Anda di halaman 1dari 6

Note : Kelompok 1 : Hadley, Rabecca, Delila Kelompok 2: Puput, Tiara, Agien Kelompok 3: Beuty, Feri, Neni Kelompok 4: Inne,

Denis, Suci Yang namanya ditandai warna merah sebagai ketua dalam kelompok tersebut yang tugasnya mengumpulkan data dari anggotanya. Kemudian dikirimkan ke sekmej dan dipastikan bahwa semua analisis dan LI ada jawabannya. Jawaban diketik rapi kertas A4, font times new roman, fontsize 12, spasi 1,5, rata kirikanan. Jangan lupa Cantumkan sumber Klarifikasi istilah yang blum lengkap tolong dicari ya... Terimakasih atas kerjasamanya teman-teman

Klarifikasi Istilah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Konstipasi Tremor Schuffner LED Widal titer DC : Susah buang air besar : Gemetar / menggigil yang involunter : : Laju Endap Darah : Tes aglutinasi untuk mendeteksi demam typhoid :

Analisis Masalah 1. Nn. C, 19 tahun , dating ke RSMH dengan keluhan utama demam terus menerus, terutama sore dan malam, demam turun pagi hari sejak 2 minggu SMRS. a) Bagaimana Mekanisme Demam yang sesuai dengan scenario ini? (Kelompok 1) b) Mengapa demam yang diderita Nn. C bersifat remitten? (kelompok 2)

c) Apa hubungan gejala dan usia ? (kelompok 3)

2. Nn. C mengeluh bibirnya kering dan pecah-pecah (rhagaden), lidah kotor, mual dan konstipasi. a) Bagaimana Mekanisme dari : Bibir kering dan pecah-pecah (rhagaden) (kelompok 4) Faktor - Faktor Penyebab Bibir Kering Dan Pecah Pecah

Kebiasaan menjilat bibir dengan air liur Perubahan suhu yang membuat bibir tak dapat beradaptasi Polusi udara dan debu Makanan yang terlalu asam atau asin Merokok, kebiasaan minum kopi atau minuman alkohol Kurangnya konsumsi buah atau sayuran Kurang minum air Menggunakan kosmetik yang bahan kimianya terlalu keras Karena alergi terhadap kosmetik tertentu Pasta gigi yang mengandung banyak detergen

Read more: http://okecin.blogspot.com/2012/05/penyebab-bibir-kering-dan-pecahpecah.html#ixzz2AD7dz8pg Mual (kelompok 2) Lidah kotor (kelompok 3) Konstipasi (kelompok 4)

b) Apa hubungan antara gejala 2a dengan demam ? (kelompok 1)

3. Pemeriksaan Fisik : Keadaan umum sakit sedang, sensoriumkompos mentis TD : 120/70 mmHg, N: 86x/menit, RR: 20x/menit, Temperatur: 400C Keadaan Spesifik : Kepala : bibir pecah-pecah, lidah berselaput putih kekuningan, kotor ditengah, tepi dan ujung merah serta tremor (Coated tounge) Abdomen : Hepar teraba 1 jari di bawah arcus costae, lien teraba schuffner 1. a) Bagaimana interpretasi dari data hasil pemeriksaan fisik Pemeriksaan vital sign (kelompok 3)

Pemeriksaan kepala (kelompok 4) Kepala dan leher

Kepala tidak ada bernjolan, rambut normal, kelopak mata normal, konjungtiva anemia, mata cowong, muka tidak odema,pucat/bibir kering, lidah kotor, ditepi dan ditengah merah, fungsi pendengran normal leher simetris, tidak ada pembesaran kelenja rtiroid. Pemeriksaan abdomen (kelompok 1) b) Apa sebab kelainan pada data hasil pemeriksaan fisik (kelompok 2) c) Bagaimana cara pemeriksaan fisik Pemeriksaan vital sign ( kelompok 4)

Cara Pemeriksaan Suhu Badan :Pemeriksaan pada mulu (oral) Kibaskan termometer sampai permukaan air raksa menunjukkan di bawah 35,5C. Masukkan termoneter di bawah lidah penderita. Mintalah penderita untukmenutup mulut, dan tunggu sampai 2-3 menit. Kemudian bacalah termometert e r s e b u t , p a s a n g k a n l a g i s e l a m a s a t u m e n i t , d a n b a c a k e m b a l i . K a l a u s u h u masih naik ulangi prosedur diatas sampai suhu tetap (tidak naik lagi). Apabilap e n d e r i t a b a r i m i n i m d i n g i n a t a u p a n a s , p e m e r i k s a a n d e n g a n c a r a ini harusditunda selama 101 5 m e n i t d u l u a g a r m i n u m a n t i d a k m e m p e n g a r u h i h a s i l pengukuran.Pemeriksaan pada rektum :1 . P e m e r i k s a a n m e l a l u i r e k t u m i n i b i a s a n ya d i l a k u k a n t e r h a d a p b a yi a t a u pasien dewasa yang mengalami renjatan ( shock)2.Pilihlah termometer dengan ujung yang bulat, beri pelumas dan masukkandalam anus sedalam 3 -4 cm, dengan arah ke arah umbikulus, cabut dan baca setelah 3 menitC a t a t a n : p a d a p r a k t i k n y a , u n t u k m e n g h e m a t w a k t u p a d a s a a t m e n u n g g u pengukuran suhu juga dibarengi dengan pemeriksaan nadi dan napaas. Pemeriksaan pada ketiak 1.Kibaskan termometer sampai permukaan air raksa menunjukkan di bawah 35,5C.2 . T e m p a t k a n u j u n g t e r m o m e t e r y a n g b e r i s i a i r r a k s a p a d a a p e x f o s s a aksilaris kiri dengan sendi bahu adduksi maksimal3.Tunggu sampai 3 5 menit, kemudian dilakukan pembacaan Cara pemeriksaan frekuensi nadi : 1.Penderita dapat dalam posisi duduk ataupun be rbaring.Lengan dalam posisi bebas ( rileks, perhiasan dan jam tangan dilepas )

2.Periksalah denyut nadi pergelangan tangan dengan menggunakan j a r i telunjuk dan jari tengah tangan anda dengan menekkan a.radialis padapergelangan tangan, pada sisi fleksor bagian lateral dari tangan penderita 3 . H i t u n g l a h b e r a p a d e n yu t a n d a l a m 1 m e n i t d e n g a n c a r a h i t u n g d e n yu t a n dalam 15 detik, kemudian hasilnya dikalikan dengan 4. Perhatikan pulairama dan kuantitas denyutnya. Catatlah hasil pemeriksaan dari lengankanan dan kiri. Cara pemeriksaan frekuensi napas : 1.Penderita diminta melepaskan baju 2.Secara inspeksi, perhatikan secara menyeluruh gerakan pernapas a n ( lakukan ini tanpa mempengaruhi psikis penderita ). 3.Kadang diperlukan cara palpasi, untuk sekalian m e n d a p a t k a n perbandingan antara kanan dan kiri. 4.Pada inspirasi, perhatikanlah : gerakan ke samping iga, pelebaran s u d u t epigastrium dan penambahan besarnya ukuran antero posterior dada. 5.Pada ekspirasi, perhatikanlah : masuknya kembali iga, penyempitan sudutepigastrium, dan penurunan besarnya ukuran antero posterior dada 6.Perhatikan pula adanya penggunaan otot pernapasan pembantu 7.Catatlah irama, frekuensi, dan adanya kelainan gerakan Cara Pemeriksaan Tekanan Darah : Siapkan tensimeter dan stetoskop Penderita dapat dalam keadaan duduk dan berbaring L e n g a n d a l a m k e a d a a n b e b a s d a n r e l a k s , b e b a s k a n d a r i t e k a n a n o l e h karena pakaian Pasang manset sedemikian rupa sehingga melingkari lengan atas secara rapi dan tidak terlalu ketat, kira-kira 2,5 cm di atas siku Tempatkan lengan penderita sedemikian sehingga siku dalam keadaan sedikit ekstensi Carilah arteri brakialis, biasanya terletak di sebelah medial tendo biseps. Dengan satu jari meraba A.brakialis, pompa manset dengan cepats a m p a i k i r a k i r a 3 0 m m H g d i a t a s t e k a n a n k e t i k a p u l s a s i A . b r a k i a l i s menghilang Turunkan tekanan manset perlahan-perlahan sampai denyutan A.brakialisteraba kembali. Inilah tekanan sistolik palpatoir Sekarang ambillah stetoskop, pasangkan corong bel stetoskop pada A.brakialis Pompa manset kembali, sampai kurang lebih 30 mmHg di atas tekanan sistolik palpatoir Kemudian secara perlahan turunkan tekanan manset dengan kecepatan kira-kira 3-4 mmHg / detik. Perhatikan saat di mana denyutan A.brakialist e r d e n g a r . B u n yi y a n g t e r d e n g a r s e t e l a h m a n s e t d i k e mpiskan disebutB u n y i K o r o t k o f f . H a l i n i d i g u n a k a n u n t u k m e n e n t u k a n s e c a r a k a s a r tekanan sistollik. Lanjutkanlah penurunan tekanan manset

sampai suaradenyutan melemah dan kemudian menghilang. Bunyi yang pertama kalim u n c u l m e n u n j u k k a n t e k a n a n s i s t o l i k s e d a n g k a n b u n y i y a n g t e r a k h i r seb elum menghilang menunjukkan tekanan diastolik. Apabila menggunakan tensimeter air raksa, usahakan agar p o s i s i manometer vertikal dan pada waktu membaca hasilnya, mata h a r u s berada segaris horizontal dengan level air raksa Pengulangan pengukuran dilakukan beberapa menit setelah pengukuran pertama.

Pemeriksaan kepala (kelompok 3) Pemeriksaan abdomen (kelompok 2)

4. Pemriksaan Penunjang : Hb :11,5 gr%, WBC : 3.000 mm3, trombosit 184.000 mm3, LED 40 mm/jam DC: 0/0/2/76/18/4, widal titer O: 1/640 a) Bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan penunjang ? (kelompok 1) b) Apa sebab hasil abnormal pada pemeriksaan penunjang? (kelompok 3)

Learning issue : Demam Typhoid ( kelompok 1) Pemeriksaan Fisik a. Vital sign (kelompok 2) b. HEENT (kelompok 3) c. Abdomen (kelompok 4) Pemeriksaan penunjang a. LED (kelompok 4) b. DC (kelompok 2) c. Widal test (kelompok 1)

1. Christie AB. Typhoid and Paratyphoid Fevers in : Infectious Disease Vol. 1, 4 th ed. Churchill Livingstone : Medical Division of Longman Group UK Limited, 1987 : 100. 2. Hoffman S. : Typhoid fever in Warren KS dan Mahmpud AAF (eds) : Tropical and Geographical ed ke 2, New York, Mc Graw-Hill Information Services Co. (1990).

3. Pang T, Koh KL, Puthucheary SD (eds) : Typhoid fever : Strategies for the 90s, Singapore, World Scientific, (1992). 4. Krugman S, Katz SL, Gershon AA, Wilfred CM (eds) Infectious disease in children, ed ke 9, St. Louis, Mosby Yerabook Inc. (1992). 5. Cleary Th G. Salmonella species in longess, Pickerling LK, Praber CG. Principles and Practice of Pediatric Infectious Disease Churchill Livingstone, New York 1nd ed, 2003 : hal. 830.