MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

2. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. tapi titik tangkapnya tidak sama. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. ar 1. .. OABC .Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. pertemuannya di titik 0.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. tapi masih sebidang. .

K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. Urut-urutan penjumlahan. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. .4. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dan K3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1.

5. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 . Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.

D F E. K3 . salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01.

garis . b. dan e.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. c. d.6. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. K2.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. Garis-garis tersebut dinamakan . K3 dan K4 yaitu R. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. K2. K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a.

4. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.1. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. K3 dan K4. K2. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . diproyeksikan. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C.2.7. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . . Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. . K2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. secara analitis K1x = K1 cos E . K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.8. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox.

6. 3. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. Latihan 1. .5. 1. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. K2. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.1.1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. K3 dan K4. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.

No. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah .9. 3. French. Bab I 1.8. Bab I. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. Penutup Untuk mengukur prestasi.1 ton sdt = 22. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.1. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. sedang soal no. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. Samuel E.1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. ƏStatika IƐ ITB.5° dari sumbu x R = 11.5° dari sumbu x R = 12. secara bertahap.1 ton sdt = 22. Daftar Pustaka 1. Suwarno. 2. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. Soemono.7. 3 hanya berupa grafis.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1.2.9. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.2. Contoh : a.1. balok. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. balok. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. apa itu beban. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. jembatan dan lainsebagainya. reaksi dan gaya dalam. 1. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. reaksi. mengerti tentang beban. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . kolom. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. kolom.

Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1.10. balok perletaka n Gambar 1.2. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. a. kendaraan. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia.1. peralatan dan lainsebagainya. a. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. misal : meja. dan lain sebagainya. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.2.2.

Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Gambar 1.11.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Newton.12. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. dan lainsebagainya. kg. Gambar 1.

dan lainsebagainya. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi.1. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. jembatan. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur.3. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ.2.3. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.2. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . konsep pengertian tentang perletakan. Contoh : a. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. 1.

14. ada reaksi vertikal. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur.2. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. a.15. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. maka oleh rol tersebut dari atas. jepit dan perodel. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1.2.3. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. perletakan Gambar 1.13. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. . sendi. (Gambar 1.

Rv RH c.17). RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. oleh Rv Gambar 1. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan.17. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal.18. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Karena struktur harus stabil. Jadi sendi tidak mekanika teknik. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas.16.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1.

jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. horizontal. ada reaksi vertikal. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . ada reaksi searah pendel.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.21. dan momen Gambar 1.21. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan.20. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. balok baja pendel Gambar 1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .22.

3. 1.2. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. Keseimbangan vertikal . tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling.1.3. serta manfaatnya dalam struktur tersebut.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. a. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. jembatan dan lain sebagainya.23. hal itu merupakan syarat utama. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. dan bagaimana cara menyelesaikannya.3. mahasiswa perlu mengetahuinya. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung.

maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal.25) Gambar 1. Kotak tenggelam dalam lumpur b. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).24. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal.25. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). (Gambar 1. maka kotak tersebut langsung tenggelam.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). Kotak Gambar 1. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut tidak bisa turun.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c.27) Gambar 1. PM Kotak Lem Meja . sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.26. karena tidak ada yang menghambat. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM).27. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). maka kotak tersebut langsung bergeser.

RM Gambar 1. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. Gambar 1. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM).29. dan tidak bisa terangkat. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). momen maka kotak tersebut bisa terangkat. Keseimbangan statis . benda tersebut harus tidak bisa turun. yang RH berarti harus stabil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem.30.

3. 1. maka syarat minimum RM = PM atau RM . agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).4. atau RV . tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.  Dari variasi tersebut diatas. Latihan 1. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).

Rol punya 1 reaksi . RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. Rangkuman o Macam-Macam Beban .Jepit punya 3 reaksi .3. satuan. Rv = ? 2. notasi. notasi. q. P. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan . kg atau ton atau Newton . Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. Penutup .3.Beban terbagi rata.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. 1.Sendi punya 2 reaksi .Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.6.5.Beban terpusat. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.

Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.7. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.8. Suwarno.3.3. Daftar Pustaka 1. 2.

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.1. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. 2. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu.1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. jembatan dan lain sebagainya.1. seperti gedung-gedung.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. ada beberapa macam sistem struktur. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.

Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. 2.1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.1.2. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Contoh a).1. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.3. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.

A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. Konstruksi statis tidak tertentu . P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu.3. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. b).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2.2. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).4. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. A B Gambar 2.

1. 2.6.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. Penutup Untuk mengukur prestasi. Perletakan A dan C sendi. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. b).4. Latihan a).5. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.1.1. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu.7. 2. Daftar Pustaka 1. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. Jadi diatas adalah statis tertentu.1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. kayu.1. 2.2.8. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen .2. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.1. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. baja dan lain-lain.

2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. tinggi. dansebagainya). memerlukan gaya dalam.3.2. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Contoh : a). Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar.6. yang satu lagi besar.8. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. kolom. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. satu kecil. P1 A L1 Gambar 2. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut.5.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. 2. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.2. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. Contoh (b) 2. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). Gambar 2. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. demikian juga untuk orang B. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. pendek (A). beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B.7. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. tinggi (B). Orang membawa membawa beban tersebut. pelat. P P Untuk A orangnya pendek.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

Mx = RA . ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. o Balok tersebut menderita gaya lintang.9. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N.(pers. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. x ƛ q. 2.4. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.2. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak .x.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. Gaya Dalam Momen a).

10. (pers. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2.

½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. Tanda momen (-) * Gambar 2. Demikian juga sebaliknya. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B.13. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.12.11.5. Tanda momen 2. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2.2.

Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2.14. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. Potongan balok bagian kanan .15. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan.

C RA Dilihat dari kiri potongan C. maka perlu memberi tanda (+) dan (-).16. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. gaya yang ada hanya RA. P Jika dilihat dari kanan potongan c. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. Karena RB adalah merupakan reaksi. jumlah gaya arahnya ke atas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. . Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah.

karena RA adalah reaksi.17. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Gambar 2. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). Jadi RA < P.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. A Dilihat dari kiri potongan D. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ).

maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. . * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. * Tanda Gaya Normal . Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.6. P P Kalau dilihat pada Gambar 3. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).18. 2.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.19) menerima gaya normal (N) sebesar P.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok.2. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.19. maka pada batang AB (Gambar 3.

7.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.2. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) . 2.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.

q1 = 2 t/mƞ. Ringkasan tanda gaya dalam 2.8.2. P3 = 2t (´) P4 = 3t . P2 = 6t (¶). P1 = 2 2 t (º).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.20. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.

RBV 71%! RBV. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.21.6 + P2 + q2.6.1  6.7 ƛ P2.6.3  2.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.q1 ƛ P2.12  2.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.6.10 ƛ q2. gaya lintang dan bidang normal. yang searah diberi tanda sama. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.6.4 + 2.10 ƛ P1R.4  2.6  2.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .12 ƛ q1.1. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.6 + 6 + 1.2 .1 = 0 2.2 = 0 1. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan. (Bidang M.3 + P1R.q2.7  6. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.6 ƛ q1. N. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.

2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = . Perletakan B = sendi ada RBH.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .

Variabel x2 berjalan dari E ke B. DE = 0 Dx2 = q2 . Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = .7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. x2 = + x2 (persamaan liniear) .1ton lintang ke bawah) 2. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). melampaui beban P2.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.

ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan). dari E ke B nilai gaya normal konstan.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. ND kr = .7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.P1H = . dimana gaya normal dihitung dari titik C.

Daerah A D . sehingga tanda negatif (momen P1v .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .2 = .P1v . x = .2.4 tm. x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .

25 tm.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5. lihat pada Gambar .½ .5)² + 11.22.5 m Mmax = .5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.5. x1 = 5.5 ƛ 4 = 26.2 (5.

titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.q1.½ .½ .½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10. 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.

5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2. N. Gambar bidang M.22.286 0. D balok diatas 2 tumpuan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.

5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.9.5 32. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.5 24. Bidang M.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.2.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). N. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. N.23. D Balok cantilever .

24. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.1 (2.10.3 ƛ 5.5² = .P1.6 ƛ P2. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.2 ƛ ½ . D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .5 tm ( ) MD : . a) reaksi perletakan b) bidang N.3.1.5 ƛ 1.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2. a) reaksi perletakan b) bidang N.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .2.5 = 32.5 t ( ) 2.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.

reaksi perletakan b). t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . D dan M q = 1. a).5 ton /m· . Ditanyakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . bidang N.

5 ton 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.tekan + + + + Momen = M .11.5 ton 3. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 tm 0 Tanda/arah o o p . Penutup Untuk mengukur prestasi.2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.2.5 ton 0 9 tm 10.5 ton 3. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.12.

13 tm 0.75 tm 4.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.625 ton 4.625 ton 4.375 ton 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.375 ton 2 ton 0 0 7.375 ton 2 ton 2 ton 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .tekan + + Momen = M + + - .08 m kanan A A X = 3.08 m D B C Nilai 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .

distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .dx. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.3.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. gaya lintang dan momen. Dx dx dan qx.0 d Mx = Dx . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). dx o Kiri ada Mx .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. Hubungan Antara Momen (M) .qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . . dx² .dx .24.

1. Skema balok miring .25. Seperti pada gambar. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. balok atap dan lain sebagainya. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.4. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. 2.4. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). misal : tangga. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. N.4. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. Ditanya : Gambar bidang M. 2. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.2. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal.

Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.2.1 = 0 18 ! 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.12 ton .2 ƛ 2. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.3 ƛ 4.3.5 ƛ q.2 ƛ 4.3 ƛ P2.2 ƛ q.1 = 0 RAV = 7.4 ƛ RAH.26.5 ƛ 1.3 ƛ P2.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.a.2.1 = 0 RAV.3 ƛ 4.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.16.1.2.3 ƛ 4. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.2 ƛ P1.3 ƛ P 1.4 ƛ 2.6 ton = 2.

3. sin E = -2 .6 ton Dari B ke D Dx = . 3/5 = -1.3.2 .(4 + 2) sin E = -6 .6 + q.26.3/5 = .3.// sumbu batang . cos E DD kn = .2 ton (dari kanan) ND kr = .6 + 2.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.6 + (2 + 4 + 4) cos.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .4 ton 4/5 .RB = .6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .2 ton Dc kr = .3. 4/5 = .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.1.3.(4 + 4 + 2) sin E = -10. 3/5 = .6 + q.E! 4. cos E= .x .6 ton NC kr = .3.b. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .2 ton DD kr = -3.

1. 3 .2 ƛ P. D 1 t/mƞ 4t B .1 = + 5.2 ƛ 4.5 tm Gambar bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3. 3. 2 1  . N.6 .q.75 ƛ 2.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .2.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .  .1 cos E = 3.q.6 .

Seperti contoh dibawah ini. Bidang gaya dalam pada balok miring .27.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Gambar 2.

3/5 = . cos E . 3/5 + 2.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. 4/5 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. 4/5) t = .12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .1 .3.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.2 + q. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.1.3.[(7.2 + 2.5.12 . NDkn = .12 NA kn = . 4/5 ƛ 2. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .16 .1 .1. 4/5] = . 3/5 = 4.[(7. DA kn = 7.16 . sin E E RAV .6 ton 2.16 . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . sin E + RAH . Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7. 3/5 + 2.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.16 . Cos E) RAH = 2. 3/5 = 1. cos E (gaya // sumbu batang) RAV.12 ƛ 4).16 . Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. DB = -2 ƛ 2.1.(7.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.5. 4/5] = .12 .12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. sin E NB = . beban tekanan tanah dan lain sebagainya. NC kn = . sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .16 t D = + RAV .16 . 2.2 ton.1. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.(RAV .RAH .2 .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

P = 3 ton Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. D dan M 30° Soal 2 q = 1. D dan M Soal 4 3m RB . .5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. a) reaksi perletakan b) bidang N. P = 3 ton Ditanyakan. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . Beban q = 1 t/m· . B = rol Ditanyakan. B = rol. seperti tergambar. a) reaksi perletakan c) bidang N.

88 t 3 ton 9. besarnya merupakan fungsi x.5.815 t 4. D dan M 2. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.16 t t 2.88m jarak miring dr A A B C X = 2. 2.5.12 ton 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .tekan .tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .76 ton 1.50 t 1. seperti tergambar.88 m Nilai 4.4. a) reaksi perletakan b) bidang N. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.50 t 2. Penutup Untuk mengukur prestasi. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga. B = rol.6 t 0 0 3 tm 0 3.tekan .63 t 2.11 tm Tanda/arah o n o p .5. ketelitian perhitungan perlu. Ditanyakan.

. X= Momen = M L 3 = 0.l 6 q.l 3 0 0 0 0.5774 L dari A A B C X= Nilai q. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.l 3 0 0 q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. 4 . Jawaban soal no.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p . B «««.l 6 q.6 ton 0 0 5.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««..tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.

7. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .5 ton 4.6.24m dari B A B X = 2.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. ƏStatika IƐ. UGM. Bab I. Bab I Soemono.5 ton 0 0 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0. Daftar Pustaka - Suwarno.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.24m Nilai 4.67 tm 3. 2.5.5 ton 3. ITB.

2.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.a l a .

Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.l 3 1/3 l .a l ax A Px a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. dengan beban segitiga diatasnya. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar.l ton 2 a. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a .

6. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. baja. Gelagar Tidak Langsung 2. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. dan profil baja.30.6. bambu. bambu atau baja tersebut. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. bambu. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu.31.31).1. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.

memanjang Potongan Melintang Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .31. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.

memanjang gel.2. induk / G ambar 2. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. tida k langsung Gambar 2. melintang gel. melainkan lewat perantara gelagar melintang. memanjang P P P . maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan.33. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. Penyederhanaan akhir.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. q kg/mƞ beban terbagi rata gel.32. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. untuk gel.6. tidak 2.3.6. gel. Penyederhanaan awal. induk). gel.

melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . P = 6q P² . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.35.qP² . 2P . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. 2P . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. memanjang genap.P/2 .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .P. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. melintang.

5 P .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.5 P . 1. 1. 1.1.5P .125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.q P .q P . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P . 2P .125 q P² = 3. ½ P = 3.½ q (1.375 q P² . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.5 P)² = 4.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .5 P² .½ q P .½ q (2P)² = 6q P² .25 q P² Perbedaan momen (0.

25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.0. 2½ P Gambar 2.125 q P² = 3.37.375 q P² . tapi kalau gelagarnya tidak langsung. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang). Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . namun s eperti gaya lintang beban terpusat. lantai = 3.

D. M. Latihan Soal 1: q = 1. Gaya reaksi V A. Gaya reaksi V A.5.6. 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 t/mƞ sepanjang bentang. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). Ditanyakan : a). . H A. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. Bidang N. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.6. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.6.6. 2. RB b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. q = 1. H A . RB b). D. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. Bidang N.4.

0 t 3.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .5 t 1.25 t 1.5 t 0 4.25 t 1.5 tm 0.25 tm 4.5 t 3. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.0 t 3.5 t 1.5 t 4.75 t 0.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.0 t 1.25 t 1.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.75 t 2.00 t 0 5.

0 tm 0 0 4.5 ton 3. Daftar Pustaka - Soemono. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.8. .7. 2. ƏStatika IƐ.24 m 3.24 m dari B A B X = 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0.6. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . ITB-Bab I Suwarno.73 tm  + + Momen = M + 2.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.67 tm 3. UGM Bab I.

Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. maka didalam suatu garis pengaruh. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. atau N (Normal). dan gaya no rmal.7. Garis Pengaruh 2. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan.7. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. atau gaya dalam M (Momen). gaya lintang dan gaya normal. jika di atas struktur jembatan 2.1.7. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. gaya lintang. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. gaya momen. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). tersebut berjalan suatu muatan. Jika dua hal tersebut dipadukan. gaya momen.2. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. .

x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B. Gambar garis pengaruh R A dan RB .P.P. R A RA . l ƛ P (l-x) = 0 P(l .P.l ƛ P.x = 0 P. R B + G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.P.38.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.

jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. dimana d c ton dan y 4 = ton. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.39.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.40.beban y1 dan RB =sama 4 . jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.7.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.R A + P=1 GP. y2 atau Gambar 2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.RB Gambar 2.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .39 A c 1t + y3 GP. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.R B Gambar 2.R A y2 GP. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.41.R B t A C a + y1 y2 GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .

Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.42. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1. sejarak b dari titik B.R B + y3 GP.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . sejarak dari titik A.43.P. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. sejarak d dari titik B.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP.

R A l x ton (linier ) l x=a G. l ƛ P.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.44.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.P. Gambar garis pengaruh gaya lintang .P. R B - b/l G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .

P.45. tm ª l º = 0 tm Gambar 2. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . a .b a.P.a x=a Mc = G. P = 1t x G. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.P. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . b =  Untuk P di A x . a tm = © ¹ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. M c ¨l a¸ b © ¹ ! . a tm ª l º Untuk P di C GP R A.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .

DBkn Jawab : GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A. DD.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. RB. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2. 2 = .M D + GP.DD - 1 t 3 GP.R B : 7 .2 - GP.4 GP. M D.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .R B 1 t 3 2 3 + GP.R B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. MD lihat kanan bagian x M D = RB .R A . 4 = .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.2 ! tm . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.R A. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.

RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.DBkr 1t GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.DD P antara A-D D D = .MB 2 tm GP.R B GP.46.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.

P2 = 2t berjalan P = 1 t © .4. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. Soal 2 A 3m berjalan. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. 4t DI (+) max. DI (-) max. GPD I. MI max.7. M max. GPRB. max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. ditanyakan GPR A.

.

I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GP MI a) Bila beban Ditanya. . GP D I. GP RB. MI max. ditanyakan GP R A. 3m berjalan. RB max.

o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton).7.7. = + 3.3 ton MI max. = + 9 tm Mmax. = + 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.6. = + 9. Penutup o Untuk mengukur prestasi.1875 tm . Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik.5. Max. 2.5 ton D I (+) max. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.

4 ton 0.7.Soemono. 2. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . Daftar Pustaka .175 ton = + 9.18 tm Nilai 1 ton 0 0. ƏStatika IƐ. Bab I. MI max. Senarai .4 tm 1.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.7. 2.3 ton 0 0 2.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.3 ton 0 1 ton 1.8.3 ton 0 0. UGM Bab I. - Suwarno. ITB.6 ton 0 0.Garis pengaruh - Beban berjalan .

A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. 3.1. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut.1. maka jumlah . B = rol dan C = rol. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. ( yang mempunyai lebar > 100 m ).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. yaitu 3 buah dimana A = sendi. a). perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV.1. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah.

7M = 0. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. RBV. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . maka bisa didefinisikan bahwa : . Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu.2.2. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. 7H = 0. 7H = 0.1. 7H = 0. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. RBV. Skema balok gerber 3. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. RAH. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. RAH.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b).1.

namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. .

dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. R . R . dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. 7 H = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. RAH. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. yang masih statis tertentu. . 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. C = rol. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. 7M = 0 dan 7M D = 0. 7 H = 0. B = rol.

Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.3.3.1. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Detail sendi gerber . Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.

Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.1. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.4. 3. dimana balok DC tertumpu di balok AB. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. jadi untuk sementara diterima saja. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC.6. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber.2. D B C Cara memilih : alternatif (1). balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. maka konstruksinya masih statis tak tertentu.1.5. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. sendi gerber belum ada. Apakah mungkin ? Perhatikan . Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. Kalau dilihat dari sub bab 3. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. sehingga struktur bisa diselesaikan.

maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. Perletakan D = Gambar 3. . perletakan A = sendi. perletak B = rol. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. Perhatikan balok DBC. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV).7. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . RDH). sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

8. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . b2 Jika konstruksinya (a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.5. demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.1. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).

per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Perhatikan balok DC (gambar b2). jadi tidak ada reaksi. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. perletakan B = rol (ada 1 reaksi).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. perletakan D = sendi. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). perletakan. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). . perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. (ada 2 reaksi). Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). c = rol (ada 1 reaksi). Jadi alternatif (C) adalah mungkin. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin .

Penggambaran bidang M. N. Skema pemisahan balok gerber . D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Bidang-bidang gaya dalam (M. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. maka balok AB bisa diselesaikan. N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C.9. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). N. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).

3 = 0 RA. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C. 4 ƛ P. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. 4 ƛ P.6.6.6. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .1 = 0 RS = P.6 + RS. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.8 ƛ 2.10.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. A = rol C = rol .0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.667 m 7 MA = 0 RS.6 ƛ 1.1 4.33t 3t + 1t BID. N Gambar 3. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).6 + 1. N.3 = 0 RC. D.6. M 2.3 = 0 BID.3 = 0 RC. Ditanya : Gambar bidang M. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.8 ƛ q.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.6 ƛ RS.2 ƛ 2. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.3 4.= P.833 m 5.1. .6. dengan jarak 1 m dari A.3 ! ! 3t 4 4 BID.2 ƛ q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.

x2 - Mx2 = 5.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x 2 - = 5. 2. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.667-x2 ) = 0 x2 =5.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .0287 tm.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.02589 = 8.833)² = 16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.667 x 2 .x = 3.2.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .x-P (x-1) = 3.833 ƛ (2.667.x1 = .667.0546 ƛ 8.q x2² (parabola) 2 1 .667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.1.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.Rs.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.

x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .6 = + 6. x 2 2 = .5.667 + 2 .5.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a . Latihan .1.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .667 + 2.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.Rc + q .Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .6.667 t Dbkn = -5.

Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . D) Suatu balok gerber dengan 1).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ).8.1. dengan perletakan A = sendi. B = rol C = rol. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . N. S = sendi gerber Beban : P = 5t. Gambar : bidang. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. Rangkuman o Balok gerber adalah : . A 2 m 5m 2 m 4m 2). o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC.bidang 3. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. Atau .Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu.

9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut. Penutup Untuk mengukur prestasi.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .4 ton 7.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. 3. Soal No.1.4 ton 3. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. 1 Keterangan Titik A Harga 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-58-

Soal 2
Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 ton 2.5 ton 5 tm 0 7,5 tm 0 2.5 ton 2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda

3.1.10. Daftar Pustaka 1. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.1.11. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.

3.2. Garis Pengaruh Balok Gerber

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-59-

3.2.1. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan, maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi, atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N), jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan

berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.

3.2.2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A), reaksi

ada

di B (R B); reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).

Gambar 3.11. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

b ! l1 l1 Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b. c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px . Rc) A S .c . b = 1 .b MI = 1 .13.P.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . Garis pengaruh D I-I dan M I-I G.p.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -62- Gambar 3. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = .c l1 P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA .b l1 Untuk P di I-I x=b l b c.Rc (sama dengan g.

p.p. e (sama dengan GP. RB G.e l2 . Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB .Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2 a/l2.P.e g.d M II = - a l2 . Rc.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -63- Sama dengan g. d Untuk P di II RB = M II = e l2 e l2 dtm e l2 d Untuk P di II Rc = d l2 M II = - d . R B. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e g. Rc Sama dengan g.e Gambar 3.p. b + d/ l2 .14.p.

Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.3.a.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.q dx Mc = ´ y.y GP.Mc y2 C dx P.

Dc Gambar 3. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.15.

Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum.1.2.2.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3. . ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.16.4.2.4. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.2. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. . 3.4. Pendahuluan Pada kenyataannya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. Prinsip dasar perhitungan .

17.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l.Mc y4 y5 Pada posisi awal.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. c1 c (x .bagian kiri titik C dan .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .c1 ¹  § Pr © .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .

maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01.12. 12.18. 23. . Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. 34.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . dan 01 (dengan skala) .di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. 23.

Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. . .Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.Dengan cara yang sama. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. . °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.

M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.5.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum. . 3. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.2. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. .2. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.19. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari.5.

P 3.2.r = R1 . P2. b 7 MA = 0 1 _P3 . Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.2.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. Prinsip Dasar Perhitungan . r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. .5. R2 dan P3 atau resultante P 1. a ƛ R2 . P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. P4.

5).4. Rt .2. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.

r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.20. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar.

Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.2.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.x 6.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.21.2 = Rt.1 + 6. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.1 + P3.45 Rt Gambar 3. GP R C .1 4. ditanyakan : GP R A .1 4.2 = 20 .45 r =1. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2. GP R B. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.

P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP M B. ditanyakan. GP DB kanan 2 2 b). RA 8m 2m a). 3. GP R D GP M I. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP R C . GP R B. Rangkuman . GP R A . GP D I.2. Akibat rangkaian beban M max berjalan. ditanyakan : MI max .7.

karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .8. .Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .2. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.

25 t 0 0 0 0 0 0 1.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.333 tm 0 0. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .25 t 0 0 0 0 1t 1. 2 a).

25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).5 t 0 0. MI max = + 14 tm.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .

. Daftar Pustaka . bab V .Suwarno.Soemono. ƏStatika IƐ. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . UGM.2. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.10.9. bab V-4 3. terjadi pada titik dibawah P 2 3.05 tm.2. ITB.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan.1. a. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. . serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). (c). Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. N.1. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. D) 4. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. (a). pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. dalam.1.

Penempatan Titik s (sendi) . tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.1.1. kedua perletakan dibuat sendi. Pelengkung sungai Gambar 4.2. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Dengan konstruksi pelengkung terse but.2. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. 4. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. struktur pelengkung tersebut.2. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.2. gelagar memanjang. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4.2.1.1. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. 7 V = 0 dan 7 M = 0. Bermacam-macam bentuk jembatan 4.1. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4.3.

h1 f I = VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.x1. x 1 HA HB II = HA. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.3. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.h1 B Nilai I = V A .q x² diatasnya.x . maka M E-E = VA. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.2. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.q x12 ƛ 2 B HA. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.1.4. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .

l ƛ HA. Cara Penyelesaian 4. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.h1 Gambar 4. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.6.5. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.3.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.1.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.3. 4.b1 = 0 (1) .1. Gambar nilai I = V A. (hA-hB) ƛ P1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.hA ƛ P1.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .a ƛ HA.

l .l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3). (4).a1 = 0 7 M S = 0 V B . 7M A = 0 VB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.H B . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .

maka nilai Ab bisa dicari. f = 0 Bv . Bv. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.b ƛ Ba . b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. f = 0 Av . b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .a ƛ P 1.S1 ƛ Ab .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av.l ƛ P1. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.l ƛ P1.

(³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal.

2. II II = HA . Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. x P Untuk balok yang lurus.3 Gambar (c). maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B.HA .9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . bukan pelengkung.3. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. y I = VA . x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. x. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.2. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).1. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. seperti pada gambar (4.a.1. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . maka Mx = V A .8. x ƛ ½ q x² .8). gaya lintang (D) dan gaya normal (N).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4.9 disamping. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.b l RA + Bidang D RB Gambar 4.

y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. Vx = V A ƛ q .10. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung.

maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. x cos E = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .Vx sin E. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.11.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .

N). Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. H. nilai gaya lintang. S Ec C yc f=3 m A H 2. Mc. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. VB. D) ataupun bidang normal (Bid. bidang gaya lintang (Bid. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4.12.13. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. M).5 m dari titik A. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. .

10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2. 2.5 m yc = 4.14. 2.q. l ƛ q. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama. Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.5  1 / 2.Xc ƛ H.5 (10  2.Xc² = 15 . (5)² = 0 H= V . 3 .5m Gambar 4. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . ½ l = 0 VA = ½ .yc ƛ ½ .5 ƛ 12.5 ton 3 3 VA .2.5) ! 2. 25 ! ! 12. 5. ½ l = 0 VB . maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . 2.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.l. l ƛ q.3.5 .3.H .25 ƛ ½ .5  1 / 2 . 3 ƛ ½ q . 3 .q (5)² 15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. l.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .

Dc = 0.5145 + 12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .2. Contoh 2 xc=2.5 . 0.sin Ec + Hc cos Ec) = .4312 ƛ 6. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5145 = 6. 0. 0.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7. 0. Vc = VA ƛ q.5 = 7.(7.5 ton ( o) Hc = H = 12.5 .5 .15.(Vc. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = . Nc = -14.5 .14.8575) = .5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.8575 ƛ 12.5774 ton.x = 15 ƛ 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

3 = 0 HB = 1.76  6. 10 .2 (10  2) ! 1.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. l .6 . l + P.yp = 0 VA .92 ton ( n)  5. 5 ƛ HA . 3 ƛ 6 . ½ l ƛ HA .08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .92 = 0 VB . 1.92) = 0 .P.1. 5 ƛ HB .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.3.76 ƛ HA .152 .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .5. f = 0 1. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.48 ! 4.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . ½ l ƛ H B .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. 1.92 = 0 (cocok) .08 ƛ 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.152 . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . 10 + 6 .yp = 0 VB . 1.

152 .32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.08 .92 . cos E = 0.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.5145 Dc = .5145.8575 ƛ 1.98 HB = 4.V A .17.88 + 9.Xc + HA . 25 ƛ 6 (2.5 + 4.92) = -1.92 ( ) 0.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .25 m Ec = 30.2. 2.152 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.96° sin Ec = 0. 0.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.18 ƛ 1.8575 Mc = . = -1.08 = 1.25 ƛ = . Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2. 2. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.

maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. HA.1. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. HA.4. VB. HB. Mc. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A.92 . Mc. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .1. 0. 0.0537 ton 4. HB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. Nc. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). VB. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B.5145 ƛ 1. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.152 .8575 = . Nc.

mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.1.5 ton 6. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7. 4. Soal No. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.5.25 m 0.1. Penutup Untuk mengukur prestasi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.75 0.8 o o p n . o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.667 ton 4.6 0.6.5 ton 4. Sedang bidang momen. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.667 ton 2. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.

7.184 ton 5.3672 tm 2.5625 tm ~0 5.842 7.36 m 0.539 0.8. . Soemono ƠStatika Iơ ITB. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.64 0.226 ton 4.8336 ton (-) (-) Soal No.9675 ton 3.1. bab 4. UGM.9675 ton 5. bab 2.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0. Daftar Pustaka 1.1.774 ton 1. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).

f = 0. H P. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. x = l G. b f VA .2. x = 0 1t Untuk P di B . x = 0 Untuk P di B .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4.P.P.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. Garis pengaruh V A. VB .P VA (+) 1t G.2. 6 MA = 0 VA H l a G. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.P. 4.3 Prinsip penyelesaian.1. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. b l . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. b ƛ H . Garis Pengaruh Reaksi x P S G. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G.2. a .2. a f Px b . 4. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.18. a. V B dan H Px ) l .f Untuk P di A .2.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . b = f V B . Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4.

f v G. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). R l C u VA VB Bagian II H.C = G.v l G. maka lihat kiri potongan (kiri C).P.P. x = a H=0 P. bagian I (+) P . a .b c l .b ton l.P.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .b ton H= l . a .H . a. v .H .P. x = 0 p H = 0 Untuk P di S . f ton H= 6 MS = 0 VA . x = a p H = P. x = l Untuk P di S . u . v sama dengan G. M C = VA . u .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B).f G. M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . B H b MC = VB . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. H x C v P. u .f = 0 a H = VA . u dan V B . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P .P. M C pada balok di atas dua perletakan l G.P.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105-

-

Gambar 4.19. Gambar GP.Mc C. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C, VA sin D dan V A cos D. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D, sehingga: NC = - (VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D - H sin D I II I -> identik dengan G.P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.P. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.P. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C)

H a l G.P. NC bagian I Q sin E l (+) ( - ) v sin E

H b

l

GP VB sin GP. V A Sin D D GP NC Bagian II ()

P. a . b cos E l .f

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106-

-

v sin E l

GP NC Total ( I dan II ) II (-)
a .b cos E l .f

identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H), untuk GP. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. Gaya lintang

G.P. NC
v cos E l

perlu dikalikan cos sin E

(-) (+) VB cos E
v cos E l

Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l²

-

Pab sin E lf

u cos E l

GP DC Total (I + II)

Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' =

(-)

v cos E l.
G.P. D C a b sin E l. f

Gambar 4.20. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi. Pendahuluan Seperti pada balok menerus.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109- - 4. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan .3. Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi 4.3.1.

2. Muatan akan ditransfer ke struktur utama.3. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110- - S Gambar 4. dalam hal ini pelengkung 3 sendi.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi 4. q = kg/mƞ a P b q kg/mƞ P R1 R1 R2 R2 R3 R3 R4 R4 R5 R5 R6 R6 S P P P L =5P P P .

. . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . ½ P = ½ q P R2 = q . Kondisi pembebanan kolom (b). .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q .24. . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. (a). . ½ P + (b/P ). P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q .

qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0.25.4. Cos E . . . sin E + Hcos E) Dc = Vc.e-HA.5 ton R5 = 1.e-HA.Xc-R2. . Menjadi (R1. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. R2. R3. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. Pendahuluan . .4. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. .Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4.Yc Nc = -(Vc . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA.5 ton a R1 R2 C R3 S e .1. .Yc Vc = VA. .Xc-R2. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.

langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. A C I D E ½ ½ P P + 1.5 P .N. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. atau 1 kg atau Newton) . transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. P . 4. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.4. dengan ordinat 1.5P . Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. P .33 P 54. P . Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. (1 ton.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.26.Y2).25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.Y1 + P2. Jika letak . Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan.2.33 P 54.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. 2. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. P .

M I gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4.27. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Gambarkan Garis pengaruh Mc . Dc dan Nc . Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada.

x  H.Q.b yc l. f H R VB H VA Q .(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P. 28. b GPMc bagian I P. Mc total (bag I + bag II) - II + P.1.a .P. a .Y l P. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan. C yc .f G. GP Mc = V .f G.Dc = Av cos E .b sin E lf pemaparan Gambar 4. Judul : Portal 3 sendi 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.b yc l.5.P.Q.H sin E Cos E P. Pendahuluan .Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. .P.a . Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung. S .a. 4.Nc = .yc A  ] II I .5.a . Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.b cos E lf pemaparanG.

Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi.5.2. bisa berupa balok menerus. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. 4.29. balok gerder.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.

a2 ƛ P1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. b1 ƛ P2 . (h ƛ hƞ) ƛ P2 .hƞ ƛ P 1 . a1 = 0 VB. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.a + HA. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . b2 = 0 VA.l + HB.l + HB.l + HA. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.hƞ ƛ P2 .30.h ƛ P 1 .

31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.

b 2 = 0 Av = P1. a2 = 0 Bv = P1. b  P2 .a ƛ P1 . f = HA . f ƞ Bv. f = HB . S 1 ƛ AB . b 1 ƛ P2 . S 2 f Nilai BA .a 1  P2 . f ƞ Av.b 2 l 7 MA = 0 Bv. f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA .a  P1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. f = 0 BA = Bv . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .l ƛ P1 . a1 ƛ P2 . S 2 ƛ BA .l ƛ P1 .a 2 l Nilai A B .b ƛ P2 . f = 0 . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .b1  P2 .

4. 2/6 = 0.l ± q . P =1 Penyelesaian. 4.3 .5 - P. 38 ! 1.5 = 0 Bv Av.q . 3ƛ2.6 ± 2. 1.32.3 . tg E Avƞ = 1.5 ± 2.3 ton .5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 1.3 ton Avƞ = H A .l ± P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .5ƛ HA. 3 .4333 ( q) Bvƞ = 0. selesaikanlah struktur tersebut.5 .3 .5 ± 4.1 = 0 Av. 1.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. 3 .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .6 ± 4. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.3. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .

2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.7334 + 5.4333 m = 4 5/6 + 0.3t B B 5.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.4333 = 4.7334t 1.2666 t .3t 4.7334 t VB = Bv + 0.4333 = 5.

3 t Gambar 4.7334 ƛ 6 = -1.3667 ƛ ½ .5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.8 1.3667 m (daerah cs) x = 2.32.3667 Mx = -HA .7.40127 tm (M max) MD = -HB .2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1. 6 = -1.3 .60127 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.1 H B.2666 t = 0.8 tm - Mc = -HA . N.3 t = . 4 = -1.7334 .2 + 11. q (x²) .6 = 5.3 t 1.3667)² = -5. Bidang M.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.4 = . 2.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.3 t 1.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA . 4 + 4.3667 ƛ ½ .3.2666.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.3t Dx = VA ƛ qx 1.3 t 4.2666 t Mx = -1. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.7334 t BIDANG N - Di S 5. 6 = .1 ƛ 7. 2.2666 t x=3m Ds = 4.C A x 4.5.2 tm - S D 7.7334 ton Daerah C-D = -1.2.3 .3 ton Daerah B-D 5. 2 (2.20254 ƛ 5. 4 + VA .

JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. 4. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.33.2.6. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.34. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. maka untuk memperpanjang bentang. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).6.6. . - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4.1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. . baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.6. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.3. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. merupakan struktur yang menumpu.35.

3. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. 4. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. Pendahuluan Seperti biasanya. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.7.7.2.1.7.36.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4.7. Contoh Penyelesaian . Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. S (b) B GA ambar 4.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1.

b a.f GP.c l .H u.b l .RA .f ! l.f GP.f - + + GP. f l d.RA a.ND=G P.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.d l.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.DD Q l GP.a l cb l GP.37.M D cb l Gambar 4. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.b .RB b.v l a.R B + c l + + d l a.

b .p. N D Garis pengaruh N D sama dengan g.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. b ƛ H.p nilai H. ~ g.b p H ! x p ND !  l l f lf . DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. R B f P di E RB = c c l c. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .f = 0 H = RB .

MD P berada antara D C M D = RA . 4. f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. p N D !  l l f l f P di S 1 GP.8.V l II = H . Q .a f P di S b a ab RA = b p H ! . a ƛ H. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .H .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. f = Garis pengaruh H x f.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .f = 0 H= R A .

P VA . H. G. G. ditanyakanL G. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1.D C .P. G.P.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. G. G.P. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2.P. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu.P NC kanan. . C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal. VA . G. ditanyakan : G. G.P.P D C bawah. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. N C .PH.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. G.P N C bawah .

447t 0.447t 0 0 0 1. Rangkuman 4.782t 1.1175t 0 0 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.5 0. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.9.10.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.5t m 1.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .335t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.447 0.

75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.084t 1. Daftar Pustaka Suwarno.384t 0.25t 0.333t 0 0 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1. UGM Bab VI dan VII .60t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.11.333t 0 0 0.40t 0 0 1.20t 0.336t 0 0 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.12.R. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.B.) . Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.1. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.

4. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. .1. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. Rangkaian dari material bambu.2. 5.1. Jika materialnya dari beton.1. 5.3.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. tapi kalau materialnya dari kayu. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. ba mbu atau baja. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. maka kita harus merangkai material tersebut.

P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. Bentuk K. .5. Pada konstruksi kayu memakai baut. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).1.5. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. 5.B.1.R. pasak atau paku.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.1. paku keling atau las.

. Detail I.3. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.2.R. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.

1. Bidang. atas (ikatan angin atas) 1 K.2. sisi 1 K.B.B. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.R.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.B.B. Pada Jembatan K. Ruang terdiri dari 2 K.B.R. bawah (ikatan angin bawah) K. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.B.B.4. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .R.R.R. Gambar 5.5.R.

Konstruksi rangka batang bidang .R. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.1. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.5. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .B.B. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.3.R. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.5.

15.6.B. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) . 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.R. r = jumlah reaksi perletakan 5.4.1. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.B. Rumus Umum Untuk K.

Kx = 0 dan 7 .Ky = 0 b. Cara analitis dengan menggu nakan 7 . Keseimbangan titik buhul a.R.B.7.6. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.1. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan. 1. Cara grafis dengan metode Cremona .

Cara Analitis Metode Ritter b.8. a. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . Metode Penukaran batang 5.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. b. Cara Grafis Metode Cullman 3. Metode Potongan : a.Kx =0 7.V = 0 ata 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.1. y 7H=0 7. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .8.

9. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. selesaikan struktur tersebut.1. tiap -tiap batang perlu diberi notasi. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . B2 dan B1ƞ. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5.4 . 4 P .9. .4 . 4 P . Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . V2 dan V 1ƞ. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. Untuk batang atas diberi notasi A 1. D2 dan D 1ƞ. A2 dan A 1ƞ.

Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. Dalam penjumlahan. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. gaya yang searah diberi tanda sama. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan.B. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. . titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.10.

2 A1 = .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . V1 = . 2 7V=0 . 3 2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.½ D 1 A1 = .½ .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144-

-

Batang A 2 dan D2 dianggap tarik. Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = - 2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = - 2 ton (tekan)

Titik VI

Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = - 2 t (tekan)

2t

Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik
Titik V

Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t

2

2
Dƞ2

7V=0

½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik)

7H=0 ½ D 2ƞ

B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik)

3t

2 B2ƞ

Titik VIII

Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = - 1 t (tekan)

2t

2t

7V=0

1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = - 1t (tekan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145-

-

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .2 2 t .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148- - Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang. 2 = . statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3 Titik Simpul I II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1 A D2 B2 V V2 0 x3t=2t 0 x3t=1t Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1 2 ½ D1 2 D1 ½ D1 2 B1 7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . dengan notasi seperti pada ga mbar.½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik) 2 t (reaksi) .r.b. (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 .

2 .2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 .2 t (tekan) 2 A D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2 2 7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 = 1 t (tarik) B2 = 2t Titik VI Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149- - Titik III V1 Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik) 2t 3t B2 7 Kx = 0 Titik II ½ D2 ½ D1 2 Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 . 1t D3 = .2 . 2 2. 2 . 2 .½ . 2 2 . 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan) 2 Titik IV Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2 D2 = 2t ½ D 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = . 2.3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 .V2 = 0 V2= ½ .½ . 2 + B3 = 0 B3 = 1t . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 .½ .

Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar.10. 2. Gaya ƛ Reaksi B b). D3 1t ƛ ½ . Gaya reaksi b). 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). Gaya. P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . Beban .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ .gaya batang RB .

11. 5. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.835 0.333 t 3. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.555 6. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan. bisa berupa gaya tarik.00 t 6. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.12. 667 t 6. Pencarian gaya-gaya batang.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .808 t 4. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.1.333 t 6.20 t 4.667 t 5.00 t 1.20 t 1.000 t 2. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.1. atau gaya tekan.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. . - Daftar Pustaka Suwarno.13. UGM Bab Soemono. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.1. bab 5.1. ƏStatika IƐ.14.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No.