Anda di halaman 1dari 30

OLEH HARUN AL RASYID 10.51.

12276
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA 2013

Contoh proyek reklamasi lahan untuk pertanian yang ada di Indonesia adalah: Proyek PENGEMBANGAN PANGAN DAN ENERGI SKALA LUAS DI MERAUKE ( MERAUKE INTEGRATED FOOD AND ENERGY ESTATE) Proyek ini diadakan di KABUPATEN MERAUKE, PROVINSI PAPUA Lima pertimbangan pemerintah menenetapkan Merauke sebagai lokasi Food Estate: 1. Dalam RTRWN (PP 26/2008) Merauke ditetapkan sebagai kawasan andalan dengan pertanian sebagai sektor unggulannya. 2. Merauke memiliki lahan potensial untuk pertanian sangat luas (2,5 juta ha) dengan topografi datar dan subur ditunjang oleh agroklimat yang sesuai. 3. Berbagai tanaman pangan tumbuh dengan baik di kawasan ini antara lain padi, jagung, kedele, shorgum, gandum dan hortikultura. 4. Merauke memiliki savana yang luas untuk peternakan (sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, kangguru dan rusa). 5. Merauke memiliki pantai, sungai dan rawa untuk pengembangan perikanan.

TUJUAN DILAKSANAKANNYA PROGRAM MIFEE: A.MEMANTAPKAN KETAHANAN PANGAN SEKALIGUS MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT KHUSUSNYA MASYARAKAT LOKAL B.MELAKSANAKAN INPRES NO. 1 TAHUN 2010 TENTANG PERCEPATAN PELAKSANAAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL KHUSUSNYA RENCANA AKSI PENGEMBANGAN LAHAN PANGAN SKALA LUAS (FOOD ESTATE) YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN TIDAK MERUSAK PRANATA SOSIAL SETEMPAT. C. MENGHEMAT DAN MENGAHSILKAN DEVISA BAGI NEGARA D. MEMPERCEPAT PEMERATAAN PEMBANGUNAN DI KAWASAN TIMUR INDONESIA SEKALIGUS MENGURANGI KESENJANGAN ANTAR WILAYAH DALAM RANGKA MEMPERKUAT KEUTUHAN NKRI E.MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA DAN KESEMPATAN BERUSAHA F.MENINGKATKAN PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH SEKALIGUS MEMBERI KONTRIBUSI KEPADA PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL.

Landasan hukum pemerintah mengembangkan usaha budidaya tanaman skala luas termasuk di Merauke adalah Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 2010. Dalam PP tersebut antara lain diatur: a) Penetapan luas maksimum lahan untuk setiap jenis usaha budidaya tanaman, didasarkan pada ketersediaan, kesesuaian dan kemampuan lahan serta pelestarian fungsi lingkungan hidup; b) Luas maksimum lahan untuk pengusahaan budidaya tanaman, yaitu 10.000 hektar; c) Untuk wilayah Papua, luas maksimum lahan usaha dapat diberikan dua kali luas maksimum tersebut, yaitu 20.000 ha; d) Ketentuan luasan maksimum lahan tidak berlaku untuk Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah.

Pemanfaatan lahan tersebut dilakukan secara bertahap, yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang pada Areal Pengembangan lain (APL) dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK) (lihat Tabel)

Foto peresmian program MIFEE oleh Menteri Pertanian Suswono beserta Gubernur Papua, Suebo:

Peta arahan cluster sentra produksi pertanian:

Daftar Investor yang berinvestasi di Merauke

Peta Investasi Kabupaten Merauke

Peta cluster pembagian lahan dari pusat (JAKARTA)

Foto lahan di Sirapu, sebagai pilot project MIFEE

Lahan yang di reklamasi dengan peralatan traktor yang telah disediakan pemerintah dan investor.

Foto lahan yang dibuka secara massif di Merauke oleh investor

Foto penyerahan ganti rugi lahan yang telah dilakukan pemerintah bersama pihak-pihak terkait.

MIFEE merupakan jawaban pemerintah Indonesia terhadap krisis pangan dan energi yang melanda negara-negara imperialis, terutama Amerika pada tahun 2008. Imperialis Amerika yang mencari wilayah baru di seluruh dunia untuk berinvestasi dalam bidang pangan dan energi kemudian dibantu oleh Pemerintah Indonesia dengan menerbitkan Inpres No.5 tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi tahun 20082009. Inpres tersebut dijawab oleh Pemprov Papua melalui RAPERDA RTRW Provinsi Papua Tahun 2010-2030 yang mengalokasikan APL untuk Kabupaten Merauke seluas 552.316 Ha, terdiri dari kawasan pertanian 361.952 Ha dan kawasan perkebunan seluas 190.952 Ha. Pemberian lahan oleh Pemprov didasarkan pada hasil identifikasi dan inventarisasi Tim Bapeda Provinsi Papua, dimana diketahui bahwa Merauke merupakan wilayah yang sangat rawan, yang akan tenggelam apabila suhu bumi naik hanya 1 derajat celcius. Namun, Pemerintah Pusat melalui Departemen Pertanian tetap bersikeras untuk memanfaatkan lahan seluas 2,5 juta Ha, sementara Pemkab Merauke sendiri menyetujui penggunaan lahan seluas 1,5 Ha. Pemerintah Pusat akhirnya keluar sebagai pemenang dalam pertentangan soal luas lahan ini.

MIFEE yang mencakup Pertanian Padi, Tebu, Jagung, Perkebunan Kelapa Sawit, Peternakan Sapi, Perikanan dan lain-lain yang berorientasi ekspor, akan melibatkan 36 Investor dengan luas lahan yang akan digarap seluas 2,5 juta Ha dihampir semua Distrik di Kab. Merauke dan satu Distrik masing-masing di Kab. Mappi dan Boven Digoel. Lahan milik masyarakat setempat seluas itu dirampas oleh Pemkab Merauke dan diberikan kepada para investor. Jumlah investor yang telah beroperasi aktif sampai dengan tahun 2010 berjumlah 13 investor dengan investasi sebesar Rp. 18.186.715.000.000;-. Dari 13 investor tersebut, 10 memakai jalur Penanaman Modal Asing (PMA), dimana Bin Laden Group dari Saudi Arabia akan menanamkan modalnya sekitar Rp. 34 Trilyun, sedangkan sisanya memakai jalur Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Dalam kelanjutan program ini, terdapat masalah yang kompleks yang sepertinya luput dari sorotan media, terutama media dalam negeri. Beberapa masalah yang terjadi dalam pelaksanaan program ini adalah: 1. terjadinya ketidakjelasan tentang lahan yang dipakai oleh investor (yang diizinkan pemerintah), karena terdapatnya dua jenis peta cluster wilayah pelaksanaan program MIFEE, yaitu peta yang dipahami dan dimiliki oleh pusat dan peta yang diakui oleh Pemkab Merauke sendiri. 2. bagi beberapa suku pedalaman Papua, terdapat kesenjangan dalam ganti rugi, terdapat banyak kasus penyerobotan tanah adat dan berbagai klaim bahwa masyrakat adat suku-suku di Papua mengalami intimidasi dari pihak-pihak tertentu. 3. terjadinya penyalah gunaan lahan oleh investor, dimana tidak sesuai antara lahan yang direncanakan dengan jenis tanaman yang direncanakan 4. terjadi kesenjangan sosial antara pendatang dengan suku asli, dimana terjadi perbedaan budaya yang mencolok, sehingga benturan ini menjadi salah satu pemicu konf lik. 5. beberapa masalah lain yang menurut penyusun tugas ini belum bisa dijabarkan karena minimnya informasi atas permasalahan program ini.

Beberapa data yang didapat dari media internasional tentang perkembangan pemakaian lahan di Kabupaten Merauke yang tidak sesuai dengan perencaanan awal program Merauke Integrated Food and Energy Estate:

1. pada cluster 1 dimana direncanakan ditanam padi pada lahan basah dan kering seta tanaman jagung, namun pada kenyataan di lapangan hanya sebagian keci wilayah di sebelah utara yang ditanami tebu. Di beberapa tempat di cluster ini malah belum bisa di deteksi, dan beberapa daerah di wilayah ini malah dimiliki oleh petani transmigrasi. 2. pada Cluster 2 direncanakan dalam program MIFEE akan ditanam tebu, jagung, kacang tanah, dan kedelai. Kenyataannya di lapangan komposisi pembagian lahan yang ada oleh PT. Bhakti Argo Lestari dan PT. Reski Kemilau Berjayatidak berimbang dengan rencana dan malah memakan banyak lahan.

3. pada cluster 3, direncankan tanaman jagung, kacang tanah, kedelai, buah-buahan namun pada kenyataanya daerah ini didesain untuk ditanami tanaman untuk industri gula dan minyak sawit oleh perusahaan yang mendapat jatah di daerah ini. 4. pada custer 4, direncanakan tanaman kacang tanah, sawit, buah-buahan, sementara yang nyata di lapangan didominasi oleh tanaman kelapa sawit. Bahkan tanaman kelapa sawit ini merembet ke wilayah lain di bagian utara di sekitar Selil, dimana daerah ini adalah wilayah cluster yang berbeda dari cluster 4.

Pada cluster dengan tingkat perkembangan menengah (2015 -2019) 5. pada cluster 5 direncanakan tanaman padi dan makan pokok, namun pada kenyataannya tanaman yang ditanam di wilayah ini adalah tanaman perkebunan dengan jumlah massif, yaitu tanaman cassava, yang hampir memenuhi keseluruhan wilayah ini. 6. cluster 6 dengan perencanaan akan dijadikan lahan untuk tanaman jagung, sagu, padi dan wilayah perikanan. Namun pada kenyatannya apada wilayah ini masih kosong,

7. pada cluster 7, direncanakan akan ditanami oleh tanaman padi, sagu dan makanan pokok lainnya, sementara di lapangan kenyataanya lahan ini dipersiapkan untuk industri gula oleh perusahaan yang mendapat izin di cluster 7 ini. 8. pada cluster 8, direncanakan akan ditanami oleh tanaman pokok, padi dan sagu. Kenyataan di lapangan di dapati lahan ini masih kosong dan sekarang terlihat akan dijadikan lahan konservasi. 9. pada cluster 9 ini, direnakan akan ditanami oleh tanaman jagung, kedelai, kacang tanah, tanaman pokok, dan padi. Namun kenyataan di lapangan, sebagian besar wilayah ini telah dipersiapkan sebagai lahan kelapa sawit.

Dalam perkembangannya, program MIFEE mengalami beberapa kemunduran dan beberapa tanggapan dari pihak terkait adalah: 1. tanggal 15 agustus 2011, Mentan Suswono menyatakan seteah 2 tahun program MIFEE, tidak ada progres yang nyata, hal ini disampaikannya saat mempromosikan 200 ribu hektar lahan baru di Kalimantan Timur sebagai pengganti kegiatan program MIFEE. 2. tanggal 26 Agustus 2011, Komisioner perusahaan Wilmar, MP. Tumanggor menyatakan bahwa pengembangan food estate di Merauke ditunda dan lahan akan dijadikan hutan lindung. 3. tanggal 11 Juli 2012, kepala departemen penelitian dan pengembangan agrikultur, Haryono, menyatakan bahwa rencana penanaman di 1 juta hektar lahan namun terhalang masalah pembebasan lahan. Haryono menyatakan bahwa lahan untuk MIFEE direduksi menjadi 200 ribu hektar.

Demikian tugas ini saya susun, mudahmudahan memberikan manfaat bagi kita semua, terutama generasi muda yang akan mewarisi tanah ini sebagai kekayaan kita, dan anak cucu kita kelak. Terima kasih.