Anda di halaman 1dari 48

Pediculus Humanus Capitis (kutu rambut)

Dalam Artikel di September 5, 2008 pada 9:29 am

studiku Parasit pada umumnya mempunyai sifat yang tidak baik. Hidupnya menumpang dan bertempat tinggal di tempat yang ditumpanginya dan merugikan bagi host yang ditumpanginya. Peduculosis adalah gangguan pada rambut kepala yang disebabkan oleh infeksi kutu rambut, yang disebut Pediculus humanus capitis atau Pediculus hamnus var capitis (Ph.capitis). Pediculosis telah dikenal sejak jaman dahulu dan ditemukan kosmopolit (di seluruh dunia). Kutu rambut ini merupakan ektroparasit bagi manusia. Tempat-tempat yang disukainya adalah rambut bagian belakang kepala, yang paling sering menggigit pada bagian belakang kepala dan kuduk. Gigitannya akan menyebabkan iritasi pada kulit yang disebabkan oleh air liur yang dikeluarkan pada waktu menghisap darah penderita. Tiap manusia memiliki kepekaan yang berlainan. Lesi kutan yang ditimbulkan oleh gigitan Pediculus humanus capitis memberikan reaksi yang sangat gatal. Menggaruk besar menambah peradangan dan karena infeksi sekunder oleh bakteri terbentuklah pustel crusta dan proses penanahan. Rasa gatal merupakan gejala pertama dan yang paling penting, tanda bekas garukan merupakan tanda yang khas. Kutu rambut kepala hidup berkembang biak pada rambut kepala lebih suka pada rambut yang kotor, lembab, jarang disisir dan dikeramas. Menginfeksi manusia yang tidak menjaga kebersihan rambut kepala. Kutu rambut kepala dapat bergerak dengan cepat dan mudah berpindah dari satu hospes ke hospes lain. Mudah ditularkan melalui kontak langsung atau dengan perantara barang-barang yang dipakai bersama-sama. Misalnya sisir, sikat rambut, topi dan lain-lainnya. Sangat banyak ditemukan diantara anak sekolah terutama gadis-gadis yang kurang menjaga kebersihan rambut kepala. Anak-anak yang tinggal di pegunungan dengan udara dingin di pagi hari menjadikan enggan atau malas untuk mandi ataupun mencuci rambut saat mereka bersiap-siap pergi ke sekolah. Disamping itu kesadaran masyarakat dan orang tua akan kesehatan dan kebersihan diri anak-anaknya masih tergolong kurang baik. Sebagian besar dari mereka mengeluh dengan rasa gatal yang hebat pada rambut kepala dan adanya borok. Akibat garukan pada kulit kepala mereka. Rasa gatal adalah gejala pertama dan bekas garukan adalah gejala yang khas dari infeksi pediculus humanus capitis. Pediculus humanus capitis merupakan ektoparasit yang menginfeksi manusia, termasuk dalam famili pediculidae yang penularannya melalui kontak langsung dan dengan

perantara barang-barang yang dipakai bersama-sama. Misalnya : sisir, sikat rambut, topi, dan lain-lain. Taxonomi Phylum : Artropoda, Kelas : Insekta, Ordo : Phthiraptera, Sub Ordo : Anoplura, Famili : Pediculidae, Genus : Pediculus, Spesies : Pediculus humanus. Capitis. Morfologi Kutu rambut dewasa Kutu rambut dewasa berbentuk pipih dan memanjang, berwarna putih abu-abu, kepala ovoid bersudut, abdomen terdiri dari 9 ruas, Thorax dari khitir seomennya bersatu. Pada kepala tampak sepasang mata sederhana disebelah lateral, sepasang antenna pendek yang terdiri atas 5 ruas dan proboscis, alat penusuk yang dapat memanjang. Tiap ruas thorax yang telah bersatu mempunyai sepasang kaki kuat yang terdiri dari 5 ruas dan berakhir sebagai satu sapit menyerupai kait yang berhadapan dengan tinjolan tibia untuk berpegangan erat pada rambut. Kutu rambut jantan berukuran 2mm, alat kelamin berbentuk seperti huruf V. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm, alat kelamin berbentuk seperti huruf V terbalik. Pada ruas abdomen terakhir mempunyai lubang kelamin di tengah bagian dorsal dan 2 tonjolan genital di bagian lateral yang memegang rambut selama melekatkan telur. Jumlah telur yang diletakkan selama hidupnya diperkirakan 140 butir. Nimfa Nimfa berbentuk seperti kutu rambut dewasa, hanya bentuknya lebih kecil. Telur Telur berwarna putih mempunyai oper culum 0,6-0,8 mm disebut nits. Bentuknya lonjong dan memiliki perekat, sehingga dapat melekat erat pada rambut. Telur akan menetas menjadi nimfa dalam waktu 5-10 hari. Siklus Hidup Lingkaran hidup kutu rambut merupakan metamorfosis tidak lengkap, yaitu telur-nimfa-dewasa. Telur akan menetas menjadi nimfa dalam waktu 5-10 hari sesudah dikeluarkan oleh induk kutu rambut. Sesudah mengalami 3 kali pergantian kulit, nimfa akan berubah menjadi kutu rambut dewasa dalam waktu 7-14 hari. Dalam keadaan cukup makanan kutu rambut dewasa dapat hidup 27 hari lamanya. Epidemiologi Kutu rambut merupakan parasit manusia saja dan tersebar di seluruh dunia. Tempattempat yang disukainya adalah rambut pada bagian belakang kepala. Kutu rambut kepala dapat bergerak dengan cepat dan mudah berpindah dari satu hospes ke hospes lain. Kutu rambut ini dapat bertahan 10 hari pada suhu 5oc tanpa makan, dapat menghisap darah untuk waktu yang lama, mati pada suhu 400c. Panas yang lembang pada suhu 600c memusnahkan telur dalam waktu 15-30 menit. Kutu rambut kepala mudah ditularkan melalui kontak langsung atau dengan perantara barang-barang yang dipakai bersama-sama. Misalnya sisir, sikat rambut, topi dan lain-lain. Pada infeksi berat, helaian rambut akan melekat satu dengan yang lainnya dan mengeras, dapat ditemukan banyak kutu rambut dewasa, telur (nits) dan eksudat

nanah yang berasal dari gigitan yang meradang. Infeksi mudah terjadi dengan kontak langsung. Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan kepala. Patologi dan Gejala Klinik Lesi pada kulit kepala disebabkan oleh tusukan kutu rambut pada waktu menghisap darah. Lesi sering ditemukan di belakang kepala atau kuduk. Air liur yang merangsang menimbulkan papula merah dan rasa gatal yang hebat. Diagnosis Diagnosis ditegakkan jika terdapat rasa gatal-gatal yang hebat dengan bekas-bekas garukan dan dipastikan jika ditemukan Pediculus humanus capitis dewasa, nimfa dan telurnya. Macam-Macam Pengobatan Pemberantasan kutu rambut kepala dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, sisir serit atau dengan pemakaian insektisida golongan klorin (Benzen heksa klorida). Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan rambut kepala. Pada pemeriksaan teknik yang digunakan yaitu pemeriksaan langsung. Teknik ini merupakan paling mudah dikerjakan dan waktu yang dibutuhkan sedikit. Keuntungan lain yang tidak menggunakan reagen yang merusak parasit dan reagen yang digunakan sedikit. Formalin berfungsi untuk mematikan parasit. Macam-macam obat untuk Pediculus humanus capitis (Kutu rambut): Shampo Lidane 1%. Gamma benzene heksa klorid atau piretrin. Dosis, shampo rambut biarkan 4-10 menit, kemudian dibilas piretrin. Pakai sampai rambut menjadi basah, biarkan 10 menit kemudian dibilas. (Tindak lanjut periksa rambut 1 minggu setelah pengobatan untuk telur dan kutu rambut). Selep Lindang (BHC 10%) ; atau bedak DDT 10% atau BHC 1% dalam pyrophylite; atau Benzaos benzylicus emulsion. Dosis, epala dapat digosok dengan salep Lindane (BHC 1%) atau dibedaki dengan DDT 10% atau BHC 1% dalam pyrophlite atau baik dengan penggunaan 3 5 gram dari campuran tersebut untuk sekali pemakaian. Bedak itu dibiarkan selama seminggu pada rambut, lalu rambut dicuci dan disisir untuk melepaskan telur. Emulsi dari benzyl benzoate ternyata juga berhasil (Brown.H.W, 1983). Cair / Peditox / Hexachlorocyclohexane 0,5%. Dosis, osokkan pada rambut dan kepala sampai merata biarkan semalam kemudian dicuci lalu dikeringkan. Kesadaran tentang pentingnya perawatan badan dan rambut perlu ditanamkan baik kepada orang tua maupun para siswa sendiri. Pengobatan juga harus dilakukan jika siswa sudah terjangkit yang ditandai dengan rasa gatal-gatal di kepala.

Kutu busuk malah kutu busuk Tugas Kelompok Mata Kuliah : Parasitologi Nama Dosen : Hrdiana Herman, S. ST MAKALAH KUTU BUSUK

Oleh : Kelompok XXI Tamrin (09.901.289) Yoel Aulia Marisda (09.901.314) Sri Ardila (09.901..)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR MAKASSAR 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur tak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkah, rahmat dan inayahnya sehingga kita masih sempat diberikan kesempatan untuk menikmati kehidupan yang indah ini. Terlebih lagi nikmat kesehatan yang Dia berikan sehingga tak menghambat setiap kegiatan yang kami lakukan. Dan Alhamdulillah kami telah menyelesaikan penyusunan sebuah makalah PARASITOLOGI yang berjudul Kutu Busuk. Pengambilan topik tersebut tak lepas dari tugas sebagai seorang mahasiswa untuk menanggapi fenomena yang terjadi dalam masyarakat, semisal tentang penggunaan hipnotis. Tugas ini pula untuk memunihi tuntutan mata kuliah yang bersangkutan Makalah ini telah kami susun dengan menggunakan kata-kata baku yang mudah dipahami oleh para pembaca, sehingga dapat memberikan kesan positif bagi penulis terlebih lagi dapat menambah wawasan para pembaca. Makalah ini kami susun dengan memadukan antara buku-buku, materi dari internet dan pengetahuan-pengetahuan yang telah kami dapatkan sebelumnya. Oleh karena itu hendaknya ini dapat menjadi sebuah langkah awal untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini, meskipun makalah ini telah penulis susun dengan usaha sebaik-baiknya, namun kesalahan mungkin tak akan luput apalagi penulis sebagai manusia biasa. Oleh karena itu penulis pun memberikan kesempatan kesempatan kepada para pembaca untuk memberikan masukan dan saran guna memberikan suatu pelajaran agar dapat meminimalkan kesalahan

dalam pembuatan karya tulis berikunnya. Makassar, 25 Juni 2011

Kelompok Penyusun,

DAFTAR ISI Halaman Sampul Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penulisan B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penulisan BAB II PEMBAHASAN A. Latar Belakang dan Klasifikasi Ilmiah B. Penyakit yang Disebabkan C. Distibusi Geografis D. Morfologi E. Silkus Hidup F. Gelajah Penyakit G. Pengendalian BAB III PENUTUP A. Keseimpulan B. Saran DAftar Pustaka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Tenaga Analis Kesehatan, adalah salah satu tenaga kesehatan yang mSebagai seorang calon tenaga Analis Kesehatan, kita dituntut untuk menguasai banyak keahlian dibidang yang berkaitan mpunyai peranan yang sangat penting dalam dunia kesehatan, peranan analis saat ini sebagai tenaga laboratorium sangat membantu pekerjaan dokter untuk mendiagnosa penyakit denagn tepat sebagai pertimbangan dalam melakukan langkah selanjutnya, pengobatan, operasi, terapi, dan lain-lain. Mengingat pentingnya hal tersebut, seorang analis harus benar-benar tahu apa yang harus dilakukan nantinya sehingga tidak salah dalam menentukan suatu hasil pemeriksaan, karena kesahan sekecil apapun akan mengancam keselamatan nyawa pasien. Oleh karena itu seorang calon tenaga analis kesehatan selain harus memiliki ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kompetensi bidangnya, juga dituntut untuk menguasai keterampilan/skill dan Kiat (Pengalaman). Keterpaduan ketiga factor tersebut harus diimplementasikan di bidang Hematologi, Kimia Klinik, Bakteriologi, Parasitologi, Imunologi, Transfusi darah, dan sebagainya. Maka salah satu langkah penulis untuk pemenambah pengetahuanya yaitu dengan penyusunan makalah, maka pada kesempatan ini kami menyusun makalah parasitologi yang berjudul Kutu Busuk, pngambilan topik ini tidak lepas dari sub-sub kompetensi sebagai bahan ajaran, yang juga diimplementasi dalam praktikum untuk melihat morfologinya. Penyusunan makalah ini juga dpat dijadikan sebagai pelaporan dari hasil praktikum tersebut. Hal lain yang mendasari pengambilan topik ini menarik untuk dibahas lebih lanjut adalah bahwa kutu busuk merupakan parasit yang tersebar di Indonesia yang dapat menyebabkan alergi dan gatal-gatal, dan dapat menyerang semua orang. Olehnya itu harus diketahui cara-cara yang tepat untuk pengendaliannya, bukan hanya untuk orang-orang tertentu tetapi juga untuk pribadi kami sebagai penyusun. B. Rumusan masalah Adapun rumusan masalah yang mendasari penyusunan makalah ini tenatng kehidupan parasit ini dalam segala aspek yang kemudian di rangkum dalam berbagai sub-sub pembahasan yang meliputi, latar belakang, Klasifikasi Ilmiah, Penyebaran, Penyakit yang disebabkan, Morfologi, Silkus Hidup, Gejala Penyakit, dan Pengendaliannya. C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah kami ini antara lain sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui segala hal yang berkaitan dengan kutu buku, baik mengenai Klasifikasi Ilmiahn, Distribusi Geografis, Penyakit yan disebabkan, Morfologi, Silkus Hidup, Gejala Penyakit, dan Pengendaliannya. 2. Untuk meningkatkan Pengetahuan kami, baik dari cara penulisan Karya Ilmiah, juga dari isi yang terkadung dari makalah ini. 3. Sebagai bahan evaluasi pelaporan hasil pratikum Parasitologi III, sehingga dapat dibandingka antara praktek dan referensi yang ada, misalnya dari segi morfologinya 4. Untuk dijadikan sebagai langkah pengendalian atau pencegahan dari serangan parasit ini. 5. Dan diharapkan dapat berguna sebagai bahan bacaan untuk mahasiswa lingkungan Program D-3 Analis Kesehatan.

BAB II PEMBAHASAN A. Latar Belakang dan Klasifikasi Ilmiah Kutu Busuk atau Bed bug, Cimex hemipterus, adalah serangga parasit dari keluarga Cimicidae dan merupakan spesies yang meminum darah manusia dan hewan berdarah panas lainnya. Kutu busuk senang tinggal di rumah manusia, khususnya pada tempat tidur. Kutu busuk bisa menggigit korbannya tanpa ketahuan Serangga ini amat mengganggu manusia karena menghisap darah (umumnya di tempat tidur, kursi atau sofa). Darah diperlukan untuk kehidupan kutu busuk sejak menetas, menjadi nimfa, berganti kulit beberapa kali (setiap berganti kulit harus menghisap darah) dan menjadi dewasa.

Cimex lectularius Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Animalia Filum: Arthropoda Kelas: Insecta

Ordo: Hemiptera Upaordo: Heteroptera Infraordo: Cimicomorpha Superfamili: Cimicoidea Famili: Cimicidae Latreille, 1802

Subfamilies, Genera & Species Subfamily Afrociminae Genus Afrocimex o Afrocimex constrictus Subfamily Cimicinae Genus Bertilia Genus Cimex o Cimex adjunctus o Cimex antennatus o Cimex brevis o Cimex columbarius o Cimex incrassatus o Cimex latipennis o Cimex lectularius o Cimex hemipterus (C. rotundatus) o Cimex pilosellus o Cimex pipistrella Genus Oeciacus o Oeciacus hirundinis o Oeciacus vicarius Genus Paracimex Genus Propicimex Subfamily Cacodminae Genus Aphrania Genus Cacodomus Genus Crassicimex Genus Leptocimex o Leptocimex boueti Genus Loxaspis

Genus Stricticimex Subfamily Haematosiphoninae Genus Caminicimex Genus Cimexopsis o Cimexopsis nyctalis Genus Haematosiphon o Haematosiphon inodorus Genus Hesperocimex o Hesperocimex coloradensis o Hesperocimex sonorensis Genus Ornithocoris o Ornithocoris pallidus o Ornithocoris toledoi Genus Psitticimex Genus Synxenoderus o Synxenoderus comosus Subfamily Latrocimicinae Genus Latrocimex Subfamily Primicimicinae Genus Bucimex Genus Primicimex o Primicimex cavernis

Kutu Busuk atau Bed bug, Cimex hemipterus, adalah serangga yang amat mengganggu manusia karena menghisap darah (umumnya di tempat tidur, kursi atau sofa). Darah diperlukan untuk kehidupan kutu busuk sejak menetas, menjadi nimfa, berganti kulit beberapa kali (setiap berganti kulit harus menghisap darah) dan menjadi dewasa. B. Distribusi Geografis Di Indonesia, sampai akhir tahun 1970an, permasalahan kutu busuk banyak ditemukan di rumah, gedung pertunjukan, hotel atau tempat lainnya dimana manusia tidur atau duduk. Tetapi karena keberhasilan pengendalian dengan insektisida berbasis organoklorin (al. DDT), kutu busuk praktis hampir dapat dikendalikan secara penuh, dan hampir tidak ada informasi tentang serangan kutu busuk dalam kurun waktu 1980-2000. Tetapi akhir-akhir ini, terutama dalam 3-5 tahun terakhir, kutu busuk mulai menjadi masalah, banyak ditemukan di hotel berbintang, losmen asrama, dan sedikit di rumah tinggal. Sebenarnya permasalahan yang (mulai) terjadi di Indonesia tidak separah permasalahan yang sudah terjadi di banyak negara di Eropa, Amerika Serikat, Canada, dan Australia; bahkan Malaysia dan Singapura mulai melaporkan adanya permasalahan dengan kutu busuk. Di AS, misalnya pada tahun 2007 dilaporkan telah terjadi peledakan populasi (out breaks) kutu busuk di 50 negara bagian. Munculnya kembali kutu busuk, merupakan salah satu misteri dalam Entomologi, mengingat serangga penghisap darah ini hampir tidak muncul untuk jangka waktu puluhan tahun. Walaupun demikian,

adalah fakta bahwa dengan adanya globalisasi, orang dan barang dapat dengan mudah berpindah dari satu tempat/negara ke tempat/negara lainnya. Mobilitas ini turut memberikan kontribusi 2 terhadap penyebaran kutu busuk ini ke seluruh dunia. Indikasi ini dapat dilihat antara lain bahwa kutu busuk banyak ditemukan di tempat orang datang dan pergi seperti hotel, losmen, apartemen dan asrama. Kutu busuk (termasuk telurnya) dapat terbawa secara tidak sengaja beserta pakaian, dalam koper/ransel, suitcase dan sebagainya. C. Penyakit Yang disebabkan Serangga parasit dari keluarga Cimicidae adalah spesies yang meminum darah manusia dan hewan berdarah panas lainnya. Kutu busuk senang tinggal di rumah manusia, khususnya pada tempat tidur. Kutu busuk bisa menggigit korbannya tanpa ketahuan. Serangga parasit ini bisa menimbulkan penyakit ruam-ruam, efek psikologis, anemia dan gejala alergi.

D. Morfologi Kutu busuk, tubuhnya berbentuk oval, gepeng dorsoventral, berukuran 4-6 mm, dan berwarna coklat kekuningan atau coklat gelap. Kepalanya mempunyai sepasang antena yang panjang, mata majemuk yang menonjol di lateral, dan alat mulut yang khas sebagai probosis yang dapat dilipat ke belakang di bawah kepala dan toraks bila tidak digunakan. Bila menghisap darah bagian mulut ini menjulur ke depan. Protoraks membesar dengan lekukan yang dalam di bagian depan tempat kepala menempel. Sayapnya tidak berkembang (vestigial) dan abdomennya terdiri atas 9 ruas yang jelas. Seluruh tubuhnya tertutup oleh rambut-rambut kasar (seta) dan beberapa rambut halus. Tibia kaki panjang dan tarsinya mempunyai tiga ruas. Yang dewasa mempunyai sepasang kelenjar bau di ventral toraks, dan yang muda mempunyai kelenjar serupa di dorsal abdomen. Bagian mulut digunakan untuk menusuk dan menghisap. Labrumnya kecil dan tidak dapat digerakkan. Labium membentuk suatu tabung yang terdiri atas 4 ruas, dan mengandung stilet maksila dan mandibula yang berguna untuk menusuk dan mengisap. E. Pola dan Siklus Hidup

(Siklus Hidup) (Siklus hidup) Karena bentuk tubuhnya yang gepeng, kutu busuk ini mampu merayap dan menyusup ke dalam celah yang sangat sempit. Kutu busuk C. hemipterus ini sangat terkenal di Indonesia, dan orang akan segera mengenalinya karena baunya apabila kutu busuk tersebut dipencet. Kutu busuk ini sering bersembunyi di celah-celah kursi kayu, rotan, di rumah-rumah, restoran, gedung bioskop, kasur di losmen, bahkan celah-celah kandang hewan dan unggas yang terbuat dari kayu atau bambu. Kutu busuk ini aktif mengisap darah manusia dan hewan di malam hari. Tusukan bagian mulut kutu busuk ini sangat menyakitkan dan menimbulkan kegatalan serta bentol-bentol yang cukup mengganggu. Setelah mengisap darah biasanya kutu busuk ini akan bersembunyi di celah-celah tersebut selama beberapa hari, kemudian bertelur. 1. Seekor betina mampu memproduksi sebanyak 150-200 butir telur selama frekwensi bertelur setiap harinya 3-4 butir. Telurnya berwarna putih krem, panjangnya satu mm dan mempunyai operkulum. Dalam waktu 3-14 hari pada suhu 23o C, telur akan menetas menjadi nimfa. 2. Nimfa pertama akan berganti kulit menjadi nimfa ke-2, 3, demikian seterusnya sampai nimfa kemudian berganti kulit lagi menjadi instar terakhir. Banyaknya pergantian kulit berbeda-beda tergantung jenis, makanan dan suhu. Rata-rata antara 5 sampai 6 kali. Pertumbuhan yang demikian termasuk ke dalam metamorfosis tidak sempurna. Laju perkembangan juga tergantung makanan dan suhu. 3. Pada suhu yang sesuai, stadium dewasa dicapai dalam waktu 8-13 minggu setelah menetas. Lama hidup (longevity) dewasa panjang yaitu 6-12 bulan, dan ia dapat bertahan hidup tanpa makan selama 4 bulan. Pemencaran kutu busuk dari satu tempat ke tempat lainnya ialah melalui baju yang dipakai orang, tas, atau peralatan kandang yang mengandung kutu busuk. Biasanya yang potensial sebagai sumber pemencaran dan yang bertanggung jawab dalam proses ini ialah kutu busuk betina yang sudah mengandung telur (gravid). F. Gejala Penyakit Akibat Kutu Busuk

(Ket. Penyakit ruam-ruam akibat kutu busuk) Sampai sekarang tidak ada bukti-bukti bahwa kutu busuk berfungsi sebagai vektor transmisi penyakitpenyakit manusia. Kutu busuk mengganggu kesenangan manusia karena menggigit dan menghisap darah manusia. Kutu busuk paling suka darah manusia, tetapi kadang-kadang juga menghisap darah

ayam, unggas lainnya, tikus, binatang-binatang lain. Mereka hisap darah untuk makanan mereka. Ada orang yang sangat sensitif terhadap gigitan kutu busuk, tempat yang digigit menjadi merah, bengkak dun gatal, ini disebut sebagai penyakit ruam-ruam. Tetapi ada juga orang-orang yang seolah-olah tidak merasa apa apa kalau digigit oleh kutu busuk. Kutu busuk mempunyai kebiasaan untuk degaekasi segara sehabis menghisap darah. Tempat gigitan yang menjadi gatal digaruk-garuk dan faeces kutu busuk terdorong masuk kedalam luka bekas gigitan, tetapi dengan cara ini tidak ada penularan penyakit. G. Serangan dan Pengendalian Kutu Busuk Serangan Kutu Busuk Serangan kutu busuk dan pengendaliannya. Karena semua tahapan kutu busuk (telur, nimfa, dan telur) mudah terbawa dalam tas, pakaian, koper, dan barang bawaan lainnya. Hal ini membuat kutu busuk menjadi masalah besar bagi banyak hotel (yang tentu saja tidak akan secara terbuka menyampaikan permasalahannya), karena tamu datang dan pergi dengan berbagai barang bawaannya. Bila sudah menetap kutu busuk ini hidup di celah-celah kayu, tempat tidur (lipatan), karpet, laci, kursi/sofa, lemari, gorden, hampir semua bagian ruangan dapat merupakan tempat persembunyian kutu busuk (dan sulit sekali ditemukan, karena cara hidupnya yang amat tersembunyi). Mereka akan keluar pada malam hari/atau siang hari bisa populasinya tinggi, dan keadaan ruang agak gelap, untuk menghisap darah manusia. Kutu busuk dapat berpindah dengan mudah dari satu tempat ke tempat lainnya (~6-30 meter). Selain itu, kutu busuk ini dapat bertahan hidup walau tanpa makanan (darah, mereka hanya memerlukan darah untuk kehidupannya) untuk jangka waktu sampai 5 bulan! Walaupun sejauh ini kutu busuk tidak dikenal sebagai serangga yang dapat membawa penyakit yang membahayakan, kecuali reaksi alergi sebagai akibat gigitan kutu busuk. Secara ekonomi, kutu busuk akan amat merugikan, terutama bagi industri perhotelan karena hotel akan kehilangan tamu karena publisitas negatif, termasuk biaya-biaya lain yang berhubungan dengan kebersihan kamar dan kemungkinan tuntutan hukum (lawsuits) dan klaim asuransi dari pihak yang merasa dirugikan. Pengendalian Karena perpindahan kutu busuk dari satu tempat ke tempat lainnya, terutama melalui telur (dan nimfa dan dewasa) yang menempel di pakaian, sprei, koper, barang-barang bekas, dsb, mudah terjadi tanpa kita ketahui; pengendalian kutu busuk menjadi masalah yang tidak mudah. Bila masalah kutu busuk dilaporkan atau ditemukan, sebelum dilakukan pemeriksaan oleh ahli dan upaya pengendalian kutu busuk dilakukan; hal-hal 3 praktis yang harus dilakukan, bila hal ini terjadi di kamar hotel, rumah, asrama misalnya, adalah sbb: Jangan memindahkan barang apapun dari kamar, bila hal ini dilakukan penyebaran kutu busuk ke tempat lain/kamar akan amat mudah terjadi. Setelah pemeriksaan oleh ahli dilakukan, semua sprei, gorden dan pakaian yang ada harus dikeluarkan (termasuk tempat tidur, jangan memindahkan tempat tidur ke gudang, apalalagi memindahkan ke kamar lain, karena akan menyebarkan kutu busuk ke tempat lain). Barang-barang tersebut harus diperiksa secara teliti sebelum dipindahkan ke tempat lain, dengan terlebih dahulu dimasukkan ke kantong plastik dan ditutup erat-erat. Pengendalian kutu busuk hanya dapat dilakukan bila pemilik tempat (hotel, rumah dsb) memahami permasalahan kutu busuk ini dengan baik (a.l. cara hidup kutu busuk, dari mana kutu busuk

datang,bagaimana cara pengendaliannya, apa yang harus dilakukan oleh pemilik tempat agar pengendalian dapat dilakukan). Dengan pemahaman ini pemilik tempat dapat mencari perusahaan pengendali hama yang baik dan memahami betul biologi dan cara pengendalian kutu busuk (dengan insektisida atau tanpa insektisida). Walau pengendalian dengan insektisida dapat dilakukan, tidak semua tempat dapat dijangkau dengan insektisida (bergantung kepada jenis dan formulasi insektisida yang digunakan). Kesalahan yang sering terjadi adalah orang berasumsi bahwa hanya tempat tidur yang ada kutu busuknya, padahal kutu busuk dapat ditemukan di semua bagian ruangan (bahkan dapat ditemukan di lubang listrik, dan gantungan baju!). Bila insektisida digunakan, pemakaian insektisida perlu diulang (karena biasanya hanya membunuh nimfa dan dewasa) sampai semua telur kutu busuk yang ada menetas dan akhirnya terkena insektisida dan mati. Tetapi karena banyak kutu busuk sudah resisten terhadap insektisida (banyak dilaporkan di Amerika, dan Eropa), pilihan insektisida untuk mengendalikannya menjadi amat terbatas. Penelitian awal yang kami lakukan di laboratorium kami di ITB menunjukkan bahwa kutu busuk yang kami peroleh dari beberapa tempat di Indonesia banyak yang sudah resisten terhadap insektisida piretroid, organofosfat dan karbamat. Dengan demikian, pemilihan insektisida (jenis formulasi dan cara kerja, mode of action insektisida) yang tepat dikombinasikan dengan cara-cara tanpa insektisida dapat digunakan untuk mengendalikan kutu busuk dengan baik. Dan pengendalian yang baik hanya dapat dilakukan oleh pihak yang benar-benar ahli (profesional) dalam bidang ini. H. Pemberantasan Perberantasan Cimex/kutu busuk secara garis besar dapat dilakukan dengan cara : 1. Letakkan kulit Durian dibawah tempat yang banyak terdapat kutu busuknya. Biarkan beberapa hari, niscaya kutu busuk akan lenyap. 2. Ambillah beberapa Buah Asam segar, kupas kulitnya dan letakkan di tempat kutu busuk berada. Maka kutu busuk akan pergi jauh-jauh dari tempat tersebut. 3. Menaruh Daun Mindi kering di bawah kasur juga dapat mengusir Kutu Busuk. 4. Bisa juga pakai Baygon kok bunuhnya, yg penting sering dijemur kasurnya, tujuannya untuk membunuh telur telurnya. 5. Meneteskan lilin / minyak tanah di tempat2 yg tersembunyi, termasuk lekukan2 kasur, jumlah tetesannya sesuaikan dengan kebutuhan, yg penting tetesan lilin menutup celah2 sekaligis memanaskan/mematikan telur dan nymfa. 6. Dan yang paling efektif adalah mengeringkan/menjemur tempat-tempat habitatnya, seperti kasur dan sofa.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari seluruh pembahasan pada makalah ini, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan, yaitu

bahwa kutu busuk atau bangsat atau kepinding adalah serangga parasit dari keluarga Cimicidae yang tergolong sebagai spesies yang meminum darah manusia dan hewan berdarah panas lainnya. Berwarna coklat kekuningngan sampai coklat tua, mengalami silkus hidup dari telur nimfa (terjadi beberapa kali pergantian kulit) hingga menjadi kutu busuk dewasa, kutu busuk dapat bertahan hidup selama 6-12 bulan dan dapat hidup tanpa mengisap darah sampa 4 bulan. Kutu busuk senang tinggal di rumah manusia, khususnya pada tempat tidur. Kutu busuk bisa menggigit korbannya tanpa ketahuan. Serangga parasit ini belum pernah dilaporkan sebagai vector penyakit tertentu namun dapat menyebabkan penyakit ruam-ruam, efek psikologis, anemia dan gejala alergi. Kutu busuk dapat dikendalikan baik secara modern maupun tradisonal, secara modern yaitu dengan penggunaan pestidida, sedangkan secara tradisonal dapat dikakukan dengan pengunaan minyak tanah, pengunaan lilin yang diteteskan pada lipatan-lipatan kasur dan yang paling baik adalah dengan pengeringan kasur. B. Saran Adapun saran yang dapat kami sampaikan sebagai hasil kajian makalah ini adalah 1. Bahwa seorang Calon Tenaga Analis Kesehatan yang sangat berperan dalam membantu dokter untuk mendiagnosa suatu penyakit, sudah sepatutnya memiliki pengetahuan, Keterampilan/Skill dan Juga Kiat dalam Kompetensinya, khususnya bidang parasitologi 2. Setelah mengetahui cara pengendalian yang tepat, hendaknya dapat diterapkan di kehehidupan sehari-hari untuk menghindari serangan Parasit ini yang dapat menyebabkan Penyakit ruam-ruam, alergi, dan anemia. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, olehnya itu kami mengharapkan agar kiranya, pembaca dapat memberikan masukan atau kritik sebagai bahan pertimbangan agar pada kesempatan berikutnya, dapat meminimalisir keselahan-kesalahan dalam penyusunan karya tulis sehingga bisa menghasilkan karya tulis yang lebih baik lagi.

Caplak

Caplak Ixodes scapularis dewasa

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Filum: Upafilum: Kelas: Upakelas: Ordo: Animalia Arthropoda Chelicerata Arachnida Acarina Ixodida

Superordo: Parasitiformes Superfamili: Ixodoidea Diversitas 18 genera, ca. 900 jenis Familia Ixodidae - Caplak keras Argasidae - Caplak lunak Nuttalliellidae Caplak adalah nama umum bagi hewan kecil berkaki delapan anggota Ixodoidea, yang bersama-sama dengan tungau dimasukkan ke dalam anakkelas Acarina, ordo Arachnoidea (labalaba dan kerabatnya). Caplak dikenal sebagai parasit luaran (eksoparasit) yang hidup dari darah hewan vertebrata yang ditumpanginya. Karena kebiasaaannya ini, caplak menjadi vektor bagi sejumlah penyakit menular.

Caplak Ixodes hexagonus, rekaman close up. Caplak muda bertungkai enam, namun setelah dewasa memiliki empat pasang tungkai.

Artikel bertopik hewan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. Kategori:

Arachnoidea Caplak

IDENTIFIKASI KUTU I. Tujuan Mengetahui jenis-jenis kutu, spesies dan cirri- cirri dari masing- masing kutu II. Metode Metode yang digunakan pada pratikum identifikasi kutu secara mikroskopis III. Prinsip Sampel kutu dimatikan dengan larutan kloroform, kemudian kutu yang sudah mati diletakkan diatas objek glass dan ditutup dengan cover glass. Diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x. IV. Dasar Teori Kutu adalah serangga yang tidak bersayap dan berukuran kecil. Kutu mengacu pada berbagai arthropoda berukuran kecil hingga sangat kecil. Nama ini dipakai untuk sejumlah crustacea air kecil (seperti kutu air), serangga (seperti kutu kepala dan kutu daun), serta secara salah kaprah berbagai anggota Acarina (tungu dan caplak) yang berkerabat lebih dekat dengan laba-laba daripada serangga. Dalam arti sempit, kutu adalah serangga yang tidak bersayap dan berukuran kecil, yang dalam bahasa inggris mencakup flea ( kutu yang melompat, ordo Siphonaptera) dan louse (kutu yang lebih suka merayap, kebanyakan ordo Phtiraptera yang semuanya adalah parasit) ( anonim, 2010). Kutu adalah ektoparasit yang kecil, tidak bersayap, dari unggas dan mamali. Serangga ini menyebabkan iritasi yang menyakitkan, dan hewan-hewan yang terinfeksi kesehatan dan berat badannya menurun. Kutu yang berbeda jenis menyerang tipe-tipe unggas dan mamalia peliharaan yang berbeda dan tiaptiap jenisnya biasa menginfeksi suatu bagian tubuh induk semang. Tidak satupun kutu penggigit dikenal menyerang manusia. Serangga ini seringkali dibagi menjadi dua ordo yang terpisah yaitu Mallophaga (kutu penggigit) dan Anoplura (kutu penghisap). Sub ordo Anoplura mengandung beberapa jenis parasit pada hewan-hewan peliharaan dan dua jenis yang menyerang manusia. Serangga serangga ini adalah ektoparasit yang mengganggu dan beberapa vector penyakit yang penting. Banyak kutu penggigit (sub family amblycera dan ishmocera) adalah hewan-hewan peliharaan terutama unggas. Kutu kepala adalah sejenis parasit penghisap darah yang biasanya hidup dibagian kepala. Kutu betina mampu bertelur enam biji sehari. Telur ini selalu melekat dengan kuat pada rambut. Telur-telur ini akan menetas selepas lebih kurang 8 hari (anonim, 2010).

V. Alat dan Bahan A. Alat 1. Mikroskop 2. Pinset 3. Objek glass 4. Petridish 5. Beaker glass 6. Cover glass 7. Pipet tetes B. Bahan 1. Kutu 2. Kloroform VI. Cara Kerja 1) Kutu ditangkap dan dimasukkan ke dalam plastic atau botol 2) Kemudian kutu dimatikan menggunakan kloroform 3) Kutu diambil menggunakan pinset 4) Kutu diletakkan di atas objek glass, kemudian ditutup dengan cover glass 5) Kemudian diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x 6) Kemudian diidentifikasi jenis kutu tersebut

VII. Data Hasil Praktikum 1. Kutu Manusia ( Pediculus Humanis Capitis)

Ciri cirri : - Hidup di kepala manusia - Ukurannya untuk betina 1,8 2,0 mm Untuk jantan 1 1,5 mm - Tidak bersayap - Memiliki 3 pasang kaki, pada ujung terdapat capit - Ukuran betina lebih besar daripada jantan - Berwarna abu-abu - Antena terdiri dari 5 segmen

2. Kutu Anjing ( Stenocepalides canis)

Ciri- ciri : - Memiliki 4 pasang kaki - Tidak bersayap - Berwarna coklat - Ukurannya dapat besar hingga 30 mm - Hidup pada anjing - Berada pada kepala, leher, telinga dan telapak kaki anjing

3. Kutu Kucing ( Ctenophalides felis)

Ciri ciri : - Terdapat pada kucing - Tidak bersayap - Bentuk tubuh gepeng - Terdapat lekukan lekukan - Memiliki 3 pasang kaki - Berwarna coklat - Mulut penghisap - Genal conde dan pronotal cobs sama panjang VIII. Pembahasan Pratikum kali ini adalah identifikasi kutu. Identifikasi ini bertujuan untuk mengetahui cara identifikasi cirri, ukuran dan bentuk dari kutu tersebut. Pemeriksaan yang dilakukan menggunakan metode pemeriksaan secara mikroskopis dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran objektif 10x. Kutu ditangkap, kemudian diamsukkan ke dalam botol yang telah berisi kloroform. Hal ini bertujuan untuk mematikan kutu tersebut. Pemeriksaan ini menggunakan alat glass objek yang dipakai untuk tempat kutu, lalu ditutup dengan cover glass. Dibaca dibawah mikroskop. Metode pemeriksaan mikroskop ini bertujuan untuk melihat secara jelas dari bagian tubuh kutu. Hal ini dilakukan karena kutu memiliki cirri/ struktur yang berbeda. Pada pratikum, ada beberapa jenis kutu yang ditemukan, antara lain kutu manusia (Pediculus humanis capitis), kutu anjing (Stenocepalides canis), kutu kucing (Ctenophalides felis). Pediculus humanis capitis adalah kutu yang menginfeksi bagian kepala. Terutama di bagian belakang telinga dan bagian belakang kepala yang berbatasan dengan leher. Telur kutu ini disebut nits, berbentuk oval, berwarna putih dan menempel pada rambut. Siklus hidup dari telur sampai dewasa berkisar 3 minggu dan lamanya mencapai 30-40 hari hidupnya. Bentuk dewasa hidup dengan menghisap darah manusia. Ctenocepalides canis adalah nama dari parasit kutu anjing. Kutu ini menghisap darah anjing. Kutu ini biasa ditemukan di daerah kuku anjing. Ukuran kutu ini dapat sebesar 30 mm. ctenophalides felis merupakan kutu kucing. Kutu ini memiliki perbedaan antara jantan dan betinanya. Ctenophalides felis jantan : tubuhnya memiliki ujung posterior, antenna lebih panjang Ctenophalides felis betina : tubuhnya bulat, antenna lebih pendek

Kutu ini menggigit mangsanya untuk dihisap darahnya. Saat menggigit, gigitannya menyebabkan iritasi dan alergi kulit bahkan gatal-gatal pada manusia maupun hewan. Selain gatal-gatal, gigitannya dapat menyebabkan penyakit akut. Contohnya penyakit yang disebabkan adalah Typus murine, Larva cacing pita dan lain-lain. Agar terhindar dari kutu, baik mamalia dan hewan sebaiknya dilakukan pencegahan yaitu menjaga sanitasi dan menghindari kontak langsung dengan hewan atau tempat- tempat yang terinfeksi. IX. KESIMPULAN Dari hasil pratikum dapat disimpulkan bahwa ditemukan kutu manusia, kutu anjing dan kutu kucing. X. DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim,2010.Kutu.http://id.wikipedia.org/wiki/kutu 2. Anonim,2010.Jenis Kutu.http://wong 168.wordpress.cpm/2010/0880/jenis kutu 3. Sembel, Dantje T,2009.Entomologi