Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

Kanker payudara merupakan kanker yang sangat menakutkan kaum wanita disamping kanker mulut rahim. Masalah etiologi yang belum diketahui, masalah usaha-usaha pencegahan yang sukar untuk dilaksanakan serta perjalanan penyakit yang sukar diduga dan apabila sudah dalam keadaan lanjut penderita akan masuk dalam masa penderitaan nyeri dan disability yang menakutkan menjelang akhir dari suatu kehidupannya. Namun demikian usaha-usaha untuk penemuan dini (early detection) dapat dilakukan dengan baik dengan mengikutsertakan masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan (health education). Apabila ditemukan dalam stadium dini dan mendapat terapi yang tepat dan adekuat, maka bukan tidak mungkin kanker payudara itu dapat disembuhkan. Kemajuankemajuan dalam penemuan dini yang dilengkapi dengan kemajuan terapi pada decade akhir, baik teknik operasi, radiasi, hormonal terapi dan khemoterapi serta imunoterapi ataupun pelaksanaan kombinasi terapi dari modalitas terapi di atas yang didasarkan pada ketepatan penentuan staging dan pengenalan sifat-sifat biologis kanker yang baik, semakin membawa harapan baru untuk penderita kanker payudara ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kanker payudara adalah neoplasma ganas, suatu pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrative dan destruktif, serta dapat bermestastase. Tumor ini tumbuh progresif, dan relative cepat membesar. Pada stadium awal tidak terdapat keluhan sama sekali, hanya berupa fibroadenoma atau fibrokistik yang kecil saja, bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, permukaan tidak rata dan konsistensi padat dan keras. 2.2 Epidemiologi Kanker payudara adalah salah satu kanker yang paling umum di Amerika Serikat lebih dari 160.000 wanita mengalami kanker ini setiap tahun, dan 40.000 perempuan meninggal setiap tahun karena keganasan ini. Kira-kira 1 dari 9 % wanita di Amerika Serikat akan menderita kanker payudara, walaupun 1 % kasus terjadi pada pria. Risiko meningkat dengan usia, dan meningkat pesat saat menopause, risiko besar. Terjadi pada wanita usia 60 tahun ke atas, dan memiliki kesempatan 3-4% menderita kanker payudara selama 1 dekade kehidupan mereka. Kanker payudara adalah penyakit dominan peradaban barat. Ini adalah kanker paling umum pada wanita dan penyebab kematian paling umum pada perempuan antara usia 35 dan 55 tahuun. Di Inggris setiap tahun, lebih dari 24.000 kasus baru yang di diagnosis dan 30.000 perempuan kondisi meninggal. Kanker payudara sangat jarang terjadi sebelum usia 25 tahun. 2.3 Etiologi Penyebabnya tidak diketahui, penyebab itu sangat mungkin multifaktorial yang saling mempengaruhi satu sama lain, antara lain: 1. Konstitusi Genetika Konstitusi genetika ini berdasarkan pada
2

a. Adanya kecenderungan pada keluarga tertentu lebih banyak kanker payudara daripada keluarga lain b. Adanya distribusi predileksi antar suku bangsa c. Pada kembar monozigite terdapat kanker sama d. Terdapat persamaan lateralitas kanker payudara dekat dari penderita kanker payudara e. Seorang dengan klinefelter akan mendapat kemungkinan 66 kali pria normal 2. Pengaruh hormone Ini berdasarkan: a. Kanker payudara umumnya pada wanita, pada laki-laki kemungkinan ini sangat rendah b. Pada usia di atas 35 tahun insidennya lebih tinggi c. Ternyata pengobatan hormonal banyak yang memberikan hasil pada kanker payudara lanjut 3. Virogen Terbukti pada penelitian kera, pada manusia belum terbukti 4. Makanan Terutama makanan yang banyak mengandung lemak. Karsinogen: terdapat lebih dari 2000 karsinogen dalam lingkungan hidup kita 5. Radiasi daerah dada Ini sudah lama diketahui karena radiasi dapat menyebabkan mutagen. Tidak seperti kanker leher rahim yang dapat diketahui etiologi dan perjalanan penyakitnya secara jelas, penyakit kanker payudara belum dapat dijelaskan. Akan tetapi, banyak penelitian menunjukkan ada beberapa factor yang berhubungan dengan peningkatan resiko atau kemungkinan terjadinya kanker payudara. Beberapa faktor resiko yang menyebabkan antara lain: 1. Usia. Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia diatas 60 tahun. Resiko terbesar ditemukan pada wanita berusia diatas 75 tahun. 2. Pernah menderita kanker payudara.

Wanita yang pernah menderita kanker in situ atau kanker invasif memiliki resiko tertinggi untuk menderita kanker payudara. Setelah payudara yang terkena diangkat, maka resiko terjadinya kanker pada payudara yang sehat meningkat sebesar 0,51%/tahun. 3. Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara. Wanita yang ibu, saudara perempuan atau anaknya menderita kanker, memiliki resiko 3 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara. 4. Faktor genetik dan hormonal. Telah ditemukan 2 varian gen yang tampaknya berperan dalam terjadinya kanker payudara, yaitu BRCA1 dan BRCA2. Jika seorang mwanita memiliki salah satu dari gen tersebut, maka kemungkinan menderita kanker payudara sangat besar. Gen lainnya yang juga diduga berperan dalam terjadinya kanker payudara adalah p53, BARD1, BRCA3 dan Noey2. Kenyataan ini menimbulkan dugaan bahwa kanker payudara disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel yang secara genetik mengalami kerusakan. Faktor hormonal juga penting karena hormon memicu pertumbuhan sel. Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif wanita, terutama jika tidak diselingi oleh perubahan hormonal karena kehamilan, tampaknya meningkatkan peluang tumbuhnya sel-sel yang secara genetik telah mengalami kerusakan dan menyebabkan kanker. 5. Pernah menderita penyakit payudara non-kanker. Resiko menderita kanker payudara agak lebih tinggi pada wanita yang pernah menderita penyakit payudara non-kanker yang menyebabkan bertambahnya jumlah saluarn air susu dan terjadinya kelainan struktur jaringan payudara (hiperplasia atipik). Menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 55 tahun, kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamil. Semakin dini menarke, semakin besar resiko menderita kanker payudara. Resiko menderita kanker payudara adalah 2-4 kali lebih besar pada wanita yang mengalami menarke sebelum usia 12 tahun. Demikian pula halnya dengan menopause ataupun kehamilan

pertama. Semakin lambat menopause dan kehamilan pertama, semakin besar resiko menderita kanker payudara 6. Pemakaian pil KB atau terapi sulih estrogen. Pil KB bisa sedikit meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara, yang tergantung kepada usia, lamanya pemakaian dan faktor lainnya. Belum diketahui berapa lama efek pil akan tetap ada setelah pemakaian pil dihentikan. Terapi sulih estrogen yang dijalani selama lebih dari 5 tahun tampaknya juga sedikit meningkatkan resiko kanker payudara dan resikonya meningkat jika pemakaiannya lebih lama. 7. Obesitas pasca menopause. Obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara masih diperdebatkan. Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara

kemungkinan karena tingginya kadar estrogen pada wanita yang obes. 8. Pemakaian alkohol. Pemakaian alkoloh lebih dari 1-2 gelas/hari bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. 9. Bahan kimia. Beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia yang menyerupai estrogen (yang terdapat di dalam pestisida dan produk industri lainnya) mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. 10. DES (dietilstilbestrol). Wanita yang mengkonsumsi DES untuk mencegah keguguran memiliki resiko tinggi menderita kanker payudara. 11. Penyinaran. Pemaparan terhadap penyinaran (terutama penyinaran pada dada), pada masa kanakkanak bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. 12. Faktor resiko lainnya.
5

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kanker rahim, ovarium dan kanker usus besar serta adanya riwayat kanker dalam keluarga bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. 2.4 Anatomi Untuk dapat memngenal perjalanan penyakit kanker payudara dengan baik dan memahami dasar-dasar tindakan operasi pada kanker payudara, maka penting untuk mengetahui anatomi payudara itu sendiri. Payudara terletak pada hemitoraks kanan dan kiri dengan batas sebagai berikut: 1. Batas-batas payudara yang tampak dari luar: Superior : iga II atau III Inferior : iga VI atau VII Medial : pinggir sternum Lateral : garis axilaris anterior

2. Batas-batas payudara yang sesungguhnya: Superior : hampir sampai ke klavikula Medial : garis tengah sternum Lateral : m. latissimus dorsi

Struktur Payudara Payudara terdiri dari berbagai struktur: Parenkim epithelial Lemak, pembuluh darah, saraf dan saluran getah bening Otot dan fascia

Parenkim epithelial dibentuk oleh kurang lebih 15-20 lobus, yang masing-masing mempunyai saluran tersendiri untuk mengalirkan produknya dan bermuara pada putting susu. Tiap lobus dibentuk oleh lobulus-lobulus yang masing-masing terdiri dari 10-100 asini grup. Lobulus-lobulus ini merupakan struktur dasar dari glandula mamma. Payudara dibungkus oleh fasia pektoralis superfisialis di mana permukaan anterior dan posterior dihubungkan oleh ligamentum Cooper yang berfungsi sebagai penyangga. Vaskularisasi Payudara
6

1. Arteri Payudara mendapat pendarahan dari: a. Cabang-cabang perforates a. mammaria interna. Cabang-cabang I, II, III, IV dari a. mammaria interna menembus dinding dada dekat pinggir sternum pada interkostal yang sesuai, menembus m. pektoralis mayor dan memberi pendarahn tepi medial glandula mamma. b. Rami pektoralis a. thorako-akromialis Arteri ini berjalan turun di antara m. pektoralis minor dan m. pektoralis mayor. Pembuluh ini merupakan pembuluh utama m. pektoralis mayor. Seian dalam telah menembus m. pektoralis mayor, arteri ini akan mendarahi glandula mamma bagian dalam (deep surface) c. A. thorakalis lateralis (a. mammaria eksterna) Pembuluh darah ini jalan turun menyusuri tepi lateral m. pektoralis mayor untuk mendarahi bagian lateral payudara. d. A. thorako-dorsalis Pembuluh darah ini merupakan cabang dari a. subskapularis. Arteri ini mendarahi m. latissimus dorsi dan m. serratus magnus. Walaupun arteri ini tidak memberikan pendarahan pada glandula mamma, tetapi sangat penting artinya. Karena pada tindakan radikal mastektomi, perdarahan yang terjadi akibat putusnya arteri ini sulit dikontrol sehingga daerah ini dinamakan the bloody angel. 2. Vena Pada daerah payudara, terdapat tiga grup vena: a. Cabang-cabang perforantes v. mammaria interna Vena ini merupakan vena terbesar yang mengalirkan darah dari payudara. Vena ini bermuara pada v. mammaria interna yang kemudian bermuara pada v. innominata. b. Cabang-cabang v. aksilaris yang terdiri dari v. thorako-akromialis, v. thorakalis lateralis dan v. thorako-dorsalis c. Vena-vena kecil yang bermuara pada v. interkostalis Vena-vena interkostalis bermuara pada v. vertebralis kemudian bermuara pada v. azygos (melalui vena-vena ini metastase dapat terjadi di paru) Sistem limfatik payudara a. Pembuluh getah bening
7

b. Kelenjar-kelenjar getah bening 1) Kelenjar getah bening sentral (Central nodes) 2) Kelenjar getah bening interpektoral (Rotters nodes) 3) Kelenjar getah bening v. aksilaris 4) Kelenjar getah bening subklavikula 5) Kelenjar getah bening prepektoral 6) Kelenjar getah bening mammaria interna 2.5 Patofisiologi

2.6 Manifestasi Klinis Gejala klinis kanker payudara bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan, tetapi kanker payudara sangat jarang pada pria dibandingkan dengan wanita. Lebih dari 1 dari 10 perempuan cenderung menderita gejala kanker payudara. Gejala kanker payudara dapat terdeteksi ketika benjolan atau massa tumbuh cukup besar, baik dirasakan atau dilihat pada
8

mammografi. Gejala kanker payudara sering belum terdeteksi sampai kanker itu sudah dalam tahap lanjut, dan mungkin sudah metastasis ke daerah vital tubuh. Untuk itu, penting bagi wanita meemriksakan diri secara teratur. Gambaran klinis yang dapat ditemukan menurut Churchill (1990) yaitu: 1. Benjolan pada payudara, keras atau lembut 2. Nyeri, yang bervariasi dengan siklus haid dan independen dari siklus haid 3. Perubahan pada kulit payudara: Skin dimpling Skin ulcer Peau dorange

4. Gangguan putting - puting tertarik ke dalam - eksim (ruam yang melibatkan putting atau areola atau keduanya) - putting discharge 2.8 Stadium Kanker payudara

2.9 Diagnosis Tahap klinis kanker payudara ditentukan terutama melalui pemeriksaan fisik kulit, jaringan payudara, dan kelenjar getah bening (aksilaris, supraklavikula dan servikal). Namun penentuan klinis metastasis kelenjar getah bening aksila memiliki akurasi hanya 33%. Mammografi, x-ray dada dan intraoperative findings (ukuran kanker primer, invasi dinding dada) memberikan diagnose yang lebih tepat dan dilakukan pengobatan yang terarah.

2.7 Diagnosis Banding

2.8 Pemeriksaan

2.9 Penatalaksanaan

2.10 Pencegahan 2.11 Prognosis

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

10

DAFTAR PUSTAKA

1.

Kasper, Braunwald, Fauci, Hauser, Longo, Jameson. Harrison`s Manual of Medicine,16th ed, 2005.

2. Zipes, Libby, Bonow, Braundwald, penyunting. Braundwalds heart disease, a textbook of cardiovascular medicine. Edisi ke-7. Philadelphia: Elsevier Saunders, 2005. 3. Yung Gordon, Fedullo Peter. Pulmonary Embolism. Hurts The Heart Manual of Cardiology. Edisi ke-12. McGraw Hill,2009. 4. Goldhaber SZ, Elliot CG. Acute Pulmonary Embolism: Part II: Risk stratification, treatment and prevention Circulation 2003 5. Piazza G, Goldhabber SZ. Acute pulmonary embolism: Part I: Epidemiologi and diagnosis. Circulation 2006; 114:28-32 6. Fedullo PF: Pulmonary embolism. Dalam: Robert AO, Valentin F, R.Wayne A, penyunting. The heart manual of cardiology. Edisi ke-11. Boston: McGraw Hill,2005.

11