MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.2.3 Penju mlaha n gaya secara grafis.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. . yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . tapi titik tangkapnya tidak sama.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. ar 1. OABC . Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang.. . 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. pertemuannya di titik 0. tapi masih sebidang.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. . K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.4. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. K2 dan K3. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. Urut-urutan penjumlahan.

K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 . secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.5.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. D F E. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. K3 .

6. garis . K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. b. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. dan e. K2. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di .Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K2. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. c. Garis-garis tersebut dinamakan . K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). K3 dan K4 yaitu R. d. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. K2. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon.

K2. K3 dan K4. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E .1. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D.7. K2.2. . Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. diproyeksikan. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1.4. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1.

K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.8. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. secara analitis K1x = K1 cos E .

1. .5.1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.6. Latihan 1. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. K3 dan K4. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. 3. K2. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya.1.

Samuel E. No.5° dari sumbu x R = 11.8.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.1. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.9.1.1. French. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. Penutup Untuk mengukur prestasi. ƏStatika IƐ ITB. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . Bab I 1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12.5° dari sumbu x R = 12.1 ton sdt = 22. Soemono. Daftar Pustaka 1. secara bertahap. 2.7. Bab I. Suwarno. 3 hanya berupa grafis.1 ton sdt = 22. 3. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. sedang soal no.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. balok. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil.2.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. mengerti tentang beban. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. jembatan dan lainsebagainya. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . balok. kolom. reaksi. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima.9. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. 1. reaksi dan gaya dalam. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. kolom. Contoh : a. apa itu beban.2.

bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik .2. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. balok perletaka n Gambar 1. peralatan dan lainsebagainya. dan lain sebagainya. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.10.2.1. a. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a.2. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. a. misal : meja. kendaraan. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.

Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Newton. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Gambar 1. dan lainsebagainya. Gambar 1.12. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik .11. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. kg.

1. jembatan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.2. konsep pengertian tentang perletakan. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. dan lainsebagainya.3.3. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur.2. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. 1. Contoh : a.

Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil.13. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.2. perletakan Gambar 1. maka oleh rol tersebut dari atas. a. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal.2. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. jepit dan perodel. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. Rol Strukt Bentuk perletakan rol.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. .3.14. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1.15. ada reaksi vertikal. sendi. (Gambar 1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. oleh Rv Gambar 1. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1.16. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Jadi sendi tidak mekanika teknik. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Karena struktur harus stabil.18. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu .17). Rv RH c.17. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen.

) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. dan momen Gambar 1. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. ada reaksi vertikal. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R .20. ada reaksi searah pendel.21. horizontal. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. balok baja pendel Gambar 1. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1.21. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .22.

1. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. jembatan dan lain sebagainya. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. Keseimbangan vertikal .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. a.3. hal itu merupakan syarat utama. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1.2. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan.3. dan bagaimana cara menyelesaikannya. mahasiswa perlu mengetahuinya. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang.3.1.23. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang.

Kotak Gambar 1.25. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Kotak tenggelam dalam lumpur b. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. (Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). maka kotak tersebut tidak bisa turun.24. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal.25) Gambar 1. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut langsung tenggelam.

Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). PM Kotak Lem Meja . maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). karena tidak ada yang menghambat. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1.27. maka kotak tersebut langsung bergeser. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.26.27) Gambar 1. Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH).

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. benda tersebut harus tidak bisa turun. Keseimbangan statis . dan tidak bisa terangkat. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja.30. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. Gambar 1. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM).29. yang RH berarti harus stabil. RM Gambar 1.

 Dari variasi tersebut diatas.3. Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). Latihan 1.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). 1. Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). maka syarat minimum RM = PM atau RM . tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg .4. atau RV . dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. q.Beban terpusat.Rol punya 1 reaksi . 1.6. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. kg atau ton atau Newton . Rangkuman o Macam-Macam Beban .Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. P. satuan. notasi. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan . notasi.3.Sendi punya 2 reaksi .5.Jepit punya 3 reaksi . Rv = ? 2.Beban terbagi rata.3. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. Penutup .

3.3. Suwarno. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . Daftar Pustaka 1.8. 2. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.7. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.

ada beberapa macam sistem struktur. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks.1. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. seperti gedung-gedung.1.1. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. 2. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. jembatan dan lain sebagainya. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil.

2. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A).1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) .1. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. 2.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.3.1. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. Contoh a).

2.4. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. b). maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu.3. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. Konstruksi statis tidak tertentu . A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. A B Gambar 2. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu.

4. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu.6. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.1. Penutup Untuk mengukur prestasi. Latihan a). b). Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.1. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah .5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. 2. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. Perletakan A dan C sendi. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1.

Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . 2. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.2. kayu. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2.2. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. Jadi diatas adalah statis tertentu.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan.1. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.7. baja dan lain-lain.1. 2. Daftar Pustaka 1.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu.

P1 A L1 Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok.8. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. P P Untuk A orangnya pendek. tinggi (B).5. tinggi. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.6. Orang membawa membawa beban tersebut. satu kecil. kolom. demikian juga untuk orang B. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. pendek (A). Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). dansebagainya). Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg.2. memerlukan gaya dalam. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Contoh : a). Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. Gambar 2. pelat. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. Contoh (b) 2. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg.2.7. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b).2.3. yang satu lagi besar. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

4. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.(pers. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. o Balok tersebut menderita gaya lintang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. Mx = RA . maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Gaya Dalam Momen a).2. 2.x.9. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. x ƛ q.

2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) .10. (pers.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ.

maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2.13. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. Tanda momen (-) * Gambar 2. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA .2.11. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. Demikian juga sebaliknya. Tanda momen 2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B.5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.12.

Potongan balok bagian kanan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan.15. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.14.

jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. P Jika dilihat dari kanan potongan c. Karena RB adalah merupakan reaksi. jumlah gaya arahnya ke atas. . gaya yang ada hanya RA. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. C RA Dilihat dari kiri potongan C. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc).16.

Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Jadi RA < P. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. A Dilihat dari kiri potongan D.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif.17. karena RA adalah reaksi.

Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. * Tanda Gaya Normal .18.2. 2. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).6. maka pada batang AB (Gambar 3. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. P P Kalau dilihat pada Gambar 3.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.19.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok.

maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }. 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .2.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.7. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .

Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Ringkasan tanda gaya dalam 2.8. P3 = 2t (´) P4 = 3t . q1 = 2 t/mƞ. P1 = 2 2 t (º).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .20.2. P2 = 6t (¶).

Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar. N.q1 ƛ P2.7 ƛ P2.21. yang searah diberi tanda sama.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.6 + P2 + q2. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2. (Bidang M.6 + 6 + 1.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.3  2.4  2.7  6. gaya lintang dan bidang normal.10 ƛ q2. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.6.6  2.1 = 0 2.12  2.6. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.6.3 + P1R.6 ƛ q1.2 = 0 1.4 + 2.6.2 .1.q2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.12 ƛ q1. RBV 71%! RBV.1  6.10 ƛ P1R. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.

di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . Perletakan B = sendi ada RBH.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).

x2 = + x2 (persamaan liniear) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2).6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. DE = 0 Dx2 = q2 .1ton lintang ke bawah) 2. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = . melampaui beban P2. Variabel x2 berjalan dari E ke B. Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).

4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. dimana gaya normal dihitung dari titik C.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .P1H = . ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan). dari E ke B nilai gaya normal konstan. ND kr = . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.

2. x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = . Daerah A D .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .2 = . x = .P1v .4 tm. sehingga tanda negatif (momen P1v .

5.½ .22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.5)² + 11. lihat pada Gambar .2 (5.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2. x1 = 5.25 tm.5.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.5 m Mmax = .5 ƛ 4 = 26.

x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .½ .q1. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .½ .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 . 1.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.22.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0. Gambar bidang M. D balok diatas 2 tumpuan . N.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.286 0.

D Balok cantilever . N. Bidang M.9. N.5 32.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .5 24.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5.23. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.2.

a) reaksi perletakan b) bidang N.5 ƛ 1.2. a) reaksi perletakan b) bidang N. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.3 ƛ 5.6 ƛ P2.3.5² = .5 t ( ) 2.10.1.5 = 32. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C . Latihan Balok diatas 2 tumpuan.P1.2 ƛ ½ .C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.1 (2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .24. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.5 tm ( ) MD : .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol .5 ton /m· . Ditanyakan. D dan M q = 1. a). bidang N. reaksi perletakan b).

1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 3.2.5 ton 0. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.5 ton 3. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 ton 0 9 tm 10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.12. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.11.tekan + + + + Momen = M .2.5 tm 0 Tanda/arah o o p .5 ton 4 ton 4 ton 0 4.

0 tm 0 Tanda/arah o o p .75 tm 4.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.625 ton 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .375 ton 2.tekan + + Momen = M + + - .08 m D B C Nilai 4. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.625 ton 4.375 ton 2 ton 2 ton 4.13 tm 0.08 m kanan A A X = 3.375 ton 2 ton 0 0 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.

qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . gaya lintang dan momen. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx.dx.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. dx o Kiri ada Mx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. Dx dx dan qx. .3.dx . dx² .0 d Mx = Dx . Hubungan Antara Momen (M) . potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.24. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan.

25. misal : tangga.4. Skema balok miring .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Seperti pada gambar. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. balok atap dan lain sebagainya.4. 2. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur.1.

D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. N. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. 2. Ditanya : Gambar bidang M.2. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.4.

12 ton .1 = 0 RAV.2. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .2 ƛ 2.16.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.4 ƛ 2.2.2 ƛ P1.2 ƛ 4.5 ƛ q.26.1 = 0 18 ! 3.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.3 ƛ 4.3 ƛ 4.3 ƛ 4.3 ƛ P 1.3 ƛ P2.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.1.1 = 0 RAV = 7.3 ƛ P2.2 ƛ q.4 ƛ RAH. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.6 ton = 2.5 ƛ 1.2.3.a.

6 ton NC kr = .x .// sumbu batang .2 ton Dc kr = .(4 + 2) sin E = -6 . 3/5 = -1.(4 + 4 + 2) sin E = -10.3.2 ton DD kr = -3. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .6 + (2 + 4 + 4) cos.3.2 . sin E = -2 .3. 3/5 = .3.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.b.6 ton Dari B ke D Dx = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .RB = .3.E! 4.3.6 + q.2 ton (dari kanan) ND kr = . 4/5 = .6 + q.1. cos E DD kn = .26. cos E= .3/5 = .4 ton 4/5 .6 + 2.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.

6 . 2 1  .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .1. N. 3.q.5 tm Gambar bidang M.q. 3 .75 ƛ 2.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .6 .1 = + 5. D 1 t/mƞ 4t B .  .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.2.2 ƛ 4.2 ƛ P.1 cos E = 3.

Seperti contoh dibawah ini.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama.27. Gambar 2. Bidang gaya dalam pada balok miring .

1 . NC kn = .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = . sin E + RAH .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.[(7. beban tekanan tanah dan lain sebagainya.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. cos E (gaya // sumbu batang) RAV. 2.[(7. 4/5] = . Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.16 .(RAV .12 NA kn = .12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.1 .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. sin E NB = .RAH .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .1.12 ƛ 4).2 ton.5.16 . 4/5 ƛ 2. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .16 .16 . 3/5 + 2.5.2 + q. 4/5) t = . 3/5 = . DB = -2 ƛ 2.1. NDkn = .(7. DA kn = 7. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .2 .12 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. 4/5] = . Cos E) RAH = 2.12 . cos E .16 t D = + RAV . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. 3/5 = 1. sin E (gaya B sumbu batang) RAH. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.6 ton 2.16 .6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.3. sin E E RAV . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .2 + 2. 4/5 = . 3/5 = 4. 3/5 + 2.16 . Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .1.1.3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

P = 3 ton Ditanyakan. a) reaksi perletakan b) bidang N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. B = rol Ditanyakan. B = rol. . D dan M Soal 4 3m RB . seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan b) bidang N. P = 3 ton Ditanyakan. seperti tergambar. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. Beban q = 1 t/m· . B = rol. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . a) reaksi perletakan c) bidang N. D dan M 30° Soal 2 q = 1.

16 t t 2.12 ton 5.tekan . besarnya merupakan fungsi x. ketelitian perhitungan perlu.76 ton 1.tekan .50 t 1.50 t 2. B = rol. seperti tergambar.4.6 t 0 0 3 tm 0 3. Ditanyakan. 2. D dan M 2. a) reaksi perletakan b) bidang N. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.11 tm Tanda/arah o n o p .63 t 2.88m jarak miring dr A A B C X = 2.88 m Nilai 4. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5.5.88 t 3 ton 9.815 t 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .5. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.

2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3. X= Momen = M L 3 = 0.l 3 0 0 0 0. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««. B «««..2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .l 6 q.5774 L dari A A B C X= Nilai q. 4 .6 ton 0 0 5. Jawaban soal no.l 6 q.l 3 0 0 q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no..

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5 ton 4. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .24m Nilai 4. ƏStatika IƐ.5 ton 0 0 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0. 2. Bab I Soemono.6.5.5 ton 3.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.67 tm 3.5. ITB.24m dari B A B X = 2. UGM.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. Daftar Pustaka - Suwarno.7. Bab I.

a l a . x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2.2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.

a l ax A Px a. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . dengan beban segitiga diatasnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B.l ton 2 a. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.l 3 1/3 l .l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.

31).6. bambu. dan profil baja. baja. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. . bambu. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2.31. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu.30. bambu atau baja tersebut. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.1. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. Gelagar Tidak Langsung 2.

31. memanjang Potongan Melintang Gambar 2. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.

Penyederhanaan akhir.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan.33. untuk gel. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. tida k langsung Gambar 2.6. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata.6. melintang gel.32. induk). Penyederhanaan awal.2. tidak 2. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. melainkan lewat perantara gelagar melintang. gel. memanjang gel. gel. memanjang P P P . maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. induk / G ambar 2. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.3.

2P . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.35.P/2 . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. P = 6q P² . memanjang genap. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2.qP² . II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. melintang. 2P .

25 q P² Perbedaan momen (0.½ q (2P)² = 6q P² .q P .5 P² .½ q P . ½ P = 3.5 P)² = 4.5P . 1.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .5 P .375 q P² . 1. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.q P . 2P . 1.5 P .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.½ q (1.125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.1.125 q P² = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. lantai = 3.125 q P² = 3.375 q P² .25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.0. namun s eperti gaya lintang beban terpusat. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.37. 2½ P Gambar 2. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . tapi kalau gelagarnya tidak langsung. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).

Gaya reaksi V A. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. Ditanyakan : a).5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. H A.6.5. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. . Penutup Untuk mengukur prestasi. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.4. Bidang N. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. q = 1. RB b). Gaya reaksi V A.6.6. 2.5 t/mƞ sepanjang bentang. M. H A . Latihan Soal 1: q = 1. 2.6. Bidang N. D. D. RB b). M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.

5 t 0 4.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.0 t 3.25 t 1.0 t 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 t 4.5 tm 0.5 t 1.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .25 t 1.75 t 0.5 t 3.5 t 1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.00 t 0 5.0 t 1.75 t 2.25 t 1.25 tm 4.

6. Daftar Pustaka - Soemono.7.5 ton 3. . Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.0 tm 0 0 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0.73 tm  + + Momen = M + 2.8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.6. 2.24 m 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . UGM Bab I. ITB-Bab I Suwarno. ƏStatika IƐ.24 m dari B A B X = 2.67 tm 3.

Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). atau gaya dalam M (Momen). maka didalam suatu garis pengaruh. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. gaya momen. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. jika di atas struktur jembatan 2. Jika dua hal tersebut dipadukan. gaya lintang. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. gaya momen. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. . tersebut berjalan suatu muatan.2. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?.7. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. gaya lintang dan gaya normal. atau N (Normal). Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. dan gaya no rmal.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2.1.7. Garis Pengaruh 2.

R B + G. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.P. Gambar garis pengaruh R A dan RB .x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.P.P.l ƛ P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.38.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.P. R A RA .x = 0 P.

maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.R B Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.R B t A C a + y1 y2 GP.41.beban y1 dan RB =sama 4 . Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.40.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 . Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.39. y2 atau Gambar 2. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.R A y2 GP. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.3.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.39 A c 1t + y3 GP.RB Gambar 2.R A + P=1 GP. dimana d c ton dan y 4 = ton. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.

maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . sejarak b dari titik B.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP.42. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .43.P. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. sejarak dari titik A.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. sejarak d dari titik B. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.R B + y3 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.

P.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. Gambar garis pengaruh gaya lintang .44.P. l ƛ P.P. R B - b/l G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P. R A l x ton (linier ) l x=a G.

b a. a tm = © ¹ . P = 1t x G. a tm ª l º Untuk P di C GP R A. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a .P. a .b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .P. tm ª l º = 0 tm Gambar 2.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.P. b =  Untuk P di A x .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. M c ¨l a¸ b © ¹ ! .a x=a Mc = G. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .45.

t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. 4 = .M D + GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.DD - 1 t 3 GP. DBkn Jawab : GP.2 - GP.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. DD.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . MD lihat kanan bagian x M D = RB .R A.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .R B : 7 . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP. M D. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2. RB.R A .2 ! tm .4 GP. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.R B. 2 = .

R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.46.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.MB 2 tm GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.R B GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.DBkr 1t GP.DD P antara A-D D D = .

LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. MI max. GPD I.7. GPRB. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya.4. M max. DI (-) max. P2 = 2t berjalan P = 1 t © . 4t DI (+) max. max. Soal 2 A 3m berjalan. ditanyakan GPR A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2.

.

RB max. ditanyakan GP R A. . MI max. GP RB. GP D I. GP MI a) Bila beban Ditanya. I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. 3m berjalan.

6. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.3 ton MI max.7. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. Max.1875 tm .7. = + 5. = + 9. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.5 ton D I (+) max. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. 2. Penutup o Untuk mengukur prestasi. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). = + 3.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. = + 9 tm Mmax.

Bab I.7. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5. Senarai . UGM Bab I.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.Soemono. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .7. ITB.175 ton = + 9.3 ton 0 0 2.18 tm Nilai 1 ton 0 0. - Suwarno.6 ton 0 0. ƏStatika IƐ.7.3 ton 0 0.Garis pengaruh - Beban berjalan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no. Daftar Pustaka .4 ton 0. 2.8.3 ton 0 1 ton 1. 2.4 tm 1. MI max.

maka jumlah . sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . a). yaitu 3 buah dimana A = sendi. ( yang mempunyai lebar > 100 m ).1. B = rol dan C = rol. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. 3. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu.1.

maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. 7H = 0. Skema balok gerber 3. RAH. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . RAH. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. maka bisa didefinisikan bahwa : . RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru).2. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. RBV. 7H = 0. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b).1. 7M = 0. 7H = 0. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi.1. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu.2. RBV.

namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. .

dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. RAH. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. 7 H = 0. yang masih statis tertentu. 7 H = 0. 7M = 0 dan 7M D = 0. R . Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. B = rol. C = rol. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. R . dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. .

1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.3. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. Detail sendi gerber .3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.

Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD. 3.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.1.4. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . dimana balok DC tertumpu di balok AB.

6. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC.5. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC.1. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. D B C Cara memilih : alternatif (1). jadi untuk sementara diterima saja. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. sehingga struktur bisa diselesaikan. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. Apakah mungkin ? Perhatikan . sendi gerber belum ada. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. Kalau dilihat dari sub bab 3.2. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0.

. perletakan A = sendi. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah.7. RDH). perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . perletak B = rol. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. Perletakan D = Gambar 3. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. Perhatikan balok DBC. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. b2 Jika konstruksinya (a). seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.1. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 .5.8.

per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). Jadi alternatif (C) adalah mungkin. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. (ada 2 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan B = rol (ada 1 reaksi). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). jadi tidak ada reaksi. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. c = rol (ada 1 reaksi). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. perletakan D = sendi. dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. . Perhatikan balok DC (gambar b2). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). perletakan.

N. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. Bidang-bidang gaya dalam (M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a).9. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. Skema pemisahan balok gerber . Penggambaran bidang M. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. maka balok AB bisa diselesaikan. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. N. N. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).

4 ƛ P.1.6 + RS.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.3 = 0 BID.6.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA. A = rol C = rol .6.833 m 5.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. M 2.3 = 0 RC.6 + 1.10.3 = 0 RC. N Gambar 3. Ditanya : Gambar bidang M. dengan jarak 1 m dari A.1 4. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).6 ƛ 1.1 = 0 RS = P. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .6 ƛ RS.2 ƛ q. 4 ƛ P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.6. D. N.6. .8 ƛ 2. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.667 m 7 MA = 0 RS.3 ! ! 3t 4 4 BID.= P.33t 3t + 1t BID.3 = 0 RA.8 ƛ q. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.3 4. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.2 ƛ 2. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.6.

x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.x 2 - = 5.1.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .833)² = 16. 2.0546 ƛ 8.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.0287 tm.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.667.667.Rs.667-x2 ) = 0 x2 =5.x1 = .x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .2.02589 = 8.x2 - Mx2 = 5.667 x 2 .q x2² (parabola) 2 1 .833 ƛ (2.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.x = 3.x-P (x-1) = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.

Rc + q .667 + 2 .6.5. x 2 2 = .P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3. Latihan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .667 + 2.667 t Dbkn = -5.5.1.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.6 = + 6.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .667 + 2X 2 = 0 X2 = 2. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .

Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. N.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. Gambar : bidang. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). Rangkuman o Balok gerber adalah : . B = rol C = rol. S = sendi gerber Beban : P = 5t. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . A 2 m 5m 2 m 4m 2). S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit.bidang 3. Atau . P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. D) Suatu balok gerber dengan 1). dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu .1. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M.8. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. dengan perletakan A = sendi.

o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.4 ton 7. Soal No.1. Penutup Untuk mengukur prestasi. 3.9.4 ton 3. 1 Keterangan Titik A Harga 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-58-

Soal 2
Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 ton 2.5 ton 5 tm 0 7,5 tm 0 2.5 ton 2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda

3.1.10. Daftar Pustaka 1. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.1.11. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.

3.2. Garis Pengaruh Balok Gerber

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-59-

3.2.1. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan, maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi, atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N), jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan

berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.

3.2.2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A), reaksi

ada

di B (R B); reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).

Gambar 3.11. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

b MI = 1 .MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . Garis pengaruh D I-I dan M I-I G.b l1 Untuk P di I-I x=b l b c.c . b = 1 .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -62- Gambar 3.c l1 P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA .13. c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b. Rc) A S . D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = .p.Rc (sama dengan g.P.b ! l1 l1 Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.

d M II = - a l2 .e Gambar 3. Rc.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2 a/l2.p. b + d/ l2 . e (sama dengan GP. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB .14. Rc Sama dengan g.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -63- Sama dengan g.p.P.e g. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . RB G.p. R B. e g.p. d Untuk P di II RB = M II = e l2 e l2 dtm e l2 d Untuk P di II Rc = d l2 M II = - d .e l2 .

Mc y2 C dx P. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.a.y GP.q dx Mc = ´ y.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .3.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.2.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.15. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .Dc Gambar 3.

muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.1.2. 3.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.4.4. .2. Prinsip dasar perhitungan . . Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.2. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.16. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.4. Pendahuluan Pada kenyataannya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.2. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.

atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.Mc y4 y5 Pada posisi awal.17. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.

c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C . c1 c (x .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .c1 ¹  § Pr © .bagian kiri titik C dan .

. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . dan 01 (dengan skala) . 34. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01.12.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. 12. 23.18. 23.

Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. . .Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.Dengan cara yang sama.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.

Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.5. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.1. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. 3. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. .19. .Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.2.2. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. .5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3.

P2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. P4. a ƛ R2 .Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan.2.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. P 3. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. Prinsip Dasar Perhitungan .r = R1 . Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. . P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.2. R2 dan P3 atau resultante P 1. b 7 MA = 0 1 _P3 .x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.5.

3. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.4.2.5).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1. Rt .

20. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.1 4. GP R C .95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.1 4.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.1 + P3.1 + 6.45 Rt Gambar 3.x 6. GP R B.45 r =1. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.6.2 = Rt. ditanyakan : GP R A . x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.2.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.21.2 = 20 . Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.

GP M B. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP R C . RA 8m 2m a). Rangkuman .2. ditanyakan. ditanyakan : MI max . 3. GP R D GP M I. GP R B. GP DB kanan 2 2 b). Akibat rangkaian beban M max berjalan.7. GP D I.

karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. . harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.8.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. 3. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.

25 t 0 0 0 0 0 0 1.333 tm 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1. 2 a).25 t 0 0 0 0 1t 1.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o . Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). MI max = + 14 tm.5 t 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .

Soemono. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . . bab V-4 3. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.Suwarno.10. ƏStatika IƐ.05 tm. UGM.2.2. bab V .9. terjadi pada titik dibawah P 2 3. Daftar Pustaka . ITB.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M.1. (c).1. . dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). a. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?.1. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. D) 4. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. dalam. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. (a). N. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m.

2. gelagar memanjang. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.2.1.1. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. 4.1. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.2.1. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). Dengan konstruksi pelengkung terse but.2. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4.1.2. Penempatan Titik s (sendi) . kedua perletakan dibuat sendi. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). 7 V = 0 dan 7 M = 0. struktur pelengkung tersebut. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). Pelengkung sungai Gambar 4. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.

3. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.

2. h1 f I = VA .q x12 ƛ 2 B HA. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.1. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.4. maka M E-E = VA.h1 B Nilai I = V A .h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian. x 1 HA HB II = HA.x .3. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .x1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.q x² diatasnya.

b1 = 0 (1) . Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.3. Gambar nilai I = V A. 4. (hA-hB) ƛ P1.1.1.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.5. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Cara Penyelesaian 4.6. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.l ƛ HA.h1 Gambar 4.1.3.

a ƛ HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .hA ƛ P1.

H B . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.l .a1 = 0 7 M S = 0 V B . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3). (4). masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. 7M A = 0 VB.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.

a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.a ƛ P 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. f = 0 Bv .b ƛ Ba .l ƛ P1. f = 0 Av .S1 ƛ Ab . maka nilai Ab bisa dicari. Bv. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .l ƛ P1.

y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang.

y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. x ƛ ½ q x² .1. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). bukan pelengkung.2. Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B.3. y I = VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. x P Untuk balok yang lurus.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB .b l RA + Bidang D RB Gambar 4. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. gaya lintang (D) dan gaya normal (N). maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.a. seperti pada gambar (4. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.HA .9 disamping. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.3 Gambar (c). II II = HA . maka Mx = V A .2. x. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.8.1. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.8).

dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Vx = V A ƛ q . Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .10. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.

( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. x cos E = .11.Vx sin E.

nilai gaya lintang. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. Mc. bidang gaya lintang (Bid.12. M). D) ataupun bidang normal (Bid. VB. S Ec C yc f=3 m A H 2.13. . Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. N).5 m dari titik A. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. H. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2.

l ƛ q. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.5 m yc = 4. 5.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.3.5 ton 3 3 VA . yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama. 3 . 2.5m Gambar 4.Xc ƛ H.2. l.l.5  1 / 2 .5 . 3 .14.5 (10  2. l ƛ q. ½ l = 0 VA = ½ .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .3.25 ƛ ½ . 2. ½ l = 0 VB . 3 ƛ ½ q .H .Xc² = 15 . 25 ! ! 12.q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.5  1 / 2. (5)² = 0 H= V .yc ƛ ½ .q (5)² 15. 2.5) ! 2.5 ƛ 12.

5145 = 6.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.5 .(Vc.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. 0. Dc = 0.5 ton ( o) Hc = H = 12. Contoh 2 xc=2.8575 ƛ 12. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .2.14.5 = 7. Vc = VA ƛ q.(7.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.15.4312 ƛ 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5 .5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. 0. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .5 . jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.x = 15 ƛ 3. 0.5774 ton.5145 + 12. 0.sin Ec + Hc cos Ec) = .5 .8575) = . Nc = -14.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

2 (10  2) ! 1.152 .76 ƛ HA .48 ! 4.3. 5 ƛ HB .1.92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.76  6. ½ l ƛ HA .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.92 = 0 (cocok) .08 ƛ 1.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . l . f = 0 1.92 = 0 VB . 3 = 0 HB = 1.P. 10 + 6 .152 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1. ½ l ƛ H B .92) = 0 .92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .yp = 0 VA .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4. 1.yp = 0 VB . l + P. 5 ƛ HA . 10 . 3 ƛ 6 .6 .92 ton ( n)  5. 1.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .5. 1.

= -1.5145 Dc = .152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.152 .92 ( ) 0.5145.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec . cos E = 0.08 = 1.V A .152 .92) = -1. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.8575 ƛ 1.5 + 4.08 .98 HB = 4.92 .32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.25 m Ec = 30.18 ƛ 1.96° sin Ec = 0.88 + 9. 2.8575 Mc = .17.Xc + HA .25 ƛ = . 2. 25 ƛ 6 (2.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1. 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.2.

q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.1. HA. Mc.0537 ton 4. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). Nc.1. Nc. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B.92 . 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.5145 ƛ 1. HA. HB. HB. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. 0. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .152 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1.8575 = . Mc. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). 0.4. VB. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. VB.

gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.6 0.5. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.1.5 ton 4. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.8 o o p n .6. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. Sedang bidang momen. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol. Soal No.1.667 ton 2. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks. Penutup Untuk mengukur prestasi.25 m 0.667 ton 4.75 0.5 ton 6. 4.

bab 4. UGM.3672 tm 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.9675 ton 5. Daftar Pustaka 1.64 0. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.842 7.5625 tm ~0 5.226 ton 4. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).8336 ton (-) (-) Soal No. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.774 ton 1.8.539 0.1.7. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.9675 ton 3.36 m 0. bab 2.1. . Soemono ƠStatika Iơ ITB.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.184 ton 5.

x = 0 Untuk P di B . b l . V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. a. b = f V B . ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. b ƛ H . Garis pengaruh V A. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. x = 0 1t Untuk P di B . a .f Untuk P di A . H P.18.2. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. VB .2. 6 MA = 0 VA H l a G.P.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . x = l G. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.P. 4. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.3 Prinsip penyelesaian.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .1. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. b f VA . Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. V B dan H Px ) l . f = 0. a f Px b .P VA (+) 1t G.P. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G.2. 4.2. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4.

f G. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). v sama dengan G. v .P. M C = VA . x = l Untuk P di S .P. f ton H= 6 MS = 0 VA . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . x = a p H = P.H . R l C u VA VB Bagian II H.C = G. M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) .v l G.b ton l.P.H . M C (Garis Pengaruh Momen dititik C).P. u .P. a .b ton H= l .f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. maka lihat kiri potongan (kiri C). a. M C pada balok di atas dua perletakan l G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . a . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. u .f = 0 a H = VA . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . H x C v P. u dan V B .b c l . u .f v G. B H b MC = VB . bagian I (+) P . x = a H=0 P.P.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105-

-

Gambar 4.19. Gambar GP.Mc C. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C, VA sin D dan V A cos D. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D, sehingga: NC = - (VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D - H sin D I II I -> identik dengan G.P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.P. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.P. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C)

H a l G.P. NC bagian I Q sin E l (+) ( - ) v sin E

H b

l

GP VB sin GP. V A Sin D D GP NC Bagian II ()

P. a . b cos E l .f

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106-

-

v sin E l

GP NC Total ( I dan II ) II (-)
a .b cos E l .f

identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H), untuk GP. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. Gaya lintang

G.P. NC
v cos E l

perlu dikalikan cos sin E

(-) (+) VB cos E
v cos E l

Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l²

-

Pab sin E lf

u cos E l

GP DC Total (I + II)

Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' =

(-)

v cos E l.
G.P. D C a b sin E l. f

Gambar 4.20. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

Pendahuluan Seperti pada balok menerus.3.3. Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi 4. yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi.1. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan . pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109- - 4.

3. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi 4. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok.23. dalam hal ini pelengkung 3 sendi. q = kg/mƞ a P b q kg/mƞ P R1 R1 R2 R2 R3 R3 R4 R4 R5 R5 R6 R6 S P P P L =5P P P . Muatan akan ditransfer ke struktur utama.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110- - S Gambar 4.2. melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . . . .24. (a). Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. ½ P + (b/P ). . ½ P = ½ q P R2 = q . Kondisi pembebanan kolom (b). P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . .

R2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.5 ton R5 = 1. Menjadi (R1. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. Cos E .4. R3.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0.e-HA. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4.Xc-R2. .Xc-R2. .25. . Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.Yc Vc = VA. . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.1.Yc Nc = -(Vc .4. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. Pendahuluan . Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4.5 ton a R1 R2 C R3 S e . .e-HA. sin E + Hcos E) Dc = Vc. . R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. .

2.33 P 54. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).33 P 54. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung.5 P . transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara.Y1 + P2. 4. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.Y2). 2. A C I D E ½ ½ P P + 1.4. P . untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. P . Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.26. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. atau 1 kg atau Newton) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. P . (1 ton. Jika letak .5P . dengan ordinat 1.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. P .N.

27.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Gambarkan Garis pengaruh Mc . tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Dc dan Nc . Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. M I gel. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar.

Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P. Judul : Portal 3 sendi 4. Pendahuluan .b sin E lf pemaparan Gambar 4.P. GP Mc = V . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan. Mc total (bag I + bag II) - II + P. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.Q.a .P.P.a .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.Nc = .Dc = Av cos E .yc A  ] II I .f G.Q.5.f G. S .x  H.b yc l.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.1.b yc l. . 28.a . a . 4. b GPMc bagian I P. f H R VB H VA Q .5.b cos E lf pemaparanG.H sin E Cos E P.Y l P.a. C yc .

balok gerder. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung.2. bisa berupa balok menerus.5.29.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. 4.

b1 ƛ P2 .l + HB. (h ƛ hƞ) ƛ P2 .30.hƞ ƛ P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . a2 ƛ P1 .l + HB.a + HA.h ƛ P 1 . Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.hƞ ƛ P 1 .l + HA. a1 = 0 VB. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. b2 = 0 VA. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.

Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31.

a 1  P2 . f ƞ Av.b1  P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av.l ƛ P1 . b  P2 . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .a 2 l Nilai A B .a ƛ P1 . S 2 f Nilai BA . f = HB . f = 0 . a2 = 0 Bv = P1. b 1 ƛ P2 . S 1 ƛ AB . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . S 2 ƛ BA .b ƛ P2 . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA .l ƛ P1 . a1 ƛ P2 .b 2 l 7 MA = 0 Bv. f = 0 BA = Bv . f ƞ Bv.a  P1 . b 2 = 0 Av = P1. f = HA .

3 . 4.4333 ( q) Bvƞ = 0. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1. 1.l ± P.5 ± 2.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.5 .6 ± 4.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av . 2/6 = 0. 1. selesaikanlah struktur tersebut.1 = 0 Av. 3 .5 - P. 38 ! 1. 3ƛ2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .q . 1.5ƛ HA. 3 .3.5 ± 4.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 . 4.3 ton .5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.32.3 . tg E Avƞ = 1.6 ± 2. P =1 Penyelesaian.3 ton Avƞ = H A .3 .5 = 0 Bv Av. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.l ± q .

3t 4.3t B B 5.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.4333 = 4.7334t 1.2666 t .4333 = 5.4333 m = 4 5/6 + 0.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.7334 t VB = Bv + 0.7334 + 5.

40127 tm (M max) MD = -HB .8 1.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2. q (x²) .2.7334 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.7334 t BIDANG N - Di S 5.3667)² = -5.3 .3667 Mx = -HA .7334 ton Daerah C-D = -1. 2.2666.2666 t Mx = -1.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.3 ton Daerah B-D 5.2 + 11. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.32. 6 = .7334 ƛ 6 = -1. 4 + 4.C A x 4.8 tm - Mc = -HA .3 t = . 2 (2.2666 t = 0.5.3667 ƛ ½ .6 = 5.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.3 t 1.3 t Gambar 4. 4 = -1.3 t 4.4 = .3667 m (daerah cs) x = 2.20254 ƛ 5.3 t 1. Bidang M.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.3667 ƛ ½ .3t Dx = VA ƛ qx 1. 4 + VA .2666 t x=3m Ds = 4.7. N.3 .2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1. 6 = -1. 2.60127 5.3.1 ƛ 7.2 tm - S D 7.1 H B.

33.1.6. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.6.2. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu.34. .6. maka untuk memperpanjang bentang. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan.

termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4.6. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.35. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. . merupakan struktur yang menumpu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4.3. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya.

Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.1. S (b) B GA ambar 4.7. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. 4. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.2. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.36.3. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.7. Pendahuluan Seperti biasanya.7.7.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. Contoh Penyelesaian . Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.

RA a.b l .c l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.RB b.RA .d l.M D cb l Gambar 4.b a.ND=G P.f GP.f ! l. f l d.37.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.R B + c l + + d l a. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.H u.v l a.f GP.a l cb l GP.DD Q l GP.f - + + GP.b .

b p H ! x p ND !  l l f lf . b . b ƛ H. ~ g. R B f P di E RB = c c l c.p nilai H.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.p.f = 0 H = RB . P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB . N D Garis pengaruh N D sama dengan g.

MD P berada antara D C M D = RA .f = 0 H= R A . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. a ƛ H. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .V l II = H .H .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .8. p N D !  l l f l f P di S 1 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . Q . f = Garis pengaruh H x f.a f P di S b a ab RA = b p H ! . 4.

G. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. N C . G. ditanyakan : G. .P.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu.P N C bawah .P.P VA . G. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung.P.PH.P D C bawah.P NC kanan. ditanyakanL G. VA .P. G. G.D C . G.P. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G. H. G. G.

Rangkuman 4.447 0.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.447t 0.5 0.447t 0 0 0 1.5t m 1.1175t 0 0 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.9.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .335t 0.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.782t 1.

25t 0.333t 0 0 0.084t 1.333t 0 0 0. Daftar Pustaka Suwarno.336t 0 0 0.40t 0 0 1.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.60t 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.384t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.20t 0. UGM Bab VI dan VII .11.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.B. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.) .12.1.R. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.

kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. maka kita harus merangkai material tersebut. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. tapi kalau materialnya dari kayu.1. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. Rangkaian dari material bambu.3. .1. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. 5. ba mbu atau baja. Jika materialnya dari beton. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan.2. 5.4. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.1.1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.

Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.5.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.1. Bentuk K. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.R.1. paku keling atau las. Pada konstruksi kayu memakai baut. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.B. . = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. 5. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.5. pasak atau paku.

2. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. .B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.R. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.3. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. Detail I.

Ruang bisa dipisahkan menjadi K. Bidang.R.R.B. Ruang terdiri dari 2 K. sisi 1 K.4.B.B.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.R.2. Gambar 5.B.R.5. atas (ikatan angin atas) 1 K.B.R. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .B. Pada Jembatan K. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5. bawah (ikatan angin bawah) K.B.R.R.

R. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.R. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.1.5. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).5. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Konstruksi rangka batang bidang .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.B.B. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.3.

r = jumlah reaksi perletakan 5.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.B. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.B.R. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.1. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .R.6. Rumus Umum Untuk K.15.

7. Cara grafis dengan metode Cremona . 1.Kx = 0 dan 7 .B. Keseimbangan titik buhul a. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.Ky = 0 b. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.6.1.R. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.

Cara Grafis Metode Cullman 3. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . y 7H=0 7. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.1. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.V = 0 ata 7. Metode Penukaran batang 5. b. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Metode Potongan : a.8. Cara Analitis Metode Ritter b.Kx =0 7.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2.

8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik . 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.

. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. D2 dan D 1ƞ. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . B2 dan B1ƞ. V2 dan V 1ƞ.1. 4 P . 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !.9. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. selesaikan struktur tersebut. 4 P . A2 dan A 1ƞ. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1.4 . tiap -tiap batang perlu diberi notasi.4 .9. Untuk batang atas diberi notasi A 1.

Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. Dalam penjumlahan. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. . karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5.B. gaya yang searah diberi tanda sama.10. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K.

3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= . V1 = . 2 7V=0 .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 A1 = .½ D 1 A1 = .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .½ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal. 3 2 .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144-

-

Batang A 2 dan D2 dianggap tarik. Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = - 2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = - 2 ton (tekan)

Titik VI

Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = - 2 t (tekan)

2t

Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik
Titik V

Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t

2

2
Dƞ2

7V=0

½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik)

7H=0 ½ D 2ƞ

B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik)

3t

2 B2ƞ

Titik VIII

Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = - 1 t (tekan)

2t

2t

7V=0

1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = - 1t (tekan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145-

-

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148- - Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang.r. (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 .2 2 t . beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi . 2 = .½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik) 2 t (reaksi) . dengan notasi seperti pada ga mbar.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3 Titik Simpul I II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1 A D2 B2 V V2 0 x3t=2t 0 x3t=1t Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1 2 ½ D1 2 D1 ½ D1 2 B1 7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = .

2 . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149- - Titik III V1 Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik) 2t 3t B2 7 Kx = 0 Titik II ½ D2 ½ D1 2 Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 .2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = .½ . 2 + B3 = 0 B3 = 1t . 2 = 1 t (tarik) B2 = 2t Titik VI Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = .3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ .½ . 1t D3 = . 2. 2 .2 t (tekan) 2 A D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2 2 7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 2 . 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan) 2 Titik IV Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2 D2 = 2t ½ D 2 2 .V2 = 0 V2= ½ .½ . 2 . 2 .

P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a).1. 2. Gaya.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Beban . P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). D3 1t ƛ ½ . 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .gaya batang RB . Gaya ƛ Reaksi B b). Gaya reaksi b).

Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.000 t 2. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.20 t 4.555 6. Pencarian gaya-gaya batang.20 t 1.1.00 t 6.667 t 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5. bisa berupa gaya tarik.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .835 0.12. atau gaya tekan. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.333 t 3.808 t 4. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. 667 t 6. 5.00 t 1.1.333 t 6.11.

ƏStatika IƐ. . - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi.14. bab 5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .1. - Daftar Pustaka Suwarno.13. UGM Bab Soemono. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No.1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful