Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Evaluasi merupakan bagia integral dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, karena dengan melaksanakan evaluasi efisiensi dan efektivitas kegiatan dapat terkontrol. Begitu pula dengan kegiatan belajar mengajar, sperti penentuan kemampuan belajar peserta didik, oleh karena itu penulis menyusun makalah ini untuk dapat memperjelas pemahaman kita tentang cara mengevaluasi peserta didik. Adapun alat-alat yang digunakan unutk mengevaluasi peserta didik diantaranya ialah Taksonomi bloom dan jenis alat evaluasi. Pada taksonomi bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan ini di bagi menjadi tiga domain yaitu : ranah kognitif, ranah apektif, dan ranah psikomotorik. Ketiga ranah tersebut dapat membantu kita untuk mengukur sejauh mana kemampuan siswa dalam suatu kegiatan. Secara garis besar alat evaluasi yang dapat digunakan digolongkan menjadi dua jenis, yaitu non tes dan tes. Seringkali kedua jenis alat evaluasi tersebut dinamakan teknik evaluasi. Jadi teknik evaluasi mencakup teknik non tes dan teknik tes. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian diatas dapat kita ambil rumusan masalah yaitu apakah taksonomi bloom ini dapat di jadikan sebagai alat unutk mengevaluasi kemampuan siswa.

BAB I I PEMBAHASAN ALAT EVALUASI A. TAKSONOMI BLOOM Di dalam suatu pelajaran itu guru menentukan Tujuan Instructional Umum (TIU) yang dijabarkan dalam Tujuan Instruktional Khusus (TIK), materi yang disajikan kegiatan belajar mengajar berorientasi pada CBSA, buku sumber yang digunakan, pendekatan dan metode yang dipilih, alat peraga peraga/media yang digunakan, serta alat evaluasinya. Penentuan TIU dan TIK yang pertama kali disusun dalam suatu pelajaran menunjukkan bahwa system pengajaran yang dilakasanakan berorientasi pada tujuan. Dengan demikian penentuan seluruh komponen suatu pelajaran harus berdasarkan pada tujuan instruksional yang telah ditentukan terlebih dahulu. Tujuan instruksional khusus sebagai penjabaran dari tujuan instruksional umum harus dirumuskan dengan menggunakan Kata Kerja Operasional (KKO), ini berarti rumusan TIK tersebut harus dapat dibuat alat evaluasinya. Dalam pembuatan dan pelakasanaan evaluasi, unutk memperoleh rumusan tujuan instruktional yang operasional, tujuan tersebut harus diklasifikasikandalam bentuk yang lebih terinci. Klasifikasi tujuan yang dikemukakan oleh benyamin S. Bloom dan kawan-kawan (1956). Yang dikenal dengan taksonomi bloom, lebih banyak dipergunakan. Bloom dan kawan-kawan membagi tujuan pendidikan ke dalam tiga daerah (domain), yaitu: 1. Daerah kognitif (cognitive domain). 2. Daerah Afektiv (affektive domain), dan 3. Daerah psikomotorik (psychomotorik domain). Secara lebihh terinci uraian mengeanai ketiga daerah tujuan pendidikan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Daerah Kognitif Daerah kognitif mencakup tujuan-tujuan yang berkenan dengan kemampuan berpikir, yaitu berkenan dengan pengenalan pengetahuan, perkembangan kemampuan dan keterampilan intelektual (akal). Daerah koognitif merupakan pusat dan mempunyai peran yang sangat penting dalam pengemmbangan kurikulum dan pengembangan evaluasi berupa tes.

Daerah kognitif terdiri dari anam tahap yang tersusun mulai dari

kemampuan

berpikir yang paling simpel (rendah, sederhana) menuju kepada kemampuan berpikir yang paling kompleks (tinggi) yang merupakan suatu kontinum. Keenam tahap berpikir tersebut seringkali di sebut jenjang kognitif. a. Pengetahuan (knowledge) Jenjang kognitif yang paling sederhana (simple) disebut jenjang pengetahuan (knowledge) atau ingatan (recall) atau komputasi. Pada jenjang kognitif ini siswa dituntut unutk mampu mengenali atau mengingat kembali (memory) pengetahuan yang telah disimpan di dalam skemata struktur kognitifnya. Hal-hal yang termasuk kedalam jenjang kognitif ininadalah berupa pengetahuan tentang fakta dasar, terminologi (peristilahan), atau manifulasi yang sifatnya sudah rutin. Rumusan TIK yang akan mengukur jenjang kognitif ini, biasanya menggunakan KKO diantaranya : mendifinisikan, menyebutkan kembali, menuliskan, mengidentifikaasi, mengurutkan, membedakan, memilih, menunjukkan,

menyatakan, dan menghitung. Secara terinci, jenjang pengetahuan ini mencakup hal-hal seperti berikut ini. Pengetahuan tentang fakta yang sfesifik Dalam hal ini siswa dituntut untuk mengingat kembali materi yang mirip sama dengan materi yang telah dipelajarinya dalam kegiatan belajar mengajar. Contoh : 1. TIK : diberikan beberapa bilangan cacah dan bukan bilangan cacah. Siswa (kelas 1 SMP) dapat memilih bilangan yang bukan anggota himpunan bilangan cacah. Soal : bilangan yang tidak termasuk anggota himpunan bilangan cacah adalah : a) 0 b) c) 3 d) 4 2. TIK : diberikan beberapa buah operasi biner pada bilangan real, siswa (kelas 1 SMP) dapat menentukan operasi yang tidak terdefinisi.
3

Soal : operasi yang tidaka terdifinisi pada sistem bilangan real adalah : a) 3 + 0 b) 3 0 c) 3 : 0 d) 0 3 Pengetahuan Tentang Terminologi Dalam hal ini siswa dituntut mengingat kembali istilah-istilah atau simbol-simbol yang berkenaan dengan konsep matematika. Contoh : 1. TIK : siswa dapat mengingat kembali definisi himpunan kosong. Soal : himpunan yang tidak mempunyai anggota adalah...... 2. TIK : siswa dapat mengingat kembali definisi faktorial. Soal : arti dari 5 adalah : a) 5.5.5.5.5 b) 5.4.3.2.1 c) 5 + 4 + 3 + 2 + 1 d) 5 . 4/3 Kemampuan untuk mengerjakan algoritma (manipulasi) rutin, soal yang termasuk kategori ini, jika siswa terbiasa mengerjakan soal tersebut sehingga tidak memerlukan pola berpikir yang baru. Soal tersebut telah banyak dilatihkan oleh guru, baik berupa pekerjaan rumah atau latihan disekolah. Bisa berupa soal yang persis sama dengan soal yang telah dijelaskan atau dilatihkan atau mirip. Contoh : TIK : siswa dapat mengerjakan operasi pengurangan bilangan bulat. Soal : 6 (-3) = ..... b. Pemahaman (comprehension) Tahap pemahaman sifatnya lebih komples dari pada tahap pengetahuan. Untuk dapat mencapai tahap pemahaman terhadap suatu konsep matematika, siswa harus mempunyai pengetahuan (knowledge) terhadap konsep tersebut. Jadi tahap pemaham insklusif terhadap tahap pengetahuan.
4

Rumusan TIK yang dapat mengukur jenjang kognitif ini biasanya menggunakan KKO membedakan, mengubah, menginterprestasikan, menentukan membuktikan,

menyelesaikan, mennggeneralisasikan, memberikan contoh, menyederhanakan, mensubtitusi.

Secara terinci, jenjang kognitif tahap pemahaman ini mencakup hal-hal berikut ini : Pemahaman konsep Perbedaan antara pengetahuan mengetahui konsep dengan pengetahuan mengenai fakta spesifik tidak tedefinisi secara tegas. Suatu konsep terbentuk dari komponen konsep, dan komponen ini merupakan suatu fakta yang spesifik. Dengan demikian suatu konsep dapat dipandang sebagai kumpulan fakta spesifik yang saling terkait secara fungsionall. Contoh : TIK : siswa dapat mengurutkan bilangan rasional, dari yang terkecil ke yang terbesar. Soal : urutkan bilangan rasional dari yang terkecil ke yang terbesar berikut ini adalah ; a) b) c) d) e)

4 3 1 7 4 , , , , 3 2 3 8 3 1 3 7 4 3 , , , , 3 4 8 3 2 3 4 7 3 1 , , , , 2 3 8 4 3 7 3 4 3 1 , , , , 8 4 3 2 3 3 1 3 7 4 , , , , 2 3 4 8 3

Pemahaman prinsip, aturan, dan generalisasi Soal-soal yang berkenaan dengan aspek ini berkenaan dengan hubugan antara konsep dengan elemennya. Contoh : TIK : Siswa dapat menentukan sifat yang berlaku pada suatu pecahan.
5

Soal : jika pembilang dan penyebut suatu pecahan dilakukan dengan bilangan yang sama, maka : a) Pecahan menjadi lebih kecil b) Mengasilkan pecahan lain yang bernilai sama c) Pecahan menjadi lebih besar d) Hasilnya tergantung dari pengalinya Pemahaman terhadap struktur matematika Soal yang berkenaan dengan jenjang kognitif ini menuntut siswa unutk memahami tentang sifat-sifat dasar dalam struktur matematika. Contoh : TIK : dengan mengguakan sifat distrubutif, siswa dapat mencari nilai dari variabel dalam suatu persamaan. Soal : Nilai p dari 3 26 = (3 p) + (3 6) Adalah....... a) 2 b) 6 c) 20 d) 26 Kemampuan untuk membuat transformasi Kemampuan ini dimaksudkan sebagai kemampuan siswa unutk dapat menguabah suatu bentuk matematika tertentu menjadi bentuk lain. c. Aplikasi (Application) Aplikkasi atau penerapan adalah proses berpikir yang setingkat lebih tinggi dari pemahaman. Dalam jenjang koognitif aplikasi seorang siswa diharapkan telah memiliki kemampuan untuk memilih, menggunakan, dan menerapkan dengan tepat suatu teori atau cara pada situasi baru. Tahap aplikasi ini melibatkan sejumlah respon. Respon tersebut di transfer ke dalam situasi baru yang berarti konteksnya berlainan.

KKO dalam rangka perumusan TIK yang berkenan dengan jenjang kognitif ini di antaranya adalah : menggunakan, menerapkan, menghubungkan,

menggeneralisasikan, menyusun, dan mengklasifikasikan. Bloom dan kawan-kawan merinci jenjang kognitif ini ke dalam empat bagian, yaitu : Kemampuan untuk menyelesaikan maslah rutin Masalah rutin adalah masalah atau soal yang materinya sejenis dengan bahan pelajaran, begitupun cara penyelesaiannya. Contoh : TIK :siswa dapat menentukan sebuah bilangan dalam basis 7 yang merupakan bilangan prima ganjil. Soal : bilangan dalam basis 7 berikut ini yang merupakan bilangan prima ganjil adalah : a) 11 b) 12 c) 13 d) 14 Kemampuan untuk membandingkan Soal yang termasuk kedalam tahap ini menunutu siswa unutk dapat membandingkan antara dua kelompok informasi atau lebih kemudian memberikan penilaian berupa keputusan. Perhitungan bisa digunakan dan pengetahuan yang relevan biasanya diperlukan. Kemudian penalaran dan berpikir logik sangat diperlukan. Contoh : TIK : diberikan beberapa dua buah data, siswa dapat menentukan data terbesar dan rata-ratanya. Soal : berikut ini adalah gaji tahunan yang diterima oleh 10 orang pekerja. Rp 4.000.000,00 Rp 5.500.000,00 Rp 6.000.000,00 Rp 4.500.000,00 Rp 8.500.000,00 Rp 5.000.000,00 Rp 5.000.000,00 Rp 6.500.000,00 Rp 7.000.000,00 Rp 6.000.000,00

Manakah gaji terbesar dan berapa gaji rata-rata ? Kemampuan untuk menganalisis data
7

Kemampuan

ini

melibatkan

kemampuan

membaca,

mengumpulkan,

menginterprestasi, dan memanipulasi informasi. Kemampuan lainnya adalah menilai suatu permaslahan ke dalam bagian-bagian sehingga dapat di bedakan antara informasi yang relevan dengan yang tidak relevan, serta mampu unutk mengaitkan setiap sub masalah. Contoh : TIK : siswa dapat mengidentifikasi dan mengambil keputusan terhadap masalah yang dihadapi. Soal : amin ingin membeli 6 pasang kaos kaki. Toko X menjualnya 2 pasang dengan harga Rp 1.250,00. Untuk kaus kaki yang sama, toko y menjual 3 pasang dengan harga Rp 1.500,00. Agar ekonomik, amin harus membeli : a) Pada toko X b) Pada toko Y c) Dari kedua toko tersebut tidak ada perbedaan d) Dari data dalam soal tersebut tidak dapat ditentukan Kemampuan mengenal pola, ismorfisme, dan simetri. Kemampuan ini melibatkan kemampuan mengingat kembali informasi yang relevan, mentransformasi komponen-komponen masalah, memanipulasi data, dan mengenal hubungan. Contoh : TIK : ditentukan sebuah kesamaan dengan beberapa variabel, siswa dapat mencari nilai salah satu variabelnya dinyatakan dengan variabel lain. Soal : jika x dan y dua bilangan real yang berlainan dan xz + yz, maka z sama dengan : a) 0 b) 1 c) x y d) x/y e) 1/x y d. Analisis (analysis)

Jenjang kognitif berikutnya yang singkat lebih tinggi dari aplikasi adalah analisis, yaitu suatu kemampuan untuk merinci atau menguraikan suatu masalah (soal) menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (komponen) serta mampu unutk memahani hubungan di antara bagian-bagian tersebut. Kemampuan siswa untuk dapat memecahkan masalah non rutin termasuk ke dalam tahap ini, yaitu kemampuan untuk mentrasfer pengetahuan matematika yang telah dipelajari terhadap konteks baru. Pemecahan masalah ini berupa menguuraikan suatu masalh menjadi bagian-bagian dan meneliti, mengkaji, serta menyusun kembali bagian tersebut menjadi suatu kesatuan sehingga merupakan penyelsaian akhir. Tahap analisis ini di bagi mejadi 3 jenis, yaitu: Analisis terhadap elemen Dalam hal ini siswa dituntut unutk mampu mengidentifikasi unsur-unsur yang terkandung dalam suatu hubungan. Contoh : TIK : dengan menggunakan suatu konsep pemfaktoran siswa dapat menentukan himpinuan penyelesaian suatu persamaan eksponen. Soal : nilai maksimum dari x yang memenuhipersamaan 2 . 8 x + 4 . 8x 9 = 0 Adalah a) 4 b) 3/2 c) 2/3 d) 1/2 e) 1/3 Analisis hubungan Dalam hal ini siswa dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengecek ketepatan hubungan dan interakasi antara unsur-unsur dalam soal, kemudian membuat keputusan sebagai penyelesaiannya. Contoh : TIK : siswa dapat menentukan nilai variabel dari suatu persamaan kuadrat.
9

Soal : nilai x dari persamaan kuadrat. ax2 + bx + c = 0, a 0 danmemenuhi hubungan a + b + c = 0 adalah : a) b/a b) c/a c) a+b/b d) b/a e) c/a Analisis terhadap aturan Hal ini dimaksudkan sebagai analisis tentang pengorganisasian, sistematika, dan struktur yang ada hubungannya satu sama lain, baik secara eksplisit maupun implisit. Misalnya kemampuan mengorganisasi kembali bentuk dan aturan-aturan tertentu yang ada hubungannya dengan teknik yang digunakan dalam penyelesaian soal. Contoh : TIK : siswa dapat menyelesaikan soal, jika ditentukan aturan dalam soal tersebut. Soal : jika m dan n menyatakan dua buah bilangan ganjil dan m > n, tentukan bilangan bulat terbesar yang habis membagi bilangan-bilangan dengan bentuk umumm m2 n2 e. Sintesis (syntesis) Suatu kemampuan berpikir yang yang merupakan kebalikan dari proses analisis adalah sintesis. Sintesis adalah suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logik sehingga menjelma menjadi suatu pola struktur atau bentuk baru. Soal-soal yang berkaitan dengan tahap ini adalah soal yang

menuntut kemampuan siswa untuk menyusun kembali elemen masalah dan merumuskan suatu hubungan dalam penyelesaiannya. KKO unutk tahap sintesis ini diantaranya : menentukan, mengaitkan,, menyusun, membuktikan, menemukan, mengelompokan, dan menyimpulkan. Ada dua bagian yang termasuk pada tahap ini, yaitu:
10

Kemampuan unutk menemuikan hubungan Soal-soal yang berkenan dengan tahap iniberupa kemampuan siswa unutk menyusun kembali elemen-elemen masalah dan merumuskan suatu hubungan dalam penyelsaiannnya. Kemampuan untuk menyususn pembuktian suatu pembuktian haruslah disusun secar logis dan sistematis berdasarkan teorema-teorema, konsep-konsep, atau definisi-definisi yang telah sipahami. Biasanya pembuktian disusun dari yang diketahui menuju kepada hal yang harus dibuktikan, tetapi bisa pula dengan mengerjakan salah satu ruasnya hingga sam dengan ruas yang lainnya. Perlu diketahui bahwa membuktikan buka berarti memberi contoh, meskipun contoh itu sebanyak-banyaknya. Jadi membuktikan tidak boleh melalui contoh, pembuktian matematika sifatnya harus berlaku umum (deduktif formal). f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi adalah jenjang kognitif yang tertinggi dalam jenjang kognitif menurut bloom dan kawan-kawan. Evaluasi merupakan kemampuan seseorang unutk dapat memberikan pertimbangan terhadap situasi, ide, metode, berdasarkan suatu patokan atau kriteria. Setelah pertimbangan dilaksanakan dengan matang maka kesimpulan diambil berupa suatu keputusan. KKO unutk mengukur tahap ini, di antaranya : menilai, mempertimbangkan, membandingkan, memutuskan, mengkritik, merumuskan, memvalidasi, dan menentukan. Bloom, B. S. Membagi jenjang kognitif ini menjadi dua bagian, yaitu: Kemampuan unutk mengkritik pembuktian Hal ini berupa kemmampuan siswa unutk memberi komentar, mengupas, menambah, mengurangi, atau menyusun kembali suatu pembuktian

matematika yang telah dipelajari. Kemampuan unutk merumuskan dan memvalidasi generalisasi Tahap ini sejalan dengan tahap analisis, tetapi lebih kompleks. Dalam tahap ini siswa dituntut untuk merumuskan dan memvaliditasi suatu hubungan.
11

2) Daerah AfektiF Daerah afektif adalah daerah atau hal-hal yang berhubunagan dengan sikap (attitude) sebagai manifestasi dari minat (interest), motivasi (motivation),kecemasan

(anxiety),apresiasi perasaan (emotional appretiation), penyesuaian diri (self adjustment),bakat (aptitude), dan semacamnya. Menurut krathwohl urutan kejadian dalam proses belajar merupakan konsep yang lebih luas dan menunjukan pertumbuhan yang lebih mendalam yang membuat individu menjadi sadar dan kemudian menimbulkan sikap , pendirian ,pegangan ,dan penguatan yang tidak dapat dipisah lagi, sehingga menimbulkan pendapat dan pendirian yang bernilai yang tidak terlepas dari pengaruh tingkah lakunya. Karna itu daerah kognitif mempengaruhi daerah afektif. Karna proses belajar mengajar adalah sustu kegiatan yang disadari , maka perubahan tingkah laku siswa dalam bidang afektif pun harus disadari, baik oleh guru atau pun oleh siswanya sendiri. Oleh guru kesadaran ini dalam bentuk rumusan struksional yang dirumuskannya. Rumusan tujuan yang beriorentasi pada bidang afektif ini dikomunikasikan terhadap siswa sehingga dapat menggugah semangat atau minat siswa untuk mempelajari bahan pelajaran dengan sungguh-sungguh. Meskipun guru jarang sekali merumuskan TIK dalam satuan pelajaran berkenaan dengan bidang afektif , secara implicit sudah tercakup dalam rumusan tujuan dalam bidang kognitif. Evaluasi untuk bidang afektif ini tentunya tidak persis sama dengan cara evaluasi bidang koognitif ,jka evaluasi dalam bidang koognitif disebut tes atau evaluasi dalam hasil beajar , evaluasi dalam bidang afektif dikategorikan dalam evaluasi non tes. Ada berbagai alat untuk mengevaluasi bidang afektif ini, ada;ah sekala sikap yang dikembankan oleh likert, Thursstone, Guttman, dan diferensial semantic. 3). Daerah Psikomotorik Perkembangan daerah psikomotorik di kembangkan oleh Anita Harrow(1972). Ia mengklasifikasikan tijuan dalam bidang ini mulai dari gerakan sederhana sampai pda gerakan yang kompes, yitu gerakan reflex, gerakan dasar ,gerakan keterampilan, dan gerakan komunikasi. Klasifikasi tersebut pada kenyataannya tidaklah terpisah satu sama lain , bersamaaan atau berurutan.
12

Contoh bidang psikomotorik dalam kegiatan belajar mengajar matematika adalah:

a) Keteramilan dalam membuat seketsa b) Keterampilan dalam melukis obyek geometris; dengan menggunakan sepasang segitiga siku-siku atau jangka dalam membuat garis sumbu, garis bagi sudut , garis tinggi , garis berat, segi banyak beraturan atu sebagainya. c) Keterampilan menggunakan kalkulator d) Bagi para calon guru matematika, bias berupa eterampila membuat dan

menggunakan alat pelajaran, alat peraga ,berbicara, menjelaskan, dan memberikan cntoh yang tepat Evaluasi bidang psikomotorik ini akan lebih efektif bila dilaksanakan melalui pengamatan (observasi) berupa perbuatan dan lisan daripada evaluasi tertulis. B. JENIS ALAT EVALUASI Secara garis besar alat evaluasi dapat digunakan digolongkan menjadi dua jenis yaitu, non tes dan tes. Seringkali kedua jenis alat evaluasi tersebut dinamakan teknik evaluasi , jadi teknik alat evaluasi mencakup teknik non tes dan tes 1. Teknik Non Tes Teknis non tes biasanya digunakan untuk mengevaluasi bidang afektif atau psikomotorik. Hal ini bias dilakukan dengan cara sebagi berikut a) Angket (Questionare) Angket adalah sebuah daftar pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab oleh orang yang akan dievaluasi (responden). Angket berfungsi sebagai alat pengumpulan data. Data tersebut berupa kedataan atau data diri, pengalaman pengetahuan ,sikap pendapat mengenai suatu hal . Dalam kegiatan evaluasi belajar yang menjadi responden adalah siswa, guru,kepala sekolah,atau petugas pendidikan lainnya. Data yang akan dikumpulkan melalui angket itu berkisar pada kondisi atau kedaan siswa ,guru dan petugas pendidikan lainnya , kegiatan belajar mengajar ,sarana dan perasarana secara fasilitas lainnya. Angket tidak untuk menguji responden. Tetapi lebih mengutamakan pencarian atu pengungkapan responden.

13

Menurut jenisnya angket terbagi menjadi beberapa macam. Bila klasifikasinya berdasarkan pada kebebasan responden dalam memberikan jawaban terbagi atas: i. ii. Angket terbuka ,dan Angket tertutup

Sebuah angket disebut terbuka berupa petanyaan dan responden bebas mejawabnya karna memang tidak disediakan jawabannya untuk dipilih. Responden harus menyusun sendiri jawaban yang dipandangnya relevan denagan materi yang ditanyakan. Sebaliknya jikaa angket tersebut memuat jawaban atua menyediakan jawaban sehingga responden hanya tinggal memilihnya , angket seperti ini digolongkan ke dalam jenis angket tertutup. Bila klasifikasi angket digolongkan berdasarkan atas hubungan antara responden dengan jawaban yang di berikan, angket digolongkan atas : i. ii. Angket tak ansung , dan Angket lansung

Pada angket langsung responden diminta mwnjawab angket tersebut mengenai informasi atau keterangan yang berkenaan dengan dta drinya sendiri. Sedangkan angket tak langsung menhgendaki jawaban yang berkenaaan denagan keterangan atau informasi dari luar responden. Dari jenis agket diatas kita mempunya 4 jenis yang berlainan sebagai hasil dari perpaduan dari masing-masin jenis , yaitu sebagai berikut: i. ii. iii. iv. Angket terbuka langsung Angket terbuka tak langsung Angket tertutup tak langsung,dan Angket tertutup tak langsung Bila dilihat dari kontruksi pertanyaanya ,angket terbuka dan tertutupdapat diuraikan lagi menjadi berbagi macam , angket jenis tertutup biasanya mempunyai jenis item pertanyaan /pernyataan bentuk ya/tidak ,pilihan ganda, skala

bertingkat,bentuk daftar cek , pada angket terbuka mempunyai dua kemungkinan jawaban dalam itemnya , yakni bentuk pengisian jawaban singkat dan pengisian jawaban terurai.

14

Angket sebagai instrument evaluasi mempunyai beberapa keunggulan dari kelemahan. Keunggulan-keunggulan yang dapat dipetik dengan menggunakan angket adalah : i) Biaya relatif murah Bila ingin mengetahui informasi atau data pada sejumlah responden yang cukup banyak dan tempatnya tersebar, kita dapat mengumpulkan data yang dimaksud secara rentak dan efisien dengan menggunakan angket. Angket dibuat kemudian disebarkan, bias oleh kita sendiri,oleh orang laen,atau melalui pos. Dengan demikian biaya akan bias ditekan minimal dari pada mendatangi sendiri setiap responden. ii) Penyebaran angket tidak perlu ahli dalam bidangnya Penyebar angket lebih berfungsi sebagai penyebar semata-mata tidak perlu orang yang mempunyai keahlian , sehingga orang yang diperlukan mudah dicari. Beberapa kelemahan penggunaan angket diantaranya adalah : i) Angket hanya disebarkan untuk responden yang tidak buta huruf Bagi responden yang tidak mampu baca tulis atau tidak mengerti materi yang dinyatakan , angket sulit untuk dilaksanakan . angket tidak mampu menjelaskan keraguan responden dalam mengisi jawaban ataupun bila responden ataupun bila responden ingin mengetahui pokok permasalahan yang sebenarnya ingin diketahui oleh pembuat angket itu. Sebagai contoh , bila respondennya masih disekolah dasar dengan kelas rendah ,tentulah penyebaran angket tidak bisa dilakukan. ii) Angket yang baik sukar disusun Membuat angket yang tepat, mudah dipahami responden,isinya tidak menyimpang dengan informasi yang dikehendaki bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah. Seringkali angket ditafsirkan salah oleh responden. Pada angket yang sulit diisi, umumnya responden sendiri kurang yakin dengan apa yang diisikannya. Hal ini mengakibatkan data yang diperoleh tidak sesuai lagi dengan kenyataan sebenarnya. Berikut ini diberikan contoh beberapa item angket tertutup dan terbuka i ). Angket Tertutup 1. Apakah anda tinggal dengan ayah dan ibu kandunng? a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda belajar pada malam hari ?
15

a. Ya b. Tidak 3. Sayamembaca buku cerita daripada membaca buku matematika . a. Lebih banyak b. Banyak c. Sedikit d. Sedikit sekali 4. Saya.mengerjakan soal-soal matematika daripada pelajaran hapalan a. Lebih suka b. Suka c. Kurang sekali d. Tidak suka 5. Mata pelajrandisekolah yang tidak saya sukai disekolah ialah pelajaran matematika. a. Setuju seali b. Setuju c. Kurang setuju d. Tidak setuju 6. Berapa waktu yang digunakan untuk belajar matematika? a. Tak tentu b. Kurang dari satu jam sehari c. Lebih dari dua jam sehari d. Kurang dari tiga jam sehari 7. Diluar sekolah saya menggunakan konsep matematika a. Selalu b. Sering c. Pernah d. Tidak pernah 8. Apakah anda latihan soal supaya anda berhasil dalam tes matematika? a. Selalu b. Pernah
16

c. Kadang-kadang d. Tidak pernah 9. Saya merasa senang jika ada pekerjaan rumah untuk mata pelajaran matematika karna melatih diri untuk lebih memahami konsep-konsepnya a. Sangat setuju b. Setuju c. Netral d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju 10. Supaya mengingat pelajaran matematika ditambah setiap minggunya a. Sangat tidak setuju b. Tidak setuju c. Sedikit setuju d. Setuju e. Sangat setuju ii ). Angket terbuka 1. Sebagai siswa apakah pendapat anda mengenai pelajaran pelajaran matematika yang anda ikuti?jelaskan pendapat anda anda mengenai materi matematika, guru pengajarnya, system evaluasi yangdilaksanakan. 2. Apakahsaran anda agar pelajaran matematika berhasil dengan baik?

b) Wawancara (interview) Wawancara merupakan teknik non tes secara lisan. Pertanyaan yang diungkapkan umumnya menyangkut segi-segi sikap dan kepribadian siswa dalam proses belajarnya. Teknik ini dilakukan secara langsung dan dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan penilaian bagi siswa. Dalam rangka kegiatan belajar mengajar, wawancara dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu : i) ii) iii) Wawancara diagnostik Wawancara survey, dan Wawancara penyembuhan
17

Wawancara diagnostik ditunjukan untuk mencari data tentang letak, sifat, dan jenis kesulitan belajar yang dialami siswa. Data ini amat berguna untuk dijadikan bahan perbaikan bagi pengajar secara umum dan bantuan individual pada siswa yang bersangkutan. Hal yang diwawancarakan dalam jenis ini bukan hanya bakat dan kemampuan, juga tentang sikap , pendapat , dan pengalaman pada diri siswa. Wawancara survey merupakan teknik pengumpulan data dari seorang siswa atau sekelompok siswa yang dimaksudkan untuk memperoleh masukan tentang suatu hal, peristiwa ,atau pengalaman yang mungkin diketahui oleh siswa tersebut. Dengan

melakukan wawancara ini, guru akan mengetahui tentang tanggapan dan keinginan ,siswa serta masalah lain ,baik yang bersifat akademik maupun non akademik. Wawancara penyembuhan dimaksudkan untuk memberikan upaya bantuan kepada siswa sehingga siswa yang diwawancarai tidak lagi mengalami kesulitan belajar. Wawancara ini bukan hanya sekedar melontarkan pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa, namun mengandung pula sejumlah saran dan pemecahan sebagai jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi siswa. c) Observasi (pengamatan) Observasi adalah suatu teknik evaluasi non tes yang menginventarisasikan data tentang sikap dan kepribadian siswa dalam kegiatan belajarnya. Observasi dilakukan dengan mengamati kegiatan dan perilaku siswa secara langsung. Data ini bersifat relative , karena dapat dipengaruhi oleh keadaan dan subyektivitas pengamat. d) Inventori (inventory) Inventori pada hakekatnya tidak banyak berbeda dengan angket. Inventori mengandung sejumlah pertanyaan yang tersusun dalam rangka mengetahui tentang sikap, pendapat dan perasaan siswa terhadap kegiatan proses penyelenggaraan belajar mengajar. Data sebagai informasi umumnya telah disediakan dalam bentuk pilihan ganda, yang harus dipilih oleh siswa. Inventori disebut juga Unstructured Questionare. e) Daftar cek (Checklist) dan Daftar Skala Bertingkat (Rating Scale) Bila kita melakukan tes secara tertulis dan secara lisan , maka berarti kita hanya mengukur kemampuan siswa dalam daerah kognitif saja. System tes secara tertulis (pencil and paper test) seperti itu tidaklah mungkin dapat mengungkapkan kemampuan siswadalam hal keterampilan,yang masih merupakan perubahan tingkah laku yang harus
18

mendapat perhatian. Demikian pula perubahan tingkah laku dalam hal sikap, minat, lkebiasaan, dan penyesuaian diri perlu mendapat perhatian yang tak dapat diungkapkan hanya dengan tes lisan atau tulisan. Oleh karena itu perlu tes lain, yaitu tes perbuatan. Contoh untuk tesini dapat di lihat pada halaman sebelumnya.dari contoh tersebut tampak bahwa pengisi daftar tersebut hanya menumbuhkan tanda cek pada kotak (kolom) yang tersedia. Jadi yang dimaksud dengan daftar cek adalah sederetan pertanyaan atau pernyataan yang dijawab oleh responden dengan menumbuhkan tanda cek (V) pada tempat yang telah disediakan. Sedangkan skala bertingkat adalah sejenis daftar cek dengan kemungkinan jawaban terurut menurut tingkatan atau hierarkhi. Berikut ini disajikan contoh daftar cek dan daftar skala bertingkat berkenaan dengan kegiatan belajar matematika. Contoh : berilah tanda cek (V) pada kotak yang sesuai dengan pendapat anda dan keadaan sebenarnya. 1. Kegiatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar matematika a. Kebanyakan pasif b. Takut dan segan terhadap guru c. Banyak mengalami kesulitan belajar d. Memiliki motivasi tinggi e. Pekerjaan rumah dibuat seadanya f. Aktivitas siswa tinggi g. Siswa merasa senang mengikuti KBM 2. Daftar skala bertingkat mengukur tinggi pohon dengan menggunakan klinometer. Nama :

Kelas :

19

Criteria evaluasi

SB Jenis kegiatan kecermatan melakukan pengukuran jarak kecermatan mengukur sudut elevasi kecermatan menggambar sketsa hasil pengamatan ketepatan menggunakan konsep matematika kecermatan melakukan perhitungan kecermatan membuat lukisan

LC

SK

Keterangan : SB = sangat baik B= baik LC= lebih dari cukup C= cukup K= kurang SK= sangat kurang 2. Teknik Tes Pembicaraan mengenai teknik tes ini kita mulai dengan pengertian tes itu sendiri sehingga dapat dibedakan antara tes dan non tes yang telah dibicarakan terdahulu. Sesuai dengan judul buku ini pengertian tes ini kita batasi dalam ruang lingkup pendidikan, khususnya pendidikan matematika. Istilah tes berasal dari kata testum yang diambil dari bahasa Perancis kuno yang berarti piring yang digunakan untuk memisahkan (mendulang) logam mulia dari pasir dan tanah. Ada beberapa pengertian tes yang dikemukakan oleh pakar pendidikan. Indrakusumah (1975:27) menyatakan bahwa tes adalah suatu alat atau proseduryang sistematik dan obyektif untuk memperoleh data atau keterangan tentang sesorang,dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. Sedangkan Muchtar Buchori (1967) menyatakan bahwa tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk engetahui ada atau tidak adanya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seseorang atau kelompok siswa. Dalam
20

Websters Collegiate dinyatakan bahwa tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan ,pengetahuan ,intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Anderson (1976:425) menyebutkan bahwa tes adalah evaluasi menyeluruh terhadap sesorang atau kelompok. Dari kutipan-kutipan tersebut dapat kita terapkan pada pengajaran

matematika ,yaitu bahwa tes matematika adalah alat pengumpul informasi tentang hasil belajar matematika. Alat tes tersebut berupa pertanyaan atau kumpulan pertanyaan atau perintah yang biasanya dimulai dengan kata Apa, Berapa, Bagaimana, Mengapa, Tunjukkan, Buktikan, Cari, Tentukan, Hitung, Selesaikan , Sederhanakanlah ,Jabarkan, Lukislah, Gambarkan, dan sebagainya. Pengertian lain dengan kata tes adalah testing, yaitu saat pelaksanaan tes dilakukan atau pelaksaan tes. Testi (testee) atau tecoba yaitu responden (orang) yang mengerjakan atau menjawab tes tersebut, disebut juga peserta tes. Sedangkan tester atau penguji adalah orang yang diserahi untuk melaksanakan tes tersebut. Orang ini bisa menjadi pembuat alat tes, pelaksaan tes, atau pemeriksa dan pengolah data hasil tes. Teknik tes atau cara melaksanakan tes dapat digolongkan ke dalam 3 cara,yaitu : i) ii) iii) Tes tertulis Tes lisan, dan Tes perbuatan

Ketiga macam tes tersebut perbedaannya dititik beratkan pada segi cara menjawabnya, bukan dari cara penyajiannya atau memberikan tes itu. Jadi orientasinya adalahtest, bukan instrument tes atau tester. Dalam tes tertulis ,testi menjawab tersebut secara tertulis pada lembar pekerjaaan atau lebar jawaban. Instrumen tes disampaikan secara lisan atau tertulis tidak menjadi masalah. Tes tertulis sangat bermanfaat untuk mengetahui kemahiran testi dalam teknik menulis yang benar,menyusun kalimat menurut kaidah bahasa yang baik dan benar secara efisien, mengungkapkan buah pikiran melalui bahassa tulisan dengan kata-kata sendiri. Biasanya dalam pelaksanaan tes tertulis ini soalnya pun disajikan melalui media tulisa, baik itu media cetak atau stensilan, ditulis dipapan tulis ,atau menggunakan media visual seperti OHP. Dalam tes matematika,soal yang memerlukan jawban secara terinci seperti menyelesaikan persamaan,membuktikan, melukis sketsa akan tepat jika dilaksanakan
21

melalui tes tertulis. Pada umumnya tes matematika secara tertulis dilaksanakan pada akhir pelajaran, akhir kegiatan belajar mengajar untuk satu satuan pelajaran, atau pada akhir semester. Dalam tes lisan,jawaban yang diberikan oleh testi dalam bentuk ungkapan lisan. Instrument yang digunakan bisa disajikan dalam bentuk tulisan bisa pula dalam bentuk lisan. Pada umumnya tes lisan berbentuk tanya jawab langsung secara lisan antara tester dengan testi. Tes lisan ini sangat berguna bagi siswa untuk melatih diri dalam mengungkapkan pendapat atau buah pikirannya secara lisan dan mengembangkan kemampuan berbicara. Tes lisan yang diberikan secara teratur akan membuat siswa percaya diri, berani dan mampu berbicaradi depan orang banyak, dan berlatih berpikir secara spontan. Dalam kegiatan belajar mengajar matematika, tes lisan seringkali dilaksanakan sebelum dan selama kegiatan tersebut berlangsung. Hal ini dimaksudkan terutama untuk mengetahui kesiapan belajar siswa dan mengecek daya serap siswa terhadap materi yang diberikan saat itu. Tes perbuatan menuntut testi untuk melakukan perbuatan tertentu, tidak cukup dikatakan atau dituliskan untuk menjawab tes tersebut. Tes perbuatan diberikan dalambentuk tugas atau latihan yang harus diselesaikan secara individual atau kelompok. Dalam kegiatan belajar mengajar matematika, tes perbuatan bisa berupa memperagakan apakah suatu bangun datar merupakan jaring-jaring kubus atau bukan, menggambarkan,

menggambarkan suatu bangun ruang dan menunjukkan semua bidang diagonal serta diagonal bidangnya, membuat lukisan dengan menggunakan jangka, mistar, dan busur derajat, dan sebagainya.

22

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Dari materi tersebut dapat kita simpulkan bahwa alat untuk mengevaluasi peserta didik sangat bagus jika menggunakan taksonomi bloom sebab taksonomi bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan, jadi sudah jelas bahwa taksonomi bloom sangat membantu karna pada proses mengevaluasi siswa mulai dari tingkat kempuan yang paling simple menuju tingkat kemampuan paling kompleks atau yang disebut dengan ranah kognitif. Adapun ranah apektif dan psikomotorik tujuannya untuk mengevaluasi sikap yang ada pada diri peserta didik. Adapun jenis-jenis alat evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi yang pertama dalam bentuk tes dan non tes. Teknik non tes biasanya digunakann untuk mengevaluasi bidang afektif dan psikomotorik, dimana biasanya dalam bentuk angket. Sedangkan teknik tes biasanya dalamm bentuk latihan atau pertanyaan-pertanyaan biasanya pada bidang kognitif. B. SARAN Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis dapat mengemukakan saran sebagai berikut: Penulis sadar akan kekurangan dari makalah ini, baik dari segi isi maupun bahannya yang telah penulis tuliskan, namun hal itu akan tercipta baik apabila pembaca membiri saran dan kritik kepada penulis yang sifatnya membangun demi terciptanya perbaikan ke depan. Penulis berharap semoga apa yang penulis tuliskan akan dapat membantu dan menambah pengetahuan kita.

23