Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI UJI SENSITIVITAS ANTIMIKROORGANISME DENGAN METODE

DIFUSI

Di susun oleh : Kelompok 2A Nama 1. Arista Tri Utami 2. Pranita Widyanti 3. Octavia Ayu A. C. 4. Aldi Nugroho Dosen Pembimbing : Edy Prasetya NIM 18123383A 18123384A 18123385A 18123386A

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA TAHUN AKADEMIK 2013/2014

I. II.

UJI SENSITIVITAS ANTIMIKROORGANISME DENGAN METODE DIFUSI DASAR TEORI Pada ilmu mikrobiologi ini kita mempelajari banyak tentang jasad-jasad renik yang disebut juga dengan microba atau protista, di mana adanya, ciri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya. Banyak di antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. Beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegiatan manusia sehari-hari seperti misalnya pembuatan anggur, keju, yogurt, produksi penicillin, serta proses-proses perlakuan yang berkaitan dengan pembuangan limbah. Uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Metode uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. Seorang ilmuan dari perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari prosedur Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitivitas bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif (Gaman, dkk. 1992). Pada umumnya metode yang dipergunakan dalam uji sensitivitas bakteri adalah metode Difusi Agar yaitu dengan cara mengamati daya hambat pertumbuhan mikroorganisme oleh ekstrak yang diketahui dari daerah di sekitar kertas cakram (paper disk) yang tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme. Zona hambatan pertumbuhan inilah yang menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap bahan anti bakteri (Jawelz, 1995). Tujuan dari proses uji sensisitivitas ini adalah untuk mengetahui obat-obat yang paling cocok (paling poten) untuk kuman penyebab penyakit terutama pada kasus-

kasus penyakit yang kronis dan untuk mengetahui adanya resistensi terhadap berbagai macam antibiotik. (Dwidjoseputro, 1998). Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman-kuman sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Para peneliti diseluruh dunia memperoleh banyak zat lain dengan khasiat antibiotik namun berhubung dengan adanya sifat toksis bagi manusia, hanya sebagian kecil saja yang dapat digunakan sebagai obat diantaranya adalah streptomycin vial injeksi, Tetrasiklin kapsul, Kanamicin kapsul, Erytromicin kapsul, Colistin tablet, Cefadroxil tablet dan Rifampisin kapsul (Djide, 2003). Sensitivitas bakteri terhadap antibiotik tergantung kapada kemampuan antibiotik tersebut untuk menembus dinding sel bakteri. Antibiotik lebih banyak yang efektif bekerja terhadap bakteri Gram positif karena permeabilitas dinding selnya lebih tinggi dibandingkan bakteri Gram negatif. Jadi suatu antibiotik dikatakan mempunyai spektrum sempit apabila mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, sedangkan antibiotik berspektrum luas jika pertumbuhan bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif dapat dihambat oleh antibiotik tersebut (Sumadio, dkk. 1994). Berdasarkan sasaran tindakan antibiotik terhadap mikroba maka antibiotik dapat dikelompokkan menjadi lima golongan yaitu antibiotik penghambat sintesis dinding sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah penisilin, sefalosporin, basitrasin, dan vankomisin. Yang kedua yaitu antibiotik penghambat sintesis protein sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan aminoglikosida, makrolida, kloramfenikol, linkomisin dan tetrasilin. Yang ketiga yaitu antibiotik penghambat sintesis asam nukleat sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah rifampisin dan golongan kuinolon. Keempat yaitu antibiotik pengganggu fungsi membran sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan polien. Dan yang kelima yaitu antibiotik penghambat metabolisme mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah sulfonamida, trimetoprin dan asam pamino salisilat (Ganiswarna, 1995).

III.

ALAT DAN BAHAN Alat : 1. Cawan petri 2 buah 2. Pinset 3. Kertas Koran 4. Inkubasi 5. Kertas Koran 6. Lampu spirtus Bahan : 1. Medium Nutrient Agar 2. Bakteri Bacillus 3. Antibiotik Amosixillin 4. Antibiotik Ciproflosaxin 5. Antibiotik Trimetroprim 6. Antibiotik Eritromisin 7. Antibiotik Ampicillin 8. Antibiotik Canamisin 9. Antibiotik Seftriaxone 10. Antibiotik Gentamisin

IV.

CARA KERJA a) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b) Menyalakan lampu spirtus, lalu cawan petri dipanaskan c) Celupkan kapas streril ke tabung reaksi yang berisi biakan bakteri Bacillus kemudian tekan kapas ke sisi tabung agar air tiris d) Ulaskan pada seluruh permukaan cawan petri secara merata. e) Lalu panaskan pinset pada lampu spirtus f) Ambil kertas cakram antibiotic dengan kensentrasi tertentu dengan menggunakan pinset.

g) Selanjutnya letakkan pada cawan petri ke 1 dengan 5 macam antibiotic yaitu antibiotic trimetroprim, amoxisillin, ampisillin, gentamisin, dan ciprofloxasin dengan menggunakan pinset dengan jarak yang sama dan tidak boleh miring. h) Panaskan lagi pinset pada lampu spirtus. i) Lalu letakkan kertas cakram antibiotic pada cawan petri ke 2 dengan 5 macam antibiotic yaitu antibiotic eritromisin, penicillin, seftriazone, dan

canamisin yang menggunakan pinset dengan jarak yang sama dan tidak boleh miring. j) Lalu dibungkus dengan kertas Koran dan diinkubasi spade suhu 37C selama 24jam. k) Setelah diinkubasi dilakukan pengukuran diameter zona hambat (mm), kemudian dibandingkan dengan table sensitivitas antibiotic.

V.

HASIL Antibiotik Diameter zona hambat Sensitivitas antibiotik (mm) Trimetropin Amoxycillin Ampicillin Gentamicin Ciprofloxacin Eritromicin Penicillin Ceftriaxone Kanamycin 30 25 18 11 32 25 10 30 20 Susceptible Susceptible Resistant Resistant Suspectible Susceptible Resistant Susceptible Susceptible

VI.

PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini dilakukan uji antibiotik terhadap pertumbuhan mikoba. Antibiotik yang digunakan adalah antibiotik Amoxisilin, antibiotik Trimetroprim, antibiotik Ciprofloxasin, antibiotic Ampicillin, antibiotik Eritromisin, antibiotic Canamisin, antibiotik Seftriaxone, antibiotic Gentamisin, antibiotic Penicillin.

Antibiotik adalah bahan yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau sintetis yang dalam jumlah kecil mampu menekan menghambat atau membunuh mikroorganisme lainnya. Antibiotik memiliki spektrum aktivitas antibiosis yang beragam. Mekanisme kerja antibiotik antara lain adalah menghambat sintesis dinding sel, merusak permeabilitas membran sel, menghambat sintesis RNA (proses transkripsi), menghambat sintesis protein (proses translasi), menghambat replikasi DNA. Tetracycline merupakan antibiotik bakteriostatis yang berikatan dengan subunit ribosomal 16S-30S dan mencegah pengikatan aminoasil-tRNA dari situs A pada ribosom, sehingga dengan demikian akan menghambat translasi protein. Prinsip dari percobaan ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar daerah yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif. Pada percobaan ini medium yang digunakan adalah medium NA (Nutrien Agar), karena medium ini dispesifikasikan untuk pembiakan bakteri dan sampel fungi yang digunakan adalah bakteri Bacillus. Berdasarkan hasil pengamatan setelah sampel diinkubasi selama 48 jam, diperoleh hasil bahwa untuk diameter zona hambat Trimetroprim mencapai 30mm sehingga tergolong susceptible atau peka terhadap bakteri Bacillus. Diameter zona hambat Amoxisillin mencapai 25mm sehingga tergolong susceptible atau peka terhadap bakteri Bacillus. Diameter zona hambat Ampicillin mencapai 18mm sehingga tergolong resisten atau kebal terhadap bakteri Bacillus. Diameter zona hambat Gentamisin mencapai 11mm sehingga tergolong resisten atau kebal terhadap bakteri Bacillus. Diameter zona hambat Ciprofloxasin mencapai 32mm sehingga

tergolong susceptible atau peka terhadap bakteri Bacillus. Diameter zona hambat Eritromisin mencapai 25mm sehingga tergolong susceptible atau peka terhadap bakteri Bacillus. Diameter zona hambat Penisillin mencaai 10mm sehingga tergolong resisten atau kebal terhadap bakteri Bacillus. Diameter zona hambat Eritromisin mencapai 25mm sehingga tergolong susceptible atau peka terhadap bakteri Bacillus. Diameter zona hambat Seftriaxone mencapai 30mm sehingga tergolong susceptible atau peka terhadap bakteri Bacillus. Diameter zona hambat Canamisin mencapai 20mm sehingga tergolong susceptible atau peka terhadap bakteri Bacillus. Adanya zona hambat yang ditandai dengan daerah sekitar antibiotik berwarna bening. Terdapatnya zona hambat pada percobaan tersebut disebabkan karena khamir tersebut tidak resisten terhadap antibiotik yang ditanam pada media yang sama. Resistensi ini merupakan suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antimikroba. Sifat ini merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup. Resistensi dari khamir tersebut biasanya disebabkan karena khamir tersebut dapat menghasilkan suatu enzim yang dapat menghancurkan antibiotik tersebut. .

VII.

KESIMPULAN Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan sebagai berikut : a) Uji antibiotik mikroba adalah pengujian suatu antibiotik terhadap pertumbuhan mikroba. b) Antibiotik adalah bahan yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau sintetis yang dalam jumlah kecil mampu menekan menghambat atau membunuh mikroorganisme lainnya. c) Berdasarkan hasil pengamatan antibiotic Amosixillin, Ciproflosaxin,

Trimetroprim, Eritromisin, Seftriaxone, dan Canamisin dengan zona hambat yang tergolong susceptible atau peka terhadap bakteri Bacillus, sedangkan pada antibiotic Ampicillin, Penisillin dan Gentamisin dengan zona hambat yang tergolong resisten atau kebal terhadap bakteri Bacillus.

VIII. DAFTAR PUSTAKA elczar, Michael J, 1986, Dasar-Dasar Mikrobiologi, UI-Press, Jakarta.

Suhendrayatna,

2001,

Bioremoval

logam

berat

dengan

menggunakan

mikroorganisme, Disampaikan pada seminar on-Air Bioteknologi untuk Indonesia Abad 21. 1-14 Februari 2001, Sinergy Forum-PPI Tokyo Institute of Technology.

Sumadio, H., dan Harahap, 1994, Biokimia dan Farmakologi Antibiotika, USU Press, Medan http://disachem.blogspot.com/2012/04/laporan-praktikum-mikrobiologi-uji_28.html http://bismillahdodbest.wordpress.com/2012/03/26/uji-resistensi-bakteri-terhadapantibiotika-menggunakan-metode-difusi/