Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang IPS adalah studi atau kajian masalah-masalah sosial yang berasal dari ilmu-ilmu social yang di sederhanakan untuk kepentingan tujuan pendidikan di Sekoah yaitu menciptakan warga Negara yang baik. IPS bukan sekedar pengetahuan, tetapi merupakan ilmu pengetahuan yang disusun dan di organisasikan secara baik menurut kepentingan pendidikan dan pengajaran. Dalam pengajaran IPS, sifat menyeluruh penting untuk diketahui dan di pahami karena IPS menangani bahan pengajaran yang kait-mengkait secara integral. Pada hakikatnya ilmu pengetahuan sosial ini terintegrasi dari beberapa disiplin ilmu , seperti geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi yang keseluruhannya saling keterkaitan antara satu sama lain. Model pembelajaran terpadu ini merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk di aplikasikan pada semua jenjang pendidikan. Oleh karenanya sebagai tenaga pendidik haarus mampu merancang model pembelajaran IPS terpadu yang efektif dan efisien. Jadi dalam hal ini cara pembelajaran IPS terpadu yang di rancang seorang guru sangat berpengaruh terhadap peserta didik, yang mana ilmu pengetahuan sosial tersebut masih terpisah-pisah kajiannya, namun masih tetap saling berkesinambungan dan relevan.

B. Rumusan Masalah Dalam ilmu pengetahuan sosial ini kajiannya meliputi disiplin ilmu geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi yang menjadi salah satu model pembelajaran terpadu. Lalu bagaimanakah hubungan disiplin ilmu-ilmu terebut dalam model pembelajaran IPS terpadu?

BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Dasar Sejarah 1. Pengertian Sejarah merupakan istila yang berasal dari bahasa Arab, Syjaratun yang berarti pohon. Dalam bahasa asalnya, istilah sejarah di ungkapkan dengan tarikh, yang berarti waktu atau kurun terjadinya peristiwa. Menurut Lingdern, istilah ini diguakan masyarakat nusantara atas dasar kebiasaan bangsa Arab (Baduy) menggunakan sejarah sebagai wahan mengukuhkan biografi seseorang atau rangkaian kekerabatan dalam keluarga yang bercabang seperti pohon. Secara ilmu pengetahuan lebih popular diungkapkan dengan kata latin scientia atau science (bahasa Inggris), yakni pemaparan sistematis non-kronologis mengenai gejala alam. Berbagai pengetahuan mengenai peristiwa masa lalu yang diperoleh berdasarkan babad, hikayat, tambo dan penuturan lisan perlu diuji berdasarkan metode dan bukti ilmiah. Para ahli sejarah, seperti Hatta, Garraghan, Moh.Ali, dan panitia Historiografi Dewan Riset Ilmu Sosial Amerika memberikan definisi sejarah secara berbeda-beda, tapi secara umum definisi mereka mencakup beberapa aspek berikut: a. Sejarah merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lalu. b. Sejarah merupakan kisah yang diangakt berdasarkan peristiwa masa lalu. c. Sejarah merupakan proses penulisan yang harus memenuhi syarat-syarat tertentu sebagai ilmu. 2. Ruang Lingkup Sejarah Kajian sejarah meliputi dua aspek, yakni aspek konsep sejarah dan aspek implementasinya dalam menganalisis persoalan-persoalan kesejarahan (kritik sejarah). Konsep sejarah menyajikan prinsip-prinsip dasar yang diperlukan sebagai perangkat analisis dalam memahami persoalan kesejarahan, berupa konsep dasar, unsur-unsur dan metode sejarah. Kritik sejarah menelaah beberapa langkah-langkah dan hal-hal yang diperlukan dalam menelaah peristiwa kesejarahan hingga menghasilkan pengetahuan sejarah atau kebenaran sejarah. Dalam hal ini, belajar dan mengkaji sejarah bukan merupakan kegiatan yang statis, malah justru merupakan suatu telaahan yang dinamis ke masa yang akan datang. Sejarah sebagai bidang ilmu sosial, memiliki konsep dasar yang menjadi karakter dirinya. Komsep-konsep dasar itu adalah: waktu, dokumen, alur peristiwa, kronologi, peta, tahap-tahap peradaban, ruang, evolusi dan revolusi.

3. Tujuan Sejarah Tujuan sejarah dapat dipilah ke dalam dua kategori, yakni sejarah sebagai ilmu pengetahuan dan informasi. Sebagaimana umumnya pengetahuan ilmiah, sejarah terkait erat dengan beberapa konsep dan perspektif yang menjadi titik tolak kajiannya. Hal ini mengakibatkan sejarah memerlukan seperangkat instrumen keilmuan agr memenuhi tingkat validitas ilmiah. Peran tersebut hanya akan dapt diberikan oleh sejarah manakala pemahaman sejarah dibangun melalui metode keilmuan yang dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah. Oleh karena itu, kajian terhadap sejarah seharusnya disertai dengan pemahaman dan penguasaan konsep-konsep dasar sejarah. Secara konseptual, sejarah pada dasarnya berkenaan dengan tiga aspek konseptual yang mendasarinya, yaitu konsep tentang perubahan, konsep waktu dan konsep kontinuitas.
2

Dalam sejarah manusia dapat memahami prinsip-prinsip hidup dan kebudayaan yang berubah dan tidak berubah. Manusia juga dapat memahami keberhasilan dan kegagalan para pemimpin, bentuk-bentuk pemerintahan, sistem perekonomian yang pernah ada, dan hal-hal penting lain dalam kehidupan manusia dari waktu ke waktu. 4. Pembagian Ilmu Sejarah Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian dari ilmu budaya (humaniora). Akan tetapi, kini sejarah lebih sering dikategorikan ke dalam ilmu sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis. Ilmu sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan di masa lalu. Ilmu sejarah dapat dibagi menjadi kronologi, historiografi, genealogi,paleografi, dan kliometrik. 5. Manfaat Ilmu Sejarah Ada beberapa manfaat yang dapat kita peroleh jika kita mempelajari sejarah, antara lain : a. Dengan sejarah kita dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lampau. b. Pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita di kehidupan sekarang. c. Pelajaran yang terjadi di masa lampau juga dapat kita gunakan sebagai modal kehidupan masa depan kita. B. Konsep Dasar Sosiologi 1. Pengertian Secara Etimologis, sosiologi berasal dari bahasa latin socius dan bahasa Yunani logos. Socius berarti kawan, sekutu, sahabat, rukun, masyarakat atau anggota persekutuan, sedangkan logos berarti ilmu. Jadi sosiologi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari struktur social, proses-proses social, dan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat. Frank H. Hankins, mengemukakan bahwa sosiologi adalah studi ilmiah tentang fenomena yang timbul dari hubungan kelompok umat manusia. Aliran sosiologi yang berbeda menentukan penekanan yang bervariasi berkenaan dengan factor-faktor yang berhubungan, sebagian menekankan hubungan pada hubungan diantara mereka sendiri seperti interaksi, assosiasi dll, sedangkan aliran yang lain menekankan pada umat manusia dalam hubungan sosialnya, memfokuskan perhatian kepada hubungan social dalam berbagai peranan dan fungsinya. 2. Ruang Lingkup Sosiologi Objek sosiologi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah segala proses kehidupan sosial manusia dalam kelompoknya, proses pembentukan, perkembangan dan keruntuhan sistem hidup manusia dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan antar manusia. Ruang lingkup sosiologi menurut Vine sebagai dikutip oleh Susanto, memperlihatkan bahwa aspek-aspek yang diteliti oleh sosiologi adalah: a. Hubungan manusia sebagai satuan sosial b. Proses social dan ketentuan sosial pembentukan masyarakat c. Struktur sosial masyarakat d. Unsur-unsur pengawasan sosial yang menjamin kelangsungan hidup kelompok social masyarakat e. Factor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial di masyarakat
3

f. Dasar penelitian dan metodologi sosiologi Dari berbagai objek yang diteliti menghasilkan berbagai konsep sosial, perubahan sosial, proses sosial, konflik sosial, pranata sosial, status sosial, struktur social, masyarakat kota dan desa serta peranan sosial. 3. Tujuan Sosiologi Tujuan sosiologi adalah untuk mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, memiliki kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan serta memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk. Adapun konsep-konsep dasar sosiologi sebagai berikut: interaksi sosial, sosialisasi, kelompok sosial, perlapisan sosial, dan proses sosial. Kehadiran sosiologi sebagai kajian keilmuan bertujuan: a. Meningkatkan kehidupan yang serasi di masyarakat b. Meningkatkan pengertian terhadap lingkungan sosial manusia dalam kehidupan bermasyarkat c. Perencanaan dan peningkatan pembangunan masyarakat d. Meningkatkan kerjasama antar manusia e. Perencanaan pembaharuan sosial f. Peningkatan perencanaan pendidikan g. Peningkatan pengendalian dampak social 4. Pokok Bahasan Sosiologi Pokok bahasan sosiolgi ada empat: 1. Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid). 2. Tindakan sosial sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial. 3. Khayalan sosiologis sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarahmasyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah persmasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi. 4. Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian
4

secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normati C. Hubungan Sosiologi Dengan Sejarah Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan aspek-aspek dinamis yang ada didalamnya, secara tidak langsung kita dapat menemukan bahwa objek kajian antara sosiologi dan sejarah tidak jauh berbeda, namun sejarah membatasinya dengan konsep ruang dan waktu. Sebagai sesame ilmu sosial yang kajiannya tidak jauh berbeda maka tidak sulit kita menemukan hubungan-hubungan keilmuan antara sejarah dan sosilogi Pada beberapa dasawarsa terakhir ini banyak sekali hasil-hasil penelitian sosiologi berupa studi sosiologis yang memfokuskan studinya pada gejala-gejala sosial yang terjadi dimasa lampau (supardan, 2008:325), dengan memasukkan konsep ruang tadi maka dapat kita lihat bahwa kajian tersebut jelas menggunakan beberapa konsep dari sejarah untuk menjelaskan studi tersebut. Karya-karya sepertiPemberontakan Petani Kaya yang ditulis oleh Tilly, Perubahan Sosial Masa Revolusi Industri di Inggris Karya Smelzer, serta Asal Mula Sistem Totalitier dan Demokrasi karya Barrington Moore. Karya-karya tersebut sering disebut Sejarah Sosilogi.(Kartodirdjo dalam Supardan, 2008: 325) Sejarawan juga terkadang melakukan pendekatan sosilogis dalam melakukan penlitian, bahkan pada bias dikatakan mulai terdapat kecendrungan penulisan sejarah, dari yang bersifat konvensioanl dan naratif kepada penulisan sejarah dengan kompleksitas tinggi, dimana sejarah dan ilmu-ilmu sosial lainnya saling berketergantungan dalam melakukan sebuah pembahasan masalah Dalam hal ini, ilmu sejarah melihat kita ke belakang untuk menggambarkan suatu per istiwa, urutan, dan makna tentang peristiwa yanglampau itu. Penyelidikan sejarah telah bergeser dari laporan tentang orang orang dan tempat tempat untuk menggambarkan kecenderungan sosial yangluas dari waktu ke waktu. Di dalam putaran mereka, para ahli sosiologi banyak meminjam peranan penyelidikan historis. D. Hubungan Sejarah dengan Ilmu Sosial Untuk memahami masalah sejarah dalam hubungannya dengan ilmu-ilmu sosial, perlu kiranya lebih dahulu dikemukakan mengenai apa yang dimaksud dengan ilmu-ilmu sosial itu, dan apa yang menjadi sasarannya, tujuan, serta hubungannya antara satu dengan lainnya. Yang dimaksud dengan ilmu-ilmu sosial di sini adalah semua ilmu pengetahuan atau disiplin-disiplin akademis yang memiliki sasaran studinya pada manusia dalam hubungan sosialnya. (Kenzie, 1966: 7-8) Karena masalah manusia dalam kehidupan masyarakat mencakup pengertian yang luas maka untuk dapat mempelajari dan memahami secara mendalam diperlukan suatu pembagian lapangan perhatian yang secara khusus memusatkan pada salah satu segi dari tingkah laku manusia dalam pergaulannya yang dilola dalam kesatuan-kesatuan lapangan studi. (Suryo, 1980: 1) Nama-nama lapangan studi kemudian diberikan menurut jenis tingkah laku dari segi-segi kehidupan masyarakat yang menjadi pusat pengamatannya. Adapun nama-nama disiplin yang termasuk dalam kelompok ilmu sosial adalah ilmuekonomi, sosiologi, anthropologi sosial, ilmu politik, psikologi sosial, dan sejarah. Tiap-tiap disiplin ini memiliki sejarahnya sendiri, wengku pengamatan, permasalahan, sumber-sumber bahan dan sering juga memiliki teknik / metode penelitian sendiri-sendiri. (Suryo, Ibid) Bahwasanya ilmu sejarah termasuk dalam lingkungan ilmu sosial, memerlukan sedikit penjelasan. Pertama perlu diketahui bahwa sejarah dikualifikasikan sebagai "ilmu" baru pada masa abad ke-19. Bila pada abad ke-18 sejarah dianggap arts, maka pada abad ke-19 sejarah dianggap lebih bersifat sebagai suatu sistem. Dalam bentuknya sebagai arts sejarah hanyalah merupakan bentuk pemikiran manusia yang disampaikan
5

dalam bentuk narration yang secara literer melukiskan persitiwa masa lampau, dan bersifat mempersoalkan masalah; apa, kapan, di mana, dan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi. Tekanan lebih banyak diarahkan pada segi-segi literernya, hal-hal yang unik, dan tidak menggunakan analisis. Maka dari itu dalam studi sejarah yang konvensional ini tidak mendapat persoalan kausalitas sebagai pusat penggarapannya, oleh karena itu tidak terdapat pertanyaan "mengapa". Selain tidak mempersoalkan masalah "mengapa", sejarah konvensional tidak memiliki kerangka konseptual dalam menggarap sasarannya. Dalam keadaan yang sedemikian itu sejarah kurang mempunyai arti karena tidak dapat memberikan penjelasan mengenai masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia. Berbeda dengan sejarah yang bersifat literer, maka sejarah sebagai sistem, menghendaki adanya sistematisasi dalam penggarapan sasaran studinya. Dalam hal ini sejarah memiliki kerangka kerja konseptual yang jelas dan memiliki peralatan metodologis dalam menganalisis sasaran yang dipelajarinya. Dengan menggunakan prosedur kerja metodologis seperti ini maka sejarah mampu mengungkapkan kausalitas secara tajam sehingga dapat memperoleh gambaran yang jelas dari suatu peristiwa. Dilihat dari sasaran objeknya, maka studi sejarah dengan studi ilmu sosial lainnya tidaklah banyak berbeda. Mengenai masalah deskripsi dan analisis, bagi sejarah ataupun sosiologi dan juga ilmu-ilmu lain, dikotomi itu adalah membantu. Analisis menghendaki suatu deskripsi, demikian pula deskripsi yang memadai adalah deskripsi yang rumit, yang tergantung pada cukupnya sebab-sebab yang ada di dalamnya. (Kartodirdjo, 1970: 61-68) Dalam kecenderuangannya sekarang anatar keduanya dalam mencari sebab-sebab samasama punya arti. Sejarah mempelajari yang unik, sedangkan sosiologi mempelajari yang umum. Tanpa perhubungan antara keduanya, maka tidak akan diperoleh eksplanasi. Perlu dicatat, bahwa sekalipun sosiologi lebih mementingkan generalisasi, tetapi dalam penggarapannya memerlukan pula segi-segi keunikan secara historis. Sebaliknya dalam sejarah, sekalipun sasarannya lebih diarahkan pada keunikan, tetapi juga tidak berarti mengabaikan sifat-sifat yang umum. Sebagai contoh dalam sejarah diperlukan juga konsepkonsep umum untuk mengkonseptualisasikan gejala sejarah, seperti tercermin dalam penggunaan konsep feodalisme, borjuasi, kapitalisme, dan lain-lain. (Suryo, Ibid: 5) Kemudian, bagaimana hubungan timbal balik antara sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya? Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Hubungan antara sejarah dengan sosiologi, tercermin dalam ungkapan yang berbunyi "sejarah adalah sosiologi dengan pekerjaan berat. Sosiologi adalah sejarah tanpa pekerjaan berat". Dalam perkembangan kedua disiplin saling berhubungan erat, sehingga timbul jenis-jenis pendekatan interdisipliner antara keduanya. Sebagai contoh dapat ditunjukkan tentang karya-karya yang sifatnya sosiologis dalam konsep-konsepnya dan historis dalam penggarapannya. Misalnya: Penulis yang menggunakan pendekatan sosiologis bahan-bahan sejarah (sociological history) antara lain: Caulanges, Giots, Pirenne, Maunier, Maitland, Stephenson, Marc Bloch. Tema yang diambil oleh penulis ini antara lain memusatkan pada lahir dan berkembangnya masyarakat tertentu, terutama yang berhubungan dengan masalah demografi, ekonomi, dan perpindahan penduduk. Kesemuanya memusatkan sejarah Eropa pada periode klasik atau pertengahan. Ada pula yang memusatkan pada masalah casestudy tentang daerah kebudayaan. Contohnya: Howard Beeker, Jacob Burchard, Max Weber, Toynbee, dan lain-lain. Hubungan antara sejarah dengan ilmu politik. Secara konvensional sejarah politik dalam hal ini banyak menampilkan segi politik secara menonjol. Dalam hubungannya dengan kedua disiplin ini melahirkan apa yang disebut pendekatan ilmu politik, dan pendekatan institusional, pendekatan legalistis, pendekatan kekuasaan, pendekatan nilai dan pengaruh, pendekatan kelompok, dan sebagainya.
6

Hubungan antara sejarah dan anthropologi juga erat terutama bagi sejarah karena mendapat manfaat dengan pendekatan kulturalnya. Anthropologi lazim mengkaji suatu komunitas dengan pendekatan sinkronis, yaitu seperti membuat suatu pemotretan pada momentum tertentu mengenai pelbagai bidang atas aspek kehidupan komunitas, sebagai bagian dari satu kesatuan atau sistem serta hubungan satu sama lain sebagai subsistem dalam suatu sistem. Rasanya gambaran sinkronis ini tidak memperlihatkan pertumbuhan atau perubahan. Justru dalam studi anthropologi diperlukan pula penjelasan tentang struktur-struktur sosial yang berupa lembaga-lembaga, pranata, sistem-sistem, kesemuanya akan dapat diterangkan secara lebih jelas apabila diungkapkan pula bahwa struktur itu adalah produk dari perkembangan di masa lampau. Hal ini akan dapat dijelaskan eksistensinya dengan melacak perkembangan sejarahnya. (Kartodirdjo, 1988: 165) Hubungan antara sejarah dengan ekonomi. Sepanjang sejarah modern telah muncul kekuatan-kekuatan ekonomi pasar internasional maupun nasional. Dengan demikan, juga menyangkut soal metodologis untuk memahami perkembangan itu. Hubungan antara keduanya memungkinkan sejarah memperoleh hipotesa-hipotesa dan model-model yang berhubungan dengan tindakan sosial dalam hubungannya dengan alokasi sumber kehidupan dan pemilihan alternatifnya. (Suryo, Ibid: 7)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Adalah merupakan sesuatu yang bermakna bagi dunia akademis manakala muncul suatu perdebatan tentang problem metodologis. Ini semua menunjukkan pada kegairahan untuk senantiasa mencari kebenaran yang didasarkan pada keintelektualan sejarawan. Tak kecuali dengan upaya pengkajian sejarah dengan menggunakan pendekatan dari ilmu-ilmu sosial. Dunia semakin global, dan ini sudah barang tentu akan berdampak pula pada ilmu pengetahuan, meskipun bagaimanapun kecilnya. Demikianlah ulasan dari statement Prof. Sartono Kartodirdjo tentang penggunaan teoriteori dan konsep-konsep dari ilmu pengetahuan sosial untuk membekali peralatan analitik bagi sejarah dalam merekonstruksi peristiwa masa lampau. B. Saran Untuk memahami masalah Sosial dan Sejarah, seseorang hendaknya memiliki pemahaman yang baik tentang disiplin ilmu-ilmu sosial yang meliputi struktur, ide, pertanyaan pokok, metode yang digunakan dan konsep-konsep setiap disiplin ilmu, disamping pemahamannya tentang prinsip-prinsip kependidikan dan psikologis serta pemahaman sosial.

DAFTAR PUSTAKA Aitken, Hugh G.J. (ed.), 1954. The Social Science in Historical Study. New York: SSRC. Alfian, Ibrahim, Sejarah dan Permasalahan Masa Kini dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Sastra Universitas Gajahmada Yogyakarta, 12 Agustus 1985. ---------, Konsep dan Teori dalam Disiplin Sejarah, dalam Basis No. 10, Oktober 1992. ---------, Tentang Metodologi Sejarah, dalam Supplement buku Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis, tidak diterbitkan. Brown, A.R. Radcliffe, 1965. Structure and Function in Primitive Society. New York: The Free Press. Indriyanto, Gagasan Teori dan Metodologi Sejarah Masih Mencari Sosoknya makalh tugas MK Kapita Selekta, 1992/1993. Kartodirdjo, Sartono, Metodologi Max Weber dan Wilhelm Dilthey, dalam Lembaran SejarahNo. 6 Tahun 1970. Yogyakarta: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Budaya UGM. ---------, 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif. Jakarta: Gramedia. ---------, 1984. Pembrontakan Petani Banten Tahun 1888. Jakarta: Pustaka Jaya. ---------, 1988. Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Yogyakarta: P.AU. Universitas Gajahmada. ---------, 1990. Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta: Universitas Gajahmada Press.