Anda di halaman 1dari 68

ABRASIVE MATERIALS

APRILLIA DIAN PERTIWI

FINISHING AND POLISHING

DEFINITION
Abrasi : proses pemakaian dimana suatu permukaan material yang lebih lunak dikurangi oleh bahan abrasif yang lebih keras

DEFINITION
Finishing Prosedur mengurangi kelebihan material restorative, membentuk kontur yang tepat, menghasilkan permukaan restorasi yang rata Polishing Rangkaian prosedur untuk mengurangi atau menghilangkan goresan-goresan yang terjadi dari proses pekerjaan sebelumnya. Pekerjaan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan permukaan restoratif yang mengkilat.

BENEFIT

Oral health
Benefit Function Estetika

BENEFIT
Restorasi dengan kontur dan pemolesan yang baik akan meningkatkan kesehatan mulut dengan jalan mencegah akumulasi sisa makanan dan bakteri patogen diperoleh melalui reduksi daerah permukaan dan mengurangi kekasaran permukaan restorasi Permukaan yang lebih halus akan lebih mudah dijaga kebersihannya dengan tindakan pembersihan preventif yang biasa dilakukan sehari-hari karena dental floss dan sikat gigi akan mendapat jalan masuk yang lebih baik ke semua permukaan dan daerah tepi

BENEFIT
Fungsi rongga mulut akan meningkat, jika restorasi dipoles dengan baik. Sisa makanan tidak mudah melekat pada permukaan restorasi selama proses mastikasi Daerah kontak restorasi yang halus akan mengurangi tingkat keausan (susut karena tergosok) pada gigi tetangga maupun antagonisnya terjadi pada restorasi porselen yang mempunyai kekerasan yang lebih dibanding email dan dentin permukaan yang kasar menyebabkan terjadinya tekanan yang tinggi pada gigi sehingga dapat menimbulkan hilangnya kontak fungsional dan stabilitas antar gigi.

PRINCIPLE OF CUTTING, GRINDING, POLISHING, AND FINISHING

CUTTING, GRINDING, POLISHING, AND FINISHING


Proses penyelesaian (finishing) mengubah bahan dari bentuk kasar ke bentuk yang lebih rapi. Hasil penyelesaian dapat berarti diperolehnya permukaan akhir atau diaplikasikannya permukaan tersebut pada bahan. Pemotongan (cutting), pengasahan (grinding) dan pemolesan (polishing) merupakan serangkaian tahapan yang dilakukan dalam proses merapikan suatu restorasi. Proses penyelesaian biasanya menghilangkan bahan-bahan seperti : 1. Noda permukaan dan ketidaksempurnaan 2. Pembentukan ke bentuk ideal 3. Permukaan paling luar dari restorasi dibentuk sesuai yang diinginkan

PEMOTONGAN (CUTTING)
Biasanya mengacu pada permukaan instrument yang berbentuk bilah. Contoh : roda pengasah. Roda ini tidak mempunyai bilah-bilah individual tetapi bentuknya memungkinkan alat ini digunakan dalam bentuk bilah berputar untuk mengasah sprue dan bahan stone gigi.

PENGASAHAN (GRINDING)
= menghilangkan partikel-partikel dari substrat melalui aksi instrument abrasif. Instrumen pengasah mengandung partikel abrasif yang tersusun acak. Setiap partikel memiliki beberapa ujung tajam yang berjalan sepanjang permukaan substrat. Karena partikel tersusun secara acak maka akan menyebabkan suatu goresan . contoh : bur intan. Cutting dan grinding bersifat unidirectional (beroperasi hanya untuk satu arah)

PEMOLESAN (POLISHING)
Bertujuan untuk menghasilkan permukaan partikel yang paling halus dan bekerja pada region permukaan yang sangat tipis. Contoh : abrasif karet, amplas, pasta poles dengan partikel halus (Anusavice, 2004)

ABRASION AND EROSION

ABRASI
= Keausan material terjadi ketika dua permukaan saling geser atau saling bergesekan terhadap satu sama lain Proses finishing melibatkan keausan dari partikel Partikel terluar pada permukaan instrumen yang mengelupas disebut sebagai abrasif Bahan yang selesai disebut sebagai substrat

ABRASI
Rotasi arah alat berputar merupakan faktor penting dalam mengendalikan aksi instrumen pada permukaan substrat Ketika handpiece dan bur dalam arah yang sama, translasi menghasilkan permukaan yang kasar dan rotasi bur cenderung lari dari permukaan ketika handpiece dan bur pada permukaan yang terkelupas ditranslasikan dalam berlawanan arah, permukaan halus dicapai

ABRASI
Abrasi dapat berupa two body atau three body Two body terjadi ketika partikel abrasif terikat secara kuat pada instrumen abrasif dan tidak ada partikel abrasif lain yang digunakan. Contoh : diamond bur Three body terjadi ketika partikel abrasif bebas untuk bertranslasi dan memutar diantara dua permukaan. Contoh: permukaan tidak berikat

ABRASI
Pemotongan dan penggesekkan akan ditingkatkan melalui penggunaan pelumas Pada umumnya yang digunakan adalah air, gliserin atau silikon Air pelumas larut yang paling disukai Kelebihan dari pelumas akan menurunkan efisiensi pemotongan

EROSI
Disebabkan oleh partikel keras yang mempengaruhi permukaan substrat Laboratorium gigi menggunakan metode erosif untuk penyelesaian dan pemolesan bahan Dua jenis proses erosif adalah
erosi kimia erosi partikel keras

TYPES OF ABRASIVES

TYPES OF ABRASIVES
arkansas

chalk
corumdum diamond emery gamet purnice quartz sand Tripoli zirconium silicate cuttle kiesselguvr

silicon carbid
alumunium oxide rouge tin oxide abrasive paste

ARKANSAS STONE
Batu yang semi translucent dan merupakan jenis batuan sedimen yang berada di Arkansas. Sifatnya dense, keras, dan terdiri dari tekstur mikrocrystaline quartz yang seragam. Batu ini digunakan untuk fine grinding pada enamel gigi dan metal alloys

CHALK
Merupakan bahan abrasive yag berwarna putih yang mengandung CaCO3. chalk ini berfungsi sebagai mild abrasive paste untuk polish enamel gigi, gold foil, amalgam dan plastic material

CORUNDUM
Mineral putih yang mengandung Al2O3. biasanya bahan ini diganti dengan synthetic Al2O3 in dental Digunakan untuk grinding metal alloys

DIAMOND
Transparan Disebut juga super abrasive karena kemampuannya untuk abrade substansi lain yang dikenal

SYNTHETIC DIAMOND ABRASIVE


Lebih banyak digunakan dibandingkan dengan diamond natural, karena ukuran dan bentuknya konsisten dan lebih murah

EMERY
Fine-grain grayish black corundum Digunakan untuk polishing metal alloy dan akrilik resin material

GARNET
Mineral yang penting dalam garnet ini yaitu Al, Co, Fe, Mg, dan Mn Yang biasa di gunakan dalam kedokteran gigi yaitu yang merah gelap Berguna untuk grinding metal alloy dan acrylic resin materials

PUMICE
Light gray Batuan volcanic Berguna untuk polishing anamel gigi, gold foil, dental amalgam dan acrylic resin

QUARTZ
Keras, tanpa warna, kebanyakan merupakan abundand mineral Untuk finishing dental alloy bisa juga untuk grinding dental enamel

SAND
Gabungan dari beberapa partikel mineral Secara predominan oleh silika Partikelnya memperlihatkan warna yang beragam, sehingga tampilannya distinc Sand ini dilapisi oleh paper disk yang berguna untuk grinding metal alloy dan acrilic resin material

TRIPOLI
Light weight, friable siliceous, batuan sedimen. Tripoli bisa berwarna putih, abu, pink, merah atau kuning. Yang berwarna merah dan abu biasa digunakan dalam kedokteran gigiuntuk polishing metal alloy dan acrilic resin materials

ZIRCONIUM SILICATE
Off-white mineral. Biasa digunakan sebagai komponen pada prophylactic pastes

CUTTLE
Biasa disebut cuttlefish atau cuttle bone Merupakan white calcareous powder yang terbuat dari bagian dalam kerang yang ada di laut mediterannia. Digunakan sebagai coated abrasive dan untuk polishing metal margins, dan dental amalgam restoration

KIESSELGUHR
Mengandung aquatic plants yang dikenal sebagai diatoms Diguankan sebagai filler atau pengisi pada beberapa dental material, seperti hidrocoloid impression material

SILICON CARBID
Merupakan sintetik abrasive yang pertama di produksi, biasanya berwarna hujau dan biru kehitaman memiliki equivalent physical properties. Silikon carbid sangat keras, dan brittle, menghasilkan efisiensi pada saat cutting material termasuk metal alloy, ceramic dan acrylic resin

ALUMUNIUM OXIDE (ALUMINA)


Jenis sinthetic kedua yang di produksi Lebih keras dari corundum (natural alumina) Sering menggantikan emery dalam hal abrasive Untuk adjusting dental enamel, finishing metal alloy, resin based composites, dan ceramic material

ROUGE
Merupakan Fe2O3, berwarna merah. Berguna untuk polish high noble metal alloys

TIN OXIDE
Mengandung SnO Berguna untuk piloshing gigi dan matalik restoration Dapat di campur dengan air, alcohol, atau glycerin untuk menjadi abrasive pasta

ABRASIVE PASTE
Abrasive pasta yang digunakan biasanya yang mengandung alumina atau diamond particles Alumina pasta mengguanakan rotary instrument dan dapat me ingkatkan jumlah pada air Diamond abrasiv, digunakan dalam keadaan kering

ABRASIVE ISTRUMENT DESIGN

ABRASIVE ISTRUMENT DESIGN


Abrasive Grits

Bonded Abrasives Coated Abrasive Disks and Strips


Nonbonded Abrasives

Abrasive Motion

ABRASIVE GRITS
Berasal dari bahan-bahan yang telah hancur dan telah melewati serangkaian mesh screens untuk mendapatkan berbagai ukuran partikel. Dental Abrasive Grits diklasifikasikan menjadi:
Coarse ( Kasar ) Medium coarse Medium ( Sedang ) Fine (Halus) Superfine

Pada umumnya, tipe dari abrasive grits menentukan hasil pekerjaan bahan

BONDED ABRASIVES
Bonded abrasives terbentuk melalui empat metode umum: 1. Sintering, 2. Ikatan vitreous (kaca atau keramik) 3. Resinoid ikatan (biasanya resin fenolik) 4. Ikatan karet (lateks-based atau karet silikon berbasis ) Disk abrasif digunakan untuk gross reduction, contouring, finishing, dan polishing permukaan restorasi. Alumunium oxide abrasive merupakan jenis yang sering digunakan.

COATED ABRASIVE DISKS AND STRIPS


Coated abrasive dibuat dengan mengamankan partikel abrasif untuk dasar yang fleksibel (bahan heavyweight paper, logam, atau Mylar) dengan bahan perekat yang cocok. Abrasive biasanya tersedia dalam disk dan strip finishing. Disks tersedia dalam diameter yang berbeda dan ketebalan yang berbeda

NONBONDED ABRASIVES
Polishing pastes merupakan nonbonded abrasive digunakan untuk polishing akhir. Polishing pastes harus digunakan bersama dengan nonabrasive seperti busa sintetis, karet, atau kain chamois. Alumunium oksida adalah nonbonded abrasive paling populer

ABRASIVE MOTION
Abrasive Motion diklasifikasikan sebagai rotary, planar atau reciproral. Pada umumnya burs dianggap rotary, disk merupakan planar, dan reciprocating handpieces bergerak siklik Perbedaan ukuran abrasive mempengaruhi setiap pergerakan. Reciprocating handpieces bermanfaat untuk menjangkau daerah interproksimal dan subgingiva untuk menghilangkan overhang, untuk menyelesaikan margin subgingiva tanpa membuat parit dan menciptakan embracures

PROSEDUR FINISHING DAN POLISHING

AKRILIK
Sebelumnya,finishing seharusnya tidak diselesaikan sebelum 24 jam setelah hasil restorasi dimasukkan,hingga reaksi polymerisasi selesai. Selama melakukan finishing, operator harus melepaskan pelapis dengan menggunting atau mengelupasnya dari sisi tepinya,hal itu akan membuatnya terkelupas dan akan meninggalkan pembuka untuk kebocoran berikutnya.

AKRILIK
Untuk pengetriman akan efektif jika menggunakan: pisau tipis disk abrasive bor Lalu, dikibaskan dengan halus diatas permukaan. Permukaan dapat diperhalus menggunakan bor yang tumpul atau disk yang telah dibasahi dan amplas. Untuk finishing akhir dapat dilakukan dengan penggunaan : kapur basah pada buff wheel, atau dengan pumice basah pada rubber cup. Pemolesan yang berlebihan harus dihindari untuk mencegah kualitas estetika dari resin.

AMALGAM
Saat sebuah restorasi amalgam sudah termanipulasi secukupnya, amalgam ini akan mengeras dalam beberapa menit sehingga bisa diukir dengan alat yang tajam. Pengukuran tepi amalgam harus dilakukan untuk menghilangkan semua ekses amalgam. Memburnish dengan instrument metal yang memiliki permukaan luas juga bisa diterapkan untuk menghaluskan permukaan. Setelah proses awal pengukiran ini, restorasi harus dibiarkan untuk beberapa saat sebelum finishing dan polishing dengan instrumen rotasi. Kebanyakan amalgam bisa dipoles sehari setelah pemasangan. Penundaan waktu akan membuat amalgam makin kuat. Polishing amalgam dilakukan melalui aplikasi tahapan yang mencakup penggunaan batu yang baik dan disk abrasif. Pemolesan akhir dikembangkan dengan pengaplikasian silex yang sangat baik (extra fine silex), diikuti dengan selapis tipis oksida timah dengansikat halus berputar (rotating soft brush). Selama proses pemolesan akhir ini, restorasi harus dijaga kelembabannya untuk mencegah suhu yang terlalu tinggi (Craig, OBrien, dan Powers, 2006)

METAL INLAY
Untuk inlay atau onlay digunakan alloy emas Kekerasan sebesar 3-4 Moh. Beberapa metal yang sangat keras, digunakan untuk partial dentures & fusi porcelain (5-6 Moh) Finisihing alloy kebanyakan menggunakan kombinasi dari :
Stones Diks wheels

METAL INLAY
Prosedur Cetakan dibersihkan dari sisa pencetakan (oleh air, sikat gigi) Cetakan direndam/diawetkan dalam hidrochloric acid (HCl) untuk menghilangkan lapisan oxida. Kelebihan hasil cetakan dihilangkan dgn batu carburundum Cetakan dipisahkan dari sprue dengan menggunakan separating disk

METAL INLAY
hasil ditempatkan pada die batu carburundum digunakkan dengan kecepatan rendah, karena untuk menciptakan daerah yang sesuai untuk permukaan occlusalnya . Kemudian, dengan batu hijau dapat digunakkan untuk menyelesaikan garis tepinya dengan memutarkannya dari permukaan inlaynya menuju garis tepinya. Tujuan : membentuk metal sedemikian rupa ,dengan membentuknya kearah garis tepi dan membentuk adaptasi yang menyerupai gigi.

METAL INLAY
Untuk inlay kelas II
o finishing garis tepi proximalnya dilakukan dengan cuttle disk medium. o Perawatan dilakukan untuk menghindari ganguan pada gusi dilakukan dengan pemolesan. o Permukannya memiliki kekasaran 0.3-0.5 m setelah dilakukan pemolesan. o Jadi guratan-guratan masih dapat terlihat pada hasil.

METAL INLAY
Untuk polishing pada permukaanya
dapat dilakukan dengan rubber wheel yang permukaannya dilapisi oleh partikel abrasive. Perlakuan ini mengurangi kekasaran menjadi 0.10-0.15 m.Dimana sebagian besar kekasaran sudah hilang.

Untuk polishing terakhir digunakan Tripoli dan rouge pada rag wheel. Setelah perlakuan ini maka tingkat kekasaran akan menjadi 0.05 m berarti kekasarannya sudah tidak dapat dilihat,dan permukaanya akan mengkilat.

METAL INLAY
Setelah inlay dipasangkan ke gigi, Finishing terakhir dilakukan dengan :
o prophylaxis cup atau bristle brush o penggunaan XXX Silex o tepung , atau pumice

COMPOSITE
Untuk mengurangi kekasaran digunakan :
diamond, bor carbide, finishing disk, atau lembaran alumina.

Untuk Finishing akhir, baik untuk microhybrid atau microfilled composite, digunakan :
rubber rag yang berlapiskan bahan abrasive, atau rubber cup dengan pasta untuk polishing.

Finishing akan diselesaikan pada area yang basah oleh air. Finishing akhir untuk light-cured composite dapat dimulai segera setelah light-curing.

COMPOSITE
Polishing adalah proses terakhir dari finishing dan biasanya dilakukan dengan aluminium oxide abrasive dengan kenaikan tingkat ukuran bahan abrasivenya. Polishing untuk composite penting,karena permukaan yang halus dibutuhkan untuk mencegah retensi dari plak dan itu diperlukan untuk menjaga kebersihan mulut.

COMPOSITE
Ukuran dari kualitas polishing adalah kekasaran permukaannya . Perbandingan kekasaran permukaan dari composite dicantumkan pada table dibawah ini. Tingkat kehalusan dipengaruhi oleh mylar matriksnya. Bor carbide menghasilkan permukaan yang lebih halus dari bor diamond,tetapi setelah polishing hasil kekasarannya serupa.

CERAMIC
Permukaan ideal ceramic resoration yakni halus dan permukaan mengkilap (glaze) Lapisan kilap/ glaze tidak akan diperoleh pada permukaan halus, jika permukaan inisial pada ceramic memiliki kekasaran. Permukaan paling halus dapat diperoleh secara ekstraoral sebelum protesa di semen

CERAMIC
Polishing dapat meng-improve kekuatan yang ada pada permukaan protesa ceramic karena akan menutup porus dan microcracks. Kontak secara kontinyu antara restorasi dan instrumen rotary, harus di hindari Silicone carbida (heatless stone) menyediakan reduksi panas dan dapat digunakan sebagai alternatif

CERAMIC
Beberapa peralatan tersedia untuk finishing dan polishing dari restorasi ceramic. Instruksi pabrik harus diikuti ketika mengggunakan sistem yang berbeda. Untuk polishing pada intraoral, gunakan aplikasi intermitten untuk memutar instrumen dengan jumlah air yang banyak sebagai pendingin.

CERAMIC
Berdasarkan preferensi dari doker gigi, teknnik generalnya, yakni:
o Kontur dengan flexible diamond disks, diamod burs, polymer stone atau dengan green stone (silicone carbida) o Finishing dengan white stones atau abrasiveimpregnated rubber disk, cusp dan point. Atau jika dibutuhkan, gunakan diamond paste dengan sikat atau felt wheel o Gunakan overglaze layer, atau natural glaze.