Anda di halaman 1dari 21

Page |1

TUGAS MAKALAH ETIKA, PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN SENGKETA ANTARA PASIEN DAN RUMAH SAKIT

Disusun oleh : 1. 2. 3. 4. 5. Tri Haryani (G1B012002) Putri Puspita Sari (G1B012037) Okta Arum Masyithoh Polesesa (G1B012041) Qorin Annisa (G1B012047) Drestanta Deviananda (G1B012068)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

201

Page |2

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan dapat berjalan dengan baik apabila seluruh aspek di dalamnya dapat berjalan dengan semestinya. Apabila ada salah satu yang tidak sesuai dengan yang semestinya maka proses produksi tidak akan maksimal dan hasilnya juga demikian. Salah satu aspeknya adalah kesehatan. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis ( UU No. 36 tahun 2009 ). Kesehatan adalah salah satu hal vital yang dimiliki oleh masyarakat. Sebagaimana telah diatur di dalam UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang harus diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Etika adalah aturan bertindak dalam kehidupan bermasyarakat yang dianut atau dijalankan, meskipun tidak secara eksplisit tertulis.

Page |3

Dikelompokkan menjadi dua, etika umum adalah atran bertindak secara umum dalam kelompok masyarakat tertentu, sedangkan etika khusus adalah atran bertindak pada kelompok-kelompok masyarakat yanng bersifat khusus, yakni kelompok profesi (Notoatmodjo, 2010). Hukum kesehatan adalah semua ketentuan hukum yng berhubungan langsung dengan pemeliharaan atau pelayanan kesehatan dan

penrapannya, hal ini berarti hukum kesehatan adalah aturan tertulis mengenai hubungan antara pihak pemberi pelayanan kesehatan dengan masyarakat atau anggota masyarakat (Notoatmodjo, 2010). Pada hakekatnya Rumah Sakit berfungsi sebagai tempat

penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Hal tersebut memiliki makna tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.

Sayangnya akhir-akhir ini, sengketa antara pasien dengan Rumah Sakit dan tenaga kesehatan menjadi fokus pemberitaan yang ramai di media massa (Noor M Aziz,2010).

B. Rumusan Permasalahan 1. Apa yang menyebabkan terjadinya sengketa antara pasien dan rumah sakit? 2. Bagimana solusi untuk mengatasi sengketa antara pasien dan rumah sakit?

Page |4

C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadi sengketa antara rumah sakit dan pasien. 2. Mendapatkan solusi tentang masalah sengketa antar rumah sakit dan pasien. D. Manfaat Penulisan Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memeberikan informasi kepada mahasiswa kesehatan masyarakat agar lebih mengetahui permasalahan yang terjadi antara Rumah Sakit dan pasien serta dapat memecahkan masalah tersebut.

Page |5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Rumah sakit (RS) adalah suatu badan usaha yang menyediakan pemondokan danyang memebrikan jasa pelayanan medis jangka panjang dan pendek yang terdiri atas tindakan observasi, diagnosti, terapetik, dan rehabilitatif untuk orang-orang yang menderita sakit dan untuk mereka yang melahirkan (WHO). Rumah sakit juga merupakan sarana upaya kesehatan yang

menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan penelitian (Permenkes No. 159b/1988). Menurut undang-undang No.44 tahun 2004 yentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayan kesehatan tang menyelanggarakanpelayan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Gawat darurat adalah keadaan klinis pasian yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan mencegah kecacatan lebih lanjut. Sedangkan yang diaksud pelayan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Landasan hukum dan etika rumah sakit, secara ideologis dan filosofis undang-undang ini menyebutkan, bahwa rumah sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, dan persamaan keselamatan hak pesien, dan antidiskriminasi, mempunyai pemerataan, fungsi sosial

perlindungan

serta

(Notoatmodjo, 2010).

Page |6

Pengaturan penyelenggaraan rumah sakit lebih mengutamakan fungsi sosial yang bertujuan: a. mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan b. memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasie, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan smber daya manusia rumah sakit c. meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit d. memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit, dan rumah sakit (Notoatmodjo, 2010). Sedangkan fungsi rumah sakit dalam undang-undang ini juga menyebutkan antara lain sebagai berikut: 1. penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit. 2. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis 3. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan 4. penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penampisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan

(Notoatmodjo, 2010).

Page |7

ETIKA DAN HUKUM RUMAH SAKIT Etika rumah sakit di Indoenesia telah disusun oleh organisasi

perumahsakitan dari seluruh Indonesia, yakni PERSI (Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia). Berdasarkan rumusan etika RS yang disusun oleh PERSI, mencakup kewajiban umum RS, kewajiban RS terhadap masyarakat, kewajiban RS terhadap pasien, kewajiban RS terhadap tenaga (kasryawan) RS, sdan kewajiban RS terhadap RS yang lain. Masing-masing RS dapat membentuk badan yang akan menangani masalah-masalah etik di lingkungannya sendiri, yang disebut PERS (Panitia Etik RS) atau Hospital Ethical Committee. Sedangkan cakupan atau ruang lingkup etika rumah sakit, menurut PERS, adalahmeliputi pelayanan-pelayanan di rumah sakit yaitu rekam medis, keperawatan, pelayanan laboratorium, pelayanan klkinik medik, pelayanan intensif, pelayanan pelayanan

radiologi,pelayanan kamar operasi, pelayanan rehabilitasi medik,

gawat darurat,pelayanan pasien dewasa dan pelayanan pasien anak (Notoatmodjo, 2010). KEWAJIBAN DAN HAK RUMAH SAKIT Dalam UU Kesehatan No. 40 tahun 2009, disebutkan bahwa setiap rumah sakit mempunyai kewajiban yaitu memberikan informasi yang benar tentang pelayanan rumah sakit kepada masyarakat; memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit (Notoatmodjo, 2010).

Page |8

PERUNDANGAN DAN TANGGUNG JAWAB HUKUM RUMAH SAKIT Rumah sakit sebagai bagian dari pelayanan kesehatan, dan juga merupakan salah satu bentuk pelayanan publik, disamping kewajiban hukum seperti telah diuraikan diatas, rumah sakit memperoleh perlindungan hukum dan tanggng jawab hukum (UU No. 44 Tahun 2009) yaitu rumah sakit dapat meniolak mengungkapkan segala informasi kepada publik yang berkaitan dengan rahasia kedokteran, pasien dan atau keluarga yang menuntut rumah sakit dan menginformasikannya melalui media massa dianggap telah melepaskan hak rahasia kedokterannya kepada umum, penginformasian kepada media massa diartikan sebagai bentuk memberi kewenangan kepada rumah sakituntuk mengungkapkan rahasia kedokteran pasien sebagai hak jawab rumah sakit, rumah sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan atau keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang komperhensif, rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia, rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semuakerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit (Notoatmodjo, 2010). Ketentuan pidana (UU No. 44 tahun 2009 pasal 62 63) adalah setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan rumah sakit tidak memiliki izin dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dengan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00- (lima lilyar rupiah), apabila tindak pidana tersebut dilakuakn oleh korporasi, selainpidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan

Page |9

pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda, selain pidana denda terhadap korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha dan atau pencabutan status badan hukum (Notoatmodjo, 2010). Hak dan kewajiban antarrumahsakit sebagai pemberi pelayanan, dan pasien sebagai penerima pelayanan. Rumah sakit sebagai pemberi pelayanan dengan segala kewajibannya, harus menerima haknya dari pasien. Hak-hak rumah sakit ini dengan sendirinya merupakan kewajiban-kewajiban pasien sebagai penerima pelayanan rumah sakit. Kewajiban-kewajiban pasien tersebut antara lain sebagai berikut : 1. Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk menaati segala peraturan dan tata tertib rumah sakit. 2. Pasien wajib untuk menceritakan sejujur-jujurnya tentang sesuatu mengenai penyakit yang dideritanya. 3. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter dan perawat. 4. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk memenuhi segala perjanjian yang ditandatangani. 5. Pasien dan atau penanggungnya berkewajban untuk melunasi semua imbalan atau jasa pelayanan rumah sakit atau dokter. Hak-hak pasien tersebut antara lain sebagai berikut : 1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit. 2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien. 3. Memperoleh informasi tentang penyakit yang diderita, tindakan medis yang akan dilakukan oleh dokter, alternatif terapi lainnya dan prognosis.

P a g e | 10

4. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi. 5. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. 6. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi. 7. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan. 8. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di rumah sakit. 9. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP), baik didalam maupun diluar rumah sakit. 10. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya. 11. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan. 12. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya. 13. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis. 14. Menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya. 15. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit.

P a g e | 11

16. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan rumah sakit terhadap dirinya. 17. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya. 18. Menggugat dan atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana, dan 19. Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektonik sesuai dengan ketentuan peraturn perundang-undangan. (Hanafiah dan Amir, 1999). Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini, hubungan dokter dan/atau rumah sakit dengan pasien menghadapi tantangan karena beberapa kasus

pengaduan atau tuntutan kepada dokter dan/ atau rumah sakit telah melakukan kesalahan dalam pelayanan kesehatan atau yang dikenal dengan malpraktik, yang kerap dimuat di media massa. Hal ini memberikan gambaran bahwa masyarakat sebagai health receiver kini telah menuntut pelaksanaan hak-hak yang mereka miliki (Guwandi, 1991). Ketidakharmonisan antara dokter dan/ atau rumah sakit dapat menimbulkan sengketa medik. Undang-undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran secara implisit menyebutkan bahwa sengketa medik adalah sengketa yang terjadi karena kepentingan pasien dirugikan oleh tindakan dokter atau dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran. Pasal 66 Ayat (1) UU Praktik Kedokteran yang berbunyi: setiap orang yang mengetahui atau kepentingan dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan

P a g e | 12

secara tertulis kepada Ketua majelis Kehormatan Disiplin Kedoktern Indonesia. Dengan demikian sengketa medik merupakan sengketa yang terjadi antara pengguna pelayanan medik dengan pelaku pelayanan medik dalam hal ini pasien dengan tenaga kesehatan. Malapraktik medik adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang sama (Hanafiah dan Amir, 1999). Menurut UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hukum De minimis noncurat lex, yang berarti hukum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele. Tetapi jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan bahkan merenggut nyawa orang lain, maka ini diklasifikasikan sebagai kelalaian berat atau (culpa lata), serius dan kriminil. Malapraktik medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan kedokteran dibawah standar (Hanafiah dan Amir, 1999). Kelalaian sebagai indikasi malapraktik dapat dibedakan menjadi dua yakni : a. Kelalaian dalam arti perdata, apabila kelalaian petugas kesehatan atau medis tidak menyebabkan pelanggaran undang-undang. Artinya, akibat kelalaian tersebut tidak menyebabkan orang cedera, cacat, atau kematian. Pelanggaran jelas sanksinya adalah etik yang diatur oleh kode etik profesi. Perlu dijelaskan disini setiap profesi mempunyai kode etik profesi. Profesi kesehatan sendiri

P a g e | 13

juga terdiri dari berbagai macam profesi, misalnya dokter, dokter gigi, bidang perawat, kesehatan masyarakat, sanitarian, dan sebagainya. Masing-masing profesi kesehatan ini mempunyai perkumpulan atau ikatan profesi seperti IDI, PDGI, IBI, IAKMI, HAKLI, dan sebagainya. Para organisasi profesi semestinya Kode Etik profesi masing-masing. Setiap ada pelanggaran kode etik profesi dari setiap anggota profesi, maka masing-masing organisasi profesi inilah yang akan memberikan sanksinya. b. Kelalaian dalam arti pidana, apabila kelalaian petugas kesehatan atau medis tersebut mengakibatkan pelanggaran hukum atau undang-undang. Artinya, akibat kelalaian petugas kesehatan tersebut mengakibatkan orang lain atau pasien cedera, cacat atu meninggal dunia. Sanksi pelanggaran hukum jelas adalah pidana atau hukuman, yang ditentukan oleh pengadilan, setelah melalui proses pengadilan yang terbuka. (Notoatmodjo, 2010)

P a g e | 14

BAB III TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN Contoh kasus antara sengketa Rumah Sakit dan pasien yang kami ambil dari website tempo (www.tempo.com) adalah kasus yang dialami oleh Alfonsus Budi Susanto yang biasa dipanggil AB Susanto ,seorang konsultan dari Jakarta Consulting Group. Ia menggugat enam pihak dan dua turut tergugat. Tergugat pertama yaitu Rumah sakit Siloam Karawaci dan kedua yaitu Dokter Eka Juliana Wahjoepramono, ahli bedah saraf di rumah sakit Rumah Sakit tersebut. Pengajuan gugatan tersebut dilakukan karena AB Susanto merasa diabaikan haknya oleh Rumah Sakit Siloam sebagai pasien, mulai dari pergantian dokter tanpa pemberitahuan kepada pihak pasien, pengambilan tindakan tanpa izin, kecelakaan medik sampai tidak diberikannya rekam medik, yang merupakan hak seorang pasien. Menurut rekam medik ulang di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, ditemukan cedera pada sumsum tulang belakang sebelah kiri yang disebabkan oleh penyuntikan semen dan kecerobohan tindakan medis yang dilakukan pihak Rumah Sakit Siloam terhadap AB Susanto. Akibat cedera tersebut lutut dan telapak kakinya tidak bisa digerakan. Berdasarkan laporan medis dokter di Singapura, Alvin Hong, diduga jarum sebelah kiri saat operasi merusakkan tulang sebelah kiri. Tidak ada kata maaf ataupun upaya Rumah Sakit Siloam Karawaci, milik LIPPO grup, untuk mendekati korban kesalahan medis tersebut, AB Susanto akhirnya menggugat ke pengadilan dengan nilai gugatan Rp 200 miliar lebih.

P a g e | 15

Kasus sengketa antara rumah sakit dan pasien merupakan hal yang cukup banyak terjadi di Indonesia. Rumah sakit sebagai salah satu badan usaha di bidang kesehatan mempunyai peranan penting dalam

mewujudkan derajat kesehatan masyarakat secara optimal. Oleh karena itu rumah sakit dituntut untuk mampu mengelola kegiatannya, dengan mengutamakan pada tanggung jawab para profesional di bidang kesehatan, khususnya tenaga medis dan keperawatan. Tidak selamanya layanan medis yang diberikan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit, dapat memberikan hasil yang diharapkan semua pihak. Ada kalanya terjadi kelalaian tenaga kesehatan yang menimbulkan malapetaka seperti cacat, lumpuh bahkan meninggal dunia. Apabila hal itu terjadi, maka pasien atau pihak keluarganya akan menuntut ganti rugi (Wahyudi S, 2011). Salah satu kasus yang terjadi yaitu kasus antara AB Susanto dan Rumah Sakit Siloam, seperti yang telah kami deskripsikan di atas. AB Susanto menggugat RS Siloam setelah mengganggap RS tersebut mengabaikan haknya sebagai pasien, setelah mendapatkan perawatan medik di RS Siloam ia mengalami cedera pada sumsum tulang belakang yang mengakibatkan lutut dan telapak kakinya tidak bisa bergerak. Seorang tenaga kesehatan yang melakukan kelalaian dapat dikatakan melakukan malpraktik, namun tidak selamanya kelalaian merupakan pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Apabila kelalaian sampai meninbulkan kerugian atau cedera diklasifikasikan sebagai kelalaian berat dan disebut tindakan

P a g e | 16

kriminal. Seperti yang dialami oleh AB Susanto, kelalaian tenaga kesehatan Rumah sakit Siloam merupakan kelalaian berat karena tindakan medik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan rumah sakit tersebut mengakibatkan pasien (AB Susanto) mengalami cedera sumsum tulang belakang. Tidak hanya itu pihak rumah sakit siloam juga telah mengabaikan hak-hak AB Susanto sebagai pasien. Sebagai Pasien AB Susanto berhak untuk memperoleh informasi tentang penyakit, prognosis, tindakan medis, memilih dokter dan perawat, memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga terhindar dari kerugian dan lain sebagainya. Apabila Rumah sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai maka pasien bisa mengajukan gugatan terhadap rumah sakit tempat mereka dirawat baik secara pidana maupun perdata. Seperti yang dilakukan oleh AB susanto dengan menggugat Rumah Sakit Siloam karena dianggap rumah sakit tersebut memberikan pelayanan yang tidak profesional sehingga mengaibatkan dirinya cedera. Ia menuntut Rumah Sakit Siloam sebesar 200 miliar lebih. Peluang ganti rugi sekarang telah ada ketentuannya, berdasarkan pasal 46 UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yang menentukan bahwa rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian tenaga kesehatan di rumah sakit. Tentunya apabila kelalaian tersebut menimbulkan kerugian pada pasien. Sengketa antara pasien dan rumah sakit terjadi karena perbedaan antara harapan pasien dan hasil yang didapat pasien.Hal ini sering menjadi pemicu ketidakpuasaan dari pasien atau keluarga pasien terhadap dokter

P a g e | 17

atau lembaganya. Sengketa kesehatan ini timbul sebagian besar karena komunikasi yang tidak efektif yang berakibat mispersepsi bagi para pihak. Proses penyelesaian sengketa dapat menggunakan dua jalur yaitu litigasi (pengadilan) dan non litigasi/konsensual/non-ajudikasi keduanya memiliki berbagai keuntungan dan kerugian. Penyelesaian sengketa melalui litigasi mempunyai sifat terbuka, memerlukan banyak waktu, mengikuti prosedur beracara yang formal, membutuhkan pengacara dan berakhir dengan menang atau kalah. Kita semua dapat memahami bahwa proses beracara di pengadilan adalah proses yang membutuhkan biaya dan memakan waktu. Penyelesaian sengketa melalui non litigasi (mediasi) bersifat tertutup, tidak mengharuskan adanya pengacara dan bersifat fleksibel (Afandi,2009). Penyelesaian secara litigasi memunculkan ide untuk menyelesaikan sengketa rumah sakit dan pasien tersebut secara win-win solution, salah satunya adalah dengan mediasi. Proses mediasi merupakan salah satu bentuk dari Alternative Dispute Resolution (ADR) atau alternatif penyelesaian masalah. Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator. Mediasi itu sendiri dapat dilakukan melalui jalur pengadilan maupun di luar pengadilan. Proses mediasi merupakan upaya yang tepat dalam menyelesaikan sengketa medis antara dokter dan pasien kecuali dalam proses pidana murni seperti pelecehan seksual,

pengungkapan rahasia kedokteran, aborsi serta kelalaian berat, keterangan palsu, penipuan dan lain-lain. Penyelesaian melalui jalur litigasi akan

P a g e | 18

merugikan kedua belah pihak. Apalagi cukup sukar untuk memenuhi empat kriteria malpraktik medis, yaitu: 1. Adanya duty (kewajiban) yang harus dilaksanakan 2. Adanya dereliction/breach of that duty (penyimpangan kewajiban); 3. Terjadinya damage 4. Terbuktinya direct causal relationship antara pelanggaran kewajiban dengan kerugian. Efek positif lainnya dari proses mediasi adalah hubungan dokter pasien akan tetap senantiasa terjaga dengan baik. Karena bagaimanapun kedua belah pihak memerlukan kepentingan yang sama meskipun dalam konteks dan tanggung jawabnya masing-masing. Meskipun demikian, mediasi memiliki kelemahan yaitu keterbatasan dukungan yuridis terhadap proses dan hasilnya, termasuk terhadap eksekusi perjanjian penyelesaian sengketa (perdamaian) yang dihasilkan. Proses dan keputusan yang dihasilkan tidak dapat begitu saja dipaksakan (Afandi,2009). Berdasarkan sumber yang kami peroleh, kasus AB Susanto tidak bisa menggunakan proses mediasi karena kelalaian pihak Rumah Sakit Siloam menyebabkan kerugian berupa cedera yang serius. Hal tersebut merupakan kelalalain berat. Namun menurut kami, sebaiknya kasus tersebut bisa diselesesaian secara kekeluargaan karena lebih dapat menguntungkan kedua belah pihak.

P a g e | 19

BAB IV PENUTUP A. Simpulan 1. Sengketa kesehatan sebagian besar terjadi karena komunikasi yang tidak efektif yang berakibat mispersepsi bagi para pihak. 2. Penyelesain sengketa kesehatan dapat melalui pendekatan litigasi dan non litigasi keduanya memiliki berbagai keuntungan dan kerugian. Namun, mediasi merupakan upaya utama dalam penyelesaian kasus sengketa medis. Dengan proses mediasi diharapkan hubungan dokter pasien tetap terjaga dan mencapai kesepakatan perdamaian yang bersifat win-win solution. B. Saran Penyelesaian kasus sengketa antara pasien dan rumah sakit, sebaiknya diselesaikan secara mediasi karena proses mediasi dapat menguntungkan kedua belah pihak dan meminimalisir kerugian bagi kedua belah pihak. Pemerintah juga sebaiknya membuat UU yang jelas dalam menyelesaikan sengketa medik terutama untuk jalur mediasi.

P a g e | 20

DAFTAR PUSTAKA Afandi D.2009. Mediasi: Alternatif Penyelesaian Sengketa Medis. Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 5, Mei 2009 Guwandi. 1991. Etika dan Hukum Kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI Hanafiah dan Amir.1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC http://www.tempo.com. Abaikan Pasien Siloam Digugat Rp 200 Miliar. Diakses pada tanggal 30 September 2013. Noor M Aziz. 2010. Laporan Penelitian Hukum Tentang Hubungan Tenaga Medik, Rumah Sakit Dan Pasien. Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI Notoatmodjo S. 2010. Etika dan Hukum Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Wahyudi S. 2011. Tanggung Jawab Rumah Sakit Terhadap Kerugia Akibat Kelalaian Tenaga Kesehatan dan Implikasinya. Jurnal Dinamika Hukum: Vol. 11 No. 3 September 2011.

P a g e | 21

LAMPIRAN