Anda di halaman 1dari 12

PENENTUAN ANAK KANDUNG DARI SEGI FORENSIK Pendahuluan Ilmu kedokteran forensik, juga dikenal dengan nama legal

medicine, adalah salah satu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran, yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran, yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegak hukum serta keadilan. Di masyarakat, kerap terjadi pelangaran hukum yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini di tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan berbagai ahli di bidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan antara tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dalam hal terdapat korban, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal akibat peristiwa tersebut, diperlukan seorang ahli dalam bidang kedokteran untuk memberikan penjelasan bagi para pihak yang menangani kasus tersebut. Dokter yang diharapkan membantu dalam proses peradilan ini akan berbekal pengetahuan kedokteran yang dimilikinya yang terhimpun dalam ilmu kedokteran forensik. Dalam perkembangannya lebih lanjut, ternyata ilmu kedokteran forensik tidak sematamata bermanfaat dalam urusan penegak hukum dan keadilan di lingkungan pengadilan saja, tetapi juga bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat lain, misalnya dalam membantu penyelesaian klaim asuransi yang adil, baik bagi pihak yang diasuransi maupun yang mengasuransi, dalam membantu pemecahan masalah paternitas (penemuan ke-ayah-an), membantu upaya keselamatan kerja dalam bidang industry dan otomotif dengan pengumpulan data korban kecelakaan industry maupun kecelakan lalu lintas dan sebagainya. Untuk dapat memberi bantuan yang maksimal bagi pelbagai keperluan tersebut diatas, seorang dokter dituntut untuk dapat memanfaatkan ilmu kedokteran yang dimilikinya secara optimal.

PENETUAN ANAK KANDUNG ADA TIGA PROSEDUR DASAR, YAITU


pemeriksaan medis berdasarkan ciri Fisik pemeriksaan golongan darah pemeriksaan DNA

Pemeriksaan Medis Pemeriksaan identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara baik pemeriksaan fisik yang melihat ciri ciri fisik dari orang tuanya, misalnya warna rambut, warna kornea, bentuk muka dan lainnya. Namun, pada pemeriksaan fisik tidak dapat ditentukan secara pasti. Oleh karena itu diperlukan beberapa pemeriksaan laboratorium atau penunjang lainnya misalnya pemeriksaan paternitas. Ilmu Kedokteran Forensik Molekuler adalah suatu bidang ilmu yang baru berkembang dalam dua dekade terakhir, merupaKan bagian dari ilmu kedokteran forensik yang memanfaatkan pengetahuan kedokteran dan biologi pada tingkatan molekul atau DNA. Sebagai suatu bidang cabang ilmu kedokteran forensik yang baru, ilmu ini melengkapi dan menyempurnakan berbagai pemeriksaan identifikasi personal pada kasus mayat tak dikenal, kasus pembunuhan, perkosaan serta berbagai kasus ragu ayah (paternitas). Jika terdapat kasus yang meragukan untuk pembuktian apakah anak tersebut merupakan anak hasil hubungan dari pasien atau merupakan anak kandung dari pasien, maka sebaiknya di lakukan pemeriksaan lanjutan.

Pemeriksaan DNA Semakin lama semakin disadari bahwa setiap anak mempunyai hak untuk mendapatkan informasi mengenai asal usul mereka. Pengetahuan mengenai siapa ayah dan ibu kandung dari seorang anak mempunyai banyak pengaruh bagi para pihak yang terkait. Pertama, informasi mengenai siapa orangtua biologis dari seorang anak, akan menunjukan pasangan tersebut sebagai orang pertama yang (seharusnya) merupakan lingkaran terdalam lingkungan anak tersebut. Kedua, pengetahuan itu memberikan hak tertentu kepada anak tersebut, diantaranya hak atas pengasuhan, hak untuk mendapat santunan biaya hidup dan hak waris dari orangtuanya. Kasus paternitas sesungguhnya merupakan sebagian dari kasus sengketa asal-usul. Sengketa asal-usul berdasarkan objek sengketanya dapat digolongkan menjadi beberapa jenis kasus yaitu

Kasus ragu orang tua (disputed parentage) yaitu kasus yang mencari pembuktian

siapa orangtua (ayah dan ibu) dari seorang anak. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kasus imigrasi, kasus pencarian orangtua pada kasus penculikan, bayi tertukar, kasus terpisahnya keluarga pada masa perang atau bencana dan kasus identifikasi korban tidak dikenal.

Kasus ragu ayah (disputed paternity) yaitu kasus yang mencari pembuktian siapa ayah

kandung dari seorang anak. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kasus imigrasi, kasus klaim keayahan seorang wanita, kasus perselingkuhan dan kasus incest.

Kasus ragu ibu (disputed maternity) yaitu kasus yang mencari pembuktian siapa ibu

kandung dari seorang anak. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kasus bayi tertukar, kasus pembunuhan anak sendiri dan kasus aborsi.

Kasus ragu kerabat yaitu kasus yang mencari pembuktian apakah dua orang atau lebih

punya hubungan darah (kekerabatan tertentu). Yang termasuk kategori ini adalah pelacakan silsilah keluarga, kasus pencarian keluarga setelah bencana alam, dsb.

Sengketa asal usul dalam masyarakat jumlahnya banyak sekali, tetapi biasanya yang muncul dan menjadi berita hanya sebagian kecilnya saja. Fenomena ini kita kenal sebagai fenomena gunung es (iceberg fenomenon). Kasus sengketa asal usul yang terbanyak dalam masyarakat adalah kasus klaim keayahan terhadap seorang pria oleh seorang wanita hamil, dengan janin dalam rahim yang diklaimnya sebagai anak dari pria tersebut. Kasus semacam ini pada umumnya diselesaikan secara kekeluargaan dan secara diam-diam, karena dianggap merupakan aib keluarga, khususnya jika pria tersebut merupakan orang terhormat atau pria yang sudah beristri. Hal ini dapat dimaklumi, karena kasus ini bukan saja dapat mengakibatkan hancurnya nama baik dan reputasi pria tersebut, tetapi juga dapat menyebabkan pecahnya rumah tangga dan hancurnya karir pria tersebut. Kasus sengketa asal-usul merupakan kasus medis, sehingga pemecahannya pun harus secara medis pula. Setiap manusia dilahirkan dengan membawa sifat gabungan dari ayah dan ibunya karena ia tercipta dari penyatuan sel sperma ayahnya dan sel telur ibunya pada saat pembuahan. Dengan demikian, pada diri setiap anak tedapat sifat gabungan dari ayah dan ibunya yang diturunkan melalui materi keturunan yang kita sebut DNA.

Deoxyribo Nucleic Acid DNA atau DeoxyriboNucleic Acid merupakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit dan sifatsifat khusus dari manusia. DNA ini akan menjadi cetak biru (blue print) ciri khas manusia yang dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya. Sehingga dalam tubuh seorang anak komposisi DNA nya sama dengan tipe DNA yang diturunkan dari orang tuanya. Sedangkan tes DNA adalah metode untuk mengidentifikasi fragmen-fragmen dari DNA itu sendiri. Atau

secara

sederhananya

adalah

metode

untuk
2

mengidentifikasi,

menghimpun

dan

menginventarisir file-file khas karakter tubuh . Tes DNA umumnya digunakan untuk 2 tujuan yaitu : 1. Tujuan pribadi seperti penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari anak dan 2. Tujuan hukum, yang meliputi masalah forensik seperti identifikasi korban yang telah hancur, sehingga untuk mengenali identitasnya diperlukan pencocokan antara DNA korban dengan terduga keluarga korban ataupun untuk pembuktian kejahatan semisal dalam kasus pemerkosaan atau pembunuhan.

Hampir semua sampel biologis tubuh dapat digunakan untuk sampel tes DNA, tetapi yang sering digunakan adalah darah, rambut, usapan mulut pada pipi bagian dalam (buccal swab), dan kuku. Untuk kasus-kasus forensik, sperma, daging, tulang, kulit, air liur atau sampel biologis apa saja yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) dapat dijadikan sampel tes DNA.

Pada pemeriksaan DNA, ada dua tes yang dilakukan, yaitu :

Tes paternitas Tes ini untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari

seorang anak. Tes paternitas membandingkan pola DNA anak dengan terduga ayah untuk memeriksa bukti pewarisan DNA yang menunjukkan kepastian adanya hubungan biologis.

Tes maternitas Tes DNA ini untuk menentukan apakah seorang perempuan adalah ibu

biologis seorang anak. Tes ini bisa dilakukan untuk kasus dugaan bayi tertukar, bayi tabung, dan anak angkat. Selain di dalam inti sel, DNA juga bisa ditemukan di dalam mitokondria, yaitu bagian dari sel yang menghasilkan energi. DNA mitokondria hanya diturunkan dari ibu. Keunikan pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA ini dapat digunakan sebagai penanda untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal/garis ibu. Untuk tes paternitas yang diperiksa adalah ibu, anak, dan terduga ayah. Bisa saja hanya ayah dan anak yang diperiksa, jika ibu biologis tidak bersedia ikut tes. Partisipasi ibu pada tes paternitas dapat membantu separuh DNA anak, sehingga separuhnya lagi dapat dibandingkan dengan DNA terduga ayah.

Hampir semua sampel biologis dapat dipakai untuk tes DNA. Mulai dari buccal swab (sel mukosa di pipi bagian dalam, diambil dengan alat khusus seperti cotton buds yang ujungnya dilengkapi dengan sisir kecil dari karet), darah, kuku, sampai rambut. Untuk bayi, jaringan bisa diambil dengan buccal swab atau jarum suntik kecil. Menurut Hera, yang paling efektif adalah darah karena bisa dapat banyak DNA. Namun, kini teknik pengambilan DNA makin lama makin sensitif, dalam arti bisa dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan, seperti sidik jari yang menempel di suatu benda dan bekas lipstik. Tidak ada batasan usia. Bahkan pada janin dan orang yang sudah meninggal. Pada tes paternitas sebelum anak dilahirkan (prenatal), tes DNA dapat dilakukan dengan sampel dari jaringan janin, umumnya pada usia kehamilan 10-13 minggu atau dengan cara amniosentesis (tes prenatal) pada usia kehamilan 14-24 minggu. Untuk pengambilan jaringan janin ini harus dilakukan oleh ahli kebidanan/kandungan. Ibu yang ingin melakukan tes DNA prenatal harus berkonsultasi dengan ahli kebidanan kandungan. Tes DNA adalah 100 persen akurat jika dikerjakan dengan benar. Tes DNA ini memberikan hasil lebih dari 99,99 persen probabilitas paternitas jika DNA terduga ayah dan DNA anak, cocok (matched). Apabila DNA terduga ayah dan anak tidak cocok (mismatched) maka terduga ayah yang dites, 100 persen bukanlah merupakan ayah biologis anak itu. Dulu, konfirmasi dilakukan dengan mengulang tes terhadap terduga ayah. Kini, begitu ada tes, dilakukan dua kali dengan dua orang pemeriksa (researcher) Jika hasil dari dua orang itu berbeda, pasti ada kesalahan. Lalu kami cek lagi. Semua researcher sudah diperiksa DNAnya. Sehingga jika ada yang tidak match, jangan-jangan ada kontaminasi. Mungkin terkena DNA si researcher Hasil tes DNA selesai dalam waktu 12 hari kerja terhitung dari tanggal diterimanya sampel. Selain itu, seluruh informasi pasien, mengenai tes, dan hasil tes akan dijamin kerahasiaannya. Karena pertanyaan mengenai paternitas, sangat sensitif. Hasil tes DNA hanya akan diberikan kepada individu yang melakukan tes. Tidak Bisa Dipaksakan Tes DNA tidak bisa dilakukan karena paksaan dari pihak ketiga. Namun, untuk keperluan pengadilan, jaksa dan polisi bisa meminta. Hasil tes ini hanya dapat digunakan sebagai referensi pribadi, kecuali jika sampel yang diperiksa diambil melalui prosedur hukum (surat dari polisi atau jaksa), maka sampel tersebut memiliki kekuatan hukum.

PCR Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah suatu metode untuk memperbanyak fragmen DNA tertentu secara in vitro dengan menggunakan enzim polimerase DNA. Kelompok Cetus pada tahun 1985 menemukan bahwa DNA yang dicampur dengan deoksiribonukleotida trifosfat atau dNTP (yang terdiri dari ATP, CTP, TTP dan GTP), enzim polimerase DNA dan sepasang primer jika dipanaskan, didinginkan lalu dipanaskan lagi akan memperbanyak diri dua kali lipat. Jika siklus ini diulang sebanyak n kali, maka DNA akan memperbanyak diri 2n kali lipat. Yang dimaksud dengan primer adalah fragmen DNA untau tunggal yang sengaja dibuat dan merupakan komplemen dari bagian ujung DNA yang akan diperbanyak, sehingga dapat diibaratkan sebagai patok pembatas bagian DNA yang akan diperbanyak. Siklus proses PCR diawali dengan pemanasan pada suhu tinggi, yang berkisar antara 90-95 derajat Celsius (fase denaturasi). Pada suhu ini DNA untai ganda (double stranded) akan terlepas menjadi 2 potong DNA untai tunggal (single stranded). Proses ini dilanjutkan dengan pendinginan pada suhu tertentu (fase penempelan prier atau primer annealing) yang dihitung dengan rumus Thein dan Walace: Suhu = 4(G + C) + 2(A + T). G, C, A dan T adalah jumlah basa Guaninm Sitosin, Adenin dan Timin pada primer yang digunakan. Pada fase ini primer akan menempel pada basa komplemennya pada DNA untai tunggal tadi. Selanjutnya, siklus diakhiri dengan pemansan kembali antara 70-75 derajat Celsius (fase ekstensi atau elongasi), yang akan membuat primer memperpanjang diri membentuk komplemen dari untai tunggal dengan menggunakan bahan dNTP. Pemeriksaan dengan metode PCR hanya dimungkinkan jika bagian DNA yang ingin diperbanyak telah diketahui urutan basanya. Tahapan selanjutnya adalah menentukan dan menyiapkan primer yang merupakan komplemen dari basa pada ujung-ujung bagian yang akan diperbanyak. Pemeriksaan PCR sendiri merupakan suatu proses pencampuran antara DNA cetakan (template) yang akan diperbanyak, dNTP, primer, enzim polimerase DNA dan larutan buffer dalam reaksi 50 ul atau 100 ul. Campuran ini dipaparkan pada 3 suhu secara berulang sebanyak n buah siklus (biasanya di bawah 35 siklus). Adanya mesin otomatis untuk proses ini membuat prosedurnya menjadi amat sederhana. DNA hasil perbanyakan dapat langsung dianalisis dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose atau gel poliakrilamide. Lokus DNA yang dapat dianalisis dengan mteode PCR, meliputi banyak sekali lokus VNTR maupun RFLP lainnya, diantaranya lokus D1S58 (dulu disebut D1S80) dan D2S44. Metode analisis dengan PCR ini begitu banyak disukaisehingga penemuan-penemuan lokus

DNA polimorfik yang potensial untuk analisis kasus forensik terus terjadi tanpa henti setiap saat. Pada masa sebelum berkembangnya teknologi bio-molekuler, identifikasi personal dilakukan hanya dengan memanfaatkan pemeriksaan polimorfisme protein, seperti golongan darah, dengan segala keterbatasannya. Keterbatasan pertama, ia hanya dimungkinkan dilakukan pada bahan yang segar karena protein cepat rusak oleh pembusukan. Keterbatasan kedua, ia hanya dapat memberikan kesimpulan eksklusi yaitu "pasti bukan" atau "mungkin". Pada metode konvensional, untuk mempertinggi ketepatan kesimpulan pada kelompok yang tak terkesklusi, pemeriksaan harus dilakukan terhadap banyak sistim sekaligus. Penemuan DNA fingerprint yang menawarkan metode eksklusi dengan kemampuan eksklusi yang amat tinggi membuatnya menjadi metode pelengkap atau bahkan pengganti yang jauh lebih baik karena ia mempunyai ketepatan yang nyaris seperti sidik jari. Dengan mulai diterapkannya metode PCR, kemampuan metode ini untuk memperbanyak DNA jutaan samapi milyaran kalomemungkinkan dianalisisnya sampel forensik yang jumlahnya amat minim, seperti analisis kerokan kuku (cakaran korban pada pelaku), bercak mani atau darah yang minim, puntung rokok dsb. Kelebihan lain dari pemeriksaan dengan PCR adalah kemampuannya untuk menganalisis bahan yang sudah berdegradasi sebagian. Hal ini penting karena banyak dari sampel forensik merupakan sampe postmortem yang tak segar lagi.

Pemeriksaan Darah Diantara berbagai cairan tubuh, darah merupakan yang paling penting karena merupakan cairan biologic dengan sifat-sifat potensial lebih spesifik untuk golongan manusia tertentu. Pemeriksaan darah berguna untuk membantu menyelesaikan kasus-kasus bayi yang tertukar, penculikan anak, ragu ayah, dan lain-lain. Dalam kasus yang ada kaitannya dengan factor keturunan, hukum Mendel memainkan peranan penting. Semua sistem golongan darah diturunkan dari orang tua kepada anaknya sesuai hukum Mendel. Walaupun masih ada kemungkinan penyimpangan hukum tersebut, misalnya pada peristiwa mutasi, namun karena frekuensinya sangat kecil (1:1.000.000) untuk kasus-kasus forensik, hal ini dapat diabaikan. Hukum Mendel untuk sistem golongan darah adalah sebagai berikut:

Antigen tidak mungkin muncul pada anak, jika antigen tersebut tidak terdapat pada salah satu atau kedua orang tuanya.

Orang tua yang homozigotik pasti meneruskan gen untuk antigen tersebut kepada anaknya.

Pada manusia dikenal bermacam-macam sistem golongan darah yang antigennya terletak di permukaan sel darah merah, misalnya sistem ABO, Rhesus, MNS, Kell, Duffy, Lutheran, Lewis, Kidd, P, Sekretor/nonsekretor, Antigen Limfosit Manusia (HLA), dan lainlain. Selain itu dikenal pula antigen-antigen yang terdapat diluar sel darah merah, misalnya sistem Gm, Gc, Haptoglobin (Hp), serta sistem enzim,misalnya fosfoglukomutase (PGM), adenilate kinase (AK), pseudokholinesterase (PCE/PKE), adenosin deaminase (ADA), fosfatase asam eritrosit (EAP), glutamat piruvat transaminase (GPT), 6-fosfo glukonat dehidrogenase (6PGD), glukose 6 fosfatase dehidrigenase (G6PD), yang terdapat dalam serum. Pada kasus paternitas, bila hanya sistem ABO, MNS dan Rhesus yang diperiksa, maka kemungkinannya adalah 50-60%, sedangkan bila semua sistem diperiksa maka

kemungkinannya meningkat menjadi 90%. Perlu diingat bahwa hukum Mendel tetap berdasarkan kemungkinan (probabilitas), sehingga penentuan keayahan dari seorang anak tidak dapat dipastikan, namun sebaliknya kita dapat memastikan seseorang adalah bukan ayah seorang anak (singkir ayah/paternity exclusion). Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Selain sistem ABO dan Rh, masih ada lagi macam penggolongan darah lain yang ditentukan berdasarkan antigen yang terkandung dalam sel darah merah. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Salah satunya Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika. Dari sistem MNS didapat golongan darah M, N dan MN yang berguna untuk tes kesuburan. Duffy negatif yang ditemukan di populasi Afrika. Sistem Lutherans mendeskripsikan satu set 21 antigen. Dan sistem lainnya meliputi Colton, Kell, Kidd, Lewis, Landsteiner-Wiener, P, Yt atau Cartwright, XG, Scianna, Dombrock, Chido/ Rodgers, Kx, Gerbich, Cromer, Knops, Indian, Ok, Raph dan JMH.

Sistem ABO

Sistem ABO

Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam sistem ABO pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor. Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan golongan darah O). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O. Kemudian Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih kolega dari Landsteiner menemukan golongan darah AB pada tahun 1901. Pada golongan darah AB, kedua antigen A dan B ditemukan secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak ditemukan antibodi. Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia tergantung populasi atau ras. Salah satu pembelajaran menunjukkan distribusi golongan darah terhadap populasi yang berbeda-beda.

Tabel distribusi golongan darah dan pewarisan golongan darah kepada anak

Rhesus Rh atau Rhesus (juga biasa disebut Rhesus Faktor) pertama sekali ditemukan pada tahun 1940 oleh Landsteiner dan Weiner. Dinamakan rhesus karena dalam riset digunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang paling banyak dijumpai di India dan Cina. Pada sistem ABO, yang menentukan golongan darah adalah antigen A dan B, sedangkan pada Rh faktor, golongan darah ditentukan adalah antigen Rh (dikenal juga sebagai antigen D). Jika hasil tes darah di laboratorium seseorang dinyatakan tidak memiliki antigen Rh, maka ia memiliki darah dengan Rh negatif (Rh-), sebaliknya bila ditemukan antigen Rh pada pemeriksaan, maka ia memiliki darah dengan Rh positif (Rh+).

Penentuan golongan darah sebagai tes penyaring apa benar seorang anak mempunyai

golongan

darah

yang

sama

dengan

orang

tuanya.

Berikut langkah - langkah melakukan pemeriksaan laboratorium untuk penentuan golongan darah;

Ambil beberapa tetes darah yang dipisahkan dengan kotak kotak yang didalamnya Diberikan antibodi dari masing masing golongan darah. Lihat apakah tes terjadi aglutinasi atau tidak. Yang tidak beraglutinasi terhadap anti, itulah golongan darah anak tersebut.

kemudian

+ : Aglutinasi - : tidak aglutinasi Interpretasi hasil

Ragu ayah ada berbagai kasus yang bisa muncul antaranya siapa ayah yang

sebenarnya dari seorang anak, maka berdasarkan hasil di dapatkan,

Keterangan : - Pria I tidak dapat disingkirkan kemungkinan menjadi ayah si anak - pria II dan III pasti bukan ayah anak tersebut.

Kasus yang lain yang biasa muncul adalah ayah curiga bahwa anak bukanlah

anaknya yang sejati