Anda di halaman 1dari 4

Bab III Kerangka Teoritik dan Konseptual

3.1 Teori Clifford Geertz Trikotomi Masyarakat Jawa


Berdasarkan teori Robert Redfield, Clifford Geertz menjelaskan bagaimana masyarakat Jawa terbagi menjadi 3 bagian. Menurut Robert Redfield, masyarakat sebuah daerah terbagi menjadi 2 bagian yang memiliki tradisi yang berbeda-beda. Kelompok pertama berpengaruh dalam bidang agama, filosofi, seni, pengetahuan alam, literature dan tulisan. Orang-orang dari kelompok kedua mengendalikan pasokan makanan. Dua kelompok tersebut saling menopang satu sama lain. Di peradaban non-industri yang sudah maju, orang-orang yang berada di kelompok pertama (kelas atas) lah yang akan memimpin dan menjadi figur-figur penting di dalam masyarakat dan orang-orang di kelompok kedua (kelas bawah) akan berusaha untuk dapat menjadi seperti orang-orang yang berada di kelompok pertama. Menurut Clifford Geertz, pembagian kelas masyarakat juga terpengaruh oleh factorfaktor luar lainnya, salah satunya adalah agama. Agama Hindu-Buddha menerapkan system kasta yang membagi masyarakat menjadi 5 bagian, dari tertinggi hingga terendah adalah: Brahmana (pemimpin spiritual), Satria (raja dan prajurit), Waisya (pedagang), Sudra (pengrajin dan petani) dan Paria (pengemis). Clifford Geertz mengatakan bahwa pembagian kelas yang terdapat di Jawa adalah evolusi dari pembagian kasta pada agama Hindu-Buddha. Clifford Geertz membagi masyarakat Jawa menjadi 3 kelas di dalam bukunya, The Religion of Java, dari tertinggi sampai terendah; priyayi, santri dan abangan. Priyayi adalah orang-orang yang memiliki keturunan raja-raja dan prajurit zaman dulu. Santri adalah kelas menengah dan abangan ada kelas paling bawah.

Dalam kebudayaan Jawa, priyayi adalah suatu kelas sosial yang mengacu pada bangsawan, kelas tertinggi dalam suatu masyarakat karena memiliki keturunan kerajaan. Kata

priyayi berasal dari dua kata, yaitu para dan yayi yang berarti para adik yang dimaksud adalah adik-adik raja. Menurut Clifford Geertz, untuk menjadi seorang priyayi ada kriteria-kriteria tertantu yang harus dipenuhi. Beberapa contoh dari cirri-ciri tersebut adalah kekayaan, gaya hidup (cara berpakaian, sikap, gaya rumah), pergaulan mereka, dan garis keturunan. Namun untuk menjadi seorang priyayi, ada beberapa pengecualian yaitu: petinggi pemerintah, walaupun bukan orang yang berketurunan priyayi, tetap dianggap seorang priyayi; orang-orang Jawa yang bergelar Mr. (Master of Laws) dan Dr. (Doctor of Laws) juga termasuk seorang priyayi. Berdasarkan Clifford Geertz, orang-orang seperti itu disebut dengan priyayi berdasarkan prestasi. Meskipun mereka adalah priyayi, di mata masyarakat tetap lebih tinggi posisi priyayi yang benar-benar priyayi. Karena orang-orang yang menjadi priyayi dengan cara belajar dan kerja keras kurang memiliki rasa kemanusiaan yang seharusnya dimiliki seorang priyayi. Kaum abangan adalah yang menekankan aspek-aspek animisme sinkretisme jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsur petani desa. Golongan abangan menurut Geertz adalah masyarakat kaum tani di jawa. Agama abangan menggambarkan perpaduan petani antara hal-hal yang berasal dari kota dan warisan kesukuan, yang berjiwa sederhana. Kata ini berasal dari bahasa jawa yang berarti merah. Kaum abangan melakukan upacara keagamaan yang bernama slametan untuk memenuhi semua hajat yang berhubungan pada kejadian-kejadian seperti kelahiran, kematian, perkawinan, ganti nama, sihir, mimpi buruk, panen, membuka pabrik, sakit, memohon kepada arwah penjaga desa, khitanan, dan memulai suatu rapat politik. Kaum abangan tidak ada perkauman keagamaan, karena hanya ada sedikit rumah tangga yang bersatu karena ikatan tradisi tunggal. Berbeda halnya dengan santri dimana rasa perkauman terhadap umat yang makin meluas dan mendunia menjadi yang utama. Itu artinya perbedaan santri dan abangan terletak pada masalah organisasi sosial mereka, dimana abangan hanya mencakup masyarakat tertentu yang memiliki tradisi sama, sedangkan santri mencakup semua elemen masyarakat islam.

3.2

Konflik Antar Kelas


3.2.1 Konflik Ideologi
Konflik ideology antara kaum priyayi dan kaum abangan tidak terlalu terlihat terlalu

jelas jika dibandingkan dengan antara kaum priyayi dan abangan terhadap santri. Kaum abangan sangat frontal dalam menjelek-jelekan kaum santri dengan cara lagu yang menyatakan bahwa kaum santri merasa bahwa mereka memiliki moralitas yang lebih tinggi dari kaum abangan dengan cara berpakaian lebih sopan, seperti kerudung, tapi dalam kenyataan menurut kaum abangan kaum santri masih berbuat zina. Dalam serangan priyayi, kritik terhadap kemunafikan santri dan intoleransi mereka sering digabungkan dengan perbedaan teoritis mengenai pola kepercayaan. Ritual keagamaan kaum santri, yaitu naik haji ke Makkah, sangatlah tidak penting dan hanya membuang uang untuk sesuatu yang tidak diperlukan.menurut kaum abangan, sebenarnya mereka hanya ingin lebih dihormati dengan cara naik haji. Namun serangan kaum santri pada kaum priyayi dan abangan juga menusuk. Para santri menuduh kaum abangan sebagai penyembah berhala dan menuduh kaum priyayi tidak bisa membedakan dirinya dengan Tuhan dan itu merupakan dosa yang sangat berat dan mereka cenderung menganggap semua orang diluar kelompok mereka sebagai komunis.

3.2.2 Konflik Kelas


Perselisihan antara kaum priyayi dan abangan sangat jelas terlihat pada persoalan status. Kaum priyayi menuduh bahwa kaum abangan tidak tahu tempat yang seharusnya dan itu menyebabkan gangguan di keseimbangan masyarakat. Para priyayi beranggapan bahwa kelas sosial mereka lebih tinggi dari kaum abangan yang mayoritas petani meniru gaya hidup mereka. Namun sejak zaman penjajahan Jepang di Indonesia, kaum abangan mulai menyuarakan persamaan hak dan status sosial dengan kaum priyayi. Hal ini karena tidak adanya orang kuat dari kaum priyayi di pedesaan sebagai tokoh-tokoh kekuasaan, kekeyaan, dan kesaktian magis dalam strutur masyarakat.

3.2.3 Konflik Politik


Selain konflik ideologis, perjuangan politik merupakan salah satu unsur penting untuk

mempertajam konflik keagamaan. Konflik politik yang berawal dari revolusi politik yang ada di Indonesia, yaitu ketika kekosongan kekuasaan yang tiba-tiba terjadi menyeret hampir semua kehidupan sosial ke sana. Perjuangan politik yang demikian meninggi tentu saja menghasilkan suatu konflik internal yang dipertajam antara berbagai kelompok keagamaan. Persoalan keagamaan hampir menjadi persoalan politis.