Anda di halaman 1dari 59

DRAFT USULAN PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI AKSEPTOR UNTUK MEMILIH KONTRASEPSI SUNTIK DI PUSKESMAS DEPOK II SLEMAN YOGYAKARTA

Diajukan Sebagai Pedoman untuk Melaksanakan Penelitian Dalam Rangka Penyusunan Skripsi

Oleh: SURYADI KP: 09.00589

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S-1) SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA HUSADA YOGYAKARTA 2013/2014

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Salah satu masalah terpenting yang dihadapi oleh negara berkembang, seperti di Indonesia yaitu ledakan penduduk. Ledakan penduduk mengakibatkan laju pertumbuhan penduduk yang pesat hal ini karena minimnya pengetahuan serta pola budaya pada masyarakat setempat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pemerintah

Indonesia telah menerapkan program Keluarga Berencana (KB) yang dimulai sejak tahun 1968 dengan mendirikan LKBN (Lembaga Keluarga Berencana Nasional) yang kemudian dalam

perkembangannya menjadi BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). Gerakan Keluarga Berencana Nasional

bertujuan untuk mengontrol laju pertumbuhan penduduk dan juga untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Hartanto, 2004). Indonesia merupakan negara yang dilihat dari jumlah penduduknya ada pada posisi keempat di dunia, dengan laju pertumbuhan yang masih relatif tinggi. Esensi tugas program KB dalam hal ini telah jelas yaitu menurunkan fertilitas agar dapat mengurangi beban

pembangunan demi terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi

rakyat dan bangsa Indonesia. Seperti yang disebutkan dalam UU No.10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Hartanto, 2004). Program KB Nasional merupakan salah satu komponen

pembangunan nasional terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesehatan, dan kesejahteraan keluarga. Program ini dilaksanakan melalui empat misi gerakan KB nasional yaitu pengaturan kelahiran, penundaan usia kawin, peningkatan ketahanan keluarga, dan kesejahteraan keluarga. Pada dasarnya tujuan program KB nasional adalah untuk meningkatkan kualitas penduduk dan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program di bidang program KB, program kesehatan reproduksi remaja, program penguatan kelembagaan KB, serta program pemberdayaan keluarga. Kualitas penduduk ditentukan oleh satu faktor yaitu kesehatan seseorang atau masyarakat (BKKBN, 2002). Pada awal tahun 70-an seorang wanita di Indonesia rata-rata memiliki 5-6 anak selama masa reproduksinya. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan Angka TFR (Total Fetilitation Ratio) pada periode 2002 sebesar 2,6 artinya potensi ratarata kelahiran oleh wanita usia subur berjumlah 2-3 anak. Pada tahun 2007, angka TFR stagnan pada 2,6 anak. Sekarang ini di samping

keluarga muda yang ketat membatasi anak, banyak pula yang tidak mau ber-KB dengan alasan masing-masing seperti anggapan banyak anak banyak rezeki. Artinya ada dua pandangan yang berseberangan, yang akan berpengaruh pada keturunan/jumlah anak masing-masing. Menurut SDKI 2007, kontrasepsi yang banyak digunakan adalah metode suntikan (30,0%), pil (12,5%), IUD/spiral (4,7%), implant (2,6%), MOW (3,0%), kondom (1,2%), dan MOP (0,2%) (BKKBN, 2010). Pada tahun 2012 persentase peserta KB aktif (PUS) di Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 98,72% (BKKBN, 2012). Persentase 98,72% tersebut sebanyak 438.788 peserta yang telah berpartisipasi dari total PUS di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berjumlah 552.422 orang. Sedangkan di Kulonprogo, jika dibandingkan dengan capaian prevalensi peserta KB di DIY, Kulonprogo tergolong masih tertinggal. Capaian peserta KB Pasangan Usia Subur (PUS) di Kulonprogo tahun 2012 tercatat sebesar 76,91% masih di bawah prevalensi DIY sebesar 98,72%. Dari data Bidang Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan KB dan Kesehatan Reproduksi BPMPDP&KB. Alat kontrasepsi memang sangat berguna sekali dalam program KB namun perlu diketahui bahwa tidak semua alat kontrasepsi cocok dengan

kondisi setiap orang. Setiap pribadi harus bisa memilih alat kontrasepsi yang cocok untuk dirinya (Kusumaningrum, 2009). Berdasarkan survei studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 18 April 2012 tepatnya di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta terdapat data tahun 2012 sampai bulan april 2012 jumlah akseptor KB aktif sebanyak 634 jiwa, yang meliputi kontrasepsi suntik 374 (58,99%) akseptor yang patuh sebanyak 290 (45,74%) akseptor dan yang tidak patuh sebanyak 84 (13,25%) akseptor, kontrasepsi AKDR/IUD 237 (37,38%) akseptor, kontrasepsi pil KB 24 (3,79%), kontrasepsi kondom 1 (0,16%) akseptor. Peneliti juga melakukan wawancara kepada 14 akseptor bahwa kontrasepsi suntik 20% tidak mengganggu dalam hubungan suami istri, 10% tidak menimbulkan keputihan, dan 5% akseptor mengatakan mengalami adanya gangguan menstruasi. Dari data-data di atas menunjukkan bahwa kontrasepsi suntik menunjukkan peringkat pertama dibandingkan kontrasepsi yang lain. Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya relatif murah dan aman, bekerja dalam waktu lama, tidak mengganggu menyusui, dapat dipakai segera setelah keguguran atau setelah masa nifas.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul Faktor-faktor yang

Melatarbelakangi Akseptor untuk Memilih Kontrasepsi Suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Apakah faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor untuk memilih kontrasepsi suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor untuk memilih kontrasepsi suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui penggunaan KB Suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta. b. Mengetahui faktor usia akseptor KB Suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta.

c. Mengetahui faktor status kesehatan akseptor KB Suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta. d. Mengetahui faktor riwayat haid akseptor KB Suntik di

Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta. e. Mengetahui faktor efek samping KB Suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta. f. Mengetahui faktor kualitas hubungan suami istri (terganggu / tidak terganggu) selama mengikuti KB Suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta.

E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Materi Materi yang berhubungan pada penelitian ini merupakan penelitian keperawatan komunitas. 2. Responden Responden dalam penelitian ini adalah akseptor KB Suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta. 3. Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan januari 2013 4. Tempat Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian 1. Teoritis Pengembangan pendidikan penelitian. 2. Praktis a. Bagi Dinas Kesehatan DIY Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan pelayanan KB suntik khususnya di daerah penelitian. b. Bagi Petugas KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) Dapat meningkatkan pelayanan KB suntik didaerah penelitian sehingga dapat meningkatkan cakupan akseptor KB suntik. d. Bagi Institusi Pendidikan Stikes Wira Husada Yogyakarta Diharapkan dapat menambah bahan bacaan tentang tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan tentang KB suntik dan sebagai data untuk penelitian berikutnya. dan ilmu Maternitas yang dipelajari di institusi dalam

mendapatkan

pengalaman

langsung

F. Keaslian Penelitian Sepanjang pengetahuan penulis, hasil penelitian yang mirip dengan penelitian ini adalah :

1. Jayanti (2007) dengan judul Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Akseptor Untuk Memilih Kontrasepsi Suntik di Puskesmas

Pembantu Desa Sumber Anyar Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso. Jenis penelitian dan variabel: Deskriptif Kuantitatif dengan Cros Sectional. Variabelnya adalah faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor untuk memilih kontrasepsi suntik. Jumlah sampel 60 dengan metode Total Sampling. Hasill penelitian bahwa usia, jumlah anak yang diinginkan, dan efek samping banyak melatarbelakangi akseptor untuk memilih kontrasepsi suntik, sedangkan kualitas hubungan intim, riwayat haid dan status kesehatan tidak mempengaruhi pemilihan. Persamaannya terletak pada variabel bebas dan variabel terikat, perbadaan dengan penelitian ini adalah jumlah responden, tempat dan waktu penelitian, dengan metode total sampling. 2. Siregar (2010) dengan judul "Analisis penggunaan alat kontrasepsi suntik pada Akseptor KB di Kelurahan Harjosari, Kecamatan Medan Amplas tahun 2010. Deskriptif Kuantitatif dengan Cros Sectional dan Variabelnya adalah Penggunaan Alat Kontrasepsi Suntik. Jumlah populasi 130 dan sampel 70 dengan metode Teknik Sampling. Hasill penelitian prevalens rate yang menggunakan alat kontrasepsi suntik 49,2%. Terdapat dua variabel yang mempunyai

hubungan asosiasi yang bermakna antara umur (p=0,027), pengetahuan (p=0,000) dengan penggunaan alat kontrasepsi suntik dan tidak ada hubungan asosiasi yang bermakna antara pendidikan (p=0,306), umur menikah (p=0,290), paritas (p=0,288) dan dukungan keluarga (p=0,549) dengan penggunaan alat kontrasepsi suntik. Persamaan ini terletak pada variabel terikat alat kontrasepsi suntik dengan metode teknik sampling, perbedaannya terletak pada tempat penelitian, waktu penelitian, dan jumlah responden. 3. Ekawati (2010) dengan judul "Pengaruh KB Suntik DMPA terhadap Peningkatan Berat Badan di BPM Siti Syamsiyah Wonokarto Wonogiri. Deskriptif Kuantitatif dengan Cros Sectional. Variabel bebasnya adalah KB Suntik DMPA dan variabel terikatnya Peningkatan Berat Badan. Jumlah populasi 100 dan sampel 35 dengan metode Purposive Sampling. Hasill penelitian akseptor KB DMPA paling banyak lebih dari 20-35 tahun, yaitu sebanyak 27 responden (77,1%). Pada umur ini kebanyakan responden mempunyai 2 anak, yaitu 18 responden (51,4%). Uji signifikansi menunjukkan KB DMPA bukan faktor yang signifikan sebagai penyebab utama kenaikan berat badan. Persamaannya pada variabel alat kontrasepsi suntik. Perbedaannya pada waktu, tempat penelitian, jumlah responden.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kontrasepsi 1. Pengertian Kontrasepsi Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang

mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah untuk menghindari atau untuk mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat dari pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma. Sejak pada jaman dahulu, di Indonesia pasangan usia subur sudah menggunakan obat dan jamu yang maksudnya adalah untuk mencegah kehamilan. Keluarga berencana modern ini di Indonesia sudah dikenal mulai sejak pada tahun 1953. Pada waktu itu sekelompok ahli kesehatan, kebidanan, dan para tokoh masyarakat yang telah mulai membantu masyarakat memecahkan masalah-masalah dalam pertumbuhan penduduk, (Sarsanto, 2007). Menurut Harnawatiajh (2009), kontrasepsi adalah suatu cara untuk mencegah terjadinya kehamilan yang bertujuan untuk

menjarangkan kehamilan, merencanakan jumlah anak dan meningkatkan keluarga untuk memberikan perhatian dan pendidikan yang maksimal pada anak. Menurut suratun (2008), alat kontrasepsi adalah alat untuk mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya

pertemuan antara sel telur dengan sperma. 2. Tujuan Kontrasepsi Secara umum tujuan pemakaian alat kontrasepsi ini adalah diupayakan untuk menyelamatkan ibu dan anak akibat

melahirkan pada usia muda dan dalam rangka merencanakan pembentukan keluarga kecil, bahagia sejahtera, hal ini terbagai atas tiga masa usia produksi : pertama, untuk masa menunda kehamilan bagi pasangan usia subur (PUS) dengan istri usia dibawah 20 tahun dianjurkan untuk menunda kehamilan. Kedua, masa menjarangkan kehamilan periode istri usia 20 sampai 35 tahun merupakan usia yang paling baik untuk melahirkan dengan jumlah anak 2 orang dengan jarak kelahiran 3 sampai 4 tahun. Ketiga, masa untuk mengakhiri setelah memiliki 2 orang anak atau lebih (Sarsanto, 2007).

3. Pemilihan Kontrasepsi Pemilihan kontrasepsi menentukan alat atau obat yang digunakan untuk mencegah atau menghindari terjadinya

kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma baik yang bersifat sementara maupun bersifat permanent (Prawirohardjo, 2005). Pelayanan kontrasepsi (PK) merupakan salah satu

komponen dalam pelayanan kependudukan dan KB. Selain Pelayanan kontrasepsi (PK) juga terdapat komponen pelayanan kependudukan/KB lainnya seperti komunikasi dan edukasi (KIE), konseling, pelayanan infertilitas, pendidikan seks (sex education), konsultasi pra-perkawinan dan konsultasi

perkawinan, konsultasi genetik, tes keganasan dan adopsi. Tidak ada satupun metode kontrasepsi yang aman dan efektif bagi semua klien karena masing-masing mempunyai

kesesuaian dan kecocokan individual bagi setiap klien. Namun secara umum persyaratan metode kontrasepsi ideal adalah sebagai berikut (Prawirohardjo, 2005) : a. Aman, artinya tidak akan menimbulkan komplikasi berat jika digunakan

b. Berdaya guna, dalam arti jika digunakan sesuai dengan aturan akan dapat mencegah kehamilan. kontrasepsi

diantaranya adalah keefektifan teoritis, keefektifan praktis, dan keefektifan biaya. Keefektifan teoritis (theoritical

effectiveness) yaitu kemampuan dari suatu cara kontrasepsi untuk mengurangi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, apabila cara tersebut digunakan terusmenerus dan sesuai dengan petunjuk yang diberikan tanpa kelalaian, sedangkan keefektifan praktis (use effectiveness) adalah keefektifan yang terlihat dalam kenyataan di lapangan setelah

pemakaian jumlah besar, meliputi segala sesuatu yang mempengaruhi pemakaian seperti kesalahan, penghentian, kelalaian, dan lain-lain. c. Dapat diterima, bukan hanya oleh klien melainkan juga oleh lingkungan budaya di masyarakat. Ada dua macam

penerimaan terhadap kontrasepsi yakni penerimaan awal (initial acceptability) dan penerimaan lanjut (continued

acceptability). Penerimaan awal tergantung pada bagaimana motivasi dan persuasi yang diberikan oleh petugas KB. Penerimaan lanjut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti

umur, motivasi, budaya, sosial ekonomi, agama, sifat yang ada pada KB, dan faktor daerah (desa/kota). d. Terjangkau harganya oleh masyarakat. e. Bila metode tersebut dihentikan penggunaannya, klien akan segera kembali kesuburannya, kecuali untuk kontrasepsi mantap (Prawirohardjo, 2005). 4. Macam-macam Metode Kontrasepsi a. Metode perintang (barrier) 1) Kondom Merupakan selubung atau sarung karet yang dapat dibuat dari berbagai bahan diantarnya karet (lateks), plastik (vinil),atau bahan alami (produksi hewan) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. Kondom tidak hanya mencegah kehamilan tetapi juga melindungi diri dari penularan penyakit melalui hubungan seks, termasuk HIV/AIDS (Saifuddin, 2003). 2) Diafragma Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks atau karet yang di insersikan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks. Dengan cara seperti ini, sperma tidak bisa meneruskan

perjalanan menuju rahim meskipun sperma sudah masuk vagina (Saifuddin, 2003). 3) Spermisida Spermisida adalah bahan kimia (surfaktan nonionic) yang digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma. Formulasi spermisida terdiri dari supositoria, krim, jeli, spons, busa dan film (Saifuddin, 2003). b. Metode hormonal 1) Kontrasepsi oral atau pil Kontrasepsi pil berisi kombinasi hormone sintettis

progesterone dan estrogen biasa disebut pil kombinasi, atau hanya berisi hormone sintetis progesterone saja yang sering disebut dengan minipil. Pil yang diminum setiap hari ini berguna untuk mempengaruhi keseimbangan hormone sehingga dapat menekan ovulasi, mencegah implantasi, dan mengentalkan lender serviks (Handayani, 2010). 2) Kontrasepsi suntik atau injeksi Kontrasepsi suntik adalah salah satu cara untuk mencagah terjadinya kehamilan dengan melalui suntikan hormonal. Terdapat dua macam yaitu suntikan kombinasi yang mengandung hormon sintetis estrogen dan progesterone,

kemudian

suntikan

progestin

yang

berisi

hormon

progesterone. Mekanisme kerjanya menekan ovulasi, mengentalkan pertumbuhan mukus serviks dan mengganngu menyulitkan

endometrium

sehingga

implantasi (Handayani, 2010). 3) Implant Implant adalah alat kontrasepsi yang berupa susuk yang terbuat dari sejenis karet silastik yang berisi hormone, dipasang pada lengan atas. Implant berupa tulang-tulang yang lunak dan berisi hormone progestin dan setelah diinsersikan implant akan melepaskan hormone tiap harinya. Implant bekerja menghambat ovulasi (Handayani, 2010). 4) IUD hormonal IUD (intra Uterine Device) hormonal IUD yang

mengandung hormon adalah suatu benda kecil yang terbuat dari plastik yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormon dan dimasukan ke dalam rahim melalui vagina (Handayani, 2010).

c. Metode Intra Uterine Device (IUD) Intra uterin Device (IUD) atau disebut juga Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukan ke dalam rahim yang sangat efektif, reversible dan berjangka panjang. AKDR berguna untuk mencegah terjadinya penempelan sel telur pada dinding rahim atau menangkal pembuahan sel telur oleh sperma (Uliyah, 2010). d. Metode operasi atau sterilisasi Metode ini bekerja dengan cara melakukan pemutusan atau pengikatan saluran sel sperma pada laki-laki (vasektomi) (Uliyah, 2010). e. Metode alami atau sederhana 1) Metode kalender Metode kalender adalah metode yang digunakan

berdasarkan masa subur dimana harus menghindari hubungan seksual tanpa perlindungan kontrasepsi pada hari ke 8 19 siklus menstruasinya. Dasarberasal dari ovulasi umumnya terjadi pada hari ke-15 sebelum haid berikutnya, tetapi dapat pula terjadi 12 16 hari sebelum haid yang akan dating (Hartanto, 2010). 2) Metode amenorea laktasi (MAL)

Menyusui eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama klien belum mendapat haid dan waktunya kurang dari enam pasca persalinan. Efektifitasnya dapat mencapai 98%. MAL efektif bila menyusui lebih dari delapan kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan perlaktasi (Proverawati, 2010). 3) Metode suhu tubuh Saat ovulasi terjadi peningkatan suhu basal tubuh sekitar 0,2oC 0,5oC yang disebabkan oleh peningkatan kadar hormon progesterone, peningkatan suhu basal tubuh 1 2 hari setelah ovulasi. Selama 3 hari berikutnya

(memperhitungkan waktu ekstra dalam masa hidup sel telur) diperlukan pantang berhubungan intim. Metode suhu mengidentifikasi akhir masa subur bukan awalnya

(Handayani, 2010). 4) Senggama terputus atau koitus interuptus Senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi. Efektifitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk

melakukan senggama terputus atau koitus interuptus setiap pelaksanaannya ( Saifuddin, 2006). f. Metode darurat Metode darurat adalah cara menghindari kehamilan setelah terlanjur melakukan hubungan seksual tanpa pelindung. Metode ini mengusahakan agar sel telur yang telah dibuahi tidak sampai menempel kedinding rahim dan berkembang menjadi janin. Metode darurat dapat menggunakan pil hormone atau AKDR (Uliyah, 2010). 5. Kontrasepsi Suntik a. Pengertian Kontrasepsi Suntik Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi yang diberikan kepada wanita yang mendapat suntikan periodik untuk mencegah kehamilan. Suntikan progestin pertama di

temukan pada awal tahun 1950an, yang pada mulanya digunakan untuk pengobatan endometriosis dan kanker endometrium (carcinoma endometrii). Baru pada awal tahun 1960, uji klinis penggunaan suntikan progestin untuk keperluan kontrasepsi dilakukan. Terdapat dua jenis suntikan progestin yang dipakai, yakni depo medroksiprogesteron asetat dan depo noretisteron enantat, sedangkan untuk

suntikan depo estrogen-progesteron (cyclofem) ditemukan pada tahun 1960an. Penambahan estrogen pada obat kontrasepsi progesteron ternyata dapat memperbaiki siklus haid (Prawirohardjo, 2005). b. Jenis-jenis Kontrasepsi Suntik Jenis-jenis progestin yaitu: 1) Kontrasepsi Progestin : a) Depo medroksiprogesteron asetat Mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara di suntik intramuskular. Setelah suntikan pertama, kadar DMPA dalam darah mencapai puncak setelah 10 hari. DMPA dapat memberi kontrasepsi suntik yang mengandung

perlindungan dengan aman selama tiga bulan. b) Depo noretisteron enantat Mengandung 200 mg Noretdon Enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intramuskular. 2) Kontrasepsi Kombinasi Depo estrogen-progesteron. Jenis suntikan kombinasi ini terdiri dari 25 mg Depo Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg Estrogen Sipionat.

c. Mekanisme Kerja Kontrasepsi Suntik Mekanisme kerja kontrasepsi suntik pada suntikan progestin dan suntikan kombinasi sama saja yaitu : 1) Mencegah ovulasi Kadar progestin tinggi sehingga menghambat lonjakan luteinizing hormone (LH) secara efektif sehingga tidak terjadi ovulasi. 24 Kadar follicle-stimulating hormone (FSH) dan LH menurun dan tidak terjadi lonjakan LH (LH Surge). Menghambat perkembangan folikel dan

mencegah ovulasi. Progestogen menurunkan frekuensi pelepasan (FSH) dan (LH). 2) Lendir serviks menjadi kental dan sedikit, mengalami penebalan mucus serviks yang mengganggu penetrasi sperma. Perubahan-perubahan siklus yang normal pada lendir serviks. Secret dari serviks tetap dalam keadaan di bawah pengaruh progesteron hingga menyulitkan

penetrasi spermatozoa. 3) Membuat endometrium menjadi kurang layak/baik untuk implantasi dari ovum yang telah di buahi, yaitu

mempengaruhi perubahan-perubahan menjelang stadium sekresi, yang diperlukan sebagai persiapan endometrium

untuk memungkinkan nidasi dari ovum yang telah di buahi. 4) Mungkin mempengaruhi kecepatan transpor ovum di dalam tuba fallopi atau memberikan perubahan terhadap kecepatan transportasi ovum (telur) melalui tuba. d. Keuntungan Kontrasepsi Suntik Keuntungan dalam menggunakan alat kontrasepsi suntik sebagai berikut : 1) Sangat efektif, karena mudah digunakan tidak memerlukan aksi sehari hari dalam penggunaan kontrasepsi suntik ini tidak banyak di pengaruhi kelalaian atau faktor lupa dan sangat praktis. 2) Meningkatkan kuantitas air susu pada ibu yang menyusui, Hormon progesteron dapat meningkatkan kuantitas air susu ibu sehingga kontrasepsi suntik sangat cocok pada ibu menyusui. Konsentrasi hormon di dalam air susu ibu sangat kecil dan tidak di temukan adanya efek hormon pada pertumbuhan serta perkembangan bayi. 3) Efek samping sangat kecil yaitu tidak mempunyai efek yang serius terhadap kesehatan. 4) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

5) Penggunaan jangka panjang sangat cocok pada wanita yang telah mempunyai cukup anak akan tetapi masih enggan atau tidak bisa untuk dilakukan sterilisasi. 6) Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun. e. Efek Samping Kontrasepsi Suntik Gangguan haid, ini yang paling sering terjadi dan yang paling menggangu. Pola haid yang normal dapat berubah menjadi amenore, perdarahan bercak, perubahan dalam frekuensi lama dan jumlah darah yang hilang. Efek pada pola haid tergantung pada lama pemakaian. Perdarahan intermenstrual dan perdarahan bercak berkurang dengan jalannya waktu, sedangkan kejadian amenore bertambah, tetapi sebenarnya efek ini memberikan keuntungan yakni

mengurangi terjadinya anemia. Efek samping kontrasepsi suntik lainnya yaitu berat badan yang bertambah, umumnya pertambahan berat badan tidak terlalu besar, bervariasi antara kurang dari 1 kg sampai 5 kg dalam tahun pertama. Pertambahan berat badan tidak jelas. Tampaknya terjadi karena bertambahnya lemak tubuh. Hipotesa para ahli ini diakibatkan hormon merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan

akseptor makan lebih banyak daripada biasanya (Hanifa, 2007). Keluhan-keluhan lainnya berupa mual, muntah, sakit kepala, panas dingin, pegal-pegal, nyeri perut dan lain-lain. Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikut. Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV. Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian bukan karena terjadinya kerusakan atau kelainan pada organ genitalia, melainkan karena belum habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya (tempat suntikan). Pada penggunaan jangka panjang yaitu diatas 3 tahun penggunaan dapat menurunkan kepadatan tulang,

menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido (Hanifa, 2007). f. Penggunaan Kontrasepsi Suntik Alat kontrasepsi suntik menurut BKKBN adalah

kontrasepsi dengan hormon progesterone yang disuntikan ke bokong atau otot panggul setiap 3 bulan sekali, atau dengan hormon estrogen yang disuntikan setiap 1 bulan sekali.

Kontrasepsi suntik progestin tersedia 2 jenis kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin, yaitu: 1) Depoprovera, mengandung 150 mg DMPA (Depo Medroxi Progesteron Asetat), yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuskular. 2) Depo Noristerat, mengandung 200 mg Noretindron

Enantat, yang diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intramuskular (Saifuddin, 2006). g. Cara kerja kontrasepsi suntik progestin: 1) Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum. 2) Mengentalkan lendir serviks, sehingga sulit ditembus spermatozoa. 3) Perubahan peristaltik tuba falopii, sehingga konsepsi dihambat. 4) Mengubah suasana endometrium, sehingga tidak

sempurna untuk implantasi hasil konsepsi (BKKBN, 2009). 5) Efektivitas kontrasepsi suntik progestin memiliki efektivitas tinggi yaitu 0,3 kehamilan per 100 perempuan pertahun, asal penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan (Saifuddin, 2006).

B. Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Akseptor memilih Alat Kontrasepsi Suntik Menurut Hanafi (2002), faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor memilih kontrasepsi suntik antara lain : 1. Faktor pasangan yang meliputi : a. Umur Usia adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan

(Depdiknakes, 2005). Usia yang dimaksud disini adalah usia akseptor KB. Usia mempengaruhi akseptor dalam

penggunaan alat kontrasepsi. Dari faktor-faktor usia dapat ditentukan fase-fase. Usia kurang 20 tahun; fase menunda kehamilan, usia antara 20-35 tahun; fase menjarangkan kehamilan. Usia antara 35 tahun lebih; fase mengakhiri kehamilan (Hartanto, 2004). Umur atau usia merupakan faktor terpenting karena fertilitas menurun setelah usia 31 tahun. Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status kesehatan reproduksi. Ibu yang masih muda relative belum mengetahui apa manfaat kontrasepsi dan golongan yang lebih tua akan lebih mudah mengalami komplikasi dalam penggunaan alat kontrasepsi. Dimana seorang ibu yang berusia lebih dari 35

tahun sudah beresiko dan apabila ibu mempunyai kebiasaan merokok itu tidak dinjurkan untuk menggunakan alat

kontrasepsi suntik (Saifuddin, 2006). Periode umur wanita di atas 30 tahun, terutama diatas 35 tahun sebaiknya mengakhiri kehamilan setelah mempunyai 2 orang anak. Sehingga pilihan utama alat kontrasepsinya adalah kontrasepsi mantap misalnya vasektomi atau

tubektomi karena kontrasepsi ini dapat dipakai untuk jangka panjang dan tidak menambah kelainan yang sudah ada. Pada masa usia tua kelainan seperti penyakit jantung, darah tinggi, keganasan dan metabolik biasanya meningkat, oleh karena itu sebaiknya tidak diberikan cara kontrasepsi yang menambah kelainan tersebut (Hartanto, 2003). b. Jumlah keluarga yang diinginkan Salah satu tujuan dari kontrasepsi ini adalah untuk menjarangkan kehamilan, jadi wanita yang ingin mengatur jumlah keluarga yang diinginkan ataupun yang ingin

menjarangkan kehamilan

sehingga jumlah anak dalam

keluarga sesuai dengan keinginan menggunakan kontrasepsi. Jumlah anak seorang wanita dapat mempengaruhi cocok tidaknya suatu metode secara medis. Secara umum,

contohnya seperti alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) tidak dianjurkan bagi wanita nullipara karena pemasangan yang lebih sulit, dan kemungkinan AKDR dapat mengganggu kesuburan di masa depan (Sherris & Wells, 2005). Pada ibu setelah mempunyai 2 orang anak atau lebih sebaiknya mengakhiri kesuburan. Dianjurkan untuk tidak punya anak lagi , karena alasan medis dan alasan lainnya, sehingga dianjurkan untuk ibu untuk menggunakan

kontrasepai mantap (Hartanto, 2003). c. Gaya hidup Wanita yang gaya hidupnya suka merokok (perokok), menderita anemia (kekurangan zat besi) boleh menggunakan kontrasepsi progestin karena tidak ada efek samping bagi wanita perokok atau penderita anemia. d. Frekwensi senggama Kontrasepsi progesterone dapat digunakan pada wanita yang sering ataupun yang jarang melakukan hubungan seksual dengan suaminya, karena tidak mengganggu pada hubungan seksual.

e. Pengalaman dengan kontrasepsi yang lalu Wanita yang dahulunya pernah menggunakan salah satu jenis kontrasepsi, dia merasa nyaman dan merasa mendapat keuntungan dari kontrasepsi itu. Maka dia pasti akan menggunakan kontrasepsi itu lagi. Anggota keluarga, sanak saudara, tetangga dan teman sering kali memiliki pengaruh yang bermakna dalam

pemakaian metode kontrasepsi oleh suatu pasangan. Tidak sedikit dari pasangan yang memilih metode kontrasepsi dengan cara bertanya terlebih dahulu pada orang yang terdekat dalam hal pengalaman menggunakan kontrasepsi. Seseorang yang kecewa dengan pemakaian suatu metode akan mempengaruhi orang lain untuk tidak menggunakannya. Sebaliknya bila seseorang puas dengan pemakaian suatu metode mereka akan mengajak orang lain untuk

menggunakan kontrasepsi seperti yang dipakainya. Misalkan seseorang yang kecewa dengan pemakaian kondom akan menghindari penggunaan kondom pada

kontrasepsi selanjutnya dan mungkin akan mempengaruhi seseorang untuk tidak menggunakan kondom. Banyak

pasangan yang mengeluhkan bahwa pemakaian kondom

hanya akan mengganggu sentuhan langsung pada saat berhubungan (Ratih, 2011). 2. Faktor kesehatan yang meliputi : a. Status kesehatan Status kesehatan akseptor yaitu riwayat kesehatan yang lalu dan riwayat kesehatan sekarang yang dapat

mempengaruhi penggunaan kontrasepsi suntik. Akseptor yang memiliki penyakit diabetes atau riwayat diabetes selama kehamilan harus dilakukan follow-up dengan teliti, karena kandungan depo medroksi progesterone asetat (DMPA) dapat mempengaruhi metabolisme karbohidrat (Hartanto, 2004). Wanita yang mempunyai penyakit jantung dapat untuk menggunakan kontrasepsi progesterone, karena progesterone mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung. b. Riwayad haid Seorang wanita mempunyai siklus haid yang bervariasi dari 28 sampai 36 hari, yaitu seorang wanita yang tergolong durasi menstruasi kurang dari 4 hari dan wanita dengan durasi menstruasi lebih dari 6 hari. Hanya sedikit wanita yang mempunyai daur haid yang teratur, lebih-lebih seorang wanita

yang sudah melahirkan dan pada tahun-tahun menjelang menopause (Manuaba, 1999). Semua wanita yang siklus haidnya panjang atau pendek dapat menggunakan kontrasepsi progesterone, sedangkan wanita yang pernah mengalami perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya tidak boleh menggunakan

kontrasepsi progesterone (Hartanto, 2004). c. Riwayat keluarga Wanita yang dalam keluarganya mempunyai penyakit kanker payudara dan diabetes mellitus disertai komplikasi dan tidak dapat menggunakan kontrasepsi progestin (Hartanto, 2004). d. Pemeriksaan fisik Wanita yang terdapat pemeriksaan fisik terdapat varises tidak dapat menggunakan kontrasepsi progestin. 3. Faktor metode kontrasepsi yang meliputi : a. Efek samping Efek samping hanya sedikit yaitu terjadinya gangguan siklus haid, perubahan berat badan, sakit kepala terjadi pada <1-17% akseptor, keterlambatan kembalinya kesuburan dan osteoporosis pada pemakaian jangka panjang.

b. Efektivitas Efektivitas kontrasepsi progestin tinggi, dengan 0,3 kehamilan per-100 perempuan tiap tahun. Asalkan

penyuntikanya dilakukan dengan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan. c. Kerugian Kerugian hanya sedikit dan jarang terjadi pada wanita yang menggunakan kontrasepsi progesteron ini, perubahan berat badan ini merupakan kerugian tersering. d. Biaya Biaya kontrasepsi progesteron sangat terjangkau, siapa saja bisa menjangkaunya (hartanto, 2004).

C. Kerangka Teori Penelitian

Faktor Pasangan : Umur Jumlah keluarga yang diinginkan Frekwensi senggama Pengalaman dengan kontrasepsi yang lalu

Faktor Kesehatan : Faktor-faktor yang melatarbelakangi Status kesehatan Riwayat haid Diteliti Riwayat keluarga Tidak Diteliti Pemeriksaan fisik akseptor memilih Kontrasepsi Suntik

Faktor Metode Kontrasepsi : Efek samping Efektivitas Kerugian Biaya

Gambar 1. Sumber : Hanafi (2002), Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Akseptor untuk memilih Alat Kontrasepsi suntik.

D. Kerangka Konsep Penelitian

Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Akseptor Memilih Alat Kontrasepsi Suntik : Faktor pasangan : - Umur - Jumlah keluarga yang diinginkan - Frekuensi senggama Pengalaman dengan kontrasepsi yang lalu Akseptor Kontrasepsi Suntik

Faktor kesehatan : - Status kesehatan - Riwayat Haid Riwayat keluarga Pemeriksaan fisik

Faktor metode kontrasepsi : - Efek Samping Efektivitas Kerugian Biaya .

Variabel yang diteliti Variabel yang tidak diteliti

Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Menurut Notoatmojo (2010), deskriptif analitik adalah suatu metodologi penelitian yang menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan (masalah yang terjadi dalam dunia kesehatan) itu terjadi dan cross sectional adalah penelitian untuk mempelajari dinamika yang terjadi (faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor untuk memilih kontrasepsi suntik) dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Penelitian ini menggambarkan faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor untuk memilih kontrasepsi suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta yaitu faktor pasangan yang meliputi umur, jumlah keluarga yang diinginkan, dan frekuensi senggama. Faktor kesehatan yang meliputi status kesehatan, riwayat haid. Dan faktor metode kontrasepsi yaitu efek samping KB Suntik.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Waktu penelitian : Pengambilan sampel penelitian akan dilangsungkan mulai dari bulan Februari minggu pertama Tahun 2013. 2. Tempat penelitian : Tempat penelitian ini dilakukan di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah semua pengguna KB Suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta tahun 2012 yang berjumlah 374 akseptor. 2. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian populasi atau yang mewakil populasi yang akan diteliti (Arikunto, 2006). Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling

(pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu) (Rahayu, 2005). Karakteristik sampel yang diikutsertakan dalam penelitian yaitu :

a. Kriteria Inklusi 1) Bersedia menjadi responden penelitian dengan mengisi informed consens. 2) Akseptor KB Suntik 1 bulan maupun KB suntik yang 3 bulan yang ada di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta. b. Kriteria Ekslusi Kriteria ekslusi yang perlu diperhatikan yaitu: 1) Pada pelaksanaan penelitian responden sudah pindah keluar daerah yogyakarta. 2) Saat penelitian responden sedang sakit dan sedang dirawat di rumah sakit. 3) Pada saat penelitian dilaksanakan responden sudah

meninggal dunia. Mengingat jumlah populasi besar, maka dalam pengambilan sampel digunakan rumus sebagai berikut (Notoatmodjo, 2003) :

N 1 N .( d ) 2

Dimana : n N d2 = Jumlah sampel = Jumlah populasi = Presisi yang ditetapkan

Diketahui jumlah populasi sebesar 374 dan tingkat presisi yang ditetapkan 10%. Berdasarkan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel (n) sebagai berikut:
n N Nd 2 1
374 374 .( 0,1) 2 1
374 374 .( 0,01) 1

374 4,74

n 78,90

Dengan demkian jumlah sampel dalam penelitian ini dibulatkan menjadi sebesar 79 responden.

D. Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor dalam memilih alat kontrasepsi suntik yang meliputi : Umur, Jumlah anak yang diinginkan, Efek samping, Status kesehatan, Riwayat haid, Kualitas hubungan seksual.

E. Definisi Operasional Definisi operasional penelitian ini sebagai berikut : Tabel 1. Definisi Operasional No 1. Variabel Umur Definisi operasional Umur responden menurut ulang tahun terakhir Keseluruhan jumlah anak yang diharapkan keluarga Pengaruh yang di sebabkan KB Suntik yang digunakan Keluhan yang dialami sebelum atau selama haid yaitu nyeri haid Riwayat kesehatan yang merupakan indikasi KB suntik kualitas dalam berhubungan intim sesudah dan sebelum menggunakan kontrasepsi suntik Skala data Ordinal Alat ukur KTP Kreteria penilaian 1.<35 th:dewasa muda 2.>35 th: Dewasa tua

2.

Jumlah keluarga yang diinginkan Efek samping

Ordinal

Kuesioner

1. 1-2 2. >2

3.

Nominal

Kuesioner

Ada Tidak ada

4.

Riwayat haid

Nominal

Kuesioner

Ada Tidak ada

Status kesehatan

Nominal

Kuesioner

Ada Tidak ada

6.

Frekuensi sengama

Interval

Kuesioner

1. Sangat puas 2. Puas 3. Cukup puas 4. Kurang puas 4. Tidak puas

F. Cara pengumpulan data Cara mengumpulkan datanya dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang diketahui (Arikunto, 2002). Pengambilan dilakukan dengan cara memberikan kuesioner kepada responden, setelah itu peneliti memberikan penjelasan tentang teknik pengisian kuesioner. Selama pengisian kuesioner peneliti mendampingi sehingga apabila ada hal- hal yang kurang jelas dapat langsung ditanyakan kepada peneliti. Setelah kuesioner diisi oleh responden, dikumpulkan kembali pada peneliti untuk di periksa. Kuesioner yang diisi terdiri dari usia akseptor, jumlah anak yang diinginkan, riwayat haid, efek samping kontrasepsi yang digunakan dan frekuensi bersenggama.

G. Alat Penelitian Alat penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data dan untuk mengetahui hasil penelitian dari variabel yang akan diteliti adalah dengan menggunakan kuesioner, yang terdiri dari: 1. Karakteristik Responden Kuesioner karakteristik responden terdiri atas data, umur ibu, pendidikan terakhir, pekerjaan, umur saat menikah.

2. Kuesioner Faktor faktor pemilihan kontrasepsi Kuesioner Faktor faktor pemilihan kontrasepsi terdiri atas data faktor pasangan, faktor kesehatan, faktor metode kontrasepsi. Kuesioner faktor-faktor pemilihan kontrasepsi menggunakan

kuesioner bentuk pernyataan tertutup dengan pilihan jawaban menggunakan skala likert yang berjumlah 30 pertanyaan. Selanjutnya nilai keseluruhan dari 30 pertanyaan ditotal dan nilai tertinggi adalah 48 sedangkan nilai terendah adalah 30. Dari masing - masing responden dihitung nilai totalnya dengan rumus :

Keterangan : P x1 N = Pencapaian persentase = Jumlah nilai yang diperoleh responden = Nilai jumlah skor maksimal Selanjutnya nilai persentase diinterprestasikan dengan tinggi, sedang dan rendah dengan menggunakan standar pencapaian menurut Arikunto (2006): a. Nilai 37-48 (76-100%) b. Nilai 27-36 ( 56-75%) c. Nilai 26 (55%) = Tinggi = Sedang = Rendah

Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner yang melatarbelakangi akseptor memilih alat kontrasepssi suntik 2013 No 1 Variabel Faktor Pasangan Jumlah Keluarga Frekuensi Keluarga 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 2 Faktor Kesehatan Riwayat Haid 3 Faktor Metode Total H. Uji Kesahihan dan Keandalan Uji kesahihan dan keandalan, peneliti lakukan pada akseptor kontrasepsi suntik di Puskesmas Depok I Sleman Yogyakarta yaitu pada tanggal 10 januari 2013 sebanyak 20 responden dengan perhitungan uji kesahihan terhadap kuesioner faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor memilih alat kontrasepsi suntik Efek Samping Status Kesehatan 15, 16, 17, 18, 19, 20 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 30 3 7 6 4 5 Indikator Umur No Item Soal 1, 2, 3, 4, 5, Jumlah 5

menggunakan rumus Product Moment Pearson dengan bantuan komputerisasi. Sahih tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui

dengan membandingkan indeks korelasi Product Moment Pearson dengan level signifikansi 5% (Arikunto, 2002). Rumus :

Keterangan : = Koefisien korelasi product moment Y X N = Nilai dari semua item ganjil = Nilai dari semua item genap = Jumlah item Bila r hitung > r tabel maka variabel tersebut sahih, sedangkan r hitung < r tebel maka variabel tidak diterima (Setiawan dan Saryono, 2010). Uji kesahihan akan dilakukan tepatnya di Puskesmas Depok I Sleman Yogyakarta. Hasil analisis alat setiap item untuk semua variabel penelitian menggunakan Pearson Product Moment dengan cara membandingkan hasil r hitung dengan r tabel n = 20 (r tabel = 0.423) dengan komputer. Item pertanyaan dianggap sahih jika r hitung > r tabel (0.423). Berdasarkan hasilnya uji kuesioner faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor memilih alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Depok I Sleman Yogyakarta yang terdiri dari 30 item pertanyaan semuanya

sahih. Kuesioner tersebut yang akan digunakan untuk mengukur faktor-faktor yang melatarbelakangi akseptor memilih alat kontrasepsi suntik di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta. Menurut Arikunto (2002) kuesioner dikatakan handal jika nilai Alpha 0,05. Jika instrumen mempunyai kehandalan yang tinggi maka instrumen tersebut dapat dihandalkan atau dipercayakan.

I. Pengolahan Data dan Analisa 1. Pengolahan Data Setelah data terkumpul maka langkah yang dilakukan selanjutnya adalah pengolahan data. Menurut Notoatmodjo (2010), proses pengolahan data ini terdiri dari 4 tahap : a. Editing adalah setiap lembar kuesioner di periksa untuk memastikan bahwa setiap pernyataan terdapat dalam kuesioner dan telah terisi semua. b. Coding terkumpul adalah memberikan kode pada setiap jawaban dalam kuesioner untuk memudahkan proses

pengolahan data. c. Tabulating adalah melakukan pemindahan atau memasukan data kuesioner dalam komputer untuk di proses.

d. Analiting adalah mengelompokan data sesuai dengan data penelitian kemudian dimasukan data yang didapat ke komputer. 2. Analisis univariate Analisis univariate bertujuan untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariate tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai olah data atau rata-rata, median dan standar devisiasi. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010). Untuk menghitung analisis univariate dengan menggunakan rumus yaitu sebagai berikut :

F=

n * 100% N

Keterangan : F = Frekuensi n = Jumlah skor yang dinilai N = Jumlah seluruh pertanyaan.

J. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian, peneliti juga memperhatikan masalah etika penelitian. Etika penelitian sebagai berikut : 3. Lembar persetujuan (Informed consent)

Sebelum

dilaksanakan

penelitian,

peneliti

memberikan

informasi tentang tujuan dan manfaat penelitian, setelah sifat keikutsertaan dalam penelitian. Sampel yang setuju berpartisipasi dalam penelitian dimohon untuk menandatangani lembar

persetujuan penelitian. 4. Tanpa nama (Anonymity) Untuk menjaga kerahasiaan responden dalam penelitian, maka peneliti tidak mencantumkan nama pada lembar kuesioner, cukup dengan memberi nama kode akseptor pada masing-masing lembar yang hanya diketahui oleh peneliti. 5. Kerahasiaan (Confidentiality) Peneliti menyimpan data penelitian pada dokumen pribadi penelitian, dan data-data penelitian dilaporkan dalam bentuk kelompok bukan sebagai data-data yang mewakili pribadi sampel penelitian.

K. Jalannya Penelitian 6. Tahap Persiapan a. Menetapkan tema dan judul penelitian dengan melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing.

b. Mengurus surat-menyurat terhadap pihak yang terkait untuk melakukan studi pendahuluan. c. Melakukan studi pendahuluan di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta untuk mendapatkan informasi serta data yang dibutuhkan dalam menyusun proposal penelitian. d. Membuat proposal penelitian e. Mengikuti ujian seminar proposal f. Revisi proposal 7. Mengurus perijinaan untuk melakukan penelitian kepada pihak yang terkait (KPS Prodi S1 Ilmu Keperawatan, Gubernur DIY, Bappeda Propinsi Yogyakarta). 8. Tahap pelaksanaan dengan membagikan kuesioner kepada Pengguna KB Suntik aktif yang menggunakan KB Suntik yang datang melakukan pemeriksaan di Puskesmas Depok II Sleman Yogyakarta. 9. Tahap penyusunaan laporan (data diolah, dianalisis, dibahas kemudian ditarik kesimpulan dan disusun jadi sebuah laporan penelitian).

LAMPIRAN

Lampiran 1 PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Assalamualaikum Wr.Wb. Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama NIM Alamat : Suryadi : Kp. 09.00589 : Yogyakarta

Adalah mahasiswa Program Studi 1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Husada Yogyakarta, yang akan melakukan penelitian dengan judul Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Akseptor Untuk Memilih Alat Kontrasepsi Suntik di Puskesmas Depok II Sleman, Yogyakarta, saya memohon kepada ibu untuk bersedia menjadi responden dan membantu mengisi formulir pertanyaan dengan menjawab dengan jujur sesuai dengan apa yang ibu ketahui tanpa ada pengaruh dari orang lain. Jawaban ibu merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi kelangsungan penelitian ini. Saya menjamin kerahasiaannya dan atas kerjasama saya ucapkan terimakasih. Wassalamualaikum Wr.Wb. Yogyakarta, Januari 2013 Hormat Saya

( Suryadi )

Lampiran 2 PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Umur Alamat : : : tahun

Setelah mendapat informed content, pada prinsipnya setuju menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan oleh Suryadi, Mahasiswa Program Studi 1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Husada Yogyakarta, tentang Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Akseptor Untuk Memilih Alat Kontrasepsi Suntik di Puskesmas Depok II Sleman, Yogyakarta Demikian lembar persetujuan ini saya isi dengan sebenar-benarnya agar dapat digunakan seperlunya.

Yogyakarta,

Januari 2013

KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI AKSEPTOR UNTUK MEMILIH ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DI PUSKESMAS DEPOK II SLEMAN YOGYAKARTA No. Responden Alamat Tanggal Pengisian I. Petunjuk pengisian : : : :

1. Bacalah setiap pertanyaan yang tersedia dengan seksama 2. Pilih salah satu jawaban yang benar menurut ibu 3. Berikan tanda silang (X) pada huruf : a, b, c, d dan e sesuai dengan pilihan jawaban ibu. 4. Jawaban tidak boleh lebih dari satu.

II. Karakteristik Responden : 1. Berapa usia ibu saat ini ? a. 20 - 25 thn b. 26 - 30 thn c. 31 35 thn d. <35 thn e. Lain-lain 2. Berapa usia suami ibu saat ini ? a. 20 25 thn b. 26 30 thn

c. 31 35 thn d. <35 thn e. Lain-lain... 3. Pendidikan ibu terakhir ? a. SD b. SLTP c. SLTA d. PT e. Lain-lain 4. Apa pekerjaan ibu saat ini? a. Swasta b. Pegawai Negri c. Tani d. Buruh tani e. Lain-lain 5. Berapa usia ibu saat pertama kali menikah ? a. 20 - 25 thn b. 26 - 30 thn c. 31 35 thn d. <35 thn e. Lain-lain III. Faktor-faktor pemilihan Kontrasepsi : A. Faktor Pasangan 6. Berapa jumlah anak yang diinginkan ibu dan suami ibu ?

a. b. c.

1 anak 2 anak 3 anak

d. >3 anak e. Lain-lain. 7. Sudah berapa anak ibu saat ini ? a. 1 anak b. 2 anak c. 3 anak d. 4 anak e. Lain-lain.. 8. Dalam memilih KB ibu berkonsultasi atau meminta saran pada siapa ? a. Suami b. Keluarga c. Tetangga d. Bidan e. Lain-lain... 9. Apa yang suami ibu harapkan dari KB yang ibu gunakan ? a. Tidak mengganggu hubungan seksual b. Tidak membuat gemuk c. Tidak mahal d. Suami tidak alergi e. Lain-lain..

10. Apakah suami ibu fanatik terhadap suatu jenis KB tertentu ? a. Iya b. Tidak 11. Bagaimana kualitas hubungan intim ibu dan suami sebelum menggunakan kontrasepsi suntik ? a. Sangat puas b. Puas c. Kurang puas d. Sangat tidak puas e. Lain-lain. 12. Bagaimana kualitas hubungan intim ibu dan suami sesudah menggunakan kontrasepsi suntik ? a. Sangat puas b. Puas c. Kurang puas d. Sangat tidak puas e. Lain-lain. 13. Sebelum ibu menggunakan kontrasepsi suntik berapa frekwensi hubungan intim (banyaknya berhubungan intim) dalam satu minggu? a. <3 kali b. >3 kali 14. Setelah ibu menggunakan kontrasepsi suntik berapa frekwensi hubungan intim (banyaknya berhubungan intim) dalam satu minggu?

a. <3 kali b. >3 kali B. Faktor Kesehatan 15. Sebelum ibu meggunakan KB suntik apakah ibu pernah mengalami kegagalan dengan KB yang lain ? a. Tidak pernah b. Pernah, sebutkan .. 16. Saat ini apakah ibu sedang menderita suatu penyakit, seperti dibawah ini ? Tekanan darah tinggi, TBC, Tekanan darah rendah dan Kencing manis. a. Pernah b. Tidak pernah 17. Menurut ibu, seorang ibu yang berusia lebih dari 35 tahun sudah beresiko dan apabila ibu mempunyai kebiasaan merokok itu tidak dinjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi suntik ? a. Iya b. Tidak 18. Apakah ibu yang mempunyai tekanan darah tinggi tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntik ? a. Iya b. Tidak 19. Apakah di dalam keluarga ibu ada yang menggunakan KB suntik ? a. Ada

b. Tidak ada 20. Apakah suami ibu mengeluh saat berhubungan karena alat kontrasepsi yang ibu gunakan? a. Iya b. Tidak 21. Apakah dalam riwayat haid ibu memiliki keluhan (seperti nyeri haid hebat, haid tidak teratur, jumlahnya kadang banyak kadang sedikit) sehingga ibu memilih untuk menggunakan KB suntik ? a. Iya b. Tidak 22. Apakah ibu pernah mengalami perdarahan tetesan atau bercak-bercak (spotting) ? a. Iya b. Tidak 23. Apakah suami ibu tidak mengeluhkan efek samping KB suntik yang ibu gunakan ini ? a. Iya b. Tidak C. Faktor Metode Kontrasepsi 24. Sebelum menggunakan kontrasepsi suntik efek samping apa yang pernah ibu alami dengan kontrasepsi lain ? a. Tidak ada b. Infeksi c. Haid yang tidak teratur d. Kenaikan berat badan

e. Lain-lain 25. Apakah tujuan ibu mengikuti program KB ? a. Ingin menunda kehamilan b. Ingin mengatur jarak kehamilan c. Tidak ingin hamil lagi d. Tidak tau e. Lain-lain. 26. Alat kontrasepsi apa yang pernah ibu gunakan ? a. KB Pil b. KB Suntik c. KB IUD d. KB Implan (susuk) e. Lain-lain, sebutkan 27. Efek samping apa yang pernah dirasakan ibu selama menggunakan KB suntik ? a. Tidak pernah b. Mual c. Sakit kepala d. Haid yang tidak teratur e. Lain-lain.. 28. Bagaimana perubahan siklus haid selama menggunakan kontrasepsi suntik ? a. 1 bln sekali b. 36 hari sekali

c. 26 hari sekali d. 10 hari sekali e. Lain-lain.. 29. Menurut ibu KB yang paling murah itu apa ? a. KB Pil b. KB suntik c. KB IUD (spiral) d. KB implan (susuk) e. Lain-lain.. 30. Apakah menurut ibu KB suntik itu murah atau masih bisa dijangkau harganya ? a. Iya b. Tidak