Anda di halaman 1dari 2

Meneladani Insan Kamil

Oleh: Ina Salma Febriani

Kesempurnaan adalah sebuah keniscayaan yang sejatinya hanya ada dalam zat Tuhan, Allah SWT. Jika seluruh alam semesta lengkap dengan isinya tunduk pada Sang Maha Pencipta, maka bagaimana posisi manusiadalam dalam perannya sebagai khalifah fil ardhyang yang enggan tunduk pada-Nya? Sempurna, dalam perspektif ketuhanan, memang tak terbatas. Kamil (baca: sempurna) hanya dianugerahkan-Nya Nya pada insan yang pantas menerima sebab keluruhan budi pekertinya, yakni baginda Rasulullah SAW (QS Al Al-Ahzab: 21). Insan kamil sendiri diartikan sebagai manusia nan sempurna. Adapun yang dimaksudkan dengan sempurna adalah sempurna dalam ibadah dan penghidupannya. Dan seseorang dapat dianggap sempurna mpurna jika ia memiliki kriteria tertentu. Kriteria tersebut dimiliki oleh manusia manusia-manusia manusia biasa yang mau berusaha untuk menjadi luar biasa di hadapan Tuhannya. Mereka Merekaterlepas terlepas dari para sufi, dai, ustaz, kai, atau orang biasa sekalipunpada pada hakikatnya mampu meneladani segala teladan Rasulullah, jika ia meyakini Allah sebagai Rabb-nya, nya, Alquran sebagai pedoman hidupnya, dan menjadikan Muhammad SAW sebagai sebaik-baiknya baiknya insan yang patut diteladani. Jejak hidup Rasulullah SAW pun sudah terhimpun menjadi sebuah bacaan dari beragam sudut pandang. Tak terhitung berapa banyak sudah sirah nabawiyah yang mengulas lebih dalam baik kesahajaan, kehebatan, kesempurnaan, maupun keseharian beliau yang memang jauh dari kemewahan, namun menempati posisi mewah di hadap hadapan an Rabb-nya. Rabb Selama hayatnya, segenap perikehidupan beliau menjadi tumpuan perhatian masyarakat. Karena segala sifat terpuji yang terhimpun dalam dirinya merupakan lautan budi pekerti yang tak pernah kering. Itulah cerminan abadi yang patut diteladani um umat at Islam, untuk meraih insan kamil. Untuk dapat meraih derajat insan kamil, biasanya seseorang lebih senang dengan menempuh cara hidup sebagai seorang sufi. Kehidupan para sufi pun lebih menonjolkan segi rohani dan spiritual. Tentu prinsip ajarannya sesuai uai dengan tuntunan yang telah termaktub dalam Quran maupun hadits. Hasan Al-Basri, Basri, seorang sufi yang menuangkan prinsip khauf (takut) dan raja (pengharapan), juga Rabiah Al Al-Adawiyah, Adawiyah, sufi wanita yang mencetuskan konsep

mahabbah (cinta) pada Allah, adalah dalam upaya mencapai derajat insan kamil dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, bukan yang lain. Tiada manusia yang sempurna. Begitu ungkapan yang sering kita dengar. Betul bahwa tiada manusia yang sempurna. Kita dianugerahi kekurangan agar dapat saling melengkapi antarmanusia lainnya. Namun hakikatnya, semua manusia mampu berusaha untuk tidak menempatkan dunia sebagai tujuan, namun sebagai pemenuhan totalitas amalan ukhrawi yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Menyisihkan kepentingan dunia bukan berarti mengabaikan apalagi meninggalkan kewajiban duniawi. Namun lebih dari itu, meneladani potret insan kamil ialah dengan menyeimbangkan kehidupan dunia, tempat kita beramal shaleh sebagai bekal akhirat. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Qashash: 77). Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/01/12/mgi8j5-meneladaniinsan-kamil