Anda di halaman 1dari 4

Khutbah Jum'at

TAUHID DAN AMAL SHALIH


MIFTAHULHAQ
GURU MADRSAH MUALLIMIN MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Hadirin, Jamaah Jumat yang berbahagia. Kita selaku manusia yang hidup di dunia ini pasti mempunyai maksud dan tujuan. Allah SwT telah menuntunkan dalam Al-Quran bahwa kita manusia dan juga mahluk lain yang bernama jin diciptakan memiliki maksud dan tujuan untuk beribadah kepada-Nya. Firman Allah:

mendefinisikan ibadah sebagai ketaatan kepada Allah dengan menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya melalui lisan-lisan para Rasul. Sifat ketundukan dan pengakuan bahwa yang Maha Esa hanyalah Allah, selanjutnya adalah bekal kita sebagai seorang hamba dalam menjalankan tugas ibadah. Dalam ajaran Islam, prinsip dasar dan hal pertama yang dilakukan adalah bagaimana kita memiliki ketauhidan yang murni. Tauhid adalah upaya pengakuan kita bahwa Allah SwT adalah Tuhan satusatunya yang kita sembah. Tauhid, yang diwujudkan dalam kalimat talbiyah laa ilaaha illallah, merupakan bentuk deklarasi kemerdekaan diri kita dari segala mahluk dan hanya bersandar dan bergantung pada Dzat yang Maha Pencipta, yaitu Allah SwT. Hadirin, Jamaah Jumat yang berbahagia. Dalam konteks sejarah perkembangan Islam, upaya pembentukan pribadi Muslim dan kehidupan masyarakat secara umum, diawali dengan pentingnya membangun karakter tauhid sebagai fondasi dan tolok ukur pelaksanaan fungsi dan tujuan penciptaannya, yaitu beribadah. Semangat tauhid ini pula yang dijadikan ajaran pertama yang disampaikan dalam upaya penyebaran misi keagamaan dan reformasi sosial masyarakat saat itu. Sebagaimana kita ketahui, bahwa reaksi masyarakat Makkah pada umumnya, khususnya suku Quraisy, menolak dan menentang secara ekstrem. Tetapi Nabi berteguh dan terus berjuang untuk meraih sejumlah

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku. (AdzDzaariyaat [51]: 56). Ibadah dalam pandangan ulama Tauhid adalah meng-Esakan Allah SwT dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepadaNya. Sedangkan ulama lain,

pengikut dalam masa lebih dari 13 tahun selama misinya di Makkah. Tauhid, dengan serangkaian nilai yang dikandungnya, tidaklah cukup hanya dipahami sebagai doktrin, tetapi bagaimana tauhid dapat kita jadikan kunci untuk menjawab berbagai persoalan zaman yang kita hadapi saat ini. Sebagai Muslim, tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati, tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, berarti semua ibadah khusus (mahdlah) yang kita laksanakan, seperti shalat, puasa, haji, dan seterusnya harus memiliki dimensi sosial. Kualitas ibadah kita sesungguhnya sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut memengaruhi perilaku sosial kita. Dengan kata lain, tauhid sebagai perwujudan keimanan kita kepada Allah, haruslah kita ikuti dengan pelaksanaan amal shalih. Iman dan amal shalih ini ibarat dua sisi mata uang yang saling terkait satu sama lain, dan tidak bisa kita pisahkan satu per-satu. Melaui iman dan amal shalih, kita akan mampu memosisikan diri kita sebagai mahluk yang sempurna, baik secara pribadi maupun sosial. Terhindar dari kehidupan yang hina dan rendah. Sebagaimana firman Allah:

SUARA MUHAMMADIYAH 09 / 96 | 1 - 15 MEI 2011

31

Khutbah Jum'at
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (yaitu neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (At-Tiin [95]: 4 6) Hadirin, Jamaah Jumat yang berbahagia. Tauhid akan membentuk kita selaku manusia untuk dapat menempatkan manusia lain pada posisi kemanusiaannya. Bagi kita yang bertauhid, manusia tidaklah dihargai lebih rendah dari kemanusiaannya sehingga diposisikan bagai binatang, atau sebaliknya lebih tinggi bagai Tuhan. Kedudukan kita sesama manusia sesungguhnya adalah sama, sehingga tidaklah pantas bagi kita untuk bertindak semena-mena atau berbuat dhalim terhadap sesama. Tetapi justru sebaliknya, melalui bimbingan tauhid kita akan selalu berbuat yang terbaik bagi saudara kita sesama manusia, bahkan pula kepada seluruh mahluk ciptaan Allah SwT. Dalam sejarah kita ketahui bersama, bahwa bagaimana Islam datang di Tanah Makkah sangat menghormati kedudukan manusia, dan sangat menentang adanya praktik perbudakan. Bilal bin Rabbah misalnya, bagi kaum kafir Quraisy tidaklah lebih dianggap sebagai manusia, dia hanyalah seorang budak yang hitam dan kedudukannya pun sangat hina dari binatang unta, atau kalau tidak dianggap sama. Namun, tatkala dia telah memeluk Islam, dia menjadi manusia yang merdeka, dan kedudukannya sama dengan Abu Bakar, Usman bin Affan, ataupun Umar bin Khattab yang merupakan golongan orang-orang terhormat di kalangan kaum Quraisy. Dengan demikian jelas bagi kita, bahwa keimanan kita tidaklah terhenti pada diri kita semata, tetapi harus kita ejawantah-kan dalam kehidupan
32

sosial kita. Ibadah mahdlah apa pun yang kita lakukan tidak akan memiliki makna apa-apa, apabila tidak kita teruskan dengan berbuat baik kepada sesama manusia. Dalam Al-Quran secara tegas dinyatakan bahwa celakalah bagi kita yang shalat, yaitu apabila kita masih lalai dalam shalat kita, suka berbuat ria, dan juga enggan menolong orang lain dengan barang yang berguna. Sebagai firman Allah:

Khutbah Kedua

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna). (Al-Maa'uun [107]: 47) Jamaah Jumat yang berbahagia. Demikianlah Islam, agama yang mengajarkan kita pada keseimbangan hidup. Yaitu bagaimana kita tetap memiliki komitmen untuk selalu mendekatkan diri kita kepada Allah (ibadah) atau hablum minallah, tetapi juga tetap menjaga komitmen kemanusiaan kita kepada sesama manusia dengan pelaksanaan amal shalih sebagai perwujudan keluhuran budi pekerti atau akhlaqul karimah. Dan ingatlah bahwa kesempurnaan iman kita, sangat tergantung dari kemuliaan akhlak. SMK MUHAMMADIYAH 2 YOGYAKARTA
Jl. Tukangan No. 1 Yogyakarta Telp. (0274) 512423, 552785

Kompetensi Keahlian : Teknik Komputer & Jaringan - Akuntansi - Administrasi Perkantoran Menerima Pendaftaran Siswa-Siswi Baru Th. 2011-2012 Informasi lebih lengkap hubungi sekolahan Kepala Sekolah Drs. Sukirman, M.Pd.

27 JUMADILAWAL - 11 JUMADILAKHIR 1432 H

Khutbah Jum'at
KEUTAMAAN ORANG BERILMU
USROTUS SALAMA, S.PD.I.
AKTIVIS PIMPINAN CABANG NASYIATUL AISYIYAH SOCAH, BANGKALAN, MADURA, JAWA TIMUR
Ajarilah manusia yang akan meninggal dengan kalimat Laailaaha illallaah. Jamaah Jumat Rahimakumullah. Allah Berfirman tentang keutamaan orang berilmu: Artinya: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah Dia ciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak ia ketahui. (QS. Al-Alaq : 1-5) Jamaah Jumat Rahimakumullah. Kata ilmu terdiri dari 3 unsur: ain singkatan dari illiyin artinya tempat yang tertinggi, Lam yakni lathif artinya halus budi dan peramah, Mim yaitu malaikat artinya berkuasa. Jadi orang yang berilmu selalu menempati tempat yang tinggi, berbudi pekerti yang halus. Menuntut ilmu tidak mengenal batas maupun perbedaan tingkat ekonomi dan sosial. Kesemuanya bebas menuntut ilmu, Nabi saw bersabda: mana Firman Allah SwT;

Jamaah Jumat Rahimakumullah. Menuntut ilmu pengetahuan adalah suatu kewajiban yang dibebankan pada setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan. Karena manusia mempunyai tugas dan kewajiban serta tanggung jawab yang besar sebagai khalifah di muka bumi. Dan ilmu pengetahuan yang membuat manusia sadar akan tugas dan kewajiban hidup mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Artinya: Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah : 11) Dalam surat lain Allah juga berfirman:

Artinya: Menuntut ilmu merupakan kewajiban Muslim. Di antara bentuk kewajiban seorang laki-laki dan perempuan adalah memahami agamanya, memelajari ilmu agama dan ilmu keduniaan. Di mana pun, sampai kapan pun manusia membutuhkan dan memakai ilmu, mulai dari kecil sampai ia dewasa, bahkan sampai ia menutup mata masih tetap membutuhkan ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya :

Artinya: Katakanlah Muhammad:Apakah sama orangorang yang berilmu dengan orangorang yang tidak berilmu. (QS. AzZumar : 9) Itulah jaminan kebahagiaan dunia akhirat dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Orang yang beriman dan berilmu akan tampak arif dan bijalsana, matanya akan memancarkan sinar iman dan ilmu. Oleh karena itu kedudukan ilmu sangat dijunjung tinggi dalam agama Islam. Sehingga ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah berbunyi iqra (bacalah), karena membaca adalah unsur yang sangat esensial dari pengembangan ilmu. Sebagai

Artinya: Siapa saja yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga (HR. Muslim) Maka alangkah baiknya ilmu yang kita peroleh diajarkan pada orang lain, hal ini dianjurkan oleh
33

SUARA MUHAMMADIYAH 09 / 96 | 1 - 15 MEI 2011

Khutbah Jum'at
Rasulullah saw dalam sabdanya: Artinya: Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang dimilikinya, maka Allah akan memberikan ilmu yang belum diketahui (HR. Abu Naim dari Anas r.a.) Jadi ilmu akan bertambah mana kala kita amalkan, hal ini senada dengan yang diucapkan oleh Ali Bin Abi Thalib: Ilmu lebih utama dari pada harta, karena ilmu menjaga diri seseorang sedang harta harus dijaga. Ilmu akan terus bertambah jika diajarkan, tetapi harta akan berkurang jika digunakan. Sebaliknya jika ilmu tidak diamalkan, akan seperti perumpamaan dalam syair Arab: ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah. Kedudukan orang yang berilmu sangatlah utama. Selain ditingkatkan derajatnya, dimudahkan urusan dan rizkinya, juga menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus dan akan semakin bertambah manakala bisa berbagi dengan sesama, dan perannya sebagai orang yang berilmu sangatlah penting untuk menjadi pemimpin fil ardhi bahkan keutamaan orang yang berilmu derajatnya melebihi orang yang ahli ibadah. Nabi saw bersabda: Artinya: Mencari ilmu lebih utama di sisi Allah dari pada mengerjakan shalat, puasa, haji, dan jihad di jalan Allah SwT. (HR. Imam Dailami) Kenapa ilmu lebih utama dibanding ibadah yang utama? Kenapa pula segala ibadah yang dikerjakan harus memakai ilmu? Jawabnya: segala amal ibadah tanpa ilmu maka ibadahnya tidak akan sah. Seperti halnya shalat tapi tidak mengerti ilmu shalat (tata cara atau rukun dan syarat shalat) maka shalatnya tidak sah, haji tidak tahu ilmunya juga tidak sah, puasa hanya sekadar puasa maka hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, bahkan jihad jika tidak mempunyai ilmu penyiasatan atau yang lain, maka tidak akan memperoleh apa-apa, semua kembali pada ilmu. Jamaah Jumat Rahimakumullah. Sejarah membuktikan, bahwa dahulu Islam pernah berjaya di bidang ilmu pengetahuan. Banyak lahir ulama dan cendekiawan Muslim yang berhasil menelorkan penemuanpenemuan dibidangnya. Keberhasilan itu diperoleh karena mereka sadar akan keutamaan ilmu peran dan fungsi bagi kehidupan, serta mereka memegang teguh agama Allah. Kalau kita sekarang ingin kembali menguasai dunia seperti dahulu maka harus diraih dengan ilmu dan kembali pada agama Allah. Karena akidah ke-Islaman tidak akan berbuah, bila manusia hanya sekedar taklid dan mengekor semata. Keberhasilan suatu akidah hanya dapat dicapai dengan pemikiran, perenungan, dan pemahaman. Jamaah Jumat Rahimakumullah. Mengakhiri khutbah kali ini, khatib mengajak diri sendiri maupun jamaah untuk berpegang pada agama Allah serta menggunakan akal untuk berpikr dan memelajari ilmu. Karena jika mempelajari karena Allah merupakan ketakwaan, mencarinya merupakan ibadah, menyebutnyebutnya merupakan tasbih, membahasnya merupakan jihad, mengajarkan kepada orang lain yang belum mengetahui adalah shodaqoh. Ilmu menjadi pendamping saat takut, teman bicara saat sendiri, dalil atas kesenangan dan kesusahan, senjata dalam menghadapi musuh, hiasan dihadapan teman. Allah meninggikan drajat kaum dengannya dan menjadikan mereka diikuti perbuatannya dan ditiru pendapatnya sebagai rujukan (mengutip sebagian perkataan Muadz bin jabal).

Doa Penutup

Artinya: Kelebihan seorang yang alim atas seorang yang ahli ibadah seumpama kelebihan bulan purnama di atas semua bintang gemilang. Di samping itu juga Rasulullah saw memberikan wasiat tentang keutamaan orang yang berilmu:

34

27 JUMADILAWAL - 11 JUMADILAKHIR 1432 H