MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

2. OABC . . tapi titik tangkapnya tidak sama.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. . pertemuannya di titik 0. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . ar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2.. tapi masih sebidang. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang.

K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1.4. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dan K3. . Urut-urutan penjumlahan. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1.

5.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.

K3 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. D F E. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.

Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. K2. b. dan e. d.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. K3 dan K4 yaitu R.6. c. K2. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. garis . perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). Garis-garis tersebut dinamakan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K2. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul.

dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. K2.7. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat.2. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ.1. . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan.4. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. K2. . K3 dan K4. diproyeksikan. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E .

 K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox.8. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. secara analitis K1x = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.

6. 3. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. K3 dan K4. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. . sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°.5. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. K2.1.1. Latihan 1. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. 1.

Penutup Untuk mengukur prestasi.8. secara bertahap. sedang soal no.1. 3 hanya berupa grafis.9. Daftar Pustaka 1.1 ton sdt = 22. 2.1. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. French.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12.7. Samuel E. Bab I.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. ƏStatika IƐ ITB.1.5° dari sumbu x R = 11.5° dari sumbu x R = 12. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. Soemono. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. Bab I 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. Suwarno. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. No. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. 3. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah .1 ton sdt = 22.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik .1. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. kolom.2. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. mengerti tentang beban. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. Contoh : a. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. reaksi. jembatan dan lainsebagainya. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. reaksi dan gaya dalam.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. balok.2. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. 1. kolom. apa itu beban. balok.9. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1.

manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. kendaraan. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. misal : meja.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.10. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. a. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. peralatan dan lainsebagainya. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. a. balok perletaka n Gambar 1.2. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati.2. dan lain sebagainya.2.

Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Gambar 1. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Newton. Gambar 1. dan lainsebagainya.12. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton.11. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. kg.

konsep pengertian tentang perletakan. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. 1. jembatan. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. dan lainsebagainya. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. Contoh : a. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah.2.2.3. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur.3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ.1.

Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. ada reaksi vertikal. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. perletakan Gambar 1. a.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal.15.2.13.14. Rol Strukt Bentuk perletakan rol.2. jepit dan perodel.3. (Gambar 1. . pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. sendi.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. maka oleh rol tersebut dari atas.

Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Karena struktur harus stabil. Jadi sendi tidak mekanika teknik. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal.17. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. oleh Rv Gambar 1. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas.16.17). Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen.18. Rv RH c. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1.

Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R .21.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. ada reaksi vertikal. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. balok baja pendel Gambar 1. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. horizontal. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.20. dan momen Gambar 1. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut.21. ada reaksi searah pendel.

22. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.

2. jembatan dan lain sebagainya.1. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang.3. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. suatu kotak yang dilem diatas meja 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. 1. a. serta manfaatnya dalam struktur tersebut.3. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. hal itu merupakan syarat utama. dan bagaimana cara menyelesaikannya.3.23. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. Keseimbangan vertikal . mahasiswa perlu mengetahuinya.

yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). maka kotak tersebut langsung tenggelam.25) Gambar 1. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut .24. Kotak tenggelam dalam lumpur b. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. Kotak Gambar 1. (Gambar 1.25. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). maka kotak tersebut tidak bisa turun.

karena tidak ada yang menghambat. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat).26. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.27) Gambar 1. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. maka kotak tersebut langsung bergeser. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. PM Kotak Lem Meja . Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1.27.

yang RH berarti harus stabil. benda tersebut harus tidak bisa turun.29. Keseimbangan statis . Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. dan tidak bisa terangkat.30. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). momen maka kotak tersebut bisa terangkat. RM Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. Gambar 1. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja.

agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).  Dari variasi tersebut diatas. 1. atau RV .PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol).4. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). Latihan 1. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). maka syarat minimum RM = PM atau RM .3. Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula.

RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. satuan.6. 1. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.5. q.Beban terpusat. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. notasi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?.Jepit punya 3 reaksi .Rol punya 1 reaksi . P. Penutup . notasi. Rv = ? 2.3. Rangkuman o Macam-Macam Beban . satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .Sendi punya 2 reaksi .Beban terbagi rata.3. kg atau ton atau Newton .Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.

Suwarno. 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. Daftar Pustaka 1.7.3. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .3.8.

2. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.1.1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. jembatan dan lain sebagainya. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. ada beberapa macam sistem struktur.1. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. seperti gedung-gedung. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil.

Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2.3. 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.1.1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.1. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Contoh a).2. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) .

RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. A B Gambar 2. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah.4. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah.3. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu.2. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). Konstruksi statis tidak tertentu . b). maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui.

Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.4.6. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. Penutup Untuk mengukur prestasi. Latihan a). Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.5. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. b).1. Perletakan A dan C sendi. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. 2.1.

baja dan lain-lain.2.2.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu.1.7. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen .1. kayu. 2. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. Jadi diatas adalah statis tertentu. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. 2.8. Daftar Pustaka 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.

8.2. P P Untuk A orangnya pendek.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. dansebagainya). Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. pendek (A). Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. Contoh (b) 2.5.3. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang .6. pelat. P1 A L1 Gambar 2. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. tinggi (B). Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Orang membawa membawa beban tersebut. memerlukan gaya dalam. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2.2. tinggi. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. Gambar 2. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. yang satu lagi besar.2.7. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. demikian juga untuk orang B. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. Contoh : a). satu kecil. kolom. 2. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

x ƛ q.2. Mx = RA .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. o Balok tersebut menderita gaya lintang. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.x.4. Gaya Dalam Momen a). (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.(pers. 2. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D.9. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak.

10. (pers. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2.

Demikian juga sebaliknya.11. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif.2.12. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2.5.13.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Tanda momen (-) * Gambar 2. Tanda momen 2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA .

Potongan balok bagian kanan .14. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang.15. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.

jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip.16. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). gaya yang ada hanya RA. . atau kalau dilihat di kanan RB potongan. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. C RA Dilihat dari kiri potongan C. jumlah gaya arahnya ke atas. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). Karena RB adalah merupakan reaksi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. P Jika dilihat dari kanan potongan c. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.

Gambar 2. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah .17. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. karena RA adalah reaksi. A Dilihat dari kiri potongan D. D maka gaya lintangnya tandanya negatif.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). Jadi RA < P.

baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.18. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. .19. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. * Tanda Gaya Normal . Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. 2. P P Kalau dilihat pada Gambar 3.2. maka pada batang AB (Gambar 3.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.

Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) . maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }. 2.2.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.7.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .

8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. P2 = 6t (¶). Ringkasan tanda gaya dalam 2. q1 = 2 t/mƞ.20. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. P3 = 2t (´) P4 = 3t . P1 = 2 2 t (º).2. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .

6.12 ƛ q1.2 = 0 1. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.10 ƛ q2.12  2. gaya lintang dan bidang normal.10 ƛ P1R. yang searah diberi tanda sama. (Bidang M.6.6.q2.1 = 0 2.4  2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.3  2.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.2 .2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.7  6.7 ƛ P2.21.6  2. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.6.6 + 6 + 1. N.6 ƛ q1. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .1  6.1.4 + 2.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.6 + P2 + q2.q1 ƛ P2. RBV 71%! RBV.3 + P1R. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.

Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . Perletakan B = sendi ada RBH. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.

Variabel x2 berjalan dari E ke B. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). x2 = + x2 (persamaan liniear) .1ton lintang ke bawah) 2.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. melampaui beban P2.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. DE = 0 Dx2 = q2 . DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .

P1H = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. dimana gaya normal dihitung dari titik C.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. batang dari D ke B nilai gaya normal konstan). ND kr = . ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . dari E ke B nilai gaya normal konstan.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .

2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .2 = .2. x = .4 tm.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).P1v . sehingga tanda negatif (momen P1v . Daerah A D .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = . x1 = 5.2 (5.5.5 m Mmax = .½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.25 tm.5 ƛ 4 = 26.½ .22. lihat pada Gambar .5)² + 11.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5.

x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.½ .½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .q1. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 . 1.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .

3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0. Gambar bidang M.22.286 0.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. D balok diatas 2 tumpuan . N.

5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.5 24. Bidang M.5 32. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.23. N.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5.9. N. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.2. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. D Balok cantilever .3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).

1 (2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .3.1.24.5 = 32.10. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.5 tm ( ) MD : .2. a) reaksi perletakan b) bidang N.5² = . D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C . D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.6 ƛ P2.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5. a) reaksi perletakan b) bidang N.P1.5 t ( ) 2.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.5 ƛ 1.2 ƛ ½ . Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.3 ƛ 5.

reaksi perletakan b). Ditanyakan. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . bidang N. a).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . D dan M q = 1.5 ton /m· .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.11.2. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.5 ton 0. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.12. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 0 9 tm 10.5 ton 3.5 ton 3. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 tm 0 Tanda/arah o o p .5 ton 4 ton 4 ton 0 4.2.tekan + + + + Momen = M .

3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.13 tm 0.08 m kanan A A X = 3.75 tm 4.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.375 ton 2 ton 0 0 7. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .tekan + + Momen = M + + - .625 ton 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .08 m D B C Nilai 4.375 ton 2 ton 2 ton 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.625 ton 4.375 ton 2.

dx. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.dx . qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . gaya lintang dan momen. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. Hubungan Antara Momen (M) . Dx dx dan qx. dx o Kiri ada Mx .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.3. dx² .24.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . .0 d Mx = Dx .

Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar.1.4. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. balok atap dan lain sebagainya. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.25.4. Skema balok miring . Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. 2. misal : tangga. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Seperti pada gambar.

D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. N. 2.4. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.2. Ditanya : Gambar bidang M. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal.

3 ƛ P2.a.2 ƛ 4.2.4 ƛ 2.2 ƛ q.12 ton .5 ƛ 1.4 ƛ RAH.26.2 ƛ 2.2.1 = 0 18 ! 3.16.3 ƛ 4.6 ton = 2.3 ƛ P2.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.3 ƛ 4.1.3.2 ƛ P1.2. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.3 ƛ 4.3 ƛ P 1. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.5 ƛ q.1 = 0 RAV = 7.1 = 0 RAV.

(4 + 4 + 2) sin E = -10.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .6 + q.6 + (2 + 4 + 4) cos. 3/5 = -1.E! 4.2 .3/5 = .1.4 ton 4/5 . Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .// sumbu batang . cos E= .RB = .x .b.2 ton Dc kr = .6 ton NC kr = .3.26.3.6 + 2.3.6 ton Dari B ke D Dx = . sin E = -2 .3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .(4 + 2) sin E = -6 .6 + q.3.2 ton (dari kanan) ND kr = .6 + (2 + 4) 4/5 = 1. 3/5 = .3. cos E DD kn = .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2. 4/5 = .2 ton DD kr = -3.

D 1 t/mƞ 4t B .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB . 3.2 ƛ 4.q.75 ƛ 2.5 tm Gambar bidang M.2 ƛ P.  .6 .1.1 = + 5.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB . N.1 cos E = 3. 2 1  . 3 .6 .q.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.

Bidang gaya dalam pada balok miring .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini.27. Gambar 2.

DA kn = 7.3. 4/5) t = .12 NA kn = .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2. 4/5] = .1 .5.1.[(7.1 .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. 3/5 = 1.2 + q. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.16 . 2. sin E E RAV . sin E + RAH . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .(RAV . cos E (gaya // sumbu batang) RAV. 4/5 ƛ 2. 3/5 = 4.16 . sin E NB = . 3/5 + 2. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. cos E . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.12 .6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. 4/5] = .12 ƛ 4).6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. 4/5 = .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .16 . Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .12 . Cos E) RAH = 2. DB = -2 ƛ 2.3.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.1.[(7.2 ton. sin E (gaya B sumbu batang) RAH. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = . beban tekanan tanah dan lain sebagainya.1. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .2 + 2.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.16 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.5.16 . 3/5 = . Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7. 3/5 + 2.(7. NDkn = .16 t D = + RAV .2 . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . NC kn = .6 ton 2.16 .RAH .1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. B = rol. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . P = 3 ton Ditanyakan. . q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. D dan M Soal 4 3m RB . B = rol Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan c) bidang N. seperti tergambar. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M 30° Soal 2 q = 1.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga.

88 m Nilai 4. a) reaksi perletakan b) bidang N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .4. besarnya merupakan fungsi x. B = rol.tekan .5. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah. Ditanyakan. Penutup Untuk mengukur prestasi. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.50 t 2.815 t 4.63 t 2.50 t 1.16 t t 2.88 t 3 ton 9. seperti tergambar.11 tm Tanda/arah o n o p .76 ton 1. 2.6 t 0 0 3 tm 0 3.5.12 ton 5.88m jarak miring dr A A B C X = 2. D dan M 2. ketelitian perhitungan perlu.5.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .tekan .

tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no.l 3 0 0 q.5774 L dari A A B C X= Nilai q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. B «««. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p . Jawaban soal no..l 6 q.l 3 0 0 0 0.l 6 q. X= Momen = M L 3 = 0. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««..6 ton 0 0 5. 4 .

5 ton 0 0 4.24m Nilai 4. ƏStatika IƐ.67 tm 3.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0.7.5.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2. Bab I.5 ton 4.24m dari B A B X = 2. Bab I Soemono. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .6.5 ton 3. ITB. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. 2. UGM. Daftar Pustaka - Suwarno.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.a l a .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2.

l ton 2 a.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.a l ax A Px a. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.l 3 1/3 l . Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . dengan beban segitiga diatasnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B.

dan profil baja.30. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.6. baja.31). melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. bambu atau baja tersebut. bambu.6. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu.1. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. bambu. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. Gelagar Tidak Langsung 2. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung.31.

melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .31.

6. Penyederhanaan awal. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. memanjang gel. gel. memanjang P P P . melintang gel.3.32. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. melainkan lewat perantara gelagar melintang.6. tida k langsung Gambar 2. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. induk).2. tidak 2. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. gel. induk / G ambar 2.33. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. untuk gel. Penyederhanaan akhir. q kg/mƞ beban terbagi rata gel.

P = 6q P² . 2P .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.qP² . melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. memanjang genap.P.35. 2P . melintang.P/2 .

5P .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.25 q P² Perbedaan momen (0.1. 1. ½ P = 3.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. 1. 1.125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.q P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.375 q P² .5 P .5 P² .125 q P² = 3.q P . 2P .½ q (2P)² = 6q P² .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .5 P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.½ q (1.5 P)² = 4.½ q P .

lantai = 3. 2½ P Gambar 2.125 q P² = 3. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).375 q P² .25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.0. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . namun s eperti gaya lintang beban terpusat. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.37.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M.

D. Penutup Untuk mengukur prestasi. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. Ditanyakan : a). Bidang N.6. M.5. 2. Latihan Soal 1: q = 1. RB b). q = 1.4.6. . 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).6. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. H A. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan.5 t/mƞ sepanjang bentang. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada. D.6. 2. H A . Gaya reaksi V A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. RB b). Bidang N. Gaya reaksi V A.

25 t 1.5 t 3.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.5 t 1.5 t 1.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .0 t 1.00 t 0 5.25 t 1.5 tm 0.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.0 t 3. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.25 t 1.25 tm 4.75 t 0.5 t 0 4.0 t 3.75 t 2.5 t 4.

8. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . ƏStatika IƐ.67 tm 3.5 ton 1 ton 0 0 0 0.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.24 m 3. Daftar Pustaka - Soemono. 2.24 m dari B A B X = 2. ITB-Bab I Suwarno.0 tm 0 0 4. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.6.6. . UGM Bab I.73 tm  + + Momen = M + 2.5 ton 3.

muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. Jika dua hal tersebut dipadukan. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. tersebut berjalan suatu muatan. gaya momen. jika di atas struktur jembatan 2.1. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh.7. gaya momen.7. atau N (Normal). . atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. gaya lintang. Garis Pengaruh 2. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. maka didalam suatu garis pengaruh. gaya lintang dan gaya normal. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. dan gaya no rmal. atau gaya dalam M (Momen). Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut.7. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?.2.

RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.38. l ƛ P (l-x) = 0 P(l . R B + G. R A RA . Gambar garis pengaruh R A dan RB .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.P.P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.l ƛ P.x = 0 P.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.P.

jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.R B t A C a + y1 y2 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l . Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.41.R A y2 GP. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.R B Gambar 2.7.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. dimana d c ton dan y 4 = ton.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .40.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.39 A c 1t + y3 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.RB Gambar 2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.R A + P=1 GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.3.39. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP. y2 atau Gambar 2. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.beban y1 dan RB =sama 4 .

D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .42. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. sejarak d dari titik B. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.P. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . sejarak dari titik A.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.43. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.R B + y3 GP. sejarak b dari titik B.

P. Gambar garis pengaruh gaya lintang .P. l ƛ P. R A l x ton (linier ) l x=a G.44.P. R B - b/l G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.P.

P. a tm = © ¹ .a x=a Mc = G. tm ª l º = 0 tm Gambar 2. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB .P. a .P. P = 1t x G. M c ¨l a¸ b © ¹ ! . a tm ª l º Untuk P di C GP R A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.b a.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB. b =  Untuk P di A x . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a .45.

DD - 1 t 3 GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. 4 = . M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.4 GP.M D + GP. DD.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. M D.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.R B.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.2 ! tm .R A .2 - GP. DBkn Jawab : GP. RB. MD lihat kanan bagian x M D = RB .R B : 7 . 2 = .R A.

RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.DD P antara A-D D D = .R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.MB 2 tm GP.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .46.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.R B GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.DBkr 1t GP.

4. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GPD I. max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. Soal 2 A 3m berjalan. ditanyakan GPR A. 4t DI (+) max. GPRB. MI max. M max. P2 = 2t berjalan P = 1 t © .7. DI (-) max. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya.

.

ditanyakan GP R A. 3m berjalan. MI max. GP RB. . GP D I. RB max. I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GP MI a) Bila beban Ditanya.

Max. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. 2.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. = + 9 tm Mmax.3 ton MI max.7. = + 9. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). = + 3. Penutup o Untuk mengukur prestasi.1875 tm . 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.5 ton D I (+) max.5. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. = + 5.6.

- Suwarno. ITB.175 ton = + 9. 2. MI max.Garis pengaruh - Beban berjalan .3 ton 0 0.7.4 tm 1. Bab I. Daftar Pustaka .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.18 tm Nilai 1 ton 0 0.7.6 ton 0 0. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.Soemono.4 ton 0. Senarai .7.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.3 ton 0 0 2.3 ton 0 1 ton 1. 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . ƏStatika IƐ.8. UGM Bab I.

perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. a). perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah.1. 3. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut.1. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . ( yang mempunyai lebar > 100 m ). yaitu 3 buah dimana A = sendi. maka jumlah . Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. B = rol dan C = rol.

7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru).1. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. 7M = 0. RBV. Skema balok gerber 3. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. 7H = 0. maka bisa didefinisikan bahwa : . RAH.1. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. RAH. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.2. 7H = 0. 7H = 0. RBV. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV.2.

namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. .

7 H = 0. . Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. R . dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. B = rol. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. 7M = 0 dan 7M D = 0. C = rol. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. RAH. R . disebut dengan konstruksi balok ge rber. yang masih statis tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. 7 H = 0.

3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.3. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. Detail sendi gerber .1.

Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.4. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .4. dimana balok DC tertumpu di balok AB.1. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD. 3.

jadi untuk sementara diterima saja. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. Kalau dilihat dari sub bab 3. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0.2. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. D B C Cara memilih : alternatif (1). balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. sendi gerber belum ada. sehingga struktur bisa diselesaikan. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. Apakah mungkin ? Perhatikan .6.5. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas.

perletakan A = sendi. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . karena kedua perletakan B dan C adalah rol. Perhatikan balok DBC. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. Perletakan D = Gambar 3. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. . y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. RDH). perletak B = rol. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD.7. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

b2 Jika konstruksinya (a). maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.1.5. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 .8. demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.

perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. perletakan. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. perletakan D = sendi. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Perhatikan balok DC (gambar b2). Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). jadi tidak ada reaksi. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). . (ada 2 reaksi). titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). c = rol (ada 1 reaksi). Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga.

N. maka balok AB bisa diselesaikan. Penggambaran bidang M. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Bidang-bidang gaya dalam (M.9. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. Skema pemisahan balok gerber . D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. N. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a).

dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.1. N Gambar 3. 4 ƛ P. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.3 ! ! 3t 4 4 BID. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. A = rol C = rol .6 + RS.3 = 0 RA. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .8 ƛ 2.2 ƛ q.6 ƛ RS. dengan jarak 1 m dari A.833 m 5.8 ƛ q.6.3 = 0 BID.6 ƛ 1.1 = 0 RS = P.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3. M 2.667 m 7 MA = 0 RS. N.6.6.3 = 0 RC. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.3 4.6 + 1.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. 4 ƛ P.6.2 ƛ 2.= P.1 4. Ditanya : Gambar bidang M.33t 3t + 1t BID. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar. D. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA. .6.3 = 0 RC.

2.667.x-P (x-1) = 3.x 2 - = 5.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .667.x2 - Mx2 = 5.02589 = 8.667 x 2 .667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.0546 ƛ 8.x = 3.833)² = 16.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.667-x2 ) = 0 x2 =5.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.Rs.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.0287 tm.q x2² (parabola) 2 1 . Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x1 = .833 ƛ (2.1.2.

P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = . x 2 2 = .6 = + 6.5.Rc + q . Latihan .667 + 2.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .667 + 2 .667 t Dbkn = -5.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .5.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.1.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.

S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ).Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. B = rol C = rol.8. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. S = sendi gerber Beban : P = 5t. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC.1. Gambar : bidang. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. dengan perletakan A = sendi. N. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. Atau . D) Suatu balok gerber dengan 1).bidang 3. A 2 m 5m 2 m 4m 2). maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . Rangkuman o Balok gerber adalah : . dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah.

Penutup Untuk mengukur prestasi.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.1.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.4 ton 3.9. 3. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.4 ton 7. Soal No. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. 1 Keterangan Titik A Harga 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-58-

Soal 2
Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 ton 2.5 ton 5 tm 0 7,5 tm 0 2.5 ton 2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda

3.1.10. Daftar Pustaka 1. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.1.11. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.

3.2. Garis Pengaruh Balok Gerber

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-59-

3.2.1. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan, maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi, atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N), jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan

berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.

3.2.2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A), reaksi

ada

di B (R B); reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).

Gambar 3.11. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

c .13.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -62- Gambar 3.P.p.b ! l1 l1 Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G. b = 1 . D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = .b l1 Untuk P di I-I x=b l b c. Rc) A S . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.P. Garis pengaruh D I-I dan M I-I G.c l1 P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA .Rc (sama dengan g.b MI = 1 .

R B.p.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2 a/l2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -63- Sama dengan g.14.P.e l2 . Rc.e Gambar 3. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB .d M II = - a l2 .p. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc .p. Rc Sama dengan g. d Untuk P di II RB = M II = e l2 e l2 dtm e l2 d Untuk P di II Rc = d l2 M II = - d .e g. e (sama dengan GP. e g. RB G. b + d/ l2 .p.

Mc y2 C dx P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.y GP.2.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .q dx Mc = ´ y. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.a. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.3.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.

Dc Gambar 3.15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .

2. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.4. Pendahuluan Pada kenyataannya. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. .2.2.4.2. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.16.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. 3.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.1. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.4. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. Prinsip dasar perhitungan . ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.

ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal .Mc y4 y5 Pada posisi awal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.17.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.

c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x. c1 c (x . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .c1 ¹  § Pr © .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .bagian kiri titik C dan .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .

.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . dan 01 (dengan skala) .34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. 23.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. 12.12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. 34. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. 23.18.

.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. .Dengan cara yang sama. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. . . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.

Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar. .19. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. Jadi dalam hal ini-: dicari !!.1. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu.5. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.2.5.2. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. . 3. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.

Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.r = R1 . a ƛ R2 .Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan.2.5.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. P4. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3.2. Prinsip Dasar Perhitungan . R2 dan P3 atau resultante P 1. b 7 MA = 0 1 _P3 . r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . P 3. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. P2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.2.3. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1. Rt .5).4.

20. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.

GP R C . ditanyakan : GP R A . Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.45 Rt Gambar 3.45 r =1.21.1 4.2 = 20 .2 = Rt.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.x 6.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4. GP R B.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.1 4.1 + 6.1 + P3. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.2.

GP M B. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. Akibat rangkaian beban M max berjalan. GP R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP R C . Rangkuman .2. GP D I. ditanyakan. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. RA 8m 2m a). GP R B.7. GP R D GP M I. 3. ditanyakan : MI max . GP DB kanan 2 2 b).

3. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.2. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam.8. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. .

2 a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.333 tm 0 0.25 t 0 0 0 0 0 0 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .25 t 0 0 0 0 1t 1.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.

25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). MI max = + 14 tm.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .5 t 0 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.05 tm. bab V .2. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.10. UGM.Suwarno. ITB. Daftar Pustaka . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . .Soemono.2.9. terjadi pada titik dibawah P 2 3. ƏStatika IƐ. bab V-4 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. D) 4. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. (a). (c). Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. a. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam.1. N. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M.1. . Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. dalam. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?.

1. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c).1.2. Penempatan Titik s (sendi) . tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.1. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.1. Bermacam-macam bentuk jembatan 4.2. kedua perletakan dibuat sendi. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0).2. 7 V = 0 dan 7 M = 0.2. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). gelagar memanjang. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. struktur pelengkung tersebut. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.1. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. Dengan konstruksi pelengkung terse but. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Pelengkung sungai Gambar 4. 4. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.

3. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.

kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.4.1. maka M E-E = VA.h1 B Nilai I = V A . Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.2. h1 f I = VA . 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. x 1 HA HB II = HA.q x² diatasnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.x .q x12 ƛ 2 B HA.x1. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.3.

1. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.3.h1 Gambar 4. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. (hA-hB) ƛ P1. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.5.1. Gambar nilai I = V A. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4. 4. Cara Penyelesaian 4.b1 = 0 (1) .3.l ƛ HA.1.

hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .a ƛ HA.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.l . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. (4). HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).a1 = 0 7 M S = 0 V B .H B . masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . 7M A = 0 VB.

l ƛ P1.a ƛ P 1. f = 0 Av . Bv. maka nilai Ab bisa dicari. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.b ƛ Ba . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.S1 ƛ Ab .l ƛ P1. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. f = 0 Bv . b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal.

II II = HA .9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA .2. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. x. x P Untuk balok yang lurus. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. gaya lintang (D) dan gaya normal (N).9 disamping. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. seperti pada gambar (4. bukan pelengkung. y I = VA . y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4.3. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.a. x ƛ ½ q x² .3 Gambar (c).8). Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B.b l RA + Bidang D RB Gambar 4.HA .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). maka Mx = V A .2.8.1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Vx = V A ƛ q . Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .10. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.

Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4.Vx sin E. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak . x cos E = .( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.

VB. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. D) ataupun bidang normal (Bid. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4.5 m dari titik A.12. N). M). Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. nilai gaya lintang. H. S Ec C yc f=3 m A H 2. Mc. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. .13. bidang gaya lintang (Bid.

Xc² = 15 .14. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . 5.5  1 / 2.25 ƛ ½ .3.5m Gambar 4. l ƛ q. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.q.H .5 ƛ 12. ½ l = 0 VA = ½ .5 m yc = 4. 3 . 2.5 (10  2.5) ! 2. 3 .2. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. 25 ! ! 12.3. l.q (5)² 15.Xc ƛ H.5 ton 3 3 VA .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA . yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . 3 ƛ ½ q .yc ƛ ½ . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2. l ƛ q.5 .l. ½ l = 0 VB . 2. 2.5  1 / 2 .5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. (5)² = 0 H= V .

5 . 0.(7. Dc = 0. 0.8575) = .5145 = 6.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5774 ton. Nc = -14.15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.8575 ƛ 12.4312 ƛ 6.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. 0.5 .5 = 7. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .sin Ec + Hc cos Ec) = . 0.14.(Vc.5 .5145 + 12.2. Vc = VA ƛ q.5 .x = 15 ƛ 3. Contoh 2 xc=2.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.5 ton ( o) Hc = H = 12.

Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

2 (10  2) ! 1. ½ l ƛ H B . l .76  6.08 ƛ 1. 1.92) = 0 .152 . 5 ƛ HB . l + P.3. 5 ƛ HA . 3 = 0 HB = 1.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.6 .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .P.5.152 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.48 ! 4.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.yp = 0 VB . 10 .92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . ½ l ƛ HA . 3 ƛ 6 .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.92 = 0 VB .92 = 0 (cocok) .1. 1.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .92 ton ( n)  5.yp = 0 VA . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .76 ƛ HA . 10 + 6 . 1. f = 0 1.

yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.152 .88 + 9.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .Xc + HA .Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.08 . 0.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.92 ( ) 0. 25 ƛ 6 (2.5145.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.5 + 4. 2.8575 ƛ 1.98 HB = 4. cos E = 0.152 .92 .96° sin Ec = 0.18 ƛ 1. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.8575 Mc = . = -1. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.17.25 ƛ = .92) = -1.08 = 1.25 m Ec = 30. 2.5145 Dc = .32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.2.V A .

92 . Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2).1.1. HA.5145 ƛ 1. 0. Nc. HB. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . Mc. 0. VB. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1).0537 ton 4. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. Mc. HB. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. VB. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang.4.152 . Nc. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.8575 = .

Sedang bidang momen. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.667 ton 2.1. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.5. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.667 ton 4.6. 4. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.6 0.5 ton 4. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.75 0.1.5 ton 6. Penutup Untuk mengukur prestasi.8 o o p n .25 m 0. Soal No.

842 7.9675 ton 3. Daftar Pustaka 1. Soemono ƠStatika Iơ ITB. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.1.539 0. bab 2. UGM.1.5625 tm ~0 5.8. bab 4. .9675 ton 5.184 ton 5.774 ton 1. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.64 0.7.226 ton 4.36 m 0. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).3672 tm 2.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.8336 ton (-) (-) Soal No.

P. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. f = 0. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.P. VB . 4. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. Garis pengaruh V A. a .f Untuk P di A . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.2. b l . x = 0 1t Untuk P di B . b f VA .P. b = f V B . b ƛ H .3 Prinsip penyelesaian. 4.2. 6 MA = 0 VA H l a G.2. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. H P.P VA (+) 1t G. x = 0 Untuk P di B . x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.2. a f Px b .2. V B dan H Px ) l . a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan.1.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . x = l G.18.

b c l . a . x = l Untuk P di S .P. R l C u VA VB Bagian II H. x = a H=0 P.P. a . f ton H= 6 MS = 0 VA .P. a.f G.H .b ton l. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.H .v l G. H x C v P.b ton H= l . B H b MC = VB . x = a p H = P.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. u dan V B . M C pada balok di atas dua perletakan l G. u . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . v .P.P.f v G. u . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). M C = VA . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . maka lihat kiri potongan (kiri C). bagian I (+) P .C = G. v sama dengan G. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .f = 0 a H = VA .P. M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). u .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105-

-

Gambar 4.19. Gambar GP.Mc C. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C, VA sin D dan V A cos D. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D, sehingga: NC = - (VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D - H sin D I II I -> identik dengan G.P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.P. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.P. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C)

H a l G.P. NC bagian I Q sin E l (+) ( - ) v sin E

H b

l

GP VB sin GP. V A Sin D D GP NC Bagian II ()

P. a . b cos E l .f

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106-

-

v sin E l

GP NC Total ( I dan II ) II (-)
a .b cos E l .f

identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H), untuk GP. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. Gaya lintang

G.P. NC
v cos E l

perlu dikalikan cos sin E

(-) (+) VB cos E
v cos E l

Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l²

-

Pab sin E lf

u cos E l

GP DC Total (I + II)

Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' =

(-)

v cos E l.
G.P. D C a b sin E l. f

Gambar 4.20. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

3. Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi 4. yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Pendahuluan Seperti pada balok menerus.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109- - 4.3. pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan .1.

Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi 4.3. dalam hal ini pelengkung 3 sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110- - S Gambar 4.2. melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara. q = kg/mƞ a P b q kg/mƞ P R1 R1 R2 R2 R3 R3 R4 R4 R5 R5 R6 R6 S P P P L =5P P P .23.

P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . ½ P + (b/P ).24.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . . . ½ P = ½ q P R2 = q . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . . . . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . Kondisi pembebanan kolom (b). (a).

Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. .5 ton R5 = 1.25. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. Pendahuluan .4. . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar.e-HA. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. R2. Cos E .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. sin E + Hcos E) Dc = Vc. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. . Menjadi (R1. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.Xc-R2. . .1.Yc Vc = VA. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. .4.Xc-R2.Yc Nc = -(Vc . .5 ton a R1 R2 C R3 S e .e-HA. R3.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4.

Y1 + P2. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.33 P 54.5P . Jika letak . 4. P . Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.N. (1 ton.5 P .2. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. A C I D E ½ ½ P P + 1.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). 2. dengan ordinat 1.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. P . P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. atau 1 kg atau Newton) . Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.26. P .4.Y2).D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.33 P 54.

Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Dc dan Nc . tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. M I gel. Gambarkan Garis pengaruh Mc .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada.27.

Q.5.a .Y l P.Nc = .a .H sin E Cos E P.P.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan. S .b yc l. Mc total (bag I + bag II) - II + P.b sin E lf pemaparan Gambar 4. 28.Dc = Av cos E .yc A  ] II I .f G. C yc . Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.a.b cos E lf pemaparanG.5. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.1.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.P. f H R VB H VA Q . a . .b yc l. Pendahuluan . Judul : Portal 3 sendi 4.P. b GPMc bagian I P. GP Mc = V .x  H.f G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.Q.a . 4.

pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. balok gerder. 4.29. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi.2. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. bisa berupa balok menerus.5.

a + HA.l + HA.30. b2 = 0 VA.h ƛ P 1 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .hƞ ƛ P 1 .hƞ ƛ P2 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. a1 = 0 VB.l + HB. a2 ƛ P1 .l + HB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB. (h ƛ hƞ) ƛ P2 . Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. b1 ƛ P2 . S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .

f = HA . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .a ƛ P1 . S 1 ƛ AB .l ƛ P1 .a 2 l Nilai A B . f ƞ Av.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. f = 0 BA = Bv . b 1 ƛ P2 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . b 2 = 0 Av = P1.a 1  P2 . f ƞ Bv.b 2 l 7 MA = 0 Bv. S 2 ƛ BA .b1  P2 .l ƛ P1 . f = HB . S 2 f Nilai BA . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . a1 ƛ P2 . f = 0 . b  P2 .b ƛ P2 . a2 = 0 Bv = P1.a  P1 .

5 - P. 38 ! 1.5ƛ HA.5 ± 4.3 .5 = 0 Bv Av.1 = 0 Av. 3 . 1. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.5 .32.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.l ± q . P =1 Penyelesaian.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .6 ± 2.3 ton Avƞ = H A .3 ton . 1. 4. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av. 3 .3 .3.6 ± 4. 1.5 ± 2.q .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .l ± P. selesaikanlah struktur tersebut. 2/6 = 0. tg E Avƞ = 1. 4.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.4333 ( q) Bvƞ = 0.3 .5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 . 3ƛ2.

2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.3t B B 5.4333 m = 4 5/6 + 0.7334 t VB = Bv + 0.7334t 1.7334 + 5.3t 4.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.2666 t .n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.4333 = 5.4333 = 4.

3 t 4.2666 t = 0.2 + 11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.40127 tm (M max) MD = -HB .3 t Gambar 4. N.3. 4 + 4.7334 t BIDANG N - Di S 5.2666 t Mx = -1.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.7334 ton Daerah C-D = -1.3667 ƛ ½ .2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.6 = 5.7.3 t = .3 .3667 ƛ ½ . 6 = -1.3 t 1. 2 (2.2666 t x=3m Ds = 4. 2. q (x²) .2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .60127 5.3t Dx = VA ƛ qx 1.1 H B.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.2.3 t 1.7334 .32.3667)² = -5.3 . 4 = -1.4 = . 2. 4 + VA .7334 ƛ 6 = -1.2666.8 1. Bidang M.1 ƛ 7.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.3667 Mx = -HA . 6 = .2 tm - S D 7.8 tm - Mc = -HA .3 ton Daerah B-D 5.5.C A x 4.3667 m (daerah cs) x = 2.20254 ƛ 5.

2. .6.33.6.34.6. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.1. 4. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. maka untuk memperpanjang bentang. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.

termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. .35.3. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. merupakan struktur yang menumpu.6. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4.

namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4.7. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.2.7. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.3. S (b) B GA ambar 4. Pendahuluan Seperti biasanya. 4. Contoh Penyelesaian . (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.1.7.36. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.7. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.

H u.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.c l .b . f l d.M D cb l Gambar 4.d l.b a.R B + c l + + d l a.DD Q l GP.RB b.b l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.a l cb l GP. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.f - + + GP.RA .f GP.37.RA a.f GP.f ! l.v l a.ND=G P.

P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB . R B f P di E RB = c c l c. b ƛ H. ~ g.p nilai H. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.f = 0 H = RB . b .p.b p H ! x p ND !  l l f lf . N D Garis pengaruh N D sama dengan g.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.

Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .f = 0 H= R A . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . Q .a f P di S b a ab RA = b p H ! .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a.V l II = H . a ƛ H. p N D !  l l f l f P di S 1 GP.H .8. 4. f = Garis pengaruh H x f.MD P berada antara D C M D = RA .

G. N C .P.P. G. G.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. . G. VA .PH. ditanyakanL G. G. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l .P VA . G. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2.P N C bawah . ditanyakan : G.D C .P NC kanan. G. G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P.P.P D C bawah. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G. H.

Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.9.447t 0.10.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.447t 0 0 0 1.5 0.782t 1.335t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.5t m 1. Rangkuman 4.447 0.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .1175t 0 0 0. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.

384t 0.20t 0.11.336t 0 0 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1. Daftar Pustaka Suwarno.333t 0 0 0.084t 1.333t 0 0 0.40t 0 0 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No. UGM Bab VI dan VII .75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.25t 0.60t 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.

MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.R. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.) . Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.B.1.12.

Rangkaian dari material bambu. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.4. 5. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5.3. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan.1. .2. 5.1. maka kita harus merangkai material tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.1. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. tapi kalau materialnya dari kayu. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.1. Jika materialnya dari beton. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. ba mbu atau baja.

. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Pada konstruksi kayu memakai baut.5. Bentuk K. 5. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.5.R.1.1.1. pasak atau paku.B. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. paku keling atau las.

salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.3. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.2.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.R. Detail I.

4.B.B.B. Gambar 5. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi . sisi 1 K.5.R. Pada Jembatan K.R. bawah (ikatan angin bawah) K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.B. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.1.2.R. atas (ikatan angin atas) 1 K.R. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.R.R.B.B.R.B. Bidang. Ruang terdiri dari 2 K.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.1.B. Konstruksi Statis Tertentu Pada K. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.5.R. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.5. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.R. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Konstruksi rangka batang bidang . Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).3.B.

4. Rumus Umum Untuk K.R.1. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.15. r = jumlah reaksi perletakan 5. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .6.B.R.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.

1.R.6. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan. Cara grafis dengan metode Cremona .Kx = 0 dan 7 . Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Cara analitis dengan menggu nakan 7 . Keseimbangan titik buhul a.B.Ky = 0 b.7.

Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2.Kx =0 7. Cara Grafis Metode Cullman 3. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. Metode Potongan : a. Cara Analitis Metode Ritter b.V = 0 ata 7. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . b. a. Metode Penukaran batang 5. y 7H=0 7.8.

2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c.8. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. 4 P . selesaikan struktur tersebut.1. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. 4 P .4 . Untuk batang atas diberi notasi A 1. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . A2 dan A 1ƞ.9. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . D2 dan D 1ƞ.9. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. B2 dan B1ƞ. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. tiap -tiap batang perlu diberi notasi. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. .4 . V2 dan V 1ƞ. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian.

R. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.10.B. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. gaya yang searah diberi tanda sama. Dalam penjumlahan. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. .

3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .½ D 1 A1 = .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= . 2 7V=0 . 2 A1 = .½ . V1 = . 3 2 .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144-

-

Batang A 2 dan D2 dianggap tarik. Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = - 2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = - 2 ton (tekan)

Titik VI

Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = - 2 t (tekan)

2t

Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik
Titik V

Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t

2

2
Dƞ2

7V=0

½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik)

7H=0 ½ D 2ƞ

B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik)

3t

2 B2ƞ

Titik VIII

Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = - 1 t (tekan)

2t

2t

7V=0

1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = - 1t (tekan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145-

-

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 . dengan notasi seperti pada ga mbar.2 2 t .½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik) 2 t (reaksi) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148- - Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang. 2 = .b.r. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3 Titik Simpul I II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1 A D2 B2 V V2 0 x3t=2t 0 x3t=1t Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1 2 ½ D1 2 D1 ½ D1 2 B1 7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = .

2 = 1 t (tarik) B2 = 2t Titik VI Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = .½ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149- - Titik III V1 Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik) 2t 3t B2 7 Kx = 0 Titik II ½ D2 ½ D1 2 Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 .½ . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 . 2 2 . 2 .3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ .2 .2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 .½ . 2. 2 . 2 2. 2 . 1t D3 = . 2 .V2 = 0 V2= ½ .2 t (tekan) 2 A D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2 2 7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 + B3 = 0 B3 = 1t . 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan) 2 Titik IV Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2 D2 = 2t ½ D 2 2 .

D3 1t ƛ ½ .10. Gaya reaksi b). Gaya.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .gaya batang RB . P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). Beban . Gaya ƛ Reaksi B b). 2. Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5.

11. 5. 667 t 6. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. atau gaya tekan. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.12.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.1. bisa berupa gaya tarik.835 0.000 t 2.555 6.00 t 1. Pencarian gaya-gaya batang.00 t 6.333 t 6. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.667 t 5.20 t 4. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.808 t 4.20 t 1.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.333 t 3.

- - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.13.1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .14. - Daftar Pustaka Suwarno. bab 5. ƏStatika IƐ.1. . UGM Bab Soemono.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful