Anda di halaman 1dari 12

Teknik Budidaya yang Mempengaruhi Mutu Hasil Pertanian

PENDAHULUAN Kegiatan pertanian yang meliputi budaya bercocok tanam merupakan kebudayaan manusia paling tua. Sejalan dengan peningkatan peradaban manusia, teknik budidaya tanaman juga berkembang menjadi berbagai sistem. Mulai dari sistem yang paling sederhana sampai sistem yang canggih.Berbagai teknologi budidaya dikembangkan guna mencapai produktivitas yang diinginkan. Istilah teknik budidaya tanaman diturunkan dari pengertian kata-kata teknik, budidaya, dan tanaman. Teknik memiliki arti pengetahuan atau kepandaian membuat sesuatu, sedangkan budidaya bermakna usaha yang memberikan hasil. Kata tanaman merujuk pada pengertian tumbuh-tumbuhan yang diusahakan manusia, yang biasanya telah melampaui proses domestikasi. Teknik budidaya adalah proses menghasilkan bahan pangan serta produk-produk agroindustri dengan

memanfaatkan sumberdaya tumbuhan. Pada umumnya kegiatan budidaya tanaman terkait dengan tingkat pengetahuan manusia pada masa itu. Relevansi dari peradaban tersebut terwujud pada kesadaran untuk melaksanakan tindak budidaya. Tindak awal dari dimulainya teknik budidaya dimulai dengan menetapnya seorang peladang menempati suatu area pertanaman tertentu. Tingkatan tindak budidaya tanaman dicerminkan juga oleh tingkatan pengelolaan lapang produksi. Pengelolaan yang paling sederhana sampai pengelolaan yang pal ing maju, yaitu teknik budidaya yang telah melakukan pengelolaan terhadap unsur iklim, air, tanah dan udara. Pada kelompok ini pelaku budidaya telah dapat mengestimasi produksi maksimumnya dan panen yang tepatwaktu. Sebagaimana diketahui ketepatan saat panen sangat menentukan nilau jual suatu produk. Intensifikasi dalam pengelolaan lapang produksi diikui juga olehmeningkatnya sarana agronomi baik bahan atau jasa. Tanaman dibudidayakan dengan maksud agar tanaman tersebut memberikan hasil tinggi secara kuantitatif dan kualitatif. Dengan demikian untuk mencapai maksud dan tujuan dalam budidaya tanaman, pemeliharaan varietas sangat menentukan. Selain varietas juga perlu diperhatikan mutu benih, karena benih merupakan biji

tanaman yang digunakan untuk tujuan pertanaman. Pada budidaya tanaman pangan utama yang merupakan tanaman serealia, benih sebagai penyambung kehidupan tanaman sangatlah penting untuk mencegah pengujian kegagalan benih perlu

petani. Untuk melindungi petani dari kegagalan, maka

dilakukan. Permasalahan yang sering dihadapi dalam usaha teknologi budidaya tanaman dan pascapanen adalah bagaimana cara memelihara tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sampai panen. TEKNIK BUDIDAYA Dalam rangka mendapatkan produksi tinggi (jumlah dan mutu) perlu penerapan yang dikenal dengan panca usaha tani yang meliputi: (1) penyediaan bahan tanaman (benih/bibit) bermutu tinggi yang berasal dari klon/kultivar unggul; (2) pengolahan tanah; (3) pengairan; (4) pemupukan; (5) perlindungan tanaman. 1 Penyediaan Bahan Tanaman Bermutu Tinggi Bahan tanam (benih/bibit yang bermutu tinggi) sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil panen yang tinggi. Bahan tanam merupakan suatu awal keberhasilan suatu proses produksi. Tidak ada gunanya kita memupuk, menyiangi dan menyiram apabila bahan tanamannya tidak bermutu tidak akan dapat diperoleh hasil panen yang maksimum. Benih yang berkualitas adalah yang mempunyai sifat-sifat antara lain tingkat kemurnian genetik dan fisik yang tinggi, sehat dan kadar air aman dalam penyimpanan. Kultivar unggul diperoleh dengan cara seleksi mutasi maupun persilangan antara tetua yang mempunyai sift-sifat genetik unggul. Penggunaan kultivar unggul introduksi dari luar negeri, perlu

diperhatikan masalah adaptasinya. Yang ideal sifat-sifat unggul dari luar negeri dikombinasikan sifat unggul nasional/lokal, akan memperkaya plasma nutfah di dalam negeri. Pemanfaatan kultivar unggul lokal yang sudah teruji daya adaptasinya, akan mendukung pelestarian dan pengembangan plasma nutfah dan merupakan salah satu faktor pendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan.

Kultivar unggul pada umumnya memerlukan unsur hara yang banyak, agar dapat memberikan hasil sesuai potensinya. Yang perlu segera dikembangkan adalah kultivar-kultivar unggul hemat unsur hara (tidak manja). Dengan demikian akan menghemat sumber daya alam bahan pupuk. 2 Pengolahan Tanah Pengolahan tanah bertujuan untuk menyediakan lahan agar siap bagi kehidupan tanaman dengan meningkatkan kondisi fisik tanah. Karena tanah merupakan faktor lingkungan yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbub padanya. Faktor lingkungan tanah meliputi: Faktor fisik (air, udara, struktur tanah serta suhu) Faktor kimiawi (kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi) Faktor biologis (makro/mikro flora dan makro/mikro fauna) Pelaksanaan pengolahan tanah pada prinsipnya adalah tindakan pembalikan, pemotongan, penghancuran, dan perataan tanah. Struktur tanah yang semula padat diubah menjadi gembur, sehingga sesuai bagi perkecambahan benih dan perkembangan akar tanaman. Bagi lahan basah sasaran yang ingin dicapai adalah lumpur halus, yang sesuai bagi perkecambahan benh dan perkembangan akar tanaman. Alat pengolahan tanah mulai yang tradisional sampai modern (mekanisasi). Berdasarkan tingkat intensifitasnya ada beberapa pengolahan tanah: 1. Pengolahan tanah O (Zero Tillage) sering disebut Tanpa Olah Tanah (TOT). Penaburan benih kedelai pada lahan sawah bekas padi tanpa pengolahan tanah terlebih dulu, untuk memanfaatkan kelembaban tanah. 2. Pengolahan tanah minimum (Mimimum Tillage). Bagian tanah yang diloah hanya pada calon zona perakaran dengan kelembaban dan suhu yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 3. Pengolahan tanah optimum (Optimum Tillage). Pengolahan hanya dilakukan pada lajur tanaman saja (sistem Reynoso untuk tanaman tebu).

4.

Pengolahan tanah maksimum (Maximum Tillage). Pengolahan secara intensif seluruh areal pertanahan menjadi gembur dan permukaan tanah rata.

Makin minim (tidak intensif) cara pengolahan tanah, akan makin mampu menangkal erosi. Dengan demikian makin mendukung kelestarian kesuburan tanah disamping lebih menghemat biaya dan waktu. 3 Pengairan Pengairan mengandung arti memanfaatkan dan menambah sumber air dalam tingkat tersedia bagi kehidupan tanaman. Apabila air terdapat berlebihan dalam tanah maka perlu dilakukan pembuangan (drainase), agar tidak mengganggu kehidupan tanaman. Pengairan pada tanaman dapat dilakukan dengan cara: (1) Pengairan di atas tanah; (2) Pengairan di dalam tanah (sub irrigation); (3) Pengairan denagn penyemprotan (sprinkler irrigation); dan (4) Pengairan tetes (drip irrigation). Pengairan permukaan menggunakan selokan dengan aliran lambat agar tidak terjadi erosi berat. Penggenangan kontur dilakukan bila tanah cukup kemiringannya, sehingga terjadi genangan yang bertingkat tingginya karena dibatasi dengan galengan yang bertahap dan teratur. Laju pemberian air hendaknya berkesinambungan dengan bagian tanah yang dapat menyerapnya, oleh karenanya frekuensi pengairan akan efektif bila diberikan sebelum kelembaban tanah menjadi penghambat pertumbuhan tanaman. Pengairan pada tanaman buah sangat diperlukan untuk melarutkan unsur hara yang dikandung dalam pupuk agar dapat terserap tanaman melalui akar dan dapat didistribusikan secara seluler ke seluruh bagian tanaman. Dengan demikian dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ukuran buah. Tanaman buah memerlukan kondisi kering pada awal pembentukan bunga, semakin meningkat setelah bunga terbentuk dan berkembang menjadi buah. Pengairan dapat dilakukan sekali dalam dua minggu, dimana hal tersebut terbukti dapat meningkatkan produktifitas hingga 50% dan bobot buah hingga sebesar 38%.

Dalam keadaan tanah kering maka pemberian air dapat berjumlah lebih banyak dibanding pada tanah basah. Tanah yang memperoleh air pengairan, maka air dapat masuk ke dalam tanah (inflitrasi) dan air dapat lalu lewat tanah itu (perkolasi). Dalam air pengairan dikenal istilah air bebas yaitu air yang tidak diikat dan lalu dengan bebas kebawah karena gaya gravitasi. Bila sebagian air tetap didalam pori-pori tanah maka disebut air kapiler yang terikat dalam pori tersebut oleh tekanan permukaan dan daya adesinya. Air kapiler dan air bebas ini keduanya dapat dipergunakan oleh tanaman. Penggunaan air tersebut juga tergantung dari banyaknya akar, dan laju pengambilan air meningkat dengan makin meningkatnya kekeringan. Pengairan yg tidak cukup menurunkan ukuran dan jumlah buah,krn proses pertumbuhan terganggu yg berpengaruh pada sifat pasca panennya. Pada bawang merah hasil turun beratnya bila lahan tidak diairi. Kandungan Kapsaisin pada lombok lebih tinggi pada tanaman yg kurang air. Mengingat makin terbatasnya sumber air, maka langkah-langkah penghematan (peningkatan keefisienan) penggunaan air dalam budidaya tanaman, perlu dilakukan secara simultan dan terus menerus. Langkahlangkah tersebut antara lain melalui pergiliran tanaman (padi dan palawija/sayuran di lahan sawah), pemanfaatan mulsa (diutamakan mulsa organik) di laahn kering pada musim kemarau, sistem tanpa olah tanah (TOT) di akhir musim hujan, pemanfaatan air tanah, penerapan pengairan tetes, dll. Dengan langkah-langkah tersebut kelestarian sunber daya alam air akan lebih terjamin. 4 Pemupukan Tujuan pemupukan adalah meningkatkan pertumbuhan dan mutu hasil tanaman. Pemupukan diberikan pada saat tanaman menunjukkan sejumlah kebutuhan unsur hara agar diperoleh keefisienan yang maksimal. Pemberian pupuk padat dilakukan dengan cara ditugal, disebar di atas tanah atau di sebelah tanaman, sedangkan pemberian pupuk daun. Dengan cara menyemprotkan pada daun, bersama air disemprotkan sebagai perlakuan

tambahan. Pemupukan secara disebar mempunyai kelemahan bahwa pupuk mudah menguap ataupun terikat dalam tanah. Sebenarnya tanah merupakan sumber unsur-unsur hara. Suatu hasil yang tinggi dari tanaman akan mengangkut keluar unsur lebih banyak daripada tanaman yang berdaya hasil rendah. Unsur-unsur esensial yaitu unsur penting bila ditiadakan maka pertumbuhan tanaman dapat terhenti. Padasaat kekurangan nampak gejala defisiensi, dan fungsi unsur tertentu tidak dapat digantikan oleh unsur lain. Unsur esensial makro ialah unsur penting yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak agar siklus hidupnya tidak terhenti seperti N, P, K, Ca, Mg, H dan O, sedangkan unsur esensial mikro ialah unsur penting yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit agar siklus hidupnya tidak terhenti, meliputu Fe, Mn, Zn, Cu, Cl, Mo dan B. Ukuran, bobot dan kandungan asam askorbat dpt dinaikkan dg pemupukan dosis tinggi dari K, Mg, Zn dan dpt diturunkan dg dosis N dan P tinggi. Kadar Ca yg tinggi menghasilkan polong yg te-gar dg kecenderungan mengelupas dan membelah sementara Penambahan N yg tinggi, meningkatkan kandungan tiamin, riboflavin, karoten sdg kandungan vit C berkurang dan penambahan N pd dosis tinggi memacu patahnya ujung ba-tang dan kerusakan kulit, yg dpt dilawan dg pem berian K dosis tinggi. Pada Arbei, pemberian pupuk berlebihan mengu rangi ketegaran buah dan meningkatkan daya larut zat pembentuk dinding sel. Kadar P tinggi di tanah menyebabkan penyakit garis (pencil stripe) pd seledri, ditandai adanya garis panjang, sempit berwarna perang yg sejajar tangkai daun. Kekurangan Cu menyebabkan penyakit kulit (Exanthema) pada jeruk. Kulit buah memp luka berlendir, berwarna perang tua mengkilat, yg nampak sbg bercak2 tak beraturan yg berubah menjadi hitam saat pemasakan buah. Kekurangan B pd jeruk dan sayuran menyebab kan bag yg terpengaruh menjadi keras dan ber ubah bentuknya. Bag kulit buah dalam berwar-na putih berubah jadi perang berlendir. Bit peka terhadap kekurangan B, yg menyebab kan timbulnya busuk hitam di bagian dalam.

Respirasi buah pasca panen dipengaruhi oleh pemupukan.Mangga yg dipupuk bahan organik dlm jumlah kecil memp laju respirasi tinggi. Pada jeruk manis,dosis N tinggi mempengaruhi respirasi buah. Pada tomat pemupukan K mempertinggi laju respirasi, yg berlawanan dg pengaruh P pada semangka. Pemberian K dosis tinggi meningkatkan hasil,

keasaman,cairan buah,zat padat ,vit C buah. Konsekuensi penggunaan kultivar unggul berpotensi hasil tinggi (terutama kultivar manja) adalah pemberian pupuk dalam jumlah banyak. Apabila yang digunakan pupuk anorganik dan diberikan terus-menerus tanpa diimbangi pupuk organik, maka akan menyebabkan kerusakan fisik dan keseimbangan hayati tanah. Kesehatan dan produktivitas tanah cenderung menurun sehingga menjadi kendala terwujudnya pertanian berkelanjutan. Dalam rangka melestarikan kesuburan tanah (kimiawi, fisik dan hayati) dan mencegah pencemaran air tanah, maka sistem pemupukan hayati perlu ditingkatkan dan dikembangkan karena efeknya yang ramah lingkungan. Pendekatannya dengan pemanfaatan input lokal (pupuk kandang, pupuk hijau, pupuk kompos, pupuk kascing, pupuk guano, dll) dan input luar yang ramah lingkungan misalnya pemanfaatan bakteri Rhizobium (pada kacangkacangan), cendawan Micoriza (pada padi-padian) dan pupuk organik cair. Peletakan Pupuk Pupuk Nitrogen yang dalam bentuk mudah larut, perlu diletakkan dekat dengan biji tanaman sebagai pemacu tumbuh. Bila pemberian secara sebar maka kemungkinan penguapan cukup besar dan dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan gulma. Pada tanah basah yang memudahkan pupuk N mudah menguap maka dapat diatasi dengan peletakan yang agak dalam. Pupuk Fosfor, yang diberikan dalam bentuk fosfat dapat larut dalam air tanah asam merupakan pemupukan yang cukup efisien bila diberikan secara jalur. Pupuk Kalium, peletakan yang terlalu dekat dari pupuk kalium khiorida akan menyebabkan kerusakan asmotik pada biji tanaman.

Pupuk Daun, pada umumnya diberikan bagi pupuk yang mengandung unsur mikro seperti Fe, Cu dan Mn. Namun penyemprotan pupuk N juga dilakukan pada tanaman yang sudah tumbuh lanjut. 5. Penyemprotan dengan bahan kimia Penggunaan Pb-arsenat pd jeruk besar setelah lewat masa pembungaan, menyebabkan pengurangan keasaman 30-40%, gula non reduksi dan kandungan flavenoid dalam cairan buah bertambah. Pemberian Ca-arsenat pd jeruk manis menye-babkan penurunan keasaman, Krn arsenat sbg saingan P yg mengakibatkan pelepasan fosforilasi dan gangguan pd penimbunan asam sitrat. Penyemprotan dg minyak tanah unt memberan tas hama jeruk menyebabkan ZPT berkurang dan keasaman naik, shg mutu jelek. Buah yg disemprot dg parathion lebih cepat hilang warna hijaunya dan biasanya jadi warna jingga dan kandungan TZT lebih banyak. 6. Zat pengatur tumbuh Penyemprotan asam gibberelat 75 ppm pada Arbei menghasilkan buah berbentuk silinder. Penyemprotan NOA memperbaiki mutu Tomat. Penyemprotan CCC menghasilkan buah paling manis dg kenaikan kadar TZT pada semangka. Pemberian ethrel sebelum panen pada Tomat menambah daya tahan terhadap retak dan pem busukan dan mempercepat pemasakan. 7. Pemangkasan dan pembentukan tanaman Proses pemangkasan tanaman merupakan upaya pengendalian ukuran dan pembentukan tanaman di lahan pertanaman, agar diperoleh efisiensi dan efektivitas dalam kerangka proses produksi. Pengendalian ukuran tanaman dapat dilakukan dengan berbagai cara: a) memangkas dan mengurangi daun-daun yang lebat dan rimbun terutama ranting yang membalik ke arah batang atau yang tumbuh bersilangan b) memangkas sebagian akar. Pembentukan tajuk tanaman dilakukan dengan pemangkasan rantingranting yang tidak diperlukan, sehingga pembentukan percabangan dapat diatur menyebar rata ke segala arah secara simetris, artinya jumlah dan

arah sudut cabang harus dibentuk sejak tanaman masih kecil. Pemangkasan batang dan cabang tanaman dapat memperbaiki tampilan tanaman melalui pembentukan tajuk. Kegiatan pemangkasan biasanya dilakukan menjelang musim penghujan. Pemangkasan dan penjarangan biasanya menambah besarnya buah, tetapi TZT dan keasaman berkurang. Umur pohon mempengaruhi ukuran dan mutu buah. Jeruk manis hasil darr pohon tua, kecil dengan kulit yg tipis, tetapi TZT tinggi, dan manis. Saat panen berpengaruh pada hasil tanaman. Pemanenan jeruk lewat masak menyebabkan panen buah berkurang dan mutu rendah. Dengan proses pemangkasan yang baik, selain akan diperoleh bentuk tanaman yang ideal, juga akan mempermudah didalam proses pemeliharaan. Disamping itu juga dapat meningkatkan produksi tanaman per satuan luas sebagai akibat kepadatan tanaman yang lebih tinggi, dengan mutu buah yang maksimal. 8. Perlindungan Tanaman Pada budidaya tanaman faktor organisme pengganggu tanaman (OPT) baik berupa hama (insekta, tikus, burung jenis tertentu, dll) dan mikroba penyebab penyakit (cendawan, bakteri, virus) sebagai perusak (secara fisik, kimiawi, dan biologik) maupun gulma sebagai kompetitor tanaman (persaingan dalam mendapatkan unsur hara, air, energi cahaya matahari, CO2, O2, ruang hidup) disertai zat allelopati yang dikeluarkannya, sangat menentukan tingkat produksi dalam jumlah maupun mutu. Tingkat dampak gangguan pada tanaman sejak yang paling ringan berupa hambatan pertumbuhan/perkembangan, penurunan produk (jumlah dan mutu),

kerusakan fatal sehingga gagal panen (ledakan hama tikus di era enam puluhan dan hama wereng di era tahun tujuh puluhan pada tanaman padi) bahkan kematian total tanaman (ledakan hama kutu loncat pada lamtoro local di era tahun delapan puluhan).

Kejadian tersebut di atas minimal suatu ilustrasi tentang besarnya tingkat gangguan pada keseimbangan hayati di alam, sehingga populasi musuh alam (antara lain predator dan parasit) sudah tidak seimbang lagi dengan populasi hama-hama tersebut di atas. Kondisi tersebut dipicu terutama oleh penggunaan pestisida kimia murni yang tidak terkendali, sehingga pencemaran atmosfer akan menekan kehidupan musuh-musuh alami hama. Beberapa cara pengendalian organisme pengganggu yang dikenal antara lain: (1) Cara teknik budidaya dititikberatkan pengurangan populasi musuh alami (menghilangkan tanaman/bagian yang terserang, pergiliran tanaman, pengaturan populasi tanaman, karantina tanaman/tumbuhan, tanaman campuran); (2) Cara fisik (menghilangkan binatang hama dari tanaman, pencabutan gulma, penggunaan zat penarik, penggunaan penangkap hama, perlakuan panas untuk penyebab penyakit); (3) Cara hayati (pemanfaatan predator dan parasit, penggunaan tanaman resisten, pemanfaatan binatang pengusir hama); (4) Cara kimiawi dengan pestisida kimia murni di satu sisi positifnya adalah efek lebih cepat tampak dan praktis dalam penanganan. Tetapi aplikasi yang tidak tepat (takaran, cara, intensitas dan saat) justru dampak negatifnya akan dirasakan jangka panjang dalam bentuk pencemaran (atmosfer, tanah dan air), residu pada produk tanaman, keracunan pada manusia dan hewan, resistensi pada hama dan penyebab penyakit. Cara pengendalian inilah yang sangat mengancam kelestarian sumber daya alam keseimbangan hayat di alam. Penggunaan cara kimia tersebut sebaiknya dilakukan apabila cara lain yang lebih ramah lingkungan kurang berhasil. Penggunaan dan pengembangan pestisida hayat dianggap dapat menutup kelemahan pestisida kimia murni. Budidaya tanaman ganda 1. Multiple Cropping Penanaman lebih dari jenis tanaman pada sebidang tanah yang sama dalam satu tahun, yang termasuk dalam sistem tanaman ganda yaitu Inter Cropping, Mixed Cropping dan Relay Cropping. a. Inter Cropping

Penanaman serentak dua atau lebih jenis tanaman dalam barisan berselang-seling pada sebidang tanah yang sama. Sebagai contoh tumpang sari antara Sorghum dan tanaman kacang tunggak dan antara tanaman ubi kayu dan jagung atau kacang tanah. b. Mixed Cropping Penanaman dua atau lebih jenis tanaman secara serentak dan bercampur pada sebidang lahan yang sama. Sistem tanam campuran lebih banyak diterapkan dalam usaha pengendalian hama dan penyabab penyakit. c. Relay Cropping Penanaman sisipan adalah penanaman suatu jenis tanaman kedalam pertanaman yang ada sebelum tanaman yang ada tersebut dipanen, atau dengan istilah lain suatu bentuk tumpang sari dimana tidak semua jenis tanaman ditanam pada waktu yang sama. Sebagai contoh : padi gogo dan jagung ditanam bersamaan kemudian ubi kayu ditanam sebagai tanaman sela satu belan atau lebih sesudahnya. 2. Sequantial Cropping Penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada sebidang lahan dalam satu tahun, dimana tanaman kedua ditanam setelah tanaman pertama dipanen. Demikian juga kalau ada tanaman ketiga, tanaman ditanam setelah tanaman kedua dipanen. C. PENUTUP Pasca panen merupakan kegiatan penting setelah pemanenan yang bertujuan untuk mempertahankan sifat produk pertanian seperti semula. Oleh karena itu, dengan penanganan pasca panen maka hasil komoditas pertanian dapat disimpan lebih lama dan dapat menjaga penampilan tetap segar sehingga dapat menambah nilai tambah. Factor prapanen terdiri dari penyediaan bahan tanaman bermutu tinggi, pengolahan tanah pengairan pemupukan,

penyemprotan dengan bahan kimia, zat pengatur tumbuh, pemangkasan dan pembentukan tanaman dan perlindungan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA Broto, W., 2003. Teknologi Penanganan Pascapanen Buah untuk Pasar. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setiawan. 2011. Penanganan Pasca Panen Pada Buh Alpukat. http://ndagoldenboy.blogspot.com/2011/12/penanganan-pasca-panen-padabuah.html. Diakses tanggal 11 Maret 2013