Anda di halaman 1dari 22

Praktikum Analisis Farmasi Laporan Akhir Analisis Asam Mefenamat Menggunakan Metode Spektroskopi Inframerah dan Spektrofotometri UV

Nama NPM

: Aulia Siti Nurhayati : 260110100151

Jadwal Praktikum : Senin, 13.00-16.00 WIB

Laboratorium Analisis Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran 2013

Analisis Asam Mefenamat Menggunakan Metode Spektroskopi Inframerah dan Spektrofotometri UV


I. Tujuan 1. Menganalisis senyawa asam mefenamat menggunakan metode

spektroskopi inframerah 2. Penentuan kadar senyawa asam mefenamat dengan metode

spektrofotometri UV

II.

Prinsip 1. Spektroskopi inframerah Radiasi inframerah (2500-50000 nm atau 4000-2000 cm-1 ) dapat menyebabkan terjadinya vibrasi dan / rotasi suatu gugus fungsional dalam molekul sehingga gugus fungsi yang berlainan dalam suatu struktur kimia masing-masing akan menunjukkan spektrum serapan inframerah yang karakteristik. 2. Spektrofotometri UV Jika suatu molekul dikenai suatu radiasi ultraviolet pada panjang gelombang yang sesuai, maka molekul tersebut akan mengabsorpsi cahaya uv yang mengakibatkan transisi elektronik yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar berenergi lemahke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang saat absorpsi yang terjadi bergantung pada kekuatan elektron yang terikat dalam molekul. 3. Hukum Lambert Beer Menyatakan bahwa konsentrasi suatu zat berbanding lurus dengan jumlah cahaya yang diabsorbsi, atau berbanding terbalik dengan logaritma cahaya yang ditransmisikan. A = a . b . c = log Dimana : = 2 log %T

A a b c %T

= absorban = absorbtivitas = jalannya sinar pada larutan = konsentrasi larutan = persen transmitan

III. Teori Dasar Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu suatu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi (Harjadi, 1990). Spektrum elektromagnetik terdiri dari urutan gelombang dengan sifat-sifat yang berbeda. Kawasan gelombang penting di dalam penelitian biokimia adalah ultra lembayung (UV, 180-350 nm) dan tampak (VIS, 350800 nm). Cahaya di dalam kawasan ini mempunyai energi yang cukup untuk mengeluarkan elektron valensi di dalam molekul tersebut

(Khopkar,2003). Penyerapan sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional atau gugus kromofor yang mengandung elektron valensi dengan tingkat eksutasi rendah. Tiga jenis elektron yang terlibat adalah sigma, phi, dan elektron bebas. Kromofor-kromofor organik seperto karbonil, alkena, azo, nitrat, dan karboksil mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. Panjang gelombang maksimumnya dapat berubah sesuai dengan pelarut yang digunakan. Auksokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elektron bebas nseperti hidroksil, metoksi, dan amina. Terkaitnya gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju ke panjang gelombang yang lebih besar dan disertai dengan peningkatan intensitas.

Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul, terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan kedua adalah cahaya discattering. Bila energi dari cahaya (foton) harus sesuai dengan perbedaan energi dasar dan energi eksitasi dari molekul tersebut. Proses inilah yang menjadi dasar pengukuran absorbansi dalam

spektrofotometer (Sutopo, 2006). Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet (tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor menyampaikan ke layar pembaca (Sastrohamidjojo, 1992). Spektroskopi UV-Vis adalah teknik analisis spektroskopi yang menggunakan sumber radiasi elektromegnetik ultraviolet dan sinar tampak dengan menggunakan instrumen spektrofotometer. Prinsip dari yang kemudian

spektrofotometer UV-Vis adalah penyerapan sinar tampak untuk ultra violet dengan suatu molekul dapat menyebabkan terjadinya eksitasi molekul dari tingkat energi dasar (ground state) ketingkat energi yang paling tinggi (excited stated). Pengabsorbsian sinar ultra violet atau sinar tampak oleh suatu molekul umumnya menghasilkan eksitasi elektron bonding, akibatnya panjang absorbsi maksimum dapat dikolerasikan dengan jenis ikatan yang ada didalam molekul. ( Hendayana, 1994 : 155) Saat sinar mengenai larutan bening, maka akan terjadi 2 hal: 1. Transmisi Transmitan larutan merupakan bagian dari sinar yang diteruskan melalui larutan. 2. Absorpsi Cahaya akan diserap jika energi cahaya tersebut sesuai dengan energi yang dibutuhkan untuk mengalami perubahan dalam molekul. Absorbansi larutan bertambah dengan pengurangan kekuatan sinar (Permanasari,2011). Instrumen pada spektroskopi UV-Vis, yaitu :

1.

Sumber Radiasi Lampu deuterium (= 190nm-380nm, umur pemakaian 500 jam) Lampu tungsten. Pengukurannya pada daerah visible 380-900 nm.

2.

Sistem dispersi Filter Prisma Difractions gratings

3.

Sel kuvet Merupakan tempat penyimpanan larutan sampel atau blanko.Syarat kuvet yaitu tidak menyerap sinar yang digunakan. Bahan kuvet biasanya terbuat dari kaca, plastik, atau bahan kwarsa. Pada pengukuran di daerah tampak, kuvet kaca atau kuvet kaca corex dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah UV kita harus menggunakan sel kuasa, karena gelas tidak tembus cahaya pada daerah ini. Tebal kuvetnya umumnya 10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar dapat digunakan. Sel yang biasa digunakan berbentuk persegi, tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan. Sel yang baik adalah kuarsa atau gelas hasil leburan serta seragan keseluruhannya.

4.

Monokromator Fungsi monokromator ialah sebagai penyeleksi panjang gelombang, yaitu mengubah cahaya yang berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya monokromatis. Monokromator terdiri dari : Celah masuk (split) Berfungsi untuk menerima sinar yang telah dipersempit pada daerah panjang gelombang tertentu untuk diteruskan ke zat. Lensa kolimator Berfungsi untuk mengubah sinar menjadi berkas yang sejajar. Media pendispersi (prisma dan gratting) Celah keluar

Berfungsi untuk mengisolasi sinar yang diinginkan. 5. Detektor Merupakan alat untuk mendeteksi komponen yang terpisah dari kolom. Peranan detektor adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya menjadi signal listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh penampilan data dalam bentuk jarum petunjuk atau angka digital atau radiasi yang melewati sampel akan ditangkap oleh detektor yang akan mengubahnya menjadi besaran terukur. 6. Rekorder Fungsi rekorder mengubah panjang gelombang hasil deteksi dari detektor yang diperkuat oleh amplifier menjadi radiasi yang ditangkap detektor kemudian diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dalam bentuk spektrum. Spektrum tersebut selanjunya dibawa ke monitor sehingga dapat dibaca dalam bentuk transmitan. 7. Read Out (Sabarudin, 2000 : 112-133) Spektroskopi infra merah digunakan secara luas untuk analisis secara kualitatif dan analisis secara kuantitatif. Penggunaan yang paling penting dari spektroskopi infra merah adalah untuk identifikasi senyawa organic, karena spektrumnya sangat kompleks yang terdiri dari banyak puncak-puncak serapan. Spektrum infra merah dari senyawa organic mempunyai sifat-sifat fisik yang karakteristik, artinya kemungkinan bahwa dua senyawa mempunyai spectrum yang sama adalah sangat kecil, kecuali senyawa isomer optic (Underwood,2002) Atom-atom didalam suatu molekul itu tidak diam melainkan bervibrasi(bergetar).Ikatan kimia yang menghubungkan dua atom dapat dimisalkan sebagai dua boa yang dihubungkan oleh suatu pegas.Bila radiasi inframerah dilewatkan melalui suatu cuplikan maka molekulmolekulnya dapat menyerap (mengabsorpsi) energi dan terjadilah transisi di antara tingkat vibrasi dasar dan tingkat tereksitasi .Contoh suatu ikatan C-H yang bervibrasi 90 triloin kali dalam satu detik harus menyerap

radiasi inframerah pada frekuensi tersebut untuk pindah ketingkat vibrasi tereksitasi pertama.Pengabsorpsian energi pada frekuensi dapat dideteksi oleh spektrofotometer infra merah yang memplot jumlah radiasi infra merah yang akan memberikan informasi penting tentang tentang gugus fungsional suatu molekul (Eka,2007). Inframerah merupakan radiasi elektomagnetik dari suatu panjang gelombang yang lebih panjang dari gelombang tampak tetapi lebih panjang dari gelombang mikro.Spestroskopi inframerah merupakan salah satu teknik spektroskopi yang didasarkan pada penyerapan inframerah oleh senyawa.Karena spectrum IR memiliki panjang gelombang yang lebih panjang dari panjang gelombang yang lain maka energy yang

dihasilkan oleh spectrum ini lebih kecil dan hanya mampu menyebabkan vibrasi atom-atom pda senyawa yang menyerapnya (Mathias,2005). Daerah radisai sinar inframerah terbagi menjadi 3: 1. 2. 3. Daerah IR dekat (13000-4000 cm-1) Daerah IR tengah (4000-200 cm-1) Daerah IR jauh (200-10 cm-1) (Mathias,2005) Berikut adalah komponen alat spektrofotometri : 1. Sumber Energi Sumber radiasi yang biasa digunakan berupa Nernst Glower, Globar, dan Kawat Nikhrom. 2. Monokromator Digunakan untuk menghilangkan sinar yang tidak diinginan, sehingga diperoleh sinar yang monokromatis, terdiri dari sistem celah (masuk-keluar) tempat sinar dari sumber radiasi masuk ke dalam sistem monokromator; alat pendispersi berupa prisma/kisi difraksi akan menguraikan sinar menjadi komponen panjang gelombang. 3. Wadah sampel Berfungsi untuk menaruh/meletakkan/melekatkan sampel yang akan dianalisis. Wadah sampel yang digunakan disesuaikan pada bentuk

fisik sampel yang akan dianalisis. Wadah sampel tergantung dari jenis sampel. 4. Detektor Alat yang mengukur atau mendeteksi energi radiasi akibat pengaruh panas. Berbeda dengan detector lainnya (misalnya phototube), pengukuran radiasi infra merah lebih sulit karena intensitas radiasi rendah dan energi foton infra merah juga rendah. Akibatnya signal dari detector infra merah kecil sehingga dalam pengukurannya harus diperbesar dengan menggunaan amplifier. Terdapat dua macam detector yaitu thermocouple dan bolometer. 5. Rekorder Alat perekam untuk mempermudah dan mempercepat pengolahan data dari detector (Imam,2006).

IV. Alat dan Bahan A. Alat

Beaker glass

Kaca arloji

Kertas Perkamen

Kuvet

Labu Ukur

Mortir Agate

Neraca Digital

Pencetak Pelat KBr

Pemegang Cakram

Pipet tetes

Spatel

Spektrofotometri

Spektroskopi IR B. Bahan 1. Asam mefenamat BPFI 2. Asam mefenamat sampel 3. Kalium bromida 4. Metanol 5.

Volum pipet

V.

Prosedur a. Analisis dengan instrumen spektrofotometri uv-vis Sebanyak 5 mg asam mefenamat BPFI ditimbang lalu dilarutkan dalam 25 ml pelarut (metanol) sehingga didapatkan konsentrasi awal asam mefenamat BPFI sebesar 200 ppm. Larutan tersebut dipipet dengan volume yang berbeda ( 0.125 ml, 0.25 ml, 0.5 ml, 0.75 ml, 1 ml ) ke dalam lima labu ukur 10 ml hingga diperoleh larutan baku dengan lima variasi konsentrasi ( 2.5 ppm, 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm). Ke dalam masing masing labu ukur tersebut ditambahkan metanol hingga volume 10 ml. Larutan baku tersebut diukur absorbansinya dengan menggunakan spekrofotometer uv-vis pada panjang gelombang 285 nm ( maks asam mefenamat), sebelumnya dilakukan pengukuran absorbansi terhadap blangko yang hanya berisi pelarut. Nilai absorbansi dicatat dan dicari korelasi antara absorbansi dengan konsentrasi melalui pembuatan kurva kalibrasi serta ditentukan persamaan regresi linear. Pengukuran absorbansi sampel dilakukan dengan cara : sebanyak 50 mg sampel asam mefenamat ditimbang lalu dilarutkan dalam 50 ml metanol sehingga kosentrasi sampel awal yang dibuat adalah 1000 ppm. Dari larutan tersebut dipipet 5 ml ke dalam labu ukur kemudian ditambahkan metanol hingga batas 20 ml. Dilakukan pengukuran absorbansi blamgko kemudian larutan sampel dimasukkan ke dalam kuvet lalu diukur absorbansinya dengan spektrofotometer uv-vis.

b. Analisis dengan Instrumen Spektroskopi Infared Sedikit sampel padat dan bubuk KBr murni (kira-kira 200 mg) digerus hingga homogen di mortir agate. Campuran ini kemudian ditempatkan dalam cetakan dan ditekan dengan menggunakan alat tekanan mekanik. Tekanan ini dipertahankan beberapa menit, kemudian sampel (pelet KBr yang terbentuk) diambil dan kemudian ditempatkan dalam tempat sampel pada alat spektroskopi inframerah untuk dianalisis.

VI. Data Pengamatan Larutan Konsentrasi (ppm) Baku 2.5 5 10 15 20 Sampel 50 1 0.1174 0.2171 0.4374 0.599 0.842 0.5465 Absorbansi 2 0.1176 0.217 0.4373 0.5986 0.8452 0.546 3 0.1175 0.2173 0.4373 0.5986 0.8473 0.5461 Rata Rata Absorbansi 0.1175 0.21713 0.4373 0.59873 0.8448 0.5462

Perhitungan Konsentrasi awal asam mefenamat BPFI = =

= 200 ppm Pengenceran larutan baku I. Konsentrasi 2.5 ppm V1 N1 V1 . 200 ppm V1 II. Konsentrasi 5 ppm V1 N1 V1 . 200 ppm V1 V1 N1 V1 . 200 ppm V1 V1 N1 V1 . 200 ppm V1 = V2 N2 = 10 . 5 ppm = 0.25 ml larutan stok + metanol ad 10 ml = V2 N2 = 10 . 2,5 ppm = 0.125 ml larutan stok + metanol ad 10 ml

III. Konsentrasi 10 ppm = V2 N2 = 10 . 10 ppm = 0.5 ml larutan stok + metanol ad 10 ml

IV. Konsentrasi 15 ppm = V2 N2 = 10 . 15 ppm = 0.75 ml larutan stok + metanol ad 10 ml

V. Konsentrasi 20 ppm V1 N1 V1 . 200 ppm V1 = V2 N2 = 10 . 20 ppm = 1 ml larutan stok + metanol ad 10 ml = 1000 ppm

Konsentrasi sampel awal =

Pengenceran sampel (konsentrasi 50 ppm) V1 N1 V1 . 1000 ppm V1 = V2 N2 = 20 . 50 ppm = 1 ml larutan stok + metanol ad 20 ml

Kurva Kalibrasi

Kurva Kalibrasi
0.9 A b s o r b a n s i 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 5 10 15 20 25 Konsentrasi Larutan Baku (ppm) Kurva Kalibrasi Linear (Kurva Kalibrasi) y = 0.0408x + 0.0145 R = 0.9965

Persamaan regeresi linear y = 0.0408 x + 0.0145373 r2 = 0.998

Perhitungan konsentrasi sampel Substitusikan nilai absorbansi sampel ke (y) : y = 0.0408 x + 0.0145373

0.5462 = 0.0408 x + 0.0145373 x = 13.0309 ppm = = 26.06189 % Spektrum Infrared Asam Mefenamat (literatur) x 100 %

% kadar asam mefenamat

Keterangan spektrum: gugus amina sekunder (-NH stretch) inti aromatis (C=C stretch) gugus amin aromatik (sp2 C-N) gugus metil (sp2C-H stretch) 3300 cm-1 1646 cm-1 dan 1578 cm-1 1259 cm-1 3100 3200 cm-1

VII.

Pembahasan Analisis penentuan kadar asam mefenamat dalam sampel pada praktikum ini menggunakan teknik spektrofotometri UV-Vis. Prinsip dasar alat ini adalah spektrometri yaitu metode analisa kimia berdasarkan serapan oleh molekul terhadap gelombang elektromagnetik (cahaya). Sehingga berhubungan dengan absorbansi dan transmitansi. Absorbansi adalah cahaya yang dapat diserap oleh sampel dan transmitansi adalah cahaya yang diteruskan panjang gelombang maksimum, menentuakn kurva standar dan menentukan konsentrasi sampel. Asam mefenamat merupakan obat analgetik golongan NSAID. Pemerian asam mefenamat adalah serbuk hablur putih atau hampir putih, melebur pada suhu lebih kurang 230 disertai penguraian. Asam mefenamat agak sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam air. Asam mefenamat ini mempunyai struktur kimia dengan nama 2-(2,3dimethylphenyl) asam aminobenzoic.

Struktur asam mefenamat Pada percobaan ini, panjang gelombang 285 nm digunakan sebagai panjang gelombang untuk menganalisis kadar asam mefenamat karena pada panjang gelombang ini absorbansi sinar mempunyai nilai maksimal. Dengan kata lain, pada panjang gelombang ini, sinar yang dipancarkan oleh spektrofotometer paling banyak diserap oleh larutan. Oleh karena itu, pengukuran pada panjang gelombang 285 nm ini menghasilkan pengukuran yang akurat. Panjang gelombang ini juga termasuk dalam rentang panjang gelombang daerah ultraviolet. Asam mefenamat dapat menyerap radiasi UV karena memiliki gugus kromofor dan auksokrom dalam strukurnya. Gugus kromofor adalah

ikatan atau gugus fungsi spesifik dalam molekul yang bertanggung jawab atas penyerapan cahaya pada panjang gelombang tertentu. Gugus kromofor pada asam mefenamat adalah dua gugus benzyl (memiliki ikatan rangkap terkonjugasi) dan gugus karbonil. Panjang gelombang serapan maksimum (max) dan koefisien ekstingsi molar () akan bertambah dengan bertambahnya jumlah ikatan rangkap terkonjugasi. Sedangkan

gugus auksokrom adalah gugus fungsi dalam suatu molekul yang dapat mempengaruhi absorpsi radiasi gugus kromofor. Jika gugus auksokrom terdelokalisasi ke gugus kromofor, maka intensitas absorbansi akan meningkat dan terjadi pergeseran batokromik atau hipsokromik. Gugus kromofor yang terdapat pada asam mefenamat antara lain gugus OH (hidroksil) dan gugus amina (-NH). Langkah penting dalam percobaan ini adalah pengukuran absorbansi larutan baku untuk membuat kurva kalibrasi. Larutan baku adalah larutan analit yg telah diketahui konsentrasinya. Larutan baku dibuat agar dalam pengukuran menggunakan instrumen tidak melampaui batas linearitas (LOL = Limit of Linearity) dari instrumen. Pembuatan larutan standar asam mefenamat dilakukan dengan cara: sebanyak 5 mg asam mefenamat BPFI ditimbang lalu dilarutkan dalam 25 ml pelarut (metanol) sehingga didapatkan konsentrasi awal asam mefenamat BPFI sebesar 200 ppm. Metanol digunakan sebagai pelarut karena asam mefenamat larut dalam metanol dan praktis tidak larut dalam air (berdasarkan BP). Namun metanol memiliki cut-off wavelength pada 210 nm. Cut-off wavelength merupakan panjang gelombang dimana pelarut memberikan serapan jadi tidak boleh mengukur pada panjang gelombang tersebut. Larutan stok awal dipipet dengan volume yang berbeda ( 0.125 ml, 0.25 ml, 0.5 ml, 0.75 ml, 1 ml ) ke dalam lima labu ukur 10 ml hingga diperoleh larutan baku dengan lima variasi konsentrasi ( 2.5 ppm, 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm). Ke dalam masing masing labu ukur tersebut ditambahkan metanol hingga volume 10 ml. Larutan baku tersebut

diukur absorbansinya dengan menggunakan spekrofotometer uv-vis pada panjang gelombang 285 nm ( maks asam mefenamat), sebelumnya dilakukan pengukuran absorbansi terhadap blangko yang hanya berisi pelarut (metanol). Dalam penempatan larutan baku pada kuvet (wadah sampel) yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi galat spektrofotometri adalah kuvet harus bersih, berkas jari tidak boleh menempel pada kuvet karena dapat menyerap radiasi dan penempatan kuvet harus sama supaya hasilnya reprodusibel. Nilai absorbansi dicatat dan dicari korelasi antara absorbansi dengan konsentrasi melalui pembuatan kurva kalibrasi serta ditentukan persamaan regresi linear. Nilai absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0.2 0.8. Anjuran ini didasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan A adalah 0.005 (kesalahan fotometrik). Pengukuran absorbansi juga harus memenuhi syarat hukum lambert-beer daiantaranya : 1. Syarat Konsentrasi Hukum Beer baik untuk larutan encer. Pada konsentrasi tinggi (biasanya 0,01M), jarak rata-rata diantara zat-zat pengabsorpsi menjadi kecil sehingga masing-masing zat mempengaruhi distribusi muatan tetangganya. Interaksi ini dapat mengubah kemampuan untuk mengabsorpsi cahaya pada panjang gelombang yang diberikan. Oleh karena interaksi ini bergantung pada konsentrasi, maka peristiwa ini menyababkan penyimpangan dari kelinearan hubungan di antara absorbansi dengan konsentrasi. Interaksi elektrostatis ion-ion yang berdekatan dengan zat pengabsorpsi akan mempengaruhi harga molar absortivitas; pengaruh ini dapat dihindari dengan cara pengenceran. 2. Syarat Kimia Zat pengabsorpsi tidak boleh terdisosiasi, berasosiasi, atau bereaksi dengan pelarut menghasilkan suatu produk pengabsorpsi spektrum yang berbeda dari zat yang dianalisis. 3. Syarat Cahaya

Hukum Beer hanya berlaku untuk cahaya yang betul-betul monokhromatik (cahaya yang mempunyai satu panjang gelombang) . 4. Syarat Kejernihan Kekeruhan larutan yang disebabkan oleh partikel-partikel koloid misalnya menyebabkan penyimpangan hukum Beer. Sebagian cahaya dihamburkan oleh hukum pertikel-partikel koloid akibatnya kekuatan cahaya yang diabsorpsi berkurang dari cahaya yang seharusnya. Nilai absorbansi yang diperoleh adalah 0.1775 (untuk larutan baku 2.5 ppm), 0.21713 (5 ppm), 0.4373 (10 ppm), 0.59873 (15 ppm), dan 0.8448 (20 ppm). Dari data tersebut dibuat kurva kalibrasi. Kurva kalibrasi merupakan salah satu cara analisis kuantitatif pada instrumen

spektrofotometri. Persamaan regresi linier yang didapat adalah y = 0.0408x + 0.0145373 dengan koefisien korelasi sebesar 0.998

(menyatakan kurva linier). Selanjutnya,pengukuran absorbansi sampel dilakukan dengan cara : sebanyak 50 mg sampel asam mefenamat ditimbang lalu dilarutkan dalam 50 ml metanol sehingga kosentrasi sampel awal yang dibuat adalah 1000 ppm. Dari larutan tersebut dipipet 5 ml ke dalam labu ukur kemudian ditambahkan metanol hingga batas 20 ml. Dilakukan pengukuran absorbansi blangko kemudian larutan sampel dimasukkan ke dalam kuvet lalu diukur absorbansinya dengan spektrofotometer uv-vis. Nilai absorbansi sampel yang diperoleh adalah 0.5462 (nilai y). Konsentrasi analit dihitung menggunakan persamaan regresi linier pada kurva kalibrasi (mencari nilai x) , menghasilkan niai sebesar 13.0309 ppm. Kadar asam mefenamat dalam sampel adalah 26.06189 %. Analisis menggunakan instrumen spektroskopi inframerah

bertujuan untuk mengidentifikasi gugus fungsi yang terdapat pada sampel (asam mefenamat). Prinsip spektroskopi inframerah adalah Radiasi inframerah (2500-50000 nm atau 4000-2000 cm-1 ) dapat menyebabkan terjadinya vibrasi dan / rotasi suatu gugus fungsional dalam molekul

sehingga gugus fungsi yang berlainan dalam suatu struktur kimia masingmasing akan menunjukkan spektrum serapan inframerah yang

karakteristik. Sebelum analisis sampel, dilakukan scan blangko terlebih dahulu yaitu hanya menggunakan KBr. Sampel asam mefenamat berupa padatan, maka preparasi sampel dilakukan dengan membuat pelat KBr. Pembuatan pelat KBr dilakukan dengan cara : Sedikit sampel padat dan bubuk KBr murni (kira-kira 200 mg) digerus hingga homogen di mortir agate untuk menghindari kontaminasi sampel yang menyerap IR. Campuran ini kemudian ditempatkan dalam cetakan dan ditekan dengan tekanan 8 ton selama 5 menit dan dipompa vakum untuk menghilangkan kadar air sekaligus dipress selama 10 menit dengan menggunakan alat tekanan mekanik. Tekanan ini dipertahankan beberapa menit, kemudian sampel (pelet KBr yang terbentuk) diambil dan kemudian ditempatkan dalam tempat sampel untuk proses scan pada bilangan gelombang 4000 400 cm-1 pada alat spektroskopi inframerah untuk analisis gugus fungsi. Penggerusan dilakukan untuk memperkecil ukuran molekulmolekul sehingga ketika ditembak dengan menggunakan sinar infra merah, energi dari sinar infra merah dapat diserap langsung oleh gugus fungsi dan ikatan-ikatan yang ada di dalamnya dengan mudah. Jika suatu molekul yang ukurannya besar ditembak dengan menggunakan sinar infra merah, sinar itu juga akan terhambur dan penyerapan yang terjadi tidak maksimal. Hasilnya, puncak-puncak yang dihasilkan oleh spektra infra merah juga tidak akurat. Selain itu, penggerusan juga dilakukan agar kedua zat yang digerus dapat tercampur secara merata atau homogen. Pemipihan juga dilakukan untuk suatu tujuan yang sama, yaitu agar sisi yang ditembak dengan sinar infra merah tidak terlalu tebal. Jika sisi yang ditembak dengan sinar infra merah terlalu tebal, maka sinar infra merah juga akan terhambur dengan tidak optimal. Ini menyebabkan puncak puncak yang terjadi pada spektra infra merah tidak akurat lagi.

Dalam percobaan ini, oven berfungsi sebagai alat untuk menjaga kondisi KBr tetap dalam kondisi stabil. Karena KBr merupakan zat yang bersifat higroskopis (suka air), maka penyimpanan KBr harus dilakukan di tempat yang kering. Untuk itulah digunakan oven sehingga KBr tetap kering dan terjaga kestabilannya. Air juga dapat terbaca spektrumnya di instrumen karena memiliki gugus OH (3300 nm-1) sehingga dapat mempengaruhi spektrum sampel. Secara prinsip, tingkat energi cahaya di daerah sinar infra merah sesuai dengan energi vibrasi dan rotasi dari ikatan-ikatan yang ada di dalam molekul. Apabila sinar infra merah mengenai ikatan ikatan yang ada di dalam molekul yang tingkat energinya sesuai atau sama dengan tingkat energi tersebut, maka sinar infra merah akan diserap. Karena setiap jenis ikatan mempunyai tingkat energi yang berbeda, maka nilai bilangan gelombang sinar infra merah yang diserap juga akan berbeda. Inilah yang menyebabkan spektrofotometri infra merah dapat dipergunakan untuk menentukan gugus fungsi yang ada di dalam suatu molekul. Interpretasi spektrum IR yang diperoleh menunjukkan adanya beberapa gugus fungsi seperti gugus amina sekunder (-NH stretch) pada bilangan gelombang 3300 cm-1, inti aromatis (C=C stretch) ditunjukkan oeh spektrum pada bilangan gelombang 1646 cm-1 dan 1578 cm-1, gugus amin aromatik (sp2 C-N) ditunjukkan oleh spektrum pada bilangan gelombang 1259 cm-1 dan gugus metil (sp2C-H stretch) ditunjukkan oleh spektrum pada bilangan gelombang 3100 3200 cm-1. Hasil interpretasi spektrum IR tersebut sesuai dengan gugus fungsi yang terdapat pada asam mefenamat, menandakan bahwa instrumen spektroskopi IR cukup akurat.

VIII. Kesimpulan 1. Dari hasil analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis diperoleh kadar asam mefenamat sebesar 26.06189 % 2. Dari hasil identifikasi gugus fungsi menggunakan spektroskopi IR didapat spektrum gugus amina sekunder (-NH stretch) pada bilangan

gelombang 3300 cm-1, inti aromatis (C=C stretch) ditunjukkan oeh spektrum pada bilangan gelombang 1646 cm-1 dan 1578 cm-1, gugus amin aromatik (sp2 C-N) ditunjukkan oleh spektrum pada bilangan gelombang 1259 cm-1 dan gugus metil (sp2C-H stretch) ditunjukkan oleh spektrum pada bilangan gelombang 3100 3200 cm-1.

DAFTAR PUSTAKA

Eka. 2007. Metode Analisa Kimia-Spektrofotometri. Gramedia. Jakarta. Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia. Jakarta. Hendayana, Sumar. 1994. Kimia Analitik Instrumen.Semarang Press.Semarang. Imam. 2006. Kimia Analisa Semi Makro dan Mikro. Erlangga. Jakarta. Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta . UI Press. Mathias, Ahmad. 2005. Spektrofotometri. Exacta.Solo. Permanasari,Anna. 2011. Spektrofotometri UV-Vis. Tersedia online di

http://anna-permanasari.staf.upi.edu/files/2011/03/Spektro-UV-Vis.pdf [diakses tanggal 20 April 2013]. Sabarudin, Akhmad, dkk. 2000. Kimia Analitik. IKIP Semarang. Semarang. Sastrohamidjojo, Hardjono. 1992. Spektroskopi Inframerah. Liberty Yogyakarta. Yogyakarta. Sutopo. 2006. Kimia Analisa. Exacta.Solo. Underwood, dkk. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.