Anda di halaman 1dari 0

PRAKATA

Ilmu kedokteran telah berkembang sangat pesat di masa


sekarang ini. Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat dari ilmu
kedokteran komunitas, ilmu kedokteran individu, sampai ke tingkat
system, organ, sel hingga ke molekular, namun radiografi sederhana
tetap saja berguna dalam penentuan diagnosis suatu penyakit atau
kelainan morfologik pada individu. Sejak ditemukannya sinar
Roentgent sekitar seratus tahun yang lalu, pemeriksaan radiografi
menjadi sesuatu hal yang sangat penting dan terus berkembang dari
pemeriksaan radiografi sederhana sampai yang paling canggih seperti
pemeriksaan Computerised Tomography scan multi slice. Namun
demikian pada beberapa keadaan tertentu radiografi sederhana masih
sangat bermanfaat di dalam menentukan diagnosa suatu penyakit
Buku ini disusun sebagai acuan praktis untuk melihat
radiografi toraks sederhana terutama pada paru. Radiografi toraks
memang cukup sulit untuk dari mana mulai menganalisanya mengingat
semua bayangan dari toraks proyeksi antero-posterior, dari dinding
depan sampai dinding belakang semuanya bertumpukan termasuk
jaringan tulang, paru, jantung dan pembuluh darah. Demikian pula
halnya dengan proyeksi lateral kanan atau kiri, bayangan dari sisi yang
satu ke sisi yang lainnya saling bertumpukan. Pada salah satu aspek
semua bayangan yang bertumpukan itu justru membantu menjadi
tanda-2 medan di dalam menemukan kelainan pada foto toraks.
Radiografi toraks sederhana meskipun memiliki keterbatasan-
keterbatasan namun sangat bermanfaat di dalam menentukan diagnosis
penyakit. Di sini terutama untuk penyakit paru. Selain itu kondisi
sederhana seperti cedera karena ruda paksa atau trauna untuk melihat
patah tulang iga atau vertebra, dapat terlihat dengan mudah, Juga untuk
pemeriksaan general check up sebagai tindakan penyaringan terhadap
pemeriksaan kesehatan untuk keperluan tertentu.
Buku ini kami peruntukkan terutama bagi mahasiswa
kedokteran, dokter umum, dan sejawat yang lain yang mungkin
memerlukaanya. Buku ini jauh dari sempurna karena itu kami terbuka
terhadap kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Puji syukur ke hadirat Allah yang Maha Pengasih kami dapat
menyelesaikan buku Radiografi toraks sederhana ini. Terima kasih
kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu apa saja
sehingga buku ini dapat di terbitkan, Semoga berguna bagi para
pembaca.

Hormat kami,
Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
Prakata v
Daftar Isi vi
Daftar Gambar vi
Bab I. Pendahuluan 1
Bab II. Radiografi Toraks 3
A. Radiografi Toraks normal. 5
B. Radiografi Toraks Patologi 8
C. Penyakit paru Obstruktif 10
D. Penyakit paru Restriktif 16
E. Perubahan Rongga Pleura 19
F. Gambaran Pembuluh darah Paru 26
G. Bronkus dan Percabangannya 34
H. Bula dan Kavitas 40
I. Infiltrat dan Nodul 44
J. Fibrosis dan Schwarte 47
K. Tumor paru 51
L. Tuberkulosis Paru 55
Bab III. Kiat membaca foto toraks sederhana 63
Daftar Pustaka 109













DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Foto Toraks PA (Postero - Anterior) dan diagram
Gambar 2. Foto toraks PA normal, inspirasi cukup
Gambar 3. Foto toraks Lateral kiri
Gambar 4. Barrel chest proyeksi PA
Gambar 4a. Barrel chest proyeksi Lateral kiri
Gambar 5. Atelektasis ringan lobus atas kanan
Gambar 6. Sine bronkografi normal
Gambar 7. Sine bronkografi pada emfisema paru
Gambar 8. Chronic bronchitis
Gambar 9. Emfisema paru Foto PA
Gambar 10. Emfisema paru foto Lateral
Gambar 11. Bronchopneumonia
Gambar 12. Atelektasis proyeksi PA
Gambar 13. Atelektasis proyeksi Lateral kanan
Gambar 14. Pneumonia
Gambar 15. Air bronchogram sign
Gambar 16. Hyaline Membrane Disease
Gambar 17. Effusi pleura kiri foto PA
Gambar 18. Effusi pleura foto lateral kiri
Gambar 19. Efusi pleura kiri masive
Gambar 20. Fluido pneumothorax kiri
Gambar 21. Pneumothorax
Gambar 22. Pneumothorax
Gambar 23. Empyema
Gambar 24.
Schwarte / Penebalan pleura
Gambar 25. Schwarte / Penebalan pleura
Gambar 26. Diafragma normal

Gambar 27. Diafragma abnormal, scalloping (diagram)
Gambar 28. Diafragma abnormal, tenting (diagram)
Gambar 29. Diafragma abnormal, tenting
Gambar 30. Pola pembuluh darah paru normal
Gambar 31. Hipervaskularisasi paru
Gambar 32. Hipervaskularisasi pada Atrial Septal Defect
Gambar 33. Atrial Septal Defect dengan Eisenmengerisasi
Gambar 34. Bendungan venosa pada paru
Gambar 35. Sefalisasi pembuluh darah paru
Gambar 36. Hipovaskularisasi paru pada tetralogi Fallot
Gambar 37. Hipovaskularisasi paru pada emfisema paru
Gambar 38. Abrupt vascular sign pada Cor Pulmonale Chronicum
(CPC)
Gambar 39.
Bayangan bronkus pada foto Toraks normal
Gambar 40. Bronkografi normal
Gambar 41. Air bronchogram pada pneumonia lobus atas kanan
Gambar 42. Tram line appearance
Gambar 43. Tram line appearance
Gambar 44. Mucous pluq
Gambar 45. Mucous pluq
Gambar 46. Bronkiektasis pada foto PA
Gambar 47. Bronkiektasis pada foto Lateral
Gambar 48. Bronkografi Bronkiektasis tipe sakuler
Gambar 49. Bronkiektasis bilateral dengan infeksi sekunder
Gambar 50. Bula pada lapangan atas paru kanan dan kiri
Gambar 51. Bula multiple berbagai ukuran pada paru kanan dan kiri
Gambar 52. Cavitas, tanda panah putih
Gambar 53. Cavitas dibesarkan dari gambar sebelah kiri
Gambar 54. Cavitas ini terjadi karena jamur aspergiloma

Gambar 55. Abses paru kanan
Gambar 56. Abses paru kanan proyeksi Lateral kanan
Gambar 57. Infiltrat alveolar
Gambar 58. Alveolar edema
Gambar 59. Proses miliar
Gambar 60. Gambar skematik lobulus primer paru
Gambar 61. Nodul pada tuberkulosis
Gambar 62. Nodul pada proses metastasis
Gambar 63. Nodul halus pada miliar tuberkulosis
Gambar 64. Nodul tumor paru
Gambar 65. Nodul tumor paru
Gambar 66. Tumor paru kanan bronkogenik
Gambar 67. Tumor paru kanan bronkogenik proyeksi lateral kanan
Gambar 68. Contoh gambar CT scan tumor paru
Gambar 69. Contoh gambar CT scan tumor paru
Gambar 70. Contoh gambar CT scan, tumor paru
Gambar 71. Fibrokalsifikasi pada puncak paru kanan dan kiri
Gambar 72. Fibrosis suprahilar bilateral
Gambar 73. Fibrosis suprahilar kanan
Gambar 74. Fibrosis suprahilar kanan dibesarkan
Gambar 75. Gambar skematik limfonodi Mediastinal
Gambar 76. Kompleks primer TB
Gambar 77. Kompleks primer TB
Gambar 78. Penyembuhan kalsifikasi
Gambar 78. Penyembuhan kalsifikasi
Gambar 80. Tuberkulosis paru penyebaran bronkogen
Gambar 81. Tuberkulosis paru penyebaran bronkhogen
Gambar 82. Tuberkulosis paru penyebaran bronkhogen

Gambar 83. Tuberkulosis paru penyebaran miliar
Gambar 84. Lesi nodul halus penyebaran miliar dibesarkan
Gambar 85. KP minimal pada puncak paru bilateral
Gambar 86. KP minimal pada puncak paru bilateral
Gambar 87. KP moderate dengan cavernae
Gambar 88. KP far advanced dengan cavernae


1
BAB I
PENDAHULUAN
Penggunaan radiasi dalam bidang kedokteran pada awalnya
dimulai dari penemuan sinar-X oleh William Conrad Rontgen, hingga
sekarang ini sinar-X juga biasa disebut sebagai sinar Rontgen. Oleh
kemajuan teknologi temuan sinar-X ini terus berkembang dari peralatan
yang sederhana menjadi peralatan yang canggih dan modern. Sinar-X
termasuk salah satu jenis radiasi pengion yang non material yang dapat
menimbulkan ionisasi media yang dilaluinya. Karena sinar-X
menimbulkan ionisasi media yang dilaluinya, maka sebelum
memanfaatkan sinar-X untuk keperluan di bidang kedokteran
diharuskan telah mengetahui dengan baik sifat-sifat sinar pengion yang
akan digunakan. Karena sifat ionisasi ini sering kali sinar pengion
digolongkan sebagai sinar yang berbahaya, namun ditangan orang yang
ahli di bidang sinar pengion, bahaya-bahaya dapat diminimalkan atau
bahkan dicegah sehingga hanya manfaatnya saja yang diambil.
Meskipun demikian selalu saja ada efek samping dari penggunaan sinar
pengion ini walaupun minimal, akan tetapi sinar pengion, dalam hal ini
sinar-X tidak perlu ditakuti atau ditabukan, namun digunakan dengan
mengambil manfaat yang sebanyak-banyaknya dan menekan resiko
atau efek samping yang sekecil-kecilnya. Agar memudahkan
pembelajaran tentang sinar-X ini, sinar-X umumnya dibagi menjadi dua
kelompok yaitu sinar-X dengan energi rendah atau dengan energi
sampai kilo volt (KV), dan sinar-X dengan energi tinggi atau dengan
energi sampai mega electron volt (Mev).
Sinar-X dengan energi rendah umumnya digunakan sebagai
radiodiagnostik sedangkan sinar-X dengan energi tinggi umumnya
dimanfaatkan untuk radioterapi. Pemanfaatan sinar-X dengan energi
rendah di bidang kedokteran umumnya digunakan untuk radio
diagnostik seperti pembuatan foto-foto radiografi konvensional
misalnya pembuatan radiografi kepala, toraks, abdomen dan lain
sebagainya. Sumber sinar-X dengan energi rendah untuk keperluan
diagnostik ini umumnya dikenal orang sebagai pesawat sinar-X seperti
yang terdapat di rumah sakit atau laboratorium diagnostik dengan
energi keluaran sampai 100 kilo volt atau sampai 125 kilo volt. Karena
pesawat seperti ini baru bisa menghasilkan sinar-X kalau dihubungkan
dengan tegangan listrik atau generator sebagai sumber listrik, maka
jenis sinar-X yang dihasilkan pesawat seperti ini digolongkan sebagai
sinar-X yang artificial atau buatan.
Sinar-X dengan energi tinggi umumnya digunakan sebagai
sarana terapi yaitu terapi radiasi pengion seperti pada pengobatan
kanker. Sinar-X energi tinggi juga disebut sinar gama. Sinar-X atau
2
sinar gama sebenarnya sama sama sebagai emisi sinar yang non
material yang terdisi atas paket-paket foton yang pada hakekatnya
adalah partikel elementer tenaga, hanya umumnya disebutkan sinar-X
jika energinya rendah (KV) dan sinar gama jika energinya tinggi
(MeV). Sinar gama energi tinggi ini ada yang terjadi secara alami
yaitu dari pancaran peluruhan bahan radioaktif atau yang disebut
desintegrasi, tetapi dapat juga buatan seperti yang dihasilkan oleh
pesawat linac (linear accelerator). Energi sinar-X yang dihasilkan dari
kedua cara ini memiliki energi tinggi, MeV (Mega elektron Volt).
Sinar-X atau sinar gama energi tinggi ini dimanfaatkan untuk
radioterapi seperti untuk penyinaran terhadap sel-sel kanker. Selain itu
sinar gama energi tinggi juga digunakan untuk sarana diagnostik seperti
digunakan pada Radioimmunoassay atau isotop scanning.

3
BAB II
Radiografi Toraks
Radiografi toraks sederhana adalah pembuatan gambar radiografi
toraks dengan menggunakan sinar-X energi rendah (KV) dan
merekamnya ke dalam film dengan tujuan untuk menegakkan diagnosis
penyakit atau kelainan pada toraks .
Untuk menegakkan diagnosis radiografi umumnya dikenal
langkah-langkah metodologik untuk memudahkan pencapaian tujuan
agar dapat dicapai nilai diagnosis yang maksimal. Langkah-langkah
tersebut dimulai dengan mengenal radiografi anatomi toraks normal,
kemudian mengenal radiografi anatomi toraks patologi, mengumpulkan
data klinik yang lain, selanjutnya melakukan analisis radiografi, dan
kemudian menegakkan diagnosis radiografi. Karena itu di dalam
menegakan diagnosis radiografi harus didasari bukan hanya
pengetahuan ilmu kedokteran dasar baik anatomi, fisiologi, biokimia,
dan histologi saja, tetapi juga diperlukan pengetahuan epidemiologik
terhadap penyakit-penyakit tertentu. Hal ini akan sangat membantu
menegakkan diagnosis radiografi dengan presisi yang tinggi
dibandingkan jika hanya membaca gambaran radiografi apa adanya. Di
sini penulis membedakan antara membaca dan menganalisa gambar
radiografi. Seringkali orang memandang keliru diagnosis radiografi.
Diagnosis radiografi umumnya adalah diagnosis morfologik terutama
radiografi toraks. Di dalam ilmu kedokteran dikenal ada bermacam-
macam diagnosis diantaranya adalah diagnosis klinik, diagnosis
histopatologik, diagnosis mikrobiologik atau bakteriologik, diagnosis
serologik, dan ada juga diagnosis kerja. Demikian pula diagnosis
radiologik hanya terbatas pada morfologik, dan pada radiografi tertentu
juga fungsional. Jadi jika didapat gambar radiografi tuberkulosis primer
bukan berarti Mantoux test harus positip, Bakteri Tahan Asam harus
ditemukan di dalam sputum dan sebagainya, karena dasar diagnosis
yang ditegakkan adalah temuan empirik didukung dengan proses
patofisiologik yang sudah dibakukan bahwa gambaran radiografi toraks
tuberkulosis primer adalah demikian itu.









4

1B. Hasil foto Radiografi
Toraks PA.




Gambar 1A, Proyeksi Toraks
PA (Postero Anterior)


1C. Diagram dari gambar 1b.

5
A. Radiografi Anatomi toraks normal
Proyeksi baku untuk mempelajari anatomi toraks ada 4 yaitu
proyeksi Postero anterior (PA), proyeksi antero posterior (AP),
proyeksi lateral kanan dan proyeksi lateral kiri. Dari keempat proyeksi
ini tidak semuanya harus dibuat bersama-sama, akan tetapi dikerjakan
jika diperlukan. Proyeksi yang harus mula-mula dikerjakan adalah
proyeksi PA dan jika diperlukan untuk tambahan informasi baru
dikerjakan proyeksi lateral kanan atau kiri sesuai dengan kebutuhan.
Untuk dapat menganalisa foto toraks proyeksi PA dengan baik,
dalam arti mendapatkan informasi gambaran yang mendekati keadaan
yang sebenarnya, diperlukan beberapa persyaratan diantaranya adalah
dibuat dengan posisi berdiri, diusahakan keadaan kanan dan kiri
simetrik, dan dengan inspirasi cukup. Inspirasi dikatakan cukup apabila
tampak gambaran tulang kosta kanan ke 6 bagian depan memotong
pertengahan atau puncak hemidiafragma kanan.
Dari gambaran foto toraks di atas dapat dibaca secara diskripsi
dari perifer ke sentral atau dari sentral ke perifer. Diskripsi seperti ini
dimaksudkan agar tidak ada bagian gambar yang terlewatkan untuk
dianalisa.
Diskripsi dari perifer ke sentral dimulai dari penilaian jaringan
lunak pada dinding torak. Gambaran jaringan lunak normal pada
dinding dada terlihat kulit dan lemak subkutis. Pada orang gemuk
lemak subkutis terlihat tebal, sedang gambaran kulitnya tampak sama
seperti ketebalan kulit umumnya. Pada jaringan lunak dinding dada ini
dinilai dan dicari apakah ada masa tumor seperti lipoma, sarkoma, atau
karsinoma? Adakah kalsifikasi?, adakah udara di dalam jaringan?
seperti pada emfisema subkutis, atau gangrene?
Selanjutnya dinilai tulang-tulang, mulai dari kosta, vertebra,
klavikula dan skapula. Keadaan normal, tulang-tulang kosta kanan dan
kiri simetris, trabekulasi tulang tampak baik, bentuk tulang normal,
jumlah tulang normal, tidak ada osteolitik atau osteoblastik. Adakah
fraktur atau dislokasi?
Perlu diperhatikan sudut kostofrenik yaitu sudut yang dibentuk
oleh kosta dan diafragma. Keadaan normal sudut ini tampak tajam, bila
tidak tajam atau tumpul perlu dicari kelainan yang terjadi. Sudut
kostofrenik tampak tumpul seperti pada keadaan efusi pleura atau
emfisema paru.
Rongga pleura terletak diantara pleura viseralis dan pleura
parietalis, keadaan normal, tidak tampak pada foto radiografi toraks
PA. Ruangan ini akan tampak jelas jika berisi udara atau cairan.
Diafragma terdiri atas hemidiafragma kanan dan kiri, daun
diafragma kanan dan kiri melengkung ke arah atas dan berbentuk
6

Gambar 2, Foto toraks PA normal
Perhatikan, kosta ke 6 kanan bagian depan
memotong pertengahan hemidiafragma kanan.


seperti kubah halus, puncak diafragma kanan sedikit lebih tinggi dari
yang kiri sekitar setengah tebal atau tinggi korpus vertebra. Bila
bentukan kubah diafragma bergelombang namun masih melengkung ke
arah atas disebut scaloping dan bila kubah bergelombang ke arah
bawah terutama pada sudut kostofrenik di sebut tenting. Pada keadaan
diafragma lumpuh karena parese nervus frenikus, letak kubah tampak
lebih tinggi dan hampir tidak bergerak pada inspirasi dan ekspirasi.
Tidak bergeraknya diafragma ini dapat diamati dengan menggunakan
sinar tembus yang disebut Fluoroscopy.


Setelah menilai bagian-bagian perifer, kemudian baru menilai
paru-paru yakni sebagian besar radiografi toraks selain mediastinum
dan selanjutnya menilai jantung yang merupakan organ yang terbesar
untuk radiografi mediastinum.
7

Gambar 3, Foto toraks lateral kiri
dengan diagram di sebelah
kanannya

Di dalam mempelajari radiografi anatomi toraks seperti halnya
anatomi pada umumnya dan tidak dapat dipisahkan secara sistematis
antara radiografi paru dan mediastinum. Untuk mempelajari radiografi
paru tidak dapat terlepas dari radiografi jantung dan peredaran darah.
Visualisasi paru berkaitan dengan rongga toraks dapat dibedakan
menjadi bentuk yang simetris, atau asimetris. Bentukan toraks simetris
dapat dibagi lagi menjadi yang normal dan patologik. Bentuk toraks
normal umumnya berbentuk bagian atas sempit dan bagian bawah
lebar. Dari bentuk umum ini ada yang berbentuk piknik terutama pada
orang yang gemuk dengan bentukan toraks yang pendek dan lebar,
bentuk atletik pada orang yang atletik yang umumnya disebut bentuk
ideal, dan bentuk leptosom yakni toraks yang tampak memanjang dari
atas ke bawah dan tampak lebih sempit.