc acetate (acts as accelerator)-0.7% b. Liquid

85.0% Olive oil-15.0% Glass-ionomer cement Memiliki macam variasi : Sebagai restorasi sementara selama endodontic therapy Digunakan pada kasus yang membutuhkan temporization jangka panjang

Eugenol-

GIC sendiri atau di atas basis IRM akan memberikan segel yang unggul terhadap penetrasi S. mutans

IX.

RESTORASI GIC Terdapat beberapa material restoratif yang dapat digunakan dalam disiplin dari operatif

kedokteran gigi dan tidak ada yang digunakan secara universal. Hal ini karena setiap material memiliki kelebihan, kekurangan, dan keterbatasannya masing-masing. Salah satu material yang biasa digunakan adalah GIC. Glass Ionomer Cement (GIC) adalah bahan tumpatan restoratif sewarna gigi dan termasuk dalam bahan restorasi plastis. GIC merupakan water based cement yang terbentuk dari reaksi asam-basa antara bubuk calcium flouroaluminosillicate glass dengan larutan poliasam. Bubuk calcium fluoroaluminosillicate glass memiliki komponen utama berupa silica (SiO2), alumina (Al2O3), dan kalsium fluoride (CaF2). Larutan poliasam yang digunakan pada GIC adalah polycarboxylate copolymer. Terdapat beberapa indikasi dalam penggunaan GIC, yaitu: 1. Restorasi gigi susu 2. Restorasi kelas I yang kecil seperti karies interproksimal dan cacat pada permukaan akar 3. Restorasi kelas III dan V 4. Gigi anterior 5. Pit and Fissure sealant 6. Pada gigi mahkota yang telah mengalami kerusakan parah, GIC yang diperkuat dengan semen dapat membangun inti mahkota pada gigi tersebut

7. Perawatan segera untuk pasien yang mengalami trauma fraktur 8. Sebagai bahan luting pada pasien dengan frekuensi karies tinggi dan pasien dengan resesi gingival yang memerlukan kekuatan dan aktivitas kariostatik 9. Pembuatan pasak yang sekurang-kurangnya 50% dari struktur mahkota gigi tersisa sehingga dapat dijadikan sebagai dukungan. (sandwich technique). Teknik sandwich menggunakan GIC sebagai pengganti dentin dan komposit sebagai pengganti email. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan dari Glass Ionomer Cement (GIC): No. 1. Kelebihan Tidak perlu di etsa untuk berikatan dengan Dapat email dan dentin anatomis Kekurangan mengalami yang kehilangan lebih bentuk signifikan

dibandingkan tumpatan lain 2. 3. Dapat berperan sebagai fluoride reservoir Tidak mengalami penyusutan Harus diaplikasikan dalam lingkungan kering

akibat Restorasi mudah mengalami dehidrasi/aus, terutama pada awal penumpatan karena merupakan water based material.

polimerisasi

4.

Memiliki

kestabilan

dimensi

pada Tidak disarankan untuk digunakan pada gigi

permukaan yang lembab, seperti pada yang menerima beban kunyah besar seperti lingkungan intraoral 5 6. Sewarna dengan gigi Biokompatibel gigi molar Resistensi terhadap fraktur rendah Laju aliran saliva yang rendah dapat

membuat restorasi mengalami dehidrasi/aus dan disintegrasi 7. 8. Translusen Mempunyai kekerasan yang cukup untuk menahan abrasi 9. 10. Flow yang tinggi Bioaktif, sehingga memungkinkan untuk terjadinya pertukaran ion kalsium,

strontium, fosfat dengan permukaan gigi

X.

RESTORASI AMALGAM

Indikasi Penggunaan: Pada posterior yang mempunyai beban kunyah paling besar.

Kelebihan: Bahan tambal yang paling kuat (sejauh ini) dalam melawan tekanan kunyah, sehingga dapat bertahan dalam jangka yang sangat lama di dalam mulut Ketahanan terhadap keausan sangat tinggi Biaya relatif murah Teknik penumpatan relatif simple dan mudah serta tidak technique sensitive seperti resin komposit

Kekurangan: Perlekatan dengan jaringan dentin gigi secara makromekanik seperti retentionand resistence form serta undercut tidak dapat melekat secara kimia Prinsipretention and resistance form pada lesi karies interproksimal akan mengangkat jaringan gigi yang sehat selain jaringan karies. Pada kavitas kelas II dengan isthmus dan garis sudut bagian dalam yang lebar akan menyebabkan kekuatan terhadap beban kunyah sehingga sering terjadi fraktur baik pada tumpatan MO (mesial-oklusal), DO (distal-oklusal), dan MOD (mesialoklusal-distal) Kurang baik secara estetis karena warnanya yang tidak sewarna dengan gigi sehingga tidak bisa digunakan untuk tumpatan gigi anterior Terkadang tepi-tepi tambalan yang berbatasan langsung dengan gigi dapat menyebabkan gigi berubah warna menjadi kehitaman Tidak cocok untuk pasien dengan alergi metal Toksisitas dengan amalgam masih diperdebatkan, karena adanya kandungan merkuri di dalamnya

Clinical failure adalah saat dimana restorasi sudah tidak bisa digunakan lagi atau bisa menimbulkan beberapa risiko jika tidak diganti. Clinical failure dari amalgam meliputi: Restorasi fraktur dalam jumlah besar

Korosi dan marginal fracture yang besar Sensitivitas atau rasa sakit Karies sekunder Fraktur pada struktur gigi membuat dinding preparasi restorative gigi

Banyak clinical failure dari restorasi amalgam terjadi karena beberapa kombinasi dari elektro-kimia korosi dan tegangan mekanik. Kombinasi tersebut menghasilkan kerusakan marginal secara terus menerus yang membuat kondisi lebih sering mengalami kegagalan dan terjadi karies sekunder. Permukaan luar amalgam harus halus. Hal ini akan menghambat formasi dari celah untuk mengalami elektro-kimia korosi atau untuk konsentrasi tegangan selama proses mekanis. Peraturan umum mengenai mengukir amalgam adalah untuk hanya menghasilkan permukaan dan lekuk yang halus. Detil mengenai anatomi gigi, yang dapat diukir pada permukaan amalgam, biasanya lebih merupakan aspek ketahanan daripada keuntungan estetik.

XI.

RESTORASI RESIN KOMPOSIT Resin komposit adalah bahan tambal sewarna gigi, dengan bahan dasar polimer dan

ditambahkan dengan partikel anorganik sebagai penguat. Bahan tambal ini umumnya mengalami reaksi pengerasan dengan bantuan sinar (sinar UV, atau bisa juga dengan visible light). Resin komposittersusun atas matriks resin anorganik (bispheno-A-glicidyl-mathacrylate), bahan pengisi filler anorganik minimal 60% (quartz, silica, glass) dan coupling agent (silance). Resin komposit termasuk golongan adhesive restorative material. TYPE All-Purpose Composite Microfilled Composite Condensable Kelas I, II, dan VI (mesial, occlusal, distal) Kelas III dan V PENGGUNAAN Kelas I, II, III, IV, V low carries patients

Composite

Flowable composite cervical lesions, pediatric restoration, small low-stress-bearing restorations.

Laboratory Composite Kelas II, three-units bridge (with fiber reinforcement)

Resin komposit yang digunakan pada penambalan gigi posterior mempunyai keuntungan estetik yang baik, restorasi sewarna gigi, konduktivitas suhu yang rendah, tidak bersifat toksik karena tidak mengandung merkuri atau galvanism, dan dapat menguatkan struktur gigi. Selain itu dapat juga menyebabkan pengerutan sewaktu polimerisasi, membutuhkan waktu yang lama pada penambalan restorasi, mieroleakage, sensitif setelah penempatan, dan keausan pada permukaan oklusal.

Kelebihan

Resin komposit hasil akhirnya sangat menyerupai gigi asli sehingga bagus secara estetika. Karena kelebihannya ini, resin komposit adalah bahan tambal yang paling sering digunakan dalam cosmetic dentistry.

Warna resin komposit dapat disesuaikan dengan keadaan gigi pasien, karena resin komposit memiliki beberapa pilihan warna.

Kekurangan :

Benar benar membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dokter gigi untuk mendapatkan hasil memuaskan dan tahan lama. Jika tidak, tambalan dapat mudah lepas/patah, berubah warna, atau terlihat batas antara tepi tambalan dengan gigi sehingga mengurangi estetika.

Pada saat penambalan diperlukan suasana mulut yang cukup kering karena kontaminasi saliva dapat mempengaruhi sifat-sifat jangka panjang dari resin komposit, seperti kekuatan dan daya tahannya. Oleh sebab itu gigi yang akan ditambal resin komposit idealnya harus benar-benar diisolasi, dan hal ini cukup sulit dilakukan terutama pada gigi belakang dan mungkin menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien.

Dapat terjadi karies sekunder di bawah tambalan yang mungkin disebabkan karena kebocoran tambalan sehingga bakteri dapat berpenetrasi ke jaringan gigi dan kembali menyebabkan karies.

Resin komposit dapat menyerap warna dari zat pewarna dari makanan atau minuman sehingga dalam jangku waktu lama dapat berubah warna.

Indikasi dan konraindikasi Berikut adalah syarat penting untuk penempatan resin : 1. Ikatan terbaik adalah pada email di sekitar margin 2. Kavitas harus diisolasi dari kontaminasi 3. Kavitas harus dapat dicapai oleh light activator untuk polimerisasi yang tepat 4. Kontraindikasi termasuk pasien dengan excessive wear dan bruxism

BAB III PENUTUP Kesimpulan Winda mengalami amelogenesis imperfekta, oleh karena itu Winda memerlukan restorasi dengan resin komposit. Talia mengalami abfraksi, oleh karena itu Talia memerlukan tindakan grinding untuk mengurangi compression dan menumpat lesinya dengan RMGIC

PENGERTIAN Karies adalah suatu penyakit jaringan keras gigi (email, dentin dzn sementum) yang bersifat kronik progresif dan disebabkan aktifitas jasad renik dalam karbohidrat yang dapat diragikan. Ditandai dengan demineralisasi jaringan keras dan diikuti kerusakan zat organiknya. ETIOLOGI Faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya karies yaitu: Bakteri Sifat kariogenik ini berkaitan dengan kemampuan untuk:

Membentuk asam dari substrat (asidogenik) Menghasilkan kondisi dengan pH rendah

FAKTOR PRESDIPOSISI Mallenby menyatakan bahwa hipoplasia enamel merupakan faktor presdisposisi perkembangan karies gigi dan akan memperberat gigi yang mengalami karies. Konsumsi makanan bergizi dan kebiasaan makan juga mempunyai peran besar karena sering ditemukan insidens karies yang berbeda pada populasi dengan konsumsi makanan yang berbeda. Kandungan bahan makanan merupakan faktor yang bertanggung jawab atas perbedaan pembentukan karies antara manusia primitif dan manusia modern. Makanan manusia primitif umumnya berserat tinggi, dapat membersihkan gigi selagi dikunyah, sedangkan manusia sekarang banyak mengkonsumsi makanan berserat rendah. Kandungan vitamin juga dilaporkan berperan pada proses karies. Defisiensi vitamin A menyebabkan gangguan pembentukan gigi pada binatang dan mungkin juga manusia, walaupun data-data yang mendukung hal ini masih kurang. Mungkin vitamin D paling berperan dalam pembentukan gigi. Kelainan gigi seperti malformasi, dan hipoplasi enamel disebabkan defisiensi vitamin D. Kandungan mineral, seperti Ca danP, berperan dalam pembentukan karies gigi walaupun masih banyak pendapat yang menentang. PATOFISIOLOGI Terdapat tiga teori mengenai terjadinya karies, yaitu teori asidogenik (teori kemoparasiter Miller), teori proteolitik, dan teori proteolisis kelasi. 4. Teori Asidogenik Miller (1882) menyatakan bahwa kerusakan gigi adalah adalah proses kemoparasiter yang terdiri atas dua tahap, yaitu dekalsifikasi email sehingga terjadi kerusakan total email dan dekalsifikasi dentin pada tahap awal diikuti oleh pelarutan residunya yang telah melunak. Asam yang dihasilkan oleh bakteri asidogenik dalam proses fermentasi karbohidrat dapat mendekalsifikasi dentin, menurut teori ini, karbohidrat, mikroorganisme, asam, dan plak gigi berperan dalam proses pembentukan karies. 5. Teori Proteolitik Gottlieb (1944) mempostulasikan bahwa karies merupakan suatu prose proteolisis bahan-bahan organik dalam jaringan keras gigi oleh produk bakteri. Dalam teori ini dikatakan mikroorganisme menginvasi jalan organik seperti lamela email dan sarung batang email (enamel rod sheath), serta merusak bagian-bagian organik ini. Proteolisis juga disertai pembentukan asam. Pigmentasi kuning merupakan ciri karies yang disebabkan produksi pigmen

oleh bakteri proteolitik. Teori proteolitik ini menjelaskan terjadinya karies dentin dengan email yang masih baik. Manley dan Hardwick (1951) menggabungkan teori proteolitik dan teori asidogenik . Menurut mereka teori-teori tersebut dapat berjalan sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Teori ini menyatakan bahwa bakteri-bakteri dapat membentuk asam dari substrat karbohidrat, dan bakteri tertentu dapat merusak protein jika tidak ada karbohidrat, karena itu terdapat dua tipe lesi karies. Pada tipe I, bakteri menginvasi lamela email, menyerang email dan dentin sebelum tampak adanya gejala klinis karies. Tipe II, tidak ada lamela email, hanya terdapat perubahan pada email sebelum terjadi invasi mikroorganisme. Perubahan email ini terjadi akibat dekalsifikasi email oleh asam yang dibentuk oleh bakteri dalam plak gigi diatas email. Lesi awal ini disebut juga calky aanamel. 6. Teori Proteolisis Kelasi Teori ini diformulasikan oleh Schatz (1955). Kelasi adalah suatu pembentukan kompleks logam melalui ikatan kovalen koordinat yang menghasilkan suatu kelat. Teori ini menyatakan bahwa serangan bakteri pada email dimulai oleh mikroorganisme yang keratinolitik dan terdiri atas perusakan protein serta komponen organik email lainnya, terutama keratin. Ini menyebabkan pembentukan zat-zat yang dapat membentuk kelat dan larut dengan komponen mineral gigi sehingga terjadi dekalsifikasi email pada pH netral atau basa. MANIFESTASI KLINIS Gambaran klinis karies email yaitu: 3. Lesi dini atau lesi bercak putih/coklat (karies insipien) 4. Lesi lanjut (lesi yang telah mengalami kavitasi) Gejala paling dini karies email secara makroskopik adalah suatu bercak putih. Bercak ini jelas terlihat pada gigi cabutan yang kering yang tampak sebagai suatu lesi kecil., opak dan merupakan daerah berwarna putih, terletak sedikit kearah serviks dan titik kontak. Warna tampak berbeda dibandingkan email di sekitarnya yang masih sehat. Pada tahap ini, deteksi dengan sonde tidak dapat dilakukan karena email yang mengelilinginya masih keras dan mengkilap. Kadang-kadang lesi tampak coklat karena materi yang terserap kedalam poriporinya. Baik bercak putih maupun coklat bisa bertahan bertahun-tahun lamanya karena perkembangan lesi tersebut dapat dicegah. Jika lesi email sempat berkembang, permukaan yang semula utuh akan pecah (kavitasi) dan akan terbentuk lubang (kavitas). Pada saat pemeriksaan diperlukan pencahayaan yang baik. Gigi harus bersih dan kering, sehingga kotoran dan karang gigi harus dibersihkan dahulu. Gigi yang sudah kering harus diisolasi dengan gulungan kapas sehingga tidak basah oleh saliva. Gigi harus betul-betul kering dan pengeringan biasanya dengan penyemprotan secara perlahan-lahan. Untuk menemukan tanda awal karies diperlukan penglihatan yang tajam. Biasanya pemeriksaan dilakukan dengan sonde tajam sampai terasa menyangkut. Sebaiknya hal ini jangan dilakukan karena sonde tajam akan merusak lesi karies yang masih baru dan bakteri akan terbawa dalam lesi sehingga kariesnya menyebar PEMERIKSAAN PENUNJANG Radiograf bite wing diperlukan dalam menegakkan diagnosis. Pada tehnik ini sinar diarahkan tegak lurus terhadap sumbu gigi dan menyinggung titik kontak. Film diletakkan di sebelah lingual gigi posterior.

Pasien menahan posisi tersebut dengan menggigit pegangan filmnya. Tiap daerah yang mungkin diserang karies harus dinilai secara tersendiri. DIAGNOSIS Berdasarkan pola klinisnya, Nikiforuk membagi karies menjadi 3 golongan yaitu menurut morfologi, dinamika, dan keparahan. Yang termasuk golongan morfologis adalah karies pit dan fisur, karies permukaan halus, karies akar atau karies sementum, dan karies email linear. Karies pit dan fisur tipe primer terbentuk di permukaan oklusal molar dan premolar, permukaan bukal dan lingual molar dan permukaan lingual insisivus maksila. Pit dan fisur yang berdinding tinggi dan terjal, serta berdasar sempit paling rentan terhadap karies, Pit dan fisur kadang dianggap kelainan perkembangan, terutama karena email pada tempat yang dalam sering sangat tipis, bahkan terkadang tidak ada, sehingga dentin terpapar, Pit dan fisur pada proses awal karies tampak coklat atau hitam, terasa agak lembut. Email yang berbatasan denagan pit dan fisur tersebut, mungkin terlihat opak putih kebiruan karena proses dibawahnya. Proses ini terjadi melalui penyebaran lateral karies pada batas dentin dan email, sehingga dapat terbentuk lubang yang besar dibawah email. Karies permukaan halus timbul pada permukaan proksimal gigi dan sepertiga gingival permukaan bukal dan lingual. Karies ini jarang timbul pada bagian lain, kecuali pada gigi yang malformasi atau malposisi. Karies ini biasanya diawali dengan pembentukan plak. Karies proksimal biasanya timbul tepat dibawah titik kontak dan awalnya tampak opaksitas putih samar pada email tanpa diskontinuitas permukaan email. Pada beberapa kasus dapat tampak sebagai daerah berpigmentasi kuning atau coklat dan berbatas tegas. Tempat putih kapur ini kemudian menjadi agak kasar karena dekalsifikasi superfisial. Dengan penetrasi karies ke email, email disekitar lesi menjadi putih kebiruan. Karies yang cepat menyebar umumnya mempunyai tempat penetrasi kecil, sedang yang lambat biasanya membentuk lubang terbuka yang dangkal. Karies servikal terdapat pada permukaan bukal, lingual, atau labial. Lesi karies servikal adalah kavitas berbentuk bulan sabit, bermula sebagai daerah putih agak kasar kemudian berlubang. Karies ini hampir selalu berupa lubang terbuka dan tidak menunjukkan titik penetrasi sempit seperti pada karies pit dan fisur. Karies ini tidak mempunyai predileksi pada gigi tertentu. Hal penting pada proses perkembangan karies di email adalah perembesan asam kedalam substansinya. Secara klinis tahapan tersebut dibagi menjadi beberapa fase, yaitu lesi dini, remineralisasi, dan kavitasi. Lesi karies email berbentuk kerucut dengan puncak dipermukaan luar pada daerah pit dan fisur, sedangkan pada karies permukaan halus, puncak kerucut mengarah kebatas dentin-email (dentinoenamel junction). Menurut Feyersjkov, bentuk ini mengikuti arah prisma email. Penelitian histologi menunjukkan bahwa karies tidak hanya proses demineralisasi yang progresif, tetapi juga suatu proses perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Dengan menggunakan mikroskop cahaya, radiografi mokro, dan mikroskop elektron transmisi, remineralisasi dapat didefinisikan sebagai suatu penempatan mineral anorganik di daerah yang sebelumya telah kehilangan mineral tersebut. Karies gigi diwarnai oleh periode perusakan dan perbaikan. Untungnya gigi terbenam dalam saliva, yaitu cairan yang berpotensi menimbulkan remineralisasi. Namun jika terjadi kavitasi, remineralisasi tak dapat menambal lubangnya. Jika lesi berkembang terus, zona permukaan akhirnya akan pecah dan

membentuk kavitas, sehingga sekarang plak akan terbentuk dalam kavitas dan terlindung dari usaha pembersihan seperti menyikat gigi. Karena itu suatu lesi yang telah mengalami kavitasi berkembang lebih cepat, dapat terhenti walaupun masih menetap, dan mengalami remineralisasi sebagian. Hal ini terutama bila terjadi perubahan diet, mokroorganisme yang kariogenik mengalami kekurangan substrat yang dibutuhkan, atau lesi berada pada permukaan yang mudah dibersihkan. Seperti halnya karies yang terjadi di email, perubahan awal bukan disebabkan oleh bakteri, tetapi akibat difusi asam kedalam jaringan. Sekali email telah berhasil dipenetrasi oleh bakteri, maka dentin akan terbuka bagi serangan bakteri secara langsung. Manifestasi paling awal karies email insipien adalah timbulnya area dekalsifikasi dibawah plak gigi yang mirip dengan permukaan kapur yang licin. Karies rampan adalah kerusakan beberapa gigi secara cepat dan sering melibatkan permukaan gigi yang biasanya bebas karies, terutama dijumpai pada gigi susu bayi yang selalu menghisap dot bergula, juga dapat dijumpai pada remaja yang sering makan kudapan kariogenik dan minuman manis, serta pada penderita xerostomia. Karies terhenti adalah suatu lesi yang tidak berkembang. Dijumpai jika lingkungan oral berubah dari yang memungkinkan timbul karies menjadi keadaan yang cenderung menghentikan karies. Berdasarkan keparahan atau kecepatan berkembangnya, karies dikatakan ringan bila terkena pada daerah yang sangat rentan, misalnya permukaan oklusal gigi molar permanen, dikatakan moderat bila terkena pada permukaan oklusal dan proksimal gigi posterior, dan dikatakan parah jika menyerang gigi anterir, daerah yang biasanya bebas karies. Karies bisa juga digolongkan berdasarkan kronologi, yaitu karies susu botol dan karies adolesens. Juga terdapat klasifikasi secara klinis yang membagi karies menjadi karies akut dan kronis. PENATALAKSANAAN Setelah diagnosis karies ditegakkan, maka ada dua cara pendekatan yang mungkin ditempuh yaitu:

Menggunakan usaha preventif untuk mencoba menghentikan penyakit Membuang jaringan yang rusak dan menggantikannya dengan restorasi disertai usaha pencegahan terhadap rekurensinya.

Kedua pendekatan diatas dipertimbangkan berdasarkan informasi diagnostik yang diperoleh. Usahausaha pencegahan yang dilakukan berkaitan dengan peran karbohidrat diantaranya adalah:

Menurunkan konsumsi sukrosa Mengubah bentuk fisik makanan yang dikonsumsi, misalnya dengan menghindari makanan yang lengket Tidak lupa pula dengan cara pencegahan lain yang bersifat umum seperti Kebiasaan menggosok gigi secara tepat dan benar tentang tata cara dan secara konsisten atau teratur Selalu memeriksakan kesehatan gigi setidak-tidaknya tiap 6 bulan sekali

Diagnosis, Pencegahan, dan Peraawatan Karies Akar Perhatian dan permasalahan mengenai karies akar telah meningkat pada dekade terakhir ini. Hal ini menjadi suatu tantangan klinis saat ini, seiring dengan semakin meningkatnya jumlah individu lanjut usia serta kesadaran mengenai pentingnya mempertahankan gigi asli. Artikel ini membahas literatur tentang lesi karies akar, dengan melihat faktor resiko, yang dihubungkan dengan penyebab, diagnosis, pencegahan, dan metode perawatan. PENDAHULUAN Karies gigi merupakan penyakit yang telah ada sejak dahulu yang ditemukan pada tengkorak manusia primitif di seluruh dunia yang tinggal di daerah terpencil dimana kurang terdapat makanan lunak dan makanan yang kaya karbohidrat.1,2 Selama abad ke 17, gula banyak tersedia dan harganya lebih murah di Eropa dan makanan diganti dengan makanan yang lebih lunak. Akibatnya, karies menjadi masalah endemik yang bertahan sepanjang abad ini.3 Saat ini, prediksi demografi menunjukkan karies akar sebagai suatu persoalan pasien yang penting pada dekade selanjutnya dimana populasi lanjut usia mempertahankan gigi asli mereka.4,5 Ettinger6 meninjau penelitian mengenai laju dan distribusi karies pada abad ke 20 dan menyimpulkan bahwa keduanya memiliki pola berbeda di seluruh dunia, yang berhubungan dengan tingkat perkembangan dan tingkat industri. Populasi di negara industri memiliki laju karies yang kurang pada anak-anak dan peningkatan jumlah gigi yang dipertahankan pada orang lanjut usia, sedangkan situasi yang berlawanan ditemukan di negara berkembang. Hasil ini dapat berkorelasi secara langsung dengan populasi, profile, jenis kelamin, makanan, pendidikan, adanya tindakan pencegahan dan kemajuan teknologi di negara industri dibandingkan dengan di negara berkembang. Di negara-negara belakangan terdapat laju karies yang lebih tinggi di daerah urban daripada masyarakat pedalaman disebabkan oleh tersedianya gula di daerah tersebut. PREVALENSI DAN INSIDENS Miller,7 seorang klinisi dan profesor kedokteran gigi konservatif, yang adalah subjek dari tinjauan makalah ini di abad yang lalu dalam tiga artikel yang mendiskusikan sesuatu yang ia sebut membuang jaringan gigi. Karies akar dipertimbangkan sebagai penyakit dimana populasi lanjut usia menginginkan gigi mereka diekstraksi dan digantikan dengan protesa lepasan.8 Saat ini karies akar menjadi masalah baru yang diteliti dalam kedokteran gigi, pada orang-orang lanjut usia dengan gigi asli mereka yang masih ada. Dengan bertambahnya usia, lebih banyak resesi gingiva yang terjadi, dimana permukaan akar terpapar terhadap lingkungan mulut dan menyebabkan meningkatnya laju karies akar. Ettinger,6 yang meninjau beberapa penelitian yang berhubungan dengan prevalensi dan insiden karies akar pada daerah berbeda di U.S., menemukan bahwa lebih dari setengah orang lanjut usia memiliki karies akar dan karies akar tersebut meningkat seiring dengan usia. Prevalensi karies akar yang sebenarnya sulit untuk dinilai. Interpretasi data dari penelitian prevalensi dan insiden rumit disebabkan oleh adanya perbedaan dalam kriteria diagnostik, keputusan perawatan dan kurangnya homogenitas pada populasi yang diobservasi.8,9 Namun, telah ditunjukkan dengan pasti bahwa prevalensi karies akar meningkat seiring usia dan lebih besar pada populasi lanjut usia daripada dewasa muda.8,10 Katz10 meninjau dengan kritis, variabel yang berhubungan dengan karies akar dan membuat rekomendasi tegas mengenai bagaimana penelitian di masa mendatang harus dilakukan untuk membuat suatu indeks karies akar. Di Arab Saudi, negara berkembang dengan populasi 21 juta, 50

persen dari populasi dibawah usia 19 tahun.11 Baru-baru ini telah ditemukan bahwa anak-anak di Arab Saudi memiliki peningkatan laju karies.12,13 Hal penting ini memerlukan perhatian dan konsentrasi yang lebih dalam program pencegahan oleh tenaga kesehatan masyarakat untuk meningkatkan tingkat perhatian kesehatan gigi dan untuk mencegah karies pada usia dini. Hal ini membuat lebih banyak gigi asli yang dipertahankan dan menghindari karies koronal ketika karies servikal terjadi. Penelitian menunjukkkan bahwa pasien yang memiliki karies koronal lebih mungkin mengalami karies akar.14 Karies akar pada populasi lanjut usia di Arab Saudi belum dilaporkan. Penelitian di kalangan ini akan sangat membantu dalam mendorong populasi lanjut usia ini secara individual untuk memelihara kesehatan gigi mereka yang lebih baik dalam gaya hidup mereka. LESI PERMUKAAN AKAR Karies akar dapat terjadi di daerah yang abrasi, erosi, dan abfraksi, atau pada karies akar gigi primer dan decay rekuren.15 Terjadinya karies akar ini pada apical ke cementoenamel junction (CEJ). Penting untuk memahami sifat dan perbedaan lesi permukaan akar yang dapat terjadi, jadi defenisi dari lesi karies akar yang bervariasi diringkaskan sebagai berikut. Abrasi permukaan akar merupakan lesi yang keras, licin, berbatas tajam dan mengkilat, yang terdiri dari goresan dan bebas plak. Ini disebabkan oleh abrasi mekanik, seperti penyikatan gigi (Gambar 1), sedangkan erosi permukaan akar merupakan lesi yang keras dan relatif halus yang terjadi di daerah yang bebas plak. Lesi ini tidak memiliki batas dan terbentuk ketika etsa asam mengenai jaringan mineralisasi, seperti terjadi dari konsumsi berlebihan buah atau jus yang mengandung asam phospor atau asam sitrat.9,16,17

Abfraksi merupakan proses mekanik yang melibatkan perubahan bentuk gigi dan kelenturan oleh tekanan eksentrik, yang mengakibatkan hilangnya struktur gigi pada daerah servikal dan berkembangnya takik berbentuk V yang menyebabkan struktur gigi menjadi lebih lemah.18 Karies permukaan akar merupakan lesi yang lunak, tidak beraturan, dan progresif yang terjadi pada apikal ke CEJ. Ini disebabkan oleh adanya plak bakteri dan konsumsi gula yang berulang, yang mengakibatkan larutnya mineral dari jaringan kalsifikasi.9,16 Karies permukaan akar mulai terjadi saat hilangnya perlekatan periodontal dan permukaan akar menjadi terpapar dengan lingkungan mulut. Regio dimana karies akar mulai terjadi mungkin berbentuk bulat atau oval, dan dapat dimulai pada satu atau lebih bagian pada gigi. Dari satu regio selanjutnya dapat menyebar disekelilingnya dan bergabung dengan regio karies akar lainnya. Regio ini dapat nampak sebagai daerah outline yang berwarna putih atau diskolorisasi (coklat atau hitam), dengan atau tanpa kavitas pada permukaan akar yang terpapar atau pada margin restorasi yang ada.17 Karies akar lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita. Molar mandibula merupakan gigi yang paling rentan terhadap karies akar, diikuti oleh premolar, caninus, dan incisivus, yang jarang terlibat, urutan ini sebaliknya pada maxilla.19,20 Permukaan facial gigi merupakan yang paling rentan terhadap lesi ini.20 ETIOLOGI KARIES Karies akar mulai terjadi ketika bakteri dan karbohidrat hasil fermentasi melekat pada permukaan akar.

Sejak tahun 1970, penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi mikroflora yang responsif terhadap karies akar,21 dan Streptococcus mutans ditemukan sebagai mikroorganisme utama.22 Lactobacillus dan Actinobacillus dipercaya juga memiliki peranan.23 Candida albicans telah diidentifikasi dalam lesi lunak tetapi tidak dianggap berperan dalam terjadinya lesi ini. Mikroorganisme memetabolisme gula sederhana menjadi asam organik, yang melarutkan plak yang terdapat pada permukaan gigi. Asam ini selanjutnya melewati struktur akar dan memulai proses demineralisasi yang melepaskan ion kalsium dan fosfat. Proses ini menyebabkan pH mencapai nilai kritis 6,4 untuk demineralisasi sementum dan dentin, dan 5,5 untuk demineralisasi enamel.25 Pengaruh dramatik terjadi selama proses ini, dengan kolapsnya kolagen disebabkan oleh larutnya mineral inorganik dan pembentukan kavitas. Kecepatan demineralisasi akar lebih cepat dibanding enamel dan terjadi pada pH yang lebih tinggi, karena kandungan mineral pada akar (55%) lebih sedikit dibanding enamel (99%).26 Remineralisasi dapat ditingkatkan dengan aplikasi fluoride, dan ketika pH permukaan akar telah normal, remineralisasi oleh deposisi ion kalsium dan phospat dapat terjadi. FAKTOR RESIKO Frekuensi dimana terjadinya karies akar dapat berkorelasi dengan karies koronal, dan faktor yang berhubungan dengan karies enamel sangat penting dalam menentukan awal terjadinya karies akar.27 Karies akar telah ditemukan berhubungan dengan faktor intraoral dan ekstraoral, yang disebutkan di bawah ini.9 Pengetahuan mengenai penyebab lesi karies akar akan menyebabkan klinisi membuat diagnosis dan pencegahan yang lebih baik untuk pasien. FAKTOR INTRAORAL KARIES AKAR 1. Rendahnya aliran saliva menghasilkan xerostomia. Kapasitas buffer saliva yang rendah. 2. Oral hygiene yang buruk menghasilkan skor plak yang tinggi dan deposisi kalkulus. 3. Penyakit periodontal dan bedah periodontal. 4. Hilangnya perlekatan dan resesi gingiva. 5. Mikroorganisme yang meningkat dalam saliva. 6. Frekuensi intake karbohidrat dan persentase plak yang terdapat pada permukaan gigi. 7. Karies koronal dan karies akar yang tidak direstorasi dan direstorasi. 8. Gigi penyangga overdenture dan gigi tiruan sebagian lepasan, dimana klamer dan konektor berperan terhadap retensi makanan. 9. Maloklusi, abfraksi, drifting, dan tipping, dimana daerah gigi tidak dapat dijangkau oleh pasien untuk menjaga kebersihan mulut yang baik. FAKTOR EKSTRAORAL 1. Usia lanjut, dimana insidens karies akar tinggi pada dewasa tua. 2. Pemeriksaan gigi yang jarang. 3. Tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. 4. Jenis kelamin, dimana pria lebih cenderung terkena dibanding wanita. 5. Ketidakmampuan fisik (seperti penyakit Parkinsons) dimana pasien memiliki keterbatasan kemampuan manual sehingga menyulitkan pembersihan plak selama menyikat gigi. 6. Obat-obatan yang mengurangi aliran saliva. 7. Diabetes, gangguan autoimun (seperti sindrom Sjogrens), atau terapi radiasi. 8. Antipsikotik, sedatif, barbiturat, dan antihistamin.

9. Paparan terbatas terhadap air yang mengandung fluoride. 10. Pecandu alkohol ataupun narkotika. DIAGNOSIS Kunci keberhasilan prosedur gigi dimulai dengan diagnosis yang tepat yang membuat praktisi menyediakan perawatan dan tindakan pencegahan yang diperlukan pasien. Merupakan tanggung jawab praktisi untuk mencatat riwayat medis yang akurat dan mengingat pemeriksaan intraoral dan faktor resiko eksternal. Pemeriksaan klinis untuk menilai adanya karies akar paling baik dilakukan dengan eksplorer yang dapat mendeteksi perbedaan pada sifat permukaan (misalnya, lunak atau keras) dan kontur permukaan.28 Permukaan gigi harus dibersihkan saat plak menutupi lesi dan lesi mungkin tidak terdiagnosa (gambar 5). Transiluminasi dan penglihatan langsung seharusnya digunakan. Penting untuk diingat bahwa nyeri bukan merupakan keluhan yang sering didapatkan dari pasien dengan karies akar. Radiografi akurat merupakan alat diagnostik yang sangat penting dan seharusnya bebas dari tumpang tindih atau terbakarnya gambar. 29 Bahan khusus dapat berguna untuk mendeteksi karies akar, yang kadangkadang menunjukkan warna yang sama dengan dentin. Bahan ini mewarnai dentin yang terinfeksi dan membolehkan klinisi untuk mendeteksi karies yang tersembunyi. Kamera intraoral dapat menjadi alat yang penting dalam mendidik pasien dan menunjukkan gigi mereka. PENCEGAHAN Pencegahan karies akar memerlukan penilaian dan observasi yang tepat mengenai tingkat resiko karies pada pasien. Tindakan pencegahan yang tepat dengan menghilangkan plak, modifikasi diet, dan penggunaan fluoride topikal22,30 ditunjukkan menghambat lesi karies aktif secara signifikan. Tindakan pencegahan meliputi mendidik pasien dan orang-orang yang menolong mereka untuk menghindari makanan yang mengandung gula, pemeliharaan dengan teknik penyikatan gigi, dan oral hygiene yang tepat, dan mendapatkan cek up gigi yang teratur. Pasien lanjut usia (khususnya dengan kemampuan manual yang terbatas) perlu untuk diajarkan mengenai kontrol plak dengan penggunaan sikat interproksimal atau alat oral hygiene elektrik. Banyak pasien lanjut usia yang dalam pengobatan dengan efek samping antikolinergik. Dokter mereka perlu untuk menasehati pasien mengenai efek samping beberapa obat, sehingga tindakan pencegahan yang diperlukan dapat dilakukan. Klinisi harus memberikan perhatian khusus kepada pasien karies akar yang menggunakan protesa gigi. Ini diperoleh dengan penanganan jaringan lunak yang tepat selama prosedur protesa cekat (misalnya desain, kontur, dan polish) dan menghindari penempatan margin restorasi di koronal jaringan sekitarnya. Untuk menghilangkan akumulasi plak. Untuk protesa lepasan, retainer dan plane seharusnya ditempatkan pada daerah yang mudah dibersihkan yang membolehkan aliran saliva. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, fluoride merupakan agen yang tepat untuk pencegahan karies akar karena mengawali proses remineralisasi dan mengurangi laju demineralisasi.25,31 Terdapat banyak metode untuk menyediakan fluoride. Fluoride dalam air minum menghasilkan peningkatan resistensi terhadap karies akar, dan orang-orang yang tinggal di daerah air berfluoride umumnya kurang cenderung mengalami karies dibandingkan yang tinggal pada daerah yang kekurangan air berfluoride.32 Produk fluoride topikal tersedia dalam obat kumur sodium fluoride 0,05%, obat kumur chlorhexidine 0,12%, dan dalam gel sodium fluoride netral 1,1% menggunakan teknik sendok cetak 5 menit, dengan 4

kali aplikasi setelah 2-4 minggu.31,33 produk lainnya adalah pasta gigi yang mengandung sodium fluoride 1100 ppm,34 permen karet yang berfluoride yang efektif khususnya pada pasien dengan aliran saliva yang rendah dan permen karet yang mengandung xylitol yang menstimulasi aliran saliva dan mengurangi pembentukan plak, walaupun penelitian tidak menunjukkan keefektifannya dalam mencegah karies pada orang dewasa.31 Varnish yang mengandung fluoride juga telah efektif melawan karies akar.22 Aplikasi adesif dentin dapat memiliki pengaruh merugikan pada permukaan akar yang terdemineralisasi.35 PERAWATAN KARIES AKAR Perawatan yang tersedia untuk pasien seharusnya tergantung pada klasifikasi mereka ke dalam kelompok resiko. Tabel 1 menunjukkan tingkat resiko pasien dan pilihan perawatan.3,9,36 Klasifikasi ini dapat membolehkan dokter gigi untuk menggunakan metode yang paling tepat untuk merawat pasien berdasarkan kebutuhan mereka. Strategi perawatan untuk karies akar dipercayakan pada pemeriksaan klinis dan penemuan dan ditentukan oleh ukuran, jenis, perluasan dan lokasi lesi, keperluan estetik dan juga kondisi fisik dan mental pasien. Laju keberhasilan klinis tergantung pada derajat resesi dan kerusakan.37 sejak terpaparnya permukaan akar disebabkan oleh resesi gingiva dapat dihubungkan dengan faktor yang menyebabkan abrasi servikal, karies akar, sensitivitas dan estetik yang tidak diharapkan, graft jaringan lunak dapat merawat keadaan ini secara efektif.38 Lesi karies akar sulit diperbaiki karena lokasinya, yang biasanya terletak pada subgingival. Akses dan isolasi adekuat penting untuk restorasi yang baik. Akses dapat diperoleh dengan penggunaan retraction cord dan klem yang tepat seperti 212, yang menyebabkan perpindahan jaringan lunak dan membuka lesi atau dengan membuat flap kecil. Keputusan untuk menggunakan metode retraksi khusus tergantung pada apakah perluasan lesi ke apikal terletak 2 mm di atas crest alveolar.39 Bila prosedur klinis dilakukan, penanganan yang ekstrim seharusnya dilakukan tanpa mengganggu lebar biologis, jika tidak, maka inflamasi akan terjadi. Preparasi kavitas sebagian besar tergantung pada perluasan lesi. Permukaan sebaiknya dibersihkan dengan pumice bebas fluoride untuk memastikan pengeluaran plak. Lalu jaringan gigi yang mengalami decay diekskavasi, dan dinding restorasi dipreparasi. Desain margin dan retensi tergantung pada bahan restorasi yang digunakan. Dengan beban fungsional in vivo yang minimal pada permukaan akar, retensi yang minimal teapi tetap diperlukan. Ketika amalgam merupakan bahan pilihan, dimana akses dan estetik tidak diperhatikan, groove retensi diperlukan ke oklusal dan di gingiva. Bahan yang digunakan dengan adesif memerlukan bevel pada margini koronal preparasi untuk memberikan retensi mikromekanikal yang lebih baik. Akses dan isolasi yang tepat untuk merawat karies akar adalah sangat penting, dan idealnya melibatkan penggunaan rubber dam jika lesi supragingival.akan tetapi, ini kadang-kadang tidak dapat diperoleh jika lokasi lesi dekat dengan margin gingival atau subgingival. Pada kasus tersebut, metode lain untuk isolasi seperti cotton roll dan retraction cord dapat digunakan. Penanganan harus dilakukan tanpa menggunakan agen hemostatik yang mempengaruhi agen bonding. Jika lesi meluas ke subgingiva dan tidak dapat diobservasi lengkap bahkan dengan penggunaan retraction cord, incisi mungkin diperlukan untuk melengkapi prosedur restorasi. 9

BAHAN RESTORASI Praktisi gigi harus memberikan perawatan berdasarkan kebutuhan pasien dan memahami penyebab penyakit khusus dari penyakit mulut, untuk menyediakan penanganan yang tepat . Hal ini tergantung pada perluasan decay , dan dekatnya lesi pada pulpa dan jaringan lunak, dimana membuat isolasi sulit karena darah, saliva dan cairan permukaan. Terdapat perbedaan bahan restorasi yang tersedia tetapi tidak ada satupun bahan yang menunjukkan karakteristik yang ideal. Tabel 2 menunjukkan bahan restorasi yang digunakan untuk merawat karies akar. Klinisi harus menyesuaikan setiap keadaan restorasi dengan bahan yang paling tepat untuk keadaan tersebut , dipertimbangkan mengenai lokasi, kemampuan akses, margin, dan oral hygiene. an bonding Cukup tinggi Bahan tambalan emas yang dibuat secara langsung, tadinya merupakan bahan pilihan karena kemampuannya untuk memberikan adaptasi marginal yang sangat baik dan kesesuaiannya. Akan tetapi, penggunaan bahan tambalan emas yang dibuat langsung dapat merugikan ketika akses terbatas dan isolasi sulit dilakukan. Sekarang ini, penggunaan klinis bahan ini sangat terbatas karena kemampuan bahan baru dengan sifat yang lebih baik. Amalgam gigi telah tersedia 150 tahun yang lalu, dan telah menjadi bahan pilihan untuk restorasi gigi posterior tidak terlalu besar. Amalgam gigi , suatu bahan yang mudah dimanipulasi, dapat digunakan di daerah yang sulit diisolasi atau dimana margin tertutup dengan sendiri. 40 Akan tetapi, sifat amalgam gigi sensitif terhadap teknik. Lagipula, bahan ini kurang estetis dalam penampilannya, rapuh, tidak mempunyai efek terapeutik, dan tidak dapat melekat pada struktur gigi. Kekurangan selanjutnya dari bahan ini yaitu memerlukan pemotongan struktur gigi sehat di sekitar jaringan karies untuk retensi restorasi yang adekuat. Penggunaan amalgam high-copper, alloy bentuk spheric (bola) dan bebas zink diperlukan pada lesi permukaan akar untuk menjamin kondensasi dan integritas marginal yang adekuat.17 Semen glass-ionomer tradisional memiliki sifat yang diharapkan yakni biokompatibel, mencapai perlekatan kimia dengan enamel dan dentin, dan melepaskan fluoride dalam jangka waktu lama.. Kerugian bahan ini adalah estetiknya yang kurang dan penggunaan yang tidak tahan lama secara in vivo. Penggunaannya menjadi sangat terbatas dengan berkembangnya bahan baru yang menunjukkan sifat yang lebih baik.41 Resin modified glass-ionomer diindikasikan untuk pasien dengan resiko karies tinggi.39 Bahan ini biokompatibel, melekat pada enamel dan dentin, menunjukkan ekspansi dan kontraksi termal yang sesuai dengan struktur gigi, dan memiliki efek antikariogenik dari karakteristik pelepasan fluoride jenis yang sama dengan glass-ionomer. Bahan glass-ionomer merupakan reservoir fluoride dan diketahui dengan baik dapat mengurangi laju karies. Bahan ini juga dapat diisi kembali dengan mengambil ion fluoride dari lingkungan mulut. Bahan glass-ionomer merupakan bahan yang sensitif terhadap teknik dan harus terhindar dari kontaminasi kelembaban untuk sifat yang optimal. Resin modified glassionomer menunjukkan sifat yang dapat diterima secara klinis, dan memiliki estetik yang baik, dan kurang rapuh dibandingkan glass ionomer tradisional.9 Untuk mencapai estetik yang lebih baik secara in vivo, penggunaan teknik sandwich diindikasikan, dimana lapisan liner glass-ionomer pada kavitas yang dipreparasi selanjutnya ditutup dengan lapisan komposit resin hibrid.42

Komposit resin merupakan bahan dengan estetik yang sangat baik, dan melekat pada enamel dan dentin, tetapi tidak memiliki efek antikariogenik ketika produk tradisional tidak mengandung sejumlah fluoride bermakna yang dapat dilepaskan. Komposit hibrid menunjukkan perbaikan kekuatan dan perbaikan estetik dibandingkan dibandingkan dengan resin komposit tradisional. Komposit mikrofilled dapat dipolish tinggi untuk menyediakan kilauan yang sama dengan enamel, dan bahan ini memberikan hasil yang baik pada daerah dengan tekanan yang rendah (Gambar 7, 8a, 8b). Selanjutnya, bahan ini direkomendasikan untuk restorasi permukaan akar, khususnya dengan lesi abfraksi, karena mempunyai modulus elastisitas yang lebih rendah dibanding komposit hibrid. Hal ini penting untuk dipertimbangkan, ketika gigi melentur selama mastikasi dan bahan yang fleksibel akan menjadi pilihan yang lebih baik untuk restorasi permukaan akar.39 Komposit resin merupakan bahan yang sensitif terhadap teknik dan memerlukan isolasi yang baik untuk keberhasilan klinis restorasi. Shrinkage polimerisasi yang berhubungan dengan curing resin komposit merupakan hal lainnya, karena hal ini dapat menghasilkan diskolorasi resin disekitar tepi dan mikroleakage yang memicu terjadinya sensitivitas gigi dan karies sekunder. Penggunaan sistem bonding baru yang dapat menutup tubulus dentinalis dapat meminimalkan efek ini.43 Penempatan bevel pada margin enamel diharapkan memberikan estetik dan retensi yang lebih baik. Resin komposit yang mengandung fluoride hanya melepaskan sejumlah kecil fluoride dan memiliki sedikit kemampuan untuk diisi ulang dari lingkungan mulut. Oleh karena itu, bahan initidak dianjurkan untuk pasien dengan resiko karies yang tinggi, tetapi dapat digunakan ketika estetik dipersoalkan. Kompomer merupakan komposit resin polyacid-modified dan selanjutnya menunjukkan sifat dari glassionomer dan komposit resin. Bahan ini melepaskan fluoride, tetapi lebih luas daripada glass-ionomer, dan bahan ini melekat pada enamel dan dentin. Kompomer dapat digunakan pada daerah yang tekanannya rendah dimana estetik diperlukan.44 Harus dicatat bahwa, dengan penggunaan agen bonding, permukaan dentin yang teretsa harus dikeringkan untuk menghindari kolapsnya jaringan kolagen dengan menempatkan primer hidrofilik dan komponen adesif dari bahan bonding untuk berpenetrasi ke dalam dentin yang teretsa dan di sekitar kolagen untuk membentuk hibrid layer, yang membolehkan bahan resin melekat pada gigi. Pada kasus berat dimana karies mengelilingi permukaan akar, penutupan keseluruhan mungkin merupakan pilihan perawatan.

KESIMPULAN Dengan lebih banyak orang lanjut usia yang mempertahankan gigi asli mereka, kebutuhan untuk memahami sifat dan penyebab lesi permukaan akar adalah sangat penting. Tindakan pencegahan yang meliputi oral hygiene yang baik, kontrol plak, dan terapi fluoride diperlukan sebelum dan sesudah perawatan gigi. Tidak terdapat data umum yang tersedia tentang prevalensi karies akar di kerajaan Arab Saudi, yang membuatnya menjadi daerah yang penting diteliti oleh tenaga kesehatan dan klinisi. Perawatan karies permukaan akar harus seara langsung dilakukan dan disesuaikan dengan kasus individual dengan mengklasifikasikan pasien dalam kelompok resiko untuk mencapai hasil yang maksimum. Penggunaan bahan resin-modified glass ionomer dianjurkan untuk restorasi ini karena sifat kariostatiknya pada pasien dengan resiko karies tinggi.