Anda di halaman 1dari 15

Pencurian / Perampokan, Dampak dan Solusinya

Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kaidah Hukum Islam dan melengkapi nilai semester

Oleh Harist Siddiq 0903101010024

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM, BANDA ACEH 2011

KATA PENGANTAR
Segala puji kami hanturkan ke hadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah sesuai dengan kaidah-kaidah dan ketentuan yang berlaku. Makalah tentang Pencurian/Perampokan, Dampak dan Solusinya ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Kaidah Hukum Islam. Pada kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada dosen sekaligus pembimbing kami yang telah memberikan konstribusi besar dalam menyelesaikan makalah ini. Dengan kerendahan hati penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun guna perbaikan dan kesempurnaan penulis dalam membuat makalah lainnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pihak lain yang membutuhkannya.

Banda Aceh, 24 Maret 2011

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Islam sebagai agama yang haq dan menyeru kepada kebenaran memiliki hokum tersendiri (syariat) yang menjadi acuan dan landasan bagi muslim khususnya dan bagi seluruh ummat manusia untuk hidup di muka bumi ini. Hukum Islam atau dalam istilah lain syariat Islam yang di patuhi serta dilaksanakan oleh manusia yang dalam hal ini muslim keseluruhannya mengacu dari apa yang tertulis di dalam Al Quran dan As Sunnah serta beberapa tambahan dari hasil ijtihad dari para ulama yang telah disepakati, disesuaikan dengan perkembangan zaman dan tidak bertentangan dengan regulasi yang telah ditentukan Allah dan Rasulnya. Al Quran dan As Sunnah, sebagai pokok panduan hokum Islam, terkandung didalamnya aturan-aturan hidup, bagaimana harus bersikap yang sepantasnya sebagai manusia, apa yang perlu didahulukan dan apa yang harus ditinggalkan dan lain sebagainya. Selain itu, ketentuan-ketentuannya tidak hanya menyangkut masalah ibadah atau hubungan manusia dengan Sang Pencipta alam semesta, melainkan terdapat pula aturan yang menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia itu sendiri, baik itu hubungan yang menberi dampak positif maupun hubungan yang memberi dampak negatif atau korelasi antara keduanya. Tatanan moral Al Quran dan As Sunnah harus kita ikuti dan kita patuhi untuk menciptakan suatu kehidupan yang hayati dan damai di bumi ini, sebab pada dasarnya Al Quran itu merupakan sebuah kitab hidayah yakni petunjuk yang paling sempurna bagi kehidupan umat manusia dan As Sunnah merupakan segala sesuatu ajaran yang terlontar dari pola prilaku, perkataan, hingga impian dari utusan Allah, Muhammad SAW yang menjadi teladan mulia dan sempurna bagi setiap yang mengamalkannya. Al Quran menyebutkan tentang hak-hak perekonomian dengan memerintahkan kepada kaum muslimin dalam Q.S. Adz-Dzariyaat ayat19 yang berbunyi, Dan pada harta mereka ada hak tertentu bagi orang miskin yang meminta dan orang membutuhkan yang tidak meminta. Inilah salah satu contoh bentuk regulasi sempurna yang menitik beratkan pada moral dan pola sikap dalam hal penataan perekonomian yang baik dan Islami.

BAB II URAIAN
Hukum pidana Islam adalah adalah merupakan terjemahan dari fiqh jinayah, fiqh jinayah adalah segala ketentuan hukum mengenai tindakan pidana atau perbuatan kriminal yang dilakukan orang-orang Mukallaf (orang yang dapat dibebani kewajiban). Hukum pidana Islam merupakan syariat Allah yang mengandung kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik didunia dan akhirat. Ruang lingkup hukum pidana Islam meliputi pencurian , perzinahan, meminum khamar, membunuh dan melukai orang lain, merusak harta orang lain, dan kekacauan dan semacamnya berkaitan dengan hukum kepidanaan. Hukum kepidanaan disebut jarimah. Jarimah terbagi dua: Jarimah Hudud dan jarimah tazir. Kata hudud berasal dari bahasa arab adalah jamak dari kata had .Had secara harfiah ada beberapa kemungkinan arti antara lain batasan atau definisi, siksaan, ketentuan atau hukum. Had dalam pembahasan fiqih (hukum Islam) terbagi beberapa jenis dalam syariat Islam , yaitu rajam, jilid, atau dera, potong tangan, penjara atau kurungan seumur hidup, eksekusi bunuh, pengasingan atau deportasi, dan salib. Namun tazir dalam pengertian istilah dalam hukum Islam adalah hukuman yang bersifat mendidik yang tidak mengharuskan pelakunya dikenai had dan tidak pula harus membayar kaffah atau diat. Jenis hukuman yang termasuk jarimah tazir adalah penjara, skorsing atau pemecatan, ganti rugi, pukulan, ganti rugi, teguran dengan kata-kata, dan jenis hukuman lain yang dipandang sesuai dengan pelanggaran dari pelakunya. Untuk menentukan suatu hukuman terhadap suatu tindak pidana dalam hukum Islam, diperlukan unsur normative dan moral sebagai berikut. 1. Secara yuridis normative di satu aspek harus didasari oleh dalil. Aspek lainnya secara yuridis normative mempunyai unsure materil, yaitu sikap yang dinilai sebagai suatu pelanggaran terhadap sesuatu yang diperintah oleh Allah SWT. 2. Unsur moral, yaitu kesanggupan seseorang untuk menerima sesuatu yang secara nyata mempunyai nilai yang dapat dipertanggung jawabkan.

Selain unsur-unsur pidana yang telah disebutkan perlu diungkapkan bahwa hukum pidana Islam dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu: 1. Dari segi berat atau ringannya hukuman, maka dapat dibedakan menjadi, (a) jarimah hudud, (b) jarimah qishash, dan (c) jarimah tazir. 2. Dari segi unsur niat yaitu, (a) yang disengaja, (b) dan yang tidak disengaja. 3. Dari segi cara mengerjakan, yaitu, (a) yang positif, (b) dan yang negatif. 4. Dri segi jumlah korban, yaitu, (a) yang bersifat perorangan, (b) kelompok.

BAB III PEMBAHASAN


Perampokan Perampokan (hirabah) berasal dari kata Harb yang artinya perang. Menurut buku Fiqh Sunnah jilid 9 karya Sayyid Sabiq, Hirabah adalah keluarnya gerombolan bersenjata didaerah islam untuk mengadakan kekacauan, penumpahan darah, perampasan harta, mengoyak kehormatan, merusak tanaman, peternakan, citra agama, akhlak, ketertiban dan undangundang baik gerombolan tersebut dari orang islam sendiri maupun kafir Dzimmi atau kafir Harbi. Menurut buku yang berjudul Tindak Pidana dalam Syariat Islam karya Prof.Abdur Rahman I Doi Ph.D, Hirabah adalah suatu tindak kejahatan yang dilakukan oleh satu kelompok atau seorang bersenjata yang mungkin akan menyerang musafir atau orang yang berjalan dijalan raya atau ditempat manapun dan mereka merampas harta korbannya dan apabila korbannya berusaha lari dan mencari atau meminta pertolongan maka mereka akan menggunakan kekerasan. Sedangkan menurut buku Fiqh Jinayah (Upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam) karya Prof.Drs.H.A.Djazuli, Hirabah adalah suatu tindak kejahatan yang dilakukan secara terang-terangan dan disertai dengan kekerasan. Jadi, Hirabah itu adalah suatu tindak kejahatan ataupun pengerusakan dengan menggunakan senjata/alat yang dilakukan oleh manusia secara terang-terangan dimana saja baik dilakukan oleh satu orang ataupun berkelompok tanpa mempertimbangkan dan memikirkan siapa korbannya disertai dengan tindak kekerasan. Dalam teknis operasional hirabah ini ada beberapa kemungkinan yaitu: a. Seseorang pergi dengan niat untuk mengambil harta secara terang-terangan dan mengadakan intimidasi, namun ia tidak jadi mengambil harta dan tidak membunuh, b. Seseorang pergi dengan niat untuk mengambil harta secara terang-terangan dan kemudian mengambil harta termaksud tetapi tidak membunuh, c. Seseorang berangkat dengan niat merampok kemudian membunuh tetapi tidak mengambil harta korban,

d. Seseorang berangkat untuk merampok kemudian pelaku mengambil harta dan membunuh pemiliknya. Al quran menjelaskan bahwa perampokan itu merupakan suatu dosa besar, dan dasar hukum Hirabah adalah Q.S.Al-Maidah ayat 33 yang berbunyi, Sesungguhna pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan dimuka bumi, hanyalah (mereka) dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara silang, atau dibuang dari negeri tempat kediamannya. Yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka didunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang berat. Selain dari itu Rasulullah SAW juga melaknat bahwa pelaku Hirabah tidak pantas mengaku sebagai seorang Islam. Sabda Rasulullah SAW:

Barang siapa membawa senjata untuk mengacau kita, maka bukanlah mereka termasuk umatku! (H.R.Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar) Untuk menjatuhi hukuman kepada pelaku Hirabah terdapat beberapa syarat, yaitu: 1. Pelaku Hirabah Adalah Orang Mukallaf Mukallaf adalah syarat untuk dapat ditegakkan suatu hadd padanya. Kemudian mukallaf adalah orang yang berakal dan dewasa. Anak kecil dan orang gila tidak tidak bisa dianggap sebagai pelaku Hirabah yang harus di hadd, sesungguhnya ia terlibat dalam sindikat hirabah. Karena anak kecil dan orang gila tidak bisa dibebani atau dihukum menurut syara. 2. Pelaku Hirabah Membawa Senjata Untuk dapat menjatuhkan hadd Hirabah disyaratkan pula bahwa dalam melancarkan Hirabah pelakunya terbukti membawa senjata, karena senjata itulah yang merupakan kekuatan yang diandalkan olehnya dalam melancarkan Hirabah. Bila pelaku tidak menggunakan atau membawa senjata maka tindakannya tidak bisa dikatakan Hirabah. Abu Hanifah mengatakan bahwasannya tindakan yang hanya bersenjatakan batu dan tongkat itu tidak di hukumi sebagai tindakan hirabah.

3. Lokasi Hirabah Jauh Dari Keramaian Sebagian ulama mengatakan bahwa lokasi Hirabah harus ditempat padang yang jauh dari keramaian, sebab apabila terjadi tindak kejahatan dikeramaian maka korban bisa meminta pertolongan sehingga kekuatan pelaku kejahatan dapat dipatahkan. Tetapi sebagian ulama juga mengatakan bahwa tindak kejahatan di tempat padang dan di tempat keramaian sama saja bernama Hirabah. Karena ayat mengenai Hirabah secara umum menyangkut segala Hirabah baik ditempat padang ataupun ditempat keramaian. 4. Tindakan Hirabah secara terang-terangan Tindakan Hirabah harus dilakukan secara terang-terangan sesungguhnya tidak dapat dikatakan Hirabah apabila dilakukan secara sembunyi-sembunyi adapun suatu tindak kejahatan secara sembunyi-sembunyi itu dinamakan dengan mencuri. Bila pelaku merebut harta kemudian melarikan diri maka itu disebut dengan penjambret atau perampas. Hukuman Hirabah yang ditentukan oleh ayat Al quran ada empat macam yaitu: 1. Dibunuh, 2. Disalib, 3. Dipotong tangan dan kakinya secara silang, 4. Dibuang dari negeri tempat kediamannya. Adapun pengklasifikasian jenis sanksi atas perbuatan yang dilakukan oleh pelaku, para ulama berbeda pendapat. Hukuman Hirabah dapat hapus karena tobat sebelum berhasil dibekuk dan sebabsebab yang menghapuskan hukuman pada kasus pencurian yakni: 1. Terbukti bahwa dua orang saksinya itu dusta dalam persaksiannya, 2. Pelaku menarik kembali pengakuannya, 3. Mengembalikan harta yang dicuri sebelum diajukan ke sidang, (Menurut Imam Abu Hanifah)

4. Dimilikinya harta yang dicuri itu dengan sah oleh pencuri sebelum diajukan ke pengadilan. (Menurut Imam Abu Hanifah) Sebagaimana firman Allah SWT tentang sindikat Hirabah yang mengadakan pengerusakan diatas bumi kemudian mereka bertobat sebelum sindikat itu dibekuk maka Allah SWT sesungguhnya akan mengampuni atas apa yang telah dilakukan oleh sindikat itu dan mereka tidak akan dijatuhi hukuman Hirabah. Firman Allah SWT Q.S.Al-Maidah ayat 33-34 yang berbunyi, Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan diatas bumi, hanyalah mereka dibunuh atau salib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang atau dibuang dari negeri tempat kediamannya. Yang demikian itu sebagai penghinaan untuk mereka didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar, kecuali orang-orang yang tobat (diantara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka, maka ketahuilah bahwasannya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tobatnya sindikat Hirabah sebelum mereka dapat dibekuk adalah merupakan suatu pertanda mereka mulai sadar, insyaf, dan memiliki maksud hendak memperbaiki hidupnya menjadi bersih, dan menjauhi pengerusakan diatas bumi dengan jalan Hirabah. Mengenai masalah tobatnya para pelaku Hirabah ini, Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayah Al Mujtahid memberi ulasan akan apa yang dapat digugurkan oleh tobat, para ulama masih berbeda pendapat satu sama lain dan perbedaan itu dikategorikan menjadi empat kelompok yaitu: 1. Tobat hanya dapat menggugurkan hadd hirabah saja. Sedangkan hak-hak Allah SWT dan manusia lainnya tetap dituntut. (Pendapat Malik) 2. Tobat dapat menggugurkan hadd Hirabah dan semua hak Allah SWT, seperti hak dan tuntutan terhadap perbuatan zina, meminum minuman keras, dan sebagainya. Sedangkan hak manusia tetap dituntut kecuali bila pihak korban telah memaafkan. 3. Tobat menggugurkan semua hak Allah, tetapi tetap dituntut hak manusia dalam kasus pembunuhan dan perampasan harta yang masih ada pada pelaku Hirabah. 4. Tobat menggugurkan semua hak manusia, baik dalam kasus pembunuhan maupun perampasan harta, kecuali harta yang masih ada pada pelaku Hirabah.

Adapun syarat-syarat bertobat adalah harus tobat lahir dan batin. Fiqh hanya dapat menyoroti lahirnya saja. Karena tidak ada yang mengetahui batin kecuali Allah SWT dan bila pelaku Hirabah bertobat sebelum dibekuk maka tobatnya akan diterima. Dan wajiblah atas imam untuk menerima kedatangan pelaku hirabah yang bertobat sebelum dibekuk. Pencurian Pencurian adalah orang yang mengambil benda atau barang milik orang lain secara diam-diam untuk dimiliki. Hal ini, tidka ada salahnya bila dikemukakan, yaitu : 1. Menipu: yaitu mengambil hak orang lain secara licik sehingga orang lain menderita kerugian ; 2. Korupsi: yaitu mengambil hak orang lain, bik perorangan atau masyaarakat, dengan menggunakan kewenangan atasjabatan atau kekuasaannya sehingga merugikan orang lain ; 3. Menyuap: yaitu sesorang memberikan sesuatu baik berupa barang ataupun uang maupaun lainnya kepada orang lain agar pemberi memperoleh keuntungan baik materil maupun moril, sedangkan pemberianna itu ada pihak lain yang dirugikan. Dasar sangsi dalam al-quran yatiu allah berfirman didalam surat al-maidah ayat 38 yang artinya, Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari allah. Dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana. Dasar sangsi dalam hadits yang artinya, dari Ibnu Umar r.a katanya : Rasulullah pernah memotong tangan seorang yang mencuri sebuah perisai yang bernilai sebayak tiga dirham (HR. Bukhori Muslim) Berdasarkan ayat alquran yang secara tegas mengungkapakan bahwa sanksi hokum terhadap pelanggaran pidana pencurian, yaitu potong tangan dengan syarat sebagi berikut: 1. Nilai harta yang dicuri jumlahnya mencapai satu nisab, yaitu kadar harta tertentu yang ditetapkan sesuai dengan undang-undang. 2. 3. Barang curian itu dapat diperjual belikan. Barang atau uang yang dicuri bukan milik baitul mal.

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Pencuri sudah baligh Perbuatan dilakukan atas kehendaknya bukan atas paksaan orang lain. Tidak dalam kondisi dilandas krisis ekonomi. Pencuri melakukan perbuatannya bukan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Korban pencuri bukan orang tua sendiri dan bukan pula keluarga dekatnya. Pencuri bukan pembantu korbannya. Ketentuan potong tangan Apabila ia mencuri untuk yang pertama kalinya maka dipotong tangannya yang kanan (dari pergelangan tangan sampai telapak tangan) bila mencuri kedua kalinya di potong kaki kirinya (dari ruas tumit), mencuri yang ketiga dipotong tangannya yang kiri, dan yang keempat, dipotong kakinya yang kanan, kalau ia masih juga mencuri untuk kelima kalinya maka ia harus dipenjarakan sampai tobat dan dihukum mati.

11. Ketentuan diatas tidak berlaku apabila orang yang mencuri harta bapaknya sendiri tidak dipotong tangannya begitu juga sebaliknya. Demikian pula bila salah seorang suami istri mencuri harta yang lain, orang miskin yang mencuri dari baitul mal dan sebagainya tidak dipotong. Hukuman pencurian dapat terhapus karena tobat sebelum berhasil dibekuk dan sebabsebab yang menghapuskan hukuman pada kasus pencurian sama seperti terhapusnya hukuman perampokan, yakni : 1. Pelaku menarik kembali pengakuannya, 2. Mengembalikan harta yang dicuri sebelum diajukan ke sidang, (Menurut Imam Abu Hanifah) 3. Terbukti bahwa saksi mata dusta dalam persaksiannya, 4. Dimilikinya harta yang dicuri itu dengan sah oleh pencuri sebelum diajukan ke pengadilan. (Menurut Imam Abu Hanifah)

Dampak, Solusi dan Pencegahannya Salah satu yang dibanggakan oleh manusia adalah harta. Ajaran islam bukan

materialisme, melainkan islam mengajarkan kepada umat islam untuk berusaha sekuat tenaga sesuai kemampuan untuk mencari harta. Syariat islam yang ditetapkan oleh allah swt. dan nabi Muhammad saw. Memuat seperangkat aturan dalam hal memperoleh harta. Memperoleh harta dengan cara haram seperti berbuat curang, merugikan orang lain, mencari keuntungan yang berlebihan, dan lain-lain yang harus dihindari oleh umat islam. Mengganggu dan merusak harta berarti mengganggu dan merusak system nilai yang berkaitan dengan bidang ekonomi. Asas-asas pembinaan dan perkembangan perekonomian yang ditetapkan oleh syariat Islam berlandaskan atas prinsip suka sama suka, tidak merugikan sepihak, jujur, transparan, dan lain-lain. Sebagai konsekuensi dari system dan tata aturan bagaimana cara memperoleh atau mendapatkan harta, maka syariat islam menetapkan aturannya. Mengambil hak orang lain berarti merugikan sepihak. Ketentuan menunjukan bahwa perampokan/pencurian yang di kenai sanksi hukum adalah suatu hal yang bukan pura-pura ataupun karena keterpaksaan. Sanksi hukuman diberikan bertujuan antara lain sebagai berikut: 1. Tindakan preventif yaitu menakut-nakuti, agar tidak terjadi kejahatan, mengingat hukumannya yang berat. 2. Membuat para perampok/pencuri timbul rasa jera, sehingga ia tidak melakukan untuk kali berikutnya. 3. Menimbulkan kesadaran kepada setiap orang agar menghargai dan menghormati hasil jeri payah orang lain. 4. Menimbulkan semangat produktivitas melalui persaingan sehat. 5. Memberikan arahan agar para orang kaya melihat kondisi masyarakat, sehingga tidak hanya mementingkan diri sendiri. Sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan dilakukan oleh khulafaurrasyidin setelah Rasulullah SAW tiada, mewujudkan ketertiban dan keamanan adalah tanggung jawab bersama antara masyarakat itu sendiri dan hakim. Jadi, bila ada seseorang maupun sindikat yang mengganggu stabilitas keamanan dan kenyamanan masyarakat, maka hakim wajib bertindak segera. Manfaat dari kerjasama antara masyarakat

dan hakim salah satunya adalah situasi menjadi tentram dan aman terkendali. Dengan demikian masyarakat dapat menghirup nikmatnya ketentraman dan menekuni pekerjaannya dengan baik yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Penanggulangan tindak pidana perampokan dan pencurian dalam perspektif Islam dapat diwujudkan dengan tujuan yang terarah dan dapat memberikan kontribusi yang sesuai dalam ajaran agama dan aturan yang ada misalnya : 1. Mengurangi pengangguran agar fikiran dari pada tuna karya ini tidak kebabblasan sampai pada akhirnya memutuskan untuk mencuri atau merampok. 2. Menambah lapangan pekerjaan yang layak sehingga dapat mengasilkan sesuatu misalnya uang atau yang lainya. 3. Menumbuhkan semangat produktivitas melalui persaingan sehat. 4. Menumbuhkan kesadaran kepada setiap orang agar menghargai dan menghormati hasil jerih payah orang lain. 5. Memberikan arahan agar para orang kaya melihat kondisi masyarakat, sehingga tidak hanya memikirkan diri sendiri. Dengan demikian kecemburuan sosial, yaitu penumpukan harta pada orang-orang tertentu dapat dihindari.

BAB IV PENUTUP
Perampokan dan pencurian merupakan dua dari sekian banyak jinayah atau tindak pidana yang terdapat pengaturan dan penjelasannya di dalam Al Quran dan As Sunnah. Maraknya kasus pencurian maupun perampokan dikalangan masyarakat dikarenakan degradasi moral, kurangnya pengetahuan tentang agama, kemiskinan, lemahnya system perekonomian Negara, lapangan pekerjaan yang kurang memadai, dan kurangnya kepedulian dari masyarakat level atas serta pemerintah sehingga menimbulkan kecemburuan social yang berlebihan pada masyarakat level bawah. Hukuman-hukuman yang tampaknya berat yang diberikan pada kasus jinayah perampokan dan pencurian ini bukanlah suatu bentuk kekejaman Islam atau bentuk

pelanggaran HAM. Hukuman-hukuman ini diberikan tidak lebih untuk memberikan efek jera dan sebagai tindakan menakut-nakuti masyarakat agar kejahatan ini tidak semestinya dilakukan. Pencegahan tindak pidana perampokan dan pencurian dapat diwujudkan dengan tujuan yang terarah dan dapat memberikan kontribusi yang sesuai dalam ajaran agama dan aturan yang ada seperti menambah lapangan pekerjaan, memberikan pendidikan moral dan keagamaan kepada masyarakat, dan lain sebagainya sehingga tercipta masyarakat yang aman, tertib, damai, dan sejahtera.

DAFTAR PUSTAKA

Rasjid, Sulaiman. 1998. Fiqih Islam. Bandung : PT. Sinar Baru Algensindo. Ali, Zainudin. 2007. Hukum Pidana Islam. Jakarta : Sinar Grafika. Syarifudin, Amir. 1999. Fiqh Sunnah II. Jakarta : Logos Wacana Ilmu.