Anda di halaman 1dari 14

CLINICAL STAGE OF PSYCHIATRY MEDICINE SYAMSUDDIN SH PUBLIC HOSPITAL OF SUKABUMI

JOURNAL READING

PROFESSIONAL MENTOR : dr. Tommi Hermansyah, Sp.KJ


MEDICAL SCHOOL OF MUHAMMADIYAH JAKARTA UNIVERSITY

Meilyna Siregar

Sindrom neuroleptik maligna jarang terjadi, merupakan reaksi idiosinkrasi dan dihubungkan dengan penggunaan obat antipsikotik generasi pertama dan kedua. Laporan mengenai sindrom neuroleptik maligna yang di induksi oleh obat antipsikotik generasi kedua. Aripriprazole: perubahan mental status dan demam tinggi Risperidone: demam Clozapine : rigiditas

Onset demam yang tejadi secara tiba-tiba Ketidakstabilan otonom Gejala ekstrapiramidal Penurunan status mental Peningkatan serum kreatini kinase Kelainan tes fungsi hati Leukositosis Gangguan elektrolit Gangguan koagulasi Gambaran EKG yang abnormal.

Secara sistematik membandingkan profil klinik dari sindrom neuroleptik maligna yang diinduksi oleh obat antipsikotik generasi pertama dan obat antipsikotik generasi kedua.

The Australian Adverse Drug Reaction Advisory Commite (ADRAC) database untuk mengidentifikasi individu dengan sindrom neuroleptik maligna yang dilaporkan dari April 1994 sampai September 2010. Karakteristik klinis dari 208 orang dengan sindrom neuroleptik maligna yang diinduksi oleh pengobatan monoterapi obat antipsikotik generasi pertama dan kedua.

ADRAC

Laporan klinis

Retrospektif

PASW

T-test, chi square, fisher

Bebas dari potensial bias

Standar diagnosis Sampel

Kelebihan

Kekurangan

SNM yang diinduksi oleh obat antipsikotik generasi kedua( clozapine) mempunyai efek samping rigiditas yang lebih rendah Angka mortalitas dari SNM yang diinduksi oleh obat antipsikotika generasi kedua lebih rendah dibandingkan generasi pertama.