Anda di halaman 1dari 19

KOMPILASI MATERI PENGOLAHAN LIMBAH RUMAH PEMOTONGAN HEWAN (RPH) 1.

Pengertian RPH Rumah Potong Hewan adalah suatu bangunan atau kompleks bangunan dengan disain tertentu yang digunakan sebagai tempat memotong hewan selain unggas bagi konsumsi masyarakat luas (Manual Kesmavet, 1993). RPH merupakan unit atau pelayanan masyarakat dalam penyediaan daging sehat yang berfungsi sebagai: (a) tempat dilaksanakannya pemotongan hewan secara benar, (b) tempat dilaksanakannya pemotongan hewan sebelum dipotong (ante-mortem) dan pemeriksaan daging (post-mortem), (c) tempat melacak atau mendeteksi penyakit hewan yang ditemukan pada pemeriksaan antemortem sebagai pencegahan dan memberantas penyakit hewan menular di daerah asal hewan dan, (d) melaksanakan seleksi dan pengendalian pemotongan hewan besar betina bertanduk yang masih produktif. 2. Pengertian Limbah RPH Limbah RPH adalah buangan dari proses pemotongan hewan potong dan hasil ikutan yang tidak dimanfaatkan. Hasil ikutan adalah hasil samping dari pemotongan hewan potong yang berupa darah, kulit, bulu, lemak, tanduk, tulang dan kuku (Manual Kesmavet, 1993). Limbah Cair RPH merupakan seluruh air limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah potong hewan, yaitu air yang berasal dari pemotongan, pembersihan lantai tempat pemotongan, pembersihan kandang penampung, pembersihan kandang isolasi, dan pembersihan isi perut serta air sisa perendaman. Sanjaya dkk (1996) menyatakan bahwa untuk menangani limbah yang dihasilkan oleh kegiatan RPH, maka ada tiga kegiatan yang perlu dilakukan yaitu identifikasi limbah, karakterisasi dan pengolahan limbah. Hal ini harus dilakukan agar dapat ditentukan suatu bentuk penanganan limbah RPH yang efektif. 3. Karakteristik Limbah RPH Industri RPH merupakan salah satu industri pangan. Ciri dan limbah industri pangan adalah kandungan bahan organik yang cukup tinggi dan mudah terurai di perairan. RPH memiliki tiga sumber limbah utama, yaitu: tempat penampungan hewan (stock yard), tempat penyembelihan hewan (slaughter house) dan tempat pengolahan karkas atau daging (packing house). Ditambahkan Janie dan Rahayu (1993) bahwa limbah utama yang dihasilkan oleh RPH adalah berasal dari isi perut, rendering, pemotongan bagian-bagian yang tidak berguna, pengolahan, dan pekerjaan pembersihan. Limbah cair yang dihasilkan pada RPH terdiri dari darah, air pemandian sapi, air pembersihan ruangan dan keranjang, air pencucian kandang, air pencucian karkas, pencucian lantai, cairan rumen, dan cairan isi perut. Limbah utama dari RPH berasal dari penyembelihan, pemindahan, pembersihan rambut, penjadian (rendering), pengaturan, pemrosesan, dan pembersihan. Scahill (2003) memberikan statistik lebih rinci tentang kedua berat sapi dimah pemotongan hewan. Seekor sapi dengan berat 400 kg akan memiliki berat karkas yang dikurangi menjadi sekitar 200 kg setelah pemotongan. Selain itu, kehilangan sekitar sepertiga lemak dan tulang setelah melewati pencacahan daging. Oleh karena itu, seekor sapi yang masih hidup mempunyai berat 400 kg akan memberikan sekitar 140 kg daging yang dapat

dimakan, yang hanya mewakili 35% dari bobot hidupnya. Sisanya, 65% adalah limbah padat dan limbah cair (260 kg). Menguatkan temuan di atas, Gannon et al. (2004) menunjukkan bahwa seekor sapi yang dipotong menghasilkan 13.6 kg darah sebagai limbah cair, sisanya dikumpulkan lalu dimanfaatkan lagi sebagai tepung darah sebab jumlah darah yang dihasilkan dari penyembelihan adalah sekitar 7.7% dari bobot sapi yaitu sebesar 30.8 kg. Limbah padat dikurangi lagi dengan cairan rumen dan cairan isi perut yang dihasilkan pada proses pemotongan sebesar 20 kg dari seekor sapi, jadi limbah padat kurang lebih sebesar 209.2 kg dari seekor sapi. Jumlah sapi yang dipotong dalam sehari di UPTD RPH Bubulak sekitar 40 kepala per hari, maka perhitungan jumlah limbah cair dalam bentuk darah yang dihasilkan dalam satu hari adalah Limbah cair darah = 13.6 kg/ ekor x 40 ekor/ hari= 544 kg/ hari 4. Komposisi Kimia pada Limbah RPH Salah satu industri yang banyak ditemukan di Indonesia ialah agroindustri. Limbah cair agroindustri pada umumnya kaya akan nutrien N (nitrat), P (fosfat), C (karbon), dan K (kalium) yang merupakan nutrisi bagi pertumbuhan sel mikroalga (Kabinawa dan Agustini, 2005). Contoh agroindustri dengan kategori nutrien tinggi adalah RPH. Limbah RPH merupakan limbah organik, berserat, voluminous (bervolume besar). Limbah organik yang dihasilkan RPH adalah berupa darah, sisa lemak, tinja, isi rumen, dan usus dengan kandungan protein, lemak, dan karbohidrat yang cukup tinggi. Berdasarkan istilah teknis dan sumbernya, limbah RPH termasuk dalam golongan limbah industri. Dilihat dari komposisi dan pengaruhnya terhadap perairan, limbah RPH mirip dengan sampah domestik (domestic sewage). Namun karena kandungan bahan organiknya yang tinggi, maka bahaya kontaminasi mikroorganisme patogen limbah RPH lebih besar dari sampah domestik. Menurut Sugiharto (1987) limbah RPH mempunyai sifatsifat umum yaitu kelarutan dan campuran zat organik tinggi, darah, protein, dan lemak. Cara pengolahan limbahnya dapat dilakukan dengan cara pemisahan, pengendapan, dan penyaringan. Pendirian Rumah Potong Hewan (RPH) didekat pemukiman menimbulkan berbagai masalah seperti pencemaran lingkungan akibat dari limbah ternak. Pencemaran lingkungan berdampak pada manusia terutama ketika memproduksi limbah-limbah yang dapat mencemari air, menimbulkan polusi udara (bau) yang sangat mengganggu masyarakat yang ada di sekitar usaha RPH. Hal ini terjadi karena kurangnya manajemen dalam penegelolaan limbah (Anonimous, 2011) Menurut Revo (2011) bahwa limbah yang tidak dikelola secara sadar lingkungan semakin membuat warga merasakan gangguan akan dampak yang ditimbulkan. Seperti bau kotoran hewan yang keluar dari tumpukan isi perut hewan yang dipotong serta limbah air dari hasil pencucian. Bau timbul karena adanya kegiatan mikroorganik yang menguraikan zat organik menghasilkan gas tertentu. Di samping itu bau juga timbul karena terjadinya reaksi kimia yang menimbulkan gas. Kuat tidaknya bau yang dihasilkan limbah tergantung pada jenis dan banyak gas yang ditimbulkan. Menurut Widya dalam Roihatin dan Rizqi (2007) bahwa Limbah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang berupa feces urine, isi rumen atau isi lambung, darah afkiran daging atau lemak, dan air cuciannya, dapat bertindak sebagai media pertumbuhan dan perkembangan mikroba sehingga limbah tersebut mudah mengalami pembusukan. Dalam proses pembusukannya di dalam air, mengakibatkan kandungan NH3 dan H2S di atas maksimum kriteria kualitas air, dan kedua gas tersebut menimbulkan bau yang tidak sedap serta dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan yang disertai dengan reaksi fisiologik tubuh berupa rasa mual dan kehilangan selera makan. Selain menimbulkan gas berbau busuk juga

adanya pemanfaatan oksigen terlarut yang berlebihan dapat mengakibatkan kekurangan oksigen bagi biota air. Kusnoputranto (1995) menyatakan limbah ini akan berdampak pada kualitas fisik air yaitu warna dan pH disamping itu total padatan terlarut. Padatan tersuspensi, kandungan lemak, BOD5. Ammonium, nitrogen, fosfor akan mengalami peningkatan. Limbah terbesar berasal dari darah dan isi perut (Tjiptadi, 1990) sedangkan darah berdampak pada peningkatan nilai BOD dan padatan tersuspensi. Disamping itu isi perut (rumen) dan usus akan meningkatkan jumlah padatan. Pencucian karkas juga meningkatkan nilai BOD. Sedangkan Bewick (1980) menyatakan bahwa limbah ternak merupakan sumber pencemaran bagi air yang mempunyai kandungan BOD tinggi dan kandungan oksigen yang terlarut didalam air relatif sedikit. Di sisi lain, pengolahan limbah cair akan menimbulkan permasalahan tersendiri bagi RPH yaitu tingginya biaya pengolahan. Hal ini karena limbah cair RPH termasuk ke dalam kategori limbah cair kompleks (complex wastewater) yang mengandung bahan organik, padatan tersuspensi, serta bahan koloid seperti lemak, protein, dan selulosa dengan konsentrasi tinggi (D.J Batstone, dkk, 2000; Claudia E.T. Caixeta, dkk, 2002; D.I Masse, dkk, 2001; dan L.A. Nunez, dkk, 1999). Teknologi yang paling lazim untuk mengolah air limbah RPH adalah dengan pengolahan secara kimia fisika diikuti dengan pengolahan secara biologis. Koagulasi dan flokulasi menggunakan bahan-bahan kimia menghasilkan lumpur kimia yang memerlukan penanganan lebih lanjut sehingga memerlukan biaya tersendiri. Proses pengolahan secara biologis (khususnya) aerobik juga memiliki beberapa keterbatasan antara lain memerlukan energi yang tinggi untuk aerasi dan menghasilkan lumpur dalam jumlah besar sehingga memberikan permasalahan terendiri bagi lingkungan. Di sisi lain, proses pengolahan air limbah RPH secara anaerobik juga memiliki beberapa keterbatasan karena proses pengolahan berjalan lambat karena akumulasi padatan tersuspensi dan lemak yang mengapung di reaktor sehingga menghambat pertumbuhan mikroba metanogenesis dan banyak biomasa yang terikut bersama keluaran (washout) (Masse, D, dkk., 2002; Rajehwari, K.V., dkk., 2000).).

ISTILAH-ISTILAH Hewan potong adalah sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba (Manual Kesmavet, 1993). Pemotongan hewan potong adalah kegiatan untuk menghasilkan daging yang terdiri dari pemeriksaan ante mortem, penyembelihan, penyelesaian penyembelihan dan pemeriksaan post mortem (Manual Kesmavet, 1993). Pemeriksaan ante mortem adalah pemeriksaan kesehatan hewan potong sebelum disembelih (Manual Kesmavet, 1993). Penyembelihan hewan potong adalah kegiatan mematikan hewan potong dengan cara menyembelihnya (Manual Kesmavet, 1993). Penyelesaian penyembelihan adalah kegiatan lebih lanjut setelah penyembelihan hewan potong guna memungkinkan pemeriksaan dagingnya (Manual Kesmavet, 1993). Pemeriksaan post mortem adalah pemeriksaan daging dan bagian-bagiannya setelah selesai penyelesaian penyembelihan (Manual Kesmavet, 1993). Karkas adalah bagian dari hewan potong yang disembelih setelah kepala dan kaki dipisahkan, dikuliti, serta isi rongga perut dan dada dikeluarkan (Manual Kesmavet, 1993). Hasil ikutan adalah hasil samping dari pemotongan hewan potong yang berupa darah, kulit, bulu, lemak, tanduk, tulang dan kuku (Manual Kesmavet, 1993). Limbah adalah buangan dari proses pemotongan hewan potong dan hasil ikutan yang tidak dimanfaatkan (Manual Kesmavet, 1993). Petugas pemeriksa adalah dokter hewan pemerintah yang ditunjuk atau petugas lain yang berada dibawah pengawasan dan tanggung jawab dokter hewan dimaksud untuk melakukan pemeriksaan ante mortem dan post mortem di rumah pemotongan hewan atau tempat pemotongan hewan (Manual Kesmavet, 1993). Penanganan daging adalah kegiatan yang meliputi pelayuan, pemotongan bagianbagian daging, pelepasan tulang, pemanasan, pembekuan, pendinginan, pengangkutan, penyimpanan, dan kegiatan lain untuk menyiapkan daging guna penjualannya (Manual Kemavet, 1993). DAPUS Kesmavet, Manual. 1993. Pedoman Pembinaan Kesmavet. Direktorat Bina Kesehatan Hewan Direktorat Jendral Peternakan. Jakarta : Departemen Pertanian. Sugiharto. 1987. Dasar dasar Pengelolaan Air Limbah, Cetakan Pertama. Jakarta : UI Press Fardiaz, S., 1992. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Winarno, F.G., S. Farsiaz dan D. Fardiaz, 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Jenie, B.S.L dan W.P. Rahayu. 1993. Penanganan Limbah Idustri Pangan. Jakarta : Kanisius Scahill, Jeremy. 2007. Blackwater: The Rise of The Worlds Most Powerful Mercenery Army. New York: Nations Book.

Roihatin. A dan Rizqi A. K. 2007 Pengolahan Air Limbah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dengan Cara Elektrokoagulasi Aliran Kontinyu. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang. Kusnoputranto H. 1996. Toksikologi Lingkungan Logam Toksik dan B3 . Jakarta: UI-Press. Tjiptadi, W. 1990. Pengendalian Limbah Pertanian. Makalah pada Perdidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Bagi Wydiasnara Sespa, Sepadya, Sepala dan Sespa Antar Departemen. Jakarta. Bewick.M.W.M. 1980. Handbook of Organic Waste Convertion Litton Educational Publishing, Inc. New York. D.J. Batstone, J. Keller, R.B. Newell, dan M. Newland. Modelling anaerobic degradation of complex wastewater. I: model development, Bioresource Technology, 75(2000), Pages 67-74 Sanjaya, A.W. Sudarwanto, M. Pribadi, E.S. 1996. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Potong Hewan di Kabupaten Dati 11 Bogor. Media Veteriner Vol. III (2). Depok-Bogor. Kabinawa, I. N. K., dan N. W. S. Agustini. 2005. Aplikasi Chlorella Pyrenoidosa Strain Lokal (INK) dalam Penanggulangan Limbah Cair Agroindustri. Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Bogor. Limbah cair rumah potong hewan (RPH) terdiri dari air bekas pencucian yang tercampur dengan feces, darah, urine, dan lemak hewan, sehingga limbah cair RPH mengandung protein, lemak dan karbohidrat dengan materi organik terlarut dan tersuspensi relatif tinggi. (Setyobudiarso, 2012) 5. KLASIFIKASI MIKROORGANISME a. Berdasarkan Kebutuhan Nutrisi (Nutritional Requirements), mikroorganisme terdiri atas 2 (dua) jenis mikroorganisme yaitu : Autotrophic organisms, adalah mikroorganisme yang menggunakan CO2 atau HCO3 sebagai sumber karbon, dan Heterotrophic organisms adalah mikroorganisme yang mempergunakan bahan organik sebagai sumber karbon b. 2. Berdasarkan Kebutuhan Energi (Energy Requirements), mikroorganisme terdiri atas 2 (dua) jenis mikroorganisme yaitu : Phototrophs organisms, adalah mikroorganisme yang menggunakan sinar/lampu (light) sebagai sumber energi, dan Chemotrophs organisms adalah mikroorganisme yang mempergunakan hasil reaksi oksidasi-reduksi sebagai sumber energi. Chemotrophs organisms terdiri dari 2 (dua) jenis Chemoorganotrophs organisms yaitu mikroorganisme yang mempergunakan molekul organik komplek sebagai pendonor elektronnya dan Chemoautotrophs organisms yaitu mikroorganisme yang mempergunakan molekul organik sederhana seperti Hidrogen sulfida (H2S) atau Amonia (NH3) sebagai pendonor elektronnya. c. 3. Berdasarkan Rentang Temperatur (Temperature Range), mikroorganisme dibagi menjadi 3 (tiga) jenis mikroorganisme yaitu : Psychrophilic organisms, adalah mikroorganisme yang dapat hidup optimal pada rentang temperatur 15-30 C, Mesophilic organisms adalah mikroorganisme yang dapat hidup optimal pada rentang temperatur 30-

45 C, dan Thermophilic organisms adalah mikroorganisme yang dapat hidup optimal pada rentang temperatur 45-70 C, d. 4. Berdasarkan Kebutuhan Oksigen (Oxygen Requirements), mikroorganisme terdiri atas 2 (dua) jenis mikroorganisme yaitu : Aerobes organisms, adalah mikroorganisme yang hidupnya tergantung pada ketersediaan oksigen dan Anaerobes organisms adalah mikroorganisme yang hidupnya tidak tergantung pada keberadaan oksigen e. Facultative organisms, merupakan mikroorganisme yang bisa mempergunakan komponen oksigen atau komponen kimia lainnya dalam hidupnya (pertumbuhan). Adapun hal hal mengenai degradasi lemak, protein dan karbohidrat menurut Hayati, 2013 adalah : 1. Biodegradasi Protein Unsur kimia utama protein terdiri dari C, H, O dan N. Maka berdasarkan penyusunnya protein dapat diartikan Polimer dari beberapa asam amino (+/- 20 macam) yang terhubung dengan suatu ikatan yang disebut dengan ikatan peptida, sehingga protein disebut juga dengan ikatan Polipeptida (ikatan yang terdiri dari peptida-peptida). Atau protein terdiri dari karboksil dan Amino, sehingga protein terdiri dari asam-asam amino. Bau busuk timbul karena pemecahan dari bahan organik yang mengandung Nitrogen (peptida dan asam amino). Koagulasi protein yang dapat mempercepat pembusukan. Contoh bakteri yang bersifat proteolitik adalah jenis: Bacillus, Clostridium, Pseudomonas dan Proteus. 2. Biodegradasi Lemak Lemak merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam air akan tetapi larut dalam pelarut organik. Lemak disintesa dari 1 molekul gliserol dan 3 molekul asam lemak. Sehingga dalam perombakannya lemak akan dirombak menjadi gliserol dan asam-asam lemak. Jenis mikroba yang bersifat lipolitik Contoh bakteri Pseudomonas, Alcaligenes, dan Stapylococcus. Kapang: Rhizopus, Geotrichum, Aspergillus dan Penicillium Khamir: Candida, Rhodotarula, Hansemula. 3. Biodegradasi Karbohidrat Molekul Karbohidrat terdiri dari atom-atom C, H dan O Karbohidrat terdiri dari senyawa-senyawa, yaitu: monosakarida, oligosakarida dan polisakarida, dalam pemecahannya Karbohidrat akan dirombak menjadi senyawa sederhana atau monosakarida (Gula). Mikroorganisme yang bersifa Amilolitik terutama beberapa jenis kapang dan beberapa jenis bakteri. Contoh bakteri pemecah pati: Bacillus subtilis. Contoh kapang pemecah pati Aspergillus niger. DAPUS: Setyobudiarso, Hery, 2012. Penurunan COD,TSS dan Warna Limbah Cair Rumah Potong Hewan (RPH) Menggunakan Anaerobic Baffled Reactor (ABR). FTSP ITN-MALANG. Hayati, Nurul, 2013. Biodegradasi Protein, Lemak dan Karbohidrat. Kimia Organik 2.

6. Teknologi pengolahan limbah RPH


Adapun teknologi pengolahan limbah yang dapat diterapkan untuk mengolah limbah rumah potong hewan adalah: a. Pengenceran (dilution) Yakni air buangan diencerkan terlebih dahulu sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah, kemudian baru dibuang ke badan air. Pada keadaan tertentu dilakukan proses pengolahan sederhana terlebih dahulu seperti pengendapan dan penyaringan (Kusnoputranto, 1985). b. Irigasi luas Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali dan air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit-parit tersebut. Dalam keadaan tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan (Kusnoputranto, 1985). c. Kolam oksidasi (Oxidation Ponds/Waste Stabilization Ponds Lagoon) Merupakan suatu pengolahan air buangan untuk sekelompok masyarakat kecil dan cara ini terutama dianjurkan untuk daerah pedesaan. Prinsip kerjanya adalah memanfaatkan pengaruh sinar matahari, ganggang (algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air buangan dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk persegi panjang dengan kedalaman 1-1,5 meter. Dinding dan lapisan kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Luas kolam tergantung pada jumlah air buangan yang akan diolah, biasanya digunakan luas 1 acre (= 4072 m2) untuk 100 orang (Kusnoputranto, 1985) . Pengolahan Primer dan Sekunder Merupakan cara pengolahan air buangan yang lebih kompleks dan lengkap yaitu pengolahan secara fisik dan mekanik (primer) dan secara biologis (sekunder) terutama di daerah perkotaan dan umumnya air buangan dari segala jenis, baik yang berasal dari rumah tangga, kota praja maupun industri (Said, 2007).

d.

Gambar 1. Pengolahan Primer Sekunder Limbah RPH e. Tegnologi Bersih Pengelolaan limbah dengan pendekatan produksi bersih di industri menunjukkan dengan jelas adanya pergeseran posisi dari biaya ke penghematan, dari parsial ke terintegrasi, dari inefisien ke efisiensi, dari teknologi pencemar ke Teknologi Produksi Bersih. Teknologi Produksi Bersih sebagai salah satu alternatif solusi untuk mengantisipasi limbah di RPH Cakung dilakukan dengan pendekatan yang meliputi (Anonim, 2011):

Pengurangan limbah pada sumbernya Pendayagunaan limbah dengan memanfaatkan hasil sampingnya Pengurangan Limbah Pada Sumbernya Pendayagunaan limbah dengan memanfaatkan hasil sampingnya Adapun mekanisme tegnologi bersih:

Sumber: Anonim, 2011. Penerapan Tegnologi Bersih di Rumah Potong Hewan. http://produksibersih.wordpress.com/tag/rumah-potong-hewan/ . diakses: 19 Oktober 2011 Pukul 15.00 WIB. Kusnoputranto, H. 1985. Kesehatan Lingkungan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Indonesia, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Jakarta. Said, Nusa Idaman. 2007. Instalansi Pengolahan Limbah Rumah Potong Hewan Kapasitas 400 M3 per Hari. Direktorat Tegnologi Lingkungan. Jakarta.

7. Hasil dari Pengolahan Limbah


Pendayagunaan limbah adalah teknik pengelolaan limbah hasil proses industri dengan cara memanfaatkan hasil produk atau hasil sampingnya dalam berbagai bentuk/cara seperti limbah di gunakan sebagai bahan baku proses produksi lain menjadi suatu produk yang bermanfaat. RPH pada umunya dalam pendayagunaan limbah cair dan limbah padatnya menggunakan cara biologi, karena diharapkan akan adanya pemanfaatan limbah cair yang dapat digunakan sebagai energi alternatif serta dihasilkannya kompos dari proses limbah padat. Proses pendayagunaan limbah cair RPH dilakukan secara biologi dengan sistem anaerobik menggunakan reaktor tipe Fixed Bed. Proses dimulai dimulai dengan pemisahan limbah padat yang kasar dengan menggunakan penyaring otomatis dengan tujuan untuk melindungi pompa dari padatan kasar yang mungkin akan menyumbat pompa. Limbah cair

yang keluar dari saringan kasar dialirkan langsung menuju penampung dan selanjutnya dialirkan ke atas saringan halus. Limbah cair yang keluar dari saringan dialirankan menuju tangki pencampuran dan penyimpanan, sedangkan limbah padat yang terbuang ditampung pada tempat penampungan. Limbah cair dari tangki penampung dialirkan dengan pompa ke dalam tangki pengendapan/sedimentasi. Endapan lumpur padatan organik dipompa ke penampung lumpur yang lebih padat Limbah cair yang sudah dipisahkan akan dialirkan ke dalam dua unit Fixed Bed reaktor pengolahan limbah cair anaerobik melalui stasiun pompa. Fungsi pengolahan anaerobik ini adalah untuk mendegradasi bahan organik di limbah cair dan merubah bahan organik yang terdegradasi menjadi biogas. Kemudian gas yang dihasilkan oleh proses reaktor anaerobik disimpan dalam penampungan gas, pengisian gas akan dilakukan secara otomatis dengan sistim tekanan yang kemudian dialirkan untuk menjalankan generator dengan tenaga listrik kurang lebih 70 KW, diperkirakan akan dihasilkan gas sebanyak 757 m 3 per hari dengan kandungan gas metana 76,5 %. Energi yang dihasilkan dalam bentuk biogas akan digunakan energi listrik untuk menjalankan keseluruhan proses pendayagunaan limbah cair dan limbah padat.

Gambar 2. Skema Diagram Alir dari Limbah Cair dan Limbah Padat.

Gambar 3. Tangki pencampuran dan sedimentasi awal sebelum limbah cair dimasukkan ke reaktor anaerobik.

Biogas yang dihasilkan dari Fixed Bed digester digunakan untuk memproduksi listrik dengan menggunakan generator. Mesin tersebut berjalan bersamaan dengan jaringan listrik PLN. Kapasitas maksimum adalah 45 kW, generator di atur menjadi 35 kW pada saat tes dilakukan. Mesin yang digunakan adalah Gas Otto Engine yang hanya dijalankan menggunakan biogas tanpa menggunakan bahan baker disel. Sedangkan untuk limbah padat yang berasal dari penampung isi rumen dimasukkan kedalam screw press untuk dikurangi airnya, kemudian padatannya dibawa oleh wheel loader menuju tempat penampungan sementara, sedangkan limbah padat yang berasal dari kandang yang berupa kotoran dan sisa pakan dikumpulkan untuk dibawa ke tempat penampung sementara. Demikian pula dengan lumpur hasil proses limbah cair dibawa ketempat penampungan sementara dan didiamkan selama 7 hari, dari tempat penampungan sementara limbah padat tersebut dibawa ke ruang pengkomposan untuk diproses selama 35 hari dengan proses pembalikan dua kali setiap minggumya. Hasil proses pengkomposan selama kurang lebih 42 hari kemudian dibawa ke tempat penyaringan untuk dilakukan proses penyaringan sehingga dihasilkan kompos halus dan kompos kasar yang kemudian dikemas sesuai ukuran kantong dan dibawa menuju gudang kompos. Kompos yang dihasil dari RPH diperkirakan akan menghasilkan sebanyak 7 ton per harinya dengan jumlah 70 % kompos halus dan 30 % kompos kasar. Produk yang dihasilkan berupa kompos yang berkualitas tinggi dan bernilai ekonomis, karena mengandung unsur hara yang lebih tinggi dibandingkan dengan kompos sejenisnya, bebas bibit gulma, bebas dari bahan beracun dan berbahaya, tersedia dalam berbagai ukuran dan siap pakai. Bilamana lumpur limbah tidak dapat dimanfaatkan untuk membuat kompos, maka lumpur yang dipadatkan dikembalikan ketempat pengeringan Lumpur, sedangkan air rembesan dialirkan kembali ke tangki air limbah didepan. Pengolahan limbah padat menjadi kompos menggunakan sistem Open Windraw, pada minggu pertama dilakukan pengumpulan dan proses pembusukan pendahuluan di interim store . Setelah 6 (enam) sampai 7 (tujuh) minggu dalam proses pengomposan dengan penambahan sludge dari proses pengolahan limbah cair, kompos dapat dianggap sudah matang. Hasil kompos yang telah matang kemudian disaring dengan saringan 10, 15 dan 25 mm. Selama proses pengomposan dilakukan pembalikan 2(dua) kali dalam semimggu, selain itu temperature akan naik mencapai 60 oC dan waktu tinggal temperature yang agak lama akan menginaktifkan bakteri pathogen, parasit dan mematikan bibit rumput. Hasil produksi pupuk dari pengolahan limbah padat adalah 744 ton/tahun. Dapus: Feasibility Study On A Full Scale System For Treatment Of Liquid and Solid Slaughterhouse Wastes.Weiland . P. Development of Anaerobic Filters for Treatment of High Strength Agro Industrial Waste Waters. Bio Process Engineering 2 Springer-Verlag. 1987.

REFERENSI TAMBAHAN TENTANG LIMBAH TERNAK DAN BIOGAS Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan lain-lain. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urin, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dan lain-lain. Semakin berkembangnya usaha peternakan, limbah yang dihasilkan semakin meningkat. Total limbah yang dihasilkan peternakan tergantung dari species ternak, besar usaha, tipe usaha dan lantai kandang. Manure yang terdiri dari feses dan urin merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar manure dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak perah menghasilkan 2 kg limbah padat (feses), dan setiap kilogram daging sapi menghasilkan 25 kg feses . Selain menghasilkan feses dan urin, dari proses pencernaan ternak ruminansia menghasilkan gas metan (CH4) yang cukup tinggi. Gas metan ini adalah salah satu gas yang bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perusakan ozon. Kontribusi emisi metan dari peternakan mencapai 20 35 % dari total emisi yang dilepaskan ke atmosfir. Di Indonesia, emisi metan per unit pakan atau laju konversi metan lebih besar karena kualitas hijauan pakan yang diberikan rendah. Semakin tinggi jumlah pemberian pakan kualitas rendah, semakin tinggi produksi metan . Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik yang dapat menimbulkan pencemaran. Suatu studi mengenai pencemaran air oleh limbah peternakan melaporkan bahwa total sapi dengan berat badannya 5000 kg selama satu hari, produksi manurenya dapat mencemari 9.084 x 107 m3 air. Selain melalui air, limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara biologis yaitu sebagai media untuk berkembang biaknya lalat. Kandungan air manure antara 27-86 % merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan larva lalat, sementara kandungan air manure 65-85 % merupakan media yang optimal untuk bertelur lalat . Kehadiran limbah ternak dalam keadaan keringpun dapat menimbulkan pencemaran yaitu dengan menimbulkan debu. Pencemaran udara di lingkungan penggemukan sapi yang paling hebat ialah sekitar pukul 18.00, kandungan debu pada saat tersebut lebih dari 6000 mg/m3, jadi sudah melewati ambang batas yang dapat ditolelir untuk kesegaran udara di lingkungan (3000 mg/m3). Salah satu akibat dari pencemaran air oleh limbah ternak ruminansia ialah meningkatnya kadar nitrogen. Senyawa nitrogen sebagai polutan mempunyai efek polusi yang spesifik, dimana kehadirannya dapat menimbulkan konsekuensi penurunan kualitas perairan sebagai akibat terjadinya proses eutrofikasi, penurunan konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil proses nitrifikasi yang terjadi di dalam air yang dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota air. Tinja dan urin dari hewan yang tertular dapat sebagai sarana penularan penyakit, misalnya saja penyakit anthrax melalui kulit manusia yang terluka atau tergores.Spora anthrax dapat tersebar melalui darah atau daging yang belum dimasak yang mengandung spora.

Dampak limbah ternak memerlukan penanganan yang serius. Skema berikut ini (Gambar 1) memberi gambaran akibat yang ditimbulkan oleh limbah secara umum dan manajemennya .

Penanganan Limbah Ternak Penanganan limbah ternak akan spesifik pada jenis/spesies, jumlah ternak, tatalaksana pemeliharaan, areal tanah yang tersedia untuk penanganan limbah dan target penggunaan limbah. Penanganan limbah padat dapat diolah menjadi kompos, yaitu dengan menyimpan atau menumpuknya, kemudian diaduk-aduk atau dibalik-balik. Perlakuan pembalikan ini akan mempercepat proses pematangan serta dapat meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan. Setelah itu dilakukan pengeringan untuk beberapa waktu sampai kira-kira terlihat kering. Proses pembuatan kompos seperti ini menyebabkan gas metan yang terbentuk dibrbaskan ke atmosfer. Penanganan limbah cair dapat diolah secara fisik, kimia dan biologi. Pengolahan secara fisik disebut juga pengolahan primer (primer treatment). Proses ini merupakan proses termurah dan termudah, karena tidak memerlukan biaya operasi yang tinggi.Metode ini hanya digunakan untuk memisahkan partikel-partikel padat di dalam limbah. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam pengolahan secara fisik antara lain : floatasi, sedimentasi, dan filtrasi. Pengolahan secara kimia disebut juga pengolahan sekunder (secondary treatment) yang bisanya relatif lebih mahal dibandingkan dengan proses pengolahan secara fisik.Metode ini umumnya digunakan untuk mengendapkan bahan-bahan berbahaya yang terlarut dalam limbah cair menjadi padat. Pengolahan dengan cara ini meliputi proses-proses netralisasi, flokulasi, koagulasi, dan ekstrasi. Pengolahan secara biologi merupakan tahap akhir dari pengolahan sekunder bahanbahan organik yang terkandung di dalam limbah cair. Limbah yang hanya mengandung bahan organik saja dan tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, dapat langsung digunakan atau didahului denghan pengolahan secara fisik.

Pemanfaatan Limbah Ternak Berbagai manfaat dapat dipetik dari limbah ternak, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak. Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified substances).Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi (biogas) dan media berbagai tujuan. Pada makalah ini dibahas pemanfaatan limbah kotoran ternak ruminansia manjadi biogas saja, tanpa mengesampingkan manfaat lain yang dapat diambil. Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pengolahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar biogas. Kotoran ternak ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas. Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi. Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung 22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K. Pembentukan biogas dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang meliputi tiga tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik. Pada tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk polimer menjadi bentuk monomer. Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam.Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan amoniak. Sedangkan pada tahap metanogenik adalah proses pembentukan gas metan. Sebagai ilustrasi dapat dilihat salah satu contoh bagan perombakan serat kasar (selulosa) hingga terbentuk biogas (Gambar 2).

Biogas adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Biogas memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3. Produksi biogas sebanyak 1275-4318 l dapat digunakan untuk memasak, penerangan, menyeterika dan menjalankan lemari es untuk keluarga yang berjumlah lima orang per hari. Jika ditinjau dari kandungan bahan yang terdapat pada limbah ternak ruminansia maka proses pembuatan biogas dapat dilihat pada diagram berikut Gambar 3. Diagram Pembuatan Biogas Berdasarkan Kandungannya

Kotoran hewan seperti kerbau, sapi, babi dan ayam telah terbukti dalam penelitian ketika diproses dalam alat penghasil biogas (digester) menghasilkan biogas yang sangat memuaskan(Harahap et al., 1980). Perbandingan kisaran komposisi gas dalam biogas antara kotoran sapi dan campuran kotoran ternak dengan sisa pertanian dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi gas dalam biogas (%) antara kotoran sapi dan campuran kotoran ternak dengan sisa pertanian(Harahap et al., 1980). Proses pembuatan biogas ini dilakukan secara biologis dengan memanfaatkan sejumlah mikroorganisme anaerob. Bakteri-bakteri anaerob yang berperan dalam tahap-tahap proses pembuatan biogas antara lain : 1. Bakteri pembentuk asam (Acidogenic bacteria) yang merombak senyawa organik menjadi senyawa yang lebih sederhana, yaitu berupa asam organik, CO2, H2, H2S. 2. Bakteri pembentuk asetat (Acetogenic bacteria) yang merubah asam organik, dan senyawa netral yang lebih besar dari metanol menjadi asetat dan hidrogen.

3. Bakteri penghasil metan (metanogens), yang berperan dalam merubah asam-asam lemak dan alkohol menjadi metan dan karbondioksida. Bakteri pembentuk metan antara lain Methanococcus, Methanobacterium, dan Methanosarcina. Adapun proses pembuatan biogas adalah sebagai berikut. Bahan organik dimasukkan ke dalam digester, sehingga bakteri anaerob akan membusukkan bahan organik tersebut yang selanjutnya akan menghasilkan gas yang disebut biogas. Biogas yang telah terkumpul di dalam digester lalu dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tangki penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya, misalnya kompor atau lampu. Jenis limbah ternak ruminansia yang diproses sangat mempengaruhi produktivitas sistem biogas. Selain itu limbah ternak ruminansia yang diproses menjadi biogas memerlukan persyaratan dasar tertentu, yaitu persyaratan tertentu yang menyangkut: 1. Kandungan atau isi yang terkandung dalam bahan. Salah satu cara untuk menentukan bahan organik yang sesuai untuk digunakan sebagai bahan sistem biogas adalah dengan mengetahui perbandingan Karbon (C) dan Nitrogen (N) atau disebut rasio C/N. Perubahan senyawa organik dari limbah ternak ruminansia menjadi CH4 (gas metan) dan CO2 (gas karbon dioksida) memerlukan persyaratan rasio C/N antara 20 25. Sehingga kalau menggunakan limbah ternak ruminansia hanya berbentuk jerami dengan rasio-C/N di atas 65, maka walaupun CH4 dan CO2 akan terbentuk, perbandingan CH4 : CO2 = 65 : 35 tidak akan tercapai. Mungkin perbandingan tersebut bernilai 45 : 55 atau 50 : 50 atau 40 : 60 serta angka-angka lain yang kurang dari yang sudah ditentukan, maka hasil biogasnya akan mempunyai nilai bakar rendah atau kurang memenuhi syarat sebagai bahan energi. Juga sebaliknya kalau limbah ternak ruminansia yang digunakan berbentuk kotoran saja, semisal dari kotoran kambing dengan rasio C/N sekira 8, maka produksi biogas akan mempunyai bandingan antara CH4 dan CO2 seperti 90 : 10 atau nilai lainnya yang terlalu tinggi. Dengan nilai ini maka hasil biogasnya juga terlalu tinggi nilai bakarnya, sehingga mungkin akan rnembahayakan pengguna. Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu rasio C/N terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mempengaruhi proses terbentuknya biogas, karena ini merupakan proses biologis yang memerlukan persyaratan hidup tertentu, seperti juga manusia. 2. Kadar air Kadar air bahan yang terkandung dalam bahan yang digunakan, juga seperti rasio C/N harus tepat. Jika hasil biogas diharapkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku, maka semisal limbah ternak ruminansia yang digunakan berbentuk kotoran kambing kering dicampur dengan sisa-sisa rumput bekas makanan atau dengan bahan lainnya yang juga kering, maka diperlukan penambahan air. Tapi berbeda kalau bahan yang akan digunakan berbentuk lumpur selokan yang sudah mengandung bahan organik tinggi, semisal dari bekas dan sisa pemotongan hewan atau manure dari peternakan. Dalam bahannya sudah terkandung air, sehingga penambahan air tidak akan sebanyak pada bahan yang kering.

Air berperan sangat penting di dalam proses biologis pembuatan biogas. Artinya jangan terlalu banyak (berlebihan) juga jangan terlalu sedikit (kekurangan), ada perbandingan yang berpengaruh pada optimalisasi konversi gas metan. 3. Temperatur Temperatur selama proses berlangsung, karena ini menyangkut kondisi optimal hidup bakteri pemroses biogas yaitu antara 27 28C. Dengan temperatur itu proses pembuatan biogas akan berjalan sesuai dengan waktunya. Tetapi berbeda kalau nilai temperatur terlalu rendah , maka waktu untuk menjadi biogas akan lebih lama. 4. Bakteri penghasil metan (metanogens) Kehadiran jasad pemroses, atau jasad yang mempunyai kemampuan untuk menguraikan bahan-bahan yang akhirnya membentuk CH4 dan CO2. Dalam limbah ternak ruminansia semisal kotoran kandang, limbah rumah pemotongan ataupun rumput dan jerami, serta bahan-bahan buangan lainnya, banyak jasad renik, baik bakteri ataupun jamur pengurai bahan-bahan tersebut didapatkan. Tapi yang menjadi masalah adalah hasil uraiannya belum tentu menjadi CH4 yang diharapkan serta mempunyai kemampuan sebagai bahan bakar. Maka untuk menjamin agar kehadiran jasad renik atau mikroba pembuat biogas (umumnya disebut bakteri metan), sebaiknya digunakan starter, yaitu bahan atau substrat yang di dalamnya sudah dapat dipastikan mengandung mikroba metan sesuai yang dibutuhkan. 5. Aerasi Aerasi atau kehadiran udara (oksigen) selama proses. Dalam hal pembuatan biogas maka udara sama sekali tidak diperlukan dalam bejana pembuat. Keberadaan udara menyebabkan gas CH4 tidak akan terbentuk. Untuk itu maka bejana pembuat biogas harus dalam keadaan tertutup rapat. Masih ada beberapa persyaratan lain yang diperlukan agar hasil biogas sesuai dengan yang diharapkan semisal, pengadukan, pH dan tekanan udara. Tetapi kelima syarat tersebut sudah merupakan syarat dasar agar proses pembuatan biogas berjalan sebagaimana mestinya. Digester (bio reaktor) Bahan yang dapat digunakan untuk membuat digester, alat atau bejana pembuat dan penampung biogas, juga tidak perlu dari bahan yang mahal atau sukar untuk didapatkannya. Drum bekas asal masih kuat, merupakan bahan yang paling umum dipergunakan. Digester bentuk bejana dari tembok juga sering digunakan untuk proses pembuatan biogas yang lebih besar kapasitasnya. Bahan plastik juga bias dijadikan digester tapi sebaiknya memakai plastik polyotilen. Bahan-bahan yang lain juga bisa dipakai asal kedap udara. Membuat biogas bukan semata-mata tergantung kepada bahan yang dipergunakan, kepada alat atau bejana yang digunakan, tetapi juga masih ada faktor-faktor lain yang menyertainya, yang langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil. Misalnya kita sudah memasukkan bahan-bahan yang diperlukan dalam bejana pembuat yang disertai dengan starter yang dibutuhkan. Tetapi ternyata beberapa hari kemudian, tekanan bejana penampung hasil tidak naik-naik. Kalau hal ini terjadi ada dua kemungkinan

penyebabnya. Pertama bejana penampung hasil bocor, hingga secepatnya harus dicari dan ditambal atau proses pembuatan biogas tidak berjalan. Berikut adalah gambar rangkaian alat penghasil biogas yang lebih modern.

Gambar 4 Rangkaian Alat Pembuatan Biogas Modern Keamanan Biogas merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan sangat tinggi dan cepat daya nyalanya. Karenanya sejak biogas berada pada bejana pembuatnya sampai digunakan untuk penerangan ataupun memasak, harus selalu dihindari kehadirannya dari api yang dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan. Hal ini berhubungan dengan kemungkinan terjadinya kebocoran pada peralatan yang tidak diketahui. Sifat cepat menyala biogas, juga merupakan masalah tersendiri. Artinya dari segi keselamatan pengguna. Sehingga tempat pembuatan atau penampungan biogas harus selalu berada jauh dari sumber api yang kemungkinan dapat menyebabkan ledakan kalau tekanannya besar. Untuk mengatasi masalah ini, sebaiknya setiap digester atau penampung gas metan dilengkapi dengan pengukur tekanan sehingga dapat memperkecil resiko terjadinya kecelakaan atau ledakan. Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti gas-gas mudah terbakar yang lain. Pembakaran biogas dilakukan dengan mencampurnya dengan sebagian oksigen (O2). Namun demikian, untuk mendapatkan hasil pembakaran yangoptimal, perlu dilakukan pra kondisi sebelum biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian /penyaringan karena biogas mengandung beberapa gas lain yang tidakmenguntungkan. Sebagai salah satu contoh, kandungan gas hidrogen sulfida yang tinggi dalam biogas, jika dicampur dengan oksigen dengan perbandingan 1:20, makaakan menghasilkan gas yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilaporkan terjadinya ledakan pada sistem biogas sederhana. Limbah Biogas Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan olehtanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan lain-lain tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia. Bahan pembuat biogas juga merupakan bahan organik berkandungan nitrogen tinggi. Selama proses pembuatan kompos yang akan keluar dan tergunakan adalah unsurunsur C, H, dan 0 dalam bentuk CH4 dan CO2. Karenanya nitrogen yang ada akan tetap bertahan dalam sisa bahan, kelak menjadi sumber pupuk organik.

Pupuk organik yang dihasilkan dari memiliki kualitas yang baik, yang merupakan sisa proses fermentasi untuk mendapatkan biogas, dikarenakan bakteri patogen dan biji tanaman gulma dalam kotoran ternak menjadi mati selama proses fermentasi, dan pupuk kandang tersebut langsung dapat digunakan sebagai pupuk terhadap tanaman.