Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS PERBANDINGAN KBK DENGAN KTSP

Paper ini Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kajian Kurikulum dan Problematika di Sekolah Dosen Pengampu : Runtut Prih Utami, M. Pd.

Intan Fajar Suryani (11680015)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Berbicara masalah kurikulum dapat kita maknai dalam tiga konteks, yaitu kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar, dan kurikulum sebagai perencanaan program belajar (Sanjaya 2005: 2). Terlepas konteks yang manapun itu, yang pasti keberadaan kurikulum sangat penting dan menentukan tercapainya tujuan pendidikan maupun pembelajaran karena kurikulum merupakan komponen dalam pembelajaran. Kurikulum sebagai rencana atau program belajar, dikemukan oleh Hilda Taba (1962) ( Sanjaya 2005 : 6) . Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman.Yang paling dekat yaitu perubahan dari kurukulum berbasis kompetensi (KBK) menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).Terlepas apapun penyebabnya entah itu karena masalah politik, pergantian kepemimpinan/menteri ataupun karena memang dipandang harus berubah yang pasti kurikulumnya telah berubah.Nah, sebagai seorang akademisi minimalnya kita menganalisis hakikat dari kurikulum tersebut. Sehingga kita mengetahui apa dan bagaimana KBK dan KTSP tersebut. Dengan mengetahui hakikat kedua-duanya maka analisis perbandingan bisa kita lakukan. Analisis Perbandingan KBK dan KTSP dilihat dari berbagi sudut pandang. Setidaknya dengan analisis perbandingan tersebut, kita bisa mengatahui apa penyebabnya sehingga harus diadakan perubahan kurikulum tersebut benarkah relevan atau tidaknya, tepat atau tidaknya perubahan tersebut. Dengan kurikulum yang sesuai dan tepat, maka dapat diharapkan sasaran dan tujuan pendidikan akan dapat tercapai secara maksimal. . 1.2.Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang penulisan makalah ini setidaknya kami ingin membatasi maslah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu: 1. Bagaimana konsep dasar KBK? 2. Bagaimana Konsep dasar KTSP? 3. Bagaimana perbandingan KBK dan KTSP?

1.3.Tujuan Pembahasan Tujuan dari pembahasan makalah ini yaitu : 1. Unuk mengetahui konsep dasar KBK; 2. Untuk Mengetahui konsep dasar KTSP; 3. Untuk mengetahui perbandingan KBK dan KTSP.

BAB II PEMBAHASAN

I.

KONSEP DASAR KBK Untuk mengetahui analis perbandingan KBK dan KTSP memang seharusnya kita

mengetahui hakikat atau konsep dasarnya terlebih dahulu. Oleh karena itu kami paparkan terlebih dahulu hakikat atau konsep dasr dari KBK dan KTSP sebagai berikut: A. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. KBK merupakan sebuah konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh siswa, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK lahir sebagai implikasi dari Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom. Dengan adanya UndangUndang tersebut, maka terjadi perubahan kebijakan pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik kepada desentralistik. Perubahan kebijakan tersebut sudah barang tentu berimplikasi pada penyempurnaan kurikulum. Melalui Kurikulum 2004, daerah diberi keleluasaan untuk mengembangkan dunia pendidikan di wilayahnya berdasarkan karakteristik daerah tersebut. KBK juga lahir sebagai respon atas berbagai persoalan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia, diantaranya adalah pergeseran orientasi pendidikan, dari orientasi berkelompok kepada individual.Maksudnya pendidikan diarahkan untuk membentuk individu yang mempunyai potensi dan bakat yang berbeda dan bervariasi, sehingga perlu pehatikan secara berbeda. Pengembangan KBK sebagai pedoman dan alat pendidikan didasarkan kepada tiga asas pokok yaitu, asas filosofis (berkenaan dengan sistem nilai yang berlaku), asas psikologis (berhubungan dengan aspek kejiwaan dan perkembangan peserta didik), asas sosiologis dan teknologis. Kompetensi dasar yang harus dimiliki sesuai dengan tuntutan KBK:

1. Kompetensi akademik, artinya peserta didik harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengatasi tantangan dan persoalan hidup secara independent. 2. Kompetensi okupasional, artinya peserta didik harus memiliki kesiapan dan mampu beradaptasi terhadap dunia kerja. 3. Kompetensi kultural, artinya peserta didik harus mampu menempatkan diri sebaik-baiknya dalam sistem budaya dan tata nilai masyarakat yang pluralistik. 4. Kompetensi temporal, artinya peserta didik tetap eksis dalam menjalani kehidupannya, serta mampu memanfaatkan ketiga kemampuan dasar yang telah dimiliki sesuai dengan perkembangan zaman. (Sanjaya,2005 : 8). Namun dalam ranah implementasi )E. Mulyasa,2006 : 5-6) mengemukakan terdapat sembilan kompetensi dasar yang perlu dikembangkan dalam implementasi KBK, diantaranya: 1. Kompetensi dasar iman dan takwa (imtak); 2. Kompetensi dasar bahasa (inggris dan arab); 3. Kompetensi dasar komputer dan internet; 4. Kompetensi dasar tatakrama dan budi pekerti; 5. Kompetensi dasar komunikasi dan teknologi; 6. Kompetensi dasar penelitian; 7. Kompetensi dasar organisasi; 8. Kompetensi dasar kemasyarakatan; 9. Kompetensi dasar kewirausahaan.

B. Karakteristik dan Tujuan KBK Dari uraian tentang pengertian KBK, kita dapat menangkap dua makna yang tersirat. Pertama, KBK mengharapkan adanya hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan kedua ,KBK memberikan peluang pada siswa sesuai dengan keberagaman yang dimiliki masing-masing. Makna pertama mengandung pengertian, dalam KBK siswa tidak sekedar dituntut untuk memahami sejumlah konsep, akan tetapi bagaimana pemahaman konsep tersebut berdamapak terhadap perilaku dan pola pikir sehari-hari. Inilah hakikat pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning), yaitu bahwa pengembangan kompetensi diarahkan untuk memberi keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam masyarakat yang cepat berubah, penuh persaingan dan tantangan, penuh ketidakpastian dan ketidakmenentuan. Makna yang kedua, adalah dalam KBK menghargai bahwa setiap siswa memiliki kemampuan, minat, dan bakat yang berbeda.KBK memberikan peluang kepada setiap siswa

untuk belajar sesuai dengan keberagaman dan kecepatan masing-masing.Oleh karena itu, proses pembelajaran harus didesain agar dapat melayani setiap keberagaman tersebut. KBK sebagai sebuah kurikulum memiliki tiga karakteristik utama, yaitu : 1) KBK memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa. Artinya melalui KBK diharapkan siswa memiliki kemampuan standar minimal yang harus dikuasai. 2) Implementasi pembelajaran dalam KBK menekankan kepada proses pengalaman dengan memerhatikan keberagaman setiap individu. Pembelajaran tidak sekedar diarahkan untuk menguasai materi pembelajaran, akan tetapi bagaimana materi itu dapat menunjang dan memengaruhi kemampuan berpikir dan kemampuan bertindak seharihari. 3) Evaluasi dalam KBK menekankan pada evaluasi hasil dan proses belajar. Kedua sisi evaluasi itu sama pentingnya sehingga pencapaian standar kompetensi dilakukan secara utuh yang tidak hanya mengukur aspek pengetahuan saja, akan keterampilan. Setelah memahami karakteristik KBK, makaapa yang ingin dicapai oleh kurikulum ini. Tujuan KBK adalah pengembangan potensi peserta didik untuk menghadapi perannya di masa datang dengan mengembangkan sejumlah kecakapan hidup (life skill).Kecakapan hidup (life skill) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.( Sanjaya, 2005 : 13). C. Prinsip-prinsip Perkembangan dan Pelaksanaan KBK Setiap prinsip pengembangan dan pelaksanaan KBK seperti yang dirumuskan Depdiknas dalam Kerangka Dasar Kurikulum 2004 dijelaskan di bawah ini. 1. Prinsip-prinsip Pengembangan Terdapat sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam proses pengembangan KBK, yaitu: a. Peningkatan Keimanan, Budi Pekerti Luhur, dan Penghayatan Nilai-nilai Budaya b. Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan Kinesterika c. Penguatan Integritas Nasional d. Perkembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi e. Pengembangan Kecakapan Hidup f. Pilar pendidikan g. Komprehensif dan Berkesinambungan tetapi sikap dan

h. Belajar Sepanjang Hayat i. Diversifikasi Kurikulum 2. Prinsip Pelaksanaan Terdapat sejumlah prinsip dan pengembangan KBK, yaitu: a. Kesamaan Memperoleh Kesempatan b. Berpusat pada Anak c. Pendekatan Menyeluruh dan Kemitraan d. Kesatuan dalam Kebijakan dan Keberagaman dalam Pelaksanaan Sehingga pengembangan KBK baik dalam tataran KBK sebagai suatu pedoman dan perangkat perencanaan maupun KBK dalam tataran implementasi pembelajaran , pelaksanaannya dibingkai oleh tiga sisi yang sama penting yaitu sisi filosofis, psikologis, dan sosiologis.( Sanjaya, 2005 :22).

II.

KONSEP DASAR KTSP A. Pengertian KTSP Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum terbaru

diindonesia yang menyempurnakan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Sebelum penulis bahas lebih lanjut tentang KTSP apa yang sebenarnya KTSP itu? Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP pasal 1, ayat 15) dijelaskan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidika dengan memerhatikan dan berdasrkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Kompetensi serta kompetensi dasar( BSNP). (Sanjaya, 2008 : 128). KTSP merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang dengan mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional dan tuntutan global dengan semangat manajemen berbasis sekolah (MBS). Dengan lahirnya KTSP, menunjukkan bahwa desentralisasi pendidikan bukan hanya ke daerah-daerah, melainkan ke sekolah-sekolah. Sekolah menjadi lebih otonom dalam melaksanakan tugas pokoknya untuk mencerdaskan peserta didiknya. Karena guru dan pihak sekolah diberi wewenang yang luas untuk menyusun sendiri kurikulumnya dengan berpegangan pada standar isi dan standar kompetensi lulusan serta panduan-panduan yang telah disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP).Dengan demikian kurikulum

di Indonesia menjadi sangat bervariasi dalam banyak hal, kecuali dalam standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang sudah ditetapkan secara nasional oleh Pusat. B. Karakteristik KTSP Dilihat dari sudut pandang maupun desainnya KTSP memiliki semua unsur yang terdapat dalam desain yang sekaligus itu merupakan karakteristik KTSP itu sendiri, yakni ; a. Dilihat dari desainnya KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu; b. KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu; c. KTSP adalah kurikulum yang mengakses kepentingan daerah; d. KTSp merupakan kurikulum teknologis.( Sanjaya, 2008 : 130). C. Tujuan KTSP Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan. Secara khusus diterapkannya KTSP adalah untuk : 1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam menge,bangkan kurikulum, mengelola, dan memberdayakan sumber daya yang tersedia; 2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputuasan bersama; 3. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.( E. Mulyasa, 2010 :22).

D. Landasan pengembangan KTSP Kurikulum tingkat satuan pendidikan dilandasi oleh undang-undang dan peraturan pemerintah sebagi berikut : a. Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang sisdiknas; b. Peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan; c. Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi; d. Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan; e. Permendiknas No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan permendiknas No. 22 dan 23. (E. Mulyasa,2010 : 24). E. Prinsip pengembangan KTSP Dalam menyusun dan mengembangkan KTSP, guru dan sekolah harus mendasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut : a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya

b.

Beragam dan terpadu. Beragam artinya KTSP disusun sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Terpadu artinya ada keterkaitan antara muatan wajib, muatan lokal, dan pengembangan diri dalam KTSP.

c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan masa kini dan masa datang.

e. Menyeluruh dan berkesinambungan. Menyeluruh artinya KTSP mencakup keseluruhan dimensi kompetensi dan bidang kajian keilmuan. Berkesinambungan artinya KTSP antar semua jenjang pendidikan berjenjang dan berkelanjutan. f. Belajar sepanjang hayat. g. Seimbang antara kepentingan nasional dan daerah.( Sanjaya, 2010 : 140).

III.

Perbandingan KBK dan KTSP

Salah satu inovasi terbaru yang dilakukan pemerintah saat ini adalah dengan menyempurnakan kualitas kurikulum yang lama, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan dikeluarkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 (PP19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengamanatkan kurikulum pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI (Standar Isi) dan SKL (Standar Kompetensi Lulusan). Sedangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang dengan

mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional dan tuntutan global dengan semangat manajemen berbasis sekolah (MBS). Pada tataran operasional proses pendidikan dan pembelajaran disekolah harus diarahkan pada akuntabilitas dan otonomi pendidikan yang lebih besar kepada pengelola pendidikan ditingkat lembaga pendidikan bersama lingkungan sekolah untuk mengembangkan strategi pembelajaran sebagai upaya untuk mengoptimalkan potensi lokal. Sementara itu sesuai dengan semangat PP No. 25 Tahun 2000 bidang pendidikan dan kebudayaan, pemerintah

pusat memiliki wewenang untuk menetapkan standart kompetensi siswa-warga belajar dan standart materi pembelajaran pokok. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu pada dasarnya sama dengan kurikulum 2004, yang membedakan hanya kewenangan masing-masing satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan kemampuan potensi dan karakteristik sekolah tersebut. Sedangkan karakteristik dari KTSP adalah adanya penyesuaian kemampuan yang diimplementasikan dalam indikator yang mengacu pada kemampuan siswa.Jadi dalam penyusunannya mengacu pada kedalaman materi, pemahaman anak, serta kemampuan anak tentang materi tersebut. Secara operasional KBK dan KTSP adalah sama, hanya saja pada KTSP sekolah diberikan keleluasaan untuk mendelegasikan seluruh isi kurikulum melihat karakter, dan potensi lokal, KTSP tetap menekankan kompetensi akan tetapi lebih dikerucutkan lagi dalam operasional dan implementasinya di sekolah. Baik KBK maupun KTSP keduanya menggunakan UU no 20 tahun 2003 sebagai landasannya, dalam Undang-Undang tentang Sisdiknas dikemukakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Selain itu juga dikemukakan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat : pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, IPA, IPS, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Ciri dan karakterik di atas sama-sama diimplementasikan baik dalam KBK maupun KTSP, namun KTSP memberikan pendelegasian lebih terhadap sekolah sebagai satuan pendidikan, dengan mengamodasi segenap kemampuan sekolah dan potensi lokal daerah. Selain itu, baik KBK maupun KTSP juga mengacu pada standar isi, hanya saja KTSP standar isinya disempurnakan melalui Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik. Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah diorganisasikan ke dalam lima kelompok, yaitu : 1). Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, 2). Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; 3) Kelompok

mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; 4) Kelompok mata pelajaran estetika; 5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan Jadi dapat dikatakan KTSP merupakan KBK yang disempurnakan, sebagaimana kurikulum 1999 suplemen merupakan kurikulum 1994 yang disempurnakan, karena dasar yuridisnya sama, namun ditambah beberapa perubahan sesuai dengan kebutuhan.

BAB III KESIMPULAN Dari pembahasan diatas setidaknya bisa menjawab rumusan permasalahn yang diajukan sehingga dapat kami simpulkan yaitu : 1. Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah sebuah konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan kompetensi tugas-tugas dengan performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh siswa, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.Kompetensi pada dasarnya merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. 2. KTSP merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang dengan mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional dan tuntutan global dengan semangat manajemen berbasis sekolah (MBS). 3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu pada dasarnya sama dengan kurikulum 2004, yang membedakan hanya kewenangan masing-masing satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan kemampuan potensi dan karakteristik sekolah tersebut. Sedangkan karakteristik dari KTSP adalah adanya penyesuaian kemampuan yang diimplementasikan dalam indikator yang mengacu pada kemampuan siswa. Jadi dalam penyusunannya mengacu pada kedalaman materi, pemahaman anak, serta kemampuan anak tentang materi tersebut

DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa. 2006. Implementasi kurikulum 2004 panduan pembelajaran KBK. Bandung: Rosda karya. E. Mulyasa. 2010. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Rosda karya. Wina Sanjaya.2005.Pembelajaran Kompetensi.Jakarta:Kencana. Wina Sanjaya. 2010. Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta: Kencana. dalam Implementasi Kurikulum Berbasis