Anda di halaman 1dari 30

PELACURAN DAN REHABNYA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Kelompok Mata Kuliah Patologi Rehab Sosial

Disusun oleh : Desy Sativa Pandangsari Ervina Safitri Ika Puspitawati Lidya Mercya Caroline M2A 008 114 M2A 008 119 M2A 008 124 M2A 008 128

Mareta Yuriansa Damayanti M2A 008 130 Mugi Dwita Rahmanida Vera Nurafriani Wahesya M2A 008 134 M2A 008 157

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

A. Pendahuluan
Pelacuran atau prostitusi merupakan suatu penyakit masyarakat yang harus dihentikan penyebarannya. Pelacuran itu berasal dari bahasa Latin pro-stituere atau prostauree, yang berarti membiarkan diri berbuat zinah, melakukan persundalan, percabulan, pergendakan. Sedang prostitute adalah pelacur atau sundal. Dikenal pula dengan istilah WTS atau wanita tuna susila. Tuna susila atau tidak susila diartikan sebagai; kurang beradab karena keroyalan relasi seksualnya, dalam bentuk penyerahan diri kepada banyak laki-laki untuk pemuasan seksual, dan mendapatkan imbalan jasa atau uang bagi pelayanannya. Juga bisa diartikan sebagai: salah tingkah, tidak susila atau gagal menyesuaikan diri terhaap norma-norma susila. Maka pelacur itu adalah manusia yang tidak pantas kelakuannya, dan bisa mendatangkan mala/celaka dan penyakit, baik kepada orang lain yang bergaul dengan dirinya, maupun kepada diri sendiri. Pelacuran merupakan profesi yang sangat tua usianya, setua umur kehidupan manusia itu sendiri. Yaitu berupa tingkah laku lepas bebas tanpa kendali dan cabul, kerena adanya pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenisnya tanpa mengenal batas-batas kesopanan. Pelacuran itu selalu ada pada semua Negara berbudaya, sejak zaman purba sampai sekarang. Dan senantiasa menjadi masalah social, atau menjadi objek urusan hukum dan tradisi. Selanjutnya, dengan perkembangan teknologi, industry dan kebudayaan manusia, turut berkembang pula pelacuran dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Dibanyak Negara pelacuran dilarang bahkan dikenakan hukuman. Juga dianggap sebagai perbuatan hina oleh segenap anggota masyarakat. Akan tetapi, sejak adanya masyarakat manusia yang pertama sehingga dunia akan kiamat nanti, mata pencaharian pelacuran ini akan tetap ada; sukar, bahkan hampir tidak mungkin diberantas dari muka bumi, selama masih ada nafsu-nafsu seks yang lepas kendali kemauan dan hatinurani. Maka timbulnya masalah pelacuran sebagai gejala patologis ialah: sejak adanya penataan relasi seks, dan diperlakukannya norma-norma perkawinan.

B. Pelacuran Versus Norma Agama dan Norma Adat


Pada masa lalu pelacuran itu mempunyai koneksi dengan penyembahan dewa-dewa dan upacara-upacra keagamaan tertentu. Pelacuran ini tidak hanya ditolerir saja, akan tetapi ada praktek keagamaan yang menjurus pada perbuatan dosa dan tingkah laku cabul yang tidak ada bedanya dengan kegiatan pelacuran. Di babilonia, praktek-praktek pelacuran dipaksakan kepada banyak wanita untuk menghormati dewi Mylitta. Di India, upacaraupacara keagamaan yang dikaitkan dengan praktek-praktek pelacuran, sampai sekarang pun masih ada. Hak dan kekuasaan para dewa itu diproyeksikan dalam hak dan kekuasaan kaum pria. Maka relasi seks di antara banyak laki-laki dan pendeta wanita, pada hakikatnya merupakan prostitusi religious dan dianggap sebagai penyatuan diri dengan sang dewa. Sejak zaman dahulu kala, para pelacur selalu dikecam atau dikutuk oleh masyarakat, Karena tingkah lakunya yang tidak susila, dan dianggap mengotori sakralitas hubungan seks. Mereka disebut sebagai orang-orang yang melanggar norm moral, adat dan agama; bahkan kadang-kadang juga melanggar norma Negara, apabila Negara tersebut melarangnya dengan undang-undang atau peraturan. Norma adat pada gaibnya melarang pelacuran. Akan tetapi, setiap daerah itu tidak sama peraturannya; dan kebanyalkan norma tersebut tidak tertulis. Pelanggaran pelacuran itu berdasarkan alasan sebagai berikut: tidak menghargai diri wanita, diri sendiri, penghinaan terhadap istri dan pria-pria yang m,elacurkan diri, tidak menghormati persucian perkelaminannya (sakralitas seks), menyebabkan penyearan penyakit kotor, dan mengganggu keserasian perkawinan. Namun ada masyarakat-masyarakat tertentu yang memperkenankan hubungan seks di luar perkawinan. Pada masyarakat Eskimo, kelahiran bayi di luar nikah, ditolerir oleh masyarakat. Bahkan untuk menghjormati tamu-tamu yang terpandang, isterinya sendiri bahkan disuruhnya tidur dengan tamunya dan memberikan pelayanan seks seperlunya. Norma agama pada umumnya juga melarang pelacuran. Surat Al.isra ayat 32, menyebutkan: dan janganlah kamu sekali-kali melakukan perzinahan, sesungguhnya perzinahan itu merupakan sesuatu perbuatan yang keji, tidak sopan dan jalan yang buruk.

Sebab, perzinahan yaitu persetubuan antara laki-laki dan perempuan di luar perkawinan itu melanggar kesopanan, merusak keturunan, menyebabkan penyakit kotor; menimbulkan persengketaan, ketidakrukunan dalam keluarga, dan malapetaka lainnya. Di Yunani kuno, pelacuran dikontrol oleh pemerintah dan polisi. Mereka di tempatkan dalam rumah-rumah pelacuran yang disebut dicteria. Control tersebut di maksudkan agar: 1. 2. 3. 4. Ada pertanggungan jawaban penyelenggaraan. Tidak merusak moral anak-anak dan pemuda-pemuda remaja. Tidak melanggar aturan agama. Tidak menjadi penghianat Negara. Selanjutnya, raja Louis II dari perancis banyak memberantas pelacurandengan hukuman berat. Namun sebagai akibatnya, pelacuran menjadi lebih subur berkembang secara gelap. Jelaskan kemudian, bahwa larangan dan penekanan terhadap pelacuran justru menstimulir tumbuhnya bentuk-bentuk pelacuran dan immoralitas yang lebih desktruktif lagi secara sembunyi-sembunyi. Maka Tuhan menganjurkan kawin; dan melaui perkawinan itu dapat dibangun rumah tangga yang sah dan bahagia, kalis dari kasulitan, dan trpelihara anak keturunannya. Sedang perzinahan dipandang sebagai perbuatan yang keji dan jalan yang keliru dalam kehidupan manusia.

C. Definisi Prostitusi dan Promiskuitas


Profesor W.A. Bonger dalam tulisannya Maatschappelijke Oorzaken der Prostitutie menulis definisi sebagai berikut : Prostitusi ialah gejala kemasyarakatan dimana wanita menjual diri melakukan perbuatan perbuatan seksual sebagai mata pencaharian. Pada definisi ini jelas dinyatakan adanya peristiwa penjualan diri sebagai profesi atau mata pencaharian sehari hari, dengan jalan dilakukan relasi relasi seksual.

Sarjana P.J. de Bruine Van Amstel menyatakan sebagai berikut : Prostitusi adalah penyerahan diri dari wanita kepada banyak laki laki dengan pembayaran. Definisi di atas mengemukakan adanya unsur unsur ekonomis, dan penyerahan diri wanita yang dilakukan secara berulang ulang atau terus menerus dengan banyak laki laki. Peraturan pemerintah DKI Jakarta Raya tahun 1967 mengenai penanggulangan masalah pelacuran , menyatakan : Wanita tuna susila adalah wanita yang mempunyai kebiasaan melakukan hubungan kelamin di luar perkawinan, baik dengan imbalan jasa maupun tidak. Sedang Peraturan Pemerintahan Daerah Tingkat I Jawa Barat untuk melaksanakan pembatasan dan penerbitan masalah pelacuran, menyatakan : Pelacur, selanjutnya disingkat P, adalah mereka yang biasa melakukan hubungan kelamin di luar pernikahan yang sah. May menekankan masalah barter atau perdagangan secara tukar menukar, yaitu menukarkan pelayanan seks dengan bayaran uang, hadiah atau barang berharga lainny. Juga mengemukakan prosmikuitas, yaitu hubungan seks bebas, dan ketidakacuhan emosional, melakukan hubungan seks tanpa emosi, tanpa perasaan cinta kasih atau afeksi. Pihak pelacur menutamakan motif motif komersil, atau alasan alasan keuntungan metriil. Sedang pihak laki laki mengutamakan pemuasan nafsu nafsu seksual. Selanjutnya, penulis mengemukakan definisi pelacuran sebagai berikut : 1. Prostitusi adalah bentuk penyimpangan seksual, dengan pola pola organisasi impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi, dalam bentuk pelampiasan nafsu nafsu seks tanpa kendali dengan banyak orang (promiskuitas), disertai eksploitasi dan komersialisasi seks, yang impersonal tanpa afeksi sifatnya. 2. Pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri (persundalan) dengan jalan

memperjualbelikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu nafsu seks, dengan imbalan pembayaran. 3. Pelacuran ialah perbuatan perempuan atau laki laki yang menyerahkan badannya untuk berbuat cabul secara seksual dengan mendapatkan upah.

Eksploitasi seks berarti penghisapan atau penggunaan serta pemanfaatan relasi seks semaksimal mungkin oleh pihak pria. Sedang komersialisasi seks berarti perdagangan seks, dalam bentuk penukaran kenikmatan seksual dengan benda benda, materi dan uang. Pelacur wanita disebut dalam bahasa asingnya prostitue ; sedang penamaan kasarnya ialah : sundal, balon, lonte, untuk memperhalus artinya ialah : wanita tuna susila. Sedang pelacur pria disebut gigolo. Dengan adanya unsur komersialisasi dan barter seks perdagangan tukar menukar seks dengan benda bernilai maka pelacuran merupakan profesi yang paling tua sepanjang sejarah kehidupan manusia. Dimasukkan dalam kategori pelacuran ini antara lain ialah : a. Pergundikan : pemeliharaan bini tidak resmi, bini gelap atau perempuan piaraan. Mereka hidup sebagai suami istri, namun tanpa ikatan perkawinan. Gundak gundik orang asing ini pada zaman pemerintahan Belanda dahulu disebut nyai. b. Tante girang atau loose married woman : wanita yang sudah kawin , namun tetap melakukan hubungan erotik dan seks dengan laki laki lain; baik secara iseng untuk mengisi waktu kosong, bersenang senang just for fun dan mendapatkan penghasilan. c. Gadis gadis panggilan : gadis gadis dan wanita wanita biasa yang menyediakan diri untuk dipanggil dan diperkejarkan sebagai prostitue, melalui saluran saluran tertentu. Mereka ini terdiri atas ibu ibu rumah tangga, pelayanan pelayanan toko, pegawai pegawai, buruh buruh perusahaan, gadis gadis lanjutan, para mahasiswi, dan lain lain. d. Gadis gadis bar atau B-Girls : gadis gadis yang bekerja sebagai pelayanan pelayanan bar, dan sekaligus bersedia memberikan pelayanan seks kepada para pengunjung. e. Gadis gadis juvenile delinguent : gadis gadis muda dan jahat yang didorong oleh ketidakmatangan emosinya dan retardasi/ keterbelakangan inteleknya, menjadi sangat pasif dan sugestibel sekali. Karakternya sangat lemah. Sebagai akibatnya, mereka itu mudah sekali jadi pecandu minuman minuman keras atau alkoholik, dan pecandu obat obat bius ganja, hereoin, morfin, dan lain-lain), sehingga mudah tergiur melakukan perbuatan perbuatan immorial seksual dan pelacuran. f. Gadis gadis binal atau free girls : di Bandung mereka menyebut diri sebagai bagong lieur (babi hutan yang mabuk). Mereka itu adalah gadis gadis sekolah atau putus

sekolah, putus studi di akademi atau fakultas, dengan pendirian yang brengsek dan menyebarluaskan kebebasan seks secara ekstrem, untuk mendapatkan keputusan seksual. Mereka menganjurkan seks bebas dan cinta bebas. g. Gadis gadis taxi (di Indonesia ada juga gadiis gadis becak) : itu wanita wanita dan gadis gadis panggilan yang ditawar tawarkan dibawa ke tempat plesiran dengan taksi taksi atau becak. h. Penggali emas atau gold diggers : gadis gadis dan wanita wanita cantik, ratu ratu kecantikan, pramugari/manequin, penyanyi, pemain panggung, bintang film, pemain sandiwara teater atau opera, anak wayang, dan lain lain, yang pandai merayu dan bermain cinta, untuk mengeduk kekayaan orang orang berduit. Pada umumnya, sulit sekali mereka itu diajak bermain seks. Yang diutamakan oleh mereka ialah : dengan kelihaiannya menggali emas dan kekayaan dari para kekasihnya. i. Hostesataupramuria yang menyemarakkan kehidupan malam dalam nightclub-nightclub (vide EL CiCi, Mirasa, Nirwana, Golden Gate, Bina Ria, Mini Disco, Tanamur di Jakarta). Pada intinya, profesi hostes merupakan bentuk pelacuran halus. Sedang pada hakikatnya, hostes itu adalah predikat baru dari pelacuran. Sebab, di lantai lantai dansa mereka membiarkan diri dipeluki, diciumi dan diraba raba seluruh badannya. Juga dimeja meja minum badannya diraba raba dan di remas remas oleh langganan. Para hostes ini harus melayani makan, minum, dansa dan memuaskan naluri naluri seks para langganan dengan jalan menikamati keriaan atau kesenangan suasana tempat tempat hiburan. j. Promiskuitas : hubungan seks secara bebas dan awut awutan dengan pria mana pun juga; dilakukan dengan banyak laki laki. Merupakan tindak seksual yang immorial, karena sangat tidak susila, terang terangan secara terbuka tanpa tedeng aling aling, sangat kasar menyolok mata, dilakukan dengan banyak laki laki, sehingga ditolak masyarakat. Orang orang yang suka immorial itu mempunyai ciri khas yaitu : 1. Kurang terkendalinya rem rem psikis 2. Melemahnya sistem pengontrol diri, sehingga tidak ada atau kurang adanya pembentukan karakter mereka.

D. Seks dan Pelacuran


Hubungan seksual yang normal itu mengandung pengertian sebagai berikut : a. Hubungan seksual tersebut tidak menimbulkan efek efek merugikan, baik bagi diri sendiri maupun partnernya. b. Tidak menimbulkan konflik konflik psikis, dan tidak bersifat paksaan atau perkosaan.

Maka, bentuk relasi seks abnormal dan perverse (buruk,jahat) adalah : 1. Tidak bertanggungjawab 2. Didorong oleh kompulsi kompulsi (tekanan paksaan) 3. Disorong oleh impuls impuls yang abnormal. E. Gadis Gadis Remaja, Tindak Immoril dan Pelacuran Statistik menunjukan bahwa kurang lebih 75% dari jumlah pelacur adalah wanitawanita muda di bawah umur 30tahun. Mereka itu pada umumnya memasuki dunia pelacuran pada usia yang muda,yaitu 13-24tahun dan yang paling banyak ialah usia 17-21tahun. Apakah sebabnya banyak gadis muda remaja tergelincir dalam lembah pelacuran sedemikian itu? Tindak-tindak immoril seksual, berupa relasi seksual terang-terangan tanpa malu, sangat kasar dan sangat provokatif dalam coitus/bersenggama, dan dilakukan banyak pria (promiskuitas) itu pada umumnya dilakukan oleh anak-anak gadis remaja penganut seks bebas. Ada kalanya relasi seksual itu tidak dibayar karena dilandasi motif-motif keisengan atau hyperseksualitas ataupun didorong oleh nafsu-nafsu seks yang tidak terintegrasi dan tidak wajar, tidak ubahnya dengan ciri-ciri praktek protitusi yang kasar. Tindak immoril yang dilakukan oleh gadis-gadis muda itu khususnya disebabkan oleh: a. b. c. d. e. Kurang terkendalinya rem-rem psikis Melemahnya sistem pengontrol diri Belum atau kurangnya pembentukan karakter pada usia prapuber, usia puber adolensens Melemahnya sistem pengontrol diri, dan Belum atau tidak adanya pembentukan karakter pada usia prapuber,usia puber dan adolesens Pertama kali, immoralitas di rumah yang di lakukan oleh orang tua atau salah satu anggota keluarga itu mempromosikan tingkah laku seksual abnormal anak-anak puber dan

adolenses. Sebab penghayatan langsung dari perbuatan seksual yang kasar , jika dibarengi dengan cumbu rayu dari laki-laki dewasa, akan mudah meruntuhkan perahanan moral anakanak gadis pada usia sangat muda (12-19 tahun). Peristiwa ini kemudian mengakibatkan timbulnya seksualitas yang terlalu dini yaitu seksualitas yang terlampau cepat matang sebelum usia kemasakan psikis sebenarnya. Sebagai akibatnya ialah dengan kemunculan nafsu-nafsu seks yang luar biasa, namun anak gadis itu sendiri belum memiliki kematangan dan keseimbangan psikis ,maka tindak-tindak immoralitasnya berlangsung secara liar dan tidak terkendali lagi. Immoralitas seksual pada anak-anak gadis ini pada umumnya bukanlah didorong oleh pemuasan motif-motif pemuasan nafsu seks seperti pada anak laki-laki umumnya. Akan tetapi biasanya didorong oleh : pemanjaan diri dan kompensasi terhadap labilitas kejiwaan, karena anak-anak gadis itu merasa tidak senang dan tidak puas atau kondisi diri sendiri dan situasi lingkungannya.rasa-rasa tidak puas anak-anak gadis itu antara lain disebabkan oleh: a. menentang kewibaan pendidik, dan berkonflik dengan orang tua atau salah seorang anggota keluarga b. tidak mampu berprestasi di sekolah : konflik dengan kawan-kawan sekolah atau dengan guru c. d. merasa tidak puas atas nasib sendiri ,karena lingkungan rumah yang buruk kekacauan kepribadian, mengalami disharmoni dan banyak konflik batin yang tidak bisa diselesaikan e. memberontak terhadap semua bentuk otoritas, dan mengikuti kemauan sendiri. Ada kalanya tindak immoril anak gadis melakukan praktek pelacuran itu distimulir oleh geltungstrieb atau dorongan untuk menuntut hak dan kompensasi, karena dia tidak pernah merasakan kehangatan , perhatian dan kasih sayang orang tua atau milieunya. Dicarinya kompensasi bagi kekosongan hatinya, dengan jalan: melakukan intervensi-aktif, dalam bentuk relasi seksual yang ekstrem tidak terkendali, alias pelacuran., Ada pula anak-anak gadis yang melakukan tindak kompensatoris disebabkan oleh rasa-rasa takut dan kebimbangan . Biasanya mereka itu baru berumur 11 atau12 tahun; namun mengaku sudah berusia 17 atau 18 tahun. Maka oleh nafsu petualangan dan ingin membanggakan diri, anak-anak itu sesumbar dan membual; mampu memberikan layananseksual yang hebat luar biasa, sebagai kompensasi dari kekerdilan dan rasa rendah diri. Lalu mereka melakukan praktek pelacuran.

F. Seks Bebas, Cinta Bebas dan Pelacuran


Hampir semua masyarakat beradab berpendapat, bahwa perlu adanya regulasi atau pengaturan terhadap penyelenggaraan hubungan seks, dengan peraturan-peraturan tertentu. Sebab, dorongan seks itu begitu dahsyat dan besar pengaruhnya terhadap manusia bagaikan nyala api yang berkobar. Api itu bisa bermanfaat bagi manusia , akan tetapi dapat juga menghancurkan lumatkan peradaban manusiawi. Demikian pula seks itu, bisa membangun kepribadian akan tetapi juga bisa menghancurkan sifat-sifat kemanusiaan. Hal ini dibuktikan oleh sejarah peradaban manusia sepanjang zaman . Pada hakekatnya, dalam eksesivitas (sangat banyak ) seks bebas itu sama dengan promiskuitas atau campuraduk seksual tanpa aturan .alias pelacuran Oleh seks bebas itu bukannya akan diperoleh kepuasan seks. Oleh eksesivitas itu justru orang tidak mampu menghayati kepuasan seks sejati. Sebab, orang menjadi budak dari dorongan seksual, menjadi pecandu seks tanpa bisa menghayati aarti dan keindahan kehidupan erotik sejati. Beberapa argumen dari para penganjur seks bebas beserta penyanggahannya kami kemukakan di bawah ini, sebagai berikut: a. Dorongan seks alami. Pemuasan seks juga bersifat alami atau natural. Mak tabu-tabu , dan regulasi seks itu sifatnya artifisial, dibuat-buat , dan berlebih-lebihan tidak perlu. b. Argumen kedua menyatakan : seks itu merembesi setiap fase kehidupan. Karena itu kebebasan seks harus dapat diekspresikan dengan bebas penuh, untuk memperkaya kepribadian.maka, setiap restriksi atau pembatasan terhadap kegiatan kegiatan seks itu pasti akan menghambat pembentukan kepribadian. c. Alasan ketiga untuk menganjurkan seks bebas ialah sebagai berikut: tabu-tabu seks itu merupakan produk dari dogmatisme religius, yang menganggap seks sebagai sumber dosa dan noda yang menimbulkan rasa malu , dan bukan sebagai sumber kenikamatan.lalu orang membuat macam-macam restriksi terhadap aktivitas seks. Dengan sendirinya hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip kebebasan ilmiah di bidang fisiologi, psikologi, dan sosiologi d. Alasan keempat orang menganjurkan seks bebas ialah sebagai berikut: kegiatan seks itu adalah masalah prive, menyangkut diri sendiri pribadi dengan partnernya. Maka mayarakat itu sama sekali tidak berhak mencampur urusan ini.

e.

Akhirnya , para propagandis seks bebas bersitegang ,bahwa perkaswinan dan semua undang-undang perkawinan-perceraian itu hanya mengakibatkan kompulsi-kompulsi /paksaan psikologis yang mengakibatkan kegagalan kegoncangan dalam kontak pribadi dengan partnernya. Kenyataan membuktikan bahwa seks bebas dan cinta bebas mengakibatkan banyak

kerusakan / destruksi dikalangan orang-orang muda , baik pria maupun wanita. Dalam kehidupan ini segala sesuatu sudah diatur tertib oleh irama dan regulasi alam .Maka seyogyanya cinta dan seks itupun harus diatur dan kontrol diri dan disiplin diri. Hanya dengan cara sedemikian manusia bisa mencapai kebahagian dan menikmati validitasnya; lalu mencapai keseimbangan hidup dan kepuasan yang merupakan dua atribut esenssil bagi kehidupan.

G. Ciri Ciri dan Fungsi Pelacuran


Di desa-desa, hampir tidak terdapat pelacur. Jika ada mereka adalah pendatang dari kota, yang singgah atau pulang ke desanya. Juga desa perbatasan yang dekat dengan kota dan tempat sepanjang jalan besar yang dilalui truk-truk dan kendaran umum sering dijadikan lokasi oleh wanita-wanita tuna susila. Sedang di kota-kota besar, jumlah pelacur diperkirakan 1-2% dari jumlah penduduknya. Banyaknya langganan yang dilayani oleh para wanita tuna susila ialah 5-50 orang, dalam jangka waktu 12-24 jam. Bahkan di waktu-waktu perang dan masa-masa yang kisruh, mereka itu mampu melayani 6-120 langganan dalam waktu yang sama. Pelacur-pelacur ini bisa digolongkan dalam dua kategori, yaitu : a) Mereka yang melakukan profesinya dengan sadar dan suka rela, berdasarkan motivasimotivasi tertentu, b) Mereka melakukan tugas melacur karena ditawan / dijebak dan dipaksa oleh germogermo yang terdiri atas penjahat-penjahat, calo-calo dan anggota organisasi gelap penjual wanita dan pengusaha bordir. Dengan bujukan dan janji-janji manis, ratusan bahkan ribuan gadis-gadis cantik dipikat dengan janji akan mendapatka pekerjaan terhormat dengan gaji besar. Namun pada akhirnya merek dijebloskan ke dalam rumah-rumah pelacuran. Dan secara paksa, kejam dan sadis dengan pukulan dan hantaman mereka harus melayani buaya-buaya seks

Ciri-ciri khas dari pelacur ialah : 1) Wanita ; lawan pelacur adalah gigolo (pelacur pria, lonte laki-laki) 2) Cantik, ayu, rupawan, manis, atraktif menarik, baik wajah maupun tubuhnya. Bisa merangsang selera seks kaum pria. 3) Masih muda-muda, 75% dari jumlah pelacur di kota-kota ada di bwah usia 30 tahun. Yang terbayak adalah 17-25 tahun. Pelacuran kelas rendah dan menengah acap kali mempekerjakan gadis-gadis pra-puber berusia 11-15 tahun, yang ditawarkan sebagai barang baru. 4) Pakaian sangat menyolok, beraneka warna, sering aneh-aneh / eksentrik untuk menarik perhatian kaum pria. Mereka sangat memperhatikan penampilan lahiriah, yaitu : wajah, rambut, kosmetik, parfum yang merangsang, pakaian. 5) Menggunakan teknik-teknik seksual yang mekanistis, cepat, tidak hadir secara psikis ( afwezig, absent minded), tanpa emosi atau afeksi, tidak pernah bisa mencapai orgasme sangat provokatif dalam ber-coitus, dan biasanya dilakukannya secara kasar. 6) Bersifat sangat mobilitas, kerap berpindah dari tempat / kota satu ke tempat / kota lain. Biasanya mereka menggunakan nama samaran. 7) Pelacur-pelacur dari kelas rendah dan menengah kebanyakan berasal dari strata ekonomi dan strata sosial rendah, tidak memiliki ketrampilan hanya bermoal kecantikan dan kemudahannya. Sedang pelacur-pelacur dari kelas tinggi pada umumnya berpendidikan sekolah lanjut pertama dan atas, atau lepasan akadei dan perguruan tinggi, yang berprofesi secara amatir atau profesional. Mereka itu bertingkah laku immoril karena didorong oleh motivasi-motivasi sosial dan / ekonomis. 8) 60-80% pelacur ini memiliki intelek yang normal. Kurang dari 5% adalah mereka yang lemah ingatan (feeble minded). Selebihnya mereka yang berada pada garis-batas. Pada umumnya para langganan dari pelacur tidak dianggap berdosa atau bersalah tidak immoril atau tidak menyimpang. Sebab perbuatan mereka didorong untuk memuaskan kebutuhan seks yang vital.

H. Beberapa Peristiwa Penyebab Timbulnya Pelacuran


Berlangsungnya perubahan-perubahan sosial yang serba cepat dan perkembangan yang tidak sama dalam kebudayaan, mengakibatkan ketidakmampuan banyak individu untuk menyesuaikan diri; mengakibatkan timbulnya disharmoni, konflik-konflik eksternal dan

internal, juga disorganisasi dalam masyarakat dan dalam diri pribadi. Peristiwa-peristiwa tersebut memudahkan individu menggunakan responsi / reaksi yang inkonvensional atau menyimpang dari pola-pola umum yang berlaku. Beberapa peristiwa sosial penyebab timbulnya pelauran antara lain ialah : a) Tidak adanya undang-undang yang melarang pelacuran. Juga tidak ada larangan terhadap orang-orang yang melakukan relasi seks sebelum pernikahan atau diluar pernikahan. Yang dilarang dan diancam dengan hukuman ialah : praktek germo ( pasal 296 KUHP ) da mucikari ( pasal 506 KUHP ). KUHP 506 : Barang siapa yang sebagai mucikari mengambil untung dari perbuatan cabul seseorang perempuan, dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun. Namun dalam praktek sehari-harinya, pekerjaan sebagai mucikari ini selalu ditolerir, secara inkonvensional dianggap sah, ataupun dijadikan sumber pendapatan dan pemerasan yang tidak resmi. b) Adanya keiginan dan dorongan manusia untuk menyalurkan kebutuhan seks, khususnya di luar ikatan perkawinan. c) Komersialisasi dari seks, baik dipihak wanita maupun germo-germo dan oknumoknum tertentu yang memanfaatkan pelayanan seks. Jadi, seks dijadikan alat yang jamak-guna ( multipurpose ) untuk tujuan-tujuan komersialisasi di luar perkawinan. d) Dekadensi moral, merosotnya norma-norma susila dan keagamaan pada saat-saat orang mengenyam kesejahteraan hidup; dan ada pemutarbalikan nilai-nilai pernikahan sejati. e) Semakin besarnya penghinaan orang terhadap martabat kaum wanita dan harkat manusia f) Kebudayaan eksploitasi pada zaman modern ini, khususnya mengeksploitir kaum lemah / wanita untuk tujuan-tujuan komersil. g) Ekonomi laissez-faire menyebabkan timbulnya sistem harga berdasarkan hukum jual dan permitaan, yang diterapkan pula dalam relasi seks. h) Peperangan dan masa-masa kacau (dikacaukan oleh gerombolan-gerombolan pemberontak ) di dalam negeri meningkatkan jumlah pelacuran. i) Adanya proyek-proyek pembangnan dan pembukaan daerah-daerah pertambangan dengan konsentrasi kaum pria, sehingga mengakibatkan adanya ketidakseimbangan rasio dan wanita di daerah-daerah tersebut.

j) Perkembangan kota-kota, daerah-daerah pelabuhan dan industri yang sangat cepat, dan menyerap banyak tenaga buruh serta pegawai pria. Juga peristiwa urbanisasi tanpa adanya jalan keluar untuk medapatkan kesempatan kerja terkecuali menjadi wanita panggilan bagi anak-anak gadis. k) Bertemunya bermacam-macam kebudayaan asing dan kebudayaan-kebudayaan setempat. Terjadi disorganisasi sosial, sehingga mengakibatkan breakdown / kepatahan pada kontrol sosial; Tradisi dan norma-norma susila banyak dilanggar. Maka tidak sedikit wanita-wanita muda yang mengalami disorganisasi pribadi, dan secara elementer bertingkah laku semau sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya dengan jalan melacurkan diri.

I. Motif - motif yang melatar belakangi Pelacuran


Motif-motif yang melatar belakangi tumbuhnya pelacuran pada wanita itu beranekaragam, yaitu sebagai berikut : 1. Adanya kecenderungan melacurkan diri pada banyak wanita untuk menghindarkan diri dari kesulitan hidup dan mendapatkan kesenangan melalui jalan pendek. Kurangnya pengertian, kurang pendidikan, dan buta huruf, sehingga menghalalkan pelacuran. 2. Ada nafsu seks abnormal, tidak terintegrasi dalam kepribadian, dan keroyalan seks. 3. Tekanan ekonomi, fakor kemiskinan, ada pertimbangan-pertimbangan ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Khususnya dalam usaha

mendapatkan status sosial yang lebih baik. 4. Aspirasi materiil yang tinggi pada diri wanita dan kesenangan ketamakan terhadap pakaian-pakaian indah dan perhiasan mewah namun malas bekerja. 5. Kompensasi terhadap perasaan-perasaan inferior. Ada adjustment yang negatif terutama sekali terjadi pada masa puber dan adolesens. 6. Rasa melit dan ingin tahu gadis-gadis cilik dan anak-anak puber pada masalah seks, yang kemudian kecebur dalam dunia pelacuran oleh bujukan bandit-bandit seks. 7. Anak -anak gadis memberontak terhadap otoritas orang tua yang menekankan banyak tabu dan peraturan seks, juga memberontak terhadap masyarakat dan norma-norma susila yang dianggap terlalu mengekang diri anak-anak remaja itu, lebih menyukai polaseks bebas.

8. Pada masa kanak- kanak pernah melakukan relasi seks, atau suka melakukan hubungan seks sebelum perkawinan ( ada pre-marital sexrelation ) untuk sekedar iseng, atau untuk menikmati masa indah di kala muda. 9. Gadis-gadis daerah Slums ( pekampungan melarat dan kotor dengan lingkungan yang immoril ) , yang sejak kecilnya selalu melihat persengganaan orang-orang dewasa secara kasar dan terbuka, sehingga terkondisionir mentalnya dengan tindakan susila. 10. Oleh bujuk rayu kaum laki-laki dan para calo, tertama yang menjanjikan pekerjaan terhormat dengan gaji tinggi. Misalnya sebagai pelayan toko, bintang film, peragawati, dan lain-lain. 11. Banyaknya stimulasi seksual dalam bentuk : film biru, gambar porno, bacaan cabul, gang anaka muda yang mempratekkan relasi seks, dan lain-lain. 12. Gadis pelayan toko dan pembantu rumah tangga tunduk dan patuh melayani kebutuhan seks dari majikannya, untuk tetap mempertahankan pekerjaanya. 13. Penundaan perkawinan, jauh sesudah kematangan biologis, disebabkan oleh pertimbangan ekonomis dan standar hidup yang tinggi. Lebih suka melacur daripada kawin. 14. Disorganisasi dan disintegrasi dari kehidupan keluarga, broken home, ayah atau ibu lari, kawin lagi, atau hidup bersama dengan partner lain. 15. Mobilitas dari jabatan atau pekerjaan kaum laki-laki, dan tidak sempat membawa keluarganya. Misal : pengemudi, tentara, pelaut, pedagang dan kaum politis, yang membutuhkan pelepasan bagi ketegangan otot-otot dan syarafnya dengan bermain perempuan 16. Adanya ambisi-ambisi besar pada diri wanita untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, dengan jalan yang mudah, tanpa bekerja berat, tanpa suatu skill atau keterampilan khusus. 17. Adanya anggapan bahwa wanita memang dibutuhkan dalam macam-macam permainan cinta, baik sebagai iseng belaka maupun tujuan dagang. 18. Pekerjaan sebagai pelacur tidak memerlukan keterampilan, tidak memerlukan intelegensi tinggi, mudah dikerjakan asal orang yang bersangkutan memiliki kecantikan, kemudahan dan keberanian. 19. Anak-anak gadis dan wanita muda yang kecanduan obat bius ( hash hish, ganja, morfin, heroin,candu, likeur / minuman dengan kadar alkohol tinggi, dan lain-lain ).

20. Oleh pengalaman traumatis ( luka jiwa ) dan shock mental, misal gagal dalam bercinta atau perkawinan madu, ditipu, sehingga muncul kematangan seks yang terlalu dini dan abnormalitas seks. 21. Ajakan teman sekampung / sekota yang sudah terjun terlebih dahulu dalam dunia pelacuran. 22. Ada kebutuhan seks yang normal, akan tetapi tidak dipuaskan oleh pihak suami. Sebab-sebab timbulnya prostitusi dipihak pria antara lain sebagai berikut : a) Nafsu kelamin laki-laki, untuk menyalurkan kebutuhan seks tanpa satu ikatan. b) Rasa iseng, dan ingin mendapatkan pengalaman relasi seks diluar ikatan perkawinan. c) Istri sedang berhalangan haid, mengandung tua, atau lama sekali mengidap penyakit sehingga tidak mampu melakukan relasi seks dengan suaminya. d) Istri menjadi gila. e) Ditugaskan di tempat jauh, pindah kerja atau didetasir ditempat lain, dan belum sempat atau tidak dapat memboyong keluarga. f) Cacat jasmaniah, sehingga merasa malu untuk kawin, lalu menyalurkan kebutuhan seksnya dengan wanita pelacur. g) Karena profesinya sebagai penjahat, sehingga tidak termungkinkan membina keluarga. h) Tidak mendapatkan kepuasan dalam penyaluran kebutuhan seks, dengan partner atau istrinya. i) Tidak perlu bertanggung jawab atau akibat relasi seks, dan dirasakan sebagai lebih ekonomis.

J.

Akibat-akibat Pelacuran

Akibat pelacuran adalah sebagai berikut ini : a. Menimbulkan dan menyebarluaskan penyakit kelamin dan kulit. Penyakit paling banyak terdapat ialah syphilis dan gonorrhoe ( kencing nanah). b. Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga. Suami-suami yang tergoda oleh pelacur biasanya melupakan fungsinya sebagai kepala keluarga, sehingga keluarga menjadi berantakan.

c.

Mendemoralisir atau memberikan pengaruh demoralisasi kepada lingkungan, khususnya anak-anak muda remaja pada masa puber dan adolesensi.

d. e.

Berkorelasi dengan kriminalitas dan kecanduan bahan narkotika. Merusak sendi-sendi moral, susila, hukum dan agama. Terutama sekali menggoyahkan norma perkawinan, sehingga menyimpang dari adat kebiasaan, norma hukum, dan agama, karena digantikan dengan pola pelacuran dan promiskuitas ; yaitu digantikan dengan pola pemuasan kebutuhan seks dan kenikmatan seks yang awut-awutan murah serta tidak bertanggung jawab. Bila pola pelacuran ini telah membudidaya, maka rusaklah sendi-sendi kehidupan keluarga yang sehat.

f.

Adanya pengeksploitasian manusia oleh manusia lain. Pada umumnya wanita pelacur itu cuma menerima upah sebagian kecil saja dari pendapatan yang harus diterimanya, karena sebagian besar harus diberikan kepada germo, calo-calo, centeng, pelindung, dan lainlain. Dengan kata lain, ada sekelompok manusia benalu yang memeras darah dan keringat para pelacur ini.

Bisa menyebabkan terjadinya disfungsi seksual, misal : impotensi, anorgasme, nymformania, satiriasis, ejakulasi prematur yaitu pembuangan sperma sebelum zakar melakukan penetrasi dalam vagina atau liang sanggama, dan lain-lain.

K. Jenis Prostitusi dan Lokalisasi


Jenis prostitusi dapat dibagi menurut aktivitasnya: yaitu terdaftar dan terorganisir dan yang tidak terdaftar. (a) Prostitusi yang terdaftar Pelakunya diawasi oleh bagian ViceControl dari kepolisian, yang dibantu dan bekerja sama dengan Jawatan Sosial dan Jawatan Kesehatan. Pada umumnya mereka dilokalisir dalam satu daerah tertentu. Penghuninya secara periodik harus memeriksakan diri pada dokter atau petugas kesehatan dan mendapatkan suntikan serta pengobatan, sebagai tindakan kesehatan dan keamanan umum. (b) Prostitusi yang tidak terdaftar Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang melakukan prostitusi secara gelapgelapan dan liar, baik secara perorangan maupun dalam kelompok. Perbuatannya tidak terorganisir, tempatnya pun tidak tertentu. Bisa di sembarang tempat, baik mencari mangsa sendiri, maupun melalui calo-calo dan panggilan. Mereka tidak mencatatkan diri kepada yang berwajib. Sehingga kesehatannya sangat diragukan, karena belum tentu mereka itu mau memeriksakan kesehatannya kepada dokter.

Jenis prostitusi dibagi menurut jumlahnya yaitu: (a) Prostitusi yang beroperasi secara individual; merupakan single operator (b) Prostisusi yang bekerja dengan bantuan organisasi dan sindikat yang teratur rapi. Jadi, mereka itu tidak bekerja sendirian; akan tetapi diatur melalui satu sistem kerja suatu organisasi. Sedang menurut tempat penggolongan atau lokasinya, prostitusi dapat dibagi menjadi: (a) Segresi atau lokalisasi, yang terisolir atau terpisah dari kompleks penduduk lainnya. Kompleks ini dikenal sebagai daerah lampu merah, atau petak-petak daerah tertutup. (b) Rumah-rumah panggilan (call houses). (c) Di balik front organisasi atau dibalik bisnis-bisnis terhormat seperti contohnya salon kecantikan, rumah makan, tempat mandi uap dan pijat.

Lokalisasi itu pada umumnya terdiri atas rumah rumah kecil yang berlampu merah, yang dikelola oleh: mucikari atau germo. Diluar negeri, germo mendapat sebutan madam, sedang di Indonesia mereka biasa dipanggil dengan sebutan mami. Di tempat tersebut disediakan segala perlengkapan, tempat tidur, kursi tamu, pakaian dan alat berhias. Juga tersedia macam-macam gadis dengan tipe karakter dan juga suku bangsa yang berbeda. Disiplin di tempat-tempat lokalisasi tersebut diterapkan dengan ketat; misalnya tidak boleh mencuri uang langganan, dilarang merebut langganan orang lain, tidak boleh mengadakan janji di luar, dilarang memonopoli seorang langganan, dan lain-lain. Wanita wanita pelacur itu harus membayar pajak-rumah dan pajak obat-obatan, sekaligus juga uang keamanan agar mereka terlindung dan terjamin identitasnya. Adapun tujuan dari lokalisasi ialah: (a) Untuk menjauhkan masyarakat umum, terutama anak-anak puber dan adolesence dari pengaruh pengaruh immoril dari praktek pelacuran. Juga menghindarkan gangguangangguan kaum pria hidung belang terhadap wanita- wanita baik. (b) Memudahkan pengawasan para wanita tuna susila, terutama mengenai kesehatan dan keamananya. Memudahkan tindakan preventif dan kuratif terhadap penyakit kelamin. (c) Mencegah pemerasan yang keterlaluan terhadap para pelacur, yang pada umumnya selalu menjadi pihak yang paling lemah. (d) Memudahkan bimbingan mental bagi para pelacur, dalam usaha rehabilitasi dan resosialisasi. Kadang kala juga diberikan pendidikan keterampilan dan latihan-latihan

kerja, sebagai persiapan untuk kembali ke dalam masyarakat biasa. Khususnya diberikan pelajaran agama guna memperkuat iman, agar bisa tabah dalam penderitaan. (e) Kalau mungkin diusahakan pasangan hidup bagi para wanita tuna susila yang benar benar bertanggung jawab dan mampu membawanya ke jalan yang benar. Selanjutnya, ada dari mereka itu yang diikutsertakan dalam usaha transmigrasi, setelah mendapatkan suami, keterampilan dan kemampuan hidup secara wajar. Usaha ini dapat dipakai sebagai upaya pro pada program pemerataan penduduk dan memperluas kesempatan kerja di daerah baru. Suasana dalam komplekslokalisasi wanita pelacur itu sangat kompetitif, khususnya dalam bentuk persaingan memperebutkan langganan. Nama-nama wanita pelacur pada umum sudah diganti, untuk menjaga keaslian identitasnya. Solidaritas di kalangan pelacur itu sangat kecil, terkecuali pada saat-saat menghadapi bahaya dan sewaktu diadakan penangkapan oleh pihak yang berwajib. Rumah panggilan atau call house ialah rumah biasa di tengah kampung atau lingkungan penduduk baik-baik, dengan organisasi yang teratur rapi dalam bentuk sindikat, yang secara gelap menyediakan macam-macam tipe wanita pelacur. Keadaan rumahnya tidak menyolok, agak tersembunyi. Di dalamnya disediakan parlour-parlour atau salon salon. Gadis-gadis yang diperlukan dipanggil melalui telepon atau dijemput dengan kendaraan khusus milik organisasi. Call house itu pada umumnya bekerja sama dengan pengurus hotel, rumah pijat, night clubs, penginapan, pusat-pusat hiburan, tempat-tempat perjudian, konsentrasi wisatawan-wisatawan asing dan seterusnya.

Tempat-tempat pelacuran juga ada yang diselenggarakan di balik front organisasi atau di balik bisnis bisnis terhormat. Yaitu letaknya di belakang (di tengah, dekat atau bekerja sama) dengan bar-bar, tempat-tempat hiburan, hotel-hotel, night clubs, penginapan, pusatpusat hiburan, dan tempat-tempat perjudian.

L. Reaksi Sosial
Kenyataan membuktikan bahwa semakin ditekan pelacuran, maka semakin luas menyebar prostitusi tersebut. Sikap reaktif dari masyarakat luas atau reaksi sosialnya bergantung pada empat faktor, yaitu: (a) Derajat penampakan visibilitas tingkah laku; yaitu menolak tidaknya perilaku immoril para pelacur. (b) Besarnya pengaruh yang mendemoralisir lingkungan sekitarnya. (c) Kronis tidaknya kompleks tersebut menjadi sumber penyakit kotor syphilis dan gonorrhea dan penyebab terjadinya abortus serta kematian bayi-bayi. (d) Pola kultural: adat istiadat, norma-norma susila dan agama yang menentang pelacuran, yeng sifatnya represif dan memaksakan. Reaksi sosial itu bisa bersifat menolak sama sekali, dan mengutuk keras serta memberikan hukuman berat; sampai pada sikap netral, masa bodoh dan acuh tak acuh serta menerima dengan baik. Sikap menolak bisa bercampur dengan rasa benci, ngeri, jijik, takut dan marah. Sedang sikap menerima bisa bercampur dengan rasa senang, memuji-muji, mendorong dan simpati. Apabila deviasi atau penyimpangan tingkah laku berlangsung terus menerus dan jumlah pelacur menjadi semakin banyak menjadi kelompok-kelompok deviant dengan tingkah lakunya yang menyolok, maka terjadilah perubahan pada sikap dan organisasi masyarakat terhadap prostitusi. Terjadi pula perubahan-perubahan dalam kebudayaan itu sendiri. Stigma atau noda sosial dan eksploitasi-komersialisasi seks yang semula dikutuk dengan hebat, kini berubah dan mulai diterima sebagai gejala sosial yang umum. Usaha penghukuman, pencegahan, pelarangan, pengendalian, reformasi dan perubahan, semuanya ikut bergeser dan berubah. Tingkah laku seksual immoril yang semula dianggap sebagai noda bagi kehidupan normal dan mengganggu sistem yang sudah ada, mulai diterima sebagai gejala yang wajar. Yang semula ditolak oleh umum, kemudian diintegrasikan menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat; demikian pula halnya dengan gejala pelacuran ini.

M. Fungsi dan Partisipasi Para Pelacur


Fungsinya yaitu menjadi sumber eksplotasi bagi kelompok-kelompok tertentu. Khususnya, mereka itu juga memberikan partisipasi sosial dan ekonomi Partisipasi sosial Kurang lebih 30% dari para pelacur terutama dari kelas menengah dan kelas tinggi mempunyai pekerjaan sebagai kedok penutup. Pada umumnya mereka membenci pekerjaan atau malas bekerja. Kalau malam mereka giat bekerja, sedang pagi dan siang hari lebih suka tidur dan bersantai-santai. Mereka memberikan jasanya dalam bentuk pelayanan seks , dan hiburan mengisi waktu luang. Pelacur-pelacur kelas menengah dan kelas tinggi banyak yang kawin. Mereka itu kurang promiskuous, karena selalu memilih-milih langganan-langganan yang berduit banyak. Pelayanan mereka lebih mesrs , kurang mekanistis , biasanya pelayanannya semalam suntuk. Partisipasi ekonomi Tidak sedikit sumbangan keuangan yang di berikan pelacur kepada macam-macam pihak. Khususnya , para mucikari mendapatkan 1/3 -1/2 dari penghasilan bersih para pelacur. Pihak-pihak lain juga ikut mendapatkan keuntungan ekonomis dari para pelacur.

N. Penyesuaian Diri/Adjusment dan Maladjusment


Opini umum menyatakan, bahwa pekerjaan melacurkan diri itu hanya bisa dilakukan oleh wanita wanita lemah ingatan, abnormal jiwanya, psikopatik, ataupun yang mengalami demoralisasi berat. Bukti bukti penelitian kemudian menunjukkan, bahwa pelacuran itu merupakan bentuk penyimpangan sosio-psikologis yaitu penyimpangan disebabkan faktor faktor sosial dan faktor faktor psikologis (intemalisasi yang keliru). Semakin inteligen, cerdak cerdik, semakin tinggi pendidikan, dan semakin enterprising (giat berusaha) seorang pelacur, maka semakin jauhlah dia dari atribut psikopatik. Dengan kata lain, dia itu benar benar normal, bahkan bisa dikatakan supemomal dan cerdik. Maka setiap gadis biasa dan setiap wanita normal bisa saja menjadi prostitue atau sengaja menjadikan diri sebagai pelacur.

Gejala-gejala khas yang sangat mencolok pada pelacur umumnya ialah: mereka itu cepat menjadi tua dan layu. Ada pun sebab-sebabnya adalah sebagai berikut: 1) Mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk. Misalnya makan, tidur, dan bekerja tidak teratur, sering berpergian dan kurang beristirahat. 2) Badan menjadi lemas dan lemah, karena bekerja kelewatan batas. 3) Bergaul dengan banyak lelaki kasar, sehingga badannya dimanipulir serta diremasremas dengan kasar, dan dieksploitir dengan hebat. 4) Sering mendapat penyakit kotor dan terkena infeksi parah, serta mengalami beberapa kali keguguran. Semua itu mengakibatkan gangguan menstruasi, dan mempercapat kerusakan/kelayuan badan. 5) Banyak minum obat-obatan dan minuman-minuman keras (mengandung kadar alcohol tinggi), sehingga tidak sedikit dari mereka itu menjadi mandul dan tidak punya anak. 6) Setelah energinya mulai terkuras dan kecantikannya mulai melayu, kemampuan seksualnya juga mulai berkurang. Maka hasilnya juga menjadi semakin menyusut, karena ditinggalkan para langganan. 7) Pada usia-usia yang kritis yaitu kurang lebih 30 tahun (prostitusi marginal), terjadi banyak konflik jiwa yang sangat melelahkan lahir-batinnya. Yaitu konflik antar konsepsi diri sebagai prostitute dan meneruskan profasi pelacuran, melawan kebutuhan untuk berhentidan memperbaiki cara hidupnya. Banyak wanita tuna susila yang inteligen pada usia kritis ini lalu beralih pekerjaannya, dengan jalan memilih pekerjaan yang lebih ringan. Misalnya menjadi mucikari, dukun pijat, aborsionis, bakul jamu, dan lain-lain. Sedangkan mereka yang tidak inteligen dan kuran gmampu mengadakan penyesuaian dengna tuntutan umurnya, akan semakin jatuh tergelincir pada prostitusi tingkat lebih rendah lagi, masuk penjara atau mati terlantar dan kesepian di rumah sakit atau panti werda. Maka sangatlah malang nasib wanita-wanita bekas pelacur itu apabila mereka tidak memiliki tabungan atau modal dihari-hari tua. Sebab, pada umumnya masyarakat tidak suka memperkerjakan mereka; karena adanya merkdosa-dosa yang tetap melekat seumur hidup, dan kurang bisa dipercaya kesusilaan serta tanggung jawabnya.

O. Penanggulangan Prostitusi
Sedang usaha yang represif dan kuratif dimaksudkan sebagai: kegiatan untuk menekan (menghapuskan, menindas), dan usaha menyembuhkan para wanita dari ketunasusilaannya, untuk kemudian membawa mereka ke jalan yang benar. Usaha-usaha represif dan kuratif ini antara lain berupa: 1) Melalui lokalisasi yang sering di tafsirkan sebagai legalisasi, orang melakukan pengawasan/control yang ketat, demi menjamin kesehatan dan keamanan para prostitute serta lingkungannya. 2) Untuk mengurangi pelacuran, diusahakan melalui aktivitas rehabilitasi dan resosialisasi, agar mereka bisa dikembalikan sebagai warga masyarakat yang susila. Rehabilitasi dan resosialisasi ini dilakukan melalui: pendidikan moral, latihan latihan agama dan agama pendidikan keterampilan agar mereka bersifat kratif dan produktif. 3) Penyempurnaan tempaat-tempat penampungan bagi para wanita tuna susila terkena razia ; disertai pembinaan mereka, sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. 4) Pemberian suntikan dan pengobatan pada interval waktu tetap, untuk menjamin kesehatan para prostitute dan lingkungannya. 5) Menyediakan lapangan kerja baru bagi mereka yang bersedia meninggalkan profesi pelacuran, dan mau memulai hidup susila. 6) Mengadakan pendekatan terhadap pihak keluarga para pelacur dan masyarakat asal mereka, agar mereka mau menerima kembali bekas-bekas wanita tuna susila itu mengawali hidup baru. 7) Mencarikan pasangan hidup yang permanen/suami bagi para wanita tuna susila, untuk membawa mereka ke jalan yang benar 8) Mengikut sertakan ex-WTS dalam usaha transmigrasi, dalam rangka pemerataan penduduk di tanah air dan perluasan kesempatan kerja bagi kaum wanita.

Kasus Bagai "Septic Tank" di Rumah Kita


Minggu, 20 April 2008 | 12:43 WIB

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Geliat kehidupan malam di sekitar lokalisasi Dolly. ilham khoiri & Jimmy S Harianto Sejarah prostitusi di Surabaya hampir setua sejarah ibu kota Jawa Timur ini. Pada mulanya, pelacuran ini merebak di kawasan pesisir, lantas merambah daerah pinggiran. Kini, Surabaya dikepung bisnis jasa seks itu. Prostitusi di Surabaya tumbuh seiring dengan perkembangan kota itu sebagai kota pelabuhan, pangkalan Angkatan Laut, dan tujuan akhir kereta api. Saat penjajahan Belanda pada abad ke-19, Surabaya sudah dikenal dengan kegiatan pelacuran. Catatan resmi sejarah Kota Surabaya menyebutkan, tahun 1864, terdapat 228 pelacur di rumah-rumah bordil di kawasan Bandaran di pinggir Pelabuhan Tanjung Perak. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1940-an, muncul lokalisasi yang terkenal, yaitu Kembang Jepun. Para pelacur di situ melayani hasrat seks tentara yang mencari hiburan di

tengah perang. Setelah kemerdekaan, bisnis seks di kota ini bukannya berhenti, tetapi malah semakin marak. Saat ini, ada enam kawasan pelacuran besar di Surabaya. Dolly adalah lokalisasi paling terkenal yang tumbuh sejak tahun 1960-an. Bersebelahan dengan Dolly, ada lokalisasi Jarak. Para pelacur dan germo di situ merupakan pindahan dari Jagir, Wonokromo. Saat perpindahan itu, muncul sindiran terkenal di tengah rakyat. Bir temu lawak, balon Jagir pindah neng Jarak, kata Kartono, mantan germo di Jarak. Kawasan pelacuran besar juga berkembang di bagian utara Surabaya, tepatnya di Bangunsari/ Bangunrejo, Kecamatan Krembangan. Tak jauh dari situ, ada lagi bisnis jasa seks di Kremil. Para pelacur di kedua tempat ini melayani kalangan kelas bawah, terutama para awak kapal dari Tanjung Perak. Di bagian barat, sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Surabaya, terdapat kompleks pelacuran Moroseneng, di Desa Sememi, Kecamatan Benowo. Berdampingan dengan lokasi ini, tumbuh juga kegiatan pelacuran di Desa Klakah Rejo, Kecamatan Benowo. Kedua kawasan ini biasa digunakan untuk pelesiran kalangan menengah. Menurut hasil penelitian Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada dan International Labour Organization-International Programme on the Elimination of Child Labour (ILO-IPEC), total PSK yang tercatat di enam kawasan itu sebanyak 8.440 orang. Namun, angka yang sesungguhnya diperkirakan mencapai 12.432 orang. Jumlah itu belum memperhitungkan praktik prostitusi liar yang berlangsung di beberapa titik, seperti di kompleks makam Kembang Kuning-Sido Kumpul, di kawasan Jalan Diponegoro, atau di kawasan sekitar monumen bambu runcing di Jalan Panglima Sudirman. Apa mau dikata, Kota Surabaya seperti dikepung praktik pelacuran. Wajar saja, jika tahun 1980-an, kota ini sempat diolok-olok sebagai kota prostitusi.

Dolly Di antara enam kawasan pelacuran itu, Dolly-lah yang menjadi primadona. Saking masyhurnya, sampai-sampai banyak kalangan yang beranggapan, Dolly sudah jadi salah satu ikon Kota Surabaya. Para pelancong belum terasa menginjakkan kaki di kota itu kalau belum mampir ke sana. Dolly memang punya sejarah unik, lokasi strategis, dan cara menjajakan pelacur yang dramatis. Menurut Tjahjo Purnomo Wijadi, peneliti Lembaga Studi Perubahan Sosial (LSPS), yang pernah meneliti prostitusi Dolly untuk skripsi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, pada mulanya Dolly hanyalah kawasan pemakaman China di daerah pinggiran kota yang sepi. Tahun 1960-an, makam itu banyak dibongkar untuk dijadikan hunian. Tahun 1967, seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina, Dolly Khavit, mendirikan rumah bordil di Jalan Kupang Timur I. Lantaran dianggap sebagai perintis, Dolly kemudian diabadikan sebagai nama daerah itu. Dari hanya beberapa wisma, Dolly lantas berkembang menjadi kawasan pelacuran yang ramai tahun 1980-an, kata Tjahjo. Seiring dengan perkembangan zaman, Dolly menjelma sebagai lokalisasi yang strategis di tengah kota dan dikelilingi pemukiman padat. Atraksi penawaran PSK dengan memajang mereka dalam etalase kaca seperti ikan dalam akuarium punya daya tarik tersendiri. Meski tak tampak ada papan nama bertuliskan Dolly, daerah itu menjadi magnet yang menggaet para lelaki penggemar pelesiran. Septic tank Kenapa prostitusi tumbuh subur di Surabaya? Karena Surabaya itu kota besar dan kota pelabuhan. Banyak orang singgah di sini dan itu pasar bagi prostitusi. Artinya, ujungujungnya kan soal supply and demand, kata L Dyson P, Ketua Program Studi S -3 Ilmu-ilmu Sosial di Unair Surabaya. Fenomena prostitusi menggeliat bersama perkembangan kota. Hampir semua kota di dunia punya kawasan lampu merah. Pada kasus Surabaya, germo dan pelacur sangat berperan dalam membuka kawasan baru dan mengembangkannya jadi kota, kata Dyson menambahkan.

Menurut guru besar Ilmu Sosial Unair, Soetandyo Wignyosoebroto, suka atau tidak suka, pelacuran memang nyata-nyata ada dan hidup bersama masyarakat Surabaya. Kegiatan itu ada karena punya fungsi sosial. Prostitusi di kota itu bagaikan septic tank di rumah kita. Fungsinya untuk menampung kotoran atau sampah, katanya. Terlepas dari kacamata moral, lokalisasi justru penting untuk mengumpulkan dan mengontrol barang najis di satu kawasan tertentu. Di situ, pemerintah bisa mengawasi persoalan kesehatan, keamanan, narkoba, dan penyebaran HIV/AIDS. Jika lokalisasi ditutup, barang najis itu akan berceceran ke mana-mana dan menjadi semakin sulit dikendalikan.

Pembahasan
Masalah pelacuran adalah masalah yang multikompleks, yang tidak berhenti pada masalah ekonomi, namun juga kelonggaran "kultur" masyarakat di sekitarnya, pengaruh gaya hidup, "tradisi" setempat, juga persepsi para pelacur dan keluarganya terhadap profesi tersebut. Sebagaimana fenomena pelacuran di Kawasan Dolly yang berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Di sana, tak hanya terdengar derungan suara mesin kendaraan yang lewat, tetapi juga ada desahan napas para kupu-kupu malam yang terdengar sayup-sayup di balik kamar sempit. Menurut sejarah, Dolly berdiri sejak jaman penjajahan BELANDA. Saya sendiri kurang mengetahui sejak kapan dolly berdiri. Dolly didirikan oleh TANTE DOLLY yang ASELIE keturunan NONIK BELANDA, turunan Tante dolly masih ada hingga kini , tapi ga ada yang ngurusin DOLLY lagi. Sebagai pencetus dan pendiri dolly, tante dolly terbilang sukses. Buktinya , dolly adalah salah satu prostitusi terbesar di asia tenggara mengalahkan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura, gila kan? Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya PSK, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang becak dan lain-lain. Di sana juga terdengar sayup-sayup seorang anak sedang melantunkan ayat-ayat suci, dan kalimatkalimat bijak di tengah-tengah majelis pendidikan. Kompleks banget kegiatan disini. Pernah terlintas Dolly dimasukkan icon wisata bagi kota surabaya... Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya. Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan. Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki) tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik. Pelacuran ibarat "selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya."

Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti oral seks atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau lonte. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal/lonte itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa. Sundal/lonte selain meresahkan juga mematikan, karena merekalah yang ditengarai menyebarkan penyakit AIDS akibat prilaku sex bebas tanpa pengaman kondom.

Problematika perempuan
Mencoba mengambil contoh kasus yang dialami para pelacur yang lokasinya akan ditutup ~ kalau perlu dengan cara paksa : sebelumnya jika kita membahas tempat, maka tidak boleh lepas dari penghuninya. Maka kita harus melakukan observasi/pengamatan kenapa mereka sampai ada disana ??!! yang pasti itu tidak lepas dari : 1. Persoalan Ekonomi mungkin mereka sudah bosan hidup melarat mungkin pula mereka butuh dana yan sangat mendesak dan sangat penting, dan mereka mencarinya dengan jalan pintas bisa juga karena sang suami kurang dalam memberi jatah makan sehari hari. 2. Persoalan Kultur mungkin karena jiwa jiwa feodalistik (tradisional) yang masih kuat, sehingga jika dijual atau disuruh oleh sang suami atau hierarki (dogmatis) untuk terjun ke dalam lembah hitam, maka ia akan tunduk dan patuh bisa pula karena pergaulan dan lingkungan sekitar. Jadi kedua persoalan itulah yang mesti kita kupas terlebih dahulu, karena jika itu kita tinggalkan dan langsung saja menutup tempat tempat yang dianggap maksiat (menurut

hukum dan agama) maka yang terjadi adalah banyaknya pelacur-pelacur liar, yang pasti akan menimbulkan : 1. Penyakit Fisik 2. penyakit Sosial Satu-satunya solusi terbaik yang dapat menjawab (sementara) persoalan tersebut, dalam kerangka taktis dan strategis adalah pengadaan atau pengaktifan LOSISI (Lokalisasi Rehabilitasi Prostitusi), selain itu pemerintah harus jelas dalam masalah Pendanaan ( yang diambil dari APBD ~ bukan hutang ke IMF ) serta masalah Konsep, dan keduanya mesti diPERDA-kan. Karena kalau itu tidak jelas maka yang terjadi bukan lagi sebagai tempat rehabilitasi tetapi akan berubah menjadi ajang prostitusi. Contoh kasus kawasan Dolly ( Surabaya JATIM ) dan mungkin juga kawasan Padang Bulan ( Banyuwangi JATIM ) atau yang ada di daerah lain. Pada awalnya tempat tersebut direncanakan sebagai pusat rehabilitasi para PSK, namun pada akhirnya gagal, dan justru berbalik arah menjadi tempat prostitusi. karena pemerintah dalam melokalisir para PSK tersebut tidak diikuti oleh konsep-konsep rehabilitasi yang jelas dan mampu menjawab problematika PSK itu sendiri. Jadi solosinya adalah dengan penerapan LOSISI, yang mana : a. b. LOSISI harus dikembalikan kepada tujuan semula yaitu rehabilitasi. Rehabilitasi adalah tempat pelatihan ketrampilan kerja bagi para PSK dengan cara mendirikan home-home industri. c. Para PSK yang masih beroperasi di tempat-tempat umum harus dilokalisir ke-LOSISI, untuk dipekerjakan dalam home-home industri. Akan tetapi yang membikin mulut tersenyum dan nurani meratap adalah pemerintah memberikan sebutan kepada mereka dengan pelacur, yang kemudian masyarakat sendiri mempunyai interprestasi bahwa mereka dianggap sebagai kotoran yang sangat menjijikkan sekali. Lalu namanya dirubah menjadi Wanita Tuna Susila (WTS), yang menurut pemerintah serta masyarakat dianggap sebagai golongan yang tidak mempunyai asusila atau tak bermoral. Dan yang lebih tragis lagi, nama mereka dirubah menjadi Penjual Seks Komersial (PSK). Dengan harapan bisa diperjual belikan (dengan cara pembebanan pajak kepada mereka) untuk memberikan masukan uang kas kepada pemerintah, jadi dalam hal ini mereka dianggap (seolah-olah) seperti binatang yang sangat menguntungkan.