MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

3 Penju mlaha n gaya secara grafis.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. . tapi masih sebidang. pertemuannya di titik 0.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.2. OABC .. ar 1. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. tapi titik tangkapnya tidak sama. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . . 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama.

K2 dan K3. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. .4. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Urut-urutan penjumlahan. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1.

Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 . K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.5.

salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. K3 .

garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. K2. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. b. c. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. garis . pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. dan e. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. Garis-garis tersebut dinamakan . K2. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). d. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1.6. K3 dan K4 yaitu R.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K2.

perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. . K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.2. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. K2.1. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. K3 dan K4. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. K2. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1.4.7. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. diproyeksikan. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E .

Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. secara analitis K1x = K1 cos E .  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.8. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .

5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar.6. 1. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. Latihan 1. 3. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K2. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. K3 dan K4.1.1. . sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya.

1.5° dari sumbu x R = 12. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. Suwarno. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Bab I 1.1.5° dari sumbu x R = 11. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. Soemono. Samuel E. Daftar Pustaka 1. 2. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. secara bertahap.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.8.9. 3 hanya berupa grafis. ƏStatika IƐ ITB.7. French. No. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. Bab I. Penutup Untuk mengukur prestasi. sedang soal no.1 ton sdt = 22.1 ton sdt = 22. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.1. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . 3.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

reaksi. 1. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. kolom. Contoh : a. balok. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. mengerti tentang beban. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.1. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . reaksi dan gaya dalam.9. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. balok. kolom.2. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. jembatan dan lainsebagainya.2. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. apa itu beban.

2. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. peralatan dan lainsebagainya. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a.1. a. misal : meja. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati.2. balok perletaka n Gambar 1. kendaraan. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.10. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . dan lain sebagainya. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b.2. a. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas.12. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Gambar 1. Newton.11. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. dan lainsebagainya. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Gambar 1. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. kg.

Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . 1. jembatan. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi.3. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. dan lainsebagainya. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung.1. konsep pengertian tentang perletakan.3. Contoh : a.2. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini.2. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur.

15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. Rol Strukt Bentuk perletakan rol.14. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. (Gambar 1. jepit dan perodel. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b.15. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. .3. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.2. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. ada reaksi vertikal. perletakan Gambar 1.13. maka oleh rol tersebut dari atas. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik.2. a. sendi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.

Jadi sendi tidak mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Karena struktur harus stabil. oleh Rv Gambar 1. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen.18.16. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu .17. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). Rv RH c. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH).17). Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas.

20.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. horizontal. balok baja pendel Gambar 1.21.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. dan momen Gambar 1. ada reaksi searah pendel.21. ada reaksi vertikal. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .22.

2. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. 1. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. dan bagaimana cara menyelesaikannya. jembatan dan lain sebagainya. Keseimbangan vertikal . hal itu merupakan syarat utama.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. a. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang.3.3. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. mahasiswa perlu mengetahuinya. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang.3.23.

Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut .25. maka kotak tersebut tidak bisa turun. Kotak Gambar 1.24.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). Kotak tenggelam dalam lumpur b. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). maka kotak tersebut langsung tenggelam. (Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).25) Gambar 1.

Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). maka kotak tersebut langsung bergeser. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH).27) Gambar 1. karena tidak ada yang menghambat. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat).27. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).26. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. PM Kotak Lem Meja .

30. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. Gambar 1. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. Keseimbangan statis . dan tidak bisa terangkat. momen maka kotak tersebut bisa terangkat.29.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. yang RH berarti harus stabil. benda tersebut harus tidak bisa turun. RM Gambar 1.

atau RV .  Dari variasi tersebut diatas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).4. tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.3. maka syarat minimum RM = PM atau RM . maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). Latihan 1. 1.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg .

Beban terpusat. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.6. Penutup .3. notasi.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. Rangkuman o Macam-Macam Beban . RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1.Beban terbagi rata. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. Rv = ? 2. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .Jepit punya 3 reaksi .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. notasi. satuan. kg atau ton atau Newton . q.5.3.Sendi punya 2 reaksi . P. 1.Rol punya 1 reaksi .

7. 2. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.3.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.3. Daftar Pustaka 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Suwarno.

1. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu.1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. ada beberapa macam sistem struktur. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks.1. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . seperti gedung-gedung. 2. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. jembatan dan lain sebagainya.

1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. 2. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.3. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. Contoh a).1. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.2.1. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.

A B Gambar 2. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah.4.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah.2. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).3. Konstruksi statis tidak tertentu . b). RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B).

Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. Latihan a).mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.5. Perletakan A dan C sendi. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar.6.1. b).4. Penutup Untuk mengukur prestasi. 2.1. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.

Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. baja dan lain-lain.2. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.8.2. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . 2. Daftar Pustaka 1.7. kayu.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Jadi diatas adalah statis tertentu.1. 2.1. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.1. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2.

Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. P P Untuk A orangnya pendek. memerlukan gaya dalam. demikian juga untuk orang B.7. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut.2. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur.2. pelat. yang satu lagi besar. kolom. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. 2. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. Gambar 2. Contoh (b) 2. tinggi (B). Contoh : a).5. dansebagainya).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. satu kecil. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b).kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. Orang membawa membawa beban tersebut. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). pendek (A). tinggi. P1 A L1 Gambar 2.8.2. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang.6. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.3. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

(atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.2.(pers.9. x ƛ q. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang.x. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.4. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. Gaya Dalam Momen a). yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. 2. o Balok tersebut menderita gaya lintang. Mx = RA .

Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. (pers.10.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .

Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.2. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . Demikian juga sebaliknya. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2.11.13. Tanda momen 2.12.5. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. Tanda momen (-) * Gambar 2.

maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. Potongan balok bagian kanan . Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.15.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.14. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan.

gaya yang ada hanya RA. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. C RA Dilihat dari kiri potongan C. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). Karena RB adalah merupakan reaksi. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.16. P Jika dilihat dari kanan potongan c. . jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). jumlah gaya arahnya ke atas. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. atau kalau dilihat di kanan RB potongan.

gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. A Dilihat dari kiri potongan D.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Jadi gaya lintangnya tandanya adalah .17. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). D maka gaya lintangnya tandanya negatif. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. karena RA adalah reaksi. Gambar 2. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). Jadi RA < P.

maka pada batang AB (Gambar 3. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. * Tanda Gaya Normal . 2. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).19. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.2.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.18. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.6.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. P P Kalau dilihat pada Gambar 3. .

2. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.7. 2. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .

Ringkasan tanda gaya dalam 2. P1 = 2 2 t (º). q1 = 2 t/mƞ.2. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.8. P2 = 6t (¶).20. P3 = 2t (´) P4 = 3t .

6.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .6. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.3 + P1R.q2.6 + P2 + q2.7 ƛ P2.10 ƛ q2.2 = 0 1.1  6. gaya lintang dan bidang normal. (Bidang M. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.q1 ƛ P2.10 ƛ P1R.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.1 = 0 2.7  6. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.12 ƛ q1.21.4  2.6.6  2.6 + 6 + 1.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV. N. RBV 71%! RBV.1.2 . yang searah diberi tanda sama.12  2.4 + 2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.6 ƛ q1.6.3  2.

2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. Perletakan B = sendi ada RBH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C.1ton lintang ke bawah) 2. DE = 0 Dx2 = q2 .6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. melampaui beban P2. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . Variabel x2 berjalan dari E ke B.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). x2 = + x2 (persamaan liniear) . DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B.

ND kr = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . ND kn = (-2 ƛ 2) ton = .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.P1H = . dari E ke B nilai gaya normal konstan. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. dimana gaya normal dihitung dari titik C.

2.2 = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .4 tm. x = . sehingga tanda negatif (momen P1v . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = . Daerah A D .P1v .

25 tm.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .2 (5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5)² + 11.5 ƛ 4 = 26. lihat pada Gambar .5 m Mmax = .22.5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.½ .½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.5. x1 = 5.

62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .q1.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 . 1.3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.½ . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .

3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.22. N. Gambar bidang M. D balok diatas 2 tumpuan .286 0.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.

3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan.5 24. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.23. D Balok cantilever .5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M. N.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.9. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. N.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.5 32. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. Bidang M.2.

a) reaksi perletakan b) bidang N. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.2.3.5 tm ( ) MD : .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B . D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 ƛ 1.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.2 ƛ ½ .C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.5² = .P1.24.10.5 = 32.6 ƛ P2.1.5 t ( ) 2. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .3 ƛ 5.1 (2. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.

bidang N. P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . a). D dan M q = 1. reaksi perletakan b).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   .5 ton /m· . Ditanyakan. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol .

5 ton 4 ton 4 ton 0 4.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.5 ton 3.5 ton 0 9 tm 10.12. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 ton 3. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 0.tekan + + + + Momen = M .11. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 tm 0 Tanda/arah o o p .2. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.

0 tm 0 Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.tekan + + Momen = M + + - .tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.75 tm 4.625 ton 4.08 m kanan A A X = 3.08 m D B C Nilai 4.13 tm 0.375 ton 2. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 2 ton 4.625 ton 4.375 ton 2 ton 0 0 7. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.

Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).dx . Dx dx dan qx.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .24. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. Hubungan Antara Momen (M) . potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. .3. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. dx² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. gaya lintang dan momen. dx o Kiri ada Mx .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.0 d Mx = Dx . qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .dx.

dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.25.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. 2. misal : tangga. Seperti pada gambar. Skema balok miring .4. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.4.1. balok atap dan lain sebagainya.

D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang .2. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. N. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Ditanya : Gambar bidang M. 2.4. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.

3 ƛ P 1.2 ƛ P1.12 ton .3 ƛ 4.4 ƛ 2. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .5 ƛ q.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.a.3 ƛ P2.2.3 ƛ 4.1 = 0 RAV = 7.3 ƛ P2.2 ƛ q.6 ton = 2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.16.3.1 = 0 RAV.2 ƛ 4. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.4 ƛ RAH.1.2.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.3 ƛ 4.26.2 ƛ 2.1 = 0 18 ! 3.5 ƛ 1.2.

3.// sumbu batang .3. 4/5 = .6 + (2 + 4 + 4) cos.26.2 .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2. 3/5 = .6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .3/5 = .4 ton 4/5 .(4 + 4 + 2) sin E = -10.3.6 ton NC kr = .6 + q.(4 + 2) sin E = -6 .2 ton Dc kr = .x . sin E = -2 . Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .6 + 2.3. cos E= .2 ton (dari kanan) ND kr = .6 + q. cos E DD kn = .2 ton DD kr = -3.6 ton Dari B ke D Dx = .1.E! 4.3.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .3.RB = . 3/5 = -1.b.

q.  . D 1 t/mƞ 4t B .75 ƛ 2.2 ƛ P.q. 2 1  .2 ƛ 4.2.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .6 .5 tm Gambar bidang M. 3 .6 . N.1 cos E = 3.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.1 = + 5. 3.

Gambar 2.27. Bidang gaya dalam pada balok miring .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini.

1.1 .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. DA kn = 7. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.2 ton.[(7. DB = -2 ƛ 2.16 .1 . NC kn = . Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7. 4/5] = . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.16 .12 ƛ 4). Cos E (gaya B sumbu batang) RAV . 3/5 + 2.2 + 2. 3/5 + 2. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.12 NA kn = . 3/5 = 4.6 ton 2. sin E NB = .3.12 .(7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.5. Cos E) RAH = 2. cos E .16 t D = + RAV .3. sin E + RAH . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .1.16 . sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .2 + q.5. cos E (gaya // sumbu batang) RAV. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . 4/5 ƛ 2. 3/5 = .2 . 4/5) t = .12 .[(7.16 .1.16 . 2.1.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2. 3/5 = 1.RAH .12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.16 . 4/5 = . sin E E RAV .(RAV . 4/5] = . beban tekanan tanah dan lain sebagainya. NDkn = .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

P = 3 ton Ditanyakan. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. B = rol. B = rol. D dan M Soal 4 3m RB . D dan M 30° Soal 2 q = 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . P = 3 ton Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan b) bidang N. seperti tergambar.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. B = rol Ditanyakan. Beban q = 1 t/m· . . a) reaksi perletakan c) bidang N.

88m jarak miring dr A A B C X = 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.6 t 0 0 3 tm 0 3.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + . a) reaksi perletakan b) bidang N.11 tm Tanda/arah o n o p .tekan . mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.16 t t 2. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.76 ton 1. ketelitian perhitungan perlu.12 ton 5. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.50 t 1. Ditanyakan.815 t 4. D dan M 2.5.5.88 t 3 ton 9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .4.tekan .88 m Nilai 4.63 t 2. B = rol. seperti tergambar.5.50 t 2. besarnya merupakan fungsi x. 2.

X= Momen = M L 3 = 0.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. Jawaban soal no. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3..l 3 0 0 0 0. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««..2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.l 6 q.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.6 ton 0 0 5. 4 . B «««.l 3 0 0 q.5774 L dari A A B C X= Nilai q.l 6 q.

6. Daftar Pustaka - Suwarno.7. ƏStatika IƐ.5 ton 0 0 4. 2. Bab I. UGM.5.5 ton 3.24m dari B A B X = 2.67 tm 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.24m Nilai 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0.5 ton 4. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5. Bab I Soemono. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . ITB.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.

2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .a l a .2.

dengan beban segitiga diatasnya. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.l ton 2 a. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a .l 3 1/3 l .a l ax A Px a.

Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. . maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu.6.31. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. dan profil baja.6.1. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. Gelagar Tidak Langsung 2. baja. bambu. bambu. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu.30. bambu atau baja tersebut.31).

memanjang Potongan Melintang Gambar 2.31.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .

untuk gel.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. Penyederhanaan awal. gel. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan.2.6. melainkan lewat perantara gelagar melintang.32. tidak 2. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. melintang gel. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. induk / G ambar 2. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan.6.33. memanjang P P P . gel. memanjang gel. induk). tida k langsung Gambar 2. Penyederhanaan akhir.

II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel.P/2 . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.35. memanjang genap. 2P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . 2P . P = 6q P² . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . melintang. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.qP² .P.

5 P)² = 4. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.375 q P² .½ q (2P)² = 6q P² .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.½ q (1.5 P . 1.5P . 1.25 q P² Perbedaan momen (0. 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.½ q P . 2P .5 P² .125 q P² = 3.q P .125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.1.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .5 P . ½ P = 3.q P .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.0. 2½ P Gambar 2. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. namun s eperti gaya lintang beban terpusat.375 q P² . Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.37. tapi kalau gelagarnya tidak langsung. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . lantai = 3.125 q P² = 3.

q = 1.5. Latihan Soal 1: q = 1. Ditanyakan : a). 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). Gaya reaksi V A. Penutup Untuk mengukur prestasi. RB b).5 t/mƞ sepanjang bentang.6. M. RB b). D.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. H A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2.6.4.6. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada. 2. Bidang N. 2. Bidang N. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. H A . M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. . Gaya reaksi V A.6. D.

2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.25 t 1.25 t 1.5 tm 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 t 1.0 t 3.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .0 t 1.5 t 3.00 t 0 5.75 t 2.0 t 3.5 t 4.25 t 1.5 t 1.75 t 0.5 t 0 4.25 tm 4.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . Daftar Pustaka - Soemono.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.6.24 m 3.8. UGM Bab I.7. ƏStatika IƐ.5 ton 3.6.24 m dari B A B X = 2. .73 tm  + + Momen = M + 2. 2. ITB-Bab I Suwarno.67 tm 3.5 ton 1 ton 0 0 0 0.0 tm 0 0 4. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.

gaya momen. dan gaya no rmal. Garis Pengaruh 2. jika di atas struktur jembatan 2. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh.2.7. tersebut berjalan suatu muatan. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. Jika dua hal tersebut dipadukan. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. gaya lintang dan gaya normal. atau gaya dalam M (Momen).7. gaya lintang. gaya momen.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). . maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut.1. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. maka didalam suatu garis pengaruh. atau N (Normal).

Gambar garis pengaruh R A dan RB .P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.P.l ƛ P.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .P.P.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.38. R A RA .x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2. R B + G.x = 0 P.

Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.beban y1 dan RB =sama 4 . Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l . Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .7.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.R A y2 GP.41. y2 atau Gambar 2.39 A c 1t + y3 GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.R B Gambar 2.40.R A + P=1 GP. dimana d c ton dan y 4 = ton.R B t A C a + y1 y2 GP.RB Gambar 2. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.39. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.

Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.43.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.P. sejarak dari titik A.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1. sejarak b dari titik B. sejarak d dari titik B.42.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.R B + y3 GP. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .

x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.44.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB . R A l x ton (linier ) l x=a G. Gambar garis pengaruh gaya lintang . R B - b/l G.P.P. l ƛ P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.P.

P.b a.P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .a x=a Mc = G.45. a . b =  Untuk P di A x .b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . a tm ª l º Untuk P di C GP R A.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . tm ª l º = 0 tm Gambar 2. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) . a tm = © ¹ .P. M c ¨l a¸ b © ¹ ! . P = 1t x G.

2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. DBkn Jawab : GP.M D + GP. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .R A .2 ! tm .DD - 1 t 3 GP.R B 1 t 3 2 3 + GP. 4 = .R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. M D.R B. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2. MD lihat kanan bagian x M D = RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. 2 = .R A. RB.R B : 7 .4 GP.2 - GP. DD. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.

DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .46.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.R B GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.DD P antara A-D D D = .DBkr 1t GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .MB 2 tm GP.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.

max. M max.4. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. GPRB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. DI (-) max. MI max.7. P2 = 2t berjalan P = 1 t © . 4t DI (+) max. ditanyakan GPR A. Soal 2 A 3m berjalan. GPD I.

.

ditanyakan GP R A. I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. MI max. . 3m berjalan. GP D I. RB max. GP MI a) Bila beban Ditanya. GP RB.

7. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no.6. = + 9 tm Mmax.3 ton MI max. 2. Max. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.5 ton D I (+) max.7.5. Penutup o Untuk mengukur prestasi. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. = + 3. = + 9. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.1875 tm .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. = + 5. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton).

8. - Suwarno.3 ton 0 1 ton 1.4 tm 1.3 ton 0 0. Bab I.18 tm Nilai 1 ton 0 0. 2.3 ton 0 0 2. ITB. 2.Soemono. ƏStatika IƐ.7. Daftar Pustaka . Senarai .175 ton = + 9. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5. UGM Bab I.7.6 ton 0 0. MI max.4 ton 0.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.Garis pengaruh - Beban berjalan . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .

perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. maka jumlah . Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b.1.1.1. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. a). perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. 3. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. B = rol dan C = rol. yaitu 3 buah dimana A = sendi. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah.

RBV. RAH. RBV. RAH. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. 7H = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0.2. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV.1. Skema balok gerber 3. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. maka bisa didefinisikan bahwa : .2.1. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. 7H = 0. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. 7M = 0. 7H = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0.

namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah.

Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. RAH. 7M = 0 dan 7M D = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. R . 7 H = 0. B = rol. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. R . 7 H = 0. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. yang masih statis tertentu. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. C = rol. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV.

3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.1. Detail sendi gerber .

Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . dimana balok DC tertumpu di balok AB. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD. 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.4.1.4.

5. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut.2.1. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. Apakah mungkin ? Perhatikan . sendi gerber belum ada. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. D B C Cara memilih : alternatif (1). dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Kalau dilihat dari sub bab 3.6. jadi untuk sementara diterima saja. sehingga struktur bisa diselesaikan. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu.7. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). karena kedua perletakan B dan C adalah rol. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). RDH). maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. perletak B = rol. Perhatikan balok DBC. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. perletakan A = sendi. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. Perletakan D = Gambar 3. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. . sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

1. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. b2 Jika konstruksinya (a).8. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).

perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. (ada 2 reaksi). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . Jadi alternatif (C) adalah mungkin. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. Perhatikan balok DC (gambar b2). perletakan D = sendi. perletakan. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). c = rol (ada 1 reaksi). jadi tidak ada reaksi. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. . jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C.

D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB.9. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). Penggambaran bidang M. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. Bidang-bidang gaya dalam (M. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. N. Skema pemisahan balok gerber . D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. N. N. maka balok AB bisa diselesaikan. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3.

Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. N. 4 ƛ P.1 4.6 + 1.3 4. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. . baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. 4 ƛ P.10. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.8 ƛ 2.6 ƛ RS.6. dengan jarak 1 m dari A.1.6 ƛ 1.3 = 0 RC. N Gambar 3.3 = 0 RA. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b). Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .6 + RS.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA. Ditanya : Gambar bidang M.3 ! ! 3t 4 4 BID. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.3 = 0 RC.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.33t 3t + 1t BID.667 m 7 MA = 0 RS.6.2 ƛ 2.1 = 0 RS = P.833 m 5. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.6.6.8 ƛ q.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.= P. D. M 2. A = rol C = rol .6.3 = 0 BID.2 ƛ q.

667 x 2 .02589 = 8.833 ƛ (2.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.x2 - Mx2 = 5.0287 tm.x1 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.x-P (x-1) = 3.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .0546 ƛ 8.667.833)² = 16. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.1.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.Rs.667-x2 ) = 0 x2 =5.x = 3.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .2. 2.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.667.q x2² (parabola) 2 1 .x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .x 2 - = 5.

6.667 + 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .5.5.667 + 2 . x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .Rc + q .6 = + 6.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .1.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3. Latihan . x 2 2 = .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .667 t Dbkn = -5.

B = rol C = rol. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. Gambar : bidang. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). S = sendi gerber Beban : P = 5t. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . Atau .8. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. Rangkuman o Balok gerber adalah : . 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. dengan perletakan A = sendi. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. D) Suatu balok gerber dengan 1). tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.1.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan .bidang 3. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. A 2 m 5m 2 m 4m 2).Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah.

3.4 ton 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . Soal No.9.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.1. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.4 ton 7. Penutup Untuk mengukur prestasi. 1 Keterangan Titik A Harga 1. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-58-

Soal 2
Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 ton 2.5 ton 5 tm 0 7,5 tm 0 2.5 ton 2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda

3.1.10. Daftar Pustaka 1. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.1.11. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.

3.2. Garis Pengaruh Balok Gerber

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-59-

3.2.1. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan, maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi, atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N), jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan

berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.

3.2.2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A), reaksi

ada

di B (R B); reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).

Gambar 3.11. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

Rc (sama dengan g.c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b. Rc) A S .P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs .b MI = 1 .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -62- Gambar 3. b = 1 .13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I G.b ! l1 l1 Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.p.b l1 Untuk P di I-I x=b l b c. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c l1 P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA .c .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -63- Sama dengan g. e g.p. d Untuk P di II RB = M II = e l2 e l2 dtm e l2 d Untuk P di II Rc = d l2 M II = - d .Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2 a/l2.p.14.e Gambar 3.e g. RB G. e (sama dengan GP. b + d/ l2 .e l2 . Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . Rc Sama dengan g.p. Rc. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . R B.p.P.d M II = - a l2 .

q dx Mc = ´ y.Mc y2 C dx P.a. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.y GP.3.2.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.

Dc Gambar 3.15. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.

.4. .4. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3. Pendahuluan Pada kenyataannya.16.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.2. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.4.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.2. 3. Prinsip dasar perhitungan . Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.2.2.1. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.

(x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .17.Mc y4 y5 Pada posisi awal. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.

dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . c1 c (x .c1 ¹  § Pr © .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .bagian kiri titik C dan .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .

34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. 23. 12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45.12. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. dan 01 (dengan skala) . digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. . 23. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. 34.18.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) .

. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 .Dengan cara yang sama.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. .

Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3.2. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. . Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. . Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.2. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III.1. 3.19.5. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu.5. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. .

dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5.5.2. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . b 7 MA = 0 1 _P3 . P 3. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. R2 dan P3 atau resultante P 1. P2. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.2. Prinsip Dasar Perhitungan .Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. P4. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. a ƛ R2 . .r = R1 .Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3.

4.2. Rt .3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.5). P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.

20.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .

Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3. ditanyakan : GP R A .45 Rt Gambar 3.x 6. GP R C .6.1 + P3. GP R B.1 + 6.1 4.45 r =1.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.21.2 = Rt.2 = 20 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.1 4.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.2.

Rangkuman . GP D I. GP M B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP R A . GP R B. RA 8m 2m a). GP R C . ditanyakan : MI max .7.2. 3. Akibat rangkaian beban M max berjalan. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP DB kanan 2 2 b). GP R D GP M I. ditanyakan. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut.

.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. 3. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.2. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .8. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.25 t 0 0 0 0 1t 1. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0. 2 a).333 tm 0 0.25 t 0 0 0 0 0 0 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .

333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).5 t 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .5 t 0. MI max = + 14 tm.

.Soemono. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. terjadi pada titik dibawah P 2 3.9. UGM. Daftar Pustaka . bab V .05 tm.Suwarno.2.2. ITB. bab V-4 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . ƏStatika IƐ.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. a. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. dalam. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. D) 4. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. .1.1. (c). maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. (a). dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b).1.

Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).1. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B).2. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.2.1. gelagar memanjang. Penempatan Titik s (sendi) . 4. Dengan konstruksi pelengkung terse but.2.2. Pelengkung sungai Gambar 4. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.1.2.1. kedua perletakan dibuat sendi. struktur pelengkung tersebut.1. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. 7 V = 0 dan 7 M = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c).

dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi .3.

h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE. x 1 HA HB II = HA.3.1. maka M E-E = VA. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.x1.q x² diatasnya. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 . maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.2.x . Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.q x12 ƛ 2 B HA.h1 B Nilai I = V A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.4. h1 f I = VA . 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.

Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. Gambar nilai I = V A. Cara Penyelesaian 4.h1 Gambar 4. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.5.6. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.l ƛ HA.1.b1 = 0 (1) .1. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4. 4. (hA-hB) ƛ P1.3.3.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.

S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .hA ƛ P1.a ƛ HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.

(4).l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.a1 = 0 7 M S = 0 V B .H B . masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. 7M A = 0 VB.l . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).

l ƛ P1. Bv. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. f = 0 Av .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. f = 0 Bv .S1 ƛ Ab .b ƛ Ba . a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).a ƛ P 1. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.l ƛ P1. maka nilai Ab bisa dicari.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal.

II II = HA . x P Untuk balok yang lurus. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . x ƛ ½ q x² .3. y I = VA . Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. maka Mx = V A .8). x.2. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4.1. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).b l RA + Bidang D RB Gambar 4.8. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.HA . bukan pelengkung. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B.9 disamping. seperti pada gambar (4.2.3 Gambar (c).9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . gaya lintang (D) dan gaya normal (N).1.a. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.

y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Vx = V A ƛ q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.10. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4.

x cos E = . Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.11.Vx sin E.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4.

.5 m dari titik A. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. VB. Mc.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. nilai gaya lintang. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. bidang gaya lintang (Bid.12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. N). Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. H.13. S Ec C yc f=3 m A H 2. M). dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. D) ataupun bidang normal (Bid.

5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. (5)² = 0 H= V . ½ l = 0 VA = ½ . l. l ƛ q.Xc² = 15 .5 (10  2. 3 . maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.25 ƛ ½ .2. 25 ! ! 12.5 ton 3 3 VA . 3 .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .q (5)² 15.5  1 / 2 .5) ! 2. l ƛ q.5  1 / 2.5 m yc = 4.5m Gambar 4. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . 2.14. 5. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama. ½ l = 0 VB .l.q. 3 ƛ ½ q . di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.3.H .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.5 ƛ 12.5 . 2.Xc ƛ H.yc ƛ ½ .3. 2.

4312 ƛ 6. Vc = VA ƛ q.5 .(7. 0.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.5774 ton.5 ton ( o) Hc = H = 12. Dc = 0.14.8575 ƛ 12. 0.x = 15 ƛ 3. Contoh 2 xc=2.5 . Nc = -14.5145 = 6. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0. 0.5 . jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.2.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. 0.15.5 = 7.5 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5145 + 12. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.8575) = .(Vc.sin Ec + Hc cos Ec) = .

Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.16.

152 .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. ½ l ƛ H B .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .1.76  6.08 ƛ 1.2 (10  2) ! 1. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . l + P.6 . 3 ƛ 6 .3.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4. 1. 3 = 0 HB = 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4. 5 ƛ HA . 1.76 ƛ HA .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. 1.48 ! 4.yp = 0 VB .P. ½ l ƛ HA .5.92 ton ( n)  5. l . f = 0 1. f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .92 = 0 VB .152 . 10 .yp = 0 VA .92) = 0 . 5 ƛ HB . 10 + 6 .92 = 0 (cocok) .

32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.5145.152 .152 .V A . = -1.5145 Dc = . Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.18 ƛ 1.8575 ƛ 1.92) = -1. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.08 .Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.88 + 9.96° sin Ec = 0.Xc + HA . 2.25 m Ec = 30.8575 Mc = .152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.5 + 4. 2.98 HB = 4.25 ƛ = .92 .9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .08 = 1. cos E = 0.92 ( ) 0. 0. 25 ƛ 6 (2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.17.2.

92 . Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan.1. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. VB.4. 0. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . Mc. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). VB. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.0537 ton 4.1. HA. 0. HB. Nc. HA.152 . q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. Nc. Mc.5145 ƛ 1. HB.8575 = .

4. Sedang bidang momen.5 ton 4.5. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.8 o o p n .75 0.1. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.667 ton 2.1.6 0. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.5 ton 6. Penutup Untuk mengukur prestasi. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.667 ton 4.6. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4.25 m 0. Soal No.

36 m 0.842 7. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.3672 tm 2.1. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).7.5625 tm ~0 5.539 0.1.774 ton 1.9675 ton 5.9675 ton 3. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.226 ton 4.8336 ton (-) (-) Soal No.64 0. Soemono ƠStatika Iơ ITB. bab 2.184 ton 5. bab 4. UGM. .6854 (+) (-) (-) o o p n 4.8. Daftar Pustaka 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.

gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. V B dan H Px ) l . s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. 6 MA = 0 VA H l a G. Garis Pengaruh Reaksi x P S G.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. a. x = 0 Untuk P di B .3 Prinsip penyelesaian.P VA (+) 1t G. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. b ƛ H . a . f = 0. H P. 4.1.2.2. a f Px b .f Untuk P di A .18. x = l G. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. x = 0 1t Untuk P di B .2.P.2.P. Garis pengaruh V A. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. b l . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. b = f V B . 4.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4.P. VB . V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. b f VA .P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.

u . M C pada balok di atas dua perletakan l G. v . a. B H b MC = VB . x = 0 p H = 0 Untuk P di S .b ton H= l . x = a p H = P.v l G. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . x = l Untuk P di S . R l C u VA VB Bagian II H.b ton l.H .f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.P.b c l . u . f ton H= 6 MS = 0 VA .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . H x C v P.P. u . M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). maka lihat kiri potongan (kiri C). M C = VA . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). v sama dengan G.H . a . bagian I (+) P .f v G.C = G.P.P. a . u dan V B .f G.f = 0 a H = VA .P. x = a H=0 P.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105-

-

Gambar 4.19. Gambar GP.Mc C. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C, VA sin D dan V A cos D. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D, sehingga: NC = - (VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D - H sin D I II I -> identik dengan G.P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.P. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.P. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C)

H a l G.P. NC bagian I Q sin E l (+) ( - ) v sin E

H b

l

GP VB sin GP. V A Sin D D GP NC Bagian II ()

P. a . b cos E l .f

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106-

-

v sin E l

GP NC Total ( I dan II ) II (-)
a .b cos E l .f

identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H), untuk GP. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. Gaya lintang

G.P. NC
v cos E l

perlu dikalikan cos sin E

(-) (+) VB cos E
v cos E l

Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l²

-

Pab sin E lf

u cos E l

GP DC Total (I + II)

Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' =

(-)

v cos E l.
G.P. D C a b sin E l. f

Gambar 4.20. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

1. pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan .3. yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Pendahuluan Seperti pada balok menerus. Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi 4.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109- - 4.

q = kg/mƞ a P b q kg/mƞ P R1 R1 R2 R2 R3 R3 R4 R4 R5 R5 R6 R6 S P P P L =5P P P . Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110- - S Gambar 4. dalam hal ini pelengkung 3 sendi. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi 4. Muatan akan ditransfer ke struktur utama.2. melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.23.3.

(a). .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . ½ P + (b/P ). Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. . . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . ½ P = ½ q P R2 = q . . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q .24. Kondisi pembebanan kolom (b). .

R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.e-HA.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. R2.Yc Vc = VA. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. Menjadi (R1.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. sin E + Hcos E) Dc = Vc.4.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. R3. .Xc-R2.Yc Nc = -(Vc . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA.5 ton R5 = 1. . . .Xc-R2. Pendahuluan . .4. .25. . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar.5 ton a R1 R2 C R3 S e .e-HA. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. Cos E . Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.

33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. P . Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.2.33 P 54.5P . Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. Jika letak . transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.26.N. P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. A C I D E ½ ½ P P + 1. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.33 P 54.Y2). karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.Y1 + P2.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. atau 1 kg atau Newton) . P . maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.5 P . Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. (1 ton. 4.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.4. 2. P .5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. dengan ordinat 1.

M I gel. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada.27.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Dc dan Nc . tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Gambarkan Garis pengaruh Mc .

b GPMc bagian I P.Dc = Av cos E .Nc = .5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.a .a .yc A  ] II I .b yc l.b sin E lf pemaparan Gambar 4. 28.1. f H R VB H VA Q . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.f G. C yc .(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.Q.P.b yc l. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung. GP Mc = V .x  H. S . Judul : Portal 3 sendi 4.f G. Pendahuluan .b cos E lf pemaparanG.a.5.P.Q. .H sin E Cos E P.a . Mc total (bag I + bag II) - II + P.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. a .Y l P. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung. 4.P.

balok gerder. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .2. 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.5.29. bisa berupa balok menerus.

b2 = 0 VA.30. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4.l + HB. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. a1 = 0 VB.l + HB. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. a2 ƛ P1 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.hƞ ƛ P 1 .a + HA.h ƛ P 1 . (h ƛ hƞ) ƛ P2 .hƞ ƛ P2 . b1 ƛ P2 .l + HA. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .31.

S 2 ƛ BA . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . f = HA . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .l ƛ P1 . f ƞ Av. S 1 ƛ AB . S 2 f Nilai BA .b1  P2 . f = 0 .a  P1 .b ƛ P2 . f = HB . b 1 ƛ P2 . f ƞ Bv. S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .a 2 l Nilai A B .a ƛ P1 . b  P2 . a2 = 0 Bv = P1.b 2 l 7 MA = 0 Bv. b 2 = 0 Av = P1.a 1  P2 .l ƛ P1 . f = 0 BA = Bv .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. a1 ƛ P2 .

l ± P. 4. P =1 Penyelesaian.5 ± 4.3 ton .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .1 = 0 Av. 3 . selesaikanlah struktur tersebut.32.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar . 3ƛ2.3.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.3 . Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.l ± q .5 = 0 Bv Av.3 . m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.3 ton Avƞ = H A .5 ± 2. 1. tg E Avƞ = 1. 3 . 2/6 = 0.5 - P.q . 4.6 ± 4. 1. 38 ! 1.3 . 1.4333 ( q) Bvƞ = 0.5 .6 ± 2.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .5ƛ HA.

4333 = 4.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.4333 = 5.3t B B 5.4333 m = 4 5/6 + 0.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.7334 + 5.7334 t VB = Bv + 0.7334t 1.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.3t 4.2666 t .

7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.3667 ƛ ½ . N.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .5.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.3 t 1.2666 t Mx = -1.3 t Gambar 4.3 ton Daerah B-D 5.2 + 11.7334 ƛ 6 = -1.3667 m (daerah cs) x = 2.20254 ƛ 5.60127 5.3 t 1.3667 ƛ ½ . 4 + VA .3 .2666.3 .2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.7334 ton Daerah C-D = -1.3 t = . 2.4 = .1 H B.8 tm - Mc = -HA .7334 .3t Dx = VA ƛ qx 1.32.3 t 4.2666 t = 0.8 1.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.2666 t x=3m Ds = 4.2. 6 = .7334 t BIDANG N - Di S 5.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.6 = 5.7. 2.40127 tm (M max) MD = -HB .3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.3667 Mx = -HA . Bidang M. 4 + 4.3667)² = -5. q (x²) . 4 = -1.C A x 4. 6 = -1. 2 (2.1 ƛ 7.2 tm - S D 7.

- Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan.6.6.2. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.33.34. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. 4.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. . dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.6. maka untuk memperpanjang bentang.

6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. . merupakan struktur yang menumpu. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.3. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.35. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya.

Contoh Penyelesaian . (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. S (b) B GA ambar 4.1. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. Pendahuluan Seperti biasanya.2.7. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.7.7.36. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. 4. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.7.3.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.

R B + c l + + d l a.b a. f l d.a l cb l GP.RB b.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.f GP.RA a.d l.b .RA .37.c l .f - + + GP.H u.M D cb l Gambar 4.f ! l.ND=G P.f GP.DD Q l GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.b l .v l a.

~ g. N D Garis pengaruh N D sama dengan g. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.b p H ! x p ND !  l l f lf .f = 0 H = RB . R B f P di E RB = c c l c. b .p nilai H. b ƛ H.p.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.

f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q.V l II = H .H .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . f = Garis pengaruh H x f.MD P berada antara D C M D = RA . 4.8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . Q . p N D !  l l f l f P di S 1 GP. a ƛ H. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .a f P di S b a ab RA = b p H ! .f = 0 H= R A .

P NC kanan.P. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . G. G. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. G. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.D C .PH.P. G. G. G.P.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. ditanyakan : G. ditanyakanL G. G. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. VA . H.P N C bawah .P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu.P D C bawah. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2.P VA . G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. N C . .P. G.P.

447t 0 0 0 1.5t m 1.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .10. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.9.447t 0.5 0.447 0.1175t 0 0 0.782t 1.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Rangkuman 4.335t 0.

336t 0 0 0.333t 0 0 0.333t 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.25t 0. UGM Bab VI dan VII .20t 0.60t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.384t 0.11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.084t 1. Daftar Pustaka Suwarno.40t 0 0 1.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.

) . JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.B.1.R. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.12.

Jika materialnya dari beton. tapi kalau materialnya dari kayu. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.1.1. 5. 5.1. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. Rangkaian dari material bambu. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan.2. . maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana.3. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. maka kita harus merangkai material tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. ba mbu atau baja.1.4.

Pada konstruksi kayu memakai baut. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. 5.1.B.5.1. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).5. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. . Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. pasak atau paku.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. paku keling atau las.1. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.R. Bentuk K.

Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.2. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. . salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.3.R. Detail I.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.

1.2.R.R. Ruang terdiri dari 2 K.R. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi . sisi 1 K. Gambar 5.5. Pada Jembatan K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.B. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.B.R.R.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.B.B.B.R.B.R. atas (ikatan angin atas) 1 K. bawah (ikatan angin bawah) K.4. Bidang.

5. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.R. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.1. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.5. Konstruksi rangka batang bidang . (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.R.B.B.

5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.1.6. r = jumlah reaksi perletakan 5. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .R. Rumus Umum Untuk K.B.15.B.4. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.R. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.

Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.Ky = 0 b. Cara analitis dengan menggu nakan 7 . Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.6.R.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. 1.7.Kx = 0 dan 7 . Cara grafis dengan metode Cremona . Keseimbangan titik buhul a.1.

Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Metode Penukaran batang 5. Metode Potongan : a. Cara Analitis Metode Ritter b.Kx =0 7. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . Cara Grafis Metode Cullman 3.1. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. a. y 7H=0 7. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.V = 0 ata 7.8. b.

Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.8. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .

4 P . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian.4 . P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5.1.9. 4 P .9. D2 dan D 1ƞ. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. V2 dan V 1ƞ. Untuk batang atas diberi notasi A 1. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . B2 dan B1ƞ.4 . Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . A2 dan A 1ƞ. . A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. selesaikan struktur tersebut. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.

y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0.R. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Dalam penjumlahan. gaya yang searah diberi tanda sama.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. . Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan.B. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.

3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .½ .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 7V=0 . 3 2 . 2 A1 = . V1 = .½ D 1 A1 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144-

-

Batang A 2 dan D2 dianggap tarik. Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = - 2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = - 2 ton (tekan)

Titik VI

Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = - 2 t (tekan)

2t

Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik
Titik V

Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t

2

2
Dƞ2

7V=0

½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik)

7H=0 ½ D 2ƞ

B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik)

3t

2 B2ƞ

Titik VIII

Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = - 1 t (tekan)

2t

2t

7V=0

1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = - 1t (tekan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145-

-

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3 Titik Simpul I II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1 A D2 B2 V V2 0 x3t=2t 0 x3t=1t Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1 2 ½ D1 2 D1 ½ D1 2 B1 7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = .½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik) 2 t (reaksi) . 2 = .b.2 2 t . beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148- - Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang. dengan notasi seperti pada ga mbar.r.

2. 2 2 .½ . 1t D3 = .½ . 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan) 2 Titik IV Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2 D2 = 2t ½ D 2 2 . 2 + B3 = 0 B3 = 1t .2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 . 2 . 2 2. 2 . 2 .½ .V2 = 0 V2= ½ .2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 .2 t (tekan) 2 A D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2 2 7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B2 = 2t Titik VI Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149- - Titik III V1 Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik) 2t 3t B2 7 Kx = 0 Titik II ½ D2 ½ D1 2 Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 .3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ .

2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). Gaya reaksi b). 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . D3 1t ƛ ½ . P2 = 3t Ditanyakan : RB P a).gaya batang RB .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. Gaya. 2. Beban .10. Gaya ƛ Reaksi B b).

808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .555 6.1.00 t 1. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.333 t 6.808 t 4.20 t 1. 5.333 t 3.20 t 4. bisa berupa gaya tarik. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.667 t 5.835 0. 667 t 6.1. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.00 t 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.000 t 2. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi. atau gaya tekan.11.12. Pencarian gaya-gaya batang.

14.13.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. - Daftar Pustaka Suwarno.1. UGM Bab Soemono. bab 5. ƏStatika IƐ. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. .1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful