Anda di halaman 1dari 2

Kebenaran

Kalista Adi Darmawan 1206255394

Menurut penulis kebenaran adalah kesesuaian sesuatu dengan fakta yang ada. Sesuatu dapat dikatakan sebuah kebenaran jika sesuatu tersebut sesuai dengan fakta yang ada, misalnya kalimat mamalia adalah makhluk hidup yang memiliki kelenjar mamae merupakan kebenaran karena sesuai dengan fakta yang ada. Sebuah kekeliruan atau kesalahan merupakan kebalikan dari kebenaran, misalnya mamalia adalah makhluk hidup yang tidak memiliki kelenjar mamae. Menurut penulis kebenaran hanya dapat dicapai dalam ranah ilmu alam, misalnya fisika atau matematika. Pun demikian, tidak semua yang ada dalam ilmu tersebut merupakan kebenaran mutlak. Kebenaran yang kita tahu dan yakini saat ini mungkin saja dapat berubah seiring dengan pengetahuan manusia dan teknologi yang semakin maju. Kemajuan ilmu pengetahuan dapat merubah sebagian kebenaran-kebanaran yang ada saat ini, bahkan dapat menyalahkan kebanaran tersebut. Dalam kehidupan nyata, kebenaran mutlak tidak dapat dicapai. Hal ini dikarenakan tiap manusia adalah individu yang subjektif. Pemikiran manusia dipengaruhi oleh konstruksi sosial yang mereka terima. Pengaruh lain dapat berupa pengetahuan, gaya hidup, pengalaman, teknologi, dan lain-lain. Dengan demikian apapun yang mereka lakukan, mereka pikirkan, dan mereka yakini sebagai sebuah kebenaran hanyalah refleksi dari apa yang mereka anggap benar hal tersebut sebenarnya dapat berupa kekeliruan. Sama halnya dengan yang terjadi dalam jurnalisme. Para jurnalis hanya menuliskan apa yang mereka anggap benar. Ironi lain terjadi saat para jurnalis selalu mengedepankan kebenaran sebagai unsur paling utama yang harus mereka cari dan sampaikan kepada masyarakat, namun proses pencarian kebenaran itu sendiri tak semudah menyampaikannya kepada masyarakat. Seperti pada kasus perang Vietnam, pers menyampaikan berita kesuksesan

perang

Vietnam,

namun

pada

kenyataannya,

yang

merupakan

kebenaran

adalah

ketidaksuksesan perang Vietnam. Kebenaran dalam berita merupakan kebenaran yang tidak utuh. Hal ini dikarenakan apa yang disampaikan berita hanyalah sebuah bagian dari kebenaran yang utuh. Jurnalis hanya mengemukakan sebagian dari kebenaran yang ia anggap penting, padahal bagian lain dari kebenaran yang ia sebutkan juga merupakan sebuah kebenaran. Meskipun subjektif dan tidak utuh, kebenaran yang disampaikan dalam sebuah berita tetaplah penting. Kebenaran dalam sebuah berita paling tidak dapat membantu masyarakat untuk tahu dan mengerti mengenai suatu peristiwa atau masalah. Dengan demikian masyarakat mampu untuk mengambil langkah selanjutnya dalam kehidupan mereka menurut informasi yang mereka peroleh.