Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN Latar Belakang Kasus Bank Century yang berkelanjutan membuat masyarakat menjadi bingung mengenai kebenaran dari

kasus tersebut. Makalah ini dibuat sebagai tugas dari dosen Pendidikan Kewarganegaraan mengenai, Hubungan Politik dengan Pancasila. Sadar atau tidak sadar bahwa Kasus Skandal Century telah menyita perhatian sebagian besar masyarakat kita, khususnya dari kalangan mahasiswa sebagai kaum intelek masyarakat. Dengan adanya makalah ini diharapkan kaum mahasiswa dapat mengetahui detail permasalahan yang ada dalam tubuh Bank Century, sehingga nantinya dapat menjelaskan kepada masyarakat bagaimana sebenarnya yang terjadi dan upaya apa yang telah dilakukan sebagai penyelesaian dari proses yang berkepanjangan ini. Tujuan dan Manfaat Tujuan dan manfaat yang dapat diambil dari berjalannya kasus Century yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia ini adalah agar kita semua selalu melihat aturan-aturan atau undangundang dalam memecahkan sebuah masalah. Kita juga dianjurkan agar tidak terburu-buru dan berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan. Setiap apa yang akan kita putuskan, seharusnya di musyawarahkan dan juga dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait lainnya, agar nantinya tidak ada yang dirugikan, apalagi apabila keputusan kita menyangkut kepentingan orang banyak, setiap apa yang kita lakukan harus ada transparansi sehingga ke depannyatidak menimbulkan konflik. Dengan hadirnya kasus Skandal Bank Century, tentunya akan menjadi suatu pelajaran dan juga pengalaman untuk kita ke depannya, agar halini tidak sampai terjadi untuk yang kedua kalinya. Pengertian Politik Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatandalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusanmengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi terhadap beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yangtelah dipilih. Sedangkan untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukankebijakan-kebijakan umum yang

menyangkut pengaturan dan pembagian atau alokasidari sumber-sumber yang ada. Untuk bisa berperan aktif melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, perlu dimiliki kekuasaan dan

kewenangan yang akan digunakan baik untuk membina kerjasama maupun untuk menyelesaikan konflik yang mungkintimbul dalam proses itu.Politik merupakan upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki. Namun banyak pula yang beranggapan bahwa politik tidak hanya berkisar dilingkungan kekuasaan negara atau tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh penguasa negara. Dalam beberapa aspek kehidupan, manusia sering melakukantindakan politik, baik politik dagang, budaya, sosial, maupun dalam aspek kehidupanlainnya. Demikianlah politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari

seluruhmasyarakat dan bukan tujuan pribadi seseorang. Politik menyangkut kegiatan berbagai kelompok, termasuk partai politik dan juga kegiatan-kegiatan perseorangan(individu). Hak angket Berdasarkan Pasal 77 UU No 27 Tahun 2009, yang dimaksud dengan hak angket adalah Hak DPR RI untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.Berdasarkan UU tersebut, hak angket harus diusulkan oleh paling sedikit 25 anggotaDPR dan lebih dari 1 fraksi. Pengusulan ini harus memuat: (a.)materi kebijakan dan / atau pelaksanaan undang-undang yang akan diselidiki; dan(b.) alasan penyelidikan.Usulan tersebut akan menjadi hak angket DPR apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri lebih dari 1/2 jumlah anggota DPR dan keputusan diambil dengan persetujuan lebih dari 1/2 jumlah anggota DPR yang hadir. Bila usulan diterima, DPR akan membentuk panitia angket (Pansus).yang mempunyaikewenangan untuk memanggil dan melakukan penyelidikan terhadap pemerintah, dansaksi, pakar, organisasi profesi dan lain-lain. Kalau disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah

menguntungkan rakyat, dan sejalan dengan peraturan perundangan yang berlaku, maka Pemerintah akan aman. Namun apabila merugikan negara, merugikan rakyat serta bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, apalagi melanggar ketentuan UUD 1945, laporan Pansus harus disampaikan ke rapat paripurna DPR. Kemudian keputusan DPR tersebut disampaikan kepada Presiden. Selanjutnya DPR dapat menindaklanjuti keputusan itu sesuai kewenangan DPR. Kalau pendapat DPR bahwa benar hal itu terjadi, maka Mahkamah Konstitusilah yang harus memutuskan apakah pendapat DPR itu terbukti atau tidak. Jika MK memutuskan memang terbukti, maka DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk mengajukan usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden kepada MPR.

Saya sebagai mahasiswa melihat bahwa sejak awal bank century bermasalah darimulai awal merger. Yaitu tepatnya pada 27 November 2001, pada saat itu Rapat DewanGubernur Bank Indonesia menyetujui prinsip akuisisi Bank Pikko, Bank Danpac, danBank CIC. Namun pada saat 5 Juli 2002 saat izin akuisisi dari BI keluar, BI mulaimencium perbuatan melawan hukum. Bank Century mulai melakukan transaksi surat-surat berharga (SSB) fiktif senilai USD25 juta. Selain itu terdapat pula SSB berisikotinggi sehingga Century wajib membentuk penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP). Ini berakibat CAR Bank CIC menjadi negatif. Kondisi inilah yang membuat penarikan dana pihak ketiga besar-besaran yang mengakibatkan bank mengalamikeseretan likuiditas dan telah melanggar ketentuan posisi devisa netto (PDN). Padatanggal 13 November 2008 Bank Century mengalami keadaan tidak bisa membayar dana permintaan dari nasabah atau umumnya disebut sebagai kalah kliring keadaan ini hinggamembuat terjadinya kepanikan atau rush dalam penarikan dana pada Bank Century.Kemudian, pada tanggal 14 November 2008 manajemen Bank Centurymelaporkan ketidakmampuan bank dalam melayani permintaan dana oleh nasabah, sertaikut mengajukan permohonan untuk mendapatkan fasilitas pendanaan darurat kepadaKomite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK). Sebagai pemegang mandat UU, Pemerintah bermaksud untuk mencegah krisis, tapi di sisi lain yang dihadapi adalah bank yangkualitasnya seperti bank century. Pada tanggal 20 November 2008 Bank Indonesiamelakukan penetapan status Bank Century menjadi bank gagal, Menteri Keuangan yangdijabat oleh Sri Mulyani selaku Ketua dari Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK)mengadakan rapat untuk pembahasan nasib Bank Century, dalam rapat tersebut, BIdiwakili oleh Gubenur BI yang dijabat oleh Boediono menyatakan bahwa rasiokecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Century telah minus hingga3,52 persen, dalam rapat tersebut akhirnya diputuskan untuk menyerahkan Bank Centurykepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yaitu dengan keputusan bailout terhadapBank Century sebesar Rp 6,7 triliun. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencurigaiadanya dugaan rekayasa untuk penambahan dana. Pihak Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga dicurigai berusaha untuk menutup-nutupi data alirandana tersebut, akan tetapi kemudian dibantah oleh Yunus Husein, Kepala Pusat Pelaporandan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Namun menurut saya, saya setuju denganBPK bahwa Penyaluran Modal Sementara (PMS) oleh Lembaga Penjamin Simpanan(LPS) kepada Bank Century patut dicurigai, karena saat itu adalah saat-saat pemilu 2009, jadi bisa saja dana tersebut di kamuflase sedemikian hingga dan akhirnya bisa dijadikanmodal untuk pemilu

2009, karena pada saat itu Boediono sedang di calonkan sebagaiwapres.Kemudian sebagian anggota DPR yang mengusulkan agar dilakukan penggunaansalah satu hak kewenangan konstitusional DPR yakni Hak Angket DPR dalammenangani kasus Century ini. Yang akhirnya ditindak lanjuti dengan diadakannya Sidang Paripurna Pengesahan Hak Angket Bank Century pada tanggal 1 Desember 2009terhadap usulan penggunaan hak angket DPR yang diusulkan oleh 503 Anggota DPR tersebut yang akhirnya disahkan dan disetujui. Penggunaan hak angket untuk mengungkap skandal Bank Century juga didukung oleh seluruh fraksi yang berada diDPR yakni 9 Fraksi. Fokus pelaksanaan hak angket dalam kasus Bank century antara lainuntuk mengetahui sejauh mana pemerintah melaksanakan peraturan perundang-undangansampai akhirnya memutuskan untuk mencairkan dana sebesar Rp 6,76 triliun untuk Bank Century, dan juga mengapa bisa terjadi perubahan Peraturan Bank Indonesia secaramendadak, keterlibatan Kabareskrim Mabes Polri saat itu, Komjen Susno Duadji, dalam pencairan dana nasabah Bank Century, dan kemungkinan terjadi konspirasi antara para pemegang saham utama Bank Century dan otoritas perbankan dan keuangan pemerintah,menyelidiki mengapa bisa terjadi pembengkakan dana talangan menjadi Rp 6,76 triliun bagi Bank Century? Itulah yang harus diselidiki, sementara kita tahu bahwa Bank Century hanyalah sebuah bank swasta kecil yang sejak awal bermasalah, bahkan saatmenerima bailout, bank ini dalam status pengawasan khusus, lebih jauh lagi, panitia hak angket juga akan mengetahui seberapa besar kerugian negara akibat Bank Century.Kebijakan pemerintah menyelamatkan Bank Century dengan sendirinya dapatdijadikan sebagai objek dari hak angket DPR karena berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara, apalagi kebijakan itu juga berkaitan dengan keuangannegara. Namun, apakah kebijakan itu benar-benar bertentangan dengan UU sebagaimana dugaan DPR, inilah yang harus dibuktikan melalui penggunaan hak angket itu. Dalam proses penyelidikan, Panitia Hak Angket DPR dapat mengumpulkan fakta dan bukti bukan hanya dari kalangan pemerintah, tetapi dari siapa saja yang dianggap perlu,termasuk mereka yang dianggap ahli mengenai masalah yang diselidiki. Mereka wajibmemenuhi panggilan Panitia Angket dan menjawab semua pertanyaan dan memberikanketerangan lengkap, termasuk menyerahkan semua dokumen yang diminta, kecualiapabila penyerahan dokumen itu akan bertentangan dengan kepentingan negara. Merekayang dipanggil namun tidak datang tanpa alasan yang sah, dapat disandera selamalamanya seratus hari (Pasal 17 ayat 1 UU Nomor 6 Tahun 1954).Pengusulan hak angket Bank Century juga terkait dengan kesalahan struktur berpikir pemerintah. Pemerintah melupakan amanat konstitusi bahwa salah satu tujuandibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia,

seperti termaktub dalam PembukaanUUD 1945 paragraf ke-4, ialah memajukan kesejahteraan umum. Di tengah badai krisisekonomi dan rentetan bencana alam yang terjadi di hampir seluruh wilayah RI, pemerintah malah memanjakan Bank Century. Sungguh sangat ironis.Ketika menjelang babak akhir pembahasan kasus bank Century di Pansus DPR,Presiden SBY membuat pernyataan mengejutkan bahwa sebagai Presiden ia bertanggung jawab atas apa yang telah diputuskan oleh bawahannya (dalam hal ini Budiono dan SriMulyani). Saya menjadi heran, mengapa tidak dari awal permasalahan saja SBY berkataseperti itu, Seandainya saja Presiden SBY membat pernyataan di awal dari berbagaikejadian ini, maka mungkin keadaan tidak separah ini. Masyarakat pada umumnya merasa abu-abu atau tidak yakin apakah presiden mengetahui atau tidak soal bail-out bank Century mengingat beliau diam. Kasus Bank Century : Boediono Terancam Dipidana Berdasarkan analisis dari anggota Komisi XI DPR yang membidangi Keuangan dan Perbankan, maka selaku pimpinan BI, Boediono secara tidak langsung melakukan penyalahgunaan wewenang. Seperti diuraikan di atas, BI telah memberi keterangan abu-abu (alias belum pasti) atas kondisi Bank Century. Justru dengan keterbatasan pengawasannya (kredit dan deposan fiktif), BI alih-alih menyelamatkan Bank Century. Setelah diselamatkan, lagi-lagi terjadi aliran secara besar-besaran berjumlah Rp 5.6 triliun selama kurun November Desember 2008. Tidak habis berpikir, mengapa petinggi BI begitu ngotot menyelamatkan Bank Century, padahal dalam rapat tersebut banyak peserta yang menolak, terlebih alasan pejabat BI terlalu memaksa. Dan bila alasan penyelamatan Bank Century mengada-ada dan dalam kesempatan lain melanggar undang-undang seperti djelaskan diatas adalah benar, maka bercermin dari kasus aliran dana Rp 100 miliar dari YPPI, tentu tidak bisa dipungkiri para petinggi BI dan KSSK bisa terseret pidana. Meskipun mereka tidak menerima dana sepersen pun, namun apabila karena kecerobohan (alasan paling positif) mereka sendiri menjadi alat para bankir dan deposan yang mengakibatkan kerugian keuangan lembaga negara, maka sudah sepantasnya mereka mendapat proses hukum yang sama dengan kasus Burhanuddin Abdullah. Dan Andai saja, rakyat Indonesia dan para penegak hukum menjunjung tinggi keadilan hukum seperti diurai dalam Pasal 27 UUD 1945, maka bila memang pada akhirnya laporan BPK memberi bukti resmi bahwa pejabat BI (termasuk pimpinannya yakni Boediono)

melakukan pelanggaran ketentuan dalam penyelamatan Bank Century, maka bukanlah hal mustahil Boediono (Wakil Presiden Terpilih mendampingi SBY) akan dipidana oleh KPK (asal KPK tetap independen dan berhasil keluar dari kemelutnya). Dan perlu dicatat, jika pada akhirnya terbukti indikasi yang kuat bahwa Boediono bersalah, maka percayalah bahwa ia bukanlah satu-satunya orang yang bersalah. Berdasarkan berbagai analisis yang berkembang, maka para pejabat yang ikut terlibat dalam kasus Bank Century adalah deposan fiktif Bank Century, manajemen Bank Century, KSSK, LPS dan semua siluman. Tentu, seperti biasanya.. Kita akan menunggu hasil audit investigasi BPK yang menyeluruh. Jika memang akhirnya terbukti, maka hendaknya hukum ditegakkan. Semoga tidak ada yang mengkriminalisasi KPK, agar tabir Bank Century dapat diusut dengan seadil-adilnya. Hanya saja, apakah 60% pemilih akan mendukung penegakan hukum bagi cawapres yang terpilih. Berdasarkan uraian di atas, menurut pendapat saya sebagai orang awam, hal yang mungkin dapat dilakukan untuk menjerat Boediono yakni dengan pasal tindak pidana korupsi karena disini terjadi selisih dana yang besar untuk bailout Bank Century dari 600 hingga 800 milyar menjadi 6,7 triliun. Dan penyelidikan ini dilakukan oleh KPK. Mengenai jabatannya yang sebagai wakil presiden, barulah DPR yang berwenang mengajukan ke MK apabila Boediono dinyatakan bersalah, apakah dia masih memenuhi syarat/tidak sebagai wakil presiden. Setelah itu MK memeriksa, jika terbukti DPR kemudian melakukan sidang paripurna dan meneruskan ke MPR. Setelah itu MPR melakukan sidang untuk memutuskan usul DPR diterima/tidak. Jika MPR menerima, maka Boediono diberhentikan menjadi wakil presiden RI. Jika MPR menolak usul DPR, Boediono tetap menjabat sebagai wakil presiden RI.

TUGAS PANCASILA KASUS CENTURY

Oleh Yuni Aisyah Putri H 121610101006 UNIVERSITAS JEMBER 2013