Anda di halaman 1dari 15

HIV dalam Kehamilan

Pembimbing:
dr. Semuel, Sp. OG

Oleh:
Desyi (2011-061-109)

Departemen Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan


RS Bhayangkara TK. I R. Said Sukanto
Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya
Periode 19 Agustus 2013 14 September 2013
Jakarta 2013

BAB I
PENDAHULUAN
HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang
sistem kekebalan tubuh manusia. Bila virus HIV tersebut menjadi tak terkendali dan telah
menyerang tubuh dalam jangka waktu lama maka infeksi virus HIV tersebut dapat berkembang
menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).
Virus HIV berbahaya bagi tubuh karena menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga
mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan virus, bakteri dan jamur yang menyebabkan
penyakit infeksi. HIV menyebabkan tubuh menjadi rentan untuk terkena beberapa jenis kanker &
infeksi yang biasanya secara normal dapat dilawan oleh kekebalan tubuh misalnya infeksi
pneumonia & meningitis. HIV sendiri dapat ditularkan melalui cairan vagina, air mani ataupun
darah penderita HIV yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini biasanya terjadi melalui hubungan
seksual, baik secara oral, anal maupun vaginal transfusi darah yang terinfeksi HIV pemakaian
jarum suntik secara bersama-sama ataupun dari ibu hamil yang terkena HIV kepada bayi yang di
kandungnya pada saat hamil ataupun saat melahirkan. HIV sendiri tidak dapat ditularkan melalui
kontak sehari-hari seperti : sentuhan, berpelukan, berciuman dan berjabat tangan.
Khusus untuk resiko penularan dari ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada bayi yang di
kandungnya pada masa persalinan biasanya terjadi karena : adanya tekanan pada plasenta
sehingga terjadi sedikit pencampuran antara darah ibu dengan darah bayi (lebih sering terjadi
jika plasenta mengalami radang/infeksi), bayi terpapar darah & lendir serviks pada saat melewati
jalan lahir atau karena bayi kemungkinan terinfeksi akibat menelan darah & lendir serviks pada
saat resusitasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Epidemiologi
Pada akhir 1999 diperkirakan bahwa terdapat sekitar 4,2 juta HIV positif Afrika Selatan,
hampir separuh di antaranya adalah perempuan dalam masa reproduksi. Diperkirakan bahwa ada
50.000 anak-anak yang positif HIV, penularan HIVnya terutama melalui penularan dari ibu
mereka. Lebih dari 90% dari infeksi HIV pada anak-anak yang diakuisisi oleh penularan dari ibu
ke bayi mereka. Kebanyakan bayi yang terinfeksi mendapatkan infeksi mereka dekat dengan
menyusui. Risiko bayi mendapatkan virus dari ibu yang terinfeksi berkisar dari 25% sampai
35%.
Di Indonesia, hingga akhir Juni 2005 tercatat 7.098 kasus HIV/AIDS (3.740 kasus HIV
dan 3.358 kasus AIDS). Meskipun secara umum prevalensi HIV di Indonesia tergolong rendah
(kurang dari 0,1%), tetapi sejak tahun 2000 Indonesia telah dikatagorikan sebagai negara dengan
tingkat epidemi terkonsentrasi karena terdapat kantung-kantung dengan prevalensi lebih dari 5%
pada beberapa populasi tertentu. Contohnya, kasus HIV/AIDS pada pengguna narkoba suntikan
sebesar 40%. Karena mayoritas pengguna narkoba suntikan yang terinfeksi HIV berusia
reproduksi aktif, maka diperkirakan jumlah kehamilan dengan HIV positif akan meningkat di
Indonesia.
Etiologi
Seperti halnya penanggulangan penyakit pada umumnya, usaha pertama yang selalu
harus diusahakan adalah mencari penyebab resiko transmisi HIV antara ibu dan anak.
Faktor-faktor resiko yang mempengaruhi transmisi HIV antara ibu dan anak,
Faktor ibu
Faktor kebiasaan
Faktor obstetri
Faktor viral
Faktor lain

Faktor-faktor Ibu
Status kekebalan:
Risiko MTCT meningkat dengan tingkat keparahan defisiensi imun. Perempuan dengan jumlah
CD4 rendah (<200> partikel viral 50.000 atau lebih / ml).
Penatalaksanaan
1.

Konseling Dan Tes HIV Sukarela


Konseling HIV menjadi salah satu komponen standar dari pelayanan kesehatan ibu
dan anak dan layanan keluarga berencana di tiap jenjang pelayanan kesehatan.
Penatalaksanaan konseling dan tes HIV sukarela untuk pencegahan penularan HIV dari ibu
ke bayi mengikuti Pedoman Nasional Konseling dan Tes HIV Sukarela. Tes HIV dilakukan
kepada semua ibu hamil (routine HIV testing) di seluruh rumah sakit rujukan Odha yang
telah ditetapkan pemerintah. Ibu hamil menjalani konseling dan diberikan kesempatan untuk
menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV atau tidak.
Konseling dan pengujian sukarela harus tersedia kepada semua wanita hamil. Manfaat
untuk perempuan mengetahui status HIV-nya mencakup kemampuan untuk membuat
informasi pilihan tentang pemberian makanan bayi, perawatan bagi ibu dan anak, peluang
untuk mengakhiri kehamilan sesuai indikasi dan hukum, dan kemampuan untuk membuat
keputusan tentang aktivitas seksual dan kesuburan untuk selanjutnya. VCT (Voluntary
Counseling and Testing) juga mengedepankan adanya keterbukaan, penerimaan atas HIV
positif
Komponen pra-test konseling
Privasi
Kerahasiaan
Menjelaskan atau menentukan alasan untuk pengujian
Memberikan informasi tentang HIV dan AIDS, dan kehamilan
Memberikan informasi tentang tes HIV, termasuk konsep "periode jendela"
Review implikasi positif dan negatif hasil tes
Informasi tentang prosedur pengujian
Informed consent

Komponen Post-Test Konseling


Interaksi pribadi dengan klien (tidak lewat telepon)
Memberikan hasil tes HIV segera setelah pengujian mungkin
Berurusan dengan perasaan yang timbul dari hasil positif dan negatif
Pencegahan infeksi dan "periode jendela"
Diskusikan apa yang mendukung dan kebutuhan wanita
Diskusikandengan siapa klien mungkin ingin berbagi hasil
Mengidentifikasi kesulitan klien meramalkan dan bagaimana menangani mereka
Mendorong perempuan untuk mengajukan pertanyaan
Memberikan informasi tentang gaya hidup sehat, medis
Di daerah prevalensi HIV tinggi yang tidak terdapat layanan pencegahan penularan
HIV dari ibu ke bayi, untuk menentukan faktor-faktor risiko ibu hamil digunakan beberapa
kriteria, seperti memiliki penyakit menular seksual, berganti-ganti pasangan, pengguna
narkoba, dll. Layanan tes HIV dipromosikan dan dimungkinkan bagi laki-laki dan
perempuan yang merencanakan untuk memiliki bayi.
Pada tiap jenjang pelayanan kesehatan yang memberikan konseling dan tes HIV
sukarela dalam paket pelayanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga berencana,
harus terdapat tenaga petugas yang mampu memberikan konseling sebelum dan sesudah tes
HIV. Pada pelayanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga berencana yang
memberikan layanan konseling dan tes HIV sukarela, konseling pasca tes (post-test
counseling) bagi perempuan HIV negatif memberikan bimbingan untuk tetap HIV negatif
selama kehamilan, menyusui, dan seterusnya. Pada tiap jenjang pelayanan kesehatan
tersebut harus terjamin aspek kerahasiaan ibu hamil ketika mengikuti proses konseling
sebelum dan sesudah tes HIV. Untuk program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi,
pemerintah memberikan bantuan biaya konseling dan tes HIV bagi ibu hamil di tiap jenjang
layanan kesehatan.
Kita mengetahui bayi bisa terinfeksi HIVV jika dites HIV, sebagian besar bayi yang
dilahirkan oleh ibu HIV-positif menunjukkan hasil positif. Ini berarti ada antibodi terhadap
HIV dalam darahnya. Namun bayi menerima antibodi dari ibunya, agar melindunginya

sehingga sistem kekebalan tubuhnya terbentuk penuh. Jadi hasil tes positif pada awal hidup
bukan berarti si bayi terinfeksi. Jika bayi ternyata terinfeksi, sistem kekebalan tubuhnya
akan membentuk antibodi terhadap HIV, dan tes HIV akan terus-menerus menunjukkan
hasil positif. Jika bayi tidak terinfeksi, antibodi dari ibu akan hilang sehingga hasil tes
menjadi negatif setelah kurang-lebih 6-12 bulan. Sebuah tes lain, serupa dengan tes viral
load dapat dipakai untuk menentukan apakah bayi terinfeksi, biasanya beberapa minggu
setelah lahir.
2.

Pemberian Obat Antiretroviral


Protokol pemberian obat antiretroviral (ARV) untuk ibu hamil HIV positif mengikuti
Pedoman Nasional Pengobatan ARV di Indonesia. Pemerintah menyediakan ARV untuk ibu
hamil HIV positif secara gratis untuk mengurangi risiko penularan HIV ke bayi. Pemerintah
juga menyediakan ARV secara gratis untuk tujuan pengobatan jangka panjang jika ibu atau
anaknya telah membutuhkan ARV untuk mempertahankan kualitas fisiknya.
Terapi antiretroviral (ART) berarti mengobati infeksi HIV dengan beberapa obat.
Karena HIV adalah retrovirus, obat ini biasa disebut sebagai obat antiretroviral (ARV).
ARV tidak membunuh virus itu. Namun, ART dapat memperlambat pertumbuhan virus.
Waktu pertumbuhan virus diperlambat, begitu juga penyakit HIV. Ibu HIV-positif dapat
mengurangi risiko bayinya tertular dengan memakai obat antiretroviral (ARV) dan menjaga
proses kelahiran tetap singkat dan menghindari menyusui.
Penggunaan ARV: Risiko penularan sangat rendah bila terapi ARV (ART) dipakai.
Angka penularan hanya 12 persen bila ibu memakai ART. Angka ini kurang-lebih 4 persen
bila ibu memakai AZT selama enam bulan terahkir kehamilannya dan bayinya diberikan
AZT selama enam minggu pertama hidupnya.
Namun jika ibu tidak memakai ARV sebelum dia mulai sakit melahirkan, ada dua cara
yang dapat mengurangi separuh penularan ini.AZT dan 3TC (LI 424) dipakai selama waktu
persalinan, dan untuk ibu dan bayi selama satu minggu setelah lahir.
Satu tablet nevirapine (LI 431) pada waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu
tablet lagi diberi pada bayi 2-3 hari setelah lahir. Menggabungkan nevirapine dan AZT
selama persalinan mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen. Namun, resistansi
terhadap nevirapine dapat muncul pada hingga 20 persen perempuan yang memakai satu

tablet waktu hamil. Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai kemudian oleh ibu.
Resistansi ini juga dapat disebarkan pada bayi waktu menyusui. Walaupun begitu, terapi
jangka pendek ini lebih terjangkau di negara berkembang.
Menjaga proses kelahiran tetap singkat waktunya: Semakin lama proses kelahiran,
semakin besar risiko penularan. Bila si ibu memakai AZT dan mempunyai viral load di
bawah 1000, risiko hampir nol. Ibu dengan viral load tinggi dapat mengurangi risiko dengan
memakai bedah Sesar.
3.

Pemberian Makanan Bayi


Ibu pasca melahirkan dianjurkan tidak menyusui. Kurang-lebih 14 persen bayi
terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi. Risiko ini dapat dihindari jika bayinya diberi
pengganti ASI (PASI, atau formula). Namun jika PASI tidak diberi secara benar, risiko lain
pada bayinya menjadi semakin tinggi. Jika formula tidak bisa dilarut dengan air bersih, atau
masalah biaya menyebabkan jumlah formula yang diberikan tidak cukup, lebih baik bayi
disusui.
Yang terburuk adalah campuran ASI dan PASI. Mungkin cara paling cocok untuk
sebagian besar ibu di Indonesia adalah menyusui secara eksklusif (tidak campur dengan
PASI) selama 3-4 bulan pertama, kemudian diganti dengan formula secara eksklusif (tidak
campur dengan ASI).

4.

Intervensi Untuk Mencegah Transmisi HIV Ibu-Ke-Anak


Ada berbagai intervensi yang telah terbukti atau disarankan untuk mengurangi MTCT
(Mother to child transmission).
a. Intervensi kebiasaan

Pencegahan HIV primer:


Mencegah infeksi HIV di kalangan perempuan, dan laki-laki, usia produktif
adalah metode terbaik untuk mengurangi kemungkinan MTCT.

Mencegah infeksi HIV baru


Infeksi HIV baru selama kehamilan (dan menyusui) dapat meningkatkan
viraemia HIV yang akan meningkatkan risiko MTCT Wanita hamil harus

disarankan aktivits seksual yang lebih aman, termasuk konsisten pada


penggunaan kondom.

Pengobatan penyakit menular seksual (PMS):


Pengobatan yang efektif dari setiap STD (Sexual Transmitted Disease) dan
infeksi kelamin lainnya akan mengurangi kemungkinan infeksi plasenta (Chorioamnionitis) dan mengurangi risiko MTCT.

b. Interventions Therapeutic

Nutrisi suplemen:
Suplemen gizi (besi, folat, multivitamin dan vitamin A) harus secara rutin
diberikan dari diagnosis awal kehamilan sampai persalinan. Suplemen ini telah
terbukti menghasilkan peningkatan kualitas kehamilan, termasuk mengurangi
insiden masih lahir, lahir prematur dan berat lahir rendah.

c. Intervensi Kebidanan

Vaginal higiene:
MTCT mungkin terjadi selama transmisi karena adanya darah dan lendir di jalan
lahir. Penelitian telah menunjukkan bahwa pembersihan vagina dengan larutan
antiseptik berhubungan dengan pengurangan MTCT dan perbaikan hasil
perinatal

Artificial rupture of membranes (AROM)


Pecah ketuban selama lebih dari 4 jam sebelum pengiriman dikaitkan dengan
peningkatan MTCT. AROM rutin harus dihindari dalam perempuan HIV positif
atau negatif. AROM hanya boleh dilakukan jika ada indikasi spesifik.

Trauma

Janin
Trauma janin harus dihindari. Pengisapan kuat pada bayi tidak dianjurkan karena
hal ini dapat menyebabkan trauma pada selaput lendir. Pengisapan hanya
dilakukan dengan indikasi cairan ketuban mekoneal. Hal ini di tujukan untuk
membuang cairan ibu dari bayi.

Ibu
Episiotomi sebaiknya dihindari. Episiotomi seharusnya hanya dilakukan untuk
indikasi obstetri, misalnya pada kala 2 yang memanjang.

Mode transmisi
Meskipun operasi caesar elektif telah terbukti untuk mengurangi risiko MTCT,
tapi adanya kendala biaya mahal dan tidak praktis dengan adanya peningkatan
risiko komplikasi pasca operasi. Operasi elektif rutin juga sebaiknya dihindari.

5. Pengelolaan Wanita Hamil Positif HIV


Management pada wanita hamil positif HIV sangat spesial dan unik. Hal ini termasuk
memperluas layanan konseling sukarela dan tes HIV untuk ibu hamil, dan penguatan
kehamilan, intrapartum dan perawatan post partum. Termasuk penyediaan kebutuhan
lingkungan sosial yang mendukung bagi oang dengan positif HIV serta anak-anak yatim
piatu karena orang tua yang telah meninggal karena HIV atau karena sebuah epidemi.
Strategi pengelolaan yang optimal wanita hamil positif HIV memerlukan berikut ini:

Mendukung kesehatan dan lingkungan sosial

Non-diskriminasi dan non-stigmatisasi

Konseling

a. Antenatal care
Perawatan antenatal pada wanita hamil positif HIV, tidaklah berbeda dengan wanita
dengan HIV negatif. Tetap harus dilakukan pemeriksaan fisik lengkap, penilaian
kehamilan risiko tinggi dan pengawasan janin antepartum.
b. Intervensi gizi
Suplemen vitamin harus dimulai pada kehamilan pertama kunjungan. Multivitamin dan
Vitamin A dalam tertentu telah terbukti efektif dalam meningkatkan kekebalan tubuh.
Rekomendasi
Multivitamin 3x sehari
Vitamin A 200 000 unit setiap hari
Ferrous sulfat 2 kali sehari
Asam folat 1dosis harian
c. Medical Intervention

Infeksi Spesifik

Infeksi saluran kemih (ringan


Perawatan
o Amoxicillin 500 mg tiga kali sehari
o Cotrimoxazole (untuk digunakan pada trimester kedua dan ketiga hanya 80/400 mg) dua tablet tiga kali sehari selama 7-10 hari.

Pneumocystis carinii pneumonia


Profilaksis:
Profilaksis harus dimulai ketika jumlah CD4 di bawah 200/ml, atau bila ada tandatanda klinis defisiensi imun maju.
o Trimetoprim / sulfametoksazol (cotrimoxazole) (80/400mg) dua tablet sehari,
atau Dapson 100 mg tiga kali seminggu, bagi perempuan sensitif terhadap
cotrimoxazole
Pengobatan:
Berikut harus diberikan, sebaiknya melalui rute oral:
o Trimetoprim / sulfametoksazol 20/100 mg / kg / hari dalam 4 dosis terbagi
selama 14-20 hari. Jika perempuan itu tidak mampu menelan, ini harus
diberikan secara intravena.
o Dalam orang-orang yang hipoksia, prednison 40 mg per hari harus diberikan
untuk 10-14 hari pada awalnya.

Cervicitis
Pengobatan:
o Ampicillin 500 mg empat kali sehari
o Metronidazol 400 mg tiga kali sehari selama 5 hari.

Kandidiasis
Kandidiasis vagina atau vulva
Pengobatan:
o Preparat antijamur Canesten, Canstat atau nistatin pessaries selama 7 hari
Larutan 1 sendok teh cuka dalam 250 ml air untuk pembersihan vagina
douching dan dua kali sehari, atau gentian violet dua kali sehari selama 7-10
hari.

Kandidiasis sistemik
Pengobatan:
o Ketoconazole 200-400 mg oral sehari selama 5-7 hari
o Clotrimazole 100 mg pessaries satu setiap malam selama 7-10 malam.
o Untuk immuno-compromised berat pada perempuan, dberlakukan untuk
waktu yang cukup lama.

Diare
o Perlakuan awal untuk memperbaiki elektrolit dan keseimbangan regulasi.
o Jika infeksi, berikan cotrimoxazole (trimetoprim / sulfametoksazol 80/400
mg) secara oral 2 tablet dua kali sehari selama 5 hari

Modus transmisi harus diperhatikan dan direncanakan sebelumnya, yaitu:


o Hindari amniotomi
o Antibiotik profilaksis pada wanita dengan jumlah CD4 kurang dari 200/ml;
dimana terdapat tanda-tanda AIDS atau defisiensi kekebalan yang parah atau
ketuban pecah selama lebih dari 4 jam
o Hindari episiotomi, tindakan invasif dan prosedur lain
o Perhatikan teknik aseptik seluruh tenaga kerja.
o Gunakan Chlorhexidine 0,25% untuk vulva dan vagina toilet saat melakukan
pemeriksaan digital internal.
o Periksa dan mengelola infeksi saluran kemih

Teknik pembersihan vagina


Sebelum pemeriksaan vagina sebaiknya membersihkan daerah kemaluan
wanita dengan larutan chlorhexidine menggunakan botol semprot atau pembersih.
Saluran vagina dibersihkan dengan larutan chlorhexidine 0,25% selama pemeriksaan
vagina. Menambahkan 12.5ml chlorhexidine dengan 5 liter air membuat 0,25%
chlorhexidene persiapan. Bungkus yang tebal atau kain kasa ganda Bagian yang
vulvae dengan bersarung tangan kiri dan hati-hati membersihkan seluruh permukaan
vagina dengan penyeka basah. Membuang penyeka dan menjaga daerah vulva
berpisah sementara memeriksa memasukkan jari-jari, sebaiknya menggunakan krim
chlorhexidene, untuk pemeriksaan vagina

Caesarean section
Konsep dasar intervensi PMTCT (Prevention Mother To Child Transmission) sendiri
adalah:
o Kurangi jumlah ibu hamil dengan HIV positif.
o Turunkan viral load (muatan virus HIV) pada tubuh si ibu hamil melalui
pemberian ART (Terapi obat Anti Retroviral).
o Meminimalkan paparan janin/bayi dengan cairan tubuh ibu HIV positif
melalui pemilihan cara persalinan yang sesuai (baik kelahiran secara
pervaginam ataupun persalinan melalui cara Sectio Caesarean Elektif/SC
elektif).
o Optimalkan kesehatan ibu dengan HIV positif.
o Dahulu setiap ibu dengan HIV positif pasti akan selalu dianjurkan untuk
melahirkan secara SC untuk menghindari resiko penularan HIV kepada bayi
yang dikandungnya. Tetapi manfaat SC sendiri dapat terjadi bila yang
dilakukan adalah prosedur SC elektif (bayi dilahirkan melalui operasi section
caesarean pada saat usia kandungan 38 minggu / belum menunjukkan tandatanda kelahiran seperti pecah ketuban) dan apabila SC dilakukan sesudah
terjadinya pecah ketuban maka resiko penundaan yang terjadi setiap jamnya
akan sama dengan persalinan pervaginam. Dan karena persalinan pervaginam
juga memiliki keuntungan tersendiri maka untuk saat ini persalinan
pervaginam dapat dilakukan oleh ibu dengan HIV positif asalkan sang ibu
memenuhi persyaratan yang dibutuhkan, yaitu:
o Sebelumnya telah dilakukan konseling kepada ibu dengan HIV positif &
pasangan mengenai manfaat serta resiko dari persalinan pervaginam dan
persalinan dengan SC elektif.
o Ibu dengan HIV positif selama masa kehamilannya teratur minum ARV, atau
o Muatan virus / viral load tidak terdeteksi pada tubuh ibu dengan HIV positif
(untuk pemeriksaan muatan virus ini dianjurkan pada usia kehamilan 36
minggu keatas).
o Ibu hamil HIV positif perlu mendapatkan konseling sehubungan dengan
keputusannya untuk menjalani persalinan secara operasi seksio sesarea

ataupun persalinan normal. Pelaksanaan persalinan, baik secara operasi seksio


sesarea maupun persalinan normal, harus memperhatikan kondisi fisik dari ibu
hamil HIV positif. Tindakan menolong persalinan ibu hamil HIV positif, baik
secara operasi seksio sesarea maupun persalinan normal, mengikuti standar
kewaspadaan universal yang biasa berlaku untuk persalinan ibu hamil HIV
negatif. Untuk program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi,
pemerintah memberikan bantuan layanan persalinan gratis kepada ibu hamil
HIV positif.
o Profilaksis untuk sectio caesarian:

Metronidazol 400 mg secara oral tiga kali sehari selama 5 hari atau
supositoria 500mg setiap 12 jam selama tiga hari.

Ampisilin 1 g IV di induksi anestesi umum,

Cefazolin 1-2 g intravena pada induksi anestesi umum. Ini dapat


diulangi setelah post operasi

6. Pasca Melahirkan
Penggunaan syntometrine, jika tidak kontraindikasi dapat digunakan untuk
menghentikan pendarahan. Perempuan HIV-positif dalam periode pasca-melahirkan harus
diawasi secara ketat. Perempuan dengan AIDS atau defisiensi kekebalan yang parah harus
diberi antibiotik selama 7-10 hari.
a. Makanan Bayi Pilihan
Ibu hamil HIV positif perlu mendapatkan konseling sehubungan dengan
keputusannya untuk menggunakan susu formula ataupun ASI eksklusif. Untuk
mengurangi risiko penularan HIV melalui pemberian ASI, ibu HIV positif bisa
memberikan susu formula kepada bayinya.
Pada daerah tertentu dimana pemberian susu formula tidak memenuhi persyaratan
AFASS dari WHO (Acceptable = mudah diterima, Feasible = mudah dilakukan,
Affordable = harga terjangkau,

Sustainable

= berkelanjutan,

Safe =

aman

penggunaannya), maka ibu HIV positif dianjurkan memberikan ASI eksklusif hingga
maksimal tiga bulan atau lebih pendek jika susu formula memenuhi AFASS sebelum tiga
bulan.

Setelah usai pemberian ASI eksklusif, bayi hanya diberikan susu formula dan
menghentikan pemberian ASI. Sangat tidak direkomendasikan pemberian makanan
campuran (mixed feeding) untuk bayi dari ibu HIV positif, yaitu ASI bersamaan dengan
susu formula dan makanan/minuman lainnya.
Untuk program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi, pemerintah
menyediakan susu formula generik secara gratis kepada ibu hamil HIV positif jika susu
formula memenuhi AFASS. Susu formula generik tersebut disimpan di pusat, dan
didistribusikan secara rutin sesuai dengan kebutuhan daerah. Depot di daerah difungsikan
untuk menyimpan susu formula. Pengadaan susu formula harus terpusat untuk menjamin
ketersediaan susu formula generik dan mencegah terjadinya promosi susu formula
terhadap ibu yang HIV negatif.
b. Obat dalam wanita hamil positif HIV setelah melahirkan
-

Multivitamin tablet 1 dua kali sehari

Vitamin A 200 000

Ferrous sulfat 1 dua kali sehari

Ergometrine 1 tablet dua kali sehari jika perlu

Amoxycillin 500 mg tiga kali sehari selama 5-7 hari

Metronidazol 400 mg tiga kali sehari

c. Pencegahan

penyakit

menular

seksual

dan

Keluarga

Berencana

Diskusikan bentuk-bentuk lain kontrasepsi, termasuk sterilisasi permanen, baik laki-laki


(vasektomi) dan perempuan (ligasi tuba). Dianjurkan untuk menyediakan metode
penghalang untuk mencegah infeksi kelamin dan kehamilan pada masa depan, setelah
konseling komprehensif.
7. Penghentian Kehamilan
Wanita hamil positif HIV yang telah menjalani penghentian kehamilan harus menerima
antibiotik. Pengobatan infeksi kelamin yang jelas merupakan wajib sebelum prosedur
dilakukan.
Rekomendasi:
-

Cefazolin 1-2 g intravena pada induksi anestesi umum. Ini dapat diulangi setelah
selesai operasi

Ampisilin 1 g IV di induksi anestesi umum,

Metronidazol 400 mg secara oral tiga kali sehari selama 5 hari atau supositoria
500mg setiap 12 jam selama tiga hari.