Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS PENYAJIAN PIUTANG PAJAK

DALAM NERACA LKPP

Makalah Seminar Akuntansi


Pemerintahan

Oleh:
Mochammad Gilang Ramadhan
VIII-A (18)
ANALISIS PENYAJIAN PIUTANG PAJAK
DALAM NERACA LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH
PUSAT

A. Pendahuluan

Laporan keuangan merupakan penyajian informasi keuangan


(akuntansi) suatu entitas kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Laporan keuangan tersebut haruslah dapat dipahami serta berguna
bagi pengambilan keputusan, dengan mempertimbangkan batasan
biaya-manfaat (Schroeder: 2009). Dalam penyajiannya, laporan
tersebut disusun berdasarkan seperangkat prinsip dan standar
sebagai pedoman agar penyajian laporan tersebut memenuhi
kebutuhan penggunanya.

Seperangkat prinsip dan standar sebagaimana dimaksud di


atas disusun dan ditetapkan dengan berdasarkan pada filosofi
dengan menyesuaikan terhadap ciri khas serta kondisi tertentu di
mana standar tersebut diterapkan. Kita mengenal prinsip-prinsip
akuntansi yang berterima umum atau generally accepted
accounting principles sebagai landasan filosofis dalam penetapan
standar-standar akuntansi.

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (selanjutnya disebut


LKPP) merupakan bentuk penyajian informasi keuangan pemerintah
pusat Republik Indonesia. LKPP disusun untuk menyediakan
informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh
transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu
periode pelaporan (paragraf 21 Kerangka Konseptual Akuntansi
Pemerintahan).
LKPP disusun berdasarkan standar berupa Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) yang ditetapkan oleh Komite Standar Akuntansi
Pemerintahan (KSAP) yang independen dan terdiri dari para
professional di bidang akuntansi serta bekerja berdasarkan due
process (Widjajarso, dkk: 2006). SAP ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah (PP) yaitu PP Nomor 24 Tahun 2005. Selain SAP, KSAP
juga menerbitkan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dan
bulletin teknis.

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) Nomor 1


menyatakan bahwa komponen LKPP terdiri Laporan Realisasi
Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Arus Kas, serta Catatan atas
Laporan Keuangan (CaLK). Selanjutnya, paragraf 43 PSAP Nomor 1
menyatakan bahwa Neraca sekurang-kurangnya mencantumkan:
kas dan setara kas; investasi jangka pendek; piutang pajak dan
bukan pajak; persediaan; investasi jangka panjang; aset tetap;
kewajiban jangka pendek; kewajiban jangka panjang; dan ekuitas
dana.

Makalah ini akan secara khusus menganalisis penyajian


piutang pajak dalam Neraca LKPP berdasarkan:
1. kerangka konseptual akuntansi pemerintahan,
2. standar akuntansi pemerintahan, khususnya yang terkait dengan
piutang pajak,
3. konsepsi piutang pajak, dan
4. analisis atas pengakuan piutang pajak.

B. Piutang Pajak Dalam SAP

Tujuan penyajian LKPP menurut Kerangka Konseptual


Akuntansi Pemerintahan adalah untuk menyajikan informasi yang
bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan
membuat keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik
(paragraf 23). Untuk memenuhi tujuan tersebut, laporan keuangan
pemerintah harus menyediakan informasi-informasi antara lain:
a. jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan
entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai.
b. posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan
sumber-sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun
jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan
pinjaman.
c. perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah
mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan
yang dilakukan selama periode pelaporan.

LKPP juga harus memenuhi karakteristik kualitatif laporan


keuangan sehingga informasi akuntansi yang disajikan dalam LKPP
dapat memenuhi tujuan-tujuannya. Implikasinya adalah bahwa
item-item yang disajikan dalam LKPP (termasuk piutang pajak)
harus memenuhi karakteristik kualitatif yang terdiri atas:
a. Relevan yaitu dapat mempengaruhi keputusan pengguna.
b. Andal yaitu bebas dari pengertian yang menyesatkan dan
kesalahan material.
c. Dapat dibandingkan baik secara internal maupun secara
eksternal.
d. Dapat dipahami oleh pengguna.

Piutang dalam SAP diatur dalam PSAP Nomor 1 tentang


Penyajian Laporan Keuangan. PSAP 1 paragraf 43 menyatakan
bahwa piutang pajak merupakan salah satu komponen utama dalam
Neraca LKPP.

Lebih lanjut, piutang sebagai aset diakui pada saat potensi


manfaat ekonomi masa depan diperoleh oleh pemerintah dan
mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal
(paragraf 61). Aset juga diakui pada saat diterima atau
kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah (paragraf
62). Dalam paragraf 63 mengenai pengukuran, huruf c mengatur
bahwa piutang diukur sebesar nilai nominalnya.

Bulletin teknis 06 mendefinisikan piutang pajak sebagai


piutang yang timbul atas pendapatan pajak sebagaimana diatur
dalam undang-undang perpajakan, yang belum dilunasi sampai
dengan akhir periode laporan keuangan. Piutang pajak diakui pada
saat diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak (SKP) dan/atau Surat
Tagihan Pajak (STP) dan telah dilaksanakan proses penagihannya.
Pengakuan ini disebabkan adanya potensi pendapatan negara yang
ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.

Piutang pajak merupakan piutang yang wajib dilunasi oleh


wajib pajak dalam periode berjalan tahun berikutnya, sehingga tidak
ada piutang pajak yang melampaui satu periode berikutnya. Oleh
karena itu, piutang pajak disajikan di Neraca LKPP sebagai aset
lancar.

Selain penyajian dalam Neraca, guna memenuhi


pengungkapan yang memadai, informasi terkait piutang juga perlu
disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Informasi tersebut
dapat berupa: kebijakan akuntansi atas penilaian, pengakuan dan
pengukuran piutang pajak; rincian saldo menurut umur; penjelasan
status penyelesaian; serta jaminan atau sita jika ada.

C. Piutang Pajak
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, piutang pajak diakui
pada saat terbitnya SKP dan/atau STP. Proses penyelesaian atas SKP
dan STP akan diuraikan secara ringkas pada bagian ini.

SKP sebagaimana dimaksud dalam UU 28 Tahun 2007


mengenai Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1983 Tentang Ketentuan Umum Perpajakan (UU KUP) Pasal 1 nomor
15 adalah: “surat ketetapan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat
Ketetapan Pajak Nihil, atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar”.
Dalam hal ini, timbulnya piutang pajak disebabkan oleh SKP Kurang
Bayar (SKPKB) dan SKPKB Tambahan (SKPKBT).

Lebih lanjut, menurut UU KUP yang dimaksud SKPKB adalah:


“surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok
pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok
pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih
harus dibayar” (pasal 1 Nomor 16), dan SKPKBT adalah: “surat
ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak
yang telah ditetapkan” (pasal 1 Nomor 17).

SKPKB diterbitkan akibat adanya kekurangan pembayaran


pajak dari yang seharusnya sebagaimana ditetapkan Undang-
undang. SKPKB dapat diterbitkan antara lain disebabkan
berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain terdapat pajak
yang terutang atau kurang dibayar, serta apabila wajib pajak tidak
menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) dalam jangka waktu
yang telah ditentukan dan setelah ditegur secara tertulis tidak
disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat
Teguran (pasal 13 ayat (1)).

Atas SKP tersebut, wajib pajak dapat mengajukan keberatan


kepada Dirjen Pajak sebagaimana diatur dalam pasal 25 UU KUP.
Dalam pengajuan keberatan ini, terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan oleh wajib pajak yaitu:
1. Keberatan diajukan dalam jangka 3 (tiga) bulan sejak
diterbitkannya SKP.
2. Dalam pengajuan keberatan tersebut, wajib pajak wajib melunasi
pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang
telah disetujui Wajib Pajak.

Produk hukum yang dikeluarkan fiskus sehubungan dengan


surat keberatan yang diajukan wajib pajak adalah Surat Keputusan
Keberatan. Surat Keputusan Keberatan ini hanya diberikan atas
surat keberatan yang memenuhi syarat formal. Surat Keputusan
Keberatan dapat berupa menerima seluruhnya, menerima sebagian,
menolak, atau bahkan menambahkan pajak terutang.

Selain keberatan, sesuai dengan UU 16 Tahun 2000 Pasal 36


ayat (1) b, wajib pajak juga dapat mengajukan permohonan
pengurangan atau pembatalan SKP yang tidak benar. Permohonan
pengurangan ini harus:
1. Diajukan atas suatu SKP tertentu, dan
2. Menyebutkan jumlah pajak yang seharusnya terutang menurut
wajib pajak.
Permohonan ini dapat diajukan apabila wajib pajak tidak dapat
memenuhi syarat formal pengajuan keberatan, namun, secara
substansial mempunyai alasan yang memadai. Terhadap
permohonan dimaksud fiskus dapat mengurangkan, menghapus,
atau menguatkan ketetapan pajak yang dimohonkan tersebut.

Terhadap keputusan atas permohonan dan/atau keberatan


yang diajukan, sebagaimana diatur dalam UU 14 Tahun 2002
Tentang Pengadilan Pajak, wajib pajak masih dapat melakukan
upaya hukum yaitu banding, dengan memenuhi ketentuan a.l.:
1. Banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak
tanggal diterima Keputusan yang dibanding.
2. Banding diajukan terhadap 1 (satu) Keputusan.
3. Banding diajukan dengan disertai alasan-alasan yang jelas, dan
dicantumkan tanggal diterima surat keputusan yang dibanding.
4. Pada Surat Banding dilampirkan salinan Keputusan yang
dibanding.
5. Banding hanya dapat diajukan apabila jumlah yang terutang
dimaksud telah dibayar sebesar 50% (lima puluh persen).
Terhadap pelaksanaan proses penagihan pajak, wajib pajak juga
dapat mengajukan gugatan kepada pengadilan pajak.

Keputusan banding oleh Pengadilan Pajak merupakan


keputusan yang bersifat final dan karenanya dapat segera
dieksekusi. Meskipun demikian, masih terdapat kemungkinan
adanya proses peninjauan kembali (UU 14/2002 Pasal 91).

D. Analisis Atas Penyajian Piutang Pajak Dalam LKPP

Berdasarkan uraian tersebut diatas, beberapa kesimpulan


penting yang dapat dipetik terkait dengan LKPP yaitu:
1. LKPP disajikan untuk memberikan informasi yang berguna dalam
penilaian akuntabilitas pemerintah dan pengambilan keputusan.
2. Salah satu informasi yang harus disajikan dalam LKPP guna
memenuhi tujuannya adalah posisi keuangan dan kondisi entitas
pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya.
3. LKPP harus menyajikan informasi yang Andal yaitu bebas dari
pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material.
Terkait dengan pembahasan makalah ini mengenai pengakuan
piutang pajak dalam Neraca LKPP, terdapat poin-poin penting yang
perlu dicermati yaitu:
1. Piutang pajak antara lain timbul akibat adanya SKP dan/atau STP,
2. Terhadap produk hukum tersebut, wajib pajak selaku pihak yang
dikenai kewajiban, berhak melakukan langkah hukum berupa
keberatan, permohonan, s.d. banding.

Implikasi dari implementasi peraturan perundang-undangan


perpajakan tersebut adalah atas suatu ketetapan dan/atau tagihan
(SKP dan/atau STP) yang diakui sebagai piutang pajak dalam Neraca
LKPP masih memungkinkan adanya prosedur-prosedur formal yang
berdampak baik terhadap keberadaan (existence) maupun jumlah
(valuation) piutang pajak yang diakui dalam Neraca LKPP.

Proses yang dapat dilaksanakan dalam penyelesaian piutang


pajak berimplikasi pada tingkat keyakinan atas realisasi piutang
pajak dimaksud. Beberapa dampak yang mungkin timbul dari
permasalahan ini misalnya:
1. Piutang pajak yang disajikan di Neraca tidak mencerminkan aset
sebagaimana didefinisikan dalam Kerangka Konseptual Akuntansi
Pemerintahan.
Kerangka Konseptual mendefinisikan aset sebagai (paragraf 60):
“sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh
pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari
mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan
diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun
masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk
sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan
jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang
dipelihara karena alasan sejarah dan budaya”

Hal ini disebabkan bahwa meskipun secara formal piutang yang


terjadi akibat adanya SKP dan/atau STP dikuasai pemerintah,
terdapat ketidakpastian mengenai manfaat masa depan yang
dapat diperoleh. Hal ini, sebagaimana telah disinggung, karena
prosedur formal yang dapat dilaksanakan terhadap SKP dan/atau
STP dapat berdampak pada hilangnya manfaat masa depan yang
diharapkan.
2. Piutang pajak yang disajikan di Neraca tidak menggambarkan
nilai yang sesungguhnya, karena sangat dimungkinkan terjadinya
perubahan terhadap nilai-nilai piutang pajak akibat produk
hukum yang dikeluarkan terkait piutang pajak tersebut. Hal ini
sangat mempengaruhi keandalan informasi piutang pajak
dimaksud.

Apabila dikaitkan dengan kerangka konseptual, khususnya 3


(tiga) poin yang dikemukakan di awal bagian ini, maka agar
informasi piutang pajak yang disajikan dalam Neraca LKPP berguna
bagi penilaian akuntabilitas dan pengambilan keputusan, penyajian
tersebut harus andal yaitu bebas dari pengertian yang
menyesatkan dan kesalahan material.

Menilik prosedur yang masih dapat dilaksanakan sebelum


piutang pajak tersebut terealisasi, maka informasi piutang pajak
yang disajikan di Neraca masih belum bebas dari pengertian yang
menyesatkan dan kesalahan material. Masalah keandalan informasi
berhubungan ketidakcukupan pengetahuan (dan informasi) yang
dimiliki oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini,
pengungkapan yang lebih memadai dapat menjadi solusi atas
masalah keandalan informasi ini (Zhang: 2009).

Sebagai ilustrasi, pada LKPP Tahun 2008, terdapat ketetapan


pajak yang diajukan keberatan, pembetulan, pengurangan atau
penghapusan sanksi administrasi, pengurangan atau pembatalan
atas surat ketetapan pajak dan banding/gugatan yang belum
mendapat keputusan atau putusan sampai dengan tanggal 31
Desember 2008 adalah Rp16.091.195.868.298 (Catatan atas
Laporan Keuangan C.2.8). Jumlah tersebut menunjukkan besarnya
piutang yang tidak/belum dapat dipastikan manfaatnya di masa
depan baik secara ekonomi, sosial, maupun politik.

Bulletin teknis SAP nomor 06 tentang akuntansi piutang


menjelaskan bahwa pengungkapan piutang dalam LKPP termasuk
juga pengungkapan dalam CaLK yang berupa informasi kebijakan
akuntansi atas penilaian, pengakuan dan pengukuran piutang pajak;
rincian saldo menurut umur; penjelasan status penyelesaian; serta
jaminan atau sita jika ada.

Selain masalah keandalan, dalam menelaah masalah ini


penulis lebih menekankan pada pendekatan yang konservatif.
Konservatisme dalam akuntansi secara ekstrim dapat dinyatakan
sebagai “tiada keuntungan yang diakui, namun akui semua
kerugian” (Bliss: 1924). Hal ini tidak berarti bahwa semua
pendapatan hanya diakui setelah kas diterima, akan tetapi lebih
fokus pada keyakinan akan arus masuk kas tersebut di masa depan
(Watts: 2003). Meskipun konservatisme erat kaitannya dengan
pengakuan pendapatan, dalam analisis piutang pajak hal ini menjadi
relevan karena konservatisme juga terkait dengan penilaian net
asset dalam Neraca (Watts: 2003).

Mencermati hal-hal tersebut, penulis berpendapat bahwa


pada dasarnya penyajian piutang pajak dalam LKPP berdasarkan
standar yang ada relatif memadai. Meskipun demikian, dengan
mempertimbangkan aspek konservatisme serta keandalan informasi
dalam LKPP, terdapat beberapa alternatif penyajian piutang pajak
dalam LKPP yaitu:
1. Piutang pajak tetap dimasukkan dalam Neraca, disertai
allowance yang menunjukkan tingkat ketertagihan piutang pajak
tersebut. Basis allowance tersebut adalah (misalnya) rata-rata
persentase piutang pajak yang tidak tertagih selama 3 tahun
terakhir (basis ini harus diungkapkan dalam CaLK), disertai
informasi tambahan di CaLK berupa pengungkapan atas saldo
piutang pajak tersebut yang sedang dalam proses: keberatan,
banding, sita, dll.
Meskipun opsi tersebut di atas telah dimungkinkan dalam
penyajian LKPP, sebagaimana dijelaskan dalam bulletin teknis 06,
akan tetapi pada praktiknya belum ada penyisihan piutang tak
terealisasi yang diungkapkan dalam LKPP, meskipun
kemungkinan adanya piutang yang tidak terealisasi tersebut
sangat dimungkinkan secara formal. Oleh karena itu, penulis
berpendapat bahwa opsi ini relevan untuk diajukan.
2. Piutang pajak beserta semua informasi terkait (seperti opsi 1 di
atas) disajikan dalam CaLK.

E. Penutup

Peraturan perpajakan di Indonesia memungkinkan adanya


proses-proses lanjutan terhadap sebuah ketetapan dan tagihan
pajak. Terkait akuntansi pemerintahan, hal ini berimplikasi pada
keandalan penyajian piutang pajak dalam laporan keuangan.

Berdasarkan telaah penulis terhadap aspek prosedural


penyelesaian piutang pajak, terdapat beberapa opsi penyajian
piutang pajak dalam LKPP. Sebagian diantaranya sebenarnya telah
dimungkinkan oleh standar akuntansi pemerintahan yang ada,
namun sejauh pengamatan penulis belum diterapkan.

Diharapkan melalui makalah ini penulis dapat memberikan


sumbangsih pemikiran seputar permasalahan penyajian piutang
pajak secara khusus dan akuntansi pemerintahan di Indonesia
secara umum. Kesemuanya demi kemajuan akuntansi pemerintahan
itu sendiri agar menjadikan akuntansi pemerintahan media
akuntabilitas dan informasi yang memadai bagi segenap pemangku
kepentingannya.
Referensi Peraturan

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 28 Tahun 2007 mengenai


Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
Tentang Ketentuan Umum Perpajakan
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 28 Tahun 2007 mengenai
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
Tentang Ketentuan Umum Perpajakan
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 mengenai Peradilan Pajak
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 mengenai Standar
Akuntansi Pemerintahan

Daftar Pustaka

Buletin Teknis Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 06 Mengenai


Akuntansi Piutang
Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 1 Tentang
Penyajian Laporan Keuangan
Schroeder. 2009. Accounting Theory. New York: John-Wiley and Sons
Wardoyo, Teguh Hadi dan Sapto Windi Argo. 2008. Pemahaman
Terapan Dalam Kerangka Hukum Pajak. Jakarta: TaxSys
Watts, Ross L. 2003. Conservatism in Accounting: Part I
Explanations and Implications. New York: University of
Rochester
Widjajarso, Bambang dkk. 2006. Akuntansi Pemerintahan: Teori dan
Praktik. Jakarta: LPKPAP
Zhang, Xiao-Jun. 2009. Information Relavance, Reliability, and
Disclosure. Berkeley: University of California