Anda di halaman 1dari 7

MENCEGAH LONGSOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALISIS, MEDIA GEOTEKSTIL, DAN CARA ALAMI

Disusun Oleh : RIANA SRI WARDANI (DBD 110 023)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN 2013
1

TUGAS GEOTEKNIK TAMBANG

1. Identifikasi tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencegah longsor, dengan menggunakan: a. Metode Analisis b. Media Geoktekstil - Video/Gambar - Instalasi c. Cara alami

JAWABAN : 1. a.Metode Analisis Indentifikasi tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk mencegah longsor dalam metode analisis adalah sebagai berikut : 1) Tahap persiapan berupa identifikasi lokasi yang mempunyai kondisi eksisting rawan bencana. 2) Analisis data berupa penilaian terhadap beberapa kondisi berdasarkan 3) Prinsip-prinsip pendekatan, metode dan teknik analisis. 4) Melakukan penanggulangan daerah rawan bencana sesuai dengan pola 5) curah hujan, konservasi lahan, drainase, dan lain-lain. 6) Melakukan identifikasi lokal penyebab bencana yang meliputi : a. Identifikasi posisi jalur patahan b. Analisa local kerapatan drainase c. Analisa tingkat bahaya erosi d. Analisa kawasan rawan longsor e. Analisa kawasan rawan banjir f. Analisa kawasan rawan gempa g. Analisa kawasan rawan letusan gunung berapi

7) Penyusunan rencana dan pemetaan daerah rawan bencana. 8) Melakukan tindakan pencegahan (preventif) terhadap kemungkinan terjadi bencana. 9) Membuat rencana tindakan (mitigasi) yang diperlukan. 1. b. Media Geotekstil Geotekstil adalah teknik pelapisan tanah untuk mencegah longsor dan ambles. Untuk itu, digunakan lembar plastik atau polimer dari jenis poliester, polipropilen, atau polietilen. Lapisan plastik ini berfungsi mencegah kebocoran, mengalirkan air yang merembes ke dinding, dan mencegah kebocoran. Teknik pelapisan yang diperkenalkan Inggris tahun 1960-an ini kemudian dikembangkan Jepang, terutama untuk meningkatkan kekuatan bahan. Bila yang lama hanya dapat menahan beban 1-2 ton, geotekstil yang baru dapat tahan sampai pembebanan 100 ton. Dari faktor biaya, pelapisan dengan geotekstil 40 persen lebih murah dibandingkan dengan beton. Masa pengerjaannya dapat dua kali lebih cepat. Penggunaan polimer dapat mempertahankan bentuk alami sehingga tanggul di tepi sungai masih dapat ditanami rumput setelah pelapisan. Ini berbeda dengan tanggul beton yang keberadaannya menentang alam. Penanggulangan bencana longsor perlu partisipasi semua pihak, termasuk masyarakat setempat. Warga yang tinggal di daerah rawan longsor perlu diberdayakan untuk mengenali gejala awal longsor dan aktif memantau di lapangan sehingga antisipasi dini bisa dilakukan. Masyarakat lokal perlu dilatih untuk mengenali gejala awal terjadinya tanah longsor seperti adanya retakan tanah di kawasan lereng. Munculnya retakan di lereng biasanya sejajar arah tebing dan terjadi setelah hujan. Gejala lain adalah munculnya mata air baru secara tiba-tiba. Pada tebing rapuh ditandai kerikil yang mulai berjatuhan. Bila ditemukan kerusakan itu, mereka perlu segera menutup dan memadatkan tanah.

Berikut gambar pencegahan longsor dengan menggunakan media geotekstil :

Gambar 1.1. Penguatan Lereng Pencegah Longsor Dengan Geotekstil

Gambar 1.2. Penggunaan geotekstil pencegah lumpur erosi lerengan 1. c. Cara alami Indentifikasi tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk mencegah longsor dalam cara alami adalah sebagai berikut : 1. Dengan cara vegetative yaitu mencegah air terakumulasi di atas bidang luncur. Sangat dianjurkan menanam jenistanaman berakar dalam, dapat menembus lapisan kedap air, mampu merembeskan air ke lapisan yang lebih dalam, danmempunyai massa yang relatif ringan. Jenis tanaman yang dapat dipilih di antaranya adalah sonokeling, akar wangi,flemingia, kayu manis, kemiri, cengkeh, pala, petai, jengkol, melinjo, alpukat, kakao, kopi, teh, dan kelengkeng. 2. Pendekatan mekanik dapat digunakan untuk mengendalikan longsor, sesuai dengan kondisi topografi dan besarkecilnya tingkat bahaya longsor. Pendekatan mekanis pengendalian longsor meliputi : a. pembuatan saluran drainase (saluran pengelak, saluran penangkap, saluran pembuangan),
5

b. pembuatan bangunan penahan material longsor, c. pembuatan bangunan penguat dinding/tebing atau pengaman jurang, dan d. pembuatan trap-trap terasering. 3. Membuat saluran drainase. Tujuan utama pembuatan saluran drainase adalah untuk mencegah genangan denganmengalirkan air aliran permukaan, sehingga kekuatan air mengalir tidak merusak tanah, tanaman, dan/atau bangunankonservasi lainnya. Di areal rawan longsor, pembuatan saluran drainase ditujukan untuk mengurangi laju infiltrasi danperkolasi, sehingga tanah tidak terlalu jenuh air, sebagai faktor utama pemicu terjadinya longsor. Bentuk saluran drainase,khususnya di lahan usahatani dapat dibedakan menjadi: a. Saluran pengelak, b. saluran teras, dan c. saluranpembuangan air, termasuk bangunan terjunan. 4. Membuat bangunan penahan material longsor. Konstruksi bangunan penahan material longsor bergantung pada volume longsor. Jika longsor termasuk kategori kecil, maka konstruksi bangunan penahan dapat menggunakan bahanyang tersedia di tempat, misalnya bambu, batang dan ranting kayu. Apabila longsor termasuk kategori besar, diperlukankonstruksi bangunan beton penahan yang permanen. Beton penahan ini umumnya dibangun di tebing jalan atau tebing sungai yang rawan longsor. 5. Membuat bangunan penguat tebing. Bangunan ini berguna untuk memperkuat tebing-tebing yang rawan longsor,berupa konstruksi beton atau susunan bronjong (susunan batu diikat kawat). Konstruksi bangunan menggunakan perhitungan teknik sipil kering.

KESIMPULAN : Bencana tanah longsor merupakan bencana alam yang sebagian besar faktor penyebabnya adalah dari ulah manusia. Maka untuk menghindari atau meminimalkan bencana tersebut haruslah dibuat suatu rancangan sistem pengendalian yang memuat tentang penetapan dan penerapan peraturan zona (zoning regulation), penerbitan izin pemanfaatan pemanfaatan ruang, sanksi tegas dan konsisten terhadap pelanggaran

ruang dan penerapan mekanisme insentif dan disinsentif untuk

meningkatkan perlindungan terhadap kawasan rawan bencana longsor.