Anda di halaman 1dari 9

manda

Senin, 31 Oktober 2011


Bab III Metode Penelitian BAB II Landasan Teori
Teori Dasar Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan anak penyebab stress diantaranya adalah salah satu faktor yang dapat menurunkan kualitas hidup seorang anak dalam menyongsong masa depannya. Young sebagaimana disebutkan dalam Latona (2000) menyatakan ada dua penyebab stress pada anak yang berasal dari faktor normatif dan lingkungan. Berkaitan dengan perkembangan sosial anak, anak mempunyai dorongan untuk tumbuh, berkembang dan mengejar ketinggalan dari teman-temannya. Dalam batasan tertentu, media massa, khususnya televisi, mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan sosial anak. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup yang bersifat politis, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari keempat unsur tersebut (Widiasih, 2008). Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan anak antara lain: Media massa, khususnya televisi. Tayangan-tayangan televisi saat ini banyak menayangkan berbagai corak pembunuhan, mistis, kekerasan, seksualitas. Stress pada anak yang berasal dari lingkungan keluarga dan lingkungan luar keluarga. Faktor penyebab stress dan pengaruh media televisi terhadap perkembangan anak, Young sebagaimana disebutkan dalam Latona (2000) menyatakan ada dua penyebab stres yaitu: a. Faktor normatif, terjadi pada saat anak mengalami perubahan fase perkembangan seperti kebutuhan berkelompok, kebutuhan penyelesaian tugas, perubahan fisiologis, menyukai lawan jenis dan lain-lain. Pada dasarnya faktor normatif ini merupakan bentuk produktif dari kecemasan yang nantinya membantu mereka untuk berkembang dan menjadi mandiri. b. Faktor lingkungan, terjadi karena adanya perubahan-perubahan hidup yang tidak dimengerti dan membingungkan anak. Kejadian-kejadian yang dapat menjadi pencetus adalah: (1) perceraian orang tua. Ketika orang tua bercerai atau bertengkar, anak-anak merasa keamanan mereka terganggu sehingga membuat mereka merasa sendiri dan ketakutan. (2) pindah. Anak-anak yang pindah dari tempat yang sudah familier bagi mereka seringkali membuat mereka merasa tidak aman, bingung dan cemas. Pindah yang dimaksudkan di sini adalah pindah rumah, sekolah, maupun lingkungan bermain. Hal ini disebabkan karena mereka terpisah dari teman-temannya. Selain itu ada beberapa hal yang juga dapat menjadi pencetus yaitu : a. kematian orang tua atau orang yang disayangi. Kematian ini sangat menimbulkan peristiwa traumatik bagi anak terlebih jika merasa penyebab kematian tersebut adalah mereka. b. kegiatan yang berlebihan (baik itu kegiatan sekolah, di luar sekolah atau rumah dan di dalam rumah). c. tekanan-tekanan dari teman-teman sebayanya. Tekanan ini termasuk pelecehan, penyiksaan baik fisik maupun mental dan pengucilan. Mielke mengemukakan bahwa masalah paling mendasar saat ini bukanlah jumlah jam yang dilewatkan si anak untuk menonton televisi, melainkan program-program yang ditonton dan bagaimana para orangtua serta guru memanfaatkan program-program ini untuk sedapat mungkin membantu kegiatan belajar mereka. Orangtua menjadi subyek paling pokok untuk mengatur dan memilih acara-acara televisi yang

sifatnya mendidik. Peran orangtua dalam hal mengatur anak untuk menonton televisi adalah kunci awal untuk membendung berbagai program televisi yang tidak mendidik (Muhammad, 2008). Menurut Hidayati ,1998 : Siaran televisi dapat menumbuhkan keinginan untuk memperoleh pengetahuan. Ini berarti bahwa beberapa anak termotivasi untuk mengikuti apa yang dilihatnya di layar televisi. Kedua, pengaruh pada cara berbicara. Anak biasanya memperhatikan bukan hanya apa yang diucapkan orang di televisi, bahkan bagaimana cara mengucapkannya. Dari sini anak secara bertahap dapat meningkatkan kemampuan pelafalan dan tata bahasa. Ketiga, pengaruh pada penambahan kosakata. Banyaknya tambahan kosakata yang dimiliki anak tergantung pada seberapa kemampuan anak dalam mengingat kata baru yang didapatkan, menggunakannya dengan tepat dan mengembangkannya dalam suatu aktivitas kelompok belajar dan diskusi. Keempat, bahwa televisi berpengaruh pada bentuk permainan. Meskipun menonton televisi mengurangi waktu anak untuk bermain, ide ataupun pelajaran (kreativitas, keterampilan) yang didapat anak dari menonton tersebut menyebabkan ia kaya akan jenis permainan. Kelima, televisi memberikan berbagai pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari lingkungan sekitar atau orang lain, seperti pengetahuan tentang kehidupan yang luas, keindahan alam, perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, dan sebagainya (Hidayati, 1998). 2.2 Tinjauan Riset Terdahulu Dari riset terdahulu, saya memiliki pendapat dari beberapa ahli, mengenai faktor penyebab stress dan pengaruh media televisi antara lain: menurut Sarason dan Sarason (1993) dan Savchenko (2000) anak-anak sangat rawan dengan stres apalagi jika berada di tengah-tengah keluarga yang mengalami stres. Lachenmeyer dan Gibbs (1982) menekankan bahwa perceraian orang tua dan kematian ibu atau orang yang merawatnya adalah penyebab stres yang utama pada anak-anak. Menurut Irkham (2008), fungsi televisi dibagi menjadi empat, yaitu (a) sebagai sarana menyampaikan informasi, (b) sebagai sarana pendidikan, (c) sebagai sarana penghibur, (d) sebagai sarana untuk mempengaruhi. Murray menyebutkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya ketertarikan anak pada televisi, di antaranya: usia, jenis kelamin, inteligensi, status sosial ekonomi, prestasi akademik, penerimaan sosial, dan kepribadian. Dari segi rasa takut, beberapa investigasi menemukan gambaran nyata tentang kekerasan lebih mengganggu dan menakuti para penontonnya secara emosional dibandingkan dengan penggambaran fantasi mengenai agresi, dan efek ini mempengaruhi orang dewasa maupun anak-anak (Donnersten & Smith, 2004). 2.3 Pengembangan Hipotesis Kesimpulan Sementara Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya stres pada anak disebabkan oleh dua hal yaitu karena hal yang bersifat normatif yaitu perubahan yang terjadi pada fase perkembangan dan yang berasal dari lingkungan yang disebabkan karena terjadinya perubahan hidup. Ahli-ahli yang lain yang tersebut di atas mengatakan penyebab stres dari satu segi saja sedangkan Young memberikan kategori yang dapat mencakup semua pendapat dari ahli-ahli sebelumnya. Pengaruh media massa, khususnya televisi dapat memberikan hal-hal positif seperti yang dikatakan oleh Hidayati. Masalah paling mendasar saat ini bukanlah jumlah jam yang dilewatkan si anak untuk menonton televisi, melainkan program-program yang ditonton dan bagaimana para orangtua serta guru memanfaatkan program-program ini untuk sedapat mungkin membantu kegiatan belajar mereka. Hipotesis Bahwa pengaruh perkembangan anak dipengaruhi oleh penyebab stress yang disebabkan oleh faktor normatif dan lingkungan. Disamping itu media massa khususnya televisi juga berpengaruh dalam perkembangan anak karena televisi merupakan sarana informasi, pengetahuan , pendidikan dan hiburan. Sehingga anak sangat mudah terpengaruh oleh tayangan dari media tersebut.

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan survey. Penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan melukiskan keadaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya. Pelaksanaan metode penelitian deskriptif tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi tentang data tersebut , selain itu semua yang dikumpulkan memungkinkan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti.

3.2 Populasi dan Sampel Dari segi pengaruh media massa, khususnya televisi populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak kelas 4 SD yang berasal dari berbagai sekolah di Jakarta. Peneliti menggunakan teknik non-probability sampling dengan jenis accidental sampling, yaitu penentuan sampel berdasarkan kebetulan, siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel. Jumlah keseluruhan populasi yang diambil dari penelitian ini ialah 239 orang. Sampel yang digunakan adalah 139 orang di SD X, 100 berasal dari wilayah sekitar Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sedangkan dari segi stress pada anak yang berasal dari lingkungan keluarga dan lingkungan luar keluarga populasi yang digunakan adalah anak-anak tingkat Sekolah Dasar di wilayah Surabaya sebanyak 1450 siswa. Penelitian ini menggunakan variabel tunggal (variable tergantung) yaitu penyebab stress pada anak. Metode yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode survey, yang datanya diperoleh dengan menggunakan skala Penyebab Stres Anak (skala PSA).

Sampel penelitian adalah anak yang duduk di kelas IV s/d VI Sekolah Dasar di Surabaya sejumlah 1450 siswa, terdiri dari 8 Sekolah Dasar dengan tiga macam lokasi sekolah, yaitu 1). Lokasi sekolah bawah, dengan asumsi para orang tua siswa mempunyai status ekonomi sosial kelas bawah. Lokasi bawah terdiri dari SDI Raden Patah, SDN Nginden Jangkungan I, dan SDN

Kertajaya XI. 2). Lokasi kelas menengah, dengan asumsi para orang tua siswa mempunyai status ekonomi sosial kelas menengah. Lokasi ini terdiri dari SDN Baratajaya, SDK Theresia II, dan SD Hang Tuah 3). Lokasi sekolah atas, dengan asumsi para orang tua siswa mempunyai status ekonomi sosial kelas atas. Lokasi ini terdiri dari SDN Kertajaya XIII dan SDK Theresia I.

3.3 3.3.1

Variabel Penelitian Pengukuran Variabel Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan jenis survai, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Pengukuran variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah variabel perkembangan anak dilihat dari aspek media khususnya televisi dan lingkungan sekitar di wilayah Jakarta dan Surabaya. Selanjutnya beberapa dimensi utama atau indikator yang telah ditentukan oleh peneliti dijabarkan ke dalam pertanyaan yang disusun dalam pernyataan-pernyataan untuk kemudian diajukan kepada responden.

3.3.2

Indikator Variabel Penelitian

Indikator yang digunakan untuk mengukur perkembangan anak dilihat dari aspek media khususnya televisi dan lingkungan sekitar antara lain: A. Media massa, televisi:

Gambaran umum subyek berdasarkan perasaan saat menonton tayangan Gambaran umum subyek berdasarkan perasaan ketika tayangan TV favourite tidak diputar

Gambaran umum subyek berdasarkan nyata atau tidaknya tayangan TV dalam kehidupan

Gambaran umum subyek berdasarkan alasan mempercayai nyata atau tidaknya tayangan TV dalam kehidupan

Gambaran umum subyek berdasarkan alasan memilih hal yang disukai dari tokoh utama

B. Faktor Normatif:

Kebutuhan berkelompok Kebutuhan penyelesaian tugasa Perubahan fisiologis Menyukai lawan jenis

C. Faktor Lingkungan Perceraian orang tua Kehilangan orang yang disayangi Perpindahan tempat tinggal Perpindahan sekolah Perpindahan lingkungan bermain Tuntutan orang tua Tekanan teman sebaya

3.4 Prosedur Pengambilan dan Pengambilan data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam metode ini yaitu metode dokumentasi kepustaaan dan metode kuesioner.

1.

Metode Dokumentasi Dokumen-dokumen yang ada dipelajari untuk memperoleh data dan informasi dalam penelitian ini. Dokumen tersebut meliputi laporan dan atau berbagai artikel dari majalah, koran atau jurnal yang berkaitan dengan topik penelitian. Dokumen-dokumen tersebut digunakan untuk mendapatkan data sekunder.

2.

Metode Kuesioner Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden adalah berbentuk angket atau kuesioner.

3.

Metode Survey Penelitian ini menggunakan variabel tunggal (variable tergantung) yaitu penyebab stress pada anak. Metode yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode survey, yang datanya diperoleh dengan menggunakan skala Penyebab Stres Anak (skala PSA).

Metode Analisis data

Menurut Arikunto (1997), instrumen yang baik untuk memenuhi dua persyaratan yaitu valid dan relible, pembuatan instrumen harus dilandasi dengan kajian pustaka. Karena itu kuesioner sebagai instrumen pengumpul data dalam penelitian ini perlu diuji validitas dan realibilitas dengan cara melakukan uji coba pada sekelompok anak di daerah Jakarta dan Surabaya.

1.

Uji valididtas Uji validitas akan dilakukan dengan metode Pearson atau metode Product Moment, yaitu dengan menggunakan mengkorelasikan skor butir pada kuesioner dengan skor totalnya. Jika nilai koefisien korelasinya lebih dari 0,3 maka butir pertanyaan tersebut dapat dikatakan valid. Uji validitas ini menggunakan bantuan program SPSS 10.0 for windows. Adapun rumus Pearson product moment yaitu rxy: NX-Y-(X) (Y) [{ X-( X)} { N Y- ( Y) }] Dimana: rxy N X y X X xy : Korelasi product moment : Cacah subjek uji coba : Jumlah skor butir (x) : Jumlah skor butir (y) : Jumlah skor butir kuadrat (x) : Jumlah skor variabel (y) : Jumlah perkalian butir (x) dan skor variabel (y)

2. Uji Reliabilitas

Metode yang digunakan pada uji reliabilitas adalah metode Cronbachs Alpha. Penghitungan Cronbachs Alpha dilakukan dengan menghitung rata-rata iterkorelasi di antar butir-butir pernyataan dalam kuesioner. Variabel dikatakan reliabel jika nilai alphanya lebih dari 0,3. Rumus Cronbach Alpha adalah sebagai berikut: rtt= M 1- Vx M-1 Vt Dimana: rtt Vx Vt M

: Koefisien Alpha : Variansi Butir : Variansi Total (Faktor) : Jumlah Butir

3. Analisis Data Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data dan kegiatan penelitian, selanjutnya dilakukan kegiatan menganalisis data. Kegiatan menganalisis data ini terdiri dari tiga tahap yaitu: 1. Tahap Persiapan Pada tahap persiapan ini dilakukan beberapa kegiatan antara lain: (1) Mengecek nama dan kelengkapan identitas responden, (2) Memeriksa isi instrumen pengisian data (3) Mengecek isian data. 2. Tahap Tabulasi Kegiatan tabulasi adalah kegiatan mengelompokkan data ke dalam tabel frekuensi untuk mempermudah dalam menganalisa. Kegiatan tabulasi dalam hal ini yaitu: a. Coding yaitu pembahasan kode untuk setiap data yang telah diedit b. Skoring adalah emberian skor terhadap jawaban responden untuk memperoleh data kuantitatif yang diperlukan. 3. Tahap Penerapan Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuantitatif dan Anava-2 Jalur untuk melihat perbedaan penyebab stress anak ditinjau dari lokasi sekolah dan kelas.Uji-Z untuk melihat tingkatan atau kondisi subyek pada variabel yang diteliti.

Statistik Deskriptif untuk melihat prosentase faktor atau indikator sehingga dapat ditentukan urutan indikator penyebab stress pada anak baik secara keseluruhan, per faktor, berdasarkan lokasi sekolah maupun kelas.

Disamping itu deskriptif juga bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subyek penelitian berdasarkan data dari variable yang diperoleh dari kelompok subyek yang diteliti dengan menggunakan teknik tabulasi ,dengan menyajikan hasil penelitian table-tael distributive frekuensi dengan prosentase untuk masing-masing kelompok.

Alat bantu yang dibutuhkan untuk mengolah data statistic ferkuensi dan prosentase, menggunakan Uji Z untuk melihat tingkatan atau kondisi subyek pada variable yang diteliti.
Peneliti juga menggunakan penelitian kuantitatif dengan jenis survai karena peneliti mengumpulkan informasi dari anak-anak kelas empat SD.

Untuk membuat kategori pengaruh perkembangan anak dilihat dari aspek media dan lingkungan sekitar :

MT>ME
MT<ME

: Tingkat stress tergolong rendah : Tingkat stress tergolong tinggi

Adapun rumus yang digunakan untuk mengukur penyebab stress anak ditinjau dari kelas. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
R2 0.004 0.008 0.005

Sumber Antar A Antar B Inter AB

JK 469.110 903.096 506.244

db 2 2 4

RK 234.555 451.548 126.561

F 3.082 5.934 1.663

p 0.045 0.003 0.155

Keterangan : A : antar Lokasi Sekolah B : antar Kelas p : taraf signifikansi

Hasil Uji-Z secara keseluruhan menunjukkan Mean Teoritis (MT) = 110, Mean Empiris (ME) = 80.479, dengan nilai Z = - 71.705 pada p = 0,000 (p < 0,01). Karena nilai MT > ME,

berarti rata-rata siswa SD yang menjadi subyek penelitian ini mempunyai tingkat stress yang tergolong rendah.

Diposkan oleh Manda di 09.25


http://artikaamanda.blogspot.com/2011/10/v-behaviorurldefaultvmlo.html