Anda di halaman 1dari 2

Beberapa tipe pengujian : in vivo (Latin: within the living) : uji eksperimen dengan menggunakan keseluruhan organisme hidup

in vitro (Latin: within the glass) : uji eksperimen dengan menggunakan biakan di dalam tabung reaksi atau cawan petri ex vivo (Latin: out of the living) : uji eksperimen pada jaringan suatu organisme, dengan kondisi lingkungan buatan yang mirip dengan kondisi alami in silico (Latin: within the silicon) : uji eksperimen dengan metode simulasi di komputer

In vivo adalah eksperimen dengan menggunakan keseluruhan organisme hidup. Pengujian dengan hewan coba ataupun uji klinis merupakan salah satu bentuk penelitian in vivo. Pengujian in vivo lebih sering dilakukan daripada in vitro karena lebih cocok untuk mengamati efek keseluruhan percobaan pada subjek hidup. Dalam biologi molekular, in vivo sering merujuk pada eksperimen yang dilakukan dalam sel hidup terisolasi, bukan pada keseluruhan organisme, misalnya, berasal dari sel-sel kultur biopsi. Dalam keadaan ini, istilah yang lebih spesifik adalah ex vivo. Setelah sel terganggu dan bagian sel atau jaringan organisme yang diuji atau dianalisis, hal ini dikenal sebagai in vitro. Prosedur in vitro mengacu pada prosedur yang dilakukan dalam lingkungan yang terkendali di luar organisme hidup, tidak dalam hidup organisme, tetapi dalam lingkungan terkontrol, misalnya di dalam tabung reaksi atau cawan Petri. Banyak percobaan biologi seluler dilakukan di luar organisme atau sel; karena kondisi pengujian mungkin tidak sesuai dengan kondisi di dalam organisme, ini dapat mengakibatkan hasil yang tidak sesuai dengan situasi yang muncul dalam organisme hidup. Akibatnya, hasil eksperimen tersebut sering dijelaskan dengan in vitro, bertentangan dengan in vivo. Jenis penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh dari variabel eksperimental pada bagian pokok suatu organisme. Hal ini cenderung untuk memfokuskan pada organ, jaringan, sel, komponen sel, protein, dan/atau biomolekuler. Namun, kondisi yang terkendali dalam sistem in vitro berbeda secara signifikan dengan in vivo, dan dapat memberikan hasil yang menyesatkan. Oleh karena itu, dalam studi in vitro biasanya diikuti oleh studi vivo. Ex vivo berarti terjadi di luar organisme. Secara ilmiah, ex vivo mengacu pada percobaan atau pengukuran yang dilakukan di dalam atau pada jaringan pada suatu lingkungan buatan di luar organisme dengan perubahan minimum terhadap kondisi alamiah. Kondisi ex vivo memungkinkan eksperimen dengan kondisi yang lebih terkendali daripada eksperimen in vivo, dengan cara mengubah lingkungan alamiah suatu organisme. Keuntungan utama
1

menggunakan jaringan ex vivo adalah kemampuan untuk melakukan tes atau pengukuran yang tidak mungkin atau tidak etis dalam kehidupan subyek penelitian. Jaringan dapat dikeluarkan dengan berbagai cara, baik sebagian organ, atau keseluruhan organ , atau sistem organ yang lebih besar. Contoh penggunaan spesimen ex vivo meliputi: pengukuran fisik, termal, listrik, mekanik, optik, dan kandungan yang terdapat pada jaringan, terutama di berbagai lingkungan yang mungkin tidak mendukung kehidupan (misalnya, pada tekanan atau suhu yang ekstrim) model yang realistis untuk prosedur bedah sebagai phantom dalam pengembangan teknik pencitraan (imaging) Dalam biologi sel, prosedur ex vivo sering melibatkan sel atau jaringan hidup yang diambil dari suatu organisme dan di kultur pada laboratorium, biasanya dalam kondisi steril dengan tanpa perubahan sampai 24 jam. Percobaan yang berlangsung lebih lama dari ini (dengan menggunakan sel-sel atau jaringan hidup juga) biasanya dianggap sebagai percobaan in vitro. Suatu studi ex vivo yang banyak dilakukan adalah pengujian terhadap chick membran chorioallantoic (CAM). Dalam uji ini, proses angiogenesis dirangsang pada membran CAM dari embrio ayam di luar organisme.