Anda di halaman 1dari 2

2

2 TINJAUAN PUSTAKA Poli(asam laktat) Poli(asam lakatat) (PLA) adalah salah satu poliester alifatik yang dapat digunakan

TINJAUAN PUSTAKA

Poli(asam laktat)

Poli(asam lakatat) (PLA) adalah salah satu poliester alifatik yang dapat digunakan sebagai pembawa obat karena sifat bio- kompatibel dan biodegradabel yang dimilikinya. PLA dapat mengalami peng- uraian dengan unit monomer asam laktat sebagai intermediet alam di dalam metabolisme karbohidrat. Struktur PLA dapat dilihat pada Gambar 1. Aplikasi PLA dalam industri farmasi digunakan sebagai bahan penyalut obat, benang jahit pembedahan, dan media transplatasi jaringan atau peralatan ortopedik (Lu & Chen 2004).

O HC CH 3 O C n
O HC
CH 3 O
C
n

Gambar 1 Struktur kimia PLA

PLA dapat dibuat dengan beberapa cara, yaitu polikondensasi asam laktat dalam larutan pada kondisi tekanan atmosfer dan tekanan tereduksi (Dutkiewicz et al. 2003) dan polikondensasi asam laktat secara langsung tanpa katalis dengan suhu tinggi (Rusmana 2010). Sifat fisik dan mekanis PLA dapat berkurang apabila dicampur dengan polimer lain yang memiliki sifat fisik dan mekanik yang lebih rendah (Lu & Chen

2004).

Poli(ε-kaprolakton)

Poli(ε-kaprolakton) (PCL) merupakan poliester alifatik yang dapat terdegradasi seperti PLA. Namun, PCL memiliki kristalinitas yang tinggi dan hidrofobilitas dengradasi yang sangat lambat. PCL dapat digunakan sebagai pengungkung obat yang baik karena mempunyai permeabilitas obat dan kekuatan mekanik yang cukup baik (Gunatillake & Raju 2003). PCL memiliki sifat tahan terhadap air, minyak, dan klorin, mempunyai titik leleh dan kekentalan yang rendah (Fliegar et al. 2003). Struktur PCL dapat dilihat pada Gambar 2.

O O (CH 2 ) 5 C n
O
O (CH 2 ) 5 C
n

Gambar 2 Struktur kimia PCL

Ibuprofren

Ibuprofen atau asam 2-(p-isobutilfenil) propionat merupakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang memiliki bobot molekul 206.3 g/mol. Struktur kimia ibuprofen dapat dilihat pada Gambar 3. Ibuprofen pada umumnya digunakan dalam bentuk tablet dengan dosis 200-800 mg untuk orang dewasa, yang dikonsumsi tiga sampai empat kali sehari (Hadisoewignyo& Achmad 2007). Ibuprofen biasanya digunakan dalam pengobatan rasa sakit dan radang untuk rematik dan penyakit muskuloskelletal lainnya. Ibuprofen tidak larut dalam air dan sebagian besar senyawa yang termasuk jenis NSAID merupakan asam organik lemah dengan pKa 3.5-6.3 (Liden & Lovejoy 1998).

organik lemah dengan pKa 3.5-6.3 (Liden & Lovejoy 1998). Gambar 3 Struktur kimia ibuprofen Proses kerja

Gambar 3 Struktur kimia ibuprofen

Proses kerja ibuprofen sebagai obat anti radang adalah dengan menghambat kerja enzim prostaglandin sintetase. Prostagladin merupakan salah satu mediator lainnya dalam proses peradangan, contoh mediator lainnya dalam proses peradangan adalah histamin, bradikin, dan interleuksin. Proses adsorpsi ibuprofen terjadi di saluran pencernaan, dan jika jumlahnya berlebihan dapat meng- akibatkan pendarahan pada saluran pencernaan. Efek samping yang biasanya terjadi dari konsumsi ibuprofen adalah pusing, kantuk, mual, diare, sembelit, dan rasa panas (iritasi) dalam perut. Namun, efek samping tersebut dapat diminimumkan salah satunya melalui proses enkapsilasi.

Ultrasonikasi

Ultrasonikasi merupakan teknik pemberian gelombang ultrasonik. Gelombang ultrasonik merupakan rambatan energi dan momentum mekanik, sehingga membutuhkan medium untuk merambat sebagai interaksi dengan molekul. Medium yang digunakan antara lain padat, cair, dan gas (Tipler 2001). Gelombang ultrasonik memiliki frekuensi melebihi batas

pendengaran manusia, yaitu di atas 20 kHz. Aplikasi gelombang ultrasonik yang ter- penting adalah pemanfaatannya dalam

menimbulkan efek kavitasi akustik. Kavitasi merupakan proses pecahnya gelembung pada

fluida akibat penurunan tekanan secara tiba- tiba dalam suhu konstan (Brennen 1995). Para ilmuan menemukan

fluida akibat penurunan tekanan secara tiba- tiba dalam suhu konstan (Brennen 1995). Para ilmuan menemukan bahwa ketika gelombang ultrasonik melalui medium sebagai gelombang tekanan dapat meningkatkan terjadinya reaksi kimia (Timuda 2010). Meningkatnya reaksi kimia disebabkan terbentuknya ion dan partikel yang teraktivasi akibat pemberian gelombang ultrasonik yang kemudian terperangkap dalam gelembung.

SEM

Mikroskop elektron payaran (SEM) adalah mikroskop yang menggunakan pancaran sinar yang timbul akibat eksitasi elektron untuk melihat partikel berukuran mikro atau nanometer. Sejak tahun 1950 SEM dikembangkan dan banyak digunakan dalam bidang medis maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan. SEM telah banyak digunakan oleh para peneliti untuk menguji dan menemukan berbagai spesimen. SEM dapat menunjukan gambar spesimen dengan jelas dan memiliki tingkat resolusi lebih tinggi dari pada mikroskop fotostereo. SEM mampu memfoto suatu permukaan dengan perbesaan dari 20100.000 kali. Prinsip kerja SEM adalah permukaan contoh dibombardir oleh elektron berenergi tinggi dengan energi kinetik antara 1-25 kV. Elektron yang langsung menumbuk contoh ini dinamakan elektron primer, sedangkan elektron yang terpantul dari contoh dinamakan elektron sekunder. Elektron sekunder yang berenergi rendah dilepaskan dari atom-atom yang ada pada permukaan contoh dan menentukan bentuk rupa contoh. Pengukuran menggunakan SEM harus sampel yang merupakan zat yang dapat menghantarkan arus listrik atau dilapisi dengan logam yang dapat menghantarkan arus listrik. Dua alasan utama untuk melapisi sampel yang tidak dapat menghantarkan arus listrik adalah untuk mengurangi artifak yang disebabkan oleh beban elektrik dan muatan termal (Mulder 1996). Logam emas lebih disukai sebagai lapisan penghantar listrik karena emas merupakan logam inert sehingga tidak turut bereaksi dengan PLA maupun PCL.

METODE

Alat dan Bahan

3

Alat-alat yang digunakan selama penelitian antara lain mikroskop stereo Nikon eclipse 600 Japan, mikroskop stereo Nikon SMZ 1000, mikroskop elektron payaran (SEM) merk Jeol seri JSM-6360LA, Spekrofotometer UV-1700 PharmaSpec, ultrasonik prosesor Cole Parmer, Büchi 190 Mini Spray Dryer, dan viskometer Ostwald. Bahan-bahan yang digunakan selama penelitian ini adalah asam laktat, DMSO, Polivinilalkohol (PVA) (BM 72.000 g/mol) yang berasal dari Merck, PCL (BM 42.000 g/mol) berasal dari Sigma-Aldrich, diklorometana berasal dari Bratachem, larutan buffer posfat, dan senyawa aktif ibuprofen dari Kalbe Farma.

Metode

Penelitian ini terdiri atas penelitian pendahuluan dan utama. Penelitian pendahuluan mencangkup pembuatan PLA dengan polikondensasi PLA dan pengukuran bobot molekul PLA. Penelitian utama mencangkup pembuatan nanokapsul ibuprofen dengan penyalut polipaduan PLA dan PCL, pengamatan morfologi nanokapsul, dan pengukuran efisiensi ibuprofen.

Pembuatan PLA (Rusmana 2009)

Pembuatan PLA dilakukan pada suhu 150 o C selama 24 jam. Gelas piala dibersihkan, dikeringkan, dan ditimbang bobotnya. Kemudian asam laktat sebanyak 25 mL dimasukan ke dalam gelas dan ditimbang. Selanjutnya, asam laktat tersebut dipanaskan secara perlahan-lahan sampai suhu 120 o C selama satu jam. Kemudian pemanasan dilanjutkan sampai suhu 150 o C selama 24 jam. Setelah itu PLA yang dihasilkan didinginkan pada suhu ruang,ditimbang dan ditentukan bobot molekulnya.

Pengukuran Bobot Molekul PLA (Kaitian

1996)

Pengukuran bobot molekul PLA dapat dilakukan dengan mengukur viskositasnya. PLA dengan konsentrasi 0.1, 0.2, 0.3,0.4, dan 0.5% diukur viskositasnya dengan metode viskometri Ostwald pada suhu 25 o C. Setelah itu, viskositas relatif (η r ) ditentukan dengan cara membandingkan waktu alir pelarut