Anda di halaman 1dari 28

BAHAN RESTORASI GIGI

Tujuan restorasi gigi adalah tidak hanya membuang penyakit dan mencegah timbulnya kembali karies, melainkan juga memugar fungsinya. Bahan restorasi yang ideal sampai saat ini belum ada namun hendaknya kita sudah mengenal dengan baik sifat bahan yang paling penting, sehingga jika bahan-bahan baru keluar dipasaran kita dapat segera mengenali kebaikan dan keburukannya dibandingkan dengan bahan yang lama. Dua sifat yang sangat penting yang harus dipunyai bahan pergigian adalah harus mudah digunakan serta tahan lama. Sedangkan sifat-sifat lainnya adalah: Kekuatan kompresif dan kekuatan tensilnya cukup Tidak larut dan tidak mengalami korosi dalam mulut Sifat eksotermiknya rendah dan perubahan volume selama pengerasannya dapat diabaikan Tidak toksik dan tidak iritan terhadap jaringan pulpa dan gingiva Mudah dipotong dan dipoles Derajat keausannya sama dengan email Mampu melindungi jaringan gigi sekitar dari serangan karies sekunder Koefisien muai termiknya sama dengan di email dan di dentin Difusi termiknya sama dengan yang di email dan di dentin Penyerapan airnya rendah Adhesif terhadap jaringan gigi Radio-opak Warna dan translusennya sama dengan email Tahan lama dalam penyimpanan Murah

1. Amalgam Amalgam secara teknis berarti campuran logam dari air raksa (Hg) dengan beberapa logam lain. Dental amalgam merupakan campuran logam yang dibuat dengan mencampur air raksa dengan perak-timah (Ag-Sn). Dalam kedokteran

gigi, penggunaan istilah amalgam berarti dental amalgam. Campuran logam amalgam adalah logam perak-timah dengan penambahan jumlah tembaga (Cu) yang bervariasi dan sedikit seng (Zn).(b) Amalgam itu sendiri merupakan kombinasi alloy dengan air melalui proses amalgamasi atau triturasi. Indikasi klinis untuk restorasi amalgam: a) Restorasi klas I dan II yang sedang hingga besar (khususnya yang memiliki oklusi yang berat, yang tidak dapat diisolasi dengan baik, atau perluasan ke permukaan akar). (Lihat gambar 1.A-D)

Gambar amalgam. Klas I, D. Klas II, dan E. Klas V b) Restorasi klas 1. VRestorasi (termasuk yangA-C tidak mempertimbangkan estetis, tidak Sumber: Sturdevants Art and Science of Operative Dentistry

dapat diisolasi dengan baik, atau yang terletak pada permukaan akar). (Lihat gambar 1.E) c) Restorasi sementara karies kontrol (termasuk gigi yang rusak parah dan membutuhkan pemeriksaan selanjutnya dari kesehatan pulpa sebelum restorasi yang sebenarnya). (Lihat gambar 2)

Gambar 2. A. Karies yang membutuhkan eskavasi lebih lanjut, B. Sisa email yang tidak terdukung dibawah cusp mesiolingual. C. Restorasi sementara amalgam yang diselesaikan untuk prosedur kontrol karies. Karies telah dieliminasi, pulpa cukup terlindungi. Sumber: Sturdevants Art and Science of Operative Dentistry

d) Foundation (meliputi gigi dengan kerusakan parah yang membutuhkan peningkatan bentuk retensi dan resistensi dalam mengantisipasi penempatan berikutnya dari mahkota atau logam onlay logam).

Gambar 3. Foundation amalgam. A. Restorasi yang rusak (amalgam yang rusak, cusp mesiolingual yang fraktur, karies mesiofasial), B. Preparasi gigi dengan retensi sekunder dan bonding menggunakan pin dan slot, C. Penempatan Foundation amalgam, D. Gigi yang dipreparasi untuk foundation amalgam. Sumber: Sturdevants Art and Science of Operative Dentistry

Kontraindikasi restorasi amalgam: Ketika estetik dipertimbangkan, sebagian besar pasien tidak menyukai penampilan amalgam dibandingkan restorasi komposit. Oleh karena itu, penggunaan amalgam pada area yang lebih mempertimbangkan estetik biasanya dihindari. Area-area ini meliputi gigi-gigi anterior, premolar dan molar pada beberapa pasien. Karena preparasi gigi untuk amalgam lebih lebar dibandingkan komposit, yakni kerusakan kecil hingga sedang pada gigi posterior sebaiknya direstorasi dengan komposit dibandingkan amalgam. Kentungan penggunaan amalgam: Mudah digunakan Kekuatan tensile tinggi Resistensi terhadap keausan baik Hasil penelitian klinis jangka panjang baik Biaya lebih rendah dibandingkan restorasi komposit Ikatan amalgam memiliki manfaat: Kebocoran mikro yang kurang Pewarnaan interfasial kurang

Kekuatan sisa struktur gigi sedikit meningkat Sensitivitas postoperatif minimal Beberapa manfaat retensi Keuntungan estetis dari amalgam yang tidak merubah warna struktur gigi tetangganya.

Kekurangan penggunaan amalgam: Non isolasi Non estetis Kurang konservatif (pengambilan yang lebih banyak selama preparasi struktur gigi) Melemahkan struktur gigi (kecuali terikat) Teknik yang lebih sensitif jika berikatan Preparasi gigi lebih sulit Kebocoran tepi awal Air raksa / merkuri: Cair pada suhu kamar dengan titik beku -39oC Perak : a. Meningkatkan resistensi amalgam thd oksidasi. b. Meningkatkan pemuaian selama setting. c. Mengurangi sifat flow. Timah : 1. Memudahkan amalgamasi karena afinitasnya yang besar terhadap merkuri. 2. Mengurangi resistensi. 3. Meningkatkan flow. 4. Mengurangi pemuaian selama setting. Tembaga : Mengeraskan amalgam Seng : 1. Menghindari oksidasi. 2. Amalgam yang tidak mengandung seng, bersifat kurang elastis. + Fluoride : Mencegah karies sekunder (akibat microleakage amalgam)

Klasifikasi amalgam kedokteran gigi: 1. Amalgam konvensional ( amalgam low copper) - tembaga < 6 % - ukuran partikel : ireguler, sferikal - fasa : a. 1 (Ag2Hg3), matrix amalgam b. 2 (Sn7Hg), fasa paling lemah dan mudah terserang korosi c. n (Ag3Sn), sisa partikel yang tidak bereaksi Komposisi: Perak min 65% Timah putih min 29% Tembaga min 6% Seng min 2% Air raksa min 3% 2. Amalgam modern (copper enriched alloys) a. Fasa : 1, n (Cu6Sn5) b. Komposisi: - Perak 40-60 % - Timah putih 27-30 % - Tembaga 13-30 % Kadar tembaga yang meningkat menyebabkan : 1. Tidak terbentuk 2 2. Terbentuk n, fasa yang lebih tahan ter- hadap korosi Logam yang sering ditambahkan dalam jumlah kecil : paladium, indium, emas Amalgam high copper lebih disukai karena : 1. Sifat integritas marginal lebih baik. 2. Sifat mekanik lebih baik. 3. Daya tahan terhadap korosi tinggi 3 jenis amalgam high copper: 1. Admixed regular 2. Admixed komposisi tunggal

3. Komposisi tunggal Amalgam admixed adalah amalgam yang mempunyai partikel serbuk

campuran bentuk bulat (sferikal) & iregular. Komposisi tunggal, indium : 1. Mengurangi jumlah merkuri 2. Meningkatkan resistensi kompresi 3. Memperbaiki karakteristik permukaan (kekerasan) Penambahan paladium 10% : creep konstan (25-60oC), tekanan 26-72 Mpa. 5% : meningkatkan kekuatan tekan, mengurangi creep Ada hubungan positif antara sifat mekanik dan penambahan paladium Lathe Cut - Diproduksi mesin. - Serbuk yang terbentuk diukur, yang memenuhi digunakan untuk amalgamasi. - Alloy tersedia : kasar, medium, halus. Sferikal - Alloy dicairkan, disemprotkan ke dalam atmosfer inert. Terbentuk tetesan padatan kecil ( pellet sferikal) dengan berbagai ukuran. - Tidak membutuhkan mesin. - Komposisi ukuran alloy dapat ditentukan. PROSES AMALGAMASI 1. Alloy tembaga rendah Pada triturasi (pencampuran) terjadi : Ag&Sn bagian luar terlarut bersamaan Hg menembus partikel alloy (Impregnasi) Reaksi kimiawi alloy dengan merkuri (Amalgamasi) Kristal Ag2Hg3 (1) & Sn7Hg (2) (Kristalisasi) Amalgam keras

Reaksi : Partikel alloy + Hg 1 + 2 + sisa partikel 2. Alloy high copper a. Tahap I + Hg + Ag-Cu + Hg 1 + 2 + sisa Cu6Sn5 + 1 1+n + sisa b. Tahap I I 2 + Ag-Cu

Pada admixed : Inti 1 & Ag-Cu dikelilingi n & matrix 1. Pada komposisi tunggal : Inti 1 & Ag-Cu dikelilingi matrix 1. Setiap fasa dalam struktur amalgam memiliki sifat berbeda dalam : 1. Kekuatan 2. Kekerasan 3. Daya tahan korosi Fasa n yang tertanam di dalam matrix maupun fasa intergranular 1 dapat meningkatkan sifat mekanik (menurunkan creep) & daya tahan korosi. SIFAT-SIFAT AMALGAM Kekuatan / strength 1. Amalgam tahan terhadap pengunyahan. 2. Kekuatan amalgam lemah, jika tjd : a. undertrituration b. kandungan Hg tinggi Hg > 54% menurunkan kekuatan c. tekanan kondensasi rendah d. penumpatan lambat e. korosi f. pencampuran plastis porositas Modulus elastik Pengukuran lambat (0,02-0,125 mm/mnt) : 11-20 Gpa. Amalgam alloy tinggi lebih getas dari pada alloy rendah. Creep Creep : perubahan viskoelastik akibat beban. Klinis, ditandai : perubahan integritas marginal. Rekomendasi ANSI/ ADA, creep <3%. Fase rentan creep : 1, 2 Perubahan dimensional
7

Perubahan akibat kontraksi & ekspansi selama setting. Perubahan dimensi pada amalgam : a. Disolusi terjadi kontraksi, menyebabkan akumulasi plak & karies sekunder. b. Pembentukan 1 & n terjadi ekspansi, menyebabkan tekanan pada pulpa gigi, sensitivitas gigi, protrusi amalgam. Ekspansi setelah setting akan terjadi jika : a. Rasio alloy : merkuri besar. b. Waktu triturasi pendek. c. Tekanan lemah saat kondensasi. d. Ukuran partikel alloy besar. Kontaminasi air sebelum setting pada material yang mengandung Zn : reaksi elektrolitik Zn (anoda) dengan logam lain (katoda) & air (elektrolit). Hasil reaksi : hidrogen. Tekanan hidrogen menyebabkan amalgam mengalir, sehingga terjadi ekspansi amalgam setelah beberapa hari penumpatan Tarnish Perubahan warna reaksi kimia amalgam dengan lingkungan. - Biasa pada permukaan amalgam. - Terjadi karena sulfur yang membentuk lapisan sulfida pada permukaan tumpatan - Menimbulkan estetik kurang baik. - Tidak menyebabkan kerusakan tumpatan. Upaya untuk mengurangi tarnish o menambahkan Palladium o memulas amalgam Korosi merupakan reaksi kimia terjadi oksidasi dari amalgam dengan komponen dalam saliva atau makanan dalam mulut. Ketika dua logam yang tidak sama berinteraksi dengan larutan yang mengandung elektrolit (saliva) electric), rasa logam arus galvanis nyeri gigi (shock

Galvanis secara klinik terjadi bila tumpatan amalgam yang baru kontak dengan restorasi logam lain misal mahkota dari emas Konduktor thermal Amalgam bersifat konduktor. Untuk tumpatan besar perlu isolator, varnish, atau liner. Higiene Hg bersifat toksik & sangat lambat dieli-minasi. Efek toksik Hg dalam darah : 100 ng/ml. Hg dapat masuk tubuh melalui : a. kontak langsung dengan kulit b. ingesti c. paru (uap Hg)

MANIPULASI AMALGAM 1.Proportioning a. Air raksa : penimbangan b. Alloy : penimbangan, tablet alloy c. Rasio alloy : air raksa Setting amalgam sebaiknya Hg<50% Teknik pencapaian rasio : a. Rasio alloy : Hg = 5 : 7 atau 5 : 8. Pada rasio ini, triturasi mudah, campuran plastis. Jika ada ekses Hg dilakukan squeesing dengan kain kasa. b. Teknik merkuri minimal (Eames). - alloy & Hg dengan berat yang sama. - Tanpa squeesing. - Menggunakan mesin atau mekanik. 2. Trituration a. Hand mixing Alat : mortar & pestle Bagian dalam mortar kasar. Pestle : halus Resiko : paparan uap Hg dapat berkon tak dengan tubuh.

b. Mechanical mixing Alat : amalgamator. alloy dan Hg dalam kapsul Waktu triturasi harus sesuai dengan aturan pabrik. Triturasi amalgam tergantung pada : a. kecepatan b. lama c. daya (force) yang mengenai amalgam d. bentuk partikel serbuk amalgam Waktu triturasi yang tepat dapat dilihat dari penampilan amalgam yang dihasilkan : cemerlang (tidak buram). Partikel sferikal perlu triturasi lebih cepat karena lebih mudah terbasahi merkuri. Under trituration mengakibatkan : a. warna buram b. kekuatan tarik & kompresi rendah akibat gelembung & produk 1 & kurang c. permukaan kasar Over trituration berefek : a. soupy b. lengket c. creep d. korosi e. kekuatan mekanis turun f. produk 1 & berlebihan

3.Condensation Tujuan : a. memampatkan tumpatan b. adaptasi terhadap dinding kavitas c. mereduksi kelebihan merkuri.

10

Metode : a. hand condensor (lebih umum) b. mechanical condensor Kekuatan kondensasi efektif : 3-4 kg untuk diameter tumpatan 2-3 mm. Kondensasi dilakukan segera setelah mixing, sebelum tumpatan setting. Jika terlambat : - kekuatan berkurang - creep tinggi Pada amalgam + Zn, hindari kontaminasi saliva ekspansi 100 -200m/cm. Kondensasi, perhatikan : a. pemakaian tekanan maksimum b. penggunaan ukuran kondensor yang sesuai dg kavitas c. penumpatan cepat & sedikit demi sedikit. Penempatan tumpatan besar ke dalam kavitas memacu terbentuknya 1 & 2, porositas tumpatan.

4. Trimming, carving, burnishing - Trimming & carving dilakukan sebelum amalgam setting. Biasanya 2-3 menit setelah mixing & dihentikan setelah massa amalgam mulai mengeras (5-10 menit). - Carving amalgam yang sudah setting dapat menyebabkan fraktur margin. - Carving dipengaruhi oleh bentuk & ukuran partikel alloy. Alloy sferikal menghasilkan carving lebih baik. - Trimming: memotong kelebihan amalgam - Carving: membentuk kontur tumpatan - Setelah carving selesai, permukaan amalgam dihaluskan dengan burnisher. - Burnishing menaikkan kekerasan permukaan amalgam, mengurangi porositas & korosi, memperbaiki adaptasi marginal amalgam.

5. Finishing & polishing - Finishing & polishing dilakukan setelah amalgam setting. Minimal 24 jam.

11

Finishing amalgam : Membentuk kontur (green stone, abrasive discs) Finish margins (green stone, abrasive discs) Smooth alloys surface (rubber abrasive points, pumice) Add luster (rubber abrasive points, fine abrasive paste) Polishing : a. permukaan halus b. mengurangi tendensi korosi. Polishing pada kondisi basah. Jika kering : a. mendorong Hg ke permukaan b. membahayakan pulpa gigi c. menimbulkan panas.

2. Komposit Komposit merupakan campuran fisik bahan. Bagian-bagian dari campuran secara umum dipilih dengan tujuan sifat rata-rata dari bagian-bagian untuk mencapai sifat-sifat intermediet. Komposit biasanya melibatkan fase terdispersi dari partikel filler yang didistribusikan dalam fase kelanjutan (fase matrix). Indikasi restorasi komposit: Restorasi klas I, II, III, IV, V dan VI Membangun foundation atau core Restorasi komposit sealant dan konservatif (Restorasi resin preventif) Prosedur perbaikan estetis (veneer parsial, full veneer, modifikasi kontur gigi, dan penutupan diastema) Sebagai semen (untuk restorasi indirect) Restorasi sementara Splinting periodontal

Kontraindikasi restorasi komposit: Kontraindikasi utama untuk penggunaan komposit sebagai bahan restoratif berhubungan dengan faktor isolasi, oklusi dan operator. Jika daerah operasi

12

tidak dapat diisolasi dari kontaminasi cairan mulut, maka komposit tidak boleh digunakan. Namun membutuhkan penguatan struktur jaringan gigi yang tersisa dengan prosedur ekonomis (dibanding restorasi indirect) dan janji untuk memanggil kembali pasien secara rutin dan pada waktu yang tepat dapat mengesampingkan terhadap kekhawatiran tetntang potensi keausan berlebihan. Perluasan restorasi komposit ke permukaan akar mungkin menunjukkan pembentukan celah pada pertemuan komposit dan akar. Keuntungan restorasi komposit: Estetik Pembuangan jaringan struktur gigi yang konservatif Preparasi gigi kurang kompleks Isolator, memiliki konduktivitas termal yang rendah Digunakan hampir secara luas Terikat ke struktur gigi, menghasilkan retensi yang baik, kebocoran mikro yang rendah, pewarnaan interfasial yang minimal, dan meningkatkan struktur gigi yang tersisa Memperbaiki

Kekurangan restorasi komposit: Memiliki pembentukan celah, biasanya terjadi pada permukaan akar sebagau hasil dari kekuatan polimerisasi shrinkage dari bahan komposit yang lebih hebat dari kekuatan ikatan awal dari bahan ke dentin Lebih sulit, memakan waktu dan lebih mahal dibanding restorasi amalgam karena: o Perawatan membutuhkan beberapa tahap o Insersi lebih sulit o Menentukan kontak proksimal, kontur aksial, embrasure dan kontak oklusal lebih sulit o Prosedur finishing dan polishing lebih sulit Tekniknya lebih sensitif karena daerah operasi harus diisolasi dengan baik dan penempatan etsa, primer dan adesif pada struktur gigi (enamel dan dentin) sangat bergantung pada teknik yang tepat

13

Menunjukkan keausan oklusal yang lebih hebat pada daerah tekanan oklusal yang berat ata ketika semua kontak oklusal gigi pada bahan komposit Memiliki linear coefficient of thermal expansion yang lebih tinggi, yang menghasilkan potensi perkolasi tepi jika teknik bonding tidak adekuat.

Komposisi: 1. Matriks Resin Organik merupakan monomer dengan BM tinggi. Contoh : - bisphenol A glicidyl methacrylate (BIS - GMA) - Urethane dimethacrylate - 2,2 bis [4 (2 hydroxy-3- methacryloxypropoxy) phenil propare 2. Filler Filler Anorganik Partikel partikel filler: - Silikat koloidal - Silikat barium - Silikat stronsium / borosikate - Quartz - Silikat seng - Silikat alumunium lithium KLASIFIKASI UKURAN PARTIKEL FILLER - Macro fillers 10 100 - Mid fillers 1 10 - Mini fillers 0,1 1 - Micro fillers 0,01 0,1 - Nano fillers 0,005 0,01 Coupling Agent - Silanating agents untuk partikel partikel filler bonding terhadap matriks organo silanes.

14

- Organosilane gamma methacryloxy propyltrimethoxylane - Silanating agent molekul bifungsional 1. Kelompok silane pada ikatan akhir dengan kelompok hydroxyl pada partikel partikel filler melalui reaksi kondensasi ikatan xiloxane 2. Kelompok methacrylate pada ujung yang lain menambah

polimerisasi dengan resin komposit selama penyinaran / chemical.

Sifat fisik Secara fisik resin komposit memiliki nilai estetik yang baik sehingga nyaman digunakan pada gigi anterior. Selain itu juga kekuatan, waktu pengerasa dan karakteristik permukaan juga menjadi pertimbangan dalam penggunaan bahan ini. Sifat-sifat fisik tersebut diantaranya: a. Warna Resin komposit resisten terhadap perubahan warna yang disebabkan oleh oksidasi tetapi sensitive pada penodaan. Stabilitas warna resin komposit dipengaruhi oleh pencelupan berbagai noda seperti kopi, teh, jus anggur, arak dan minyak wijen. Perubahan warna bisa juga terjadi dengan oksidasi dan akibat dari penggantian air dalam polimer matriks. Untuk mencocokan dengan warna gigi, komposit kedokteran gigi harus memiliki warna visual (shading) dan translusensi yang dapat menyerupai struktur gigi. Translusensi atau opasitas dibuat untuk menyesuaikan dengan warna email dan dentin. b. Strength Tensile dan compressive strength resin komposit ini lebih rendah dari amalgam, hal ini memungkinkan bahan ini digunakan untuk pembuatan restorasi pada pembuatan insisal. Nilai kekuatan dari masing-masing jenis bahan resin komposit berbeda. c. Setting Dari aspek klinis setting komposit ini terjadi selama 20-60 detik sedikitnya waktu yang diperlukan setelah penyinaran. Pencampuran dan setting bahan dengan light cured dalam beberapa detik setelah aplikasi sinar. Sedangkan pada bahan yang

15

diaktifkan secara kimia memerlukan setting time 30 detik selama pengadukan. Apabila resin komposit telah mengeras tidak dapat dicarving dengan instrument yang tajam tetapi dengan menggunakan abrasive rotary.

Sifat mekanis Sifat mekanis pada bahan restorasi resin komposit merupakan faktor yang penting terhadap kemampuan bahan ini bertahan pada kavitas. Sifat ini juga harus menjamin bahan tambalan berfungsi secara efektif, aman dan tahan untuk jangka waktu tertentu. Sifat-sifat yang mendukung bahan resin komposit diantaranya yaitu : a. Adhesi Adhesi terjadi apabila dua subtansi yang berbeda melekat sewaktu berkontak disebabkan adanya gaya tarik menarik yang timbul antara kedua benda tersebut. Resin komposit tidak berikatan secara kimia dengan email. Adhesi diperoleh dengan dua cara. Pertama dengan menciptakan ikatan fisik antara resin dengan jaringan gigi melalui etsa. Pengetsaan pada email menyebabkan terbentuknya porositas tersebut sehingga tercipta retensi mekanis yang cukup baik. Kedua dengan penggunaan lapisan yang diaplikasikan antara dentin dan resin komposit dengan maksud menciptakan ikatan antara dentin dengan resin komposit tersebut (dentin bonding agent). b. Kekuatan dan keausan Kekuatan kompresif dan kekuatan tensil resin komposit lebih unggul dibandingkan resin akrilik. Kekuatan tensil komposit dan daya tahan terhadap fraktur memungkinkannya digunakan bahan restorasi ini untuk penumpatan sudut insisal. Akan tetapi memiliki derajat keausan yang sangat tinggi, karena resin matriks yang lunak lebih cepat hilang sehingga akhirnya filler lepas.

Sifat khemis Resin gigi menjadi padat bila berpolimerisasi. Polimerisasi adalah serangkaian reaksi kimia dimana molekul makro, atau polimer dibentuk dari sejumlah molekul molekul yang disebut monomer. Inti molekul yang terbentuk dalam sistem ini dapat berbentuk apapun, tetapi gugus metrakilat ditemukan pada

16

ujung ujung rantai atau pada ujung ujung rantai percabangan. Salah satu metakrilat multifungsional yang pertama kali digunakan dalam kedokteran gigi adalah resin Bowen (Bis-GMA) . Resin ini dapat digambarkan sebagai suatu ester aromatik dari metakrilat, yang tersintesa dari resin epoksi (etilen glikol dari Bis-fenol A) dan metal metakrilat. Karena Bis-GMA mempunyai struktur sentral yang kaku (2 cincin) dan dua gugus OH, Bis-GMA murni menjadi amat kental. Untuk mengurangi kekentalannya, suatu dimetakrilat berviskositas rendah seperti trietilen glikol dimetakrilat (TEDGMA) ditambahkan.

Mekanisme Perlekatan Resin Komposit pada Struktur Gigi Jika sebuah molekul berpisah setelah penyerapan kedalam permukaan dan komponen-komponen konstituen mengikat dengan ikatan ion atau kovalen. Ikatan adhesive yang kuat sebagai hasilnya. Bentuk adhesive ini disebut penyerapan kimia, dan dapat merupakan ikatan kovalen atau ion. Selain secara kimia perlekatan pada resin komposit juga terjadi secara mekanis atau retensi, perlekatan yang kuat antara satu zat dengan zat lainnya bukan gaya tarik menarik oleh molekul. Contoh ikatan semacam ini seperti penerapan yang melibatkan penggunaan skrup, baut atau undercut. Mekanisme perlekatan antara resin komposit dengan permukaan gigi melalui dua teknik yaitu pengetsaan asam dan pemberian bonding.

Teknik etsa asam Sebelum memasukan resin, email pada permukaan struktur gigi yang akan ditambal diolesi etsa asam. Asam tersebut akan menyebabkan hydroxiapatit larut dan hal tersebut berpengaruh terhadap hilangnya prisma email dibagian tepi, inti prisma dan menghasilkan bentuk yang tidak spesifik dari struktur prisma. Kondisi tersebut menghasilkan pori-pori kecil pada permukaan email, tempat kemana resin akan mengalir bila ditempatkan kedalam kavitas. Bahan etsa yang diaplikasikan pada email menghasilkan perbaikan ikatan antara permukaan email-resin dengan meningkatkan energi permukaan email. Kekuatan ikatan terhadap email teretsa sebesar 15-25 MPa. Salah satu alasannya

17

adalah bahwa asam meninggalkan permukaan email yang bersih, yang memungkinkan resin membasahi permukaan dengan lebih baik. Proses pengasaman pada permukaan email akan meninggalkan permukaan yang secara mikroskopis tidak teratur atau kasar. Jadi bahan etsa membentuk lembah dan puncak pada email, yang memungkinkan resin terkunci secara mekanis pada permukaan yang tidak teratur tersebut. Resin tag kemudian menghasilkan suatu perbaikan ikatan resin pada gigi. Panjang tag yang efektif sebagai suatu hasil etsa pada gigi anterior adalah 7-25 m. Asam fosfor adalah bahan etsa yang digunakan. Konsentrasi 35 %-50 % adalah tepat, konsentrasi lebih dari 50 % menyebabkan pembentukan monokalsium. fosfat monohidrat pada permukaan teretsa yang menghambat kelarutan lebih lanjut. Asam ini dipasok dalam bentuk cair dan gel dan umumnya dalam bentuk gel agar lebih mudah dikendalikan. Asam diaplikasikan dan dibiarkan tanpa diganggu kontaknya dengan email minimal selama 15-20 detik. Begitu dietsa, asam harus dibilas dengan air selama 20 detik dan dikeringkan dengan baik. Bila email sudah kering, harus terlihat permukaan berwarna putih seperti bersalju menunjukan bahwa etsa berhasil. Permukaan ini harus terjaga tetap bersih dan kering sampai resin diletakan untuk membuat ikatan yang baik. Karena email yang dietsa meningkatkan energi permukaan email. Teknik etsa asam menghasilkan penggunaan resin yang sederhana.

Bahan bonding Adhesive dentin harus bersifat hidrofilik untuk menggeser cairan dentin dan juga membasahi permukaan, memungkinkan berpenetrasinya menembus pori di dalam dentin dan akhirnya bereaksi dengan komponen organik atau anorganik. Karena matriks resin bersifat hidrofobik, bahan bonding harus mengandung hidrofilik maupun hidrofobik. Bagian hidrofilik harus bersifat dapat berinteraksi pada permukaan yang lembab, sedangkan bagian hidrofobik harus berikatan dengan restorasi resin. A. Bahan bonding email Email merupakan jaringan yang paling padat dan keras pada tubuh manusia. Email terdiri atas 96 % mineral, 1 % organik material, dan 3 % air.

18

Mineral tersusun dari jutaan kristal hydroksiapatit (Ca10 (PO4)6 (OH)2) yang sangat kecil. Dimana tersusun secara rapat sehingga membentuk perisma email secara bersamaan berikatan dengan matriks organik. Pada perisma yang panjang bentuknya seperti batang dengan diameter sekitar 5 m. Krital hidroksiapatit bentuknya heksagonal yang tipis, karena strukrur seperti itu tidak memungkinkan mendapatkan susunan yang sempurna. Celah diantara kristal dapat terisi air dan material organik. Bahan bonding biasanya terdiri atas bahan matriks resin BIS-GMA yang encer tanpa pasi atau hanya dengan sedikit bahan pengisi (pasi). Bahan bonding email dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan membasahi email yang teretsa. Umumnya, kekentalan bahan ini berasal dari matriks resin yang dilarutkan dengan monomer lain untuk menurunkan kekentalan dan meningkatkan kemungkinan membasahi. Bahan ini tidak mempunyai potensi perlekatan tetapi cendrung meningkatkan ikatan mekanis dengan membentuk resin tag yang optimum pada email. Beberapa tahun terakhir bahan bonding tersebut telah digantikan dengan sistem yang sama seperti yang digunakan pada dentin. Peralihan ini terjadi karena manfaat dari bonding simultan pada enamel dan dentin dibandingkan karena kekuatan bonding. B. Bahan bonding dentin Dentin adalah bagian terbesar dari struktur gigi yang terdapat hampir diseluruh panjang gigi dan merupakan jaringan hidup yang terdiri dari odontoblas dan matriks dentin. Tersusun dari 75 % materi inorganik, 20 % materi organik dan 5 % materi air. Didalam matriks dentin terdapat tubuli berdiameter 0,5-0,9 mm dibagian dentino enamel jungsion dan 2-3 mm diujung yang berhubungan dengan pulpa. Jumlah tubuli dentin sekitar 15-20 ribu /mm Penggunaan asam pada etsa untuk mengurangi terbentuknya microleakage atau kehilangan tahanan tidak lagi menjadi resiko pada resin dipermukaan enamel. Permasalahan timbul pada resin dipermukaan dentin atau sementum. Pengetsaan asam pada dentin yang tidak sempurna dapat melukai pulpa. Dentin bonding terdiri dari : Fungsi dari dentin conditioner adalah untuk memodifikasi smear layer yang terbentuk pada dentin selama proses preparasi kavitas. Yang termasuk dentin

19

conditioer antara lain asam maleic, EDTA, asam oxalic, asam phosric dan asam nitric. Pengaplikasian bahan asam kepermukaan dentin akan menghasilkan reaksi asam basah dengan hidroksiapatit, hal ini akan mengkibatkan larutnya hidroksiapatit yang menyebabkan terbukanya tubulus dentin serta terbentuknya permukaan demineralisasi dan biasanya memiliki kedalaman 4 mm. Semakin kuat asam yang digunakan semakin kuat pula reaksi yang ditimbulkan. Beberapa dari dentin conditioner mengandung glutaralhyde. Glutaralhyde dikenal sebagai bahan untuk penyambung kolagen. Proses penyambungan ini untuk menghasilkan substrat dentin yang lebih kuat dengan meningkatkan kekuatan dan stabilitas dari struktur kolagen. Primer bekerja sebagai bahan adhesive pada dentin bonding agen yaitu menyatukan antara komposit dan kompomer yang bersifat hidrofobik dengan dentin 2 didekat dentino enamel jungtion dan sekitar 45-65 ribu dekat permukaan pulpa. Dentin Conditioner yang bersifat hidrofilik. Oleh karena itu primer berfungsi sebagai prantara, dan terdiri dari monomer bifungsional yang dilarutkan dalam larutan yang sesuai. Monomer bifungsional adalah bahan pengikat yang memungkinkan penggabungan antara dua material yang berbeda. Secara umum bahan pengikat pada dentin primer dapat diformulakan sebaagai berikut. Methacrylategroup-Spacer group-Reaktive group M-S-R

Gambar 4 : Methacrylategroup-Spacer group-Reaktive group. (Cabe FJ, Walls AWG.


th

Applied Dental Materials. 9 ed. USA : Blackwell Scientific Publications, 1984 : 231)

M adalah gugus metakrilat yang memiliki kemampuan untuk berikatan dengan komposit resin dan meningkatkan kekuatan kovalen, S adalah pembuat celah yang biasanya meningkatkan fleksibilitas bahan pengikat. Dan R adalah

20

reactive group yang merupakan gugus polar atau gugus terakhir (membentuk perlekatan dengan jaringan gigi). Ikatan polar ini terbentuk akibat distribusi elektron yang asimetris. Reactive group dalam bahan pengikat ini dapat berkombinasi dengan molekul polar lain di dalam dentin, seperti gugus hidroksi dalam apatit dan gugus 3amino dalam kolagen. Ikatan yang terjadi banyak berupa ikatan fisik tetapi bisa juga dalam beberapa kasus terjadi ikatan kimiawi. Hidroksi ethyl metacrylate (HEMA) adalah bahan pengikat yang paling banyak digunakan. HEMA memiliki kemampuan untuk berpenetrasi kedalam permukaan dentin yang mengalami demineralisasi dan kemudian berikatan dengan kolagen melalui gugus hidroksil dan amino yang terdapat pada kolagen. Aksi dari bahan pengikat dari larutan primer adalah untuk membuat hubungan ataupun ikatan molekular antara poli (HEMA) dan kolagen. Sealer (Bahan pengisi) Kebanyakan sealer dentin yang digunakan adalah gabungan dari Bis-GMA dan HEMA. Bahan ini meningkatkan adaptasi bonding terhadap permukaan dentin. Kepadatan yang terbentuk pada resin komposit melalui mekanisme polimerisesi. Monomer metil metakrilat dan dimetil metakrilat berpolimerisasi dengan mekanisme pilomerisai tambahan yang diawali oleh radikal bebas. Radikal bebas dapat berasal dari aktivitas kimia atau pengaktifan energi eksternal (panas atau sinar) karena komposit gigi penggunaan langsung biasanya menggunakan aktivasi sinar atau kimia kedua sistem ini akan dibahas. Bahan yang diaktifkan secara kimia dipasok dalam dua pasta, satu mengandung inisiator benzoil peroksida dan lainnya mengandung amine tersier (N,N- dimetilp-toluidin). Bila kedua pasta diaduk, amin beraksi dengan benzoil peroksida untuk membentuk radikal bebas dan polimerisasi tambahan dimulai (Gambar 4). Bahanbahan ini digunakan unntuk restorasi dan pembuatan inti yang pengerasannya tidak dengan sumber sinar.

21

Gambar 5: Resin komposit yang diaktifkan secara kimia. (Noort R. Introduction to


rd

Dental Materials 3 ed. London : Mosby Elsevier, 2007 : 105)

Sistem yang pertama diaktifkan dengan sinar menggunakan sinar ultra violet untuk merangsang radikal bebas. Dewasa ini, komposit yang diaktifkan dengan sinar ultra violet telah diganti karna efek cahayanya dapat mengiritasi retina. Sehingga diganti dengan sinar yang dapat dilihat dengan mata (sinar biru). Yang secara nyata meningkatkan kemampuan berpolimerisasi lebih tebal sampai 2 mm. Resin komposit yang mengeras dengan sinar dipasok sebagai pasta tunggal dalam satu semprit. Radikal bebas pemulai reaksi, terdiri atas molekul foto-inisiator dan aktivator amin, yang terdapat dalam pasta ini. Bila kedua komponen tidak terpapar oleh sinar, komponen tersebut tidak bereaksi. Namun, pemamparan terhadapsinar dengan panjang gelombang yang tepat yaitu 468 nm. Dapat merangsang foto-inisiator dan interaksi dengan amin untuk membentuk radikal bebas yang mengawali polimerisasi tambahan. Foto-inisiator yang umum digunakan adalah camphoroquinone, yang memiliki penyerapan berkisar 400 dan 500 nm yang berada pada region biru dari spektrum sinar tampak. Inisiator ini ada dalam pasta sebesar 0,2 % berat atau kurang. Juga ada sejumlah aselelator amin yang cocok untuk berinteraksi dengan camphoroqunone seperti dimetilaminoetil metakrilat 0,15 % berat, yang ada dalam pasta.

22

Gambar : Resin komposit yang diaktifkan dengan penyinaran. (Noort R. Introduction to Dental
rd

Materials 3 ed. London : Mosby Elsevier, 2007 : 105)

3. Glass Ionomer Glass ionomer adalah bahan yang terdiri dari matriks polimer ion cross linked yang mengelilingi partikel filler yang memperkuat glass. Bahan glass ionomer awalnya untuk restorasi yang terdiri dari larutan polyacrylic acid (liquid) yang dicampur dengan alumino-silikat (powder) yang mengandung kalsium dan fluoride. Indikasi glass ionomer: Restorasi gigi anterior klas I, III dan V Restorasi gigi posterior yang kecil dan dangkal yang tidak membutuhkan tekanan yang besar seperti klas I dan II superfsial Restorasi erosi pada daerah gingival Restorasi gigi sulung Memperbaiki tepi restorasi Kontraindikasi glass ionomer: Semen glass ionomer bersifat brittle sehingga tidak digunakan untuk tambalan dibagian oklusal yang menahan daya kunyah yang besar atau berkontak dengan gigi lawan

23

Semen glass ionomer memiliki kekuatan kompresif dan hardness lebih kecil dari semen silikat sehingga mudah pecah.

Keuntungan glass ionomer: o Melekat pada enamel dan dentin secara fisikokimia. Perlekatan ke email lebih pada ke dentin, karena unsur anorganik lebih banyak pada email. Polyacid memiliki potensi perlekatan ke kalsium yang ada di dalam gigi. o Kariostatik oleh karena mengandung fluor o Koefisien muai panas rendah o Translusen o Kekuatan kompresi lebih besar daripada seng fosfat Kekurangan glass ionomer: Rapuh Estetik kurang baik (dibandingkan dengan komposit) Kekuatan tensile kurang Daya abrasi kurang dibanding resin komposit

Pada proses pengadukan kedua komponen (bubuk dan cairan) ion hidrogen dari cairan mengadakan penetrasi ke permukaan bubuk glass. Proses pengerasan dan hidrasi berlanjut, semen membentuk ikatan silang dengan ion Ca2+ dan Al3+ sehingga terjadi polimerisasi. Ion Ca2+ berperan pada awal pengerasan dan ion Al3+ berperan pada pengerasan selanjutnya. Secara garis besar terdapat tiga tahap dalam reaksi pengerasan semen glass ionomer, yaitu sebagai berikut. a. Dissolution Terdekomposisinya 20-30% partikel glass dan lepasnya ion-ion dari partikel glass (kalsium, stronsium, dan alumunium) akibat dari serangan polyacid (terbentuk cement sol). b. Hardening Ion-ion kalsium, stronsium, dan alumunium terikat pada polianion pada grup polikarboksilat. 4-10 menit setelah pencampuran terjadi pembentukan rantai kalsium (fragile & highly soluble in water). 24 jam setelah

24

pencampuran, maka alumunium akan terikat pada matriks semen dan membetuk rantai alumnium (strong & insoluble). c. Hydration of salts Terjadi proses hidrasi yang progresif dari garam matriks yang akan meningkatkan sifat fisik dari semen ionomer kaca. Adhesi adalah daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis pada dua permukaan yang berkontak. Glass ionomer cement adalah polimer yang mempunyai gugus karboksil (COOH) multipel sehingga membentuk ikatan hidrogen yang kuat. Dalam hal ini memungkinkan pasta semen untuk membasahi, adaptasi, dan melekat pada permukaan email. Ikatan antara semen glass ionomer dengan email dua kali lebih besar daripada ikatannya dengan dentin karena email berisi unsur anorganik lebih banyak dan lebih homogen dari segi morfologis. Secara fisik, ikatan bahan ini dengan jaringan gigi dapat ditambah dengan membersihkan kavitas dari pelikel dan debris. Dengan keadaan kavitas yang bersih dan halus dapat menambah ikatan GIC. Air memegang peranan penting selama proses pengerasan dan apabila terjadi penyerapan air maka akan mengubah sifat fisik GIC. Saliva merupakan cairan di dalam rongga mulut yang dapat mengkontaminasi GIC selama proses pengerasan dimana dalam periode 24 jam ini GIC sensitif terhadap cairan saliva sehingga perlu dilakukan perlindungan agar tidak terkontaminasi. Kontaminasi dengan saliva akan menyebabkan GIC mengalami pelarutan dan daya adhesinya terhadap gigi akan menurun. GIC juga rentan terhadap kehilangan air beberapa waktu setelah penumpatan. Jika tidak dilindungi dan terekspos oleh udara, maka permukaannya akan retak akibat desikasi. Baik desikasi maupun kontaminasi air dapat merubah struktur GIC selama beberapa minggu setelah penumpatan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka selama proses pengerasan GIC perlu dilakukan perlindungan agar tidak terjadi kontaminasi dengan saliva dan udara, yaitu dengan cara mengunakan bahan isolasi yang efektif dan kedap air. Bahan pelindung yang biasa digunakan adalah varnis yang terbuat dari isopropil asetat, aseton, kopolimer dari vinil klorida, dan vinil asetat yang akan larut dengan mudah dalam beberapa jam atau pada proses pengunyahan.

25

Penggunaan varnish pada permukaan tambalan glass ionomer bukan saja bermaksud menghindari kontak dengan saliva tetapi juga untuk mencegah dehidrasi saat tambalan tersebut masih dalam proses pengerasan. Varnish kadang-kadang juga digunakan sebagai bahan pembatas antara glass ionomer dengan jaringan gigi terutama pulpa karena pada beberapa kasus semen tersebut dapat menimbulkan iritasi terhadap pulpa. Pemberian dentin conditioner (surface pretreatment) adalah menambah daya adhesif dentin. Persiapan ini membantu aksi pembersihan dan pembuangan smear layer, tetapi proses ini akan menyebabkan tubuli dentin tertutup. Smear layer adalah lapisan yang mengandung serpihan kristal mineral halus atau mikroskopik dan matriks organik.

Lapisan smear layer terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu lapisan luar yang mengikuti bentuk dinding kavitas dan lapisan dalam berbentuk plugs yang terdapat pada ujung tubulus dentin. Sedangkan plugs atau lapisan dalam tetap dipertahankan untuk menutup tubulus dentin dekat jaringan pulpa yang mengandung air.

26

Bahan dentin conditioner berperan untuk mengangkat smear layer bagian luar untuk membantu ikatan bahan restorasi adhesif seperti bahan bonding dentin. Hal ini berperan dalam mencegah penetrasi mikroorganisme atau bahan-bahan kedokteran gigi yang dapat mengiritasi jaringan pulpa sehingga dapat menghalangai daya adhesi. Permukaan gigi dipersiapkan dengan mengoleskan asam poliakrilik 10%. Waktu standar yang diperlukan untuk satu kali aplikasi adalah 20 detik, tetapi menurut pengalaman untuk mendapatkan perlekatan yang baik pengulasan dentin conditioner pada dinding kavitas dapat dilakukan selama 10-30 detik. Kemudian pembilasan dilakukan selama 30 detik pembilasan merupakan hal penting untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, setelah itu kavitas dikeringkan.

Alat polishing glass ionomer :

Perangkat ini di desain untuk finishing dan polishing semen glass ionomer konvesional, resin modified glass ionomer dan compomer: Pengambilan sisa bahan : T&F hybrid point dan Dura white stone Finishing dan mengkontur anatomis gigi: T&F hybrid point dan Dura white stone Untuk polishing: CompoSite Untuk polishing dengan kilap yang tinggi: Ceramist Ultra II

27

BAGIAN ILMU KONSERVASI GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HASANUDDIN Tugas Makassar, 30 september 2013

BAHAN RESTORASI GIGI

Nama Stambuk Penguji

: Nurhaida Lamlanto : J 111 06 101 : drg. Hafsah Katu, M.Kes.

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITRAAN KLINIK PADA BAGIAN ILMU KONSERVASI GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

28