Anda di halaman 1dari 52

Urin Seperti Air Cucican Daging Seorang anak laki-laki, usia 8 tahun, dibawa ibunya ke dokter karna air

kencingnya berwarna kemerahan. Riwayat trayma sebelumnya disangkal. Penderita mengalami radang tenggorokan 2 minggu yang lalu, sudah berobat ke dokter dan dinyatakan sembuh. Pada pemeriksaan didapatkan bengkak pada kelopak mata dan didapatkan tekanan darah 130/90mmHg. Pemeriksaan urinalisis didapatkan proteinuria dan hematuria.

SASARAN BELAJAR
LI 1. Memahami dan menjelaskan makroskopis dan mikroskopis saluran kemih LO 1.1 Memahami dan menjelaskan makroskopis saluran kemih. LO 1.2 Memahami dan menjelaskan mikroskopis saluran kemih. LI 2. Memahami dan menjelaskan fisiologi saluran kemih. LO 2.1 Memahami dan menjelaskan proses filtrasi. LO 2.2 Memahami dan menjelaskan proses reabsorbsi. LO 2.3 Memahami dan menjelaskan proses sekresi. LO 2.4 Memahami dan menjelaskan Laju Filtrasi Glomerulus. LO 2.5 Memahami dan menjelaskan faktor yang mempengaruhi pembentukan urin. LO 2.6 Memahami dan menjelaskan pengaturan asam-basa oleh ginjal. LI 3. Memahami dan menjelaskan Glomerulonefritis LO 3.1 Memahami dan menjelaskan Glomerulonefritis. LO 3.2 Memahami dan menjelaskan etiologi Glomerulonefritis. LO 3.3 Memahami dan menjelaskan patofisiologi dan patogenesis Glomerulonefritis. LO 3.4 Memahami dan menjelaskan patologi anatomi Glomerulonefritis. LO 3.5 Memahami dan menjelaskan manifestasi klinis Glomerulonefritis. LO 3.6 Memahami dan menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding Glomerulonefritis. LO 3.7 Memahami dan menjelaskan tatalaksana Glomerulonefritis. LO 3.8 Memahami dan menjelaskan komplikasi Glomerulonefritis LO 3.9 Memahami dan menjelaskan pencegahan Glomerulonefritis. LO 3.10 Memahami dan menjelaskan prognosis Glomerulonefritis. LI 4. Memahami dan menjelaskan kenajisan urin menurut pandangan Islam

LI 1. Memahami dan menjelaskan makroskopis dan mikroskopis saluran kemih

LO 1.1 Memahami dan menjelaskan makroskopis saluran kemih.

GINJAL
Anatomi bagian luar ginjal: Bentuk seperti biji kacang tanah (2 buah) Berwarna coklat kemerahan Ukuran normal 12 x 6 x 2 cm Terdapat pada dinding posterior abdomen di sebelah kanan dan kiri columna vertebralis Letak: Retroperitoneal, 2costae terakhir dan diantara 3 otot-otot besar transversus abdominis,quadratus lumborum dan psoas major. Capsula fibrosa : langsung membungkus ginjal Capsula adiposa: membungkus lemak-lemak

Anatomi bagian dalam ginjal: Cortex renalis : bagian luar, yang berwarna coklat gelap Medulla renalis : bagian dalam yang berwarna coklat lebih terang dibandingkan cortex. Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus.

Vaskularisasi Ginjal
Dari Aorta Abdominalis arteri renalis sin & dex

a.segmentalis(a.lobaris) a.interlobaris a.arquata a.interlobularis a.afferen msk ke Glomerulus (Capsula Bowman), disini terjadi filtrasi darah.

Persarafan Ginjal
Plexus symphaticus renalis

Serabut afferen melalui plexus renalis menuju medulla

spinalis n.thoracalis X, XI, XII

URETER
Adalah saluran tractus urinarius yang mengalirkan urin dari ginjal ke vesica urinarius Panjangnya + 25 cm Terbagi 2 : Ureter pars abdominalis Ureter pars pelvica

VESICA URINARIA

Tempat muara ureter dextra & sinistra dalam rongga

pelvis Berbentuk piramid 3 sisi


Apex menuju ventral atas Basis (fundus) menuju dorso caudal

Corpus terletak antara apex & fundus

Kanan & kiri fundus vesicae ada muara kedua ureter

disebut : Orificium Uretericum Vesicae Daerah berbentuk segitiga dibentuk plica interureterica dan ostium urethra internum disebut Trigonum vesicae

Vaskularisasi a.vesicalis superior a.vesicalis inferior


masing-masing cabang dari a.hypogastrica

Persarafan Saraf otonom parasymphatis berasal dari n.splanchnicus pelvicus (Sacral 2-3-4) Saraf otonom symphatis dari ganglion symphatis (Lumbal 1-2-3)

URETRA
Saluran terakhir dari sistem urinarius

Mulai dari orificium urethra internum sampai orificium

urethra externum Pada laki-laki lebih panjang dari perempuan (L=18-20 cm, P=3-4 cm) Pada laki-laki, urethra terbagi atas 3 daerah :
Urethra pars prostatica Urethra pars membranacea Urethra pars cavernosa

Pada urethra bermuara 2 macam kelenjar, yaitu : Kelenjar para urethralis Kelenjar bulbo urethralis

Vaskularisasi a.dorsalis penis a.bulbo urethralis


Persarafan Cabang-cabang n.pudendus

LO 1.2 Memahami dan menjelaskan mikroskopis saluran kemih.

GINJAL

Korteks: Glomerulus (banyak), tubulus proksimal dan tubulus distal Medula: Duktus Coligens,Ductus Papillaris (bellini) dan Ansa Henle Unit fungsional ginjal Nephron Corpus Malpighi / Renal Corpuscle Capsula Bowman
Pars parietalis: epitel selapis gepeng. Berlanjut menjadi dinding tubulus proximal Pars visceralis terdiri dari podocyte, melapisi endotel Urinary space diantara kedua lapisan

Glomerulus Gulungan kapiler, berasal dari percabangan arteriol afferen dibungkus oleh capsula Bowman keluar sebagai vas efferent

Sel-sel di glomerulus yang berperan dalam Glomelurar filtration barrier Endotel Membrana Basalis Podocyte Sel Mesangial intra glomerularis Sel-sel yang berperan dalam sekresi renin Macula densa Sel juxta glomerularis Sel Polkisen (sel mesangial extra glomerularis)

Tubulus
Tubulus contortus proximalis

epitel selapis kubis batas2 sel sukar dilihat Inti bulat, letak berjauhan Sitoplasma asidofil (merah) Mempunyai brush border Fungsi: reabsorbsi glukosa, ion Na, Cl dan H2O

Ansa Henle
Ansa Henle Segmen Tipis
Mirip pembuluh kapiler darah, ttp epitelnya lbh tebal, shg sitoplasma lbh jelas terlihat Dlm lumennya tdk tdp sel2 darah

Ansa Henle Segmen Tebal Pars Desendens


Mirip tub.kont.prox, ttp diameternya lbh kecil dan dindingnya lbh tipis selalu terpotong dlm berbagai potongan

Ansa Henle Segmen Tebal Pars Asenden


Mirip tub.kont.distal, ttp diameternya lbh kecil dan dindingnya lebih tipis selalu terpotong dlm berbagai potongan

Tubulus contortus distalis


epitel selapis kubis batas2 sel lebih jelas Inti bulat, letak agak berdekatan

Sitoplasma basofil (biru)


Tdk mempunyai brush border Absorbsi ion Na dalam pengaruh aldosteron. Sekresi ion K

Ductus Coligens
Saluran pengumpul, menampung beberapa tubulus distal,

bermuara sebagai ductus papillaris Bellini di papilla renis Mirip tub.kont.distal Batas2 sel epitel jelas Sel lbh tinggi dan lebih pucat

URETER
Mucosa Mucosa saluran urin sejak dari calyx minor, calyx major, ureter dan vesica urinaria dilapisi oleh epitel transitional, permukaan dapat menyesuaikan diri terhadap regangan, impermeable Muscularis Lapisan otot polos Sebelah dalam: longitudinal, sebelah luar: circular

VESIKA URINARIA
Mukosa dilapisi oleh epitel transitional, setebal 5 6

lapisan sel Tunica muscularis terdiri dari otot polos yang berjalan kesegala arah tanpa lapisan yang jelas Pada leher vesica dapat dibedakan 3 lapisan:
Lapisan dalam berjalan longitudinal, distal terhadap leher vesica

berjalan circular mengelilingi urethra pars prostatica, menjadi sphincter urethra interna (involuntary) Lapisan tengah berakhir pada leher vesica Lapisan luar, longitudinal, berjalan sampai ke ujung prostat pada laki2, dan pada wanita berjalan sampai ke meatus externus urethrae

URETRA
Pria
Pars prostatica Pada bagian distal terdapat tonjolan kedalam lumen: verumontanum. Ductus ejaculatorius bermuara dekat verumontanum Dilapisi epitel transitional Pars membranosa Dilapisi epitel bertingkat torak Dibungkus oleh sphincter urethra externa (voluntary) Pars bulbosa dan pendulosa Ujung distal lumen urethra melebar: fossa navicularis Umumnya dilapisi epitel bertingkat torak dan epitel selapis torak, dibeberapa tempat terdapat epitel berlapis gepeng Kelenjar Littre, kelenjar mukosa yang terdapat disepanjang urethra, terutama pada pars pendulosa

Wanita
Pendek, 4-5 cm
Dilapisi epitel berlapis gepeng, dibeberapa tempat

terdapat epitel bertingkat torak Dipertengahan urethra terdapat sphinxter externa (muskular bercorak)

GLANDULA PROSTAT
Jenis epitelnya berlapis atau bertingkat dan bervariasi

dari silindris sampai kubus rendah tergantung pada status endokrin dan kegiatan kelenjar. Sekret mengandung fosfatase asam Konkremen: kondensasi sekret yg mungkin mengalami perkapuran

LI 2. Memahami dan menjelaskan fisiologi saluran kemih.

LO 2.1 Memahami dan menjelaskan proses filtrasi.

Terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena permukaan

aferen lebih besar dari permukaan aferen maka terjadi penyerapan darah
Sedangkan sebagian tersaring adalah bagian cairan darah

kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh kapsula bowman yang terdiri dari glukosa, air, natrium, klorida, sulfat, bikarbonat, dll yang diteruskan ke tubulus ginjal.
. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang

berpori (podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan.


Beberapa faktor yang mempermudah proses penyaringan

adalah tekanan hidrolik dan permeabilitias yang tinggi pada glomerulus

LO 2.2 Memahami dan menjelaskan proses reabsorbsi.


Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar

glukosa, natrium, klorida, fosfat, dan ion bikarbonat.


Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator

reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan natrium dan ion bikarbonat.
Bila diperlukan akan diserap kembali ke dalam tubulus bagian

bawah. Penyerapannya terjadi secara aktif dikenal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan

urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi.

LO 2.3 Memahami dan menjelaskan proses sekresi.


Proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi

di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.

LO 2.4 Memahami dan menjelaskan Laju Filtrasi Glomerulus.


Cairan yang difiltrasikan melalui glomerulus ke dalam kapsula bowman disebut filtrate glomerulus. Lapisan pada membran glomerulus : a. Lapisan endotel kapiler b. Membran basalis c. Lapisan sel epitel yang diilustrasikan pada permukaan luar kapiler glomerulus GFR ( laju filtrat glomerulus) Seperti pada kapiler lain GFR ditentukan oleh : 1. Keseimbangan kekuatan osmotic koloid dan hidro static yang bekerja melintasi membran kaliler. 2. Koefisien filtrasi kapiler (KF), hasil permialbilitas dan daerah filtrasi kapiler. Kapiler glomerulus mempunyai laju filtrasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan banyak kapiler lainnya karena tekanan hidrostatik glomerulus yang tinggi dan KF yang besar.

Pada orang dewasa normal GFR rata-rata 125 ml/ menit, atau

180 L/ hari. Fraksi aliran plama renal yang difiltrasi rata-rata sekitar 0,2, ini menandakan bahwa kira-kira 20% plasma yang mengalir dari ginjal akan di filtrasi oleh kapiler glomerulus.fraksi filtrasi dihitung sebagai berikut : Fraksi filtrasi = GFR / aliran plasma ginjal Faktor Yang Mempengaruhi Lfg (Gfr): a. Tekanan arteri, bila tekanan arteri meningkat, ini jelas meningkatkan tekanan di dalam glomerulus, sehingga laju glomerulus meningkat, tetapi peningakatan filtrasi masih di atur oleh autoregulasi untuk menjaga tekanan glomerulus yang meningkat drastic. b. Efek aliran darah glomerulus atau laju filtrasi glomerulus, bila arteiol eferen dan eferen berkontraksi, maka jumlah darah yang mengalir ke glomerulus tiap mnitnya akan menurun.

LO 2.5 Memahami dan menjelaskan faktor yang mempengaruhi pembentukan urin.


1. Usia

2. Jenis dan jumlah makanan dan minuman yang masuk


ke dalam tubuh 3. Life Style 4. Status kesehatan 5. Psikologis 6. Cuaca 7. Jumlah air yang diminum 8. Saraf 9. Banyak sedikitnya hormone insulin

LO 2.6 Memahami dan menjelaskan pengaturan asam-basa oleh ginjal.

LI 3. Memahami dan menjelaskan Glomerulonefritis

LO 3.1 Memahami dan menjelaskan Glomerulonefritis.


Glomerulonefritis adalah suatu terminologi umum yang

menggambarkan adanya inflamasi pada glomerulus, ditandai oleh proliferasi sel-sel glomerulus akibat proses imunologik

LO 3.2 Memahami dan menjelaskan etiologi Glomerulonefritis.


Penyebab utama GNA PS (Glomerulonefritis pasca

streptococcus) adalah Streptokokus yang bersifat nefritogenik yaitu Streptokokus grup A. Pada pyodermatitis : Streptokokus M tipe 47,49,55,2,60, dan 57. Pada infeksi tenggorokan : Streptokokus M tipe 1,2,4,3, 25, 49 dan 12.

LO 3.3 Memahami dan menjelaskan patofisiologi dan patogenesis Glomerulonefritis.


Glomerulonefritis pascastreptokokus dapat terjadi setelah

radang tenggorok dan jarang dilaporkan bersamaan dengan demam rematik akut , terutama strain tertentu yaitu grup A streptokokus. GNA PS berawal apabila host rentan yang terpapar kuman Streptokokus grup A strain nefritogenik bereaksi untuk membentuk antibodi terhadap antigen yang menyerang. Kompleks imun yang mengandung antigen streptokokus ini mengendap pada glomerulus. Kompleks antigen-antibodi terbentuk dalam aliran darah dan terkumpul dalam glomerulus. Akibat hal ini akan terjadi inflamasi pada glomerulus dan akan mengaktifkan sistem komplemen.

Proses inflamasi yang mengakibatkan terjadinya jejas

renal dipicu oleh : Aktivitas plasminogen menjadi plasmin oleh streptokinase yang kemudian diikuti oleh aktivasi kaskade komplemen. Deposisi kompleks Ag-Ab yang telah terbentuk sebelumnya ke dalam glomerulus. Ab antistreptokokus yang telah terbentuk sebelumnya berikatan dengan molekul tiruan (molecule mimicy) dari protein renal yang menyerupai Ag Streptokokus.

LO 3.4 Memahami dan menjelaskan patologi anatomi Glomerulonefritis.


Pada pemeriksaan mikroskop elektron terlihat deposit padat-

elektron dalam mesangium yang besar dan jelas yang dikenal dengan istilah humps, yang terletak pada daerah subepitelial yang khas. Pada pemeriksaan mikroskop imunofluoresen terlihat endapan IgG granular ireguler dan C3 mulai dari yang halus dan disepanjang dindng kapiler. Pewarnaan fibrin kadang dijumpai dalam mesangium. Pada kasus ringan terutama pada pasien dengan penyakit subklinis, kelainan adalah minimal biasanya terdiri dari proliferasi ringan sampai sedang sel mesangial dan matriks Pada kasus berat terjadi proliferasi sel mesangial, matriks dah sel endotel yang difus dan disertai infiltrasi sel polimorfonuklear dan monosit, serta pembuntuan lumen kapiler.

LO 3.5 Memahami dan menjelaskan manifestasi klinis Glomerulonefritis.


Sembab preorbita pada pagi hari (75%)

Malaise, sakit kepala, muntah, panas dan anoreksia


Asites (kadang-kadang) Takikardia, takipnea, rales pada paru, dan cairan dalam

rongga pleura Hipertensi (tekanan darah > 95 persentil menurut umur) pada > 50% penderita Air kemih merah seperti air daging, oliguria, kadangkadang anuria Pada pemeriksaan radiologik didapatkan tanda bendungan pembuluh darah paru, cairan dalam rongga pleura, dan kardiomegal

LO 3.6 Memahami dan menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding Glomerulonefritis. Anamnesis
Berikut merupakan beberapa keadaan yang didapatkan dari anamnesa: Urin berwarna gelap
Merupakan gejala klinis pertama yang timbul Urin gelap disebabkan hemolisis eritrosit yang telah masuk ke

membran basalis glomerular dan telah masuk ke sistem tubular.

Edema periorbital Onset munculnya sembab pada wajah atau mata tiba-tiba. Tingkat keparahan edema berhubungan dengan tingkat kerusakan ginjal.

Gejala nonspesifik Yaitu gejala secara umum penyakit seperti malaise, lemah, dan anoreksia, muncul pada 50% pasien. 15 % pasien akan mengeluhkan mual dan muntah.

Pemeriksaan Fisik : Edema Hipertensi Oliguria Pemeriksaan Penunjang : Laboratorium Beberapa uji serologis terhadap antigen streptokokus adalah antistreptozim, ASTO, antihialuronidase, dan anti Dnase B. Titer ASTO meningkat pada hanya 50% kasus glomerulonefritis akut pascastreptokokus. Titer antibodi streptokokus positif pada >95 % pasein faringitis, dan 80% pada pasien dengan infeksi kulit. Pada pemeriksaan serologi didapatkan penurunan konsentrasi serum C3. Penurunan C3 terjadi ada >90% anak dengan GNA PS. Pada urinalisis menggambarkan abnormalitas, hematuria dan proteinuria muncul pada semua kasus. Pada sedimen urin terdapat eritrosit, leukosit, granular. Sedangkan pada pemeriksaan darah tepi gambaran anemia didapatkan,anemia normositik normokrom.
Pemeriksaan lainnya : Foto toraks dapat menunjukkan Congestif Heart Failure. USG ginjal: ukuran ginjal normal. Biopsi Ginjal

LO 3.7 Memahami dan menjelaskan tatalaksana Glomerulonefritis.


Hipertensi berat Tiga obat yang sering dianggap memiliki rasio tinggi manfaat dibanding risiko: labetalol (0,5-2 mg/kg/jam intravena [IV]), diazoxide, dan nitroprusside (0,5-2 mcg/kg/menit IV. Hipertensi berat tanpa ensefalopati Dosis obat ini dapat diberikan baik dengan suntikan atau melalui mulut dan dapat diulang setiap 10-20 menit sampai respon yang sesuai diperoleh. Hipertensi ringan sampai sedang tidak membutuhkan penanganan

darurat.
Hipertensi ringan hingga sedang diobati paling efektif dengan tirah baring,

restriksi cairan, dan dosis obat yang kurang sering sebelumnya. Penggunaan diuretik loop, seperti furosemid (1-3 mg/kg/hari oral [PO], diberikan 1-2 kali sehari), dapat mempercepat resolusi hipertensi. Edema dan kongesti peredaran darah. Pembatasan cairan adalah pengobatan terbaik untuk edema dan kongesti peredaran darah. Loop diuretik (furosemid) diberikan PO telah dilaporkan untuk mengurangi lama perawatan di sakit pada anak-anak yang edema.

Penisilin tidak mempengaruhi beratnya glomerulonefritis, melainkan

mengurangi menyebarnya infeksi Streptococcus yang mungkin masih ada. Pemberian penisilin dapat dikombinasi dengan amoksislin 50 mg/kg BB dibagi 3 dosis selama 10 hari. Jika alergi terhadap golongan penisilin, diganti dengan eritromisin 30 mg/kg BB/hari dibagi 3 dosis. Steroid hanya diindikasikan pada pasien dengan glomerulonefritis kresentik (bulan sabit) berat atau pada mereka dengan glomerulonefritis progresif cepat. Diet
Diet rendah natrium dan protein harus dilakukan selama fase akut, ketika

edema dan hipertensi muncul, namun pembatasan diet lama tidak diperlukan Pembatasan cairan dan asupan garam direkomendasikan pada anak yang oliguria atau edema. Pada fase akut diberikan makanan rendah protein (1 g/kgbb/hari) dan rendah garam (1 g/hari). Makanan lunak diberikan pada penderita dengan suhu tinggi dan makanan biasa bila suhu telah normal kembali.

LO 3.8 Memahami dan menjelaskan komplikasi Glomerulonefritis


Gagal ginjal akut
Hilangnya fungsi di bagian penyaringan nefron dapat menyebabkan

produk limbah menumpuk dengan cepat. Kondisi ini dapat berarti akan membutuhkan dialisis darurat.

Gagal ginjal kronis


Dalam komplikasi yang sangat serius, ginjal secara bertahap

kehilangan fungsi. Fungsi ginjal kurang dari 10 persen dari kapasitas normal menunjukkan stadium akhir penyakit ginjal, yang biasanya membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal untuk mempertahankan hidup.

Tekanan darah tinggi


Kerusakan pada ginjal dan mengakibatkan penumpukan limbah dalam

aliran darah dapat meningkatkan tekanan darah Anda.

Sindrom nefrotik
Sekelompok tanda dan gejala yang mungkin menyertai

glomerulonefritis dan kondisi lain yang mempengaruhi kemampuan penyaringan glomerulus.

LO 3.9 Memahami dan menjelaskan pencegahan Glomerulonefritis.


Terapi antibiotik sistemik pada awal infeksi streptokokus

tenggorokan dan kulit tidak akan menghilangkan risiko glomerulonefritis. Anggota keluarga penderita dengan glomerulonefritis akut harus mendapat pemeriksaan laboratorium untuk streptococcus -hemolyiticus grup A dan diobati jika biakan positif.

LO 3.10 Memahami dan menjelaskan prognosis Glomerulonefritis.


Sebagian besar pasien akan sembuh, tetapi 5% di

antaranya mengalami perjalanan penyakit yang memburuk dengan cepat dengan pembentukan kresen pada epitel glomerulus.
Diuresis akan menjadi normal kembali pada hari ke 7-10 setelah awal

penyakit, dengan menghilangnya senbab dan secara bertahap tekanan darah menjadi normal kembali. Fungsi ginjal membaik dalam 1 minggu dan menjadi normal dalam waktu 3-4 minggu. Komplemen serum menjadi normal dalam waktu 6-8 minggu. Kelainan sedimen urin akan tetap terlihat selam berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun pada sebagian besar pasien.

LI 4. Memahami dan menjelaskan kenajisan urin menurut pandangan Islam


Ulama sepakat urine manusia adalah najis kecuali bayi

laki-laki yang hanya mengkonsumsi ASI, berdasarkan hadits Nabi saw yang memerintahkan untuk menyiram bekas air kecing orang Arab Badui di Masjid Nabawi (HR. al-Bukhari dan Muslim) Hadits Nabi saw tentang dua orang yang disiksa di kubur, salah satunya disebabkan karena tidak bersuci dari bekas kencingnya (HR. Bukhari dan Muslim).

DAFTAR PUSAKA
Baratawidjaja, Kamen G, Iris Rengganis (2010). Imunologi Dasar. Edisi

9. Jakarta : Balai Penerbit FKUI Bhimma, Rajendra. 2010. Acute Poststreptococcal Glomerulonephritis Treatment & Management. Diakses dari: http://emedicine.medscape.com/article/980685-treatment#showall pada 4 April 2011. Gandasoebrata R . 2010 . Penuntun Laboratorium Klinik.Cetakan keenambelas . Jakarta : Dian Rakyat Guyton dan Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi II. Jakarta: EGC
Kumar V,et al. 2008. Patologi Anatomi : Robbins edisi 7 vol 2. Jakarta Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. 1995. Patofisiologi : konsep klinis

proses-proses penyakit. Ed. 4. Jakarta : EGC. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia : dari sel ke sistem. Ed. 2. Jakarta : EGC.