P. 1
33275901 Modul Mekanika Teknik 1

33275901 Modul Mekanika Teknik 1

|Views: 6|Likes:
Dipublikasikan oleh said7777

More info:

Published by: said7777 on Dec 04, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2014

pdf

text

original

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. . pertemuannya di titik 0. tapi titik tangkapnya tidak sama.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2.. tapi masih sebidang. ar 1.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.3 Penju mlaha n gaya secara grafis.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama.2. OABC . .

Urut-urutan penjumlahan. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1.4. K2 dan K3. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.5.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. D F E. K3 . salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.

Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A.6. K2. b. dan e. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. d. c. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. K3 dan K4 yaitu R. Garis-garis tersebut dinamakan . Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. garis . Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. K2.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di .

Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat.2. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . K2. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. diproyeksikan. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . K2. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. K3 dan K4.7.1. .4. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D.

8. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. secara analitis K1x = K1 cos E . Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E .

K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.6. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.1. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. .1. Latihan 1.5. 3. K3 dan K4. 1.

5° dari sumbu x R = 12. Samuel E. 3 hanya berupa grafis. secara bertahap. ƏStatika IƐ ITB. French.1 ton sdt = 22. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. 3.1 ton sdt = 22. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. Bab I. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . No. Penutup Untuk mengukur prestasi. Daftar Pustaka 1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. sedang soal no. Soemono. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I.1. 2.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.1.8.1.7. Bab I 1.9.5° dari sumbu x R = 11. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. Suwarno.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

2. Contoh : a. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. reaksi dan gaya dalam. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. apa itu beban. 1. reaksi. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. kolom. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. balok. mengerti tentang beban.1.2. kolom. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. jembatan dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. balok. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung.9.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. balok perletaka n Gambar 1. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia.2. a. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. dan lain sebagainya. a. peralatan dan lainsebagainya.2. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. kendaraan. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a.1. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat.2. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.10. misal : meja. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.

12. dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Gambar 1. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas.11. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Gambar 1. kg. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Newton. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya.

Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. 1. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. jembatan. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ.2. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. konsep pengertian tentang perletakan.3. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur .1.3.2. Contoh : a. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. dan lainsebagainya. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi.

2. (Gambar 1.15. sendi. . a. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. ada reaksi vertikal. maka oleh rol tersebut dari atas. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal.14. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil.2.13. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. jepit dan perodel. perletakan Gambar 1.3. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b.

Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. oleh Rv Gambar 1. Karena struktur harus stabil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu .17. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1.16. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Jadi sendi tidak mekanika teknik. Rv RH c. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal.17).18.

dan momen Gambar 1. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. balok baja pendel Gambar 1. horizontal.21. ada reaksi searah pendel.20. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut.21. ada reaksi vertikal. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur.

22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .

Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. mahasiswa perlu mengetahuinya. Keseimbangan vertikal .3. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung.23. 1.3. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. serta manfaatnya dalam struktur tersebut.3. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling.1. hal itu merupakan syarat utama. dan bagaimana cara menyelesaikannya.2. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. a. jembatan dan lain sebagainya.

(Gambar 1. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv).24. maka kotak tersebut tidak bisa turun. Kotak Gambar 1. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv).25) Gambar 1. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal.25. maka kotak tersebut langsung tenggelam. Kotak tenggelam dalam lumpur b. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).

yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). karena tidak ada yang menghambat. PM Kotak Lem Meja . maka kotak tersebut langsung bergeser.27. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.26. Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c.27) Gambar 1. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen.

RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. RM Gambar 1. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). Keseimbangan statis . Gambar 1.30. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem.29. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). momen maka kotak tersebut bisa terangkat. benda tersebut harus tidak bisa turun. yang RH berarti harus stabil. dan tidak bisa terangkat.

maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.4. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).  Dari variasi tersebut diatas. Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). 1. Latihan 1.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).3. agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. maka syarat minimum RM = PM atau RM .PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. atau RV .

6. Rangkuman o Macam-Macam Beban . PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.Sendi punya 2 reaksi .Beban terbagi rata. Penutup . kg atau ton atau Newton .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. P. notasi. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. notasi. q.Rol punya 1 reaksi . Rv = ? 2. 1. satuan.3.Jepit punya 3 reaksi .3.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.5. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan . Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.Beban terpusat.

Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .3.7. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.3. Daftar Pustaka 1. 2. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. Suwarno.

seperti gedung-gedung. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2.1. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. 2. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. ada beberapa macam sistem struktur. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. jembatan dan lain sebagainya.1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil.

Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. Contoh a).1. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. 2.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.3. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.1.2. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.

maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. Konstruksi statis tidak tertentu . Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2.3. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. A B Gambar 2.2. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah.4. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. b). Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah.

b). Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu.1.6. Latihan a). Perletakan A dan C sendi. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.1.4.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. 2.1. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2. Penutup Untuk mengukur prestasi. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.5. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar.

Jadi konstruksi statis tidak tertentu.7. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan.2. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. 2.1. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Daftar Pustaka 1. Jadi diatas adalah statis tertentu.1. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. 2. kayu. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.2.8. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu.1. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. baja dan lain-lain.

6.7. pendek (A).2. 2.8. tinggi (B). dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . kolom. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b).2. satu kecil. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. tinggi. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Gambar 2.5. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. Contoh : a). Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. memerlukan gaya dalam. yang satu lagi besar. pelat. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. Orang membawa membawa beban tersebut. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. dansebagainya).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Contoh (b) 2. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. demikian juga untuk orang B. P1 A L1 Gambar 2.2. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). P P Untuk A orangnya pendek.3.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

(pers. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. x ƛ q. Mx = RA . Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Gaya Dalam Momen a). Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg).2.4.9. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . 2. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. o Balok tersebut menderita gaya lintang.x.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2.10. (pers. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ.

GayaRA RB gaya tersebut adalah RA .13. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. Demikian juga sebaliknya. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok.5. Tanda momen (-) * Gambar 2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Tanda momen 2. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.11.12.2. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut.

Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.14. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang.15. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. Potongan balok bagian kanan . y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.

jumlah gaya arahnya ke atas. gaya yang ada hanya RA.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. . jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau.16. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). Karena RB adalah merupakan reaksi. P Jika dilihat dari kanan potongan c. C RA Dilihat dari kiri potongan C. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc).

D maka gaya lintangnya tandanya negatif.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas.17. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). Jadi RA < P. karena RA adalah reaksi. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. A Dilihat dari kiri potongan D. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P.

maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok.6.2.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama. 2. .18. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. * Tanda Gaya Normal . maka pada batang AB (Gambar 3.19. P P Kalau dilihat pada Gambar 3.

Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }. 2. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .7.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .

P2 = 6t (¶). P1 = 2 2 t (º). Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.8. Ringkasan tanda gaya dalam 2. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. q1 = 2 t/mƞ. P3 = 2t (´) P4 = 3t .20.2.

Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.q1 ƛ P2. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan. gaya lintang dan bidang normal. yang searah diberi tanda sama.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .4 + 2.q2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.1  6. N. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.6  2.7 ƛ P2. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.3  2.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.21.1 = 0 2.6.2 . RBV 71%! RBV.12 ƛ q1.4  2. (Bidang M. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.6.2 = 0 1.6.10 ƛ q2.6 + 6 + 1.3 + P1R.1.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.10 ƛ P1R.7  6.6 ƛ q1.12  2.6 + P2 + q2.6.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = . Perletakan B = sendi ada RBH.

Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x.1ton lintang ke bawah) 2. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). x2 = + x2 (persamaan liniear) . Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = .2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. Variabel x2 berjalan dari E ke B. melampaui beban P2.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = . DE = 0 Dx2 = q2 .6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.

ND kr = . dari E ke B nilai gaya normal konstan. Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan). NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. dimana gaya normal dihitung dari titik C.P1H = .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.

x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . sehingga tanda negatif (momen P1v . x = .P1v . Daerah A D .2.2 = .4 tm.2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .

x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .½ . lihat pada Gambar .22.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.5 m Mmax = .5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.5.25 tm.5 ƛ 4 = 26.2 (5.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5. x1 = 5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5)² + 11.

3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = . 1.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .½ .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.q1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .½ .62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.

N. Gambar bidang M.286 0.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2. D balok diatas 2 tumpuan .22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.

Bidang M. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5.9. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. N.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.23.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. D Balok cantilever .3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).2.5 32.5 24. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. N. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).

5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.5² = .C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.P1. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .6 ƛ P2.3. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.10.1.5 ƛ 1.2.2 ƛ ½ .3 ƛ 5.5 t ( ) 2. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N. a) reaksi perletakan b) bidang N.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B . Latihan Balok diatas 2 tumpuan.24.5 tm ( ) MD : .5 = 32.1 (2.

P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . Ditanyakan.5 ton /m· . D dan M q = 1. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . bidang N. reaksi perletakan b). a).

5 tm 0 Tanda/arah o o p .12. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.2.5 ton 3.tekan + + + + Momen = M . mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 ton 4 ton 4 ton 0 4. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 ton 0 9 tm 10.2.5 ton 3. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.11.

625 ton 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p . 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.13 tm 0.08 m kanan A A X = 3.625 ton 4.08 m D B C Nilai 4.tekan + + Momen = M + + - .375 ton 2 ton 0 0 7.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .375 ton 2.75 tm 4.375 ton 2 ton 2 ton 4.

Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .dx. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . dx² .0 d Mx = Dx .24. gaya lintang dan momen.dx . .3. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . Dx dx dan qx. dx o Kiri ada Mx . Hubungan Antara Momen (M) .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. balok atap dan lain sebagainya. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur.25. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. misal : tangga. 2. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal).4.4. Seperti pada gambar.1. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Skema balok miring . Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.

N. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal.2. 2. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. Ditanya : Gambar bidang M.4. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok.

5 ƛ 1.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.3 ƛ 4.1.2.3.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.1 = 0 18 ! 3.2 ƛ 4.a.2 ƛ P1.1 = 0 RAV = 7.3 ƛ 4.2.16.12 ton .1 = 0 RAV.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .6 ton = 2.3 ƛ P 1. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.4 ƛ RAH.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.3 ƛ 4.4 ƛ 2.2 ƛ 2.26.2 ƛ q.3 ƛ P2.5 ƛ q.3 ƛ P2.

cos E= .(4 + 4 + 2) sin E = -10.B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .// sumbu batang .6 + 2.RB = . 3/5 = -1.b.3.3. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .3.6 + (2 + 4 + 4) cos.3.6 + q.2 ton (dari kanan) ND kr = .6 ton Dari B ke D Dx = .x .2 . cos E DD kn = .26.4 ton 4/5 .1.2 ton DD kr = -3.3.E! 4.6 ton NC kr = .6 + (2 + 4) 4/5 = 1.2 ton Dc kr = .6 + q.3.(4 + 2) sin E = -6 .3/5 = . sin E = -2 . 3/5 = . 4/5 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .

2 1  .75 ƛ 2.1.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .2 ƛ P.q.2.6 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .1 cos E = 3.  .5 tm Gambar bidang M.6 . D 1 t/mƞ 4t B .q. 3 . 3.1 = + 5.2 ƛ 4. N.

27. Seperti contoh dibawah ini. Bidang gaya dalam pada balok miring .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Gambar 2.

1. 4/5) t = .12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.2 + q. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .5.12 .(7.1.1 . 3/5 = 1.16 . 3/5 + 2.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. sin E E RAV . sin E + RAH .2 ton. 4/5 = . Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. 4/5] = . 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .16 .1 . DB = -2 ƛ 2.(RAV .12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. 4/5] = . cos E (gaya // sumbu batang) RAV.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. sin E (gaya B sumbu batang) RAH. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .[(7.3. 2.16 . 3/5 = 4.12 . beban tekanan tanah dan lain sebagainya. 3/5 = . cos E .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .2 . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. NDkn = . 4/5 ƛ 2.1.12 NA kn = .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.16 t D = + RAV .RAH . sin E NB = . 3/5 + 2.16 .3. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.5.6 ton 2. DA kn = 7.1. Cos E) RAH = 2.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.12 ƛ 4).2 + 2. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = . NC kn = .16 .[(7.16 .6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

D dan M 30° Soal 2 q = 1. seperti tergambar. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. P = 3 ton Ditanyakan. B = rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. B = rol. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . B = rol Ditanyakan. a) reaksi perletakan c) bidang N. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M Soal 4 3m RB . P = 3 ton Ditanyakan. Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan b) bidang N. . seperti tergambar Beban q = 1 t/m· .

Ditanyakan. B = rol.4. seperti tergambar.tekan . 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.76 ton 1. besarnya merupakan fungsi x.11 tm Tanda/arah o n o p .50 t 1.815 t 4. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.tekan .5.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .63 t 2.6 t 0 0 3 tm 0 3. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah. D dan M 2. ketelitian perhitungan perlu. Penutup Untuk mengukur prestasi.12 ton 5.88m jarak miring dr A A B C X = 2.88 m Nilai 4. 2.50 t 2.5.88 t 3 ton 9. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.16 t t 2. a) reaksi perletakan b) bidang N.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .

l 6 q..MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. X= Momen = M L 3 = 0.l 3 0 0 0 0.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .l 6 q.. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.5774 L dari A A B C X= Nilai q. B «««. 4 .6 ton 0 0 5.l 3 0 0 q. Jawaban soal no.

ƏStatika IƐ.6.5.5 ton 0 0 4. Daftar Pustaka - Suwarno.7.5. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .5 ton 1 ton 0 0 0 0.5 ton 4. UGM.5 ton 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.67 tm 3.24m Nilai 4. ITB. Bab I. Bab I Soemono. 2.24m dari B A B X = 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .2.a l a .l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.

tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .l ton 2 a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B.l 3 1/3 l . dengan beban segitiga diatasnya.a l ax A Px a. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.

maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. Gelagar Tidak Langsung 2.31. bambu atau baja tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. bambu. dan profil baja.1.30. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. baja.6.31). bambu. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2.6. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel.31. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan . memanjang Potongan Melintang Gambar 2.

Penyederhanaan awal. melainkan lewat perantara gelagar melintang.32. melintang gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. induk / G ambar 2. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. tida k langsung Gambar 2.6. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. memanjang gel.33. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. untuk gel. gel.6. induk). tidak 2. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. Penyederhanaan akhir. memanjang P P P .2. gel. q kg/mƞ beban terbagi rata gel.3.

II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. memanjang genap. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. melintang.qP² . 2P . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2.P.P/2 . P = 6q P² . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. 2P . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.35.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .

125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.375 q P² .25 q P² Perbedaan momen (0.5 P² .5 P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.q P .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel. 1.125 q P² = 3.1. 1.½ q (1. 1. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .½ q (2P)² = 6q P² . 2P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.q P .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .½ q P . ½ P = 3.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.5 P)² = 4.5P .5 P .

garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. namun s eperti gaya lintang beban terpusat.37. 2½ P Gambar 2. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.375 q P² .125 q P² = 3. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. lantai = 3. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .0.

M. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan.6.4. q = 1. Latihan Soal 1: q = 1. 2. RB b).6. H A. . RB b). Penutup Untuk mengukur prestasi. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). Gaya reaksi V A. Gaya reaksi V A. H A .5 t/mƞ sepanjang bentang. D.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. 2. D. Bidang N. Bidang N.6.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. Ditanyakan : a).5. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.

25 t 1.75 t 0.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M . 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.5 t 1.75 t 2.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.0 t 3.00 t 0 5.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.5 t 4.0 t 3.25 tm 4.0 t 1.25 t 1.25 t 1.5 t 3.5 tm 0.5 t 0 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 t 1.

2.6.24 m 3.0 tm 0 0 4. Daftar Pustaka - Soemono.5 ton 1 ton 0 0 0 0. UGM Bab I.67 tm 3.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.73 tm  + + Momen = M + 2. ƏStatika IƐ. .8. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk. ITB-Bab I Suwarno.6.24 m dari B A B X = 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .5 ton 3.

1. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. jika di atas struktur jembatan 2. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. tersebut berjalan suatu muatan. gaya momen. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. dan gaya no rmal. gaya lintang. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. Garis Pengaruh 2. .2. gaya momen.7. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. Jika dua hal tersebut dipadukan. gaya lintang dan gaya normal. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan.7.7. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. atau gaya dalam M (Momen). maka didalam suatu garis pengaruh. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. atau N (Normal).

x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2. R A RA .P. Gambar garis pengaruh R A dan RB . l ƛ P (l-x) = 0 P(l .x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.x = 0 P.P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.38.l ƛ P.P.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.P. R B + G.

Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.41.39. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. y2 atau Gambar 2. dimana d c ton dan y 4 = ton.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R A + P=1 GP. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.R B Gambar 2.beban y1 dan RB =sama 4 .40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.R B t A C a + y1 y2 GP.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.39 A c 1t + y3 GP.3.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.40.R A y2 GP.7.RB Gambar 2.

Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. sejarak b dari titik B.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. sejarak d dari titik B. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.P.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.43. sejarak dari titik A.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.R B + y3 GP.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .42.

44. R B - b/l G.P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.P. l ƛ P.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. R A l x ton (linier ) l x=a G. Gambar garis pengaruh gaya lintang .

b =  Untuk P di A x . P = 1t x G. a tm ª l º Untuk P di C GP R A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. a .b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.P.45.a x=a Mc = G. a tm = © ¹ .P.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .P.b a. tm ª l º = 0 tm Gambar 2. M c ¨l a¸ b © ¹ ! .

RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.R B.DD - 1 t 3 GP. RB. MD lihat kanan bagian x M D = RB .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. M D. DD. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.M D + GP.2 - GP.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 . 2 = . 4 = . DBkn Jawab : GP. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.R A .4 GP.2 ! tm . M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.R B : 7 .4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.R A.R B 1 t 3 2 3 + GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.

D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.MB 2 tm GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.DBkr 1t GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.R B GP.DD P antara A-D D D = .DBkr C P antara A-Bkr DBkr = . Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.46.

7. 4t DI (+) max. max. M max. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. DI (-) max. Soal 2 A 3m berjalan. GPD I. P2 = 2t berjalan P = 1 t © . GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya.4. MI max. ditanyakan GPR A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GPRB.

.

GP RB. MI max. GP MI a) Bila beban Ditanya. ditanyakan GP R A. 3m berjalan. RB max. I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GP D I. .

5 ton D I (+) max. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. = + 3. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.7. Max. = + 5.1875 tm .5. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. = + 9 tm Mmax. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2.7. = + 9. 2.6.3 ton MI max. Penutup o Untuk mengukur prestasi.

Senarai .Garis pengaruh - Beban berjalan . Bab I.6 ton 0 0. 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .3 ton 0 0. ITB. Daftar Pustaka .7.3 ton 0 1 ton 1.8. MI max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.Soemono.175 ton = + 9. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5. UGM Bab I. - Suwarno.7.7.18 tm Nilai 1 ton 0 0.4 ton 0.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.4 tm 1. 2. ƏStatika IƐ.3 ton 0 0 2.

1. yaitu 3 buah dimana A = sendi.1. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. a). 3. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. B = rol dan C = rol. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). maka jumlah . perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut.1. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut.

1. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan.2. 7M = 0. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). Skema balok gerber 3. RAH. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. RBV. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. maka bisa didefinisikan bahwa : . A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. 7H = 0. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.1. 7H = 0. RAH. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0.2. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. RBV. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. 7H = 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. . namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.

R . B = rol. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. RAH. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. C = rol. 7 H = 0. yang masih statis tertentu. disebut dengan konstruksi balok ge rber. 7M = 0 dan 7M D = 0. R . . 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. 7 H = 0.

maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.3. Detail sendi gerber .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.1. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.3.

4. 3. dimana balok DC tertumpu di balok AB. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.4.

sehingga struktur bisa diselesaikan.1. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. sendi gerber belum ada. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. D B C Cara memilih : alternatif (1). maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru.2. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. Kalau dilihat dari sub bab 3.6. jadi untuk sementara diterima saja. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Apakah mungkin ? Perhatikan .5.

perletakan A = sendi. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. perletak B = rol. RDH). balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV).7. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. Perletakan D = Gambar 3. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. Perhatikan balok DBC. . karena kedua perletakan B dan C adalah rol.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

5.8. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). b2 Jika konstruksinya (a). gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.1. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.

jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. (ada 2 reaksi). dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . c = rol (ada 1 reaksi). Perhatikan balok DC (gambar b2). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). . Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. perletakan. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). jadi tidak ada reaksi. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan D = sendi. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)).

9. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. Bidang-bidang gaya dalam (M. maka balok AB bisa diselesaikan. Skema pemisahan balok gerber . N. Penggambaran bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). N. N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).

6 + RS.= P.3 4. .3 ! ! 3t 4 4 BID.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.6 + 1. N Gambar 3. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. dengan jarak 1 m dari A. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.3 = 0 RA.6.1.6.2 ƛ q. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.6.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.1 = 0 RS = P. 4 ƛ P.833 m 5.3 = 0 BID.10.2 ƛ 2.1 4.3 = 0 RC. A = rol C = rol .6.6 ƛ 1.3 = 0 RC. Ditanya : Gambar bidang M. N. 4 ƛ P. D. M 2.8 ƛ q. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.6 ƛ RS.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.6. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).8 ƛ 2.33t 3t + 1t BID.667 m 7 MA = 0 RS.

02589 = 8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.Rs.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.2.833 ƛ (2.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.0287 tm.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .667 x 2 .x-P (x-1) = 3.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.q x2² (parabola) 2 1 .x1 = .667.667.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.x2 - Mx2 = 5. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x = 3.833)² = 16.667-x2 ) = 0 x2 =5. 2.1.0546 ƛ 8.x 2 - = 5.

6 = + 6.6.667 + 2 .Rc + q .1.5. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = . x 2 2 = .5.667 t Dbkn = -5.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = . Latihan .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.667 + 2.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.

bidang 3. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. S = sendi gerber Beban : P = 5t. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . dengan perletakan A = sendi. A 2 m 5m 2 m 4m 2). B = rol C = rol. Gambar : bidang. N. Atau . o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. Rangkuman o Balok gerber adalah : .Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC.8. D) Suatu balok gerber dengan 1). Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M.1. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan .

3.4 ton 3.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.1. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.4 ton 7. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. Penutup Untuk mengukur prestasi. Soal No.9. 1 Keterangan Titik A Harga 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-58-

Soal 2
Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 ton 2.5 ton 5 tm 0 7,5 tm 0 2.5 ton 2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda

3.1.10. Daftar Pustaka 1. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.1.11. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.

3.2. Garis Pengaruh Balok Gerber

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-59-

3.2.1. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan, maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi, atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N), jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan

berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.

3.2.2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A), reaksi

ada

di B (R B); reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).

Gambar 3.11. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

P.c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.Rc (sama dengan g.b ! l1 l1 Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.13. b = 1 . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .b MI = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b l b c. Rc) A S .c l1 P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA .c . Garis pengaruh D I-I dan M I-I G. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = .MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -62- Gambar 3.P.p.

P. Rc Sama dengan g. R B. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc .e Gambar 3. d Untuk P di II RB = M II = e l2 e l2 dtm e l2 d Untuk P di II Rc = d l2 M II = - d . e g.p.e l2 .p.d M II = - a l2 .p.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2 a/l2. e (sama dengan GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -63- Sama dengan g.p.e g. RB G. b + d/ l2 . Rc. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB .14.

b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.2.y GP.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .Mc y2 C dx P. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.a. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.q dx Mc = ´ y.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.

15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .Dc Gambar 3.

1. Pendahuluan Pada kenyataannya. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.2.4.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. 3.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.4.2.4. . muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.2. . Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.16. Prinsip dasar perhitungan .

Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.Mc y4 y5 Pada posisi awal.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal .17. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.

bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.bagian kiri titik C dan .c1 ¹  § Pr © .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ . c1 c (x .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .

12.12.18. 34.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. dan 01 (dengan skala) . Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. 23. 23. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) .

. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.Dengan cara yang sama.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. . .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. . tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ.

M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. . 3. . M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.5.1.19. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. .2. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.2. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.5.

Prinsip Dasar Perhitungan . . Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.5. P2. P4. a ƛ R2 . P 3.r = R1 . Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. R2 dan P3 atau resultante P 1. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. b 7 MA = 0 1 _P3 .2.2. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = .Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan.

P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.5). Rt .3.4.2.

Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2.20. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.

Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.2 = 20 .45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.6. GP R C . GP R B.21.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.2. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.x 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.1 + 6.1 4. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar. ditanyakan : GP R A .2 = Rt.1 + P3.1 4.45 r =1.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.45 Rt Gambar 3.

Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. 3. GP R B. GP D I. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP M B.2. GP R D GP M I. ditanyakan. GP DB kanan 2 2 b).7. Akibat rangkaian beban M max berjalan. GP R C .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. ditanyakan : MI max . RA 8m 2m a). Rangkuman . GP R A .

karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. . perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.2.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. 3.8.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .

25 t 0 0 0 0 1t 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o . Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.25 t 0 0 0 0 0 0 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1. 2 a).333 tm 0 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0.5 t 0 0. MI max = + 14 tm.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).

Suwarno.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.Soemono.05 tm. UGM. ƏStatika IƐ. terjadi pada titik dibawah P 2 3. . Daftar Pustaka . ITB. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. bab V .2.9.10. bab V-4 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. dalam.1. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b).1. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang.1. N. (a). (c). mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. D) 4. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. a. . dan dasar sungainya tidak terlampau dalam.

struktur pelengkung tersebut. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. Penempatan Titik s (sendi) . 4.1. Pelengkung sungai Gambar 4. kedua perletakan dibuat sendi.1. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. 7 V = 0 dan 7 M = 0. Bermacam-macam bentuk jembatan 4.1. Dengan konstruksi pelengkung terse but.2. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.2.2.2.1. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). gelagar memanjang.2. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.

S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4.3. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).

Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang. h1 f I = VA . maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.1.4.3. maka M E-E = VA.x1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.2.q x12 ƛ 2 B HA.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian. x 1 HA HB II = HA. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.x . 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.h1 B Nilai I = V A . kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .q x² diatasnya.

3.l ƛ HA.1.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. Gambar nilai I = V A.b1 = 0 (1) .3.6.h1 Gambar 4.1. Cara Penyelesaian 4.1. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.5. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4. (hA-hB) ƛ P1. 4.

a ƛ HA.hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .

HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).H B . masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .l . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. 7M A = 0 VB.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. (4).a1 = 0 7 M S = 0 V B .

f = 0 Bv . b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. f = 0 Av .l ƛ P1. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.l ƛ P1.a ƛ P 1. maka nilai Ab bisa dicari.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. Bv.S1 ƛ Ab . b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.b ƛ Ba . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).

y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal.

seperti pada gambar (4. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4.8. x ƛ ½ q x² .3 Gambar (c).8). x. y I = VA .1.a.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4.3. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . gaya lintang (D) dan gaya normal (N). x P Untuk balok yang lurus. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.HA . dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.9 disamping.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.1.2. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. maka Mx = V A . Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B.2. bukan pelengkung. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). II II = HA .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal.10. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. Vx = V A ƛ q . dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !.

11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .Vx sin E. x cos E = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.

Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. D) ataupun bidang normal (Bid. bidang gaya lintang (Bid. M).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. H. S Ec C yc f=3 m A H 2.13. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut.12. N). . Mc. VB.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA.5 m dari titik A. nilai gaya lintang.

l.5m Gambar 4. l ƛ q.yc ƛ ½ .5) ! 2. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² .q (5)² 15.5 (10  2.5  1 / 2 . 3 ƛ ½ q .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA . 2. ½ l = 0 VB . (5)² = 0 H= V .H .14. 2.q.5  1 / 2.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.5 ton 3 3 VA . 3 . 5. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.5 m yc = 4. l ƛ q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA .10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.Xc ƛ H.Xc² = 15 . 3 . 25 ! ! 12.5 .2. l. 2. Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.25 ƛ ½ .3.5 ƛ 12. ½ l = 0 VA = ½ .3.

Nc = -14.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal . 0.(Vc.15.5145 = 6.5774 ton.x = 15 ƛ 3. Contoh 2 xc=2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.4312 ƛ 6. Vc = VA ƛ q.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.8575) = . 0.8575 ƛ 12.5 .sin Ec + Hc cos Ec) = .14.5 = 7. Dc = 0.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. 0.5 .5 ton ( o) Hc = H = 12. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .5 .(7.2. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.5 . 0.5145 + 12.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .16.

P. f = 0 1. 5 ƛ HA .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. 5 ƛ HB . 1. 1.152 .152 .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. 1. l + P.5.92 = 0 (cocok) .76  6.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.92) = 0 .08 ƛ 1.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .3.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . l . ½ l ƛ H B . 10 .48 ! 4. 3 = 0 HB = 1.92 ton ( n)  5.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .92 = 0 VB . 3 ƛ 6 .6 . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.76 ƛ HA .yp = 0 VB . 10 + 6 . ½ l ƛ HA . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .yp = 0 VA .2 (10  2) ! 1.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.

18 ƛ 1. 0. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.25 ƛ = .98 HB = 4.152 . 2.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.5145.92 . 2.92) = -1.88 + 9.17.96° sin Ec = 0.5 + 4. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .2.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.5145 Dc = .25 m Ec = 30. 25 ƛ 6 (2.V A .8575 Mc = .152 .08 = 1.8575 ƛ 1. cos E = 0.92 ( ) 0.Xc + HA .32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4. = -1.08 .

VB. Nc. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. HA. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A.1. HB. 0.0537 ton 4. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). Mc.5145 ƛ 1.8575 = . 0. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). Mc. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.4.92 . VB. HB.152 . 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . Nc. HA.1.

5 ton 6.5 ton 4.6 0.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4.5.6.1.667 ton 4. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. 4. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol. Penutup Untuk mengukur prestasi. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.8 o o p n . Sedang bidang momen. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.25 m 0. Soal No. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.667 ton 2. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.75 0.

5625 tm ~0 5.64 0.226 ton 4. Daftar Pustaka 1. bab 4. .1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ. UGM.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.9675 ton 3. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. Soemono ƠStatika Iơ ITB.184 ton 5.7.8336 ton (-) (-) Soal No. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10. bab 2.9675 ton 5.3672 tm 2.842 7.1.8.36 m 0.539 0.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.774 ton 1. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).

V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. H P. V B dan H Px ) l .P VA (+) 1t G. x = 0 Untuk P di B . Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. 4.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .f Untuk P di A .2. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. f = 0.3 Prinsip penyelesaian. 4. b = f V B . Garis Pengaruh Reaksi x P S G. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. b f VA .2.P. a.P. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. Garis pengaruh V A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4.18.2. x = l G. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. VB . x = 0 1t Untuk P di B .2. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.1. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. b ƛ H . a f Px b .2. 6 MA = 0 VA H l a G. b l .P. a .P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.

M C = VA .f = 0 a H = VA .H . u . f ton H= 6 MS = 0 VA . H x C v P.P. bagian I (+) P .v l G.b c l . v sama dengan G.f v G. a. a .C = G. M C pada balok di atas dua perletakan l G.b ton H= l .P.f G. u . B H b MC = VB . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . M C (Garis Pengaruh Momen dititik C).H .b ton l. maka lihat kiri potongan (kiri C). x = a H=0 P. Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). x = l Untuk P di S . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . u dan V B . v . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . R l C u VA VB Bagian II H. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .P.P.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. x = a p H = P.P.P. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . u . a .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105-

-

Gambar 4.19. Gambar GP.Mc C. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C, VA sin D dan V A cos D. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D, sehingga: NC = - (VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D - H sin D I II I -> identik dengan G.P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.P. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.P. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C)

H a l G.P. NC bagian I Q sin E l (+) ( - ) v sin E

H b

l

GP VB sin GP. V A Sin D D GP NC Bagian II ()

P. a . b cos E l .f

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106-

-

v sin E l

GP NC Total ( I dan II ) II (-)
a .b cos E l .f

identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H), untuk GP. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. Gaya lintang

G.P. NC
v cos E l

perlu dikalikan cos sin E

(-) (+) VB cos E
v cos E l

Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l²

-

Pab sin E lf

u cos E l

GP DC Total (I + II)

Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' =

(-)

v cos E l.
G.P. D C a b sin E l. f

Gambar 4.20. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan . Pendahuluan Seperti pada balok menerus. Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi 4.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109- - 4. pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung.3.1. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi.

Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi 4.23. melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara. Muatan akan ditransfer ke struktur utama.3.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110- - S Gambar 4. q = kg/mƞ a P b q kg/mƞ P R1 R1 R2 R2 R3 R3 R4 R4 R5 R5 R6 R6 S P P P L =5P P P . dalam hal ini pelengkung 3 sendi. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok.

½ P + (b/P ). . . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . Kondisi pembebanan kolom (b). (a). P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. . . .24. ½ P = ½ q P R2 = q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 .

Xc-R2. . R3. Cos E . .4. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4.Xc-R2. sin E + Hcos E) Dc = Vc.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0.4. . Pendahuluan . Menjadi (R1. R2. .25.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.e-HA.e-HA. .Yc Nc = -(Vc .1.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.Yc Vc = VA.5 ton R5 = 1. . .5 ton a R1 R2 C R3 S e . R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA.

Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.Y2).5 P . untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.5P .N. 2.26.Y1 + P2. (1 ton. P .33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan.2.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. P . 4.33 P 54.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. P . Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. Jika letak .4. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).33 P 54. atau 1 kg atau Newton) . A C I D E ½ ½ P P + 1. dengan ordinat 1. P . Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.

Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. M I gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Gambarkan Garis pengaruh Mc . Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d.27. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Dc dan Nc .

Judul : Portal 3 sendi 4.P.Q.Nc = .a .Y l P. .yc A  ] II I . f H R VB H VA Q .H sin E Cos E P.b yc l. b GPMc bagian I P. 4.x  H. Pendahuluan .1. a .Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.b sin E lf pemaparan Gambar 4. C yc .P.b yc l.b cos E lf pemaparanG. Mc total (bag I + bag II) - II + P. GP Mc = V . Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.5.Q.a .5.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P. S .Dc = Av cos E .f G.a . 28.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.P.f G.a. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.

29.2.5. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. bisa berupa balok menerus. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. balok gerder. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi.

7 MA = 0 7 MS = 0 VB. (h ƛ hƞ) ƛ P2 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .a + HA. b2 = 0 VA.l + HB.hƞ ƛ P2 . a2 ƛ P1 . b1 ƛ P2 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.l + HA.30. a1 = 0 VB.h ƛ P 1 . S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.hƞ ƛ P 1 .l + HB.

Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31.

f ƞ Bv.a ƛ P1 .a 2 l Nilai A B . f = HA .b 2 l 7 MA = 0 Bv. b 2 = 0 Av = P1. S 2 f Nilai BA .a 1  P2 . a1 ƛ P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av.a  P1 . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . S 2 ƛ BA . b 1 ƛ P2 . b  P2 .b1  P2 . f ƞ Av. f = HB .l ƛ P1 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . a2 = 0 Bv = P1. S 1 ƛ AB . f = 0 .l ƛ P1 . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .b ƛ P2 . f = 0 BA = Bv .

4.l ± q .6 ± 2. 2/6 = 0.5 = 0 Bv Av.6 ± 4.5ƛ HA.3 ton Avƞ = H A . 38 ! 1. 4.3. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.5 ± 2.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 . tg E Avƞ = 1.5 - P.1 = 0 Av.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.q . P =1 Penyelesaian.5 ± 4. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.3 .3 ton . 1. 3 .5 .4333 ( q) Bvƞ = 0.32.3 .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .3 . selesaikanlah struktur tersebut. 3ƛ2.l ± P.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 1. 3 . 1.

7334 t VB = Bv + 0.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.4333 m = 4 5/6 + 0.7334t 1.4333 = 4.3t 4.2666 t .4333 = 5.7334 + 5.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.3t B B 5.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.

2.3667 m (daerah cs) x = 2.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.7334 ƛ 6 = -1.3667 ƛ ½ .7334 t BIDANG N - Di S 5.2666 t Mx = -1. 6 = . q (x²) .3 t = . 6 = -1.2 tm - S D 7.7. 4 = -1.8 tm - Mc = -HA .3667)² = -5.3.3667 ƛ ½ .32.C A x 4.5.3 t 1.2666 t x=3m Ds = 4.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.2 + 11. Bidang M. 4 + VA .3667 Mx = -HA .2666.7334 ton Daerah C-D = -1.2666 t = 0.3 ton Daerah B-D 5.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2. 4 + 4.20254 ƛ 5.3 .7334 .40127 tm (M max) MD = -HB .4 = .3 t 4.6 = 5.8 1.1 ƛ 7.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .3t Dx = VA ƛ qx 1. 2.3 . D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.3 t Gambar 4.3 t 1.60127 5.1 H B. 2 (2. N.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.6.1.2. .33. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. maka untuk memperpanjang bentang. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan.6. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. 4. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.6.34. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.

Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4.35. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.6. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.3. merupakan struktur yang menumpu. . Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.

Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.7.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. Contoh Penyelesaian .3. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.1. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. Pendahuluan Seperti biasanya.7. S (b) B GA ambar 4.2.7. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.36. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. 4. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.

M D cb l Gambar 4.f ! l.f GP.b a.f GP.ND=G P.R A + 1t C l V l 1t l d l GP. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.d l.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP. f l d.DD Q l GP.R B + c l + + d l a.37.f - + + GP.c l .b .v l a.H u.RA a.b l .RB b.a l cb l GP.RA .

P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .p nilai H. N D Garis pengaruh N D sama dengan g. ~ g. R B f P di E RB = c c l c.p.b p H ! x p ND !  l l f lf . b . b ƛ H.f = 0 H = RB .RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.

b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . a ƛ H.V l II = H .MD P berada antara D C M D = RA . Q .f = 0 H= R A . 4.8. f = Garis pengaruh H x f.a f P di S b a ab RA = b p H ! . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . p N D !  l l f l f P di S 1 GP. f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a.H .

Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l .D C .P VA . G. G.P. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. ditanyakan : G.P. G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. N C . . dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. H.P. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G.P D C bawah. G. G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.P. VA .P NC kanan.P.PH. G.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. G. ditanyakanL G.P N C bawah . G.

782t 1.447t 0 0 0 1.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.10.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - . Rangkuman 4.447t 0.447 0.5t m 1.9.335t 0.1175t 0 0 0. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.5 0. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1. Daftar Pustaka Suwarno.60t 0.336t 0 0 0.333t 0 0 0.333t 0 0 0.25t 0.40t 0 0 1. UGM Bab VI dan VII .084t 1.20t 0.384t 0.11.

MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.12. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.1.B.) .

Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana.1. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. ba mbu atau baja.1.4. .1. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. tapi kalau materialnya dari kayu.3. 5. Jika materialnya dari beton. maka kita harus merangkai material tersebut.1.2. 5. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. Rangkaian dari material bambu. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5.

Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5.1. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.1. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.B. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.R. 5. Pada konstruksi kayu memakai baut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. paku keling atau las. pasak atau paku. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). .5.1.5. Bentuk K.

R. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. Detail I.3. .B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.2.

atas (ikatan angin atas) 1 K.R.B. sisi 1 K. Pada Jembatan K. bawah (ikatan angin bawah) K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.1. Gambar 5.R. Ruang terdiri dari 2 K.R.B.B. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .R.5.R.B.R.B.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K. Bidang. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.2.R.B.B.

B.1. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.B. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.5.R. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.5. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Konstruksi rangka batang bidang .R. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.3. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.6.4.1.B.R.R. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) . 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.B. Rumus Umum Untuk K. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. r = jumlah reaksi perletakan 5.15.

B. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan. Cara grafis dengan metode Cremona . Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. Cara analitis dengan menggu nakan 7 . Keseimbangan titik buhul a.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.R.6.Ky = 0 b.Kx = 0 dan 7 .7. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K. 1.

y 7H=0 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. b. Cara Grafis Metode Cullman 3. a. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .Kx =0 7. Metode Potongan : a. Metode Penukaran batang 5.8.1. Cara Analitis Metode Ritter b. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.V = 0 ata 7.

Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik . 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c.8. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.

. Untuk batang atas diberi notasi A 1. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . 4 P .4 . D2 dan D 1ƞ. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . A2 dan A 1ƞ. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1.9. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5.1. V2 dan V 1ƞ. selesaikan struktur tersebut. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. tiap -tiap batang perlu diberi notasi. 4 P . Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. B2 dan B1ƞ. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.4 .9.

Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. gaya yang searah diberi tanda sama. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. Dalam penjumlahan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5.R.10. . y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0.B.

3 2 .½ .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 A1 = .½ D 1 A1 = .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal. V1 = . 2 7V=0 .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144-

-

Batang A 2 dan D2 dianggap tarik. Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = - 2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = - 2 ton (tekan)

Titik VI

Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = - 2 t (tekan)

2t

Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik
Titik V

Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t

2

2
Dƞ2

7V=0

½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik)

7H=0 ½ D 2ƞ

B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik)

3t

2 B2ƞ

Titik VIII

Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = - 1 t (tekan)

2t

2t

7V=0

1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = - 1t (tekan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145-

-

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

(tekan) 2 7 Kx = 0 B1 .½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik) 2 t (reaksi) .r.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148- - Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3 Titik Simpul I II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1 A D2 B2 V V2 0 x3t=2t 0 x3t=1t Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1 2 ½ D1 2 D1 ½ D1 2 B1 7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .b. 2 = . dengan notasi seperti pada ga mbar.2 2 t .

½ .2 t (tekan) 2 A D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2 2 7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 . 2 .2 . 2 2.2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 . 2 = 1 t (tarik) B2 = 2t Titik VI Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = .V2 = 0 V2= ½ .½ . 2 2 . 1t D3 = . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149- - Titik III V1 Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik) 2t 3t B2 7 Kx = 0 Titik II ½ D2 ½ D1 2 Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 .½ .3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 . 2. 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 . 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan) 2 Titik IV Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2 D2 = 2t ½ D 2 2 . 2 + B3 = 0 B3 = 1t . 2 .

Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. 2. Gaya ƛ Reaksi B b).gaya batang RB . Beban . P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a).1. P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). Gaya reaksi b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . D3 1t ƛ ½ . 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . Gaya.10.

667 t 5. bisa berupa gaya tarik. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.20 t 4.11. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.12. 667 t 6.1. Pencarian gaya-gaya batang.808 t 4. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.835 0. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.1.555 6. atau gaya tekan.20 t 1.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .333 t 3. 5. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.333 t 6. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.00 t 1.00 t 6.000 t 2.

1. . - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . bab 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. UGM Bab Soemono.13. ƏStatika IƐ.14. - Daftar Pustaka Suwarno. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.1.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->