Anda di halaman 1dari 2

Belerang dalam urin Belerang anorganik Belerang anorganik merupakan bagian terbesar dari belerang teroksidasi (85-90 %) dan

n berasal terutama dari metabolisme protein. Pada percobaan ini, urin 24 jam direaksikan dengan HCl encer dan BaCl2. Maka akan terbentuk endapan putih yang menunjukkan adanya belerang anorganik, reaksi yang terjadi adalah : BaCl2 + SO42- BaSO4 + 2 Cl Belerang etereal Belerang etereal merupakan senyawaan asam sulfat dengan zat-zat organik. Sulfat etereal di dalam urin merupakan ester sulfat organik (R-O-SO3H) yang dibentuk di dalam hati dari fenol endogen dan eksogen, yang mencakup indol, kresol, esterogen, steroid lain, dan obat-obatan. Zat-zat organik tersebut berasal dari metabolisme protein atau pembusukan protein dalam lumen usus. Semuanya terurai pada pemanasan dengan asam. Jumlahnya 5-15 % dari belerang total urin. Dari percobaan tersebut, terbentuk endapan putih karena adanya endapan BaSO4 dari belerang etereal yang memiliki senyawa sulfat akan bereaksi dengan BaCl2. Belerang yang tak teroksidasi Belerang tak teroksidasi merupakan senyawa yeng mempunyai gugus SH, -S, -SCN, misalnya asam amino yang mengandung S (sistin), tiosulfat, tiosianat, sulfida, dsb. Jumlahnya adalah 5-25 % dari belerang total urin. Pada percobaan ini, kertas saring yang dibasahi dengan Pb-asetat menjadi berwarna hitam (hasil reaksi positif). Hal itu terjadi karena adanya gas hidrogen sulfida yang dilepaskan yang dapat diidentifikasi dari baunya yang khas atau dari menghitamnya kertas saring yang telah dibasahi larutan timbal asetat. Reaksi yang terjadi adalah : S2- + 2 H+ H2S H2S + Pb2+ PbS

Azizahwati, Penuntun Praktikum Biokimia, Laboratorium Biokimia Jurusan Farmasi FMIPA UI, 1994, Hal 36-44. Ganong, W. F, Fisiologi Kedokteran edisi 14, Penerbit buku kedokteran, EGC, alih bahasa oleh dr. Petrus Andrianto. Murray, K. Robert, Daryl K. Granner, Peter A. Mayes, Victor W.R, Biokimia Harper edisi 22, Penerbit bku kedokteran, EGC.

Belerang Dalam Urin Percobaan pada belerang urin dengan menggunakan tiga metode, yaitu Sulfat Anorganik, Sulfat Eteral dan Belerang yang tak teroksidasi. Pada sulfat anorganik menggunakan bahan HCl encer dan BaCl2. Pada sulfat eteral menggunakan HCL dan dipanaskan. Pada Belerang Yang Tak Teroksidasi menggunakan bahan logam seperti Zn dan sedikit HCl encer dan menggunakan kertas saring. Hasil dari praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 4 Belerang dalam Urin Belerang Sulfat Anorganik Sulfat Eteral Sulfat Tak Teroksidasi Hasil Pengamatan Ada endapan Keruh, tidak ada endapan Tidak berwarna hitam

Dilihat pada Tabel 4, sulfat anorganik menunjukkan ada endapan berwarna putih setelah urin ditambahkan dengan HCl encer yang menunujukkan bahwa sulfat anorganik bereaksi terhadap HCl encer. Endapan putih pada urin menunjukkan adanya belerang dala urin tersebut. Pada sulfat eteral menghasilkan bentuk kekeruhan dan tidak ada endapan. Kekeruhan yang terdapat pada sulfat eteral terjadi saat dipanaskan dengan penambahan HCL sert sedikit BaCl2. Hal ini menunjukkan bahwa urin mengandung sulfat eteral yang bereaksi dengan BaCl2. Pada belerang Yang Tak Teroksidasi menghasilkan warna tidak hitam pada kertas saring. Hal ini disebabkan HCl yang digunakan bukan HCl encer melainkan HCl biasa, sehingga kertas tidah berubah warna. Sulfat tak teroksidasi harusnya menghasilkan warna hitam karena adanya gas hidrogen sulfida yang dilepaskan yang dapat

diidentifikasi dari baunya yang khas atau dari menghitamnya kertas saring yang telah dibasahi larutan timbal asetat.