Anda di halaman 1dari 18

Masalah Gizi Pada Masyarakat Gari Kharisma 102010131 B1 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl.

Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

PENDAHULUAN Gizi yang baik merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia, mulai dari masa prenatal dan berlanjut sampai usia lanjut. Jaringan tubuh yang sehat sangat tergantung kepada zat-zat gizi essensial dalam makanan. Hal ini sangat penting terutama pada masa kehamilan, masa bayi, dan anak. Pada masa kehamilan, terjadi proses pembentukan tubuh baru, yaitu janin, sedangkan pada masa bayi dan anak-anak, terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Selama 10 tahun terakhir penanganan gizi masyarakat Indonesia tak kunjung hentinya terkhusus untuk gizi anak dan balita. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa masalah gizi di Indonesia semakin meningkat. Menurut PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) sejak tahun 2006 hingga sekarang masalah kurang gizi anak seperti penyakit anemia, kurang vitamin A, dan kurang vitamin D menjadi perhatian bagi pemerintah. Penyebab utama masalah kurang gizi diataranya karena faktor kemiskinan, pendidikan rendah, ketersediaan pangan yang kurang, kesempatan bekerja yang tak pasti serta pelayanan kesehatan yang kurang memadai.1,2 Masalah ini tentunya menjadi perhatian semua pihak dan multisektoral. dibutuhkan kerjasama dan keinginan kuat untuk menuntaskan masalah ini. Kesadaran akan saling membangun dan memotivasi perlu diterapkan pada semua elemen masyarakat.

Gizi Masyarakat Gizi masyarakat adalah gizi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Gizi masyarakat berkaitan dengan gangguan gizi pada kelompok masyarakat yang lebih ditekankan pada pencegahan (prevensi) dan peningkatan (promosi) kesehatan. Gizi masyarakat yang berurutan gangguan gizi pada masyarakat, dimana masyarakat mempunyai aspek sangat luas, maka penanganannya harus secara multisektor dan multidisiplin.1 Penanganan gizi masyarakat tidak cukup dengan upaya terapi para penderita saja, karena apabila setelah mereka sembuh mereka akan kembali ke masyarakat. Oleh karena itu terapi penderita gangguan gizi masyarakat harus ditujukan kepada seluruh masyarakat. 1 Masalah gizi masyarakat bukan menyangkut aspek kesehatan saja, melainkan aspekaspek terkait yang lain, seperti ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, kependudukan, dan sebagainya. Oleh sebab itu penanganan atau perbaikan gizi tidak hanya diarahkan kepada gangguan gizi atau kesehatan saja, melainkan juga ke arah bidang-bidang yang lain. Misalnya penyakit gizi KKP (kekurangan kalori dan protein) pada anak-anak balita, tidak cukup dengan hanya pemberian makanan tambahan saja (PMT) tetapi juga dilakukan perbaikan ekonomi keluarga, peningkatan pengetahuan, dan sebagainya.1

POSYANDU Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.3 Penyelenggaraan Posyandu pada hakekatnya dilaksanakan dalam satu bulan kegiatan, baik pada hari buka Posyandu maupun di luar hari buka Posyandu. Hari buka Posyandu sekurang-kurangya satu hari dalam sebulan. Hari dan waktu yang dipilih sesuai dengan hasil kesepakatan. Apabila diperlukan, hari buka Posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan. Satu buah Posyandu mencangkup 100 anak balita.
2

Sasaran Sasaran posyandu adalah seluruh masyarakat, terutama: 1. Bayi 2. Anak Balita 3. Ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas, dan ibu menyusui 4. Pasangan Usia Subur (PUS) Fungsi 1. Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan keterampilan dari petugas kepada masyarakat dalam rangka mempercepat penurunan AKI dan AKB. 2. Sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. Manfaat 1. Masyarakat a. Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB b. Memperoleh bantuan secara profesional dalam pemecahan masalah kesehatan terutama terkait kesehatan ibu dan anak c. Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan terpadu kesehatan dan sektor lain terkait 2. Kader, pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat a. Memperoleh informasi terdahulu tentang upaya kesehatan yang terkait dengan penurunan AKI dan AKB b. Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam membantu masyarakat menyelesaikan masalah kesehatan terkait dengan penurunan AKI dan AKB 3. Puskesmas3 a. Optimalisasi fungsi Puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan strata pertama. b. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah kesehatan sesuai kondisi setempat.

c. meningkatkan efisiensi waktu, tenaga, dan dana melalui pemberian pelayanan secara terpadu. 4. Sektor lain a. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah sektor terkait, utamanya yang terkait dengan upaya penurunan AKI dan AKB sesuai kondisi setempat. b. Meningkatkan efisiensi melalui pemberian pelayanan secara terpadu sesuai dengan tupoksi masing-masing sektor. Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan/pilihan. Secara rinci kegiatan Posyandu adalah sebagai berikut:3 Kegiatan Utama 1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) a. Ibu Hamil Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu hamil mencakup:3,4 1. Penimbangan berat badan dan pemberian tablet besi yang dilakukan oleh kader kesehatan. Jika ada petugas Puskesmas ditambah dengan pengukuran tekanan darah dan pemberian imunisasi Tetanus Toksoid. Bila tersedia ruang pemeriksaan, ditambah dengan tinggi fundus/usia kehamilan. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas. 2. Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil, perlu diselenggarakan Kelompok Ibu Hamil pada setiap hari buka Posyandu atau pada hari lain sesuai dengan kesepakatan. Kegiatan Kelompok Ibu Hamil antara lain sebagai berikut: a. Penyuluhan: tanda bahaya pada ibu hamil, persiapan persalinan, persiapan menyusui, KB dan gizi b. Perawatan payudara dan pemberian ASI c. Peragaan pola makan ibu hamil d. Peragaan perawatan bayi baru lahir e. Senam ibu hamil

1. PENDAFTARAN OLEH KADER

2. PENIMBANGAN BALITA OLEH KADER

3. PENGISIAN KMS OLEH KADER

4. PENYULUHAN OLEH KADER

5. PELAYANAN KESEHATAN OLEH PETUGAS Gambar 1. Alur Kegiatan POSYANDU.4

b. Ibu Nifas dan Menyusui Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui mencakup:

1) Penyuluhan kesehatan, KB, ASI dan gizi, ibu nifas, perawatan kebersihan jalan lahir (vagina). 2) Pemberian vitamin A dan tablet besi. 3) Perawatan payudara. 4) Senam ibu nifas. 5) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dan tersedia ruangan, dilakukan pemerikasaan kesehatan umum, pemeriksaan payudara, pemeriksaan tinggi fundus dan pemeriksaan lochia. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas. 6 c. Bayi dan Anak Balita Jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup: 1. Penimbangan berat badan. 2. Penentuan status pertumbuhan. 3. Penyuluhan. 4. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan, segera merujuk ke Puskesmas. 2. Keluarga Berencana Pelayanan KB di Posyandu yang dapat diselenggarakan oleh kader adalah pemberian kondom dan pil ulangan. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan suntikan KB, dan konseling KB. Apabila tersedia ruangan dan peralatan yang menunjang dilakukan pemasangan IUD. 3. Imunisasi Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan apabila ada petugas Puskesmas. Jenis imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan program, baik terhadap bayi dan balita maupun ibu hamil. 6 4. Gizi Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Sasarannya adalah bayi, balita, ibu hamil, dan WUS. Jenis pelayanan yang diberikan meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, pemberian PMT, pemberian vitamin A dan
6

pemberian sirup Fe. Khusus untuk ibu hamil dan nifas ditambah dengan pemberian tablet besi serta kapsul yodium untuk yang bertempat tinggal di daerah gondok endemik. Apabila setelah 2 kali penimbangan tidak ada kenaikan berat badan, segera dirujuk ke Puskesmas.6 5. Pencegahan dan Penanggulangan Diare Pencegahan diare di Posyandu dilakukan antara lain dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare di Posyandu dilakukan antara lain penyuluhan, pemberian larutan gula garam yang dapat dibuat sendiri oleh masyarakat atau pemberian oralit yang disediakan. Kegiatan Pengembangan/Tambahan Kegiatan tambahan dapat dilakukan apabila 5 kegiatan utama telah dilaksanakan dengan baik dalam arti cakupannya 50%, serta sumber daya yang mendukung. Kartu Menuju Sehat (KMS) KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak. KMS harus dibawa ibu setiap kali ibu menimbang anaknya atau memeriksa kesehatan anak dengan demikian pada tingkat keluarga KMS merupakan laporan lengkap bagi anak yang bersangkutan, sedangkan pada lingkungan kelurahan bentuk pelaporan tersebut dikenal dengan SKDN. SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan balita SKDN sendiri mempunyai singkatan yaitu sebagai berikut:4,5 S= adalah jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu K =jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS D= jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini N= jumlah balita yang naik berat badannya Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat kiinerja output disini meliputi cakupan hasil program gizi di Posyandu yang dapat dilihat dalam bentuk persentase cakupan yang berhasil dicapai oleh suatu Posyandu, yaitu cakupan kegiatan penimbangan (K/S), kesinambungan kegiatan penimbangan posyandu (D/K), tingkat partisipasi masyarakat dalam

kegiatan (D/S), kecenderungan status gizi (N/D), efektifitas kegiatan (N/S). Adapun cakupan hasil program gizi di Posyandu tersebut adalah sebagai berikut :

Cakupan Program (K/S) Cakupan program (K/S) adalah Jumlah Balita yang memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS) dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase K/S disini, menggambarkan berapa jumlah balita diwilayah tersebut yang telah memiliki KMS atau berapa besar cakupan program di daerah tersebut telah tercapai.

Cakupan Partisipasi Masyarakat (D/S) Cakupan partisipasi masyarakat (D/S) adalah Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah kerja Posyandu kemudian dikali 100 %. Persentase D/S disini, menggambarkan berapa besar jumlah partisipasi masyarakat di dareah tersebut yang telah tercapai.

Cakupan Kelangsungan Penimbangan (D/K) Cakupan kelangsungan penimbangan (D/K) adalah Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu dalam dibagi dengan jumlah balita yang telah memiliki KMS kemudian dikali 100%. Persentase D/K disini, menggambarkan berapa besar kelangsungan penimbangan di daerah tersebut yang telah tercapai. Cakupan Hasil Penimbangan (N/D) Cakupan Hasil Penimbangan (N/D) adalah : Rata rata jumlah Balita yang naik berat badan (BB) nya dibagi dengan jumlah balita yang ditimbang di Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase N/D disini, menggambarkan berapa besar hasil penimbangan didaerah tersebut yang telah tercapai.

Perhitungan SKDN Pemantauan status gizi dilakukan dengan memanfaatkan data hasil penimbangan bulanan posyandu yang didasarkan pada indikator SKDN tersebut. Indikator yang dipakai adalah N/D.
8

Dilakukan dengan mengamati kecenderungan N/D dan D/S setiap bulan pada wilayah masingmasing wilayah kecamatan. Pematauan status gizi dilaporkan setiap bulan dengan mempergunakan format laporan yang telah ada. 3-5

Pengolahan Analisinya terdiri dari: Tingkat partisipasi Masyarakat dalam Penimbangan Balita Yaitu jumlah balita yang ditimbang dibagi dengan jumlah balita yangada di wilayah kerja Posyandu atau dengan menggunakan rumus (D/Sx 100%), hasilnya minimal harus mencapai 80%, apabila dibawah 80% maka dikatakan partisipasi masyarakat untuk kegiatan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan berat badan sangatlah rendah. Hal ini akan berakibat pada balita tidak akan terpantau oleh petugas kesehatan ataupun kader Posyandu akan memungkinkan balita ini tidak diketahui pertumbuhan berat badannya atau pola pertumbuhan baerat badannya. Tingkat Liputan Program Yaitu jumlah balita yang mempunyai KMS dibagi dengan jumlah seluruh balita yang ada diwilayah Posyandu atau dengan menggunakan rumus (K/S x 100%). Hasil yang didapat harus 100%. Alasannya balitabalita yang telah mempunyai KMS telah mempunyai alat instrument untuk memantau berat badannya dan data pelayanan kesehatan lainnya. Apabila tidak digunakan atau tidak dapat KMS makan pada dasarnya program POSYANDU tersebut mempunyai liputan yang sangat rendah atau bisa juga dikatakan balita tersebut. Khusus untuk Tingkat Kehilangan Kesempatan ini menggunakan rumus (S-K)/S x 100%), yaitu jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu dikurangi Jumlah balita yang mempunyai KMS, hasilnya dibagi dengan jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu tersebut. Semakin tinggi Presentasi Kehilangan kesempatan, maka semakin rendah kemauan orang tua balita untuk dapat memanfaatkan KMS. Padahal KMS sangat baik untuk memantau pertumbuhan berat badan balita atau juga pola pertumbuhan berat badan balita. Indikator lainnya adalah (N/D x 100%) yaitu jumlah balita yang naik berat badannya dibandingkan dengan jumlah seluruh balita yang ditimbang. Sebaiknya semua balita yang ditimbang harus mengalami peningkatan berat badan. Indikator selanjutnya dalam SKDN adalah indikator Drop-Out, yaitu balita yang sudah mempunyai KMS dan pernah datang menimbang berat badannya tetapi kemudian tidak pernah
9

datang lagi di Posyandu untuk selalu mendapatkan pelayanan kesehatan. Rumusnya yaitu jumlah balita yang telah mendapatkan KMS dikurangi dengan jumlah balitayang ditimbang, dan hasilnya dibagi dengan balita yang mempunyai KMS ((K-D)/K x 100%). Indikator terkhir dalam SKDN adalah indikator perbandingan antara jumlah balita yang status gizinya berada di Bawah Garis Merah (BGM) dibagi dengan banyaknya jumlah balita yang ditimbang pada bulan penimbangan (D). Rumusnya adalah (BGM/D x 100%).

Fungsi KMS 1. Fungsi utama KMS : alat untuk pemantauan pertumbuhan anak, catatan pelayanan kesehatan anak 2. Grafik pertumbuhan normal anak sesuai umurnya pada KMS dapat digunakan untuk menentukan apakah seorang anak tumbuh normal, memiliki risiko gangguan pertumbuhan atau kelebihan gizi. 3. Bila grafik berat badan : mengikuti grafik pertumbuhan pada KMS, artinya anak tumbuh baik Tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan normal, anak kemungkinan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan atau kelebihan gizi.

Tindak Lanjut Hasil Penimbangan Berat badan naik (N): Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balita ke Posyandu Jelaskan arti garis pertumbuhan yang tertera pada KMS bahwa berat badan anak naik danpertumbuhannya baik Anjurkan kepada ibu untuk mempertahankan kondisi anak dan berikan nasihat tentangpemberian makan anak sesuai golongan umurnya. Anjurkan untuk datang pada penimbangan berikutnya.

10

Gambar 3. Keterangan KMS.4

2.

Berat badan tidak naik 1 kali (T1) Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balita ke Posyandu
11

Jelaskan arti garis pertumbuhan yang tertera pada KMS bahwa berat badan anak masih kurang dari kenaikan berat badan minimum, dan mungkin anak mengalami gangguan pertumbuhan

Tanyakan dan catat keadaan anak bila ada keluhan (batuk, diare, panas, rewel, dll) dan kebiasaan makan anak Berikan penjelasan tentang kemungkinan penyebab berat badan tidak naik tanpa menyalahkan ibu. Berikan nasehat kepada ibu tentang anjuran pemberian makan anak sesuai golongan umurnya Anjurkan untuk datang pada penimbangan berikutnya

3.

Berat badan tidak naik 2 kali (T2) atau berada di Bawah Garis Merah (BGM) Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balita ke Posyandu dan anjurkan untuk datang kembali bulan berikutnya. Jelaskan arti garis pertumbuhan yang tertera pada KMS bahwa berat badan anak sudah tidak naik dua kali berturut-turut, dan anak mengalami gangguan pertumbuhan. Tanyakan dan catat keadaan anak bila ada keluhan (batuk, diare, panas, rewel, dll) dan kebiasaan makan anak Berikan penjelasan tentang kemungkinan penyebab berat badan tidak naik tanpa menyalahkan ibu. Berikan nasehat kepada ibu tentang anjuran pemberian makan anak sesuai golongan umurnya Rujuk anak ke Puskesmas/Poskesdes

4.

Risiko gemuk Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balita ke Posyandu Jelaskan arti garis pertumbuhan yang tertera pada KMS bahwa anak sudah kelebihan berat badan sehingga berisiko gemuk Tanyakan kepada ibu kebiasaan makan, aktivitas anak.
12

Berikan nasihat sesuai golongan umurnya Anjurkan untuk datang pada penimbangan berikutnya

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Usia balita merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan rawan terhadap kekurangan gizi sehingga mendapat perhatian khusus. Untuk mengatasi kekurangan gizi yang terjadi pada kelompok balita perlu diselenggarakan PMT Pemulihan bagi anak usia 6-59 bulan guna sebagai tambahan (bukan pengganti) makanan utama sehari-hari. PMT Pemulihan berbasis makanan local dengan menu khas daerah yang disesuaikan dengan kondisi setempat.3,5 Sejak 2011 Kementerian Kesehatan RI menyediakan anggaran untuk kegiatan PMT Penyuluhan dan PMT Pemulihan melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Dengan adanya BOK di setiap Puskesmas diharapkan kepala Puskesmas dan jajarannya dapat mendukung kegiatan ini. Sasaran program ini meliputi balita gizi kurang atau kurus usia 6-59 bulan termasuk balita dengan Bawah Garis Merah (BGM) dan keluarga miskin. Cara penentuan sasaran melalui hasil penimbangan bulanan di Posyandu dengan urutan prioritas dan kriteria sebagai berikut: 1. Balita dalam masa pemulihan pasca perawatan gizi buruk di TFC/Pusat Pemulihan Gizi/ Puskesmas Perawatan atau RS 2. Balita kurus dan BB tidak naik 2x berturut-turut (2 T) 3. Balita kurus 4. Balita Bawah Garis Merah (BGM) Makanan tambahan balita diutamakan berupa sumber protein hewani maupun nabati (telur,ikan,daging,ayam,kacang-kacangan) serta sumber vitamin dan mineral yang berasal dari sayuran dan buah-buahan. Makanan tambahan diberikan sekali sehari selama 90 hari berturutturut, disebut Hari Makan Anak (HMA). Makanan tambahan pemulihan dibagi menjadi MP-ASI (untuk bayi dan balita 6-23 bulan) dan makanan keluarga (anak balita 24-59 bulan). 3,5

13

Penyelenggaraan PMT Pemuihan local perlu didukung dengan penyuluhan PHBS oleh tenaga kesehatan dan kader kepada keluarga sasaran. Beberapa alternative cara penyelenggaraan kegiatan PMT Pemulihan yang dapat dipilih sesuai kondisi setempat antara lain masak bersama setiap hari, masak bersama 2x seminggu, atau masak bersama 1x seminggu. Untuk kegiatan memasak yang tidak dilakukan setiap hari, hari-hari lain selain masak bersama dapat diberikan bahan makanan yang kering untuk dibawa pulang seperti telur, abon, peyek kacang, teri kering, biscuit, susu kotak, buah-buahan kering (pisang, jeruk, alpukat), dan lainnya. Pemantauan program melalui pemantauan berat badan setiap bulan, sedangkan tinggi/panjang badan hanya pada awal dan akhir pelaksanaan PMT Pemulihan. Pemantauan dan bimbingan teknis dilakukan oleh Kepala Puskesmas, Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas, atau bidan desa kepada ibu kader pelaksana PMT Pemulihan. Surveilans Gizi Kegiatan surveilans gizi meliputi kegiatan pengumpulan dan pengolahan data, penyajian serta diseminasi informasi bagi pemangku kepentingan. Informasi ini dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk melakukan tindakan segera maupun untuk perencanaan program jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang serta untuk perumusan kebijakan.6 1. Pengumpulan data b. Kegiatan rutin yaitu penimbangan bulanan, pemantauan dan pelaporan kasus gizi buruk, pendistribusian tablet Fe ibu hamil, pendistribusian kapsul vitamin A balita, dan pemberian ASI Eksklusif. c. Kegiatan survey khusus yang dilakukan berdasarkan kebutuhan seperti konsumsi garam beriodium, pendistribusian MP-ASI dan PMT, pemantauan status gizi anak dan ibu hamil serta wanita usia subur risiko KEK, atau studi yang berkaitan dengan masalah gizi lainnya. Dalam pelaksanaan pengumpulan data, bila ada Puskesmas yang tidak melapor atau melapor tidak tepat waktu, data laporan tidak lengkap dan atau tidak akurat maka petugas DINKES Kabupaten/Kota perlu melakukan pembinaan secara aktif untuk melengkapi data dengan melalui telepon, SMS, atau kunjungan langsung ke Puskesmas.
14

Pengolahan Data dan Penyajian Informasi Pengolahan data dapat dilakukan secara deskriptif maupun analitik, disajukan dalam bentuk narasi, tabel, grafik, peta, dan sebagainya.

Diseminasi Informasi Diseminasi informasi dilakukan untuk menyebarluaskan informasi surveilans gizi kepada pemangku kepentingan. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam bentuk pemberian umpan balik, sosialisasi, atau advokasi. Umpan balik merupakan respon tertulis mengenai informasi surveilans gizi yang dikirimkan kepada pemangku kepentingan pada berbagai kesempatan baik pertemuan lintas program maupun lintas sektoral. Sosialisai merupakan penyajian hasil surveilans gizi dalam forum koordinasi atau forum lainnya sedangkan advokasi merupakan penyajian hasil surveilans gizi dengan harapan memperoleh dukungan dari pemangku kepentingan.

Indikator keberhasilan kegiatan surveilans gizi adalah: Indikator Input Adanya tenaga manajemen data gizi yang meliputi pengumpul data dari laporan rutin atau survey khusus, pengolah dan analisis data serta penyaji informasi Tersedianya instrument pengumpulan dan pengolahan data Tersedianya sarana dan prasarana pengolahan data Tersedianya biaya operasional surveilans gizi

Indikator Proses adanya proses pengumpulan data Adanya proses editing dan pengolahan data Adnya proses pembuatan laporan dan umpan balik hasil surveilans gizi Adanya proses sosialisasi atau advokasi hasil surveilans gizi

Indikator Output tersedianya informasi gizi buruk yang mendapat perawatan Tersedianya informasi balita yang ditimbang berat badannya (D/S) Tersedianya informasi bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif
15

Tersedianya informasi rumah tangga yang menonsumsi garam beriodium Tersedianya informasi balita 6-59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A Tersedianya informasi ibu hamil mendapat 90 tablet Fe Tersedianya informasi kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi Tersedianya informasi penyediaan bufferstock MP-ASI untuk daerah bencana Tersedianya informasi data terkait lainnya (sesuai kondisi dan situasi daerah)

Promosi Kesehatan Bayi Lingkup promosi kesehatan terhadap bayi meliputi Air Susu ibu (ASI), Gizi/Nutrisi, pertumbuhan, perkembangan, imunisasi, keamanan, kebersihan. Petugas harus memberikan promosi kesehatan bayi kepada ibu, ayah atau keluarga bayi. Pemberian ASI harus dianjurkan kepada setiap ibu karena kolostrum mengandung zar antibodi yang dapat mencegah infeksi pada bayi, sehingga jarang mengalami gastroenteritis, lemak dan protein ASI mudah dicerna, dapat mengeratkan hubungan ibu dan bayi, serta ASI merupakan susu buatan alam yang lebih baik, bersih, segar, murah, tersedia setiap waktu.7

Anak Balita Lingkup promosi kesehatan terhadap anak balita meliputi ASI, gizi /nutrisi, pertumbuhan, perkembangan, interaksi, imunisasi, sosialisasi dan keamanan.Puskesmas, puskesmas pembantu, polindes, memiliki data tentang anak balita di wilayah kerjanya. Data tersebut diperlukan untuk digunakan dalam pelaksanaan pembinaan kesehatan anak balita baik dilakukan oleh bidan maupun tenaga kesehatan lainnya khususnya dalam promosi kesehatan. Dengan promosi kesehatan pada balita, bidan diharapkan mampu memberikan penyuluhan kepada orang tua menyangkut perbaikan gizi, perbaikan kesehatan lingkungan, pengawasan tumbuh dan kembang anak.Anggota keluarga, guru, taman kanak-kanak atau pengasuh anak diikutsertakan dalam kegiatan pembinaan kesehatan. Semua kegiatan dicatat dan dilaporkan ke puskesmas. Kegiatan pelayanan dan pembinaan kesehatan anak balita akan berhasil dengan baik jika didukung oleh pemerintah desa, pemimpin dan orang terkemuka di masyarakat, termasuk dukun. Para ibu juga perlu didorong untuk memeriksakan kesehatan anaknya.
16

Ibu Hamil Lingkup promosi kesehatan terhadap ibu hamil meliputi lingkup fisik dan psikologis. Lingkup fisik meliputi gizi (Fe, asam folat, tinggi protein pada masa awal kehamilan), oksigen, personal hygiene, pakaian, sexual, mobilisasi, exercise/senam hamil, istirahat, imunisasi, traveling, persiapan laktasi, persiapan persalinan dan kelahiran, kesejahteraan janin, ketidaknyamanan, pendidikan kesehatan dan pekerjaan. Lingkup psikologis meliputi support keluarga, support tenaga kesehatan, rasa aman dan nyaman, persiapan menjadi orang tua.7

Ibu Menyusui Pendidikan ibu menyusui lebih baik diberikan sebelum ibu bersalin, sehingga ibu dapat melakukan persiapan-persiapan ibu menyusui.Lingkup promosi kesehatan yang diberikan kepada ibu menyusui meliputi kebersihan diri, istirahat, sexual, pemberian ASI, nutrisi bagi bayi, pendidikan kesehatan gizi (tinggi protein, Fe) dan meyakinkan pada ibu menyusui bahwa tidak ada pantangan makan selama menyusui. protein tinggi melalui promosi kesehatan.7

Peran Serta Masyarakat UPGK UPGK merupakan usaha keluarga untuk memperbaiki gizi seluruh anggota keluarga, dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat dengan kader sebagai penggerak masyarakat, merupakan bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari dan secara operasional adalah rangkaian kegiatan yang saling mendukung untuk melaksanakan alih teknologi sederhana kepada keluarga/masyarakat.2,3 Tujuan umum dari UPGK adalah untuk meningkatkan dan membina keadaan gizi anggota masyarakat, melalui pembinaan keluarga agar peningkatan gizi menjadi bagian dari pola kehidupan sehari-hari. Secara operasional tujuan ini diperinci menjadi tujuan khusus, yaitu partisipasi dan pemerataan kegiatan, perubahan sikap dan perilaku yang mendukung tercapainya perbaikan gizi, serta perbaikan gizi anak balita. Keluarga dibina menjadi Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi).

17

Di Posyandu diperkenalkan berbagai inovasi yang berkenaan dengan pemeliharaan kesehatan dan keadaan gizi balita, ibu hamil dan menyusui. Adapun kegiatannya adalah penimbangan anak balita, pemberian paket pertolongan gizi (yang berisi Vitamin A dosis tinggi, pil zat besi dan oralit), pemberian makanan tambahan, imunisasi, pemeriksaan ibu hamil, pelayanan KB dan penyuluhan gizi.

Kesimpulan Masalah gizi masyarakat masih cukup tinngi di Indonesia. Anak balita, ibu hamil dan menyusui menjadi golongan rentan gangguan gizi. Peran dan kerjasama dari masyarakat, Puskesmas, dan Posyandu dibutuhkan dalam menanggulangi masalah ini.

Daftar Pustaka 1. Notoatmodjo S. Ilmu kesehatan masyarakat. Edisi ke-2. Jakarta:Rineka Cipta, 2009.h.235-9. 2. Mubarak WI, Chayatin N. Ilmu kesehatan masyarakat: teori dan aplikasi. Jakarta: Salemba Medika, 2009.h. 128-35 3. Pedoman praktis pelaksanaan kerja di puskesmas. Magelang:Podorejo Offset.h.151-6, 2127, 224-30 4. Departemen Kesehatan RI.gizi.depkes.go.id/Temu_kader2009/KMS-Baru.ppt. Diakses pada 30 Juni 2013. 5. Gibney, Michael J. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC, 2008.h.224-5. 6. Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk pelaksanaan surveilans gizi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2011.h.7-22 7. Ghazali HPL. Perilaku dan promosi Kesehatan. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia; 2007.h. 156-64

18