Anda di halaman 1dari 9

BAB 1 PENDAHULUAN latarbelakang

Fraktur orbital atau patah tulang orbital merupakan masalah yang sangat menarik perhatian masyarakat. Banyak kejadian yang tidak terduga yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur orbital, baik Terjadinya hantaman benda tumpul pada bola mata secara tiba-tiba yang menyebabkan fraktur seringkali membuat orang panik dan tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan. Ini disebabkan tidak adanya kesiapan dan kurangnya pengetahuan terhadap fraktur orbital tersebut. Seringkali untuk penanganan fraktur ini tidak tepat, mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang tersedia. Contohnya ada seseorang yang mengalami fraktur orbital Tetapi, karena kurangnya pengetahuan dalam penanganan pertolongan pertama terhadap fraktur, ia pergi ke dukun pijat karena mungkin ia menganggap bahwa gejala fraktur mirip dengan gejala orang yang terkilir. Oleh karena itu, kita harus mengetahui paling tidak bagaimana penanganan pada korban fraktur ini. B. Perumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan fraktur orbital? 2. Apa saja penyebab terjadinya fraktur orbitla? 3. Bagaimana manifestasi klinisnya? 4. Apa saja klasifikasi fraktur orbital? 5. Bagaimana patofisiologi terjadinya fraktur? 5. Apa saja pemeriksaan penunjang pada kasus fraktur orbita? 6. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien fraktur? C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan gambaran asuhan keperawatan pada sistem indera yaitu indera pengelihatan sehingga dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam asuhan keperawatan pada sistem indera. 2. Tujuan Khusus a. Mampu memahami definisi dari fraktur orbita b. Mampu memahami etiologi dari fraktur orbita c. Mampu memahami patofisiologi fraktur orbita

d. Mampu memahami manifestasi klinis fraktur orbita f. Mampu memahami pemeriksaan penunjang dari fraktur g. Mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien fraktur orbita

BAB 2 PENDAHULUAN

2.1 Definisi
Fraktur dinding orbital adalah terputusnya kontinuitas antara jaringan-jaringan pada dinding orbital dengan atau tanpa penglibatan tulang-tulang di daerah sekitarnya.

2.2 Etiologi
Faktor penyebab bervariasi. Kecelakaan lalu lintas merupakan faktor etiologi yang dominan yang bertanggung jawab menyebabkan terjadinya fraktur dinding inferior orbital. Faktor lain fraktur dinding inferior orbital adalah akibat perkelahian. Selain itu, bisa juga diakibatkan karena senjata yang tumpul atau tajam. Faktor etiologi lain yang mengakibatkan fraktur dinding inferior orbital adalah kecelakaan pekerjaan, contohnya jatuh dari tempat yang tinggi atau alat yang jatuh ke kepala, atau kecelakaan ketika berolahraga terutamanya olahraga seperti tinju, kriket, hoki serta sepak bola, tembakan serta gigitan hewan.

2.4 Tanda dan Gejala


Fraktur menimbulkan nyeri yang hebat. Pada daerah yang mengalami fraktur muncul pembengkakan akibat adanya akumulasi darah dan cairan. Akumulasi darah biasanya menyebabkan daerah yang membengkak tampak biru atau ungu (memar). Terkadang dapat terjadi perdarahan pada hidung. Penglihatan dapat terganggu jika kelopak mata juga ikut membengkak dan menutup pandangan, atau pada kasus tertentu dimana terjadi kerusakan pada bola mata, atau jika darah terakumulasi di belakang bola mata dan menekan saraf optik. Fraktur juga bisa mempengaruhi fungsi otot-otot yang menggerakkan mata, sehingga dapat terjadi penglihatan ganda (diplopia) atau menghalangi pergerakan mata ke kanan, kiri, atas, atau bawah. Terkadang gangguan penglihatan dan gangguan pergerakan bola mata dapat disebabkan oleh adanya pecahan tulang yang menekan atau memotong saraf, pembuluh darah atau otot di sekitar mata.

Gejala lainnya adalah: - proptosis (bola mata menonjol keluar) - mati rasa di daerah pipi atau geraham atas. Pada fraktur blow-out terkadang menyebabkan adanya penglihatan ganda, bola mata pada sisi yang terjadi fraktur dapat tenggelam (sunken), bola mata hanya dapat melihat ke bawah, penurunan sensasi terhadap sentuhan dan nyeri di sekitar pipi dan bibir atas (akibat cedera saraf di bawah orbita), atau akumulasi udara pada jaringan di bawah kulit (emfisema subkutis). Emfisema subkutis terjadi jika fraktur pada dasar orbita menyebabkan udara dari hidung atau sinus masuk ke jaringan di sekitar mata, terutama jika penderita menghembuskan udara dari hidung dengan kuat.

2.5 Klasifikasi
Secara umum, fraktur orbital dibagi kepada dua kategori yang luas. Yang pertama merupakan fraktur yang secara relatif eksternal dan melibatkan orbital rim serta tulang-tulang yang berdekatan, sebagai contoh fraktur pada nasoethmoid (nasoorbital) dan fraktur malar. Yang kedua adalah fraktur yang melibatkan tulang secara internal di dalam kavitas orbital. Fraktur ini terjadi tanpa (atau sedikit) penglibatan orbital rim. Fraktur seperti ini biasanya disebut fraktur blow-out atau blow-in. Istilah blowout ini digunakan oleh Converse dan Smith (1950) untuk menggambarkan fraktur pada dinding inferior orbital yang mengarah ke bawah dan memasuki sinus maksilaris. Sebaliknya, blow-in merupakan fraktur yang mengarah ke atas, memasuki orbita. Tanpa penglibatan orbital rim, fraktur ini dipanggil pure blow-out. Jika orbital rim terlibat, maka ianya dikenali sebagai impure blow-out. Dalam kasus ini, lemak orbital dan otot masuk ke dalam sinus maksilaris, menghasilkan enophthalmus. Jika otot rektus inferior dan oblique inferior juga terlibat dalam hal ini, pergerakan bola mata akan menjadi terbatas. Ini dikenal sebagai diplopia.

2.4 Patofisiologi
Terdapat dua teori yang dapat menjelaskan terjadinya fraktur dinding inferior orbital, atau fraktur blow-out. Teori yang predominan mengatakan bahwa fraktur ini disebabkan kenaikan tekanan intraorbital yang terjadi secara mendadak apabila suatu objek yang lebih besar dari diameter orbital rim memukul bola mata, karena kecederaan ini tidak melibatkan orbital rim maka disebut fraktur pure orbita blow-out , fraktur ini juga bisa terjadi pada mayat. Fraktur pure blow-out biasanya terjadi apabila suatu objek tumpul yang lebih besar dari diameter orbital rim seperti tinju, siku, bola baseball, bola tenis, atau bola hoki. Isi orbital akan terkompresi ke posterior, mengarah ke arah apeks orbita. Oleh karena bagian posterior orbita tidak bisa mengakomodasi peningkatan volume jaringan ini, tulang orbital akan patah di titik yang paling lemah yaitu pada dinding inferiornya. Jika daya terjadi dari objek yang lebih kecil dari diameter orbital rim, bola mata akan ruptur atau isi orbital mengalami kerusakan, tanpa terjadinya fraktur.

Teori yang kedua menyatakan bahwa suatu objek yang mengenai orbita dengan keras akan mengakibatkan daya yang menekan pada inferior orbital rim dan seterusnya akan merusak dinding inferior orbital. Teori ini juga menjelaskan bagaimana fraktur blow-in terjadi. penyebab utama mekanisme terjadinya fraktur adalah daya yang mengenai orbital rim. .

2.2 Pathways 2.9 Penataksanaan


Jika fraktur menjepit saraf atau otot, atau mendorong bola mata ke belakang, dilakukan perbaikan tulang wajah melalui pembedahan. Jika fraktur tidak menimbulkan kerusakan pada struktur yang vital, dilakukan pemasangan tulang kembali pada tempatnya dengan bantuan lempengan logam kecil dan sekrup atau kawat.

2.10 Pemeriksaan penunjang a. CT scan dilakukan untuk menilai luasnya fraktur.

BAB 3 ASKEP TEORI 3.2 PENGKAJIAN


Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
Pengkajian Menurut Doengoes, ME (2000) pengkajian fraktur meliputi : 1. Aktivitas/istirahat Tanda : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri) 2. Sirkulasi Gejala : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas), atau hipotensi (kehingan darah) 3. Neurosensori Gejala : Hilang gerak/sensasi,spasme otot, Kebas/kesemutan (parestesis) Tanda : Demormitas local, angulasi abnormal, pemendakan, krepitasi (bunyi berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi). 4. Nyeri/kenyamanan Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. 5. Keamanan Tanda : Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan lokal. Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba). 6. Penyuluhan/Pembelajaran Gejala : Lingkungan cedera Pertimbangan : DRG menunjukkan rata-rata lama dirawat : femur 7-8 hari, panggul/ pelvis 6-7 hari, lain-lainya 4 hari bila memerlukan perawatan dirumah sakit.

3.2DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17). Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan fraktur orbital meliputi : 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas. 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak edekuatan oksigenasi, ansietas, dan gangguan pola tidur. 3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik. 4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan. 5. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan. 6. Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.

3.3 INTERVENSI DAN IMPLEMENTAS Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994:20) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40). Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture Olecranon (Wilkinson, 2006) meliputi : a. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial, digambarkan dalam istilah seperti kerusakan ; awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan. Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang. Kriteria Hasil : - Nyeri berkurang atau hilang - Klien tampak tenang. Intervensi dan Implementasi : a. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif b. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri c. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri. d. Observasi tanda-tanda vital. R/ untuk mengetahui perkembangan klien e. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik R/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri. 2. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan. Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. Kriteria hasil : - perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri. - pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu. - Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik. Intervensi dan Implementasi : a. Rencanakan periode istirahat yang cukup. R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal. b. Berikan latihan aktivitas secara bertahap. R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini. c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan. R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali. d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.

R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan. 3. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan. Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai. Kriteria Hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. - luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. - Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. Intervensi dan Implementasi : a. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. b. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka. R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi. c. Pantau peningkatan suhu tubuh. R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan. d. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas. R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi. e. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement. R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya. f. Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan. R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi. g. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi. 4. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih. Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. Kriteria hasil : - penampilan yang seimbang.. - melakukan pergerakkan dan perpindahan. - mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik : 0 = mandiri penuh 1 = memerlukan alat Bantu. 2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran. 3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu. 4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas. Intervensi dan Implementasi : g. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan. R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi. h. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.

R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan. i. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu. R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal. j. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. k. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi. R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien. 5. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit. Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol. Kriteria hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. - luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. - Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. Intervensi dan Implementasi : a. Pantau tanda-tanda vital. R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. b. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. c. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll. R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. d. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit. R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen. 6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi. Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan. Kriteria Hasil : - melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan. - memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan. Intervensi dan Implementasi: a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. b. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang. R/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. c. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya. R/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.

d. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan. R/ mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. IV. EVALUASI Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001). Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah : 1. Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan. 2. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. 3. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai 4. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. 5. Infeksi tidak terjadi / terkontrol 6. Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M. 1993. Medical Surgical Nursing. W.B Sainders Company : Philadelpia Boedihartono, 1994, Proses Keperawatan di Rumah Sakit. EGC : Jakarta. Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta. Brunner dan Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta. E. Oerswari 1989, Bedah dan Perawatannya, PT Gramedia. Jakarta Nasrul, Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC. Jakarta. Sjamsuhidajat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC : Jakarta Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner & Suddarth, Edisi 8. EGC : Jakarta. FKUI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara : Jakarta