MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. pertemuannya di titik 0. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. ar 1.2. OABC . 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. .Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. tapi masih sebidang.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. . tapi titik tangkapnya tidak sama.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2..

K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dan K3. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. . Urut-urutan penjumlahan.4.

 Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.5.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.

K3 . salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01.

Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . K2. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. c.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon.6. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. dan e. d. b. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. K3 dan K4 yaitu R. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. garis . K2. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. K2. Garis-garis tersebut dinamakan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon).

2. .4.7. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. diproyeksikan. K2. . K2. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . K3 dan K4. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C.1. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . dengan garis kerja melewati 0ƞ 1.

Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .8. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . secara analitis K1x = K1 cos E .

Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. 3. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1.6. Latihan 1. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. K2. 1. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1.1. .5. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. K3 dan K4. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang.1. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar.

mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.8. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. French.1.1 ton sdt = 22.1. Soemono.9.5° dari sumbu x R = 12. secara bertahap. 3 hanya berupa grafis.1 ton sdt = 22.5° dari sumbu x R = 11.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. Daftar Pustaka 1. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . Penutup Untuk mengukur prestasi. No.7.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. ƏStatika IƐ ITB. 2. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. sedang soal no. Bab I 1. Suwarno. 3. Bab I. Samuel E.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil.2. 1. balok. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. kolom. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. Contoh : a. balok. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.9. mengerti tentang beban. jembatan dan lainsebagainya. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. reaksi dan gaya dalam.1. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. apa itu beban. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. kolom.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1.2. reaksi.

10.2. dan lain sebagainya. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. kendaraan. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. a. balok perletaka n Gambar 1. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. misal : meja.2. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.1.2. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. a. peralatan dan lainsebagainya.

Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Gambar 1.11. Newton.12. Gambar 1. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. kg. dan lainsebagainya.

sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur.1. 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas.3. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. jembatan. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini.3.2. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. dan lainsebagainya. konsep pengertian tentang perletakan. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi.2. Contoh : a. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi.

Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik.2. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b.14. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. perletakan Gambar 1.3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. maka oleh rol tersebut dari atas. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.13. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. sendi. a.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. ada reaksi vertikal. jepit dan perodel.15.2. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. . (Gambar 1. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.

Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1.17.18. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Karena struktur harus stabil. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. oleh Rv Gambar 1. Rv RH c. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Jadi sendi tidak mekanika teknik.16.17). Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b.

20. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.21. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . ada reaksi searah pendel. balok baja pendel Gambar 1. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. ada reaksi vertikal. horizontal.21. dan momen Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan.

Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.

tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. dan bagaimana cara menyelesaikannya. jembatan dan lain sebagainya. hal itu merupakan syarat utama. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. 1.3. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung.3. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja.1. a.2. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. mahasiswa perlu mengetahuinya. suatu kotak yang dilem diatas meja 1.3. Keseimbangan vertikal .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1.23.

yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).25.24. Kotak Gambar 1.25) Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). maka kotak tersebut langsung tenggelam. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. maka kotak tersebut tidak bisa turun. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . Kotak tenggelam dalam lumpur b. (Gambar 1. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal.

27) Gambar 1. Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c.26. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen.27. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. karena tidak ada yang menghambat. maka kotak tersebut langsung bergeser. PM Kotak Lem Meja . yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser.

RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. dan tidak bisa terangkat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. yang RH berarti harus stabil.29.30. Gambar 1. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. RM Gambar 1. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). benda tersebut harus tidak bisa turun. Keseimbangan statis .

4. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). 1. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).  Dari variasi tersebut diatas. Latihan 1. dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).3. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. maka syarat minimum RM = PM atau RM . atau RV .PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol).

notasi. Penutup .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. Rangkuman o Macam-Macam Beban . RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. P. satuan.5. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.Beban terpusat. q.Jepit punya 3 reaksi . Rv = ? 2.3.3.Sendi punya 2 reaksi .6. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.Rol punya 1 reaksi . kg atau ton atau Newton .Beban terbagi rata. 1. notasi.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1.7. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Daftar Pustaka 1. 2.8.3. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .3. Suwarno.

1. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.1. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. 2. ada beberapa macam sistem struktur. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. seperti gedung-gedung.1. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. jembatan dan lain sebagainya.

maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.1. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) .1. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.1. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.3. Contoh a). jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah.2. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2.2.3. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. Konstruksi statis tidak tertentu . sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. b). Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). A B Gambar 2. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah.4.

Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Perletakan A dan C sendi.5. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. 2. b).4.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar.6. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.1. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. Penutup Untuk mengukur prestasi. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. Latihan a).1.

Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. kayu.2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.1. 2.7. baja dan lain-lain.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan.2. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. 2. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . Jadi diatas adalah statis tertentu. Daftar Pustaka 1.1. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.1. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton.

Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Contoh : a). dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . Contoh (b) 2. P1 A L1 Gambar 2.2.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. tinggi (B). Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. pendek (A). sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. tinggi.6. yang satu lagi besar. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. dansebagainya). maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. satu kecil.2.5. pelat.2.8. kolom. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. Orang membawa membawa beban tersebut.7. 2. P P Untuk A orangnya pendek.3. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. Gambar 2. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. memerlukan gaya dalam. demikian juga untuk orang B.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. 2. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. x ƛ q. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. Mx = RA . Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. o Balok tersebut menderita gaya lintang.2. Gaya Dalam Momen a). (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.4.(pers.x.9. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang.

½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .10.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. (pers. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) .

balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Tanda momen (-) * Gambar 2.11. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.13. Tanda momen 2.12. Demikian juga sebaliknya. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut.5. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda.2.

15. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.14. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. Potongan balok bagian kanan . maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang.

gaya yang ada hanya RA. jumlah gaya arahnya ke atas. . jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. C RA Dilihat dari kiri potongan C. Karena RB adalah merupakan reaksi. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). P Jika dilihat dari kanan potongan c. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau.16. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). A Dilihat dari kiri potongan D. karena RA adalah reaksi.17. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). Gambar 2. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Jadi RA < P. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah .

. 2. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.6. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.19. P P Kalau dilihat pada Gambar 3.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. maka pada batang AB (Gambar 3. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).2.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. * Tanda Gaya Normal . Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.18.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . 2.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.7.2. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .

Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. q1 = 2 t/mƞ.8. P3 = 2t (´) P4 = 3t . Ringkasan tanda gaya dalam 2. P2 = 6t (¶). q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.20.2. P1 = 2 2 t (º).

4  2. RBV 71%! RBV. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.6.4 + 2.6 + 6 + 1.6 ƛ q1.3 + P1R.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .6. gaya lintang dan bidang normal. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.q1 ƛ P2.12  2.6.q2.7  6. (Bidang M.12 ƛ q1.10 ƛ P1R.1  6. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.1. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.1 = 0 2.7 ƛ P2. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.3  2.2 = 0 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.21. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan. N.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.2 . yang searah diberi tanda sama.6.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.6 + P2 + q2.10 ƛ q2.6  2.

Perletakan B = sendi ada RBH. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.

jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . DE = 0 Dx2 = q2 . DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B.1ton lintang ke bawah) 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. Variabel x2 berjalan dari E ke B. x2 = + x2 (persamaan liniear) . melampaui beban P2.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban.

P1H = . ND kr = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . dimana gaya normal dihitung dari titik C. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. dari E ke B nilai gaya normal konstan.

P1v .2 = . Daerah A D . x = .2.4 tm. x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . sehingga tanda negatif (momen P1v .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .

m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .½ .½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.2 (5.5)² + 11.5 m Mmax = .5 ƛ 4 = 26.25 tm. x1 = 5.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.5.22. lihat pada Gambar .

3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 . 1.q1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .½ .½ .

Gambar bidang M.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. D balok diatas 2 tumpuan .286 0.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0. N.22.

3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5.5 32.9. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. N. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. N.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan.2. D Balok cantilever . 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.5 24. Bidang M.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.23.

5² = .5 tm ( ) MD : .5 ƛ 1.1.5 t ( ) 2.6 ƛ P2. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.2 ƛ ½ .3 ƛ 5.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.5 = 32.3. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.24.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.P1.1 (2.2. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B . a) reaksi perletakan b) bidang N.10.

Ditanyakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . bidang N. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . a). D dan M q = 1.5 ton /m· . reaksi perletakan b). P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .

5 ton 4 ton 4 ton 0 4.11. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 ton 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 ton 0.12.2.2.tekan + + + + Momen = M .5 ton 0 9 tm 10.5 ton 3. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 tm 0 Tanda/arah o o p .

375 ton 2 ton 0 0 7.0 tm 0 Tanda/arah o o p . 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.375 ton 2.75 tm 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .tekan + + Momen = M + + - .625 ton 4.13 tm 0.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.08 m D B C Nilai 4.375 ton 2 ton 2 ton 4.625 ton 4.08 m kanan A A X = 3.

0 d Mx = Dx .24. dx² . ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . dx o Kiri ada Mx . distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.dx. Hubungan Antara Momen (M) .dx . . Dx dx dan qx. gaya lintang dan momen. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx.3. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban.

2. Seperti pada gambar.4. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. balok atap dan lain sebagainya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.1.4. misal : tangga. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal).25. Skema balok miring .

N. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D.4. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.2. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. 2. Ditanya : Gambar bidang M. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal.

2 ƛ 4.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.1.2 ƛ 2.3 ƛ P2.4 ƛ 2.26.16.5 ƛ 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.2.3 ƛ P 1.2 ƛ P1.1 = 0 RAV.3 ƛ 4.3 ƛ 4.a. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .6 ton = 2.3 ƛ P2.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.12 ton .3 ƛ 4.3.1 = 0 18 ! 3.1 = 0 RAV = 7.2.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.5 ƛ q.2 ƛ q.2.4 ƛ RAH. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.

3.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .6 ton NC kr = .3.2 ton (dari kanan) ND kr = .6 ton Dari B ke D Dx = .6 + (2 + 4 + 4) cos.b.3/5 = .3.6 + q. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q . 3/5 = .26.3.RB = .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.3.3.(4 + 4 + 2) sin E = -10.(4 + 2) sin E = -6 .E! 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .2 ton Dc kr = .6 + 2. cos E= . sin E = -2 .2 . cos E DD kn = .x .1.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.// sumbu batang .2 ton DD kr = -3.4 ton 4/5 . 3/5 = -1.6 + q. 4/5 = .

 .6 .2. D 1 t/mƞ 4t B .5 tm Gambar bidang M.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .2 ƛ P.q. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.1 cos E = 3. 2 1  .q. 3. 3 .x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .1 = + 5.75 ƛ 2.1.6 .2 ƛ 4.

Gambar 2.27.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Bidang gaya dalam pada balok miring . Seperti contoh dibawah ini.

5.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. DB = -2 ƛ 2. sin E E RAV .(RAV .12 .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .1. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.1. NDkn = . 3/5 = .5.2 + 2.16 .3. 4/5) t = .2 + q. cos E .2 ton.1 .[(7. cos E (gaya // sumbu batang) RAV.16 .RAH .16 . sin E NB = .16 . sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .16 . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . 3/5 = 4.12 ƛ 4). Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.[(7. 3/5 = 1.1.16 t D = + RAV .12 . beban tekanan tanah dan lain sebagainya.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. 4/5] = . DA kn = 7.(7. 4/5] = . 3/5 + 2.3. NC kn = .12 NA kn = . 4/5 = . 3/5 + 2. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. 2. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. Cos E) RAH = 2. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.16 .6 ton 2. sin E + RAH .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.1.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.2 . 4/5 ƛ 2.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.1 .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

B = rol. P = 3 ton Ditanyakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. seperti tergambar. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . a) reaksi perletakan b) bidang N. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. D dan M Soal 4 3m RB .5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M 30° Soal 2 q = 1. . Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan. B = rol Ditanyakan. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . B = rol. a) reaksi perletakan c) bidang N.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi . Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .tekan . seperti tergambar. Ditanyakan.88 m Nilai 4. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.12 ton 5. besarnya merupakan fungsi x.88 t 3 ton 9. B = rol.5. a) reaksi perletakan b) bidang N.11 tm Tanda/arah o n o p .815 t 4.76 ton 1.50 t 1.4.5.63 t 2. D dan M 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.50 t 2. ketelitian perhitungan perlu. 2. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.tekan .6 t 0 0 3 tm 0 3.88m jarak miring dr A A B C X = 2.16 t t 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5.

3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.l 3 0 0 q.. 4 .l 6 q.l 3 0 0 0 0.6 ton 0 0 5. B «««.. X= Momen = M L 3 = 0.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3. Jawaban soal no.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.5774 L dari A A B C X= Nilai q.l 6 q.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. 2.6. ƏStatika IƐ. UGM.5 ton 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.24m Nilai 4.5.5.7. ITB.5 ton 1 ton 0 0 0 0.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2. Daftar Pustaka - Suwarno. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .24m dari B A B X = 2. Bab I Soemono.67 tm 3. Bab I.5 ton 4.5 ton 0 0 4.

2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.2.a l a .

seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .l ton 2 a. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.a l ax A Px a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. dengan beban segitiga diatasnya.l 3 1/3 l . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a .

baja. bambu atau baja tersebut.31). bambu. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. Gelagar Tidak Langsung 2.31.1. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. bambu. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. . dan profil baja.6.30.6. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu.

memanjang Potongan Melintang Gambar 2.31. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel.

6. memanjang gel. gel. Penyederhanaan akhir. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. tida k langsung Gambar 2. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. induk / G ambar 2. untuk gel. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. Penyederhanaan awal. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan.33. induk). q kg/mƞ beban terbagi rata gel.32. memanjang P P P .6. gel. melintang gel. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. tidak 2.3. melainkan lewat perantara gelagar melintang.

maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.qP² .P. 2P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.35.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. P = 6q P² . 2P . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. memanjang genap.P/2 . melintang.

1.5P .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.q P . 1.5 P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.5 P² . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P . 2P .5 P)² = 4.q P .375 q P² .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .25 q P² Perbedaan momen (0.125 q P² = 3.5 P . 1. ½ P = 3.½ q (2P)² = 6q P² .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.½ q (1. Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.½ q P .125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M.37. namun s eperti gaya lintang beban terpusat. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang). 2½ P Gambar 2. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .125 q P² = 3.0.375 q P² . lantai = 3. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.

2.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar.6.6. . Latihan Soal 1: q = 1. D. Gaya reaksi V A. Bidang N. Ditanyakan : a). 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.4. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.5. RB b). 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. q = 1. D.5 t/mƞ sepanjang bentang. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. H A. H A .6. Bidang N.6. Gaya reaksi V A. M. RB b). M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat.

75 t 0.25 t 1.0 t 1.5 tm 0.5 t 3.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .75 t 2.5 t 0 4.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.5 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 t 4.0 t 3.00 t 0 5.5 t 1.25 t 1.25 t 1.0 t 3.25 tm 4.

5 ton 3. 2. Daftar Pustaka - Soemono. . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk. UGM Bab I. ƏStatika IƐ.8.0 tm 0 0 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0.24 m 3.6.6.67 tm 3.24 m dari B A B X = 2.73 tm  + + Momen = M + 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2. ITB-Bab I Suwarno.7.

gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut.7.2. gaya momen. gaya momen. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. tersebut berjalan suatu muatan.1.7. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. Garis Pengaruh 2. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut.7. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. Jika dua hal tersebut dipadukan. gaya lintang. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. atau N (Normal). atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. gaya lintang dan gaya normal. maka didalam suatu garis pengaruh. atau gaya dalam M (Momen). maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. jika di atas struktur jembatan 2. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. dan gaya no rmal. .

R A RA . Gambar garis pengaruh R A dan RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.P.l ƛ P.P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G. R B + G.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .x = 0 P.P.38.P.

R A y2 GP.R B t A C a + y1 y2 GP.39 A c 1t + y3 GP. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 . jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.RB Gambar 2.7. y2 atau Gambar 2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.beban y1 dan RB =sama 4 .39. dimana d c ton dan y 4 = ton. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.41.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.3.40.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R B Gambar 2.R A + P=1 GP. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.

sejarak b dari titik B.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .42.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . sejarak d dari titik B. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .R B + y3 GP. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. sejarak dari titik A.P.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.43. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.

l ƛ P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.44.P. Gambar garis pengaruh gaya lintang . R B - b/l G.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.P.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. R A l x ton (linier ) l x=a G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P.

a x=a Mc = G. a . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB .P. tm ª l º = 0 tm Gambar 2.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P.P.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. P = 1t x G.45.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . M c ¨l a¸ b © ¹ ! . b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . a tm ª l º Untuk P di C GP R A. b =  Untuk P di A x .P.b a. a tm = © ¹ .

R A.2 - GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. DBkn Jawab : GP.M D + GP. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.R B : 7 .R B.2 ! tm .R A . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.4 GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .DD - 1 t 3 GP.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. 4 = . MD lihat kanan bagian x M D = RB . DD. 2 = . RB. M D. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.

DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.R B GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.DD P antara A-D D D = .R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.DBkr 1t GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = . Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.MB 2 tm GP.46.

LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. P2 = 2t berjalan P = 1 t © . GPRB. M max. GPD I.4. DI (-) max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2.7. ditanyakan GPR A. 4t DI (+) max. Soal 2 A 3m berjalan. max. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. MI max.

.

I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. . ditanyakan GP R A. MI max. GP D I. GP RB. GP MI a) Bila beban Ditanya. RB max. 3m berjalan.

6. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no.3 ton MI max. = + 9 tm Mmax. = + 9. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton).5. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max. = + 5. Penutup o Untuk mengukur prestasi.7. = + 3. Max.5 ton D I (+) max. 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.1875 tm .7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no. UGM Bab I. MI max. Bab I.3 ton 0 0 2.8.4 tm 1. Senarai . - Suwarno. 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .6 ton 0 0.7.7.3 ton 0 0. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.3 ton 0 1 ton 1. ITB.4 ton 0.Garis pengaruh - Beban berjalan . 2. ƏStatika IƐ.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.18 tm Nilai 1 ton 0 0.Soemono.175 ton = + 9. Daftar Pustaka .7.

1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. B = rol dan C = rol. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu.1.1. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. 3. maka jumlah . sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. a). perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. yaitu 3 buah dimana A = sendi.

Skema balok gerber 3. 7H = 0. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi.1. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. RAH. 7H = 0.2. maka bisa didefinisikan bahwa : . supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . 7H = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b).1. RBV. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. 7M = 0. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. RBV. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0.2. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. RAH.

namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah.

disebut dengan konstruksi balok ge rber. R . 7M = 0 dan 7M D = 0. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. RAH. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. 7 H = 0. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. R . dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. yang masih statis tertentu. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. 7 H = 0. C = rol. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. . dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. B = rol.

Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. Detail sendi gerber .3.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.

4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD. dimana balok DC tertumpu di balok AB.1. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. 3.4. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .

Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC.1.5. sendi gerber belum ada. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. Kalau dilihat dari sub bab 3. sehingga struktur bisa diselesaikan. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. D B C Cara memilih : alternatif (1). maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. Apakah mungkin ? Perhatikan . jadi untuk sementara diterima saja. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan.6. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ.2. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3.

D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). perletak B = rol. perletakan A = sendi. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. . Perhatikan balok DBC. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. RDH). maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD.7. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. Perletakan D = Gambar 3. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). b2 Jika konstruksinya (a). Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.1.8. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.

perletakan B = rol (ada 1 reaksi). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). . dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). jadi tidak ada reaksi. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). (ada 2 reaksi). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. perletakan D = sendi. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. c = rol (ada 1 reaksi). jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). Jadi alternatif (C) adalah mungkin. perletakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. Perhatikan balok DC (gambar b2). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil.

N. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. N. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). Skema pemisahan balok gerber . maka balok AB bisa diselesaikan. Penggambaran bidang M. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). Bidang-bidang gaya dalam (M. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3.9.

Ditanya : Gambar bidang M. D. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C. M 2.6 + RS. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.3 ! ! 3t 4 4 BID.3 4.= P.2 ƛ 2.6.3 = 0 BID.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.6. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.1 = 0 RS = P. dengan jarak 1 m dari A.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .6.3 = 0 RC.10.8 ƛ q. 4 ƛ P. N Gambar 3. A = rol C = rol .6.1.6 + 1.8 ƛ 2. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).6 ƛ 1.667 m 7 MA = 0 RS. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.1 4.3 = 0 RA.6 ƛ RS. . 4 ƛ P.3 = 0 RC. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.2 ƛ q.6. N.33t 3t + 1t BID.833 m 5.

02589 = 8.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.667.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.x 2 - = 5.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x-P (x-1) = 3.x1 = .833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.0546 ƛ 8.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.2.833 ƛ (2.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .667 x 2 . Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.0287 tm.q x2² (parabola) 2 1 .x2 - Mx2 = 5.833)² = 16.x = 3.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .667-x2 ) = 0 x2 =5.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA. 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.Rs.1.667.

5.1. Latihan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .6.6 = + 6.667 + 2 .833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = . x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .667 t Dbkn = -5. x 2 2 = .667 + 2.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.Rc + q .5.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.

Rangkuman o Balok gerber adalah : .1. Gambar : bidang. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. S = sendi gerber Beban : P = 5t. A 2 m 5m 2 m 4m 2). Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu .bidang 3. Atau . P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. D) Suatu balok gerber dengan 1). B = rol C = rol.8. dengan perletakan A = sendi. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ).Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. N.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. Soal No.1. Penutup Untuk mengukur prestasi. 3.4 ton 3.9. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.4 ton 7. 1 Keterangan Titik A Harga 1. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-58-

Soal 2
Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 ton 2.5 ton 5 tm 0 7,5 tm 0 2.5 ton 2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda

3.1.10. Daftar Pustaka 1. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.1.11. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.

3.2. Garis Pengaruh Balok Gerber

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-59-

3.2.1. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan, maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi, atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N), jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan

berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.

3.2.2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A), reaksi

ada

di B (R B); reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).

Gambar 3.11. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

b MI = 1 . Garis pengaruh D I-I dan M I-I G.Rc (sama dengan g.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -62- Gambar 3. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.p.13.P.b ! l1 l1 Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.c . Rc) A S .c l1 P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA .b l1 Untuk P di I-I x=b l b c.P. b = 1 .

b + d/ l2 .Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2 a/l2. Rc.p.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -63- Sama dengan g.p. e (sama dengan GP.e Gambar 3.e g. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB .e l2 .p.P. Rc Sama dengan g. R B. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc .d M II = - a l2 . d Untuk P di II RB = M II = e l2 e l2 dtm e l2 d Untuk P di II Rc = d l2 M II = - d . e g.p.14. RB G.

2.3.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .y GP. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.a.Mc y2 C dx P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.q dx Mc = ´ y. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.

15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .Dc Gambar 3.

Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya. Prinsip dasar perhitungan .4.2.2.2. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar. 3. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.4. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.4. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. . ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.1. Pendahuluan Pada kenyataannya.16.2.

Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.17.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.Mc y4 y5 Pada posisi awal. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .bagian kiri titik C dan . c1 c (x .c1 ¹  § Pr © .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .

18.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.12.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . dan 01 (dengan skala) . 34. 23. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. . 23.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. 12. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B.

tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. . .Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. .Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.Dengan cara yang sama. .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .

Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.19. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.5. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.2.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.1. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. 3. . . .2. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.

Prinsip Dasar Perhitungan .5. a ƛ R2 .r = R1 . Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. P2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. b 7 MA = 0 1 _P3 .x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.2. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. P 3. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. P4.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. R2 dan P3 atau resultante P 1.2. .

2. Rt .4.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.5).

l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar.20.

Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.1 4.21.x 6.45 Rt Gambar 3.1 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.45 r =1. GP R C .6.2. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.1 + P3.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.1 + 6.2 = 20 .95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.2 = Rt. ditanyakan : GP R A . x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4. GP R B.

GP R C . ditanyakan. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP R D GP M I. GP M B. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut.2. Akibat rangkaian beban M max berjalan. GP R B. ditanyakan : MI max . GP R A . GP DB kanan 2 2 b). Rangkuman . 3. RA 8m 2m a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar.7. GP D I.

Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .8. 3. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .2. .

25 t 0 0 0 0 0 0 1. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.25 t 0 0 0 0 1t 1.333 tm 0 0. 2 a).667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). pada saat P 2 terletak pada titik I .5 t 0 0. MI max = + 14 tm.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.

05 tm.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. ITB.Suwarno.9.2.2. . bab V-4 3.10. UGM. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . ƏStatika IƐ. bab V .Soemono. Daftar Pustaka . Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. terjadi pada titik dibawah P 2 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

.1. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. (a). D) 4. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m.1.1. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. (c). sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. dalam. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. a.

Penempatan Titik s (sendi) . Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.1.2.1. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. 7 V = 0 dan 7 M = 0. Dengan konstruksi pelengkung terse but. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.1.2.2.2. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.1. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. kedua perletakan dibuat sendi. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). 4. struktur pelengkung tersebut. Pelengkung sungai Gambar 4. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). gelagar memanjang.1.2. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0).

dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi .3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.

3. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. x 1 HA HB II = HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.q x² diatasnya.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.x1.1.q x12 ƛ 2 B HA. maka M E-E = VA.4. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. h1 f I = VA . x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .x . Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.h1 B Nilai I = V A .2. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.

x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.1. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.b1 = 0 (1) . Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.h1 Gambar 4.1.6.3. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan. 4.5. Gambar nilai I = V A. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen. Cara Penyelesaian 4. (hA-hB) ƛ P1.3.l ƛ HA.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.hA ƛ P1.a ƛ HA.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .

(4). masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.a1 = 0 7 M S = 0 V B . Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. 7M A = 0 VB.H B .

a ƛ P 1. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.b ƛ Ba . f = 0 Av . Bv. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . f = 0 Bv . a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av.l ƛ P1.l ƛ P1. maka nilai Ab bisa dicari.S1 ƛ Ab .

y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .

seperti pada gambar (4.a.2. maka Mx = V A .3 Gambar (c).9 disamping. y I = VA . dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. gaya lintang (D) dan gaya normal (N). gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).1. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. x.1. bukan pelengkung. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.8. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. x ƛ ½ q x² .HA . x P Untuk balok yang lurus. II II = HA . (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.8).2.b l RA + Bidang D RB Gambar 4.3. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA .

Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Vx = V A ƛ q .y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !.10. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.

11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. x cos E = . Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .Vx sin E.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .

13. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. . Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. nilai gaya lintang. H.5 m dari titik A. VB. bidang gaya lintang (Bid. Mc. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. S Ec C yc f=3 m A H 2.12.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. N). D) ataupun bidang normal (Bid. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. M).

yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . l ƛ q. 3 .14.5m Gambar 4.5) ! 2. 3 ƛ ½ q .5  1 / 2.3.2. 2.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. (5)² = 0 H= V . 2.q. 25 ! ! 12. 5.5 m yc = 4.5 ton 3 3 VA . reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama. 3 .H .25 ƛ ½ . l. Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.yc ƛ ½ .Xc² = 15 . 2. ½ l = 0 VB . l ƛ q. ½ l = 0 VA = ½ .10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.5 ƛ 12. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² .5 (10  2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.Xc ƛ H.5 .q (5)² 15.5  1 / 2 .l.3.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .

jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan. Contoh 2 xc=2. 0.5 .5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. Dc = 0.8575 ƛ 12. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = . 0.5145 + 12.8575) = .x = 15 ƛ 3.14.5774 ton.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5 ton ( o) Hc = H = 12.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.sin Ec + Hc cos Ec) = .(Vc. Nc = -14. 0. 0.4312 ƛ 6.5 .15.5 .(7.5145 = 6. Vc = VA ƛ q.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.2.5 = 7. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .5 .

Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

1.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .1.5.92 = 0 VB . 10 . 5 ƛ HA . 5 ƛ HB .76 ƛ HA .48 ! 4.152 . 3 ƛ 6 . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1. l + P.2 (10  2) ! 1.6 .92 ton ( n)  5.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .P.yp = 0 VB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.yp = 0 VA .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .3. ½ l ƛ H B . 3 = 0 HB = 1.92) = 0 .152 .08 ƛ 1.76  6.92 = 0 (cocok) . f = 0 1.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4. 10 + 6 .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . 1. l . 1. ½ l ƛ HA .

5145 Dc = . 25 ƛ 6 (2.17.V A .Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.98 HB = 4.152 .88 + 9.Xc + HA .5145.2.92 ( ) 0.152 . Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2. 0.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.96° sin Ec = 0.18 ƛ 1.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec . = -1.5 + 4.25 m Ec = 30. 2.92) = -1.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.08 = 1.92 .25 ƛ = .8575 Mc = .08 . yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.8575 ƛ 1. cos E = 0. 2.

152 . 0. Nc.5145 ƛ 1.1. HA.8575 = . q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. Mc. HB. VB. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2).0537 ton 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. Nc. Mc. HA. 0. VB.92 .4. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B.1. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). HB.

6.1. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.75 0. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.667 ton 4. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.5. Soal No. Sedang bidang momen. Penutup Untuk mengukur prestasi. 4. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.5 ton 4.667 ton 2.8 o o p n .5 ton 6.6 0.25 m 0. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4.1.

36 m 0. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.842 7.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.539 0. . Soemono ƠStatika Iơ ITB. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).774 ton 1.3672 tm 2.1.9675 ton 5.5625 tm ~0 5.64 0.8336 ton (-) (-) Soal No. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.9675 ton 3.226 ton 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0. bab 2. UGM.184 ton 5.1.8. bab 4. Daftar Pustaka 1.7. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.

H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .P. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. x = 0 Untuk P di B . b = f V B . Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4.2. x = 0 1t Untuk P di B .P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A .P.P VA (+) 1t G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. x = l G.2. a . 6 MA = 0 VA H l a G. a f Px b . a. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. b ƛ H . Garis Pengaruh Reaksi x P S G.2. b f VA . s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. b l . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.P. f = 0. V B dan H Px ) l .1.18. 4. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. Garis pengaruh V A. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.2. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. H P. 4. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.f Untuk P di A . VB .2.3 Prinsip penyelesaian.

a . v . M C = VA .f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H.P. u . R l C u VA VB Bagian II H. v sama dengan G.P.H .v l G. B H b MC = VB . u . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . a .C = G.P. x = a H=0 P.f = 0 a H = VA . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .f G.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . maka lihat kiri potongan (kiri C).b ton H= l .P.f v G. a.b c l . x = a p H = P. f ton H= 6 MS = 0 VA . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). M C pada balok di atas dua perletakan l G. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .P. x = l Untuk P di S . bagian I (+) P . u dan V B . H x C v P.b ton l. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) .H . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . u . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105-

-

Gambar 4.19. Gambar GP.Mc C. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C, VA sin D dan V A cos D. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D, sehingga: NC = - (VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D - H sin D I II I -> identik dengan G.P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.P. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.P. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C)

H a l G.P. NC bagian I Q sin E l (+) ( - ) v sin E

H b

l

GP VB sin GP. V A Sin D D GP NC Bagian II ()

P. a . b cos E l .f

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106-

-

v sin E l

GP NC Total ( I dan II ) II (-)
a .b cos E l .f

identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H), untuk GP. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. Gaya lintang

G.P. NC
v cos E l

perlu dikalikan cos sin E

(-) (+) VB cos E
v cos E l

Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l²

-

Pab sin E lf

u cos E l

GP DC Total (I + II)

Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' =

(-)

v cos E l.
G.P. D C a b sin E l. f

Gambar 4.20. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

3. pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi. yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara.1.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109- - 4. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan . Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi 4. Pendahuluan Seperti pada balok menerus.

23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi 4. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110- - S Gambar 4.3. q = kg/mƞ a P b q kg/mƞ P R1 R1 R2 R2 R3 R3 R4 R4 R5 R5 R6 R6 S P P P L =5P P P . dalam hal ini pelengkung 3 sendi. Muatan akan ditransfer ke struktur utama. melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . ½ P = ½ q P R2 = q . . Kondisi pembebanan kolom (b). (a). ½ P + (b/P ). . . . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q .24.

Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. . . . Pendahuluan .e-HA. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. Cos E . Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. R2.Xc-R2.e-HA.1. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. R3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar.Yc Nc = -(Vc .qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0.Yc Vc = VA. .5 ton a R1 R2 C R3 S e .Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. sin E + Hcos E) Dc = Vc.Xc-R2. .4.4.25.5 ton R5 = 1. Menjadi (R1. .

Jika letak . 2. P .33 P 54. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.2. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. 4.4.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.N. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.Y1 + P2. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. P . A C I D E ½ ½ P P + 1. P .5P . atau 1 kg atau Newton) . langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.5 P .33 P 54.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. P . dengan ordinat 1.Y2). transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.26. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. (1 ton.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Gambarkan Garis pengaruh Mc .27. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Dc dan Nc . Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. M I gel. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4.

1.x  H.b sin E lf pemaparan Gambar 4.Dc = Av cos E . Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung. Judul : Portal 3 sendi 4. .f G.b yc l.yc A  ] II I .Q.a.Y l P.f G. C yc . b GPMc bagian I P. Mc total (bag I + bag II) - II + P.5.a . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.5. S .a .Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.b yc l. a .P.P.Q.a . Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung. 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.H sin E Cos E P.b cos E lf pemaparanG. Pendahuluan .P. 28. GP Mc = V . f H R VB H VA Q .(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.Nc = .

balok gerder.2.29. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4.5. bisa berupa balok menerus. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.

b1 ƛ P2 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .h ƛ P 1 . a2 ƛ P1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4.l + HA. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.hƞ ƛ P 1 . S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. b2 = 0 VA. (h ƛ hƞ) ƛ P2 .l + HB.a + HA.l + HB. a1 = 0 VB. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.hƞ ƛ P2 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.30.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .

b ƛ P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av.b 2 l 7 MA = 0 Bv. S 2 f Nilai BA . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . b 1 ƛ P2 . b 2 = 0 Av = P1.a  P1 . S 2 ƛ BA . f = 0 BA = Bv .b1  P2 . f = 0 . f = HB . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .a ƛ P1 .a 2 l Nilai A B . a1 ƛ P2 . S 1 ƛ AB . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . b  P2 .a 1  P2 . f ƞ Av.l ƛ P1 . a2 = 0 Bv = P1. f = HA .l ƛ P1 . f ƞ Bv.

1 = 0 Av. 1.5 - P.q . 38 ! 1. tg E Avƞ = 1.3. P =1 Penyelesaian.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 . 3 .3 ton . 3ƛ2.5ƛ HA.3 ton Avƞ = H A .3 .5 . 1. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1. 4.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .5 ± 4. 3 .4333 ( q) Bvƞ = 0.5 = 0 Bv Av. 2/6 = 0. selesaikanlah struktur tersebut. 1. 4.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.6 ± 4.3 . m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.l ± P.5 ± 2.32.l ± q .6 ± 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .3 .

2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.4333 = 4.4333 m = 4 5/6 + 0.3t B B 5.4333 = 5.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.7334 t VB = Bv + 0.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.3t 4.7334 + 5.2666 t .7334t 1.

3 t Gambar 4.3.3667 m (daerah cs) x = 2.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.7334 .5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.32.3 t 1.1 H B. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4. 2.5.7334 ton Daerah C-D = -1.3 t 1.3667 ƛ ½ .2 tm - S D 7.2.3t Dx = VA ƛ qx 1. 4 = -1.6 = 5. 6 = .7334 ƛ 6 = -1.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.2666.60127 5.2666 t Mx = -1.8 tm - Mc = -HA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.3 ton Daerah B-D 5.4 = .3 t = .40127 tm (M max) MD = -HB . 2 (2. Bidang M. 4 + VA .3667)² = -5. q (x²) .3 . 6 = -1. N.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.8 1.1 ƛ 7.3667 Mx = -HA .2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .2 + 11.3667 ƛ ½ . 2.3 .2666 t = 0.2666 t x=3m Ds = 4.3 t 4.7.7334 t BIDANG N - Di S 5.20254 ƛ 5.C A x 4. 4 + 4.

34.1.6. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. . dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.2.6.6. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. maka untuk memperpanjang bentang.33. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.

6. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. .3. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. merupakan struktur yang menumpu. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.35.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4.

Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.7.2. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.36. S (b) B GA ambar 4.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi. 4.3.7. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.7. Pendahuluan Seperti biasanya.7. Contoh Penyelesaian .

R A + 1t C l V l 1t l d l GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.DD Q l GP.f GP.f GP.RB b.RA a.d l.a l cb l GP.ND=G P.b .c l .R B + c l + + d l a.f - + + GP.f ! l.H u.b a. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.v l a.37. f l d.RA .b l .M D cb l Gambar 4.

RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. ~ g. R B f P di E RB = c c l c. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. b ƛ H. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.p nilai H.b p H ! x p ND !  l l f lf .f = 0 H = RB . N D Garis pengaruh N D sama dengan g.p. b .

V l II = H . a ƛ H.f = 0 H= R A . 4. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . Q .MD P berada antara D C M D = RA . f = Garis pengaruh H x f.H .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. p N D !  l l f l f P di S 1 GP.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .8.a f P di S b a ab RA = b p H ! . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q.

G.P. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.P.P N C bawah . G. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. G. G. ditanyakan : G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. G.P. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . G. G.P VA .D C . VA .P. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal. G. ditanyakanL G. .PH.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. H.P NC kanan.P D C bawah. N C . G.P. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu.

0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - . Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.9.782t 1. Rangkuman 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.447t 0 0 0 1.10.5t m 1.447 0.335t 0. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.5 0.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.1175t 0 0 0.447t 0.

UGM Bab VI dan VII .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.384t 0.336t 0 0 0.333t 0 0 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.40t 0 0 1.60t 0. Daftar Pustaka Suwarno.20t 0.333t 0 0 0.25t 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.084t 1.11.

MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.1. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.) . JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.B. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.12.R.

ba mbu atau baja. 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.4. maka kita harus merangkai material tersebut. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. . Jika materialnya dari beton.2. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. 5. Rangkaian dari material bambu.1. tapi kalau materialnya dari kayu.1.3.1. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.1.

1. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. Bentuk K. . P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. 5. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.5. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.B.1.R. pasak atau paku. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. Pada konstruksi kayu memakai baut.1. paku keling atau las.

R.3. . Detail I.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.

Ruang bisa dipisahkan menjadi K. bawah (ikatan angin bawah) K. atas (ikatan angin atas) 1 K. Bidang.5.R. sisi 1 K.B.B.R. Ruang terdiri dari 2 K.R.B.R. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.B. Pada Jembatan K.R.1.B.R.R.2.B.4. Gambar 5. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .

Konstruksi Statis Tertentu Pada K.5.R.1.B. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Konstruksi rangka batang bidang . merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.R.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.B. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.5.

maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .B. Rumus Umum Untuk K.4.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.15. r = jumlah reaksi perletakan 5. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.B.6.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.R.1.

Cara grafis dengan metode Cremona .R.Kx = 0 dan 7 .B. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .Ky = 0 b. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.1.7.6. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan. 1. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K. Keseimbangan titik buhul a.

V = 0 ata 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. b. Cara Analitis Metode Ritter b.Kx =0 7. Cara Grafis Metode Cullman 3. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. a.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Metode Penukaran batang 5.8. Metode Potongan : a. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.1. y 7H=0 7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.8. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .

V2 dan V 1ƞ. D2 dan D 1ƞ. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. 4 P . Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.1.9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. A2 dan A 1ƞ. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. Untuk batang atas diberi notasi A 1. selesaikan struktur tersebut. .9.4 . B2 dan B1ƞ. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian.4 . B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. 4 P . Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !.

10.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. gaya yang searah diberi tanda sama. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui.B. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. Dalam penjumlahan. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. .

3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . V1 = .½ D 1 A1 = . 2 A1 = . 2 7V=0 .½ . 3 2 .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144-

-

Batang A 2 dan D2 dianggap tarik. Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = - 2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = - 2 ton (tekan)

Titik VI

Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = - 2 t (tekan)

2t

Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik
Titik V

Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t

2

2
Dƞ2

7V=0

½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik)

7H=0 ½ D 2ƞ

B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik)

3t

2 B2ƞ

Titik VIII

Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = - 1 t (tekan)

2t

2t

7V=0

1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = - 1t (tekan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145-

-

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3 Titik Simpul I II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1 A D2 B2 V V2 0 x3t=2t 0 x3t=1t Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1 2 ½ D1 2 D1 ½ D1 2 B1 7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = .½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik) 2 t (reaksi) . dengan notasi seperti pada ga mbar. beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. 2 = . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148- - Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang.2 2 t .

1t D3 = .½ . 2 . 2 . 2 2 .2 t (tekan) 2 A D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2 2 7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 .3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149- - Titik III V1 Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik) 2t 3t B2 7 Kx = 0 Titik II ½ D2 ½ D1 2 Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 . 2 . 2 = 1 t (tarik) B2 = 2t Titik VI Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = .2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 .V2 = 0 V2= ½ . 2 2. 2.½ .2 . 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan) 2 Titik IV Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2 D2 = 2t ½ D 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = . 2 + B3 = 0 B3 = 1t .½ . 2 .

Gaya reaksi b). Gaya.1. Beban .10. Gaya ƛ Reaksi B b). Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. 2.gaya batang RB . D3 1t ƛ ½ . P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . P2 = 3t Ditanyakan : RB P a).

1.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .11.20 t 1.333 t 6. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. 5.333 t 3.667 t 5.00 t 1.00 t 6.1. bisa berupa gaya tarik.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.000 t 2.808 t 4. Pencarian gaya-gaya batang.835 0.12. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya. atau gaya tekan. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. 667 t 6.20 t 4. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.555 6.

1.14. . - Daftar Pustaka Suwarno. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. bab 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No.13. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . UGM Bab Soemono.1. ƏStatika IƐ.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful