Anda di halaman 1dari 85

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Informasi akuntansi dari suatu perusahaan sangat dibutuhkan oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan. Pihak internal mempunyai akses langsung dalam memperoleh informasi akuntansi sedangkan bagi pihak eksternal terutama dalam hal perusahaan publik, informasi akuntansi agar dapat dipertanggung jawabkan kelayakannya terlebih dahulu harus memulai audit yang dilaksanakan oleh kantor akuntan publik yang mempunyai kompetensi dalam bidang akuntansi dan auditing sesuai dengan standar profesional serta telah menjungjung tinggi kode etika profesi akuntansi yang berlaku. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa peran profesi akuntansi sangat penting sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kewajaran informasi keuangan yang diberikan kepada masyarakat. Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) mengharuskan dibuatkannya laporan setiap kali kantor akuntan publik memeriksa laporan keuangan. Dalam laporan tersebut auditor menyatakan pendapat mengenai laporan keuangan auditor. Keharusan untuk menyusun pernyataan pendapat didasarkan atas standar pelaporan keempat dari standar auditing yang berlaku umum Standar Auditing yang ditetapkan oleh IAI (2008:45) yang berbunyi. Laporan audit harus memuat supaya pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan maka alasannya harus dinyatakan. Dalam semua hal yang mana auditor dihubungkan dengan laporan keuangan, laporan auditor harus memuat
1

petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerja auditor. Jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikulnya. Standar ini mensyaratkan adanya pernyataan auditor secara jelas mengenai sifat pemeriksaan yang telah dilakukan dan sampai dimana ia membatasi tanggungjawabnya di dalam laporan auditor. Di kantor Akuntan Publik Koesbandiah, Beddy Samsi dan Setiasih bentuk laporan audit yang paling umum adalah laporan audit bentuk buku dengan pendapat wajar tanpa pengecualian tetapi jenis pendapat ini tidak selalu diberikan kepada perusahaan yang laporan keuangannya dalam kondisi atau situasi yang menyebabkan penyimpangan dari pendapat wajar tanpa pengecualian dan dampak tersebut secara materialitas. Dari data yang diperoleh dari kantor Akuntan Publik Koesbandiah, Beddy Samsi dan Setiasih selama tahun 2011-2012 telah mengaudit 10 perusahaan tetapi tidak semua perusahaan mendapat pendapat wajar tanpa pengecualian dan di antara 10 perusahaan tersebut ada 2 perusahaan yang mendapat pendapat wajar dengan pengcualian dan 8 perusahaan yang lainnya mendapat pendapat wajar tanpa pengecualian. Berdasarkan hal tersebut penulis mengajukan skripsi berjudul:FaktorFaktor yang Mempengaruhi Akuntan Publik untuk Memberikan Pendapat Wajar dengan Pengecualian (study kasus pada kantor Akuntan Publik Koesbandiah, Beddy Samsi dan Setiasih Jl. P.H Hasan Mustopa No.58 Bandung.)

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukaan di atas penulis mengadakan penelitian untuk mengidentifikasi masalah-masalah berikut: 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi Akuntan Publik Koesbandiah, Beddy Samsih dan Setiasih untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian? 2. Faktor-faktor apa saja yang dominan mempengaruhiAkuntun Publik Koesbandiah, Beddy Samsih dan Setiasih untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian 2. Kegunaan Penelitian Peneliti atas fakto-faktor yang mempengaruh akuntan publik dalam memberikan pendapat wajar dengan pengecualian diharapkan dapat berguna bagi semua pihak yang berkepentingan dan disamping itu penelitian ini diharapkan dapat berguna baik secara: a. Kegunaan teoritis Pengembangan ilmu akuntansi, khususnya audit supaya dapat memberikan tambahan pengetahuan dimasa yang akan datang

mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik dalam memberikan pendapat wajar dengan pengecualian. b. Kegunaan Praktis Akuntan publik, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu masukan yang bermanfaat bagi kantor Akuntan Publik Koesbandiah, Beddy Samsi dan Setiasih, khususnya yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik

memberikan pendapat wajar dengan pengecualian.

D. Kerangka Pemikiran Auditing menurut Alvin A. Arens, Randal J. Elder dan Marks S. Beasley (2008:4) adalah pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi itu dan kritera yang telah ditetapkan. Audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen. Untuk melakukan audit harus tersedia informasi dalam bentuk yang dapat diverifikasikan dan beberapa standar (kriteria) yang dapat digunakan auditor untuk mengevaluasi informasi tersebut, yang dapat dan memang memiliki banyak bentuk. Tujuan audit umum di dalam Standar Profesional Akuntan Publik menurut komite standar auditing Ikatan Akuntansi Indonesia atau Komite Standar Auditing IAI ( 2001 ) adalah : Tujuan audit umum oleh auditor independen adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajiban dalam semua hal material, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesia.

Jenis pendapat auditor pada hasil audit laporan keuangan Menurut Alvin A.Arens,Randal J.Elder dan Marks S.Beasley (2008:69) adalah: pendapat wajar tanpa pengecualian, pendapat wajar tanpa perkecualian dengan tambahan bahasa penjelas, pendapat dengan pengecualian, pendapat tidak wajar dan pendapat tidak memberikan pendapat. Dalam paragraf ketiga dalam laporan audit bentuk baku merupakan paragraf yang digunakan oleh auditor untuk menyatukan pendapatnya mengenai laporan keuangan yang disebutkannya dalam paragraf pengantar. Dalam paragraf ini auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan auditan, dalam suatu hal yang material, yang didasarkan atas kesesuaian penyusunan laporan keuangan tersebut dengan prinsip akuntansi berterima umum, menurut Mulyadi Kanaka Puradireja (1998:18) adalah: Pendapat wajar tanpa pengecualian adalah pendapat yang diberikan auditor jika tidak terjadi pembatasan dalam lingkup audit dan tidak terdapat pengecualian yang signifikan mengenai kewajaran dan penerapan prinsip akuntansi yang berterima umum dalam penyusunan laporan keuangan konsistensi penerapan prinsip akuntansi berterima umum tersebut, serta pengungkapan memadai dalam laporan keuangan. Ada tiga kondisi yang menyebabkan penyimpangan diantaranya pembatasan lingkup audit, laporan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan auditor tidak independen. Jika salah satu dari ketiga kondisi yang menuntut penyimpangan dari pendapat wajar tanpa pengecualian, ditemukan dalam audit dan dampaknya material, auditor harus memberikan pendapat selain wajar tanpa pengecualian dalam laporannya. Tiga jenis laporan audit yang paling penting untuk kondisi ini adalah pendapat wajar (adverse opinion), pernyataan

tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion) dan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion). 1. Pendapat tidak wajar Pendapat tidak wajar hanya diberikan jika auditor merasakan bahwa keseluruhan laporan keuangan yang disajikan memuat salah saji yang materil atau menyesatkan sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan atau hasil operasi perusahaan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. 2. Pernyataan tidak memberikan pendapat Suatu pernyataan tidak memberikan pendapat dilakukan jika auditor tidak berhasil untuk menyakinkan dirinya sendiri bahwa keseluruhan laporan keuangan disajikan secara wajar pernyataan tidak memberi pendapat timbul karena banyak pembatasan lingkup audit. 3. Pendapat wajar dengan pengecualian Pendapat wajar dengan pengecualian dengan diberikan baik karena adanya pembatasan lingkup audit atau tidak ditaatinya prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pendapat wajar tanpa pengecualian hanya dapat diberikan jika auditor yakin bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar. Jika auditor merasa bahwa kondisi yang dilaporkannya sangat material maka pernyataan tidak memberikan pendapat atau pendapat tidak wajar harus dibuat.

Menurut Mulyadi Kanaka Puradireja (1998:19) jika auditor menjumpai kondisi-kondisi berikut ini maka auditor memberikan pendapat wajar dengan pendapat wajar dengan pengecualian dalam laporan audit. 1. Lingkup audit dibatasi oleh klien 2. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur auditing atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada diluar kekuasaan klien maupun auditor. 3. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. 4. Prinsip akuntansi yang berterima umum yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten.

E. Asumsi dan Pertanyaan Penelitian 1. Asumsi Anggapan dasar ditetapkan sebagai dasar berpijak bagi suatu permasalahan agar dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam penelitian. Anggapan dasar yang menjadi patokan adalah sebagai berikut: a. Didalam kantor akuntan publik pendapat wajar tanpa

pengecualian menjadi modal utama dalam

kemajuan suatu

perusaahaan karena laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik dan diberi pendapat wajar tanpa pengecualian (anqualified opinion) akan semakin dipercaya oleh para pemakai laporan keuangan.

b.

Jika pendapat yang dikeluarkan oleh akuntan publik itu selain pendapat wajar tanpa pengecualian terdapat tiga topik yang berkaitan erat satu sama lain: kondisi yang menunjukkan penyimpangan dari pendapat wajar tanpa pengecualian, jenis pendapat selain wajar tanpa pengecualian dan materialitas

2.

Pertanyaan Penelitian Berdasarkan anggapan tersebut diatas, maka pernyataan penelitian

yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi akuntan publik Koesbandiah, Beddy Samsih dan Setiasih untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian

F. Definisi Operasional Dalam upaya menyamakan persepsi, penulis akan menjelaskan istilah yang terdapat pada judul skripsi, sebagai berikut: 1. Faktor-faktor menurut kamus Bahasa Indonesia adalah hal yang ikut menyebabkan terjadinya sesuatu. 2. Mempengaruhi menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah mendesak atau memaksa supaya berbuat sesuatu 3. Pendapat wajar dengan pengecualian menurut Mulyadi Kanakan Puradireja (1998:19) pendapat wajar dengan pengecualian diberikan oleh auditor jika dalam auditnya auditor menemukan salah satu kondisi yang harus menggunakan istilah kecuali untuk (except for) dalam pendapat paragraf.
8

Memperhatikan pengertian istilah diatas, maka dimaksud dengan FaktorFaktor yang Mempengaruhi Akuntan Publik untuk Memberikan Pendapat Wajar dengan Pengecualian pada penelitian ini adalah segala penyebab yang mendesak atau memaksa akuntan publik untuk memberikan pendapat yang menunjukkan auditor menemukan kondisi yang harus menggunakan istilah kecuali untuk dalam pendapat paragraf.

BAB II KERANGKA TEORITIS A. 1. Auditing Pengertian Auditing Menurut Arens, Elder dan Beasley dalam buku berjudul Auditing dan Jasa Assurance (2008:4) audit adalah pengumpulan data dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi itu dan kriteria yang telah ditetapkan. Audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen. Arens dan Loebbecke (2003:1) mendefinisikan auditing sebagai proses pengumpulan dan pengevaluasikan bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menetukan dan melaporkan kesesuaian informasi dilakukan oleh seseorang yang independen dan kompeten. Secara umum auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang ditetapkan, serta penyampaian hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan. Ketiga definisi di atas dapat diketahui bahwa auditing mengandung unsurunsur sebagai berikut : a. Suatu proses yang sistematik yang dilaksanakan oleh orang yang kompeten
10

b.

Suatu proses yang sistematik yang berupa suatu rangkaian langkah atau prosedur yang logis, berkembang, terorganisasi, dan bertujuan.

c.

Aktivitas untuk menghimpun dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai keterangan terstruktur dari kesatuan ekonomi tertentu.

d.

Pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi, yaitu dari proses yang menghasilkan suatu pernyataan yang disajikan dalam laporan keuangan, yang umumnya terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, laporan laba yang ditahan, dan laporan arus kas.

e.

Aktivitas untuk menetapkan tingkat kesesuaian tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah di tetapkan

f.

Penyampaian hasil auditing atau atestasi dalam bentuk laporan audit kepada para pihak yang berkepentingan.

2.

Tujuan Audit Umum Tujuan audit umum di dalam Standar Profesional Akuntan Publik

menurut Komite Standar Auditing Ikatan Akuntansi Indonesia atau Komite Standar Auditing IAI ( 2001 ) adalah : Tujuan audit umum oleh auditor independen adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajiban dalam semua hal material, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

11

Apabila berdasarkan bahan bukti yang cukup, auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan tidak akan menyesatkan pemakai yang membaca secara seksama, dia akan memberikan pendapat audit mengenai kewajaran penyajian dan pengaitan namanya dengan laporan. Jika kenyataan yang terjadi setelah pernyataan itu diterbitkan ternyata menunjukkan laporan tidak disajikan secara wajar, auditor mungkin harus membuktikan kepada pengadilan atau badan lain yang berwenang bahwa dia telah melaksanakan audit dengan cara yang seharusnya dia lakukan dan mengambil kesimpulan yang pantas. 3. Jenis-jenis Audit Menurut Arens dan Loebbecke (2003:4) jenis audit dapat ditentukan berdasarkan tujuan dilaksanakan audit, yaitu : a. Audit Laporan Keuangan Bertujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan secara keseluruhan merupakan informasi terukur yang akan diverifikasikan yang telah disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu. umumnya, kriteria itu adalah prinsip akuntansi yang berlaku umum. Sering kali juga dilakukan audit laporan keuangan yang disusun berdasarkan basis kas atau basis akuntansi lainnya yang sesuai dengan kebutuhan organisasi yang bersangkutan. b. Audit Operasional Audit operasional merupakan penelaah atas bagian manapun dari prosedur dan metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisien dan efektifitasnya. Umumnya, pada saat selesainya audit operasional, auditor
12

akan memberikan sejumlah saran kepada manajemen untuk memperbaiki jalannya operasi perusahaan. c. Audit Ketaatan Bertujuan mempertimbangkan apakah auditi (klien) telah mengikuti prosedur atau aturan tertentu yang telah ditetapkan pihak yang memiliki otoritas lebih tinggi Cashin, dan kawan-kawan (1998:11), melakukan pembagian sebagai berikut : 1. Financial audit 2. Operasional audit 3. Compliance audit 4. Performance audit 5. Special reviews audit Special review audit merupakan suatu pemeriksaan khusus yang tidak termasuk dalam keempat kategori di atas, dan dalam melaksanakannya di perlukan kompetensi dan independensi dari seorang pemeriksaan. 4. Faktor-faktor Penyebab Laporan Keuangan Perlu di Audit Menurut Kell dan Boynton (1995:35) terdapat 4 alasan mengapa audit atas laporan keuangan diperlukan yaitu: 1. Perbedaan Kepentingan. Terdapat perbedaan yang dapat menimbulkan konflik antara manajmen sebagai pembuat dan penyaji laporan keuangan dengan para pemakai laporan keuangan. Manajemen berkepentingan dengan prestasi kerja yang
13

telah dicapainya untuk itu manajemen berupaya agar laporan keuangan perusahaan menampikan kinerja yang baik, pemegang saham tentu akan lebih senang dengan kebijakan dividen liberal yang memberikan deviden lebih besar sementara kreditor akan lebih senang bila tidak ada deviden dan para pemakai mengharapkan kepasitian dari akuntan publik bahwa laporan keuangan bebas dari pengaruh konflik kepentingan, khususnya kepentingan manajemen. 2. Konsekuensi Mereka menginginkan laporan keuangan berisi sebanyak mungkin informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan. Mereka

menginginkan adanya pengungkapan (disclosure) yang memadai. Para pemakai laporan keuangan mengandalkan akuntan publik untuk memastikan bahwa laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang bersifat umum. 3. Kompleksitas Dunia bisnis selalu berkembang pesat, akibatnya permasalahan akuntansi dan proses penyajian laporan keuangan pun menjadi semakin rumit dan kompleks. Peningkatan kompleksitas ini mengakibatkan semakin tingginya risiko kesalahan interpretasi dari penyajian laporan keuangan. Hal ini tentu akan menyulitkan pemakai laporan keuangan dalam mengevaluasi kualitas laporan keuangan. Oleh karena itu, mereka kemudian mangandalkan laporan hasil pemeriksaan yang dilakukan

14

akuntan publik guna memastikan kualitas laporan keuangan yang disajikan manajemen. 4. Keterbatasan akses (Remoteness) Umumnya para pemakai laporan keuangan memiliki keterbatasan akses terhadap data akuntansi diperusahaan. Terdapat jarak antara pemakai laporan keuangan dengan aktivitas perusahaan. Bila para pemakai ingin mengakses data secara langsung mereka menghadapi kendala waktu, biaya, ketelitian. Untuk itu para pemakai mempercayakan pemeriksaan kepada pihak ketiga yang independen, yakni akuntan publik. Menurut Sukrisno Agoes (2004:8) Laporan keuangan yang merupakan tanggung jawab manajemen perlu diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang merupakan pihak ketiga yang independen, karena: 1. Jika tidak diaudit, ada kemungkinan bahwa laporan keuangan tersebut mengandung kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Karena itu laporan keuangan yang belum diaudit kurang dipercaya kewajarannya oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut. 2. Jika laporan keuangan sudah diaudit dan mendapat opini unqualified (wajar tanpa pengecualian) dari KAP, berarti pengguna laporan keuangan bisa yakin bahwa laporan keuangan tersebut bebas dari salah saji yang material dan disaikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia.

15

3. Mulai tahun 2001 perusahaan yang total assetnya Rp 25 milyar keatas harus memasukkan audited financial statement-nya ke Departemen Perdagangan dan Perindustrian. 4. Perusahaan yang sudah go publik harus memasukan audited financial statements-nya ke Bapepam paling lambat 90 hari setelah tahun buku 5. SPT yang didukung oleh audited financial statement lebih dipercaya oleh pihak pajak dibandingkan dengan yang didukung oleh laporan keuangan yang belum diaudit. B. 1. Akuntan Publik Pengertian Akuntan Publik Menurut Mulyadi Kanaka Puradiredja (1998:46) Akuntan publik adalah akuntan yang berpraktik dalam kantor akuntan publik, yang menyediakan berbagai jasa yang diatur dalam Standar Profesi Akuntan Publik (auditing, atestasi, akuntansi dan review dan jasa konsultasi). Menurut Sukrisno Agoes (2004:43) akuntan publik adalah akuntan yang memiliki izin dari menteri keuangan atau pejabat yang berwanang lainnya untuk menjalankan praktik akuntan publik. Dari kedua definisi di atas dapat diketahui bahwa akuntan publik mengandung unsur-unsur sebagai berikut: a. Akuntan yang berprektik dalam kantor akuntan publik yang memiliki izin dari menteri keuangan b. Menyediakan berbagai jasa yang diatur dalam Standar Profesi Akuntan Publik (auditing, atestasi, akuntansi dan review dan jasa konsultasi).

16

2.

Fungsi Akuntan Publik

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) mempunyai tiga fungsi utama: menetapkan standar dan aturan, melaksanakan penelitian dan publikasi, serta

menyelenggarakan pendidikan lanjutan bagi para akuntan publik 1. Penetapan Standar dan Aturan IAI berwenang menetapkan standar (yang merupakan pedoman) dan aturan yang harus dipatuhi seluruh anggota dan akuntan publik lain yang beroperasi sebagai auditor independen. Persyaratan-persyaratan ini dirumuskan oleh komite-komite yang dibentuk oleh IAI ada empat bidang utama dimana IAI berwenang menetapkan standar dan membuat aturan. a. Standar auditing b. Standar kompilasi dan penelaahan laporan keuangan c. Standar atestasi lainnya. d. Kode etik profesi 2. Penelitian dan Publikasi Sementara peneliti oleh IAI masih sangat terbatas, AICPA secara aktif mendukung penelitian yang dilakukan oleh staf penelitiannya dan memberikan dana bantuan untuk itu. Beberapa terbitan priodik dan terbitan lagi mengenai akuntansi dan audit yang dikeluarkan IAI dan AICPA antara lain adalah: a. Jurnal berkala b. Akuntansi

17

c. Auditing d. Umum 3. Pendidikan Profesi Berkelanjutan Karena bidang pengetahuan akuntansi, audit, konsultasi manajemen dan perpajakan begitu luas dan selalu berkembang, seseorang akuntan publik terdaftar harus selalu mengikuti pendidikan secara terus menerus agar dapat mengikuti perkembangan aman. Baik IAI maupun AICPA secara terus menerus selalu menyelenggarakan penetaran, seminar, lokakarya, temu muka dan berbagai pendidikan lain bagi anggotaanggotanya dalam berbagai bidang yang berbeda. 3. Jasa yang Diberikan oleh Akuntan Publik Menurut Arens dan Loebbecke (2003:12) kantor akuntan publik melaksanakan empat jenis utama yaitu atestasi, perpajakan, konsultasi dan jasa akuntansi dan pembukuan. a. Jasa Atestasi Jasa atestasi meliputi semua kegiatan dimana kantor akuntan publik mengeluarkan laporan keuangan tertulis yang menyatakan kesimpulan atas keandalan asersi tertulis yang telah dibuat dan dipertanggung jawabkan pihak lain. Terdapat tiga jenis jasa atestasi: 1. Audit laporan keuangan historis merupaka jenis jasa atestasi yang dominan dari kantor akuntan publik.

18

2. Review. Banyak perusahaan non publik menerbitkan laporan keuangan kepada berbagai pemakai tetapi tidak bersedia membiayai audit atas laporan tersebut. 3. Jasa atestasi lainnya. Banyak jenis jasa atestasi lainnya yang dilaksanakan oleh auditor. Sekarang ini, KAP yang lebih agresif telah mengembangkan jasa-jasa baru semacam ini secara besar-besaran. b. Jasa Perpajakan Kantor akuntan publik menyusun surat memberitahuan pajak (SPT) pajak penghasilan dari perusahaan atau perseorangan, baik yang merupakan klien audit maupun yang bukan. c. Konsultasi Manajemen Sebagian besar kantor akuntan publik memberikan jasa tertentu yang memberikan kemungkinan pada kliennya untuk meningkatkan

efektifitas operasional. d. Jasa Akuntansi dan Pembukuan Banyak klien kecil dengan staf akuntansi yang terbatas menyerahkan pembuatan laporan keuangannya kepada kantor akuntan publik, sebagian kecil bahkan tidak mempunyai cukup karyawan untuk mengerjakan buku besar dan ayat jurnalnya. Menurut Mulyadi dan Kanaka Puradireja (1998:4) jasa yang dihasilkan oleh profesi kantor akuntan publik digolongkan menjadi dua kelompok :

19

a. Jasa Atestasi yaitu suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan orang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang signifikan, dengan kriteria yang telah ditetapkan, jasa atestasi dapat dibagi menajdi empat jenis : 1. Auditing Jasa auditing mencakup pemerolehan dan penilaian bukti yang mendasari laporan keuangan historis suatu entitas yang berisi asersi yang dibuat boleh manajemen entitas tersebut untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha entitas sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum diindonesia. Dalam hal ini auditor memberikan keyakinan positif ( positif assurance ) 2. Pemeriksaan ( Examination ) Auditor memberikan pernyataan pendapat tentang kesesuaian asersi yang dibuat oleh pihak lain dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dalam menghasilkan jasa pemeriksaan, akuntan publik memberikan keyakinan positif atas asersi yang dibuat manajemen. 3. Penelaahan ( Review ) Jasa review terutama berupa permintaan keterangan dan prosedur analitis terhadap informasi keuangan suatu entitas

20

dengan tujuan untuk memberikan keyakinan negatif atas asersi yang terkandung dalam informasi keuangan tersebut. 4. Prosedur yang disepakati ( Agreed upon prosedure ) Jasa atesti atas esersi manajemen dapat dilaksanakan dapat dilaksanakan oleh akuntan publik berdasarkan prosedur yang disepakati antara klien dengan akuntan publik, jasa ini lingkup pekerjaannya lebih sempit dibanding dengan auditing dan pemeriksaan. b. Jasa Non Atestasi Yaitu jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang didalamnya tidak memberikan pernyataan pendapat, keyakinan negatif, ringkasan temuan, atau bentuk lain kayakinan. Jasa non atestasi dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu : 1. Jasa Kompilasi Akuntan publik melaksanakan berbagai jasa akuntansi kliennya, seperti pencatatan (baik dengan manual maupun, dengan komputer ) transaksi akuntansi bagi klienya sampai dengan penyusunan laporan kuangan. 2. Jasa Perpajakan Meliputi bantuan yang diberikan oleh akuntan pihak kepada kliennya dalam pengisian Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan ( SPPT ), pajak penghasilan, perencanaan pajak, dan

21

bertindak mewakili kliennya dalam menghadapi masalah perpajakan. 3. Jasa Konsultasi Manajemen Merupakan jasa pemberian konsultasi dengan memberikan saran dan bantuan teknis kepada klien untuk meningkatan penggunaan kemampuan dan sumber daya untuk mencapai tujuan perusahaan klien. 4. Jenis Pendapat Auditor Dalam laporan audit bentuk baku, paragraf ketiga merupakan peragraf yang digunakan oleh auditor untuk menyatakan pendapat mengenai laporan keuangan yang disebutkan dalam paragraf pengantar.dalam paragraf ini auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan auditan, dalam semua hal yang material, yang didasarkan atas kesesuaian penyusunan laporan keuangan tersebut dalam prinsip akuntansi. Menurut Standar Profesional Akuntan Publik (PSA 29 SA seksi 508), ada lima jenis pendapat akuntan yaitu: a. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian Jika auiditor telah melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan standar auditing yang ditentukan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia, seperti yang terdapat dalam standar profesional akuntan publik, dan telah mengumpulkan bahan-bahan pembuktian yang cukup untuk mendukung opininya, serta tidak menemukan adanya kesalahan material atas

22

penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesia, maka auditor dapat memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian. b. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelas yang ditambahkan dalam Laporan Audit Bentuk Baku Pendapat ini diberikan jika terdapat keadaan tertentu yang

mengharuskan auditor menambahakan paragraf penjelas (atau bahasa penjelas lain) dalam laporan audit, meskipun tidak mepengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian yang dinyatakan oleh auditor. c. Pendapat Wajar dengan Pengecualian Kondisi tertentu mungkin memerlukan pendapat wajar dengan pengecualian. Pendapat wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal yang berkaitan dengan yang dikecualikan. d. Pendapat Tidak Wajar Suatu pendapat tidak wajar menyataka bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. e. Pernyatan Tidak Memberikan Pendapat Suatu pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Auditor tidak

23

menyatakan suatu pendapat bilamana ia tidak dapat merumuskan atau tidak merumuskan suatu pendapat tentang kewajaran laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

5.

Kondisi-kondisi yang menyebabkan Akuntan Publik. pemberian Pendapat a. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) Pendapat wajar tanpa pengecualian disebut juga clean opinion, pendapat

tanpa cacat, pendapat bersih dan lain-lain. Laporan audit yang berisi pendapat wajar tanpa pengecualian adalah laporan yang paling dibutuhkan oleh semua pihak baik oleh klien, pemakai informasi keuangan maupun auditor. Menurut Arens dan Loebbecke (2003:37) kondisi-kondisi untuk laporan dengan pendapat wajar tanpa pengecualian sebagai berikut: 1. Semua laporan keuangan-neraca, laporan laba-rugi, saldo laba, dan laporan arus kas sudah tercakup didalam laporan keuangan . 2. Ketiga standar umum telah diikuti sepenuhnya dalam penugasan. 3. Bahan baku yang cukup telah dikumpulkan dan auditor tersebut telah melaksanakan penugasan dengan cara yang memungkinkan baginya untuk menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah dipenuhi. 4. Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Itu berarti bahwa pengungkapan yang memadai telah disertakan dalam catatan kaki dan bagian-bagian lain laporan keuangan.

24

5. Tidak terdapat situasi yang memerlukan penambahan paragraf penjelasan atau modifikasi kata-kata dalam laporan. Sofyan Safri Harahap (1991:95) menyatakan persyaratan agar auditor memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian, yaitu: 1. Tidak ada pembatasan material yang dilakukan oleh perusahaan (klien) sewaktu akuntan melakukan pemeriksa sesuai dengan norma

pemeriksaan akuntan. a. Tidak ada pembatasan pelaksanaan pemeriksaan yang material yang disebabkan oleh keadaan yang memaksa. b. Laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Jika ada pos atau transaksi yang tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, namun jumlahnya tidak material masih dapat diberikan pendapat wajar. 2. Prinsip akuntansi yang diterapkan secara konsister dengan tahun sebelumnya. 3. Tidak ada hal yang sifatnya tidak menentu uncertainly dalam laporan keuangan. 4. Akuntan harus berada dalam posisi independen dalam arti tidak memihak, tidak mempunyai kepentingan ekonomis dalam perusahaan yang diperiksa dalam bentuk infact maupun in appearance 5. Akuntan dalam melakukan pemeriksaan harus berdasarkan norma pemeriksaan akuntan yang berlaku.

25

b. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelas yang ditambahkan dalam Laporan Audit Bentuk Baku (unqualified opinion with explanatory language) Pendapat ini diberikan jika terdapat keadaan tertentu yang mengharuskan auditor menambahkan paragraf penjelas pada laporan audit meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian yang dinyatakan oleh auditor, menutut Sukrisno Agoes (2004:50) keadaan tersebut melipuli: 1. Pendapat wajar sebagaian didasarkan atas laporan auditor independen lain. 2. Untuk mencegah agar laporan keuangan tidak menyesatkan karena keadaan-keadaan yang luar biasa, laporan keuangan disajikan menyimpang dari suatu prinsip akuntansi yang dikeluaran oleh Ikatan Akuntansi Indonesia. 3. Jika terjadi kondisi dan peristiwa yang semula menyebabkan auditor yakin tentang adanya kesangsian mengenai kelangsungan hidup entitas namun setelah mempertimbangkan rencana manajemen auditor berkesimpulan bahwa rencana manajemen tersebut dapat secara efektif dilaksanakan dan pengungkapan mengenai hal itu telah memadai. 4. Diantara priode akuntansi terdapat suatu perubahan material dalam penggunaan prinsip akuntansi atau dalam metode penerapannya. 5. Keadaan tertentu yang berhubungan dengan laporan keuangan komparatif.

26

6. Data keuangan kuartalan tertentu yang diharuskan oleh badan pengawas pasar modal (Bapepam) namun tidak disajikan atau tidak direview. 7. Informasi tambahan yang diharuskan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah dihilangkan, yang penyajian menyimpang jauh dari pedoman yang dikeluarkan oleh dewan tersebut, atau auditor tidak dapat melengkapi prosedur audit yang berkaitan dengan informasi tersebut, atau auditor tidak dapat menghilangkan keraguan yang besar apakah informasi tersebut sesuai dengan panduan yang dikeluarkan oleh Dewan tersebut. 8. Informasi lain dalam suatu dokumen yang berisi laporan keuangan yang diaudit secara meterial tidak konsisten dengan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. c. Pendapat Wajar dengan Pengecualian (qualified opinion) Menurut Agoes (2004:51) kondisi tertentu memungkinkan memerlukan pendapat wajar dengan pengecualian, pendapat wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal yang berkaitan dengan yang dikecualikan. Pendapat ini dinyatakan bilamana: 1. Ketiadaan bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan terhadap lingkup audit yang mengakibatkan auditor berkesimpulan bahwa auditor tidak dapat menyatakan pendapat wajar tanpa

27

pengecualian dan auditor berkesimpulan tidak menyatakan tidak memberikan pendapat. 2. Auditor yakin, atas dasar auditnya, bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yang berdampak material, dan auditor berkesimpulan untuk tidak menyatakan pendapat tidak wajar 3. Jika auditor menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian, auditor harus menjelaskan semua alasan yang menguatkan dalam satu atau lebih paragraf terpisah yang dicantumkan sebelum paragraf pendapat, auditor harus juga mencantumkan bahasa pengecualian yang sesuai dan menunjuk ke paragraf penjelasan didalam paragraf pendapat. Menurut Mulyadi Kanaka Puradireja (1998:19) jika auditor menjumpai kondisi-kondisi berikut ini maka auditor memberikan pendapat wajar dengan pendapat wajar dengan pengecualian dalam laporan audit. 1. Lingkup audit dibatasi oleh klien 2. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur auditing atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada diluar kekuasaan klien maupun auditor. 3. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. 4. Prinsip akuntansi yang berterima umum yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten.

28

d. Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion) Pendapat tidak wajar merupakan kebalikan pendapat wajar tanpa pengecualian. Akuntansi memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan prinsip akuntansi berterima umum sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan saldo laba, dan arus kas perubahan klien. Auditor memberikan pendapat tidak wajar jika auditor tidak membatasi lingkup auidtnya, sehingga auditor dapat mengumpulkan bukti kompeten yang cukup untuk mendukung pendapatnya. Jika laporan keuangan diberikan pendapat tidak wajar oleh auditor, maka informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan sama sekali tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi keuangan untuk pengambilan keputusan e. Pernyataan Tidak memberikan Pendapat (Disclaimer of Opinion) Jika auditor menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan, maka laporan auditor ini disebut dengan laporan tanpa pendapat (no opinion report). Kondisi yang menyebabkan auditor menyatakan tidak memberikan pendapat adalah: 1. Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit 2. Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya. Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar (adverse opinion) adalah: pendapat tidak wajar ini memberikan dalam keadaan auditor mengetahui adanya ketidakwajaran laporan keuangan klien, sedangkan auditor menyatakan tidak

29

memberikan pendapat (no opinion) karena auditor tidak cukup memperoleh bukti mengenai kewajaran laporan keuangan auditan atau karena auditor tidak independen dalam hubungannya dengan klien. Arens dan Loeboocke (2003:51) mengatakan ada dua katagori laporan audit yang bukan laporan audit standar, yaitu: 1. Laporan yang menyimpang dari laporan wajar tanpa pengecualian. a. Pendapat wajar dengan pengecualian (quclified opinion) b. Pendapat tidak wajar (adverse opinion) c. Pernyataan tidak memberikan pendapat (deselaimer opinion) 2. Laporan wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas atau modifikasi kata atau kalimat (unqualified report with explanatory language) Dari kondisi-kondisi yang menyebabkan Akuntan Publik pemberian Pendapat diatas dapat diketahui bahwa mengandung unsur-unsur sebagai berikut: 1. Setiap kondisi yang mempengaruhi auditor untuk memberikan pendapat ditenetukan atas kewajaran suatu data yang diperoleh dari klien 2. Standar umum telah diikuti sepenuhnya dalam penugasan Faktor-faktor yang mendorong Akuntan Publik dalam memberikan Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian Akuntan publik dan pembaca laporan perlu memahami situasi dimana laporan audit standar dengan pendapat wajar tanpa pengecualian tidak tepat dalam setiap situasi. Hal ini disebabkan adanya kondisi-kondisi atau faktor-faktor yang tidak dipenuhi baik oleh klien dan auditor, maupun faktor-faktor yang berada

30

diluar kekuasaan auditor atau klien. Menurut Kell dan Boynton (2001:868) faktorfaktor yang menyebabkan auditor menerbitkan qualified opinion, adverse opinion, dan disclaimer opinion (penyimpangan dari laporan standar ) adalah: 1. A scope limitation. 2. Non confirmity with GAAP (other then required non conformity with promulgated in usual circumstanses ). 3. Inconsistency in acconting principle not accounted for in conformity with GAAP. 4. Inadequote disclousure. 5. Uncertainity not accounted for inconfirnity with GAAP. 6. Subtantial doubt about an entitys going concern status not accounted for in confirmity with GAAP. 7. Circumtance pertaining to opinion based in part on report of another auditor. Kall dan Boynton (2001:867) juga mengemukakan keadaan-keadaan yang menyebabkan penambahan explanatory language. Pada laporan keuangan standar dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, yaitu: 1. Non confirmity with GAAP (other then required non conformity with promulgated in usual circumstanses ). 2. Inconsistency in acconting principle not accounted for in conformity with GAAP. 3. Uncertainity not accounted for inconfirnity with GAAP.

31

4. Subtantial doubt about an entitys going concern status not accounted for in confirmity with GAAP. 5. Empasiss of a matter by the auditor. 6. Opinion based in part onrepert of another auditor Arens dan Loeboocke (2000:50) mengemukakan kondisi yang

mengakibatkan penyimpangan dari laporan audit standar tanpa pengecualian sebagai berikut: 1. Ruang lingkup audit dibatasi oleh klien atau kondisi tertentu. 2. Laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. 3. Auditor tidak independen. 4. Prinsip akuntansi tidak diterapkan secara konsisten 5. Ketidakpastian yang material. 6. Keraguan atas kelangsungan hidup 7. Auditor setuju dengan penyimpangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum. 8. Penekanan atas suatu hal. 9. Penggunaan auditor lain. Mulyadi dan Kanaka Puradireja (1998:19) mengemukakan kondisi-kondisi yang menimbulkan tidak diberinya pendapat wajar tanpa pengecualian dalam laporan audit yaitu: 1. Luas pemeriksaan akuntan sangat dibatasi oleh klien.

32

2. Akuntan publik tidak dapat melaksanakan prosedur pemeriksaan yang penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada diluar kekuasaan klien maupun akuntan. 3. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim. 4. Prinsip akuntansi yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten. 5. Ada ketidakpastian yang luar bisa sifatnya yang mempunyai dapat terhadap laporan keuangan yang dapat diperkirakan dengan baik pada tanggal pembuatan laporan keuangan. 6. Akuntansi publik tidak bebas dalam hubungannya dengan klien. Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat dinyatakan bahwa faktor-faktor yg mempengaruhi auditor dalam hal memberikan pendapat pengecualian pada laporan keuangan adalah sebagai berikut: 1. Pembatasan ruang lingkup audit. Pembatasan ruang lingkup audit ini oleh Arens dan Loeboocke dialih bahasakan oleh Amir Abadi Jusuf (1997:40) dibagi dalam dua katagori utama yaitu: a. Pembatasan yang disebabkan oleh klien. Pembatasan yang disebabkan oleh klien pada lingkup audit adalah dalam hal pemeriksaan persediaan fisik dan konfirmasi piutang usaha. wajar dengan

33

b. Pembatasan yang disebabkan oleh keadaan diluar kekuasaan klien maupun auditor. Keadaan diluar auditor dan klien yang pembatasan lingkup auditor adalah penugasan yang baru disepakati setelah tanggal neraca. Dalam keadaan ini sulit untuk mengadakan pemeriksaan fisik persediaan konfirmasi piutang usaha dan melakukan prosedur audit lain yang diperlukan. 2. Laporan akuntansi tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum. Mulyadi dan Kanaka Puradireja (1998:20) prinsip akuntansi yang diterima umum meliputi standar akuntansi yang ditetepkan oleh IAI (seperti prinsip akuntansi indonesia). Pernyataan pendapat atau interpretasi yang bersifat menambah, menjelasan, mengganti atau memperluas arti prinsip akuntansi indonesia tersebut, dan berbagai praktek akuntansi yang belum diatur oleh prinsip akuntansi indonesia namun, berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kebiasaan yang berterima umum berlaku di indonesia. Para pemakai laporan keuangan berdasarkan keputusan-keputusan mereka atas hasil analisis mereka terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Hal ini dapat dilakukan dengan

membandingkan hasil laporan keuangan yang dihasilkan oleh berbagai perusahaan, dengan demikian laporan keuangan berbagai perusahaan tersebut harus disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang

34

berlaku umum. Auditor mempunyai fungsi meningkatkan mutu penyajian laporan keuangan perusahaan kepada masyarakat dengan cara melakukan audit atas kewajaran laporan keuangan tersebut ditinjau dari kesesuaian dengan prinsip akuntansi yang diterima oleh umum. 3. Prinsip akuntansi yang diterima oleh umum di indonesia tidak diterapkan secara konsisten. Komite Standan Akuntansi IAI (2001), dalam SA seksi 420 dikatakan bahwa tujuan standar konsistensi adalah untuk memberikan jaminan bahwa jika daya banding laporan keuangan diantara dua priode dipengaruhi secara meterial oleh perubahaan prinsip akuntansi, auditor akan mengungkapkan perubahaan tersebut dalam laporan audit konsistensi diperlukan untuk mendukung komparabilitas laporan keuangan dari satu periode ke periode berikutnya. Perubahan kadang dimungkinkan dan dibenarkan agar laporan keuangan dapat menyajikan posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya dan untuk menghindari informasi yang menyesatkan. 4. Ketidakpastian yang luar biasa (material). Dalam SA seksi 508 laporan auditor atas laporan keuangan auditan paragraf 29 (2001): Hal yang berkaitan dengan ketidakpastian adalah hal yang diharapkan dapat diselesaikan dimasa depan, yang ada pada saat itu bukti auditan yang bersifat konklusif tentang hasil diharap akan tersedia ketidakpastian mencakup, namun tidak terbatas pada kontijensi sebagai mana yang dijelaskan dalam pernyataan standar akuntansi keuangan.

35

5. Akuntan publik tidak independen dalam hubungannya dengan klien. Auditor dituntut untuk memenuhi keinginan kliennya karena klien yang membayar fee jasa yang disediakan oleh auditor tersebut. Dilain pihak auditor harus independen dari klien. IAI mencantumkan laporan mengenai independesi anggotanya dalam standar auditing dan lebih dirinci lagi dalam pernyataan Etika Profesi No.1 integritas Obyektifitas dan independensi. Definisi auditor yang independen Menurut Mulyadi dan Kanaka Puradireja (1998:27) adalah: Auditor independen adalah auditor yang tidak terpengaruh dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kegiatan yang berasal diluar dari auditor dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam audit Independensi auditor menurut Mulyadi dan Kanakan Puradureja (1998:25) mempunyai tiga aspek, yaitu: a. Independensi dalam arti auditor yang berupa kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan berbagai fakta yang ditemuinya dalam auditnya (independense in fact atau independensi dalam kenyataan). b. Independensi dipandang dari sudut pandang pihak lain yang mengetahui informasi yang bersangkutan dengan diri auditor (percivied independence atau independence in appeareance atau independensi dalam penempilan) c. Independensi dilihat dari sudut pandang keahliannya seseorang dapat mempertimbangkan faktor dengan baik jika

36

mempunyai keahlian mengaudit atas fakta tersebut. Auditor tidak memiliki independensi bukan karena tidak adanya kejujuran dalam dirinya melainkan karena tidak adanya keahlian mengenai objek yang diauditnya. Pernyataan Etika Profesi No 1 Integritas, Obyektivitas dan Independensi dalam buku Mulyadi dan Kanaka Puradireja (1998:50), menerangkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan independensi auditor dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Hubungan dengan keuangan klien b. Kedudukan dalam perusahaan c. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai dan tidak konsisten d. Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit. e. Hubungan keluarga dan pribadi f. Imbalan jasa atas profesioanal g. Penerimaan barang dan jasa dari klien h. Pemberian barang dan jasa kepada klien Dalam SA seksi 220 paragraf 02 (2001) dikatakan bahwa : Dengan demikiania tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapa pun, sebab bila mana pun keahlian teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak yang justru sangat penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya. Kemudian dalam SA seksi 220 paragraf 03 (2001) dikatakan sebagai berikut:

37

Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor ternyata terkurang, bahkan kepercayaan masyarakat dapat juga menurun disebabkan oleh keadaan yang oleh mereka yang berfikir sehat (reasoneble) dianggap dapat mempengaruhi sikap independensi tersebut. Untuk menjadi independen, auditor harus secara intelektual jujur. Untuk diakui pihak lain sebagai orang yang independen, ia harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai suatu kepentingan dengan kliennya, apakah itu manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan. Auditor independen tidak hanya tidak wajib mempertahankan fakta bahwa ia independen, namun harus pula menghindari keadaan yang dapat menyebabkan pihak luar meragukan sikap independensinya. 6. Karaguan atas kelangsungan usaha klien (going concorn) Dalam SA seksi 341 pertimbangan auditor atas kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya paragraf 01 (2001): Kelangsungan hidup entitas dipakai sebagi asumsi dalam pelaporan keuangan sepanjang tidak terbukti adanya informasi yang tidak menunjukkan hal yang berlawanan. Biasanya informasi yang secara signifikan berlawanan dengan asumsi kelangsungan hidup entitas adalah berhubungan dengan ketidak mampuan entitas dalam memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar melalui bisnis biasa. Restrukturisasi utang, perbaikkan operasi yang dipaksakan dari luar dan kegiatan serupa yang lain. Pada SA seksi 341 paragraf 02 (2001) diuraikan mengenai tanggung jawab auditor, sebagai berikut: Arens dan Loebbecke (2001:48 ) mengemukakan contoh faktor yang menimbulkan ketidakpastian mengenai kelangsungan hidup, yaitu: a. Kerugian usaha yang besar secara berulang atau kekurangan modal kerja.

38

b. Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiaban pada saat jatuh tempo. c. Kehilangan pelanggan utama, terjadinya bencana yang tidak dapat diasumsikan seperti gempa bumi atau banjir atau masalah perburuhan yang tidak biasa. d. Perkara pengadilan, gugatan hukum atau masalah-masalah serupa yang sudah terjadi yang dapat membahayakan kemampuan perusahaan untuk beroperasi. 7. Ada bagian audit yang dilaksanakan auditor lain. Jika klien kantor akuntan publik memiliki beberapa perusahaan anak dan devisi yang tersebar luas, merupakan hal yang lazim jika akuntan publik lain. Bila hal tersebut terjadi, maka auditor utama harus memperhatikan apakah ia telah melakukan bagian audit yang signifikan dari pada auditor kedua atau sebaliknya. Menurut Abdul Halim (1998:245) auditor harus mempertimbangkan beberapa hal berikut: a. Materialitas bagian laporan keuangan auditnya dibandingkan dengan auditor kedua. b. Luas pengetahuan mengenai laporan keuangan secara

keseluruhan dibandingkan dengan auditor kedua. c. Pentingnya komponen-komponen yang diauditnya dalam hubungan dengan perusahaan secara keseluruhan.

39

Jika auditor memastikan bahwa ialah auditor utama. Auditor utama harus menentukan apakah auditor utama harus mengacu atau tidak mengacu ke audit yang dilaksanakan auditor lain. Apabila auditor utama mengacu ke audit yang dilaksanakan oleh auditor lain, auditor utama tidak memikul tanggung jawab atas pekerjaan auditor lain. Sebaliknya apabila auditor utama tidak mengacu ke audit yang dilaksanakan auditor lain auditor utama memikul tanggung jawab atas pekerjaan auditor lain. Abdul Halim (1996:246) juga berpendapat auditor pada umumnya mau memikul tanggung jawab atas pekerjaan auditor lain apabila: a. Auditor mempercayai independensi dan reputasi profesional auditor lain sebagai pelaksanaan dan hasil audit oleh auditor lain dapat diandalkan. b. Bagian laporan keuangan yang diaudit auditor lain tidak material dibandingkan dengan laporan keuangan

keseluruhan yang menjadi tanggung jawab auditor utama untuk mengauditnya. Apabila auditor utama tidak mau mengambil risiko dengan memikul tanggun jawab atas pekerjaan auditor lain, maka auditor utama dapat merumuskan untuk mengacu ke audit yang dilaksanakan auditor lain. 8. Konsep risiko dan materialitasnya.

40

Oleh karena itu berdasarkan pertimbangan biaya manfaat, auditor tidak mungkin melakukan pemeriksaan atas semua transaksi yang dicerminkan dalam laporan keuangan auditor harus menggunakan konsep materialitas dan konsep risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan SA seksi 312 risiko audit dan materialitas dalam pelaksanaan audit paragraf 01 (2001) dikatakan bahwa: Risiko audit dan materialitas mempengaruhi penerapan standar auditing khususnya standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan serta tercermin dalam laporan bentuk buku. Risiko audit dan materialitas bersama hal-hal lain perlu dipertimbangkan dalam menentukan sikap, saat dan lingkup prosedur audit serta dalam mengevaluasi hasil prosedur tersebut. Laporan audit bentuk baku mengakui adanya risiko audit dengan pernyataan bahwa auditor memperoleh keyakinan memadai mengenai apakah laporan keuangan bebas salah saji material. Mulyadi dan Kanaka Puradireja konsep materialitas sebagi berikut: Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapat mengakibatkan perubahan atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu Kemudian dalam SA seksi 312 paragraf 04 (2001) diterangkan lebih lanjut sebagai berikut: Laporan keuangan mengandung salah saji material apabila laporan keuangan tersebut mengandung salah saji yang dampaknya, secara individual ataupun secara keseluruhan, cukup signifikan sehingga (1998:149) mengungkapkan

41

dapat mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan dengan secara wajar, dalam semua hal material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia. Salah saji dapat terjadi sebagai akibat dari kekeliruan atau kecurangan. Risiko audit dan material mempunyai hubungan berlawanan dengan bukti audit. Mulyadi dan Kanaka Puradireja (1998:157) menguraikan tentang hubungan tersebut: Jika materialitas rendah jumlah salah saji yang kecil saja dapat mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan sehingga auditor perlu bukti audit kompeten dalam jumlah banyak sebaliknya jika materialitas tinggi jumlah salah saji besar baru dapat mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan, sehingga auditor hanya perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah sedikit, demikian juga hubungan antara risiko audit dengan bukti audit. Semakin rendah risiko audit-auditor bersedia untuk menanggung risiko audit rendah ,sehingga tingkat kepastian yang diinginkan oleh auditor adalah tinggi auditor perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah banyak. Sebaliknya semakin tinggi risiko audit-auditor bersedia menanggung risiko audit tinggi sehingga tingkat kepastian yang diinginkan oleh auditor adalah rendah auditor perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah kecil saja. 9. Penekanan atas suatu hal.

42

Dalam keadaan tertentu mungkin akuntan publik ingin memberikan penekanaan pada hal spesifik mengenai laporan keuangan yang diauditnya. Meskipun auditor bermaksud memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian informasi penjelas ini harus disajikan dalam suatu paragraf terpesah dalam laporan audit. Menurut Arens dan Loebbacke (1997:46) penjelas yang dianggap perlu oleh auditor untuk dinyatakan dalam laporannya, yaitu: a. Adanya transaksi yang signifikan diantara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. b. Peristiwa penting yang terjadi setelah tanggal neraca c. Penjelasan mengenai masalah akuntansi yang mempunyai daya banding laporan keuangan tahun ini dengan laporan keuangan tahun sebelumnya. 10. Pengungkapan yang tidak cukup Laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum mencakup dimuatnya pengungkapan informasi yang memadai atas hal-hal material. Hal-hal tersebut, mencakup bentuk, susunan dan isi laporan keuangan ,serta catatan atas laporan keuangan sebagai contoh, istilah yang digunakan, rincian yang dibuat, penggolongan, unsur dalam laporan keuangan ,dan dasar-dasar yang digunakan untuk menghasilkan jumlah yang dicantumkan dalam laporan keuangan, auditor juga harus mempertimbangkan apakah masih terdapat hal-hal tertentu yang harus diungkapkan sehubungan

43

dengan keadaan dan fakta-fakta yang diketahui pada saat audit SA seksi 431, pengungkapan memadai dalam laporan keuangan (2001) memberikan penjelasan sebagai berikut: Bila manajemen menghilangkan dari laporan keuangan, informasi yang sebenarnya diungkapkan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia termasuk catatan atas laporan keuangan, auditor harus memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian atau pendapat tidak wajar karena alasan tersebut dan harus memberikan informasi yang cukup dalam laporannya, jika memungkinkan atau prektis kecuali tidak disajikannya informasi tersebut adalah sesuai dengan pernyataan standar auditing yang diterapkan Ikatan Akuntansi Indonesia. Didalam pertimbangan cukup atau tidaknya pengungkapan dan dalam segala aspek lain auditnya, auditor menggunakan informasi yang diterima dari kliennya atas dasar kepercayaan yang diberikan oleh kliennya. Oleh karena itu tanpa izin kliennya, auditor tidak boleh mengungkapkan informasi yang tidak seharusnya untuk diungkapkan dalam laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia. 11. Keterbatasan waktu penugasan audit. Penunjukan auditor independen secara dini akan memberikan banyak manfaat bagi auditor maupun klien penunjukan ini memungkinkan auditor merencanakan auditnya sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan secara cepat dan efesien. Serta dapat menentukan seberapa jauh audit dapat dilaksanakan sebelum tanggal neraca. Auditor juga dapat memberikan perhatian lebih terhadap persoalan-persoalan akuntansi yang berdampak terhadap laporan

44

keuangan dan akan segera mengusulkan modifikasi lebih dini terhadap prosedur akuntansi yang perlu diperbaiki. Kondisi ini juga dapat dinikmati manfaatnya oleh klien, meskipun demikian auditor juga dapat menerima penugasan mendekati atau setelah tanggal neraca. Hal ini terdapat dalam SA seksi 310 peragraf 04 (2001) Walaupun penunjukan dini lebih baik, auditor independen dapat menerima perkaitan pada saat mendekati atau setelah tanggal neraca. Dalam hal ini, sebelum menerima perkaitan, auditor harus yakin apakah konsisi seperti ini memungkinkan auditor melaksanakan audit secara memadai dan memberi pendapat wajar tanpa pengecualian.jika kondisi tersebut tidak memungkinkan auditor untuk melakukan audit secara memadai dan untuk memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian, auditor harus membahas dengan klien tentang kemungkinan auditor memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau tidak memberikan pendapat. Kadang-kadang keterbatasan audit yang timbul sebagai akibat kondisi diatas dapat diatasi sebagai contoh perhitungan fisik persediaan dapat ditunda atau dilakukan kembali dibawah pengamatan auditor independen. Mulyadi dan Kanakan Puradireja (1998:125) berpendapat bahwa: Pada umumnya waktu penugasan audit sudah diterima oleh auditor enam sampai dengan sembilan bulan sebelum akhir tahun klien. Jika waktu tersebut merupakan jangka waktu yang memadai bagi auditor untuk merencanakan secara seksama pekerjaan audit. 12. Komponen pengendalian intern. a. Control Environment Lingkungan pengendalian terdiri dari tindakan, kebijakan, dan prosedur yang mencerminkan sikap dan tindakan manajemen puncak, direktur dan pemilik perusahaan mengenai pengendalian kegunaannya bagi entitas. Inti dari kontrol dari organisasi yang

45

aktif adalah sikap dari manajemen, jika manajemen puncak percaya bahwa kontrol itu penting maka yang lain dalam perusahaan akan merespon secara hati-hati kontrol yang dibentuk b. Risk Assesment Proses dan perkiraan risiko yang timbul seharusnya diidentifikasi dan dipertimbangkan kesimpulan dari risiko-risiko yang

berhubungan perkiraan risiko yang timbul harus dipertimbangkan oleh faktor-faktor yang eksternal dan internal yang dapat mempengaruhi tujuan yang hendak dicapai dan harus ada analisis dari resiko-resiko dan menyediakan dasar. c. Pengendalian Aktivitas Pengertian aktivitas pengendalian menurut Arens dan Laebbecke (2000:295) adalah sebagi berikut: control activities are the policies and prosedur in addition to there inclued in the outher four componens thef help insure thet necessary action are taken to addres risk in the achievement of of the entitysobjectivies Jadi aktivitas pengendalian adalah kebijakan prosedur, pada perubahan termasuk dalam empat komponen lainnya, yang membantu memastikan bahwa aktivitas yang penting digunakan untuk menunjukan risiko pada tujuan prestasi entitas aktivitas pengendalian yang berhubungan dengan pemeriksaan meliputi: 1. Pemisahan tugas yang memadai.

46

2. Otorisasi yang penting atas transaksi dan aktivitas 3. Dokumen dan catatan yang memadai 4. Pengendalian fisik atas harta dan catatan 5. Pengecekan independen dan pelaksanaan d. Information dan Comunication Dengan informasi dan komunikasi memungkinkan orang-orang dalam perusahaan dapat menerima dan menukar informasi yang dibutuhkan untuk memimpin, mengelola dan mengendalikan organisasi. Informasi dan manajemen dalam membuat keputusan dalam pengelolaan dan pengendalian kegiatan perusahaan dan menyiapkan laporan keuangan yang layak. Komunikasi

merupakan proses pemahaman peran individual dan pertanggung jawaban sehubungan dengan pengendalian intern atas laporan keuangan. e. Monitoring Monitoring adalah proses untuk menentukan kualitas pengendalian intern sepanjang waktu. Monitoring melibatkan pengambilan tindakan koreksi. Proses ini dicapai dengan pengawasan yang berkesinambungan terhadap kegiatan operasi perusahaan. Evaluasi terpisah atau kombinasi keduanya seperti misalnya mempelajari pengendalian internal yang ada, laporan audit intern, laporan audit dari pihak luar (ekstern) perusahaan seperti pemerintahan dan bank, umpan balik dari karyawan dan masukan dari konsumen.

47

Dari hasil monitoring dapat diketahui kekuatan dan kelemahan perusahaan, sehingga dapat diusulkan pengendalian intern yang lebih baik. f. Kompetensi dan Objektivitas Auditor Intern SA seksi 322 pertimbangan auditor atas fungsi audit intern atas laporan keuangan, Mulyadi Kanaka Puradireja (1998:208) memberikan panduan bagi auditor auditor independen intern dan dalam dalam

mempertimbangkan

pekerjaan

menggunakan pekarjaan auditor intern dan dalam menggunakan pekerjaan auditor intern untuk membantu pelaksanaan audit atas laporan keungan klien. Abdul Halim (1992:221) dalam jurnalnya berpendapat sebagai berikut: Dalam mengevaluasi kompetensi, auditor ekternal seharusnya mempertimbangkan kualifikasi staf auditor internal perusahaan klien, dalam mengevaluasi objektivitas, auditor eksternal seyogyanya mempertimbangkan tingkatan (level) dalam struktur organisasi klien yang menerima laporan dari auditor internal yaitu dari kepala bagian audit internal sampai kepimpinan bagian keuangan Dalam menetapkan kompetensi dan obyektivitas auditor intern menurut Mulyadi dan Kanaka Puradireja (1998:27) adalah sebagi berikut: auditor independen adalah auditor profesional yang menyediakan jasanya kepada masyarakat umum terutama dalam bidang audit atas laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya.

48

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode secara bahasa artinya adalah cara, alat yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan penelitian dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yaitu diartikan sebagai pemeriksaan yang teliti atau penyelidikan, sedangkan kata penyelidikan diartikan sebagai pemeriksaan dan kata menyelidiki berarti memeriksa dengan teliti, mengusut dengan cermat atau menelaah dengan sungguh-sungguh. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis. Metode ini merupakan metode penelitian yang memusatkan perhatian terhadap masalahmasalah aktual dan memungkinkan untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan data, menyusun dan mengklasifikasikannya untuk selanjutnya dilakukan analisis dengan cermat dan seksama. Metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif dengan study kasus adalah metode yang lebih menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah dari pada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi. Menurut Sugiyono (2010:15) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan
49

trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif /kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Sifat penelitian yang akan dilakukan bersifat survey artinya data pokok dikumpulkan dari sampel suatu populasi dengan menggunakan koesioner dan tingkat eksplenasi penelitian ini adalah deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan masalah sebenarnya secara factual mengenai subyek penelitian Lingkup penelitian adalah lapangan (field). Dimensi waktu dalam penelitian ini adalah cross-sectional artinya penelitian dilakukan hanya tahun X B. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Populasi : Akuntan publik di kantor akuntan publik Koesbandiah, Beddy Samsi dan Setiasih Jl. P.H Hasan Mustopa No.58 Bandung. yang berpraktik hingga tahun 2012 2. Sampling unit :Akuntan publik yang bertugas sebagai tim audit di kantor akuntan publik Koesbandiah, Beddy Samsi dan Setiasih Jl. P.H Hasan Mustopa No.58 Bandung.di selama tahun 2012 3. Frame :Daftar anggota dan akuntan publik yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) per januari.

C.

Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini dirangcang sebagai suatu penelitian empirik untuk melakukan

mengajukan beberapa pernyataan kepada responden yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian dalam bentuk kuesioner.

50

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini peneliti manggunakan keusioner (angket). 1. Operasionalisasi variabel Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik dalam memberikan pendapat wajar dengan pengecualian. Tabel 3.1 Berikut ini mengikhtisarkan variabal, dimensi dan indikator Tabel 3.1 Ikhtisar variabel, indikator dan dimensi

Variabel Faktor-faktor yang mempengaru hi akuntan publik memberikan pendapat wajar dengan pengecualian

Dimensi Pendapat wajar dengan pengecualian

Indikator 1. Pembatasan ruang lingkup audit


2. Laporan keuangan tidak disajikan sesuai

dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesia


3. Prinsip akuntansi yang berlaku umum

tidak diterapkan secara konsisten


4. Akuntan publik tidak independen dalam

hubungannya dengan klien

D.

Teknik Pengolahan Analisis data merupakan proses penyederhanaan data kedalam bentuk

yang paling mudah dibaca dan diinterpretasikan untuk lebih menyederhanakan data penelitian menjadi informasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami

51

maka dalam penelitian ini digunakan statistik untuk memproses data yang diperoleh. Analisis akan dilakukan untuk masing-masing indikator agar dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian. Sebelum kuesioner dibagikan kepada responden terlebih dahulu dilakukan uji coba (pretest) sehingga jika terdapat kekurangan dalam kuesioner tersebut dapat disempurnakan sebelum benar-benar dioperasionalkan dilapangan Selanjutnya dalam menganalisis data menggunakan rumus rata-rata untuk kemudian dibuatkan tabel interpretasi. Menurut Sugiyono (2010:47) untuk menghitung data bergolong tersebut, maka terlebih dahulu data tersebut disusun menjadi tabel berikut sehingga perhitungannya mudah dilakukan. rumus untuk menghitung mean dari data adalah: Me =

Keterangan: Me Fi = mean untuk data = jumlah data/sampel

FiXi = produk perkalian antara Fi pada tiap interval data dengan tanda kelas (Xi) tanda kelas X adalah rata-rata dari batas bawah dan batas dan batas pada setiap interval data.

52

Tabel 3.2 Interpretasi variabel No 1 2 3 4 5 6 Rata-rata skor 0,00 0,82 0,83 1,66 1,67 2,49 2,50 3,32 3,32 4,16 4,17 5,00 Penafsiran Sangat tidak dominan Tidak dominan Tidak cukup dominan Cukup dominan dominan Sangat dominan

Sumber: Pokok-Pokok Statistik Deskriptif : Iqbal (2008:80) E. Teknik Analisis Analisis data merupakan proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang paling mudah dibaca dan diinterpretasikan untuk lebih menyederhanakan data penelitian menjadi informasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami maka dalam penelitian ini digunakan statistik untuk memproses data yang diperoleh. Analisis akan dilakukan untuk masing-masing indikator agar dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan tanpa pengecualian seperti yang dirumuskan dalam BAB II prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Hitung untuk semua indikator, jumlah responden yang menjawab skor 4,5,6, responden dengan jawaban ini mengidentifikasikan bahwa indikator tersebut secara signifikan mendorong akuntan publik memberikan pendapat wajar dengan pengecualian. 2. Hitung untuk semua indikator, jumlah responden yang menjawab Skor 1,2,dan3. Responden dengan jawaban ini mengidentifikasikah

53

bahwa indikator tersebut tidak signifikan mendorong akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian. 3. Rumus yang digunakan chi kuadrat untuk mengetahui signifikan perbedaan frekuensi responden yang menjawab skor 4,5 dan 6 dengan responden yang menjawab skor 1,2 dan 3. Selanjutnya dalam menganalisis chi kuadrat dilakukan langkahlangkah sebagai berikut: a. Rumusan :jumlah frekuensi jawaban yang tercakup dalam skor 4,5 dan6 berbeda dengan jumlah frekuensi jawaban yang tercakup dalam skor 1,2, dan3. :jumlah frekuensi yang tercakup dalam skor 4,5 dan 6 tidak berbeda dengan jumlah frekuensi jawaban yang tercakup dalam skor 1,2 dan 3 b. Tentukan jumlah observasi dan jumlah kategori (k) c. Tentukan tingkat signifikan ()-0,05 d. Tentukan kriteria pengujian, dimana dalam penelitian ini menggunakan pengujian satu sisi: diterima jika ditolak jika X , f = k - 1 > , f = k 1

Dengan syarat kelompok I > kelompok II e. Tentukan nilai dengan rumus: ( )

54

didistribusikan dengan degree of freedom = k-1 : Oi = frekuensi yang diobservasi Ei = frekuensi yang diharapkan K = jumlah kategori Df = degree of freedom x2 = chi kuadrat

55

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. 1. Gambaran Umum Kantor Akuntan Publik Sejarah Kantor Akuntan Publik Praktek akuntan di Indonesia di mulai sejak jaman VOC (1642). Akuntan akuntan Belanda itu kemudian mendominasi akuntan di perusahaan-perusahaan yang dimonopoli penjajah hingga abad 19. Pada masa pendudukan Jepang, pendidikan akuntansi hanya diselenggarakan oleh Departemen Keuangan berupa kursus akuntansi di Jakarta. Pesertanya pada saat itu 30 orang termasuk Prof.Soemardjo dan Prof. Hadibroto. Bersama empat akuntan lulusan pertama Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan enam lulusan Belanda, Prof. Soemardjo merintis Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tanggal 23 Desember 1957. Pada tahun yang sama pemerintah melakukan nasionalisasi perusahaan milik Belanda. Hal ini menyebabkan akuntan akuntan dari Belanda kembali ke negerinya dan sejak itu para akuntan Indonesia semakin berkembang. Perkembangan itu semakin pesat setelah presiden meresmikan kegiatan pasar modal 10 Agustus 1977 yang membuat peranan akuntan dan laporan keuangan menjadi penting. Bulan Januari 1986 Menteri Keuangan mengeluarkan SK Nomor 43/1986 tentang jasa akuntan menggantikan Kepmenkeu 763/1977. Selain mewajibkan akuntan publik memiliki sertifikat akuntan publik, juga akuntan publik asing diperbolehkan praktek di Indonesia, sepanjang memenuhi persyaratan.
56

Pada

tahun

2002

Menteri

Keuangan

mengeluarkan

SK

Nomor

423/KMK.06/2002 tentang jasa akuntan publik menggantikan SK Nomor43/1997. Selain mewajibkan Akuntan Publik memiliki sertifikat akuntan publik, juga akuntan publik asing diperbolehkan praktek di Indonesia, sepanjang memenuhi persyaratan. Pada tahun 2002 Menteri Keuangan mengeluarkan SK Nomor

423/KMK.06/2002 tentang jasa akuntan publik menggantikan SK Nomor 43/1997. 1. Kantor Akuntan Publik (KAP) Roebiandini & rekan, ditetapkan secara hukum pada tanggal 16 oktober 2008 berdasarkan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 684/KM.1/2008. KAP Roebiandini & rekan merupakan kelanjutan dari KAP Ilya Avianti & rekan yang didirikan dan ditetapkan secara hukum pada tanggal 28 Maret 1996 berdasarkan Surat Keputusan MenteriKeuangan Republik Indonesia Nomor : SI.415/ MK.17/1996 dan Nomor :

SI.416/MK.17/1996 dan telah diperbaharui pada tanggal 29 Oktober 1998 oleh Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : KEP-1045/KM.17/1998. Sebagai kelanjutan dari KAP Ilya Avianti & Rekan, KAP Roebiandini & Rekan memperoleh rekomendasi dari Ikatan Akuntan Indonesia dari Cabang Jawa Barat dengan Nomor: 07/ SEK/III/ 1995 maupun dari pusat dengan Nomor :

275/SEKKEN/XI/1995. terhitunga tanggal 3 Juli 1998 terdaftar sebagai anggota Forum Akuntan Pasar Modal dengan Nomor Surat

57

Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal, No. 441/PM/STTDAP/PM/2006. Kantor Akuntan ini juga terdaftar pada Ikatan Akuntan Indonesia seksi Kompartemen Akuntan Publik dengan No. Reg. KAP 800 dan No. Reg. KAP 600. Saat ini KAP Roebiandini dan rekan berkedudukan di Jalan Raden Patah No. 7 Bandung 40132. 2. Kantor Akuntan Publik (KAP) Sanusi, Supardi, dan Soegiharto. Berdiri padatanggal 23 Oktober 1998 berdasarkan Izin usaha Kantor Akuntan Publik ini adalah keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.Kep.949/KM.17/1998 yang di pimpin oleh bapak Deddy Supardy dengan No.izin 98.1.0281. Merupakan kantor akuntan yang bergerak dibidang penyediaan jasa akuntansi, jasa audit, jasa perpajakan, konsultasi manajemen dan system informasi.. Kantor Akuntan Publik ini beralamat di Jl. Cikawao No.40 Bandung. 3. Kantor Akuntan Publik (KAP) La Midjan dan Rekan, berdiri pada tanggal 24 Juli 1981 berdasarkan surat izin usaha nomor SI01120/MK.4/1981 dari Departeman Keuangan Republik Indonesia Nomor SI-464/SK 11/1987. Pada awal berdiri, Kantor Akuntan Publik ini bernama Drs. La Midjan yang dipimpin langsung oleh bapak La Midjan. Pada tahun 1996 berdasarkan surat keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor SI-1359/MK.17/1990 berganti nama menjadi Drs La Midjan dan Rekan, hal ini terjadi karena pimpinan Kantor Akuntan Publik ini meninggal dunia. Berdasarkan surat izin menteri keuangan Republik Indonesia di atas aktivitas dan

58

kepemimpinan Kantor Akuntan Publik dilanjutkan oleh putra beliau Drs. Azhar Susanto, Mbus. Kantor AkuntanPublik ini melayani jasa akuntansi, jasa audit, konsultasi manajemen dan penyusunan sistem informasi akuntansi dan sistem informasi manajemen berbasis manual dan komputer. Saat ini Kantor Akuntan Publik La Midjan dan Rekan beralamat di Jl. Ir. H. Juanda No 207 Bandung 4. Kantor Akuntan Publik (KAP) DRS. Gunawan Sudrajat, berdiri pada bulan Mei tahun 2004 oleh DRS. Gunawan Sudrajat. Di Bandung. Semula DRS. Gunawan Sudrajat. merupakan rekan dari Kantor Akuntan Publik Riza, Andiek & Zainuddin di jakarta yang didirikan pada tahun 1996 dan membubarkan diri pada tahun 2003. Tujuan dari pendirian Kantor Akuntan Publik DRS.Gunawan Sudrajat adalah untuk memberikan layanan kepada publik pengguna jasa kantor

akuntan seperti: jasa Audit Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Atestasi, jasa Review Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Keuangan dan jasa Konsultasi. Adapun alamat kantor adalah di Komplek Taman Golf Arcamanik Endah Jl.Golf Timur III No.1 Bandung 40293 5. KAP.Dr.H.E.R.Suhardjadinata,Ak.,MM Merupakan kantor akuntan yang bergerak dibidang Registered public accounting, Tax, Finance & Management Consultants. Izin usaha Kantor Akuntan Publik ini adalah keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia

59

No.Kep.038/KM.6/2004 tanggal 27 Januari2004. Kantor Akuntan Publik ini beralamat di Jl. Venus Raya No. 14 Mertro Bandung 40286. 6. Kantor Akuntan Publik DRS. Sehat, Bukit, Kataren& Rekan, Merupakankantorakuntan yang bergerak dibidang General Audit, audit Khusus, jasa perpajakan,dan jasa management. adapun alamat kantor adalah di Jl.Cikutra No.148Bandung 40225. 7. Kantor Akuntan Publik Koesbandijah, Beddy Samsi & Setiasih berdiri pada tanggal 29 Oktober Tahun 1998 oleh Beddy Robedi Samsi. Izin usaha KantorAkuntan Publik ini adalah keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.Kep-1032/Km.17/1998. Kantor Akuntan Publik Koesbandijah, Beddy Samsi & Setiasih memberikan layanan kepada publik pengguna jasa kantor akuntan seperti: jasa Audit Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Atestasi, jasa Review Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Keuangandan jasa Konsultasi. Adapun alamat kantor adalah di Jl. P.H. Hasan MustopaNo.58 Bandung 40124. 8. Kantor Akuntan Publik Hendrawinata Gani & Hidayat ( Cab), berdiri pada tanggal 29 Januari 2008. Izin usaha Kantor Akuntan Publik ini adalah keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.Kep58/KM.1/2008. Kantor Akuntan Publik Hendrawinata Gani & Hidayat (Cab), memberikanlayanan kepada publik pengguna jasa kantor akuntan seperti: jasa AuditLaporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Atestasi, jasa Review LaporanKeuangan, jasa Kompilasi

60

Laporan Keuangan dan jasa Konsultasi. Adapun alamat kantor adalah di Jl. Peta Kopo Plaza Blok A-14 Bandung 40233. 9. Kantor Akuntan Publik (KAP) DRS. Moch. Zainuddin, berdiri pada bulan Mei tahun 2004 oleh DRS. Moch. Zainuddin, AK. Di bandung. Semula DRS. Moch. Zainuddin, Ak. merupakan rekan dari Kantor Akuntan Publik Riza, Andiek & Zainuddin di jakarta yang didirikan pada tahun 1996 dan membubarkan diri pada tahun 2003. Tujuan dari pendirian Kantor Akuntan Publik DRS. Moch. Zainuddin adalah untuk memberikan layanan kepada publik pengguna jasa kantor akuntan seperti : jasa Audit Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Atestasi, jasa Review Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Keuangan dan jasa Konsultasi. Adapun alamat kantor adalah di Holis Pesona Taman Burung Blok C-7 Bandung 40215. 10.Kantor Akuntan Publik (KAP) Prof. Dr.H.TB.Hasanuddin & Rekan, berdiri pada bulan oktober tahun 2003. Dengan ijin usaha No.KEP353/KM.6/2003 Tujuan dari pendirian Kantor Akuntan Publik Prof. Dr.H.TB.Hasanuddin & Rekan adalah untuk memberikan layanan kepada publik pengguna jasa kantor akuntan seperti : jasa Audit Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Atestasi, jasa Review Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Keuangandan jasa Konsultasi. Adapun alamat kantor adalah di Holis Pesona

TamanBurung Blok C-7 Bandung 40215Kantor Akuntan Publik mempunyai tanggung jawab yang lebih jelas dan lebih banyak

61

persyaratan professional yang harus dipenuhi oleh kantor akuntan publik publik daripada organisasi lainnya karena tanggungjawabnya lebih besar terhadap pemakai laporan audit. Kantor Akuntan Publik mempunyai hak legal untuk melaksanakan laporan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku. Bentuk hukum suatu kantor akuntan publik dapat berupa perusahaan perseorangan atau

persekutuan. Kantor Akuntan Publik memiliki tanggung jawab yang besar, sehingga merupakan hal penting bagi auditor yang bekerja dikantor akuntan publik memiliki independen dan pengalaman tinggi. 2. Sejarah Kantor Akuntan Publik Koesbansiah,Beddy Samsi dan setiasih. Kantor Akuntan Publik Koesbandijah, Beddy Samsi & Setiasih berdiri pada tanggal 29 Oktober Tahun 1998 oleh Beddy Robedi Samsi. Izin usaha KantorAkuntan Publik ini adalah keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.Kep-1032/Km.17/1998. Kantor Akuntan Publik Koesbandijah, Beddy Samsi & Setiasih memberikan layanan kepada publik pengguna jasa kantor akuntan seperti: jasa Audit Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Atestasi, jasa Review Laporan Keuangan, jasa Kompilasi Laporan Keuangandan jasa Konsultasi. Adapun alamat kantor adalah di Jl. P.H. Hasan MustopaNo.58 Bandung 40124.

62

3.

Struktur Organisasi Kantor Akuntan Publik

Partner/managing partner

Manajer audit

Auditor senior

Expert advisory team ( Tim penesihat ahli) a. Database administrator b. Office personal division

Office sceretary

Auditor senior

Adapun penjelasan jabatan diatas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Partner/managing partner Partner adalah orang yang memiliki kantor akuntan publik dan bertanggung jawab penuh atas kegiatan kantor akuntan publik serta menduduki jabatan tertinggi dalam penugasan audit, partner

menendatangani laporan audit dan managemen letter dan bertanggung jawabterhadap penegihan free audit dari klien, seorang partner harus memiliki pengalaman minimal 10 tahun.

63

2. Manajer audit Manajer audit bertindak sebagai pengawas audit bertugas untuk membantu auditor seniaordalam merencanakan program audit dan waktu audit mereviewkertas kerja, laporan audit dan management letter. Biasanya manajer melakukan pengawasan terhadap pekerjaan auditor senior. Pekerjaan manajer tidak berada dikantor klien, melainkan dikantor auditor, dalam bentuk pengawasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan pada auditor senior.manajer harus memiliki pengalaman minimal 5 tahun 3. Auditor senior Auditor senior bertugas untuk melaksanakan audit, bertanggung jawab untuk mengusahakan biaya audit dan waktu audit sesuai dengan rencana bertugas untuk mengarahakan dan me-reviewpekerjaan auditor junior. Auditor senior biasanya hanya menetap dikantor klien sepanang prosedur audit dilaksanakan, umunnya auditor senior melakukan audit terhadap suatu objek pada saat tertentu. 4. Auditor junior Auditor melaksanakan prosedur audit rinci, membuat kertas kerja untuk mendokumentasikan pekerjaan audit yang telah dilaksanakan. Pekerjaan ini biasanya dipegang oleh auditor yang baru saja menyelesaikan pendidikan formalnya disekolah. 5. Expert Advisory Team Adalah tim penasihat ahli dibidangnya yang membentu para auditor, terdiri dari:

64

A. Database Administrator Ahli dibidang hardware dan software adapun tugasnya adalah sebagai berikut: 1. Membuat dan me-maintenense database kantor 2. Melakukan perawatan hardware dan software 3. Mengatur distribusi email yang keluar dan masuk 4. Men-support seluruh kebutuhan database tim auditor maupun tim konsultan B. Official Personal Division Membentu manajemen kantor dalam menyelesaikan

masalahdibidang kepegawaian diantaranya adalah: 1. Melaksanakan penerimaan ,penempatan dan administrasi pegawai 2. Membentu manajemen kantor dalam menyelesaikan

masalah dibidang kepegawaian C. Official Scretary Membentu kelencaran tugas pekerjaan kantor akuntan publik, dalam penyelenggaraantugas-tugas kesekertariatan yaitu: 1. Mengurus surat menyurat dan pengirimannya 2. Menerima dan mengirim telepon dan faksimile 3. Membentu manajemen dalam menyelesaikan masalah di dalam kesekertariatan dan rumah-tangga kantor

65

B. 1.

Hasil Penelitian Faktor-faktor yang mempengaruhi Akuntan Publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih memberikan Pendapat Wajar dengan Pengecualian Untuk memperoleh bukti-bukti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

akuntan publik untuk menerima penugasan audit, frame yang digunakan adalah daftar anggata dan kantor akuntan publik Koesbandiah, Beddy Samasi dan Setiasih yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) per Januari. Berdasarkan metode penumpukan data yang dilakukan dengan cara survey, jumlah kuesionar yang dikirimkan adalah 8 eksemplar. pembagian ini dimulai pada tanggal 1 Juni 2012 kepada masing-masing responden dan dikumpulkan kembali pada tanggal 18 Juni 2012. Dari 8 eksemplar kuesioner yang dibagikan untuk KAP Koesbandiah,Baddy Samsi dan Setiasih. 8 eksemplar kuesioner yang kembali dan dijawab dengan lengkap sehingga dari data ini dapat di ketahui bahwa tingkat jawaban yang dicapai adalah 100 % Selanjurnya kuesioner dari 8 responden tersebut ditabulasi dengan program microsoft excel 2000 Dari hasil jawaban responden dapat dibuat 4.1 pada halaman selanjutnya:

66

Tabel 4.1 Frekuansi jawaban responden faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik memberikan pendapat wajar dengan pengecualian No Faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik 1 memberikan pendapat wajar dengan pengecualian Faktor pembatasan ruang lingkup audit Faktor laporan keuangan tidak disajikan sesuia dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesia Faktor prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia tidak diterapkan secara konsisten Faktor akuntan publik tidak independen dalam hubungannya dengan klien Jumlah Frekuensi jawaban 2 3 4 5 Jumlah 6

1 2

6 -

4 -

10 15

18 30

38 45

10

24

38

10

30

44

45

102

165

Keterangan: Tidak signifikan : Skor 1 Skor 2 Skor 3 Antara tidak signifikan dan signifikan signifikan Skor 4 Skor 5 Skor 6

67

Untuk keperluan pengujian ini, jawaban responden untuk setiap faktor dikelompokan ke dalam dua kelompok yaitu: 1) Kelompok I: responden dengan jawaban 1,2,3 mengidentifikasikan bahwa responden tidak memperhatikan faktor-faktor yang

mempengaruhi akuntan publik memberikan pendapat wajar dengan pengecualian. 2) Kelompok II: responden dengan jawaban 4,5,6 mengidentifikasikan bahwa responden memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan

pengecualian pada laporan keuangan. Berdasarkan kelompok-kelompok tersebut dapat disusun tabel 4.2 yang mencerminkan frekuensi tiap kelompok jawaban responden tersebut untuk setiap faktor.

68

Tabel 4.2 Frekuansi tiap kelompok jawaban responden faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik memberikan pendapat wajar dengan pengecualian No Faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik memberikan pendapat wajar dengan pengecualian Faktor pembatasan ruang lingkup audit Faktor laporan keuangan tidak disajikan sesuia dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia Faktor prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia tidak diterapkan secara konsisten Faktor akuntan publik tidak independen dalam hubungannya dengan klien Jumlah Frekuensi jawaban Kelompok I Kelompok II Jumlah

1 2

6 -

32 45

38 45

34

38

44

44

10

155

165

Berdasarkan frekuensi jawaban tiap kelompok responden untuk setiap faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik memberikan pendapatan wajar dengan pengecualian pada laporan keuangan, dapat dibuat rangkuman analisis (chi square ) untuk setiap faktornya. a. Faktor pembatas ruang lingkup audit Tabel 4.2.1. Uji Oi Signifikan Tidak signifikan Total 32 6 38 (chi square ) Ei 19 19 38 Oi-Ei 13 -13 0 ( 169 169 338 ) ( 8,89 8,89 17,78 )

69

(chi square )=17,78: df-1:=0,05 =frekuensi yang diobservasi Ei=frekuensi yang diharapkan df=dugree of freedom (derajat kebebesan) Nilai (chi square ) diperoleh sebesar 17,78 adapun tabel dengan df -1

dan tingkat signifikasi yang ditetapkan -0.05 dapat diketahui sebesar 0,68 dengan demikian (chi square ) =17,78 lebih besar dari tabel =0,68, sehingga terdapat

perbedaan yang signifikan antara frekuensi kelompok I dan kelompok II Berdasarkan perhitungan ini dapat disimpulkan bahwa penelitian minor 1 ditolak sehingga faktor pembatas ruang lingkup audit mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian. b. Faktor Laporan Keuangan tidak disajikan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku Umum di indonesia.

Tabel 4.2.2 Uji Oi Signifikan Tidak signifikan Total 45 45 (chi square ) Ei 22,5 22,5 45 Oi-Ei 22,5 -22,5 0 ( ) 506,25 506,25 1012,50 ( 22,5 22,5 45 )

(chi square )=45: df-1:=0,05 =frekuensi yang diobservasi Ei=frekuensi yang diharapkan df=dugree of freedom (derajat kebebesan)
70

Nilai

(chi square ) diperoleh sebesar 45 adapun

tabel dengan df -1 dan

tingkat signifikasi yang ditetapkan -0.05 dapat diketahui sebesar 2 dengan demikian (chi square ) =45 lebih besar dari tabel =2, sehingga terdapat

perbedaan yang signifikan antara frekuensi kelompok I dan kelompok II Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penelitian minor 1 ditolak sehingga faktor laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian.

c.

Faktor Prinsip Akuntansi yang berlaku umum di Indonesia tidak diterapkan secara Konsisten.

Tabel 4.2.3 Uji Oi Signifikan Tidak signifikan Total 34 4 38 (chi square ) Ei 19 19 38 Oi-Ei 15 -15 0 ( 225 225 450 ) ( 11,84 11,84 23,68 )

(chi square )=23,68: df-1:=0,05 =frekuensi yang diobservasi Ei=frekuensi yang diharapkan df=dugree of freedom (derajat kebebesan) Nilai (chi square ) diperoleh sebesar 23,68 adapun tabel dengan df -1

dan tingkat signifikasi yang ditetapkan -0.05 dapat diketahui sebesar 0,62 dengan
71

demikian

(chi square ) =23,68

lebih besar dari

tabel =0,62, sehingga

terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi kelompok I dan kelompok II Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulan bahwa penelitian minor 1

ditolak sehingga faktor prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia tidak diterapkan secara konsisten mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian.

d.

Faktor Akuntan Publik tidak Independen dalam hubungannya dengan Klien. Tabel 4.2.4 Uji Oi (chi square ) Ei 22 22 44 Oi-Ei 22 -22 0 ( 484 484 968 ) ( 22 22 44 )

Signifikan Tidak signifikan Total

44 44

(chi square )=44: df-1:=0,05 =frekuensi yang diobservasi Ei=frekuensi yang diharapkan df=dugree of freedom (derajat kebebesan) Nilai (chi square ) diperoleh sebesar 44 adapun tabel dengan df -1 dan

tingkat signifikasi yang ditetapkan -0.05 dapat diketahui sebesar 1 dengan demikian (chi square ) =44 lebih besar dari tabel =1, sehingga terdapat

perbedaan yang signifikan antara frekuensi kelompok I dan kelompok II. berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penelitian minor 1 ditolak
72

sehingga faktor akuntan publik tidak independen dalam hubungannya dengan klien mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian. Atas dasar keseluruhan analisis tersebut dapat dibuat ikhtisar pada tabel 4.3 pada halaman selanjutnya.

2.

Faktor-faktor yang Dominan mempengaruhi Akuntan Publik Koesbandiah,Baddy Samsi dan Setiasih Memberikan Pendapat Wajar dengan Pengecualian. Tabel 4.3 Ikhtisar Analisis Chi Square

faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian

No 1 2

Indikator Faktor pembatasan ruang lingkup audit faktor laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesia Faktor prinsip akuntansi yang berlaku umum tidak diterapkan secara konsisten Faktor akuntan publik tidak independen dalam hubungannya dengan klien

Chi Square 17,78 45

3 4

23,68 44

Dari analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat Empat faktor yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan

73

pengecualian, diurutkan berdasarkan tingkat dominasinya dimulai dengan yang paling tinggi adalah sebagai berikut : 1. Faktor laporan keuangan tidak disajikan sesuia dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. 2. Faktor akuntan publik tidak independen dalam hubungannya dengan klien. 3. Faktor prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia tidak diterapkan secara konsisten 4. Faktor pembatasan ruang lingkup audit

Berdasarkan frekuensi jawaban responden yang digolongkan menjadi dua kelompok, penulis menyimpulkan bahwa faktor laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia merupakan faktor yang paling dominan karena hitung paling tinggi yaitu sebesar 45.

Dari pernyataan- pernyataan diatas dapat dinyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi Kantor Akuntan Publik Koesbandiah, Baddy Samsih dan Setiasih dalam hal memberikan pendapat wajar dengan pengecualian pada laporan keuangan adalah sebagai berikut: a. Laporan Keuangan tidak disajikan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku Umum di Indonesia. Kantor Akuntan Publik Kosbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih mengetahui bahwa laporan keuangan dapat menyesatkan karena tidak disiapkan sesuai dengan GAAP, dan klien tidak mampu atau tidak bersedia mengoreksi salah saji itu, klien

74

harus menerbitkan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar tergantung pada materialitas pos yang dipertanyakan. Pendapat itu harus dengan jelas menyatakan sifat penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum serta jumlah salah saji tersebut, pendapat wajar dengan pengecualian bila klien tidak mengkapitalisasi lease seperti yang disyaratkan oleh GAAP (prinsip-prinsip yang berlaku umum). Apabila jumlah sangat material atau pervatif sehingga diperlukan pendapat tidak wajar, maka ruang lingkup paragraf pendapat wajar tanpa pengecualian dan dengan pengecualian masih tetap sama. Apabila klien gagal memasukkan informasi yang diperlukan untuk menyajikan secara wajar laporan keuangan didalam laporan tersebut atau dalam catatan kaki terikat, maka merupakan tanggung jawab akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih untuk menyajikan informasi tersebut dalam laporan audit dan menerbitkan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar. Jadi sudah umum untuk menuliskan jenis kualifikasi atau pengecualian ini dalam paragraf tambahan sebelum paragraf pendapat (paragraf ruang lingkup tetap sama seperti dalam laporan wajar tanpa pengecualian), dan menunjuk ke paragraf tambahan dalam paragraf pendapat. Laporan peratuan 203 menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan GAAP dapat menjadi tugas yang sulit. Peraturan 203 dalam kode prilaku profesional memperkenankan penyimpangan dari prinsip-prinsip

akuntansi yang berlaku umum apabila kantor akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih yakin bahwa ketaatan pada prinsip tersebut akan menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan.

75

Apabila Kantor Akuntan Publik Koesbandiah, Baddy Samsih dan Setiasih memutuskan bahwa ketaatan pada GAAP dapat menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan, harus ada penjelasan yang lengkap dalam paragraf ketiga. Paragraf ini harus menjelaskan secara lengkap penyimpangan yang terjadi serta mengapa GAAP dapat menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan. Kemuadian paragraf pendapat harus berisi pendapat wajar tanpa pengecualian kecuali untuk hal-hal yang dibahas dalam paragraf ketiga. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya laporan audit seperti ini disebut sebagai laporan audit wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas. Tidak adanya laporan arus kas keengganan klien untuk memasukan laporan arus kas dibahas secara lebih khusus dalam SAS 58 (AU 508) apabila laporan arus kas ditiadakan harus dibuat paragraf ketiga yang menyatakan peniadaan laporan itu dan kualifikasi pendapat kecuali untuk b. Akuntan Publik tidak Independen dalam hubungannya dengan klien Jika Kantor akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih tidak dapat memenuhi persyaratan tidak dapat memenuhi persyaratan independensi yang dinyatakan dalam kode prilaku profesional, maka penolakan memberikan pendapat harus dilakukan walaupun semua prosedur audit yang dianggap perlu dalam situasi tersebut telah dilaksanakan. Jika adanya independensi akan mengesampingkan semua pembatasan ruang lingkup audit lainnya. Karena itu, tidak boleh ada perkataan tentang pelaksanaan prosedur audit apapun dalam laporan. Akibatnya, laporan audit ini merupakan laporan audit ini merupakan laporan audit satu paragraf.

76

c. Prinsip Akuntansi yang berlaku Umum di Indonesia tidak diterapkan secara Konsisten Standar pelaporan kedua mewajibkan kedua mewajibkan kantor akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsih dan Setiasih untuk menaruh perhatian pada kondisi-kondisi yang membuat prinsip akuntansi yang digunakan pada tahun berjalan dengan prinsip akuntansi yang digunakan pada tahun berjalan dengan prinsip akuntansi yang digunakan pada tahun sebelumnya. GAAP/PSAK menghendaki agar perubahan dalam prinsip atau metode akuntansi yang digunakan serta sifat dan pengaruh perubahan tersebut diungkapkan secukupnya. Saat suatu perubahan yang material terjadi, Kantor akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih harus memodifikasi laporannya dengan menambahkan suatu paragraf penjelas yang diletakkan setelah paragraf pendapat, paragraf penjelas ini membahas tentang sifat perubahan tersebut serta menunjukkan kepada para pembaca letak pembahasan perubahan prinsip akuntansi itu dalam catatan atas laporan keuangan. Materialitas perubahan prinsip akuntansi dievaluasi berdasarkan efek perubahan prinsip akuntansi yang dilakukan secara sukarela maupun perubahan prinsip akuntansi yang harus dilakukan karena adanya suatu pernyataan akuntansi yang baru. tersirat dalam paragraf penjelas bahwa Kantor akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih menganggap perubahan prinsip akuntansi tersebut telah dilakukan secara tepat. Jika Kantor akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih menganggap bahwa perubahan prinsip akuntansi tersebut tidak tepat untuk dilakukan, maka perubahan prinsip akuntansi tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran pada prinsip akuntansi yang berlaku

77

umum serta Kantor akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih harus memberikan pendapat wajar dengan pengecualian. Kantor akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih harus dapat menentukan perbedaan antara perubahan yang dapat mempengaruhi

komparabilitas tetapi tidak mempengaruhi konsistensi pelaporan serta perubahan yang dapat mempengaruhi komparabilitas tetapi tidak mempengaruhi konsistensi pelaporan. Contoh-contoh perubahan yang dapat mempengaruhi konsistensi pelaporan dan memerlukan suatu paragraf penjelas saat perubahan tersebut bersifat material: a. Prubahan prinsip akuntansi b. Perubahan dalam entitas pelaporan c. Perbaikan kesalahan yang melibatkan prinsip-prinsip akuntansi Hal-hal yang secara material mempengaruhi komparabilitas laporan keuangan umumnya memerlukan suatu pengungkapan informatif dalam catatan atas laporan keuangan. Suatu laporan audit wajar dengan pengecualian untuk pengungkapan informatif yang tidak memadai barang kali akan diperlukan pada saat klien menolak mengungkapkan dengan tepat hal-hal tersebut dalam catatan atas laporan keuangannya d. Pembatasan ruang lingkup audit Ada dua katagori utama pembatasan ruang lingkup audit pada kantor Koesbandiah, Baddy samsi dan Setiasih : pembatasan yang disebabkan oleh klien dan yang disebabkan oleh kondisi-kondisi yang berada pada diluar kendali klien ataupun kantor akuntan publik Koesbandiah,Baddy Samsi dan Setiasih. Kedua

78

jenis pembatasan ruang lingkup tersebut memiliki pengaruh yang sama terhadap laporan akuntan publik Koesbandiah,Baddy Samsi dan Setiasih, tetapi interpretasi materialitasnya mungkin berbeda. Bila ada pembatasan ruang lingkup audit, maka respons yang tepat adalah menerbitkan pendapat wajar tanpa pengecualian, kualifikasi (pengecualian) ruang lingkup dan pendapat audit, atau menolak memberikan pendapat, tergantung pada materialitasnya. Untuk pembatasan yang disebabkan oleh klien, auditor harus

mempertimbangkan kemungkinan bahwa manajemen berusaha mencegah ditemukannya informasi yang salah saji. Dalam kasus seperti ini, standar auditing menyarankan menolak memberikan pendapat bila materialitasnya diragukan. Apabila pembatasan ruang lingkup audit disebabkan oleh kondisi-kondisi yang berada diluar kendali klien, maka ruang lingkup dan pendapat wajar dengan pengecualian mungkin akan diterbitkan Dua jenis pembatasan yang terkadang diberlakukan oleh klien pada ruang lingkup akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih berkaitan dengan observasi fisik persediaan serta konfirmasi atas piutang usaha, tetapi jenis pembatasan lainnya juga terjadi. Alasan bagi klien untuk memberlakukan pembatasan audit dapat berupa keinginan untuk menghemat fee audit dan dalam kasus konfirmasi piutang usaha untuk mencegah kemungkinan terjadinya konflik antara klien dengan pelanggannya apabila jumlah yang dikonfirmasikan ternyata berbeda. Kasus yang paling umum di kantor akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih, kondisi yang berada diluar dari kendali klien dan akuntan

79

publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih menyebabkan pembatasan ruang lingkup audit, adalah penugasan yang disepakati setelah tanggal neraca klien. Konfirmasi atas piutang usaha pemeriksaan fisik persediaan, serta prosedur penting lainnya mungkin tidak mungkin dilaksanakan dalam situasi tersebut. Apabila akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih tidak dapat melaksanakan prosedur yang menurutnya harus dilakukan tetapi dapat dipenuhi dengan prosedur alternatif bahwa informasi yang diujikan secara wajar, maka pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diterbitkan jika prosedur alternatif tersebut tidak dapat dilaksanakan, maka ruang lingkup dan pendapat wajar dengan pengecualian atau menolak memberikan pendapat perlu diterbitkan tergantung pada materialitasnya. Pembatasan pada ruang lingkup pemeriksaan akuntan publik Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih memerlukan paragraf pengecualian yang mendahului paragraf untuk menjelaskan pembatasannya. Dalam kasus menolak memberikan pendapat, seluruh paragraf ruang lingkup dikeluarkan dari laporan. Selain faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian diatas kantor akuntan publik Koesbandiah, Beddy Samsi dan Setiasih memberikan tambahan selain keempat diatas yaitu adanya tambahan catatan dan pengungkapan yang dianggap penting namun masih dalam batas wajar untuk kelanjutannya memberikan opini.

80

C.

Hasil Temuan Ikatan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis akan mencoba

mengungkapkan beberapa masukan yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.

1.

Komentar Responden Dari 8 kuesioner yang kembali, diperoleh beberapa masukan atas faktor-

faktor lain selain faktor-faktor diatas yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian berdasarkan pengalaman dari setiap responden, diantaranya : 1. Laba ditahan atas laporan keuangan yang tidak diaudit tahun-tahun sebelumnya. 2. Ketidak yakinan atas saldo awal. 3. Adanya tambahan catatan dan pengungkapan yang dianggap penting namun masih dalam batasan wajar untuk kelanjutannya memberikan opini. D. Kelemahan Penelitian Peneliti menyadari bahwa masih banyak terdapat beberapa kelemahan dalam penelitian ini antara lain: 1. Terbatasnya waktu yang disediakan bagi responden dalam menjawab kuesioner yang diajukan. 2. Tidak menutup kemungkinan bahwa data jawaban yang diberikan oleh responden adalah bias.
81

3. Responden tidak memahami pernyataan yang diajukan dalam kuesioner sehingga jawaban yang diberikan kurang tepat. 4. Hasil penelitian ini hanya merupakan gambaran dari praktik akuntan publik di kantor Koesbandiah, Baddy Samsi dan Setiasih sehingga tidak mewakili seluruh akuntan publik yang ada di bandung.

82

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis bab IV, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian adalah: (disusun berdasarkan intensitasnya ) a. Pembatasan ruang lingkup audit b. Laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia c. Prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia tidak diterapkan secara konsisten. d. Akuntan publik tidak independen dalam hubungannya dengan klien 2. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan pengecualian adalah a. adanya tambahan catatan dan pengungkapan yang dianggap penting namun masih dalam batas wajar untuk kelanjutannya memberikan opini. b. Laba ditahan atas laporan keuangan yang tidak diaudit tahun-tahun sebelumnya. c. Ketidak yakinan atas saldo awal.

83

B.

SARAN Setelah melakukan penelitian ini penulis mempunyai saran sebagai berikut 1. Hasil penelitian yang dikemukakan pada bab sebelumnya hanya merupakan gambaran dari pengalaman praktek akuntan publik Koesbandiah,baddy samsi dan seiasih ,peneliti tidak dapat menyimpulkan apakah hasil ini merupakan gambaran dari akuntan publik diseluruh indonesia . dengan demikian, penulis

menyarankan agar peneliti lebih lebih lanjut ada baiknya dilakukan diseluruh indonesia 2. Dalam penelitian ini penulis tidak menggunakan uji validitas dan uji rentabilitas, untuk dapat menguji apakah pernyataan tersebut valid atau tidak dan apakah pernyataan tersebut dapat diandalkan (realiable) oleh sebab itu penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya mempergunakan uji validitas dan uji reantabilitas agar data yang diperoleh dapat lebih akurat dan dapat diandalkan 3. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, responden menembahkan faktor-faktor lainnya yang mendorong akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan tanpa

pengecualian berdasarkan pengalaman responden yang dapat dilihat pada temuan ikutan. Untuk itu penulis menyarankan untuk penelitian salanjutnya temuan ikutan tersebut dapat menjadi masukan sebagai indikator dalam melakukan penelitian terhadap

84

faktor-faktor yang mendorong akuntan publik untuk memberikan pendapat wajar dengan tanpa pengecualian.

85